BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, penulis mene mukan
bahwa ada faktor-faktor yang cukup menghambat belajar siswi yaitu: faktor
psikologis, faktor keluarga, faktor lingkungan sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat. Hal ini tercermin dari kenyataan bahwa cukup banyak skor total
item masuk dalam kategori sedang (bermasalah).
Faktor-faktor yang menghambat belajar siswi kelas X SMA Stella
Duce 2 selanjutnya dibahas sebagai berikut:
1. Faktor Psikologis (Internal)
Dari hasil penelitian, faktor psikologis berada dalam kategori
bermasalah. Hal-hal yang bermasalah yaitu seperti: intelegensi/kecerdasan,
bakat khusus, motivasi belajar, emosi/perasaan yang mempengaruhi
belajar, minat belajar, perhatian/konsentrasi belajar, kebiasaan belajar,
fantasi, ingatan untuk belajar, berpikir. Hal tersebut mungkin saja
disebabkan oleh:
Pertama, intelegensi/kecerdasan yang kurang, daya berpikir yang
sangat berkaitan satu dengan yang lain, karena kecerdasan yang kurang
akan membuat seseorang tidak mempunyai daya berpikir yang kuat. Jika
daya berpikir seseorang tidak kuat, maka orang tersebut sulit untuk
mengingat pelajaran yang sudah dipelajari. Ini bisa saja terjadi karena siswi-siswi kurang membiasakan diri untuk banyak membaca buku-buku
pelajaran. Penelitian pada anak-anak usia sekolah menunjukkan bahwa
banyak membaca buku dapat membentuk seseorang menjadi pemikir yang
kreatif dan berwawasan luas, karena orang yang rajin membaca akan
mempunyai kemampuan mengartikan atau mengenali struktur kata-kata, memahami fakta- fakta dasar, gagasan utama, urutan kronologis atau
memahami suatu topik bacaan (Wood, 2007: 66).
Kecerdasan/intelegensi yang baik sangat penting supaya dapat
menghasilkan kreatifitas yang tinggi. Menurut Piaget (Ali dan Asrori,
2005: 47), perkembangan kreativitas itu merupakan perkembangan proses kognitif maka kreativitas dapat ditinjau melalui perkembangan kognitif.
Dengan demikian, kreativitas berpikir bisa membawa individu untuk
mampu berimajinasi dan berfantasi atau membentuk ide-ide baru dalam
pikirannya.
Kedua, kebiasaan belajar yang kurang baik. Menurut Djamarah (2002: 203), kebiasaan belajar yang kurang baik adalah dengan menguasai
ilmu pengetahuan dengan hafalan saja, tanpa pengertian akan menyulitkan
seseorang mentransfer pada situasi lain. Menghafal membuat seseorang
seperti jika kita benar-benar memahami suatu pelajaran, karena hal yang
diingat dapat lebih lama disimpan dalam otak.
Ketiga, kurangnya motivasi untuk belajar. Motivasi adalah salah
satu hal utama yang mendukung keinginan belajar seeorang. Kurangnya motivasi bisa saja disebabkan karena seseorang kurang mengetahui apa
yang akan dipelajari dan kurang memahami mengapa hal tersebut patut
dipelajari (Sardiman, 1986: 39). Selain itu dapat juga disebabkan oleh
kurangnya dukungan dari orang tua. Dukungan orang tua juga sangat
penting untuk memotivasi siswi agar sukses belajar. Banyak kasus ditemui bahwa rendahnya prestai belajar anak salah satunya disebabkan oleh
kurangnya perhatian atau masalah keluarga yang menggangu psikologis
siswi.
Kempat, kurangnya minat belajar siswi sehingga membuat siswi
kurang tetarik untuk belajar. Jika siswi sudah tidak tertarik dengan pelajaran tertentu, bisa saja siswi tidak mau memperhatikan pelajaran, lalu
sulit berkonsentrasi belajar saat dikelas atau dalam situasi dan kondisi lain.
Hal lain yang terlibat dengan konsentrasi belajar adalah emosi/perasaan
yang berperan dalam belajar. Dalam buku psikologi umum (Ahmadi,
1991: 287) dijelaskan bahwa perasaan yang tidak mene ntu akan membuat seeorang tidak konsentrasi belajar. Hal ini menunjuk pada tugas
perkembangan remaja, yang menjelaskan bahwa pada masa ini remaja
sering mengalami pergolakan emosi sebagai akibat perubaha n fisik dan
badai dan tekanan. Periode ini identik dengan mudah tersinggung, mudah
marah, mudah dirangsang dan emosinya cenderung meledak. Keadaan
semacam ini bisa berpengaruh pada aktifitas belajar.
2. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan tempat dimana siswi belajar selain di sekolah.
Jika kondisi kehidupan dalam keluarga kurang mendukung proses belajar
siswi, maka siswi akan sulit dan terhambat untuk melaksanakan proses
belajar. Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, digambarkan bahwa
tidak sebagian besar kondisi keluarga begitu menghambat belajar siswi karena hanya sebagian kecil yang termasuk dalam kategori bermasalah.
Hal ini dikarenakan siswi-siswi tersebut selalu mendapatkan perhatian
berkaitan dengan tugas-tugas sekolah mereka dan selalu mendapatkan
kesempatan untuk sharing mengenai masalah pelajaran mereka.
Siswi-siswi selalu dibimbing orang tua kandung maupun orang tua wali karena bagi siswi yang tinggal di asrama, pembimbing asrama dianggap sebagai
orang tua wali.
Keadaan ekonomi tidak begitu berpengaruh kuat untuk
menghambat belajar siswi. Ini dikarenakan siswi-siswi mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan ekonomi yang mereka miliki. Hal ini juga tampak dari sebagian besar siswi yang bersekolah di SMA Stella
Duce 2 adalah dari keluarga yang berkecukupan. Faktor yang menghambat
belajar dalam keluarga di sini adalah suasana rumah yang kurang kondusif
menyesuaikan diri untuk belajar di rumah dengan dengan tenang dan
nyaman. Jadi perlu dibantu pengenalan bagi siswi untuk menyadari bahwa
belajar amat penting bagi pribadi dan perlu ditekankan supaya terjadi
tekad kuat untuk mengusahakan diri agar bisa belajar sehingga tahu bagaimana mengatur diri untuk tetap belajar.
3. Faktor Lingkungan Sekolah
Sebagian besar dari total item yang mengungkap aspek sekolah
adalah berada dalam kategori bermasalah. Hal tersebut menunjukkan
bahwa sebagian besar siswi mengalami hambatan belajar dari faktor lingkungan sekolah. Hal- hal yang bermasalah terkait dengan ini adalah;
hubungan antara guru dan siswa, hubungan antara siswa dan siswa, cara
penyajian pelajaran, standar nilai yang harus dijangkau, media pendidikan
untuk belajar, metode belajar, Pekerjaan Rumah (PR). Hal- hal tersebut
mungkin saja disebabkan oleh:
Pertama, hubungan yang kurang baik antara guru dan siswa serta
antara siswi dan siswi. Jika tugas perkembangan remaja yang
mengharuskan mereka untuk mampu membina hubungan yang baik
dengan teman maupun dengan guru- guru di lingkungan sekolah (Ali dan
Asrori, 2005: 10), maka bila siswi kurang mampu menyesuaikan sikapnya dengan teman-teman di kelasnya maupun dengan guru-guru akan
membawa pengaruh psikologis siswi itu sendiri. Sis wi menjadi minder,
rendah diri, dan cenderung mengasingkan diri, selalu merasa tidak mampu
teman sekelasnya dan gurunya. Siswi jadi tidak mampu bergabung dalam
kelompok belajar dan takut dengan gurunya. Dengan kondisi yang
demikian dapat membawa dampak pada emosi, minat dan konsentrasi
belajar siswi karena akan menjadi buah pikiran siswi yang bersangkutan. Kedua, cara penyajian pelajaran yang kurang mampu diterima oleh
siswi. Cara penyajian pelajaran dari guru yang kurang diminati oleh siswi
menandakan bahwa siswi kesulitan menyesuaikan diri dengan cara guru
menjelaskan bahan pelajaran. Hal ini dapat saja menimbulkan kurangnya
minat siswi untuk memperhatikan guru menjelaskan pelajaran.
Standar nilai yang dirasa siswi sulit untuk dijangkau juga bisa
menimbulkan baya ng-bayang stress sehingga tidak mampu belajar dengan
maksimal dan putus asa. Mungkin tidak semua siswi dapat terhambat
belajarnya karena standar nilai yang dirasa tinggi, tapi bagi sebagian siswi
yang lain mungkin saja dapat memberikan tekanan batin. Hal ini menyebabkan siswi merasa kalah dulu sebelum berjuang atau, sehingga
cenderung merasa tidak sanggup dan putus asa mencapai nilai tersebut.
Keadaan seperti ini akan membuat siswi tidak mampu mengikuti cara guru
mengajar yang berpendirian meningkatkan mutu dan mempertahankan
wawasannya sehingga menciptakan standar nilai yang tinggi dalam setiap ujian.
