• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis dapat dijelaskan bahwa angka koefisien korelasi (rxy) -0,255 dengan p = 0.000 (p < 0.05). Hal ini membuktikan

hasil penelitian bahwa ada hubungan negatif antara konsep diri dengan konformitas pada siswa. Sumbangan konsep diri dalam konformitas sebesar 6,5%, yang berarti sumbangan konsep diri sangat kecil dalam mempengaruhi perilaku konformitas pada siswa. Hal tersebut terjadi karena perilaku konformitas yang timbul tidak hanya dari faktor konsep dirinya saja, terdapat pula keyakinan dan komitmen remaja yang sudah memutuskan untuk memiliki pendiriannya sendiri, akan tetapi merubah pendirianya dikarenakan adanya aspek tekanan sosial. Didukung dengan pendapat Myers (2005: 230) dengan membagi faktor-faktor yang

80

mempengaruhi konformitas menjadi lima faktor yaitu, Group Size, Cohession, Status, Public Respons, dan No Prior Commitment.

Tekanan sosial dari kelompok sangat berpengaruh dalam perilaku remaja karena dalam menjalin hubungan sosial dengan orang di luar lingkungan keluarga, tentu perlu adanya penyesuaiaan diri terhadap pengaruh kelompok. Kuatnya pengaruh kelompok terjadi karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman sebaya, sehingga penting bagi remaja untuk memiliki konsep diri yang baik dalam menjaga dirinya sendiri dari pengaruh sosial yang negatif.

Nilai rxy negatif yang terdapat dalam penelitian ini menunjukkan

arah kedua variabel yang negatif, yaitu semakin tinggi konsep diri maka semakin rendah konformitas pada siswa, begitu pula sebaliknya semakin rendah konsep diri maka semakin tinggi konformitasnya. Didukung dengan penelitian Irnanda Ibrahim (2006) yang meneliti tentang hubungan konsep diri dengan konformitas pada remaja di SMKN II Ciamis, dengan hasil nilai koefisen korelasinya sebesar -0,253 yang berarti bahwa terhadap hubungan negatif antara konsep diri dengan konformitas, yang berarti jika konsep dirinya tinggi maka konformitasnya rendah, sebaliknya jika konsep dirinya rendah amak konformitasnya tinggi.

Hubungan jika konsep dirinya tinggi maka konformitasnya rendah bisa terjadi karena ketika remaja memiliki konsep diri yang tinggi maka remaja akan mampu mengontrol perilakunya yang mengarah pada perilaku positif atau negatif. Remaja yang mampu menentukan perilaku mana yang

81

akan dilakukan terlebih dahulu berarti remaja tersebut mempunyai komitmen yang kuat, sehingga tidak mudah untuk terpengaruh berperilaku konformitas yang menuju perilaku yang negatif. Didukung dengan pendapat Sears (1991: 85) yang menyatakan bahwa tekanan atau tuntutan kelompok acuan pada remaja membuat remaja melakukan tindakan walaupun tidak diinginkanya. Bila ketaatan individu tinggi maka konformitasnya akan tinggi pula.

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, maka dapat diketahui bahwa konsep diri merupakan salah satu faktor atau bukan satu-satunya faktor yang mutlak mempengaruhi konformitas. Berdasarkan nilai korelasi dapat terlihat bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konformitas adalah konsep diri. Semakin tinggi konsep diri seorang siswa, maka semakin rendah tingkat konformitasnya. Terbentuknya konsep diri positif pada siswa salah satunya dipengaruhi oleh perlakuan dan perhatian guru di sekolah yang terwujud dalam keterlibatan mendalam pada usaha-usaha siswa memperoleh prestasi dan mengembangkan diri.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Clara R. Pudjijogyanti (1995: 2), yang menyebutkan bahwa konsep diri merupakan salah satu faktor internal yang menentukan apakah seseorang akan berperilaku negatif atau positif. Perilaku negatif merupakan cerminan adanya ketidakmampuan individu dalam memandang kualitas kemampuan yang ia miliki dan hal itu merupakan perwujudan dari kegagalan seseorang dalam pencapaian harga dirinya.

82

Pembentukan konsep diri dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungan sekitar. Dalam berinteraksi, setiap individu akan memperoleh tanggapan, yang akan dijadikan cerminan untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Didukung dengan pendapat Jalaluddin Rakhmat (2005: 99), bahwa konsep diri merupakan pandangan dan perasaan individu yang bisa bersifat psikologis, sosial, dan psikis. Artinya konsep diri bukan hanya gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian individu, sehingga konsep diri mengarah pada presepsi seseorang mengenai dirinya sendiri. Presepsi tersebut terbentuk melalui kesimpulan-kesimpulan yang diambil berdasarkan pengalaman dan presepsi yang terutama dipengaruhi oleh

reward dan punishment yang diberikan oleh seseorang yang berarti dalam kehidupanya.

Adapun konformitas sebagai faktor external yang sangat luas, yang bisa dikatakan dari berbagai faktor. Pernyataan ini didukung oleh Myers (2005: 230) yang mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi konformitas antara lain terdapat besarnya anggota kelompok, ketertarikan terhadap kelompok, status dalam kelompok, respon terhadap kelompok, dan tekanan sosial. Artinya konformitas yang dilakukan individu tidak hanya dari satu faktor saja, akan tetapi dari banyak faktor external lainya.

Dasar utama yang ada pada konformitas yaitu ketika individu melakukan aktivitas dimana terdapat pengaruh yang kuat untuk melakukan sesuatu yang sma dengan kelompok, walaupun tindakan tersebut merupakan cara-cara yang menyimpang, remaja yang memiliki tingkat

83

konformitas tinggi akan lebih banyak tergantung pada aturan dan norma yang berlaku dalam kelompoknya, sehingga remaja cenderung mengatribusikan setiap aktivitasnya sebagai usaha kelompok, bukan usahanya sendiri (Monks, Knoers, Siti Rahayu Haditono, 2004: 283). Dalam kondisi seperti ini, dapat dikatakan bahwa motivasi untuk menuruti ajakan kelompok cukup tinggi pada remaja, karena menggap aturan kelompok adalah yang paling benar serta ditandai dengan berbagai usaha yang dilakukan remaja agar diterima dan diakui keberadaanya dalam kelompok. Kondisi emosional yang labil pada remaja juga turut mendorong individu untuk lebih mudah melakukan konformitas.

Didukung dengan pendapat Hurlock (dalam Rita Eka Izzaty dkk, 2008:124-126), menyatakan bahwa ciri-ciri remaja yaitu periode penting, periode peralihan, periode perubahan, masa mencari identitas, usia bermasalah, usia yang menimbulkan ketakutan, masa yang tidak realistik, masa ambang dewasa. Berdasarkan pemaparan ciri-ciri remaja di atas dapat diketahui bahwa masa remaja merupakan masa perkembangan dan perubahan dalam mencari jati diri yang sesungguhnya, jadi secara fisik, perilaku, dan pola pikirnya masih berubah-ubah.

Konsep diri yang dimiliki remaja akan dapat mempengaruhi peningkatan perilaku konformitas pada remaja. Individu yang memiliki konsep diri yang baik tentu akan mampu mengurangi kecenderungan melakukan konformitas. Kecenderungan melakukan konformitas pada siswa tidak hanya dari faktor konsep dirinya saja, akan tetapi masih

84

banyak faktor lain yang menyebabkan individu cenderung melakukan konformitas. Berdasarkan penjabaran tersebut dapat dilihat bahwa faktor konformitas individu bukan hanya dari dalam dirinya, akan tetapi faktor yang ada di luar dirinya juga berpengaruh banyak dalam melakukan perilaku konformitas.

Konformitas yang dilakukan remaja merupakan salah satu perubahan perilaku yang menuju tugas perkembangan remaja untuk mencapai hubungan baru dan peran sosialnya. Pada masa remaja individu mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya maupun lingkungan sosialnya. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Asch (dalam Baron & Byrne, 2005: 53), yang mengatakan bahwa konformitas sebagai perubahan dalam sikap dan perilaku seseorang sebagai keinginan untuk mengikuti kepercayaan atau standar yang ditetapkan oleh orang lain. Asch juag menyatakan bahwa tekanan kelompok akan membuat individu konformistis terhadap norma kelompok.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa masa remaja merupakan masa dimana individu masih mencari identitas diri sehingga pada masa remaja ini, konsep diri yang dimiliki remaja belum bisa dikatakan benar-benar matang. Perilaku konformitas yang dilakukan remaja juga masih berubah-ubah karena masih dalam masa penyesuaian terhadap dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh konsep diri dalam konformitas

85

hanya memberikan sumbangan sebagian kecil saja, sisanya berasal dari faktor lain.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa mayoritas siswa kelas VIII di SMP N 2 Bantul memiliki kecenderungan melakukan konformitas yang sangat rendah dan memiliki konsep diri yang tinggi. Tingginya konsep diri pada siswa kelas VIII di SMP N 2 Bantul dan konformitas pada tingkatan yang rendah, menguatkan bahwa hipotesis (Ha) yang diajukan oleh peneliti diterima. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hubungan negatif antara konsep diri dengan konformitas pada siswa kelas VIII di SMP N 2 Bantul. Hasil penelitian ini dapat diartikan jika konsep diri pada siswa tinggi maka konformitasnya rendah, sebaliknya jika konsep dirinya rendah maka konformitasnya tinggi.

Dokumen terkait