HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN KEPALA KELUARGA
DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT PADA
KELUARGA DI DESA SIMALINGKAR KECAMATAN
PANCURBATU
SKRIPSI
Oleh
Pratiwi Simanungkalit 071101054
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul : Hubungan Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat dalam Keluarga di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu
Nim : 071101054
Fakultas : Keperawatan USU Tahun Akademik : 2010/2011
ABSTRAK
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan , bina suasana dan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Perilaku hidup bersih sehat seseorang ditentukan oleh pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya ádalah pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami informasi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih sehat dalam keluarga di desa simalingkar kecamatan pancur batu. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan sampel berjumlah 91 orang.
Dari hasil penelitian kepala keluarga yang berpendidikan dasar proporsi PHBS buruk sebanyak 9 KK (9,9%), sedang sebanyak 19 KK (20,9%). Pada kepala keluarga yang berpendidikan menengah proporsi PHBS sedang sebanyak 33 KK (36,3%), baik sebanyak 2 KK (2,2%). Sedangkan pada yang berpendidikan tinggi proporsi PHBS sedang sebanyak 4 KK (4,4%), baik sebanyak 24 KK (26,4%). Berdasarkan analisis data diperoleh tingkat signifikansi (p) 0,00 dengan α = 0,05. Karena tingkat signifikansi (p) < 0,05 maka Ho ditolak atau dengan kata lain ada hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih sehat di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu
Title : Corelation of Households Education Level and Healty Life Behaviors among Families at Simalingkar Village, Pancur Batu District.
Name : Pratiwi Simanungkalit
Nim : 071101054
Faculty : Nursing USU Academic Year : 2010/2011
ABSTRACT
Clean and healthy life behaviors (PHBs) is an attempt to provide a learning experience or create a condition for individuals, families, groups and communities, with open lines of communication, provide information and to educate, to enhance the knowledge, attitudes and behavior, through the leadership approach, atmosphere building and community empowerment so as to implement ways of healthy living in order to establish, maintain and improve public health. Clean living a healthy person's behavior is determined by knowledge. Factors influencing knowledge of one of them is education. Education is the guidance given by one person to another against something so they can understand the information. The purpose of this study to determine the relationship of education level of head of household with a clean healthy living behaviors in families in the Simalingkar Village, Pancur Batu District. The design was descriptive correlational study with a sample totaling 91 people.
From the results of an educated family heads the research basis of the proportion of bad PHBS 9 KK (9.9%), while as many as 19 families (20.9%). At the head of the family that the proportion of secondary education PHBs are a total of 33 families (36.3%), either of two families (2.2%). While the proportion of highly educated PHBs are as many as 4 families (4.4%), either as many as 24 families (26.4%). Based on analysis of data obtained level of significance (p) 0.00 with α = 0.05. Because the level of significance (p) <0.05 then Ho is rejected or in other words, there is a relationship of education level of head of household with a healthy hygienic behavior in the Simalingkar Village, Pancur Batu District.
Kata Pengantar
Salam Sejahtera, puji dan syukur penulis ucapkan kepada Isa Almasih atas
rahmat, karunia dan hidayahNya yang tiada terhitung sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga
dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat dalam Keluarga di Desa Simalingkar Kecamatan
Pancur Batu”, untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar
kesarjanaan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penelitian dan penelitian skripsi ini, penulis banyak mendapat
bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak dengan memberikan butir-butir
pemikiran yang sangat berharga bagi penulis baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Dedi Ardinata, M.Kes sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara dan Erniyati, S.Kp, MNS sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Mula Tarigan, S.Kp, M.Kes selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah
menyediakan waktu serta dengan penuh keikhlasan dan kesabaran telah memberikan
arahan, bimbingan, dan ilmu yang bermanfaat selama masa perkuliahan di Fakultas
Keperawatan dan selama penyusunan skripsi ini.
3. Ibu Salbiah, S.Kp, M.Kep dan Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS selaku dosen
penguji yang dengan teliti memberikan masukan yang berharga dalam penyelesaian
skripsi ini.
4. Ibu Anna Kasfi, S.Kep dan Ibu Julintha Theresia Sebayang, S.Kep selaku dosen terdekat
5. Seluruh Dosen Pengajar S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah
banyak mendidik penulis selama proses perkuliahan dan staf nonakademik yang
membantu memfasilitasi secara administratif.
6. Arminudin Purba selaku Kepala Desa Simalingkar yang telah memberikan izin penelitian.
7. Para responden yang telah bersedia berpartispasi selama proses penelitian berlangsung.
8. Teristimewa kepada orang tua ku tercinta Bapak S.Simanungkalit dan Ibu R.Sijabat yang
telah memberikan cinta, doa, dorongan, bimbingan, menghibur, memotivasi dan
memberikan dana bagi penulis. Buat abang ku Dorlan Simanungkalit, S.Th, kakak ku
Puspa Simanungkalit, SKG dan kedua adikku Bob Simanungkalit, Tari Simanungkalit
serta buat keluarga besar yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, terimakasih
buat doa dan dukungan selama ini.
9. Teman-teman mahasiswa S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara,
khususnya stambuk 2007 yang telah memberikan semangat dan masukan dalam
penyusunan skripsi ini (Nova Winda, Septian, Marliyani, Febri, Novri, Delima, Dahlia,
Vina, Dian, Resti, Monica, Betty, Arif, Rini Lestari, Dira,) dan teman-teman lainnya yang
tidak bisa disebutkan satu persatu yang senantiasa menemani , memberikan semangat,
motivasi, dukungan, penghiburan bagi penulis.
10.Semua pihak yang dalam kesempatan ini tidak dapat disebutkan namanya satu persatu
yang telah banyak membantu peneliti baik dalam penyelesaian skripsi ini maupun dalam
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan penuh kasih melimpahkan berkat dan
karunia-Nya kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis. Harapan penulis semoga
skripsi ini dapat bermanfaat nantinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, terkhusus ilmu
keperawatan.