Pekerjaan rumah yang dirasa sulit juga dapat mengganggu belajar
siswi yang bersangkutan. Jika sudah merasa sulit siswi cenderung merasa
ke kelas. Jika siswi terlalu sering mengerjakan Pekerjaan Rumahnya di
kelas, mereka tidak menyimak pelajaran sehingga tidak mengerti tentang
materi pelajaran yang dijelaskan guru.
Ketiga, metode belajar yang kurang baik. Hal ini mungkin saja terjadi jika siswi-siswi tidak membuat jadwal khusus untuk belajar di
rumah dan jarang sekali meringkas/merangkum bacaan yang dipelajarinya.
Jika siswi mempunyai jadwal khusus untuk belajar dirumah, ia akan
terbiasa mengulang mempelajari pelajaran yang sudah diajarkan di sekolah
sehingga menjadi lebih paham untuk belajar materi selanjutnya. 4. Faktor Lingkungan Masyarakat.
Lingkungan masyarakat juga dapat menghambat belajar siswa
apabila lingkungan masyarakat mempunyai pengaruh yang kurang
mendukung keberhasilan belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar faktor-faktor yang mengahambat belajar berkaitan dengan lingkungan masyarakat. Hal- hal ini mungkin saja terjadi karena
siswi kurang mampu menyikapi hubungan pertemanan yang mendukung
untuk belajar. Hal ini ditunjukkan dengan kenyataan bahwa sebagian besar
siswi tidak mempunyai teman yang mengerti akan waktu belajar siswi.
Selain itu, sebagian besar siswi memang lebih senang bermain diluar dengan teman-temannya daripada belajar di rumah, dan kurang
mempunyai kebiasaan untuk belajar bersama teman-temannya atau tidak
mempunyai inisiatif untuk membentuk kelompok belajar di lingkungan
lain diluar jam sekolah yang menyebabkan siswi tidak sempat belajar di
rumah demi mengikuti kegiatan lingkungan.
Menurut Ali dan Asrori (2005: 85), hubungan sosial itu dasarnya
ada dorongan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu yang ada di dunia sekitar dan menyangkut penyesuaian diri terhadap lingkungan serta
membangun komitmen bersama dalam kelompok. Jadi bisa saja siswi akan
gagal dalam studinya jika tidak mampu mengelola diri dalam bergaul dan
dalam kondisi lingkungan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian
besar siswi kelas X SMA Stella Duce 2 mengalami ha mbatan belajar dalam
semua faktor yaitu, faktor psikologis, faktor keluarga, faktor lingkungan
sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat. Seperti yang telah dijelaskan
dalam bab satu bahwa faktor- faktor penghambat belajar itu bukan hanya dari segi psikologis saja meskipun faktor psikologis yang dinya takan paling kuat
mempengaruhi belajar siswi tetapi juga dari faktor sosial seperti keluarga,
67
TAHUN AJARAN 2008/2009
Dalam bab ini disajikan usulan topik-topik bimbingan klasikal
berdasarkan hasil penelitian di bab IV. Topik-topik bimbingan klasikal yang
diusulkan merupakan jawaban atas masalah penelitian kedua, yaitu “Topik-topik
Bimbingan Klasikal Apa Saja yang Sesuai Bagi Siswi kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakrta Tahun Ajaran 2008/2009?”.
Dengan mengusulkan topik-topik bimbingan klasikal bagi siswi kelas X
ini, diharapkan pihak sekolah dapat menindak lanjuti dengan membantu para siswi
menjalani proses belajar secara lebih baik sehingga tercapai prestasi belajar yang
maksimal. Usulan topik-topik bimbingan klasikal disajikan melalui tabel 11.
61 13.Tidak mampu mempelajari
pelajaran dengan penuh minat. 15.Kurang berminat pada mata
pelajaran tertentu. 1.
17.Kurang menyenangi setiap pelajaran yang diajarkan disekolah.
Minat Mampu menumbuhkan minat untuk belajar pada setiap mata pelajaran
a. Pengertian minat
b. Arti pentingnya minat dalam belajar.
c. Cara menumbuhkan minat.
Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi
The Liang Gie. 1995. Cara Belajar yang Efisien (jilid II). Yogyakarta. Liberty. Winkel, WS. 1996.
Psikologi Pengajaran.
Jakarta: Gramedia. Djamarah, S. 2002.
Psikologi Belajar. Jakrta: Rineka Cipta.
7. Kurang semangat mengikuti pelajaran di kelas.
2.
