BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.3 Pembahasan
Pelaksanaan penelitian siklus I dan II telah berjalan sesuai dengan instrumen penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kedisiplinan dan prestasi belajar siswa kelas II SD N Kledokan. Peneliti melaksanakan penelitian pada mata pelajaran PKn dengan materi pemeliharaan lingkungan alam. Standar Kompetensi yang digunakan yaitu 2. Menampilkan sikap cinta lingkungan. Kompetensi Dasar yang digunakan yaitu 2.1 Mengenal pentingnya lingkungan alam seperti dunia tumbuhan dan dunia hewan. 2.2 Melaksanakan pemeliharaan lingkungan alam.Pemilihan KD berdasarkan atas kesepakatan guru
66% 80% 84% 0% 20% 40% 60% 80% 100%
Siswa yang Mencapai KKM
Capaian Siklus I Target Capaian Siklus II Capaian Siklus II
kelas karena merasa bahwa kedisiplinan dan prestasi belajar siswa masih rendah. Untuk itu peneliti memilih pembelajaran pendekatan kontekstual. Materi ajar yang digunakan manfaat lingkungan alam dan pemeliharaan lingkungan alam.
4.3.1 Peningkatan kedisiplinan belajar siswa
Peneliti dalam penelitian kedisiplinan menggunakan lembar observasi yang meliputi 3 indikator. Peneliti merumuskan 3 Indikator-indikator kedisiplinan adalah (1) Melaksanakan tata tertib di sekolah dengan baik; (2) Taat terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku; (3) Menguasai diri dan instrospeksi. Peneliti dalam melakukan penelitian bertindak sebagai guru maka observasi dibantu 1 teman sejawat dalam siklus 1 dan di siklus II dibantu oleh 1 teman sejawat. Pengamatan yang dilakukan observer dengan mengisis lembar kedisiplinan yang sudah disiapkan peneliti. Guru kelas juga bertindak sebagai pengamat.
Peneliti mendapatkan data kedisiplinan siswa berdasarkan lembar observasi yang dilakukan oleh observer pada siklus I dan II yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hasil capaian kedisiplinan siklus I dan II yang diperoleh observer dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut.
Tabel 4.10 Hasil Capaian Kedisiplinan Siklus I dan II Indikator Kondisi
Awal
Siklus I Siklus II
Target Capaian Keterangan Target Capaian Keterangan
Kedisiplinan Siswa
Nilai
Kedisiplinan 40 70 88,54 Tercapai 90 95,53 Tercapai Persentase jumlah siswa yang mencapai minimal cukup disiplin 35% 70% 100% Tercapai 90% 100% Tercapai
Tabel 4.10 menunjukkan peningkatan nilai dan persentase kedisiplinan siswa dari kondisi awal sampai capaian siklus II. Siklus 1 kondisi awal 40 dan 35% dengan target capaian 70 dan 70% hasil capaian siklus I 88,54 dan 100% capaian siklus II meningkat menjadi 95,53 dan 100%. Berdasarkan tabel di atas maka dapat dikatakan bahwa kedisiplinan terus meningkat karena menggunakan pendekatan kontekstual secara pada pemodelan yang digunakan. Pemodelan ini menyebabkan siswa bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Hasil peningkatan kedisiplinan dapat dilihat pada gambar 4.6 dan 4.7 berikut.
Gambar 4.6. Grafik Hasil Nilai Kedisiplinan Siswa
Gambar 4.7 Grafik Persentase Peningkatan Kedisiplinan
40 88.54 95.53 0 50 100 150 Nilai Kedisiplinan
Kondisi Awal Capaian Siklus I Capaian Siklus II
35% 100% 100% 0% 50% 100% 150%
Gambar 4.6 dan 4.7 menunjukkan bahwa rata-rata kondisi awal 40 dan 35% meningkat pada capaian siklus I menjadi 88,54 dan 100%. Berdasarkan data pada siklus I maka peningkatan kedisiplinan setelah menggunakan pendekatan kontekstual pada siklus I yaitu 48,54 dan 65%. Data perolehan dari capaian siklus I 88,54 dan 100% meningkat lagi di siklus II menjadi 95,53 dan 100%.
4.3.2 Peningkatan Prestasi belajar siswa
Prestasi belajar siswa kelas II SDN Kledokan tahun ajaran 2015/2016 mengalami peningkatan dari siklus I dan siklus II. Peneliti memperoleh data prestasi belajar siswa yang terdiri dari siklus I dan siklus II yang masing-masing siklus ada 2 pertemuan. Data peningkatan rata-rata prestasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut.
Tabel 4.11 Peningkatan Rata-rata Prestasi Belajar Siswa Variabel Kondisi
Awal
Siklus I Siklus II
Target Capaian Keterangan Target Capaian Keterangan Rata-rata
Prestasi Belajar 69 75 79 Tercapai 80 86 Tercapai
Lulus KKM 25% 60% 66% Tercapai 80% 84% Tercapai
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa kondisi awal rata-rata prestasi belajar 69, dengan target 75, dan memperoleh capaian 79. Rata-rata prestasi belajar pada siklus I tercapai. Rata-rata prestasi belajar capaian siklus I 79, target capaian siklus II 80, Rata-rata prestasi belajar capaian siklus II 86, maka rata-rata prestasi siklus II
tercapai. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan bahwa rata-rata prestasi belajar meningkat karena menggunakan pendekatan kontekstual yang memiliki 7 komponen.
Tabel 4.11 juga menunjukkan siswa yang lulus KKM dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Siswa yang lulus KKM siklus I pada kondisi awal ada 25%, target 60%, dan capaian 66%. Siswa yang lulus KKM pada siklus II, dari capaian siklus I 66%, target 80%, dan memperoleh capaian 84%. Data peningkatan siswa yang lulus KKM dapat dilihat pada gambar 4.8 berikut.
Gambar 4.8 Grafik Peningkatan Siswa yang Lulus KKM
Gambar 4.8 menunjukkan bahwa data siklus I siswa yang lulus KKM pada kondisi awal ada 25% mencapai 66%. Peningkatan siswa yang lulus KKM setelah menggunakan pendekatan kontekstual pada siklus I yaitu 41%. Data siklus II siswa yang lulus KKM setelah menggunakan pendekatan kontekstual mencapai 84% maka peningkatan siswa yang lulus KKM setelah menggunakan pendekatan kontekstual pada siklus II ada 18%.
4.3.3 Penerapan Pendekatan Kontektual
Penelitian tentang penggunaan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran PKn dengan materi tentang pemeliharaan lingkungan alam telah dilaksanakan di
25% 66% 84% 0% 50% 100%
Peningkatan Siswa yang Lulus KKM
kelas II SD N Kledokan tahun ajaran 2015/2016. Pendekatan kontekstual Menurut Sanjaya (2006: 262) memiliki 7 komponen utama dalam pembelajaran yaitu (1) konstruktivisme (contruktivisme), (2) bertanya (questioning), (3) menemukan (inkuiri), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian sebenarnya (authentic assessment).
4.3.3.1Pelaksanaan Siklus 1
Pertemuan pertama materi tentang lingkungan dunia tumbuhan dengan menggunakan pendekatan kontekstual yang meliputi 7 langkah sebagai berikut.
1. Konstruktivisme (Contruktivisme)
Peneliti menerapkan konstruktivisme dalam pelaksanaan penelitian yaitu siswa
mencoba menghubungkan lagu “naik-naik ke puncak gunung” dengan materi
lingkungan dunia tumbuhan. Misalnya Guru menanyakan dalam lagu “naik-naik kepuncak gunung” terdapat tumbuhan apa?. Siswa menjawab pohon cemara. Guru bertanya kembali di sekitar rumah kalian terdapat tumbuhan apa?. Siswa menjawab secara bergantian. Penggunaan media lagu ini bertujuan meningkatan semangat siswa dan membangun pengetahuan baru siswa. Gambar siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dapat dilihat pada gambar 4.9.
Gambar 4.9 menunjukkan siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dengan lagu “naik-naik ke puncak gunung”. Kontruktivisme yang dilakukan oleh siswa dengan mencoba mencari tau tentang apa lagu yang dinyanyikan. 2. Bertanya (Questioning)
Pada komponen bertanya ini peneliti memberi kesempatan bertanya setelah selesai memutarkan video singkat tentang lingkungan dunia tumbuhan. Gambar siswa yang bertanya dan peneliti menerangkan dapat dilihat pada gambar 4.10.
Gambar 4.10 Siswa Bertanya
Gambar 4.10 menunjukkan siswa yang bertanya dalam kelompok setelah melihat video tentang lingkungan dunia tumbuhan.
3. Menemukan (Inkuiri)
Pada komponen “menemukan” siswa mengisi lembar kerja kelompok setelah melihat video. Video yang digunakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari siswa. Gambar siswa yang melakukan kegiatan menemukan dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.11.
Gambar 4.11 Siswa Menemukan Pengetahuan
Gambar 4.11 menunjukkan siswa yang menemukan pengetahuan baru mengenai lingkungan dunia tumbuhan setelah melihat video.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pada tahap masyarakat belajar siswa dibagi dalam kelompok. Kelas ini terdiri dari 32 siswa terdiri dari 14 perempuan dan 18 laki-laki. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 siswa. Gambar kelompok siswa ungu yang melakukan kegiatan di dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.12.
Gambar 4.12 Siswa Belajar dalam Kelompok
Gambar 4.12 menunjukan siswa yang sedang berdiskusi dalam kelompok. Siswa melakukan kerjasama dalam belajar untuk mengerjakan tugas kelompok setelah melihat video tentang lingkungan dunia tumbuhan.
5. Pemodelan (Modeling)
Pada tahap pemodelan ini peneliti dalam pembelajaran PKn, pemodelan dilakukan oleh siswa yang manju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Gambar pemodelan dapat dilihat pada gambar 4.13.
Gambar 4.13 Pemodelan
Gambar 4.13 menunjukkan salah satu pemeodelan yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok hijau untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. 6. Refleksi (Reflection)
Refleksi dilakukan siswa setelah pembelajaran selesai. Refleksi yang diberikan peneliti kepada siswa yaitu berupa pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan berupa kegiatan apa saja yang sudah kita lakukan. Siswa mengingat kembali dan menjawab secara urut kegiatan dari awal sampai akhir pembelajaran. Siswa dalam mengikuti pembelajaran merasa senang. Gambar siswa saat menjawab pertanyaan refleksi dapat dilihat pada gambar 4.14.
Gambar 4.14 Siswa Berefleksi
Gambar 4.14 menunjukkan siswa yang sedang menjawab refleksi. Pertanyaan refleksi diajukan oleh peneliti kepada siswa dan siswa menjawab secara bergantian.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Peneliti melakukan penilaian secara nyata atau sebenarnya berupa tes tertulis. Penilaian yang dilakukan peneliti dalam perencanaannya ada 2 yaitu aspek afektif, aspek kognitif. Aspek afektif yang diteliti peneliti yaitu nilai kedisiplinan siswa dari siklus I dan II yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Aspek kognitif yang diteliti peneliti yaitu LKK, LKS, evaluasi akhir pertemuan, dan akhir siklus. Gambar penilaian sebenarnya dapat dilihat pada gambar 4.15.
Gambar 4.15 Penilaian Sebernarnya
Gambar 4.15 menunjukkan siswa yang sedang mengerjakan soal evaluasi pada pertemuan pertama.
Pertemuan kedua materi tentang lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar dengan menggunakan pendekatan kontekstual yang meliputi 7 langkah sebagai berikut.
1. Konstruktivisme (Contruktivisme)
Peneliti menerapkan konstruktivisme dalam pelaksanaan penelitian yaitu siswa mencoba menghubungkan lagu “hewan apakah ini?” gubahan dari lagu “lihat kebunku” dengan materi lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar. Penggunaan media lagu ini bertujuan meningkatan semangat siswa dan membangun pengetahuan baru siswa. Gambar siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dapat dilihat pada gambar 4.16.
Gambar 4.16 Kontruktivisme dengan Tanya Jawab Lagu
Gambar 4.16 menunjukkan siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dengan lagu “hewan apakah ini?” gubahan dari lagu “lihat kebunku”. Kontruktivisme yang dilakukan oleh siswa dengan mencoba mencari tau tentang apa lagu yang dinyanyikan.
2. Bertanya (Questioning)
Pada komponen bertanya ini peneliti memberi kesempatan bertanya setelah selesai memutarkan video singkat tentang lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar. Gambar siswa yang bertanya dan peneliti menerangkan dapat dilihat pada gambar 4.17.
Gambar 4.17 Siswa Bertanya
Gambar 4.17 menunjukkan siswa yang bertanya dalam kelompok setelah melihat video tentang lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar.
3. Menemukan (Inkuiri)
Pada komponen “menemukan” siswa mengisi lembar kerja kelompok setelah melihat video. Video yang digunakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari siswa. Gambar siswa yang melakukan kegiatan menemukan dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.18.
Gambar 4.18 menunjukkan siswa yang berdiskusi menemukan pengetahuan baru mengenai lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar setelah melihat video.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pada tahap masyarakat belajar siswa dibagi dalam kelompok. Kelas ini terdiri dari 32 siswa terdiri dari 14 perempuan dan 18 laki-laki. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 siswa. Gambar kelompok siswa ungu yang melakukan kegiatan di dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.19.
Gambar 4.19 Siswa Belajar dalam Kelompok
Gambar 4.19 menunjukan siswa yang sedang berdiskusi dalam kelompok. Siswa melakukan kerjasama dalam belajar untuk mengerjakan tugas kelompok setelah melihat video tentang lingkungan dunia tumbuhan. 5. Pemodelan (Modeling)
Pada tahap pemodelan ini siswa sebagai model yang manju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Gambar pemodelan dapat dilihat pada gambar 4.20.
Gambar 4.20 Pemodelan
Gambar 4.21 menunjukkan salah satu pemodelan yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok ungu untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. 6. Refleksi (Reflection)
Refleksi dilakukan siswa setelah pembelajaran selesai. Refleksi yang diberikan peneliti kepada siswa yaitu berupa pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan berupa kegiatan apa saja yang sudah kita lakukan. Siswa mengingat kembali dan menjawab secara urut kegiatan dari awal sampai akhir pembelajaran. Siswa dalam mengikuti pembelajaran merasa senang. Gambar siswa saat menjawab pertanyaan refleksi dapat dilihat pada gambar 4.21.
Gambar 4.21 Siswa Berefleksi
Gambar 4.21 menunjukkan siswa yang sedang menjawab refleksi. Pertanyaan refleksi diajukan oleh peneliti kepada siswa dan siswa menjawab secara bergantian.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Peneliti melakukan penilaian secara nyata atau sebenarnya berupa tes tertulis. Penilaian yang dilakukan peneliti dalam perencanaannya ada 2 yaitu aspek afektif, aspek kognitif. Aspek afektif yang diteliti peneliti yaitu nilai kedisiplinan siswa dari siklus I dan II yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Aspek kognitif yang diteliti peneliti yaitu LKK, LKS, evaluasi akhir pertemuan, dan akhir siklus. Gambar penilaian sebenarnya dapat dilihat pada gambar 4.22.
Gambar 4.22 Penilaian Sebernarnya
Gambar 4.22 menunjukkan siswa yang sedang mengerjakan soal evaluasi pada pertemuan kedua.
4.3.3.2Pelaksanaan Siklus 2
Pertemuan pertama materi tentang pemeliharaan lingkungan dunia tumbuhan dengan menggunakan pendekatan kontekstual yang meliputi 7 langkah sebagai berikut.
1. Konstruktivisme (Contruktivisme)
Peneliti menerapkan konstruktivisme dalam pelaksanaan penelitian yaitu siswa mencoba menghubungkan lagu “lihat kebunku” dengan materi pemeliharaan
lingkungan dunia tumbuhan. Misalnya Guru menanyakan dalam lagu “lihat kebunku”
terdapat cara memeliharan tumbuhan, sebutkan?. Siswa menjawab disiram. Guru bertanya kembali siapa yang pernah menyiram tanaman di rumah?. Siswa menjawab secara bergantian. Penggunaan media lagu ini bertujuan meningkatan semangat siswa dan membangun pengetahuan baru siswa. Gambar siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dapat dilihat pada gambar 4.23.
Gambar 4.23 Kontruktivisme dengan Tanya Jawab Lagu
Gambar 4.23 menunjukkan siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dengan lagu “lihat kebun ku”. Kontruktivisme yang dilakukan oleh siswa dengan mencoba mencari tau tentang apa lagu yang dinyanyikan.
2. Bertanya (Questioning)
Pada komponen bertanya ini peneliti memberi kesempatan bertanya setelah selesai memutarkan video singkat tentang pemeliharaan lingkungan dunia tumbuhan. Gambar siswa yang bertanya dan peneliti menerangkan dapat dilihat pada gambar 4.24.
Gambar 4.24 menunjukkan siswa yang bertanya dalam kelompok setelah melihat video tentang pemeliharaan lingkungan dunia tumbuhan.
3. Menemukan (Inkuiri)
Pada komponen “menemukan” siswa mengisi lembar kerja kelompok setelah melihat video. Video yang digunakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari siswa. Gambar siswa yang melakukan kegiatan menemukan dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.25.
Gambar 4.25 Siswa Menemukan Pengetahuan
Gambar 4.25 menunjukkan siswa yang menemukan pengetahuan baru mengenai lingkungan dunia tumbuhan setelah melihat video.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pada tahap masyarakat belajar siswa dibagi dalam kelompok. Kelas ini terdiri dari 32 siswa terdiri dari 14 perempuan dan 18 laki-laki. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 siswa. Gambar kelompok siswa hijau yang melakukan kegiatan di dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.26.
Gambar 4.26 Siswa Belajar dalam Kelompok
Gambar 4.26 menunjukan siswa yang sedang berdiskusi dalam kelompok. Siswa melakukan kerjasama dalam belajar untuk mengerjakan tugas kelompok setelah melihat video tentang pemeliharaan lingkungan dunia tumbuhan.
5. Pemodelan (Modeling)
Pada tahap pemodelan dalam pembelajaran PKn, pemodelan dilakukan oleh siswa yang manju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Gambar pemodelan dapat dilihat pada gambar 4.27.
Gambar 4.27 menunjukkan salah satu pemeodelan yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok kuning untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. 6. Refleksi (Reflection)
Refleksi dilakukan siswa setelah pembelajaran selesai. Refleksi yang diberikan peneliti kepada siswa yaitu berupa pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan berupa kegiatan apa saja yang sudah kita lakukan. Siswa mengingat kembali dan menjawab secara urut kegiatan dari awal sampai akhir pembelajaran. Siswa dalam mengikuti pembelajaran merasa senang. Gambar siswa saat menjawab pertanyaan refleksi dapat dilihat pada gambar 4.28.
Gambar 4.28 Siswa Berefleksi
Gambar 4.28 menunjukkan siswa yang sedang menjawab refleksi. Pertanyaan refleksi diajukan oleh peneliti kepada siswa dan siswa menjawab secara bergantian.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Peneliti melakukan penilaian secara nyata atau sebenarnya berupa tes tertulis. Penilaian yang dilakukan peneliti dalam perencanaannya ada 2 yaitu aspek
afektif, aspek kognitif. Aspek afektif yang diteliti peneliti yaitu nilai kedisiplinan siswa dari siklus I dan II yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Aspek kognitif yang diteliti peneliti yaitu LKK, LKS, evaluasi akhir pertemuan, dan akhir siklus. Gambar penilaian sebenarnya dapat dilihat pada gambar 4.29.
Gambar 4.29 Penilaian Sebernarnya
Gambar 4.29 menunjukkan siswa yang sedang mengerjakan soal evaluasi pada pertemuan pertama siklus kedua.
Pertemuan kedua materi tentang pemeliharaan lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar dengan menggunakan pendekatan kontekstual yang meliputi 7 langkah sebagai berikut.
1. Konstruktivisme (Contruktivisme)
Peneliti menerapkan konstruktivisme dalam pelaksanaan penelitian yaitu dengan melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai hewan kesayangan siswa. Misalnya Guru menanyakan apa hewan kesayangan anak-anak?. Salah satu siswa menjawab ikan. Guru bertanya kembali apa yang kamu lakukan pada hewan
kesayanganmu?. Siswa menjawab di beri makan. Gambar siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dapat dilihat pada gambar 4.30.
Gambar 4.30 Kontruktivisme dengan Tanya Jawab Tentang Hewan Kesayangan Siswa
Gambar 4.30 menunjukkan siswa yang sedang melakukan kontruktivisme dengan tanya jawab tentang hewan kesayangan siswa. Kontruktivisme yang dilakukan oleh siswa dengan mencoba mencari tau tentang hewan kesayangan yang dipelihara siswa.
2. Bertanya (Questioning)
Pada komponen bertanya ini peneliti memberi kesempatan bertanya setelah selesai memutarkan video singkat tentang pemeliharaan lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar. Gambar siswa yang bertanya dan peneliti menerangkan dapat dilihat pada gambar 4.31.
Gambar 4.31 Siswa Bertanya
Gambar 4.31 menunjukkan siswa yang bertanya dalam kelompok setelah melihat video tentang pemeliharaan lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar.
3. Menemukan (Inkuiri)
Pada komponen “menemukan” siswa mengisi lembar kerja kelompok setelah melihat video. Video yang digunakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari siswa. Gambar siswa yang melakukan kegiatan menemukan dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.32.
Gambar 4.32 menunjukkan siswa yang menemukan pengetahuan baru mengenai pemeliharaan lingkungan dunia hewan dan lingkungan sekitar setelah melihat video.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pada tahap masyarakat belajar siswa dibagi dalam kelompok. Kelas ini terdiri dari 32 siswa terdiri dari 14 perempuan dan 18 laki-laki. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 siswa. Gambar kelompok siswa merah yang melakukan kegiatan di dalam kelompok dapat dilihat pada gambar 4.33.
Gambar 4.33 Siswa Belajar dalam Kelompok
Gambar 4.33 menunjukan siswa yang sedang berdiskusi dalam kelompok. Siswa melakukan kerjasama dalam belajar untuk mengerjakan tugas kelompok setelah melihat video tentang lingkungan dunia tumbuhan.
5. Pemodelan (Modeling)
Pada tahap pemodelan ini peneliti dalam pembelajaran PKn, pemodelan dilakukan oleh siswa yang manju ke depan kelas untuk mempresentasikan
hasil diskusi kelompoknya. Gambar pemodelan dapat dilihat pada gambar 4.34.
Gambar 4.34 Pemodelan
Gambar 4.34 menunjukkan salah satu pemodelan yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok ungu untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. 6. Refleksi (Reflection)
Refleksi dilakukan siswa setelah pembelajaran selesai. Refleksi yang diberikan peneliti kepada siswa yaitu berupa pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan berupa kegiatan apa saja yang sudah kita lakukan. Siswa mengingat kembali dan menjawab secara urut kegiatan dari awal sampai akhir pembelajaran.Siswa dalam mengikuti pembelajaran merasa senang. Gambar siswa saat menjawab pertanyaan refleksi dapat dilihat pada gambar 4.35.
Gambar 4.35 Siswa Berefleksi
Gambar 4.35 menunjukkan siswa yang sedang menjawab refleksi. Pertanyaan refleksi diajukan oleh peneliti kepada siswa dan siswa menjawab secara bergantian.
7. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Peneliti melakukan penilaian secara nyata atau sebenarnya berupa tes tertulis. Penilaian yang dilakukan peneliti dalam perencanaannya ada 2 yaitu aspek afektif, aspek kognitif. Gambar penilaian sebenarnya dapat dilihat pada gambar 4.36.
Gambar 4.36 Penilaian Sebenarnya
Gambar 4.36 menunjukkan bahwa siswa yang sedang mengerjakan soal evaluasi pada pertemuan kedua siklus kedua.
127
BAB V