Medan, Juni 2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Halaman pengesahan ... ii
Abstrak... ... iii
2. Perumusan Masalah ... 4
3. Tujuan penelitian ... 4
4. Manfaat Penelitian ... 4
Bab 2. Tinjauan Kepustakaan ... 6
1. Pendidikan ... 6
1.1 Pengertian ... 6
1.2 Tujuan dan Proses Pendidikan ... 7
1.3 Pendidikan sebagai Sistem... 10
1.4 Tingkat Pendidikan ... 13
1.5 Hubungan Pendidikan dengan Keluarga ... 14
2. Perilaku Hidup Bersih Sehat... 16
2.1 Konsep Perilaku ... 16
2.2 Teori Perilaku ... 17
2.3 Perilaku Kesehatan ... 19
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sehat ... 21
2.5 Program Perilaku Hidup Bersih Sehat ... 21
Bab 3. Kerangka Penelitian ... 28
1. Kerangka Konsep ... 28
2. Defenisi Operasional ... 29
3. Hipotesis ... 29
Bab 4. Metodologi Penelitian ... 32
1. Desain Penelitian ... 32
2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 32
3. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
4. Pertimbangan Etik Penelitian ... 34
5. Instrumen Penelitian... 35
6. Validitas dan Reliabilitas ... 37
Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 40
1. Hasil Penelitian ... 40
2. Pembahasan ... 43
Bab 6. Kesimpulan dan Saran….. ... 50
1. Kesimpulan.... ... 50
2. Rekomendasi... 50
Daftar Pustaka… ... 52
Lampiran 1. Informed Consent……….55
2. Jadwal Penelitian………..56
3. Taksasi Dana………57
4. Instrumen Penelitian……….58
5. Validitas dan Reliabilitas Intrument ………61
6. Surat izin Penelitian di Desa Simalingkar………63
7. Data Demografi………64
8. Master Data………..67
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Defenisi Operasional Tingkat Pendidika……….29
Tabel 2. Defenisi Operasional PHBS………...30
Tabel 3. Karakteristik Demografi Responden………...40
Tabel 4. Hubungan Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga dengan Perilaku Hidup Bersih
Sehat………...42
Tabel 5. Hasil hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup
bersih sehat di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu
DAFTAR SKEMA
Skema 1. Proses Pendidikan………..10 Skema 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan………..21 Skema 3. Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Tingkat Pendidikan Kepala
Nim : 071101054
Fakultas : Keperawatan USU Tahun Akademik : 2010/2011
ABSTRAK
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan , bina suasana dan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Perilaku hidup bersih sehat seseorang ditentukan oleh pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya ádalah pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami informasi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih sehat dalam keluarga di desa simalingkar kecamatan pancur batu. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan sampel berjumlah 91 orang.
Dari hasil penelitian kepala keluarga yang berpendidikan dasar proporsi PHBS buruk sebanyak 9 KK (9,9%), sedang sebanyak 19 KK (20,9%). Pada kepala keluarga yang berpendidikan menengah proporsi PHBS sedang sebanyak 33 KK (36,3%), baik sebanyak 2 KK (2,2%). Sedangkan pada yang berpendidikan tinggi proporsi PHBS sedang sebanyak 4 KK (4,4%), baik sebanyak 24 KK (26,4%). Berdasarkan analisis data diperoleh tingkat signifikansi (p) 0,00 dengan α = 0,05. Karena tingkat signifikansi (p) < 0,05 maka Ho ditolak atau dengan kata lain ada hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih sehat di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu
Title : Corelation of Households Education Level and Healty Life Behaviors among Families at Simalingkar Village, Pancur Batu District.
Name : Pratiwi Simanungkalit
Nim : 071101054
Faculty : Nursing USU Academic Year : 2010/2011
ABSTRACT
Clean and healthy life behaviors (PHBs) is an attempt to provide a learning experience or create a condition for individuals, families, groups and communities, with open lines of communication, provide information and to educate, to enhance the knowledge, attitudes and behavior, through the leadership approach, atmosphere building and community empowerment so as to implement ways of healthy living in order to establish, maintain and improve public health. Clean living a healthy person's behavior is determined by knowledge. Factors influencing knowledge of one of them is education. Education is the guidance given by one person to another against something so they can understand the information. The purpose of this study to determine the relationship of education level of head of household with a clean healthy living behaviors in families in the Simalingkar Village, Pancur Batu District. The design was descriptive correlational study with a sample totaling 91 people.
From the results of an educated family heads the research basis of the proportion of bad PHBS 9 KK (9.9%), while as many as 19 families (20.9%). At the head of the family that the proportion of secondary education PHBs are a total of 33 families (36.3%), either of two families (2.2%). While the proportion of highly educated PHBs are as many as 4 families (4.4%), either as many as 24 families (26.4%). Based on analysis of data obtained level of significance (p) 0.00 with α = 0.05. Because the level of significance (p) <0.05 then Ho is rejected or in other words, there is a relationship of education level of head of household with a healthy hygienic behavior in the Simalingkar Village, Pancur Batu District.
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran,
kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dengan perkataan lain masyarakat
diharapkan mampu berpartisipasi aktif dalam memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatannya sendiri, dengan demikian masyarakat mampu menjadi subjek
dalam pembangunan kesehatan (Dinkes Propsu, 2002).
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan
nasional. Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui
pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh
penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat
(Syafrudin, 2009)
Perilaku hidup bersih dan sehat di Indonesia saat ini masih rendah, hal
ini terkait dengan berbagai permasalahan kesehatan atau penyebaran penyakit
berbasis lingkungan yang secara epidimiologis masih tinggi di Indonesia
(Tursilowati et al., 2007). Data Departemen Kesehatan menyebutkan, sedikitnya
30 ribu desa di 440 kabupaten di Tanah Air memiliki sanitasi lingkungan yang
sehat. Akibatnya,angka kesakitan masyarakat sangat tinggi, terutama diare, DBD,
thypoid, dan kolera (Tim Teknis Pembangunan Sanitasi, 2009).
Selama ini upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah
kesehatan (penyakit), masih banyak berorientasi pada penyembuhan penyakit.
Dalam arti apa yang dilakukan masyarakat dalam bidang kesehatan hanya untuk
mengatasi penyakit yang telah terjadi atau menimpanya, di mana hal ini dirasa
kurang efektif karena banyaknya pengeluaran. Upaya yang lebih efektif dalam
mengatasi masalah kesehatan sebenarnya adalah dengan memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit dengan berperilaku hidup sehat,
namun hal ini ternyata belum disadari dan dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat
(Kusumawati, 2004) .
Sesuai tuntutan reformasi pembangunan kesehatan, maka sekitar
kesehatan juga mengalami perubahan yang sangat mendasar yaitu mengajak dan
memotivasi masyarakat pada umumnya dan penyelenggara pelayanan kesehatan
pada khususnya untuk mulai mengubah pola pikir dari sudut pandang sakit
menjadi sudut pandang sehat yang lebih dikenal paradigma sehat. Paradigma
Sehat tersebut perlu dijabarkan dan dioperasikan antara lain dalam bentuk
Program Perilaku Hidup Bersih Sehat atau PHBS (Dinkes Sumatera Utara, 2002).
Program PHBS adalah bentuk perwujudan Paradigma Sehat dalam
budaya hidup perorangan, keluarga, masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan
untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental
spiritual maupun sosial (Dinkes Sumatera Utara, 2002).
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang
makanan, serta lingkungan. Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan
ditentukan oleh pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
salah satunya ádalah pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan
seseorang kepada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami.
Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah
pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula
pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika tingkat pendidikan seseorang
rendah, akan menghambat perkembangan perilaku seseorang terhadap
penerimaan, informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Pendidikan lebih
menekankan pada pembentukan manusianya (penanaman sikap dan nilai-nilai)
(Mubarak et al., 2007). Tetapi pada kenyataanya fakta tidak selalu mendukung
teori, karena di Daerah Labuang Baji ada dua orang dokter yang meninggal dunia
karena terserang penyakit demam berdarah (Saroso, 2007). Selain itu di daerah
Simalingkar Kecamatan Pancur Batu terdapat 2 warga yang meninggal dunia
akibat terserang penyakit DBD. Meskipun penyuluhan telah dilakukan setiap
bulan namun baru-baru ini desa tersebut terserang wabah chikunguya.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti apakah benar atau tidak
ada hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih
sehat.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah adakah hubungan tingkat
pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih sehat pada keluarga di
Desa Simalingkar Kecamatan Pancurbatu.