9. Jarang mengerjakan tugas sekolah dengan senang hati.
Motivasi belajar Mampu memotivasi diri untuk belajar
a. Pengertian dan pentingnya motivasi belajar.
b. Hal-hal yang mempengaruhi motivasi belajar.
c. Upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi belajar. Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Djamarah, S. 2002.
Psikologi Belajar. Jakrta: Rineka Cipta. Winkel, WS. 1996. Psikologi Pengajaran.
Jakarta: Gramedia 21.Tidak pernah belajar setiap hari.
3.
23.Membaca buku-buku pelajaran sebanyak mungkin tanpa memahami isi yang dipelajari.
Kebiasaan belajar yang tepat
Mampu membiasakan diri untuk belajar dengan efektif
a. Bagaimana membiasakan diri belajar yang tepat.
b. Manfaat kebiasaan belajar yang tepat Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Tanlain, Wens. 2002.
Handout: Bimbingan dan Konseling Belajar. Yogyakarta: USD.
14.Tidak bisa memperhatikan pelajaran yang diajarkan guru. 16.Kurang bisa konsentrasi saat
ingin belajar. 4.
18.Sulit memusatkan perhatian saat guru menjelaskan materi pelajaran
Konsentrasi belajar Mampu berkonsentrasi belajar
a. Konsentrasi dipengaruhi oleh minat.
b. Hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Abu Ahmadi. 1991.
Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharnan. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi.
39.Kesulitan berinteraksi dengan guru tertentu di sekolah 5.
42.Tidak mampu memahami sikap setiap guru yang mengajar di kelas.
Komunikasi yang baik Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan guru-guru di sekolah kelas/sekolah
a. Pengertian komunikasi
b. Syaran-syarat berkomunikasi yang baik
c. Hambatan-hambatan dalam berkomunikasi dan upaya-upaya untuk mengatasi hambatan.
Orientasi dan informasi
Sharing dan refleksi
Peale, Norman. 1992.
Berpikir Positif. Jakarta. Binarupa Aksara Sinurat,R. H. Dj. Reader Komunikasi antar Pribadi. Prodi BK. Tidak diterbitkan
62
d. Cara mengatsi rasa rendah diri. Mengenal dan
mengembangkan Harga Diri. Jakar5ta. PT. Prenhallindo. 44.Kesulitan menyesuaikan diri
dengan cara guru menjelaskan bahan pelajaran
46.Tidak mampu memahami masing-masinga cara guru menyampaikan pelajaran di kelas.
7.
48.Kurang mampu memahami cara guru menyajikan materi peljaran di kelas.
Penyesuaian diri Mampu menyesuaikan diri dengan cara guru mengajar.
a. Pengertian penyesuaian diri b. Faktor-faktor yang menghambat
penyesuaian diri dengan cara guru mengajar yang digunakan guru c. Cara-cara mengatasi faktor-faktor
yang menghambat penyesuaian diri dengan cara mengajar yang digunakan oleh guru
d. Penyesuaian diri dengan cara guru mengajar yang digunakan guru
Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Peale, Norman. 1992.
Berpikir Positif. Jakarta. Binarupa Aksara. Winkel, WS. 1996.
Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.
49.Tidak mampu mencapai standar nilai setiap mata pelajaran.
Motivasi berprestasi Mampu memotivasi diri untuk mencapai prestasi belajar.
a. Pengertian motivasi berprestasi b. Faktor-faktor yang mempengaruhi
mativasi untuk berprestasi c. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
meningkatkan motivasi berprestasi.
Winkel, WS. 1996.
Psikologi Pengajaran.
Jakarta: Gramedia.
Wishnubroto, W. 1994. Kiat Hidup Sukses. Yogyakarta: Kanisius.
52.Tidak berhasil memperoleh nilai yang memuaskan disetiap mata pelajaran
8.
54.Tidak berhasil mendapat nilai yang baik pada mata pelajaran tertentu.
Belajar efektif dan efisien
Mampu belajar dengan yang efektif dan efisien
a. Pengertian cara belajar efektif b. Cara-cara belajar yang efektif c. Manfaat yang diperoleh dari cara
belajar yang efektif
Orientasi dan informasi • Ceramah • Dinamika kelompok • Diskusi Sudarmanto, YB. 1993. Tuntunan Metodelogi Belajar. Jakarta: Gramedia.
62.Tidak mempunyai teman-teman yang tidak memaksa saya untuk bermain keluar rumah ketika saya ingin belajar
Pergaulan Mampu dengan selektif memilih teman yang bisa mendukung belajar
a. Pergaulan yang sehat b. Memilih teman
c. Pengaruh kelompok temana sebaya terhadap prilaku belajar kita. 64.Tidak belajar karena ingin pergi
bermain dengan teman-teman. 9.
