• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

7. Pembahasan

Praperadilan adalah suatu hal yang wajar dan tidak perlu ditakuti sepanjang proses penyidikan atau upaya paksa yang dilakukan didasarkan kepada aturan dalam KUHAP. Tidak semua putusan pra peradilan dimenangkan oleh tersangka atau pihak yang mengajukan. Di dalam proses sidang pemeriksaan pra peradilan tentunya akan mempertimbangkan fakta baik secara yuridis maupun fakta materiil. Apabila dalam KUHAP tentunya pra peradilan tersebut dimenangkan juga telah diatur dalam KUHAP.

Dikabulkannya praperadilan juga harus ditinjau lagi secara adil apakah karena suatu sebab yang disengaja atau suatu sebab yang berasal dari luar proses penyidikan. Adanya pra peradilan adalah untuk menjaga agar penyidik tidak sewenang-wenang serta untuk mengawal agar proses penyidikan dan atau penuntutan berjalan dengan mekanisme yang diatur di dalam KUHAP. Yang terpenting di dalam suatu proses penyidikan adalah penyidik harus bersikap netral, professional dan proporsional. Apabila kita yakin bahwa proses penuntutan tersebut telah dilaksanakan secara professional dan tidak memihak saya rasa tidak ada yang perlu dirisaukan dan juga dikhawatirkan.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah harus segera dihapus anggapan bahwa praperadilan adalah suatu hal yang tabu bagi penyidik. Begitu pula dengan atasan penyidik atau pihak-pihak lain yang berkompeten

commit to user

terhadap proses penyidikan. Untuk mengurangi kesalahan dan keberpihakan penyidik dalam proses penyidikan. Pengawas penyidikan juga dijabat oleh seorang perwira yang memiliki pengalaman yang cukup di bidang penyidikan. Kerja pengawas penyidikan ini bersifat independen. Selain itu mekanisme pengawasan internal juga berlaku terhadap setiap keberatan atau komplain dari pihak-pihak tertentu. Hal ini tidak lain menunjukkan adanya transparansi di dalam proses penyidikan. Oleh karena itu pra peradilan adalah suatu hal yang wajar dalam proses penyidikan dan untuk menjamin hak-hak tersangka atau pihak-pihak tertentu yang merasa dirugikan.

Permohonan Praperadilan dapat dilakukan oleh pihak lain atau kuasa tersangka / terdakwa dengan alasan demi tegaknya hukum dan keadilan karena tersangka / terdakwa telah ditangkap / ditahan / dituntut/ diadili / dikenakan tindakan lainnya tanpa alasan berdasar undang-undang selain itu biasa terjadi karena kekeliruan orangnya ataupun kekeliruan tentang hukum yang diterapkan. Oleh karena itu semua lembaga yang mempunyai kewenangan untuk melakukan penangkapan, penggeledahan atau penyitaan, penuntutan dan penahanan boleh dipraperadilankan, akan tetapi terdapat peraturan yang membebaskan hakim walaupun hakim mempunyai hak untuk penahanan terhadap tersangka / terdakwa yaitu melalui keputusan menteri kehakiman republik Indonesia no. m 14 pw - 07.03 tahun 1983.

Putusan Praperadilan menurut Pasal 82 ayat 3 KUHAP harus jelas memuat dasar dan alasannya. Isi putusan itu memuat hal-hal sebagai berikut diatur dalam Pasal 82 ayat 3 KUHAP

1. Dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penangkapan atau

penahanan tidak sah, maka penyidik atau jaksa penuntut umum pada tingkat pemeriksaan masing-masing harus segera membebaskan tersangka.

2. Dalam hal putusan menetapkan bahwa suatu penghentian penyidikan

atau penuntutan tidak sah, penyidik atau penuntutan terhadap tersangka wajib dilanjutkan.

commit to user

3. Dalam putusan menetapkan bahwa suatu penangkapan atau

penahanan tidak sah, maka dalam putusan dicantumkan jumlah besarnya ganti kerugiandan rehabilitasi yang diberikan, sedangkan dalam hal suatu penghentian penyidikan atau penuntutan adalah sah dan tersangkannya tidak ditahan maka dalam putusan dicantumkan rehabilitasinya.

4. Dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak

termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka atau dari siapa benda itu disita.

Putusan Praperadilan tidak dapat dimintakan banding kecuali terhadap putusan Praperadilan yang menetapakan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan, untuk itu penyidik atau penuntut umum dapat memintakan putusan akhir kepada pengadilan tinggi dalam daerah hukum yang bersangkutan (Pasal 83 KUHAP ).

Upaya hukum atas putusan Praperadilan yang menyatakan suatu penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan tidak sah tidak dapat dilakukan penyidik atau penuntut umum, baik upaya banding sesuai Pasal 83 KUHP juga upaya hukum kasasi. KUHAP tidak mengatur upaya hukum kasasi untuk putusan Praperadilan, namum sebagai dasar hukum tidak dapatnya dilakukan upaya hukum kasasi atas putusan Praperadilan yaitu keputusan menteri kehakiman republik Indonesia nomor M.14 . PW .07.03 tahun 1983 tanggal 10 Desember 1983 yang termuat dalam angka 23 yang menyatakan untuk putusan Praperadilan tidak dapat dimintakan kasasi, dengan alasanbahwa:

1. Ada keharusan penyelesaian secara cepat dari perkara-perakara

Praperadilan sehingga jika masih dimungkinkan kasasi, maka hal tersebut tidak akan dapat dipenuhi.

2. Perkara Praperadilan merupakan wewenang pengadilan negeri

commit to user

Terhadap putusan praperadilan dapat atau tidaknya diajukan upaya hukum dijelaskan dalam Pasal 83 KUHAP, yang isinya:

1) Terhadap putusan praperadilan dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79, 80 dan 81 KUHAP tidak dapat dimintakan banding;

2) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) adalah putusan praperadilan yang menetapkan tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan yang untuk itu dapat dimintakan putusan akhir ke Pengadilan Tinggi dalam daerah hukum yang bersangkutan.

Melihat perumusan Pasal 83 KUHAP, nampaklah bahwa pada prinsipnya putusan praperadilan tidak dapat dimintakan upaya-upaya hukum, baik upaya hukum biasa ataupun upya hukum luar biasa. Namun, prinsip tersebut tidaklah mutlak karena penyidik atau penuntut umum dapat melakukan upaya hukum banding atas putusan praperadilan yang menyatakan suatu penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan tidak sah, dan putusan banding ini merupakan putusan akhir.

Menurut Pedoman Pelaksanaan KUHAP, dalam hal permintaan putusan akhir sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) KUHAP, maka surat permintaan tersebut setelah diterima/dicatat dalam Register Kepaniteraan kemudian dikirim ke Pengadilan Tinggi dengan memperlakukan ketentuan- ketentuan pada acara permohonan banding, baik mengenai tenggang waktu serta tata cara lainnya. Meskipun Pedoman Pelaksanaan KUHAP menyebutkan demikian, dalam Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.M.14-PW.07.03 Tahun 1983 Tentang Tambahan Pedoman Pelaksanaan KUHAP, tanggal 10 Desember 1983 menegaskan kembali tentang waktu acara praperadilan dalam tingkat pemeriksaan banding.

Dalam poin 12 lampiran tersebut ditentukan bahwa dalam hal banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) KUHAP, penyidik atau penuntut umum harus mengajukan banding ke pengadilan tinggi dalam waktu tujuh hari setelah putusan praperadilan. Pengadilan tinggi dalam waktu tiga hari setelah menerima berkas perkara dari pengadilan negeri, harus sudah menetapkan hari sidang, dan dalam waktu tujuh hari terhitung tanggal sidang

commit to user

yang ditetapkan itu, harus sudah memberikan putusannya. Antara penetapan hari sidang dan tanggal sidang tidak boleh lebih dari tiga hari.

Selanjutnya, terhadap putusan praperadilan tidak dapat dimintakan kasasi. KUHAP sama sekali tidak mengaturtentang hal ini, akan tetapi dalam

Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.

M.14.PW.07.03 Tahun 1983, poin 23, dengan judul “Putusan Praperadilan Dalam Hubungannya Dengan Kasasi” dijelaskan bahwa untuk putusan praperadilan tidak dapat dimintakan kasasi.

Alasan tidak dibenarkannya putusan praperadilan dibanding atau kasasi, adalah adanya keharusan penyelesaian secara cepat dari perkara-perkara praperadilan, yang jika hal tersebut (upaya hukum) dimungkinkan, maka perkara praperadilan akan berlarut-larut dan tidak akan diselesasikan secara cepat. Alasan lainnya karena wewenang pengadilan negeri yang dilakukan dalam praperadilan hanya dimaksudkan sebagai wewenang pengawasan horisontal dari pengadilan negeri atas upaya paksa yang dilakukan penyidik atau penuntut umum.

Kemudian timbul pertanyaan apakah terhadap putusan praperadilan itu dapat diajukan upaya hukum luar biasa? Mengenai upaya hukum luar biasa dalam praperadilan, KUHAP tidak mengatur secara tegas, karenanya diserahkan kepada praktek peradilan melalui yurisprudensi untuk mengaturnya, dalam hal ini hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat agar dapat mengisi kekosongan hukum dengan melakukan penemuan hukum yang tetap terikat kepada undang-undang yang berlaku.

Dalam praktek, upaya hukum peninjauan kembali terhadap praperadilan pernah dikabulkan, dalam Putusan Mahkamah Agung No. 4/PK/Pid/2000 tanggal 28 November 2001. Permohonan ini diajukan oleh Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera (IKBLA) Arief Rachman Hakim Eksponen 66 Samarinda yang diwakili oleh H. Iskandar Hutualy, selaku ketua. Dalam kaitannya dengan asas peradilan pidana yang sederhana, cepat, biaya ringan, maka pemeriksaan praperadilan yang belum masuk pada materi kasus, terlihat inkonsisten dengan

commit to user

asas itu. Harapan ke depan, masalah pemeriksaan praperadilan sebaiknya hanya sampai di tingkat Pengadilan Negeri saja, agar tidak berlarut-larut.

Meskipun Pasal 82 ayat (1) huruf d KUHAP menyatakan bahwa jika suatu perkara suatu perkara mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan praperadilan tersebut gugur, namun sudah selayaknya Mahkamah Agung mengeluarkan peraturan tentang upaya hukum luar biasa terhadap putusan agar terdapat aturan yang lebih tegas (karena suatu perkara untuk dilimpahkan ke pengadilan, waktunya sangat bervariasi, bisa cepat, bisa sangat lama).

B. Kedudukan Hukum Lembaga Swadaya Masyarakat Sebagai Pemohon

Dokumen terkait