3. Tujuan Penelitian 3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih sehat
pada keluarga di Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan
3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan kepala keluarga di Desa
Simalingkar Kecamatan Pancurbatu.
2. Mengidentifikasi Perilaku Hidup Bersih Sehat dalam keluarga di Desa
Simalingkar Kecamatan Pancurbatu.
4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
4.1 Pendidikan Keperawatan Komunitas
Sebagai bahan masukan dalam menentukan prioritas masalah yang ada
dalam suatu lingkungan yang berkaitan dengan PHBS.
4.2 Bagi Praktek Keperawatan
Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya promosi perilaku hidup bersih dan
4.3Penelitian Keperawatan
Sebagai bahan masukan dan dokumen ilmiah yang bermanfaat dalam
mengembangkan ilmu serta dapat digunakan sebagai perbandingan untuk
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pendidikan
1.1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus tak
terputus dari generasi ke generasi di manapun di dunia ini. Upaya memanusiakan
manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup
dan latar belakang sosial setiap masyarakat tertentu (Tirtarahardja et al., 2005).
Menurut Fuad (2005) dalam bukunya pendidikan adalah aktivitas dan
usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina
potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budi nurani).
Pendidikan juga berarti lembaga yang bertanggungjawab menetapkan cita-cita
(tujuan) pendidikan, isi, sistem, dan organisasi pendidikan. Lembaga-lembaga ini
meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung
banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Sebagai proses transformasi budaya,
pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari generasi satu ke
genari yang lain. Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan
sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya
kepribadian peserta didik (Tirtarahardja et al., 2005).
Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan
pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang dewasa, dan bagi yang
sudah dewasa atas usaha sendiri. Yang terakhir ini disebut pendidikan diri sendiri
baru lahir kepribadiannya belum terbentuk, belum mempunyai warna dan corak
kepribadian yang tertentu. Ia baru merupakan individu, belum suatu pribadi.
Untuk menjadi suatu pribadi perlu mandapat bimbingan, latihan-latihan, dan
pengalaman melalui bergaul dengan lingkungannya, khususnya dengan
lingkungan pendidikan (Tirtarahardja et al., 2005).
Bagi mereka yang sudah dewasa tetap dituntut adanya pengembangan
diri agar kualitas kepribadian meningkat serempak dengan meningkatnya
tantangan hidup yang selalu berubah. Dalam hubungan ini dikenal apa yang
disebut pendidikan sepanjang hidup. Pembentukan pribadi mencakup
pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang
sejalan dengan pengembangan fisik (Tirtarahardja et al., 2005).
1.2 Tujuan dan Proses Pendidikan 1) Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur,
pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan ada dua
fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan
merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Sebagai
suatu komponen, tujuan pendidikan menduduki posisi penting di antara
komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap
komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah
kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian
kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap
Disini terlihat bahwa tujuan pendidikan itu bersifat normatif, yaitu mengandung
unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat
perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilali
hidup yang baik (Tirtarahardja et al., 2005).
Sehubungan dengan fungsi tujuan yang demikian penting itu, maka menjadi
keharusan bagi pendidikan untuk memahaminya. Tujuan pendidikan bersifat
abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat
umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sangat sulit untuk
dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang
ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu
tertentu dengan menggunakan alat tertentu. Pelaksanaannya hanya mungkin
apabila tujuan yang ingin dicapai itu dibuat jelas (eksplisit), konkret, dan lingkup
kandungannya terbatas. Dengan kata lain tujuan umum perlu dirinci sehingga
menjadi tujuan yang lebih khusus dan terbatas agar mudah direalisasikan di dalam
praktek (Tirtarahardja et al., 2005).
Secara keseluruhan macam-macam tujuan tersebut merupakan suatu
kebulatan. Tujuan umum memberikan arah kepada semua tujuan yang lebih rinci
dan yang jenjangnya lebih rendah. Sebaliknya tujuan yang lebih khusus
menunjang pencapaian tujuan yang lebih luas dan yang jenjangnya lebih tinggi
untuk sampai kepada tujuan umum (Tirtarahardja et al., 2005).
2) Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap
Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil
pencapaian tujuan pendidikan (Tirtarahardja et al., 2005)
Pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso,
dan mikro. Pengelolaan proses dalam lingkup makro berupa kebijakan-kebijakan
pemerintah yang lazimnya dituangkan dalam bentuk UU Pendidikan, Peraturan
Pemerintah, SK Menteri, SK Dirjen, serta dokumen-dokumen pemerintah tentang
pendidikan tingkat nasional yang lain. Pengelolaan dalam ruang lingkup meso
merupakan implikasi kebijakan-kebijakan nasional ke dalam kebijakan
operasional dalam ruang lingkup wilayah di bawah tanggungjawab Kakanwil
Depdikbud. Pengelolaan dalam ruang lingkup mikro merupakan aplikasi
kebijakan-kebijakan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan sekolah
ataupun kelas (Tirtarahardja et al., 2005).
Yang menjadi tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu
terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar. Sebab berkembangnya tingkah
laku peserta didik sebagai tujuan belajar hanya dimungkinkan oleh adanya
pengalaman belajar yang optimal itu. Kegiatan mendidik diri setiap saat sepanjang
hidup itu selalu merupakan kebutuhan terlepas dari hasilnya. Juga bukan
semata-mata sebagai bekal untuk kehidupan di masa mendatang. Dengan kata lain,
pendidikan itu merupakan bagian integral dari hidup itu sendiri. Prinsip
pendidikan seperti itu mengandung makna bahwa pendidikan itu lekat dengan diri
manusia, karena dengan itu manusia dapat terus menerus meningkatkan
kemandiriannya sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat,meningkatkan
hubungan dengan lingkungan mereka dapat menyesuaikan diri secara adaptif dan
kreatif terhadap tantangan zaman (Tirtarahardja et al., 2005).
Skema 1. Proses Pendidikan
1.3 Pendidikan sebagai Sistem
Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen,
yaitu :
1) Sistem baru merupakan masukan mentah (raw input) yang akan diproses
menjadi tamatan (out put)
2) Guru dan tenaga nonguru, administrasi sekolah, kurikulum, anggaran
pendidikan, prasarana dan sarana merupakan masukan instrumental (instrumental
input) yang memungkinkan dilaksanakannya pemrosesan masukan mentah
menjadi tamatan.
Input atau masukan Dalam hal ini adalah subjek belajar (siswa) atau individu,
kelompok, keluarga dan Adanya perilaku baru dalam bentuk kemampuan sebagai hasil
perubahan perilaku yang sehat
• Latar belakang pendidikan • Bagaimana factor social dan
ekonominya • Kesiapan fisik
• Kesiapan psikologis/kejiwaan
PBM (Proses Belajar Mengajar) akan berjalan dengan baik bila ditunjang :
• Materi kurikulum yang tepat
• Sumber daya (dana dan fasilitas pendukung lain baik perangkat lunak/perangkat keras)
• Lingkungan belajar yang kondusif
• SDM (Sumber Daya Manusia : Dosen/Guru yang ahli dibdangnya)
3) Corak budaya dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar, kependudukan,
politik dan keamanan negara merupakan faktor lingkungan atau masukan
lingkungan (environtmental input) yang secara langsung atau tidak langsung
berpengaruh terhadap berperannya masukan instrumental dalam pemrosesan
masukan mentah (Tirtarahardja et al., 2005).
Sistem pendidikan terdiri dari 3 subsistem, yaitu : 1) Pendidikan Nonformal,
2) Pendidikan Formal, 3) Pendidikan Informal.Pendidikan Formal yang sering
disebut pendidikan persekolahan berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah
baku. Mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah
Atas, Perguruan Tinggi. Sementara itu pendidikan Taman kanak-kanak masih
dipandang sebagai pengelompokan belajar yang menjambatani anak dalam
suasana hidup dalam keluarga dan di sekolah dasar (Tirtarahardja et al., 2005).
Menurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
dinyatakan setiap warga negara diwajibkan mengikuti pendidikan formal minimal
samapi tamat SMP. Bagi warga negara yang tidak sempat mengikuti ataupun
menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu dalam pendidikan formal (putus
sekolah) disediakan pendidikan non-formal, untuk memperoleh bekal guna terjun
ke masyarakat. Pendidikan non-formal (PNF) sebagai mitra pendidikan formal
(PF) semakin hari semakin berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat
dan ketenagakerjaan. Pendidikan informal sebagai suatu fase pendidikan yang
berada di samping dan di dalam pendidikan formal dan nonformal sangat
menunjang keduanya (Tirtarahardja et al., 2005).
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, non-formal, dan
karenakeberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang
berupa sumber daya manusia sangat tergantung kepada sejauh mana ketiga
sub-sistem tersebut berperan (Tirtarahardja et al., 2005).
Istilah pengajaran dapat dibedakan dari pendidikan, tetapi sulit
dipisahkan. Jika pengajaran ingin dibedakan dari pendidikan, masih ada segi-segi
lain yang dapat dikemukakan sebagai berikut :
PENGAJARAN PENDIDIKAN
• Lebih menekankan pada
penguasaan wawasan dan pengetahuan tentang bidang/ program tertentu seperti pertanian, kesehatan, dll.
• Makan waktu relatif pendek.
• Metode lebih bersifat rasional, teknis praktis.
• Lebih menekankan pada
pembentukan manusianya (penanaman perilaku dan nilai-nilai)
• Makan waktu relatif panjang
• Metode lebih bersifat psikologis dan pendekatan manusiawi
Pembedaan dilakukan untuk keperluan analisis agar masing-masing
segi dapat didalami. Di dalam praktek pelaksanaan pendidikan kedua-duanya
diupayakan menyatu. Semakin luas dan dalam wawsan dan pengetahuan
seseorang semakin kukuh terbentuknya perilaku dan nilai-nilai, sebaliknya
kualitas perilaku dapat mempengaruhi usaha memperluas dan memperdalam
wawasan keilmuan seseorang. Dalam hubungan ini pendidikan modern lebih
cenderung mengutamakan pembentukan sikap seperti sikap terbuka, sikap
inovatif, dorongan untuk maju, kegairahan mencari dan menemukan sesuatu,
terbentuk, pencarian ilmu pengetahuan akan berlangsung dengan sendirinya
(Tirtarahardja et al., 2005).
1.4 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan
bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran. Tingkat pendidikan
sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi ( Ikhsan, 2005).
1) Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan
keterampilan, menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam masyarakat, serta
mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan
dasar pada prinsipnya merupakan pendidikan yang memberikan bekal dasar bagi
perkembangan kehidupan, baik untuk pribadi maupun untuk masyarakat. Karena
itu, bagi setiap warga negara harus disediakan kesempatan untuk memperoleh
pendidikan dasar. Pendidikan ini dapat berupa pendidikan sekolah ataupun
pendidikan luar sekolah, yang dapat merupakan pendidikan biasa ataupun
pendidikan luar biasa. Tingkat pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar.
2) Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta
didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan
dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau
pendidikan tinggi.
Pendidikan menengah terdiri dari pendidikan menengah umum dan
pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum diselenggarakan
selain untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan tinggi, juga
untuk memasuki lapangan kerja. Pendidikan menengah kejuruan diselenggarakan
untuk memasuki lapangan kerja atau mengikuti pendidikan keprofesian pada
tingkat yang lebih tinggi. Pendidikan menengah dapat merupakan pendidikan
biasa atau pendidikan luar biasa. Tingkat pendidikan menengah adalah SMP,
SMA dan SMK.
3) Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik
untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki tingkat kemampuan tinggi yang
bersifat akademik dan atau profesional sehingga dapat menerapkan,
mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
dalam rangka pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan manusia
( Ikhsan, 2005).
Manusia sepanjang hidupnya selalu akan menerima pengaruh dari tiga
lingkungan pendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan Tinggi terdiri dari Strata 1, Strata 1, Strata 3 ( Ikhsan, 2005).
1.5 Hubungan Pendidikan dan Keluarga
Kelurga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah
ataupun keluarga yang diperluas. Pada umumnya jenis kedualah yang banyak
ditemui dalam masyarakat Indonesia. Meskipun ibu merupakan anggota keluarga
yang mula-mula paling berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, namun
akhirnya seluruh anggota keluarga itu ikut berinteraksi dengan anak. Di samping
faktor iklim sosial itu, faktor-faktor lain dalam keluarga itu ikut pula
mempengaruhi tumbiuh kembang anak, seperti kebudayaan, tingkat kemakmuran,
keadaan perumahan dsb. Dengan kata lain, tumbuh kembang anak dipengaruhi
oleh keseluruhan situasi dan kondisi keluarganya (Tirtarahardja et al., 2005)
Fungsi dan peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat,
dalam Sisdiknas Indonesia tidak terbatas hanya pendidikan keluarga saja, akan
tetapi keluarga ikut serta bertanggung jawab terhadap pendidikan lainnya.
Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang
diselenggarakan dalam keluarga dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya,
nilai moral, dan keterampilan. Pendidikan keluarga itu merupakan salah satu
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalaman seumur hidup
(Tirtarahardja et al., 2005).
Lingkungan keluarga sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan
yang penting dan menentukan, karena itu tugas pendidikan adalah mencari cara,
membantu para ibu dalam tiap keluarga agar dapat mendidik anak-anaknya
dengan optimal.. Keluarga juga membina dan mengembangkan perasaan sosial
anak seperti hidup hemat, hidup sehat, menghargai kebenaran, tenggang rasa,
menolong, hidup damai. Jelaslah bahwa lingkungan keluarga bukannya pusat
keluargalah tempat menanam dasar pendidikan watak anak-anak (Tirtarahardja et
al., 2005).
2. Perilaku Hidup Bersih Sehat 2.1 Konsep Perilaku
Perilaku menurut Skinner (1938) dalam Mubarak (2007) merupakan
hasil hubungan antara rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respons). Disebut
teori “SOR” Stimulus Organism Respons.
1) Respondent respons (respondent behavior), yaitu respon yang ditimbulkan
oleh rangsangan/elicting stimuli tertentu. Elicting stimuli menimbulkan
respon yang bersifat relatif tetap. Contoh : makanan lezat dan beraroma akan
merangsang keluarnya air liur.
2) Operant respons, timbul dan berkembang diikuti oleh rangsangan tertentu,
perangsangan itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku tertentu yang
telah dilakukan manusia dan merupakan bagian terbesar dari perilaku
manusia, serta kemungkinannya untuk dimodifikasi sangat besar dan tak
terbatas.
Perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat
diamati bahkan dapat dipelajari . Perilaku tidak sama dengan sikap, sikap adalah
hanya suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek,
dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk meyenangi atau
tidak menyenangi obyek tersebut. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu
respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit penyakit, sistem
perilaku pasif dan perilaku aktif manusia. Bentuk pasif (respons internal),
perilaku semacam ini masih terselubung (covert behavior) dan terjadi di dalam
diri manusia dan tidak dapat diamati secara langsung oleh orang lain, seperti :
pikiran, tanggapan, sikap batin dan pengetahuan, sedangkan bentuk aktif (respon
eksternal), perilaku ini sudah merupakan tindakan nyata (overt behavior) dan
merupakan respons yang secara langsung dapat diobservasi, seperti : menjadi
akseptor keluarga berencana (Mubarak, 2007).
2.2 Teori perilaku
Beberapa teori yang telah dicoba untuk mengungkap determinan
perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yang
berhubungan dengan kesehatan, salah satunya adalah teori dari Lawrence Green,
1980. Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan.
Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni
faktor perilaku (behvior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes).
Perilaku kesehatan itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor :
1) Faktor predisposisi (predisposising factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dsb.
2) Faktor-faktor pndukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan
fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana
kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban,
3) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas keshehatan, atau petugas yang lain,yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat (Mubarak, 2007).
Menurut teori Green dalam Mubarak (2007) perilaku seseorang atau
masyarakat ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan
sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Perilaku manusia
secara operasional dapat dikelompokkan menjadi 3 macam domain, yaitu perilaku
dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan nyata atau perbuatan. Perilaku
manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.
Benyamin Bloom, 1908 seorang psikologi pendidikan membagi perilaku ke dalam
3 domain atau ranah atau kawasan yang terdiri dari : domain cognitive, domain
affective dan psychomotor domain. Dalam perkembangan selanjutnya para ahli
pendidikan, untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain itu
diukur dari :
1) Pengetahuan
Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil
penggunaan panca inderanya. Yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefes),
takhayul (superstition), dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformation).
Pengetahuan adalah hasil dari mengingat sesuatu hal. Perilaku yang didasari
pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari
pengetahuan, sebab perilaku ini terjadi akibat adanya paksaan atau aturan yang
mengharuskan untuk berbuat.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
penelitian atau responden. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahan
seseorang adalah pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan
kepada seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat
memeahami. Tidak dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan sesorang semakin
mudah pula mereka memahami informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula
pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya
rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan,
informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
2) Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap suatu stimulus
atau objek. Sikap dalam kehidupan sehari-hari adalah reaksi yang bersifat
emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau
aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.
3) Tindakan
Sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).
Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas
(Mubarak, 2007).
2.3 Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang
(organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
unsur pokok, yakni respons dan stimulus atau perangsangan ( Notoadmodjo,
2007).
Perilaku kesehatan dapat diklasifikaskan menjadi 3 kelompok :
Pertama, perilaku pemeliharaan kesehatan (haelth maintenance), seperti perilaku
pencegahan penyakit, perilaku peningkatan kesehatan dan erilaku pemenuhan
kebutuhan gizi. Kedua, perilaku pencarian dan penggunaan system atau fasilitas
pelayanan kesehatan (health seeking behavior), seperti mengobati sendiri (self
treatment) dan pengobatan di dalam/luar negeri. Ketiga, perilaku kesehatan
lingkungan, yang meliputi:
1) Perilaku hidup sehat, seperti : makan dengan menu seimbang (appropriate
diet), olahraga teratur, tidak merokok dan tidak minum-minuman keras,
istirahat cukup, mengendalikan stres, gaya hidup yang positif.
2) Perilaku sakit, yaitu pengetahuan tentang penyebab, gejala, dan pengobatan
3) Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
4) Peran pasien yaitu hak-hak orang sakit (right) seperti : memeperoleh
perawatan, memperoleh pelayanan kesehatan, dan lain-lain, kewajiban orang
sakit (obligation) seperti : memberitahukan penyakit kepada orang lain
terutama kepada dokter, tidak menularkan penyakit kepada orang lain, dan
lain-lain, perilaku peran orang sakit (the sick role) seperti : tindakan untuk
memperoleh kesembuhan, mengenal fasilitas penyembuhan yang layak,
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sehat
Menurut Green dalam Mubarak (2007) mengemukakan teori yang
menggambarkan faktor-faktor yang mempengauhi perilaku kesehatan seperti pada
gambar 2.
Skema 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan (Mubarak, 2007)
2.5 Program Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) 1) Pengertian
Program PHBS adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau
menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat,
dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan
edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui
pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support), dan
pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai suatu upaya untuk membantu
masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri dalam tatanan rumah
Kualitas Hidup
Masalah Kesehatan Predisposising Factors
Pendidikan Kesehatan Enabling Factor Perilaku
tangga, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga,
memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes Propsu, 2002). PHBS
tatanan rumah tangga adalah upaya pemberdayaan dan peningkatan kemampuan
untuk berperilaku bersih dan sehat (Wahyuni, 2007).
2) Tujuan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Tujuan PHBS adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran
dankemauan masyarakat agar hidup sehat, serta meningkatkan peran aktif
masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat
hidup yang optimal (Amalia, 2009). Tujuan PHBS dalam Rumah Tangga adalah
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku anggota keluarga di tatanan rumah
tangga terhadap program kesehatan ibu dan anak, gizi, kesehatan lingkungan,
gaya hidup sehat dan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat (Wahyuni, 2007).
3) Manfaat PHBS dalam Tatanan Rumah Tangga
Manfaat dilaksanakanya program PHBS ini adalah:
a. Setiap anggota rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah
sakit.
b. Rumah tangga sehat dapat meningkatkan produktifitas kerja anggota rumah
tangga.
c. Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya kesehatan
dapat dialihkan untuk biaya investasi lain seperti pendidikan dan usaha lain.
e. Sebagai salah satu indikator keberhasilan pemerintah kabupaten atau kota
dalam bidang pembangunan kesehatan.
f. Dapat menjadi percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain.
(Wahyuni, 2007)
4) Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga
Dalam tatanan rumah tangga, yang menjadi indikator PHBS adalah
(Promkes Depkes, 2009):
1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, 80 % karena komplikasi
obstetri dan 20 % oleh sebab lainnya. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah
“3 Terlambat” dan “4 Terlalu”. Tiga faktor terlambat yang dimaksud adalah
terlambat dalam mengambil keputusan, terlambat sampai ke tempat rujukan, dan
terlambat dalam mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan. Adapun 4 terlalu
adalah terlalu muda saat melahirkan, terlalu tua melahirkan, terlalu banyak anak,
dan terlalu dekat jarak melahirkan. Untuk mengatasi hal itu diperlukan upaya
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan keterlibatan masyarakat madani
termasuk organisasi profesi dalam menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu) di
Indonesia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).
2. Meningkatkan persentase pemberian ASI Esklusif
ASI eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi
hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula,15 jeruk,
madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya,
6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan
padat, dan pemberian ASI dapat diteruskan sampai ia berusia 2 tahun (Kamalia, 2005)
3. Menimbang bayi dan balita di posyandu
Masa bayi dan balita bahkan sejak dalam kandungan adalah periode emas
karena jika pada masa tersebut pertumbuhan dan perkembangan balita tidak
dipantau dengan baik dan mengalami gangguan tidak akan dapat diperbaiki pada
periode selanjutnya. Sehingga perlu dilakukan pemantauaan pertumbuhan rutin
pada pertumbuhan balita sehingga dapat terdeteksi apabila ada penyimpangan
pertumbuhan dan dapat dilakukan penanggulangan sedini mungkin sehingga tidak
terjadi gangguan pada proses tumbuh kembang balita. Salah satu tempat
pemantauan pertumbuhan balita yaitu di posyandu. Posyandu merupakan layanan
kesehatan masyarakat, yang mempunyai salah satu kegiatan penimbangan balita.
Tujuan penimbangan balita tiap bulan yaitu untuk memantau pertumbuhan balita
sehingga dapat sedini mungkin diketahui penyimpangan pertumbuhan balita (KTI
Kebidanan, 2010).
4. Menggunakan air bersih dalam kebiasaan sehari-hari
Kebutuhan air bersih yaitu banyaknya air yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan air dalam kegiatan sehari – hari misalnya mandi, mencuci, memasak,
menyiram tanaman dan lain sebagainya. Sumber air bersih untuk kebutuhan hidup
seharihari secara umum harus memenuhi standar kuantitas dan kualitas. Kebutuhan
dasar air bersih adalah jumlah air bersih minimal yang perlu disediakan agar manusia
dapat hidup secara layak yaitu dapat memperoleh air yang diperlukan untuk
5. Mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting
dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan
sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum
menyuapi makan anak dan sesudah makan, mempunyai dampak dalam kejadian
diare (Wulandari, 2009).
6. Menggunakan jamban kalau buang air besar
Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik
dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :
a. Melindungi kesehatan masyarakat dar penyakit.
b. Melindungi dari gangguan estetika, baud an penggunaan prasarana yang aman.
c. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vector penyakit.
d. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan.
Pembuangan tinja merupakan bagian dari kesehatan lingkungan maka kebiasaan
masyarakat memakai jamban harus terlaksana bagi setiap keluarga (Tarigan, 2008).
7. Memberantas jentik nyamuk
Keberadaan jentik Aedes aegypti di suatu daerah merupakan indikator
terdapatnya populasi nyamuk Aedes aegypti di daerah tersebut. Penanggulangan
penyakit DBD mengalami masalah yang cukup kompleks, karena penyakit ini
belum ditemukan obatnya. Tetapi cara paling baik untuk mencegah penyakit ini
adalah dengan pemberantasan jentik nyamuk penularny a atau dikenal dengan
istilah. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN - DBD)
(Depkes RI,1996 a dalam Yudhastuti et al., 2005).
Keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti diobservasi pada rumah beserta
Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue (Depkes RI,
1992 b dalam Yudhastuti et al., 2005), yaitu :
a. Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui
ada atau tidaknya jentik.
b. Untuk memeriksa Tempat Penampungan Air (TPA) yang berukuran besar
seperti : bak mandi, tempayan, drum , dan bak penampungan air lainnya, jika
pada pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan jentik tunggu kira
-kira ½ - 1 menit untuk memastikan bahwa benar jentik tidak ada.
c. Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil seperti vas
bunga, pot tanaman air, botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu
dipindahkan ke tempat lain.
d. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap atau airnya keruh,
biasanya digunakan senter (Yudhastuti et al., 2005).
8. Makan buah-buahan dan sayuran setiap hari
Sayur dan buah-buahan merupakan sumber makanan yang mengandung gizi
lengkap dan sehat. Sayur berwarna hijau merupakan sumber kaya karoten
(provitamin A). Semakin tua warna hijaunya, maka semakin banyak kandungan
karotennya. Didalam sayuran dan buah juga terdapat vitamin yang bekerja sebagai
antioksidan. Antioksidan dalam sayur dan buah bekerja dengan cara mengikat lalu
menghancurkan radikal bebas dan mampu melindungi tubuh dari reaksi oksidatif
yang menghasilkan racun (Padmiari, 2010).
9. Melakukan aktivitas fisik secara teratur dan terprogram/olahraga
latihan, 2) prinsip beban latihan, 3) faktor istirahat, 4) kebiasaan hidup sehat dan 5)
faktor lingkungan 6) faktor makanan (Wibowo, 2005).
10. Tidak merokok di dalam rumah.
Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negative yang sangat
berpengaruh bagi kesehatan. Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi
dapat memicu suatu penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak
menyebabkan kematian, tetapi dapat mendorong munculnya penyakit yang dapat
menyebabkan kematian. Beberapa jenis penyakit yang dapat dipicu karena rokok
adalah penyakit kardiovaskular, penyakit saluran nafas, peningkatan tekanan
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
1. Kerangka Konsep
Perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat
diamati bahkan dapat dipelajari . Perilaku tidak sama dengan sikap, sikap adalah
hanya suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek,
dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk meyenangi atau tidak
menyenangi obyek tersebut (Mubarak et al., 2007). Latar belakang tingkat pendidikan
termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku kesehatan
dengan melalui proses belajar mengajar (Tirtarahardja et al., 2005).
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan,
serta lingkungan. Perilaku hidup bersih sehat seseorang ditentukan oleh pengetahuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya ádalah pendidikan.
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap
sesuatu hal agar mereka dapat memahami informasi tersebut (Mubarak et al, 2007)
Jenjang pendidikan memegang peranan cukup penting dalam
kesehatan masyarakat. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka
sulit diberi tahu mengenai pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan
untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular, diantaranya diare. Dengan
sulitnya mereka menerima penyuluhan, menyebabkan mereka tidak peduli
Skema 3. Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat dalam Keluarga di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu
2. Defenisi Operasional 2.1 Tingkat pendidikan
Tabel 1. Defenisi Operasional Tingkat Pendidikan
No Variabel Definisi Operasional Skala Cara Pengukuran
1 Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan yang
dimaksud adalah jenjang
pendidikan yang diikuti dengan
menamatkan pendidikan yang
1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
2. Meningkatkan persentase pemberian ASI Esklusif
3. Menimbang bayi dan balita di posyandu 4. Menggunakan air bersih dalam kebiasaan
sehari-hari
5. Mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban kalau buang air besar
7. Memberantas jentik nyamuk
8. Makan buah-buahan dan sayuran setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik secara teratur dan terprogram/olahraga
ijazah. Tingkat pendidikan yang
diobservasi terdiri dari pendidikan
dasar yaitu Sekolah Dasar,
pendidikan menengah yaitu
Sekolah Menengah Pertama,
Sekolah Menengah Atas, dan
pendidikan tinggi yaitu Strata 1,
Strata 2, Strata 3 dengan penilaian
:
1 = Pendidikan Dasar
2 = Pendidikan Menengah
3 = Pendidikan Tinggi
2.2 Perilaku Hidup Bersih Sehat
Indikator PHBS yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,
meningkatkan persentase pemberian ASI Esklusif, menimbang bayi dan balita di
posyandu, menggunakan air bersih dalam kebiasaan sehari-hari, mencuci tangan
dengan menggunakan air bersih dan sabun, menggunakan jamban kalau buang air
besar, memberantas jentik nyamuk, makan buah-buahan dan sayuran setiap hari,
melakukan aktivitas fisik secara teratur dan terprogram/olahraga, tidak merokok di
dalam rumah.
Tabel 2. Defenisi Operasional PHBS
No Variabel Definisi Operasional Skala Cara Pengukuran
1 Perilaku Hidup Bersih
Sehat
Perilaku Hidup Bersih Sehat
merupakan upaya untuk
meningkatkan cara-cara hidup
sehat dalam rangka menjaga,
memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang masing-masing
indikatornya tercantum dalam
kuesioner PHBS.
Jawaban pernyataan positif: 1. Benar : nilai 1
2. Salah : nilai 0
Jawaban pernyataan negatif: 1. Benar : nilai 0
2. Salah : nilai 1
Total Skor = 20
Kategori untuk PHBS :
0 – 7 = buruk
8 – 14 = sedang
15 – 20 = baik
3. Hipotesis
Ha : Ada hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup
bersih sehat pada keluarga di Desa Simalingkar Kecamatan Pancurbatu.
Ho : Tidak ada hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku
hidup bersih sehat pada keluarga di Desa Simalingkar Kecamatan
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan Desain Deskriptif Korelasional yaitu
mengkaji hubungan antara variabel. Peneliti mencari suatu hubungan,memperkirakan,
menguji berdasarkan teori yang ada. Hubungan korelatif mengacu pada
kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang lain
(Nursalam, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh kontribusi
tingkat pendidikan terhadap perilaku hidup bersih sehat di Desa Simalingkar
Kecamatan Pancur Batu. Desain ini menggunakan pendekatan Cross Sectional, yaitu
pengukuran variabel bebas dan variabel terikat hanya satu kali pada satu saat.
2. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2004 dalam Hidayat,
2007). Populasi penelitian ini adalah setiap kepala keluarga di Desa Simalingkar
Kecamatan Pancur Batu. Ada terdapat 7 dusun di Desa Simalingkar dengan 1870
kepala keluarga.
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian
jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2007). Pemilihan
sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Issac & Michael (Arikunto, 2006)
n =
n =
=
=
x2 NP (1-P) d2(N-1) + x2 P(1-P)
Keterangan:
n : besarnya sampel
N : jumlah populasi
x2 : standar defiasi normal 1,96 dengan taraf kepercayaan 95%
d2 : tingkat kesalahan 10% = 0,1
P : proporsi perkiraan jumlah sampel minimal (0,5)
Berdasarkan rumus tersebut di atas, maka besarnya sampel minimal yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1,96)2.0,5(1-0,5).1870
0,12(1870-1) + (1,96)2 0,5(1-0,5)
1795,948 19,6504
91
Teknik sampling pada penelitian ini adalah unstratified random sampling
yang digunakan untuk mengetahui beberapa variabel pada populasi yang merupakan
hal yang penting untuk mencapai sampel yang mewakili populasi (Nursalam,2003).
Setiap dusun diperlukan sampel sebanyak 13. Sampel untuk kepala keluarga tamatan
Pendidikan Dasar diperlukan 4 sampel per dusun, untuk Pendidikan Sekolah
Menengah ( SMP,SMA ) 5 sampel perdusun, untuk Pendidikan Tinggi ( S1, S2 ) 4
Adapun kriteria inklusi sampel dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Sudah berumah tangga dan menjadi kepala keluarga
b. Pendidikan minimal Sekolah Dasar
c. Bisa membaca dan menulis
d. Bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
Dalam memilih samel hal yang dilakukan peneliti adalah pertama mendatangi
kepala dusun dari setiap dusun di Desa Simalingkar dan meminta alamat dari calon
responden yang akan diteliti sesuai dengan tingkat pendidikan yang diperlukan dalam
penelitian ini. Kemudian peneliti mengacak alamat calon responden yang akan dituju
menurut tingkat pendidikan dengan metode cabut nomor.
3. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu.
Alasan peneliti memilih tempat ini untuk memudahkan jangkauan peneliti dalam
pengambilan sampel dan juga di daerah ini terdapat kepala keluarga yang tingkat
pendidikan terendah sampai tertinggi. Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan
yaitu bulan September 2010-Juni 2011.
4. Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Fakultas
Keperawatan USU, selanjutnya mengirim surat permohonan kepada Kepala Desa
Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu. Peneliti melakukan penelitian setelah
Ada beberapa hal yang harus dilakukan peneliti sebelum melakukan
pengumpulan data yaitu : peneliti menjelaskan maksud, tujuan, dan prosedur
penelitian kepada responden. Apabila responden bersedia untuk diteliti maka terlebih
dahulu responden menandatangani lembar persetujuan (informed consent). Jika
responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap
menghormati haknya. Peneliti tidak akan mencantumkan nama responden dalam
lembar kuesioner demi menjaga kerahasiaan responden. Lembar tersebut hanya diberi
kode tertentu untuk menjamin kerahasiaan yang diberikan oleh responden (Nursalam,
2003)
5. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data pada penelitian ini
adalah kuesioner. Kuisioner merupakan alat ukur berupa angket dengan beberapa
pertanyaan/pernyataan (Hidayat, 2007).Kuesioner yang digunakan dalam penelitian
ini adalah langsung tertutup yang berupa pertanyaan dimana responden harus
memilih jawaban yang disediakan. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari data
demografi dan data PHBS. Data demografi meliputi nomor responden, usia, jenis
kelamin, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan. Data demografi ini
berguna untuk membantu peneliti mengetahui latar belakang dari responden yang
bias berpengaruh terhadap penelitian ini. Salah satu data diatas juga merupakan
variabel bebas dari penelitian ini yaitu tingkat pendidikan yang akan diteliti. Tingkat
pendidikan ini akan diobervasi melalui data demografi. Skala pengukuran variabel
1 = Pendidikan Dasar
2 = Pendidikan Menengah
3 = Pendidikan Tinggi
Kuesioner PHBS terdiri dari dua jenis pernyataan yaitu pernyataan positif
dan pernyataan negatif yang berisi 20 pernyataan. Pernyataan negatif terdiri dari 6
pernyataan yaitu pada nomor 2,3,9,12,13,20 Sedangkan pernyataan positif terdiri dari
15 pernyataan yaitu pada nomor 1,4,5,6,7,8,9,10,11,14,15,16,17,18,19.