66.Tidak pernah berkumpul
Mengungkapkan perasaan
Mampu mengungkapkan perasaan pada teman
a. Bersikap asertif dalam pergaulan b. Manfaat mengungkapkan perasaan
Orientasi dan informasi Ceramah, diskusi, experenial learning (bercerita pada teman) Sinurat, RHDJ. 1999. Hand out Komunikasi Antar Pribadi. Yogya: Universitas Sanata Dharma.
63 belajar saat sedang marah.
12.Kurang mampu mengelola emosi untuk berkonsentrasi belajar
dalam belajar.
c. Kiat-kiat dalam mengelola emosi agar siap untuk belajar.
teman) Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT Gramedia.
11. 27.Kesulitan mengingat kembali bahan pelajaran yang telah diajarkan.
Keterampilan menghafal pelajaran
Mampu menggunakan daya ingat sebaik mungkin.
a. Ingatan dan lupa
b. Persyaratan menghafal yang baik. c. Teknik menghafal bahan pelajaran
Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Suharnan. 2005. Psikolgi Kognitif. Surabaya: Srikandi..
58. Tidak pernah membuat jadwal khusus untuk bel;ajar dirumah. 12.
60.Tidak pernah belajar dengan meringkas terlebih dulu bahan yang akan saya pelajari.
Metode belajar yang efektif dan efisien.
Mampu belajar dengan baik sesuai dengan metode yang tepat.
a. Pengertian metode belajar yang efektif
b. Metode belajar yang efektif c. Manfaat yang diperoleh dari
metode belajar yang efektif.
Orientasi dan informasi • Ceramah • Dinamika kelompok • Tanya jawab • Diskusi Sudarmanto, YB. 1993. Tuntunan Metodologi Belajar. Jakarta. Gramedia. The Liang Gie. 1993. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta. Liberty. 13. 30.Kesulitan menarik kesimpulan
dari penjelasan guru di kelas.
Kemampuan berpikir Mampu menciptakan konsentrasi untuk dapat memusatkan pikiran
a. Minat mempengaruhi konsentrasi b. Hal-hal yang mengganggu
konsentrasi c. Cara-cara/teknik konsentrasi belajar Orientasi dan informasi • Ceramah • Dinamika kelompok • Tanya jawab • Diskusi Suharnan. 2005. Psikolgi Kognitif. Surabaya: Srikandi..
14. 31.Terhambat belajar karena kurang dukungan dari orang tua dalam mengembangkan bakat pada pelajaran atau bidang tertentu.
Problem Solving Mampu menghadapi masalah dan mampu meyakinkan atau mengkomunikasikan tentang cit-cita atau bakat yang dipilih sesuai kemampuan pada orang tua.
a. Arti pemecahan masalah b. Strategi untuk memecahkan
masalah
c. Tindakan yang perlu untuk memecahkan masalah (pendekatan pada orang tua)
Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Suhartin, R. I. 1982. Mengatasi Kesulitan-kesulitan dalam Pendidikan anak. Jakarta: Gunung Mulia.
Liendenfieled, G. 1997.
Mendidik Anak Agar Percaya Diri. Jakarta: Arcan.
15. 32.Terhambat belajar karena tidak bisa menyesuaikan diri untuk belajar dengan suasana
Pemilihan tempat/ suasana yang mendukung untuk
Mampu
menentukan/memilih tempat belajar yang jauh
a. Suasana rumah yang kurang mendukung untuk belajar b. Suasana rumah yang mendukung
Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok Sukardi, DK. 1983.
Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah.
64 tugas yang ada dan kemampuan
yang dimiliki. • Tanya
jawab • Diskusi 17. 67.Tidak bisa menyempatkan
belajar dirumah tanpa terganggu dengan kegiatan lingkungan.
Pembagian waktu Mampu
mengatur/membagi waktu antara kegiatan dan belajar.
a. Mamfaat pembagian waktu. b. Seberapa penting/bermanfaat
kegiatan bagi pembelajaran c. Membagi waktu secara seimbang d. Jadwal sebagai salah satu cara
membagi waktu. Orientasi dan informasi • Ceramah • Dinamika kelompok • Tanya jawab • Diskusi
Heuken, Adolf &dkk. 1981. Aku Berhasil dalam Studi. Jakarta: cipta Loka Karya.
18. 2. Tidak mampu belajar apabila saya tidak berbakat dalam pelajaran tertentu.
Bakat dalam belajar Mampu belajar dalam setiap mