• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.4. A alisis Kecepata Me tal Kelo pok Kafei da Kelo pok Ko trol

Kecepata e tal erupaka para eter ya g e ilai fu gsi e tal se ara kua titatif berdasarkan total jawaban responden dalam waktu 10 menit. Hal ini menunjukkan kemampuan mental responden untuk melakukan perhitungan mental dengan cepat dan berterusan dalam jangka waktu yang ditetapkan.

Analisis kecepatan mental responden kedua-dua kelompok dilakukan dengan membandingkan rerata total jawaban sebelum dan sesudah meminum kopi seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 5.4.

Tabel 5.4. Analisis Rerata (±SD) Total Jawaban Responden Kelompok Kafein dan Kelompok Kontrol Sebelum (Pre) dan Sesudah (Pos) Minum Kopi

Pre Pos ∆% Nilai p

Kafein 15,7± 5,6 22,3± 8,0 6,6 42,0 0,000

Kontrol 21,5± 8,8 34,1± 12,4 12,6 58,6 0,000

5,8 11.8

∆% 36,9 52,9

Nilai p 0,004 0,000

Berdasarkan Tabel 5.4, kecepatan mental kelompok kafein kafein dalam melakukan perhitungan meningkat sebanyak 42,0% sedangkan peningkatan kecepatan mental kelompok kontrol adalah lebih tinggi yaitu sebanyak 58,6%.

Uji T Berpasangan digunakan untuk membandingkan rerata total jawaban sebelum dan sesudah minum kopi untuk menilai apakah terdapat perbedaan yang signifikan di dalam setiap kelompok. Ternyata hasil yang didapatkan pada kelompok kafein; t(28)= -5,795, P< 0,000 menunjukkan terdapat peningkatan kecepatan mental yang signifikan. .

menunjukkan pemberian kopi decaffeinated turut memberikan peningkatan yang signifikan terhadap kecepatan mental responden.

Selain itu, peneliti ingin melihat apakah perbedaan kecepatan mental kelompok kafein berbeda dengan kelompok kontrol. Berdasarkan Uji T Tidak Berpasangan, terdapat perbedaan kecepatan yang signifikan antara kelompok kafein dan kontrol sebelum minum kopi; t(54)= 2,981, P= 0,004 dan sesudah minum kopi; t(43,928)= -4,197, P= 0,000.

.1. A alisis Ketepata e tal Kelo pok Kafei da Kelo pok Ko trol

Ketepata e tal erupaka pe ilaia fu gsi e tal se ara kualitatif yaitu kemampuan mental untuk melakukan perhitungan dengan akurat. Hal ini dinilai dengan membandingkan jumlah jawaban yang benar dalam waktu 10 menit seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 5.5.

Tabel 5.5. Analisis Rerata (±SD) Jawaban Benar Kelompok Kafein dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Minum Kopi

Pre Pos ∆% Nilai p

Kafein 12,1± 4,9 19,3± 7,6 7,2 59,5 0,000

Kontrol 18,0± 9,8 30,2± 13,0 12,1 67,2 0,000

5,9 10,9

∆% 48,8 56,5

Nilai p 0,008 0,000

Berdasarkan Tabel 5.5, dapat dilihat ketepatan mental kelompok kafein meningkat sebanyak 59,5% sedangkan peningkatan ketepatan mental kelompok kontrol adalah sebanyak 67,2%.

Berdasarkan Uji T Berpasangan, peningkatan ketepatan mental pada kelompok kafein sesudah minum kopi adalah signifikan dengan t(28)= -6,775, P< 0,000. Ketepatan mental kelompok kontrol juga meningkat dengan signifikan berdasarkan nilai t(26)= -7,493, P< 0,000.

Sebelum pemberian kopi, terdapat perbedaan ketepatan mental yang signifikan antar kelompok kafein dan kontrol; t(37,781)= -2,815, P= 0,008. Ketepatan mental antar keduadua kelompok ini juga berbeda sesudah minum kopi dengan nilai t(41,446)= -3,798, P= 0,000.

.1. A alisis Ki erja e tal Kelo pok Kafei da Kelompok Kontrol

Ki erja e tal erupaka pe ilaia prestasi e tal se ara kua titatif da kualitatif yang dicapai oleh responden dalam melaksanakan perhitungan. Hal ini dilihat dari persentase skor; responden sebelum dan sesudah minum kopi. Tabel 5.6 menunjukkan persentase skor kedua-dua kelompok kafein dan kontrol.