Penilaian untuk jawaban pernyataan/pertanyaan positif :
1. Benar : nilai 1
2. Salah : nilai 0
Penilaian untuk jawaban pernyataan/pertanyaan negatif :
1. Benar : nilai 0
2. Salah : nilai 1
Skala pengukuran yang dipakai adalah skala numerik dengan total skor 20.
Untuk menentukan katagori tingkat perilaku hidup bersih sehat dapat dilihat
dengan menggunakan rumus statistik menurut Hidayat (2007) yaitu:
P = Rentang / Banyak kelas
dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang (nilai tertinggi dikurangi nilai
terendah). Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 20 dan nilai terendah adalah 0
yang dibagi dalam 3 katagori banyak kelas. Dengan demikian data tentang
perilaku hidup bersih sehat dikategorikan sebagai berikut:
0 - 7 = buruk
8-14 = sedang
6. Validitas dan Realiabilitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih
mempunyai validitas tinggi (Hidayat, 2009). Uji validitas pada intrumen penelitian
ini menggunakan uji validitas isi. Instrumen dikatakan valid apabila r>=0,7 ( Polit &
Hungler, 1995). Uji validitas akan dilakukan oleh seseorang yang ahli dalam
bidangnya yaitu bidang Departemen Komunitas Keperawatan USU. Setelah
dilakukan uji validitas, instrument penelitian dinyatakan valid.
Reliabilitas merupakan kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila
fakta atau kenyataan diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang berlawanan
(Nursalam, 2008). Uji reliabilitas pada penelitian ini dilakukan sebelum pengumpulan
data terhadap 10 orang diluar sampel yang memenuhi kriteria sampel penelitian. Uji
reliabilitas yang digunakan untuk menguji instrumen dalam penelitian ini dengan
menggunakan rumus Kuder Richardson-20. Rumus KR-20 digunakan apabila skor
untuk setiap butir soal hanya berupa dikotomi (Arikunto, 2007). Dikatakan reliabel
bila nilai rhitung≥ rtabel dengan α = 5% dan rtabel = 0,7(Arikunto, 2006). Dari
perhitungan didapati rhitung = 0,9. Dengan begitu instrumen dikatakan reliabel karena
rhitung≥ rtabel.
7. Pengumpulan Data
Peneliti melakukan pengumpulan data secara mendiri dengan membagikan
kuesioner secara langsung kepada responden. Sebelum melakukan pengumpulan data
peneliti terlebih dahulu mengajukan permohonan ijin pelaksanaan penelitian pada
manfaat, prosedur prngumpulan data pada calon responden. Calon responden yang
bersedia diminta untuk menandatangani informed consent (surat persetujuan menjadi
responden). Selanjutnya menjelaskan cara pengisian kuesioner yang diberikan oleh
peneliti dengan cermat. Responden diberikan kesempatan untuk bertanya bila ada
yang tidak mengerti.
Peneliti mengumpulkan kembali kuesioner dan memeriksa jika ada lembar
kuesioner yang tidak lengkap atau pertanyaan yang tidak diisi seluruhnya oleh
responden. Jika ada yang tidak lengkap maka responden diminta untuk
melengkapi. Setelah data terkumpul dari semua responden, maka dilakukan
analisa atau pengolahan data.
8. Analisa Data
Setelah dilakukan pengumpulan data dilakukan analisa data. Tahap
pertama adalah editing yaitu memeriksa kelengkapan data dan memastikan bahwa
semua jawaban telah diisi sesuai dengan petunjuk. Tahap kedua adalah coding yaitu
memberi angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah waktu melakukan
tabulasi dan analisa data (Arikunto, 2006). Tabulasi dan analisa data dilakukan
dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data
dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum atau generalisasi (Dahlan, 2008). Statistik dekriptif digunakan untuk
menyajikan data-data demografi yang meliputi nomor responden, usia, jenis kelamin,
digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi.
Statistik inferensial digunakan untuk menganalisis hubungan tingkat pendidikan
dengan perilaku hidup bersih sehat (Dahlan, 2008). Untuk menguji hubungan antara
tingkat pendidikan dengan perilaku hidup bersih sehat digunakan analisis statistik
dengan uji anova ( Analysis of Variance). Uji anova merupakan teknik yang dipakai
untuk menguji perbedaan lebih dari dua nilai dan dipakai pada skala pengukuran
numerik, lebih dari 2 kelompok yang akan diteliti (Arikunto, 2007). Uji anova juga
digunakan apabila data berdistribusi normal. Jika data tidak berditribusi normal
digunakan uji Kruskal-Wallis (Dahlan, 2006). Dasar pengambilan keputusan untuk
menjawab hipotesis penelitian, yaitu berdasarkan tingkat signifikansi (nilai p), yaitu:
jika nilai p > 0,05 maka Ho gagal ditolak atau tidak ada hubungan dan jika nilai p <
0,05 maka Ho ditolak atau ada hubungan. Setelah dilakukan uji kenormalan data,
ternyata data yang akan di analisa berdistribusi tidak normal sehingga yang dipakai
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengumpulan data penelitian dilakukan dari bulan Februari-Maret 2011 di
Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu. Jumlah sampel yang memenuhi
kriteria penelitian adalah sebanyak 91 responden.
5.1. Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian hubungan tingkat pendidikan kepala keluarga dengan
perilaku hidup bersih sehat di Desa Simalingkar Kecamatan Pancur Batu adalah
sebagai berikut :
5.1.1 Karakteristik Responden
Tabel 3. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan karakteristik
responden di Desa Simalingkar ( N = 91 )
Karakteristik Responden Frekuensi (%)
Pekerjaan
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas umur kepala
keluarga berada diantara 40-50 tahun (53,8%). Kemudian jumlah jenis kelamin
yang mengisi kuesioner untuk laki-laki (57,1%) dan untuk perempuan (42,9%).
Mayoritas penduduk memeluk agama Islam (56%) dan Kristen (44%).
Berdasarkan penghasilan, mayoritas penduduk memiliki penghasilan
<500.000 (9,9%), 500.000-1.000.000 (40,7%), 1.000.000-3.000.000 (47,3%),
>3.000.000 92,2%).
5.1.2 Tingkat pendidikan Kepala Keluarga
Tingkat pendidikan responden sesuai dengan kriteria sampel yang sudah
direncanakan yaitu jumlah untuk Pendidikan Dasar 28 responden, Pendidikan