• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

2. Pembahasan

5.1.2 Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Perilaku hidup bersih sehat seseorang ditentukan oleh pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya ádalah pendidikan (Mubarak et al, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya variasi tingkat pendidikan pada masyarakat Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu yaitu 30,7% berpendidikan SD, 38,4 berpendidikan menengah, 30,7% berpendidikan tinggi. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan No.0306/V/1995, tentang pelaksanaan wajib belajar adalah 9 tahun. Tingkat Pendidikan akan mempengaruhi kualitas PHBS karena pendidikan merupakan salah satu faktor yang berhubungan erat dengan kualitas PHBS (Amalia, 2009). Dari hasil penelitian tingkat pendidikan kepala keluarga di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu masih ada masyarakat yang kepala keluarganya tamat Sekolah Dasar bahkan ada yang tidak tamat SD. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan informasi tentang Keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan yang diputuskan pada tahun 1995, tentang pelaksanaan wajib belajar adalah 9 tahun. Pada masa mereka berada diusia sekolah mereka tidak tahu bahwa suatu kewajiban bagi seseorang mengecap pendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama. Oleh karena itu masih ada beberapa masyarakat yang tidak bersekolah karena mereka menganggap itu tidak suatu kewajiban.

5.1.3 Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Kepala Keluarga

PHBS pada masyarakat Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu diperoleh dari lembar kuesioner yang disebarkan. Dari hasil pengumpulan data 91 responden terdapat kepala keluarga dengan PHBS baik sebanyak 26 KK (29%), PHBS sedang sebanyak 56 KK (61,6%), PHBS buruk 9 KK ( 10%). Dilihat dari persentase diatas bahwa Perilaku Hidup Bersih Sehat dalam masyarakat Desa Simalingkar masih banyak di tingkat sedang. Meskipun masih terdapat persentase

yang buruk. Namun sangat diharapkan masyarakat seharusnya memiliki PHBS yang baik.

Dari 20 item kuesioner yang dibagikan dapat dilihat perilaku sehat yang sering tidak dilakukan adalah keluarga adalah tidak melakukan olahraga secara teratur, keluarga tidak menaburkan bubuk abate 2-3 bulan sekali pada penampungan air, keluarga sering tidak mengubur semua barang-barang bekas yang ada disekitar / di luas rumah yang dapat menampung air hujan. Masyarakat di desa Simalingkar sering mengabaikan perilaku yang seharusnya dilakukan tersebut karena memang jika dilakukan atau tidak mereka menganggap hal itu sama saja. Padahal perilaku tersebut apabila dibiasakan mungkin tidak berefek sekarang tetapi dimasa depan.

5.1.4 Hubungan Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat

Dari hasil analisa data dapat dilihat PHBS pada Kepala Keluarga yang tingkat pendidikannya Pendidikan Dasar 9,9% buruk dan 20,9% sedang, kemudian pada Kepala Keluarga yang tingkat pendidikannya Pendidikan Menengah PHBSnya 36,3% sedang dan 2,2% baik. Sedangkan pada Kepala Keluarga dengan tingkat pendidikannya Pendidikan Tinggi PHBSnya 4,4% sedang dan 26,4 baik. Pendidikan yang rendah menjadikan masyarakat sulit memahami akan pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Dengan sulit memahami arti penting PHBS menyebabkan masyarakat tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit menular (Amalia,2009). Hal diatas akan berbeda dengan masyarakat

yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi karena memiliki PHBS lebih baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Goodman dalam Amalia (2009), bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi dapat lebih memelihara tingkat kesehatannya daripada seseorang yang berpendidikan lebih rendah. Orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih mudah untuk menjaga kesehatan di lingkungannya.

Pada Kepala Kepala keluarga yang tingkat pendidikannya Pendidikan Dasar perilaku kurang sehat yaitu tidak rutin memantau berat badan bayi/balita, memberi makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan, tidak rutin membawa bayi/balita ke posyandu, tidak diberikan ASI sampai usia bayi/balita 2 tahun, tidak mengubur barang-barang bekas, tidak menaburkan bubuk abate 2-3 bulan sekali, keluarga tidak mengkonsumsi buah setiap hari, tidak pernah olahraga dan merokok. Sedangkan perilaku yang sehat yaitu bayi/balita dilahirkan di Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik Bersalin, keluarga memasak air hingga mendidih, air di rumah jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, sebelum makan kelurga mencuci tangan dengan sabun, setelah buang air besar cuci tangan dengan sabun, keluarga buang air besar di jamban, keluarga mengkonsumsi sayuran setiap hari.

Pada Kepala Keluarga yang tingkat pendidikannya Pendidikan Menengah perilaku yang kurang sehat yaitu bayi/balita tidak diberikan ASI sampai usia 2 tahun, memberi makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan, sebelum menyiapkan makanan keluarga tidak mencuci tangan dengan sabun, keluarga tidak mengubur barang-barang bekas, keluarga tidak menaburkan bubuk abate 2-3 bulan sekali di penampungan air, olahraga tidak teratur, anggota keluarga merokok. Sedangkan perilaku yang sehat yaitu keluarga memasak air hingga mendidih, air di rumah jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, keluarga

buang air besar di jamban, jarak jamban dengan sumber air minum >10m, keluarga menguras bak mandi seminggu sekali, keluarga menutup rapat-rapat tempat penampungan air, keluarga mengkonsumsi sayuran setiap hari.

Pada Kepala Keluarga yang tingkat pendidikannya Pendidikan Tinggi perilaku yang kurang sehat yaitu keluarga tidak melakukan olahraga secara teratur, keluarga tidak menaburkan bubuk abate 2-3 bulan sekali pada penampungan air, keluarga tidak mengubur barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah. Sedangkan perilaku yang sehat yaitu bayi/balita diberikan ASI sampai usia 2 tahun, tidak memberi makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan, sebelum menyiapkan makanan keluarga mencuci tangan dengan sabun, anggota keluarga tidak merokok, air di rumah jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, keluarga buang air besar di jamban, jarak jamban dengan sumber air minum >10m, keluarga menguras bak mandi seminggu sekali, keluarga menutup rapat-rapat tempat penampungan air, keluarga mengkonsumsi sayuran setiap hari. Proporsi PHBS berdasarkan tingkat pendidikan yaitu kepala keluarga yang berpendidikan menengah memiliki PHBS lebih baik dari pada kepala keluarga yang berpendidikan SD. Demikian juga pada kepala keluarga yang berpendidikan tinggi memiliki PHBS lebih baik dari pada kepala keluarga yang tingkat pendidikannya Sekolah Dasar dan Menengah. Proporsi tersebut menunjukkan adanya hubungan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dan perilaku hidup bersih dan sehat dengan nilai p sebesar 0,000. Tingkat pendidikan kepala keluarga sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap menuju perilaku hidup bersih dan sehat. Tingkat pendidikan kepala keluarga yang rendah akan mempengaruhi keluarga dalam memperoleh dan mencerna informasi untuk kemudian

menentukan pilihan dalam menerapkan hidup sehat. Pendidikan kepala keluarga yang rendah menjadikan keluarga sulit memahami akan arti pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian Hermawan (2007) yang berjudul “Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Persepsi dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pemeliharaan Kebersihan Lingkungan” bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin baik perilaku ibu rumah tangga dalam memelihara kebersihan lingkungan dengan sampel ibu rumah tangga di Rukun Warga /RW 14 didaerah Mancagar Kelurahan Panglayungan Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya yang berjumlah 461 orang yang tersebar di 7 RT (Rukun Tetangga).

Banyak faktor yang menjadi penyebab menurunnya kualitas lingkungan.

Diantaranya, yaitu rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat

tentang lingkungan, sehingga mereka kurangrespon untuk dapat menerima informasi yangbermanfaat bagi dirinya (Hermawan,2007).

Orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih mudah untuk menjaga kesehatan dilingkungannya. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada kepala keluarga menjadikan keluarga lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki 45 status kesehatan yang lebih baik (Widyastuti, 2005).

Hasil penelitian Amalia (2009) yang berjudul “Hubungan Antara Pendidikan, Pendapatan Dan Perilakuhidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Pedagang Hidangan Istimewa Kampung (Hik) Di Pasar Kliwon Dan Jebres Kota Surakarta” juga menemukan adanya hubungan tingkat pendidikan masyarakat

dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Penelitian in menggunakan sampel sebanyak 40 pedagang hidangan istimewa kampung. Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian Kusumawati (2004) yang berjudul “Hubungan Antara Pendidikan dan Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Kesehatan Lingkungan Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Di Kelurahan Joyotakan Surakarta”, mengemukakan bahwa ada hubungan antara pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 175 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Joyotakan Surakarta.

Dokumen terkait