Tabel 5.6. Analisis Rerata (±SD) Persentase Skor Responden Kelompok Kafein dan Kelompok Kontrol Sebelum (Pre) dan Sesudah (Pos) Minum Kopi

Pre Pos ∆% Nilai p

Kafein 74,9± 21,6 86,1± 13,1 11,2 15,0 0,002

Kontrol 82,2± 20,2 89,2± 17,0 7,0 8,5 0,017

7,3 3,1

∆% 9,7 3,6 Nilai p 0,196 0,452

Berdasarkan Tabel 5.6, kinerja mental kelompok kafein meningkat sebanyak 15,0% sedangkan peningkatan pada kelompok kontrol hanyalah sebanyak 8,5%.

Uji T Berpasangan pada kelompok kafein; t(28)= -3,385, P< 0,002, menunjukkan peningkatan kinerja mental yang signifikan. Pada kelompok kontrol, kinerja mental juga meningkat dengan signifikan; t(26)= -2,561, P< 0,017.

Sebelum minum kopi, kinerja mental kelompok kafein tidak berbeda dengan signifikan dari kelompok kontrol berdasarkan hasil Uji T Tidak Berpasangan; t(54)= -1,309, P= 0,196. Sesudah minum kopi, kinerja mental antar kedua-dua kelompok juga tidak berbeda dengan signifikan; t(54)= -0,758, P= 0,452.

5.2. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kafein terhadap fungsi kognitif khususnya dalam kalangan golongan muda. Sebelum ini, penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi kafein memberikan efek positif yang signifikan terhadap prestasi kognitif golongan berusia lanjut berdasarkan tes-tes kognitif yang dilakukan. Bila prestasi mental menurun karena faktor tua, alkohol atau keletihan, kafein memberikan efek yang lebih kuat melalui pelepasan neurotransmitter di jalur kolinergik sistem saraf pusat, sehingga prestasi mental dapat meningkat (Johnson-Kozlow et al, 2002). Namun dalam penelitian ini, responden yang dipilih adalah dari golongan muda yang berusia antara 19 sampai 22 tahun yang mempunyai fungsi kognitif yang optimum. Terdapat saran bahwa efek cognitive enhancement sangat terbatas pada golongan muda karena kondisi mental yang sudah sedia optimum menyisakan sedikit ruang untuk perbaikan. Responden yang dipilih adalah mahasiswa IPDA yang mempunyai tingkat edukasi yang setaraf sehingga faktor variasi kecerdasan individu diharapkan tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil penelitian.

responden harus mengurangi nomor dua angka dari nomor empat angka secara mental. Biarpun aspek kognitif utama yang diuji oleh tes ini adalah aspek perhitungan aritmetik, namun tes ini juga mencakupi dimensi kognitif yang lain seperti memori kerja, perhatian, visualisasi dan kewaspadaan sehingga dapat digunakan untuk menganalisis fungsi kognitif responden secara umum.

Selain itu, dosis kafein dalam penelitian ini tidak diukur secara langsung di laboratorium. Sebaliknya, peneliti menggunakan minuman kopi merek NESCAFÉ® Classic dan

NESCAFÉ® Decaf yang tidak menyatakan dosis kafein pada labelnya. Namun berdasarkan International Coffee Organization di Inggris, rentang kafein adalah 40 sampai 180 mg per 150 ml untuk kopi berkafein dan kopi decaffeinated mempunyai kira-kira 3 mg per 150 ml. Peneliti mengassumsi minuman kopi yang digunakan mengandung dosis kafein seperti yang dinyatakan di atas. Selain itu, peneliti juga mengassumsi bahwa semua responden berpuasa dari mengonsumsi semua sumber kafein 24 jam sebelum tanggal penelitian karena kadar kafein dalam darah atau saliva responden tidak diukur. Sebelum diberikan kopi, kelompok kontrol mencapai hasil yang lebih baik pada

mental serial subtraction berdasarkan rerata persentase skor yang lebih tinggi yaitu 82,2% (SD 20,2) berbanding kelompok kafein; 74,9% (SD 21,5). Perbedaan kinerja mental antar kelompok sebelum diberikan kopi adalah tidak bermakna dengan nilai p= 0,196. Namun demikian, bila diteliti total jawaban dan jawaban benar pada kedua-dua kelompok di Tabel 4.4 dan Tabel 5.5, ternyata perbedaan antar kelompok adalah signifikan untuk kecepatan mental (p=0,004) dan ketepatan mental (p=0,008). Hal ini membuktikan bahwa fungsi kognitif kelompok kontrol adalah lebih baik berbanding kelompok kafein karena mereka dapat melakukan lebih banyak perhitungan dalam waktu 10 menit dan menghasilkan lebih banyak jawaban yang benar.

Sesudah diberikan minuman kopi, ternyata kelompok kafein mengalami peningkatan kecepatan mental (p<0,000), ketepatan mental (p<0,000) dan kinerja mental (p<0,002) yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kafein dapat meningkatkan prestasi mental dalam melakukan perhitungan. Namun demikian, pemberian kopi decaffeinated turut memberikan dampak positif terhadap kelompok kontrol. Terjadi peningkatan kecepatan mental (p<0,000), ketepatan mental (p<0,000)

dan kinerja mental (p< 0,017) yang signifikan dalam kelompok kontrol meskipun tidak mengonsumsi kafein.

Hal ini menimbulkan persoalan apakah selain zat kafein, terdapat faktor lain yang mempengaruhi hasil penelitian ini dengan bermakna? Penjelasan yang mungkin adalah terjadinya efek testing bias yang sulit dihindarkan dalam desain penelitian ini, di mana pajanan terhadap tes yang pertama menyebabkan hasil yang lebih baik pada tes yang kedua. Selain itu, hasil mungkin dipengaruhi oleh peningkatan kadar glukosa otak sesudah sarapan karena semua responden telah diberikan sarapan berupa nasi lemak beberapa menit sebelum tes yang pertama dijalankan. Pada tes yang kedua, kedua-dua kelompok memperoleh manfaat kognitif dari suplai glukosa yang mencukupi ke otak. Selanjutnya, terdapat kemungkinan bahwa responden tidak mematuhi prosedur penelitian dengan mengambil zat kafein sebelum tanggal eksperimen. Hal ini tidak terdeteksi karena peneliti tidak mengukur kadar kafein dalam darah atau saliva respoden sebelum melakukan eksperimen.

Terdapat faktor yang tidak dapat dikontrol oleh peneliti seperti faktor motivasi responden dalam melakukan perhitungan dan faktor kecerdasan individu. Dalam penelitian ini, terdapat kemungkinan respoden kelompok kontrol adalah lebih pintar berbanding kelompok kafein, justeru lebih bermotivasi dalam melakukan perhitungan. Seperti yang telah dinyatakan, hal ini didasarkan pada hasil ujian pretes di mana kelompok kontrol mempunyai fungsi kognitif yang lebih baik dari kelompok kafein. Maka, kelompok kontrol mungkin dapat mencapai hasil yang lebih baik pada tes mental serial subtraction karena fungsi kognitif mereka yang sudah sedia bagus.

Walaupun kecepatan dan ketepatan mental kelompok kontrol meningkat dengan lebih signifikan dari kelompok kafein, peningkatan kinerja mental adalah lebih signifikan pada kelompok kafein (p<0,002) berbanding kelompok kontrol (p<0,017). Hal ini menunjukkan pemberian zat kafein mungkin memberikan efek positif terhadap kemampuan responden untuk berpikir dengan lebih cepat dan tepat.

Penelitian sebelumnya untuk mengkaji efek kafein terhadap fungsi kognitif telah memperoleh hasil yang tidak konsisten. Lorraine et al (2009), telah mendapatkan hasil bahwa efek stimulan kafein dengan dosis 250 mg tidak cukup besar untuk meningkatkan performa mental pada tes working memory n-back. Selain itu, Koppelstaettet et al (2008), telah menyimpulkan bahwa kafein dengan dosis sebanyak 100 mg tidak meningkatkan performa kognitif dengan bermakna walaupun dapat mengaktifkan region korteks otak pada gambaran Magnetic Imaging Resonance (MRI). Penelitian lain malah mendapatkan hasil yang positif seperti yang dilakukan oleh Riedel et al (1995), yang menunjukkan bahwa supplemen kafein 250 mg dapat meningkatkan prestasi pada tugas belajar kata.

Institute of Medicine Food and Nutrition Board Committee on Military Nutrition Research (2001) pula telah menyimpulkan bahwa konsumsi kafein pada dosis 150 mg dapat meningkatkan prestasi kognitif . Penelitian yang lain mengasosiasikan konsumsi kafein dengan meningkatnya keterjagaan, perhatian, mood, dan konsentrasi yang dinilai secara subyektif (Lieberman et al, 1987; Peeling & Dawson, 2007).

Hasil yang tidak konsisten ini mungkin terjadi karena kesukaran untuk menganalis fungsi kognitif dengan spesifik dan standar. Fungsi kognitif merupakan suatu proses yang kompleks dan tidak ada satu tes mental yang dapat mencakup kesemua aspek kognitif yang ada. Di samping itu, sulit untuk menentukan fungsi kognitif individu dengan tepat karena variasi individu seperti tingkat edukasi, demografi, dan status social. Selain itu, mekanisme kafein dalam mempengaruhi proses mental juga masih kurang jelas seperti seberapa besarkah dosis yang diperlukan, cara pemberian dan lain-lain. Oleh itu, lebih banyak penelitian terkontrol yang diperlukan untuk mamahami pengaruh kafein terhadap fungsi kognitif.

BAB 6

Dokumen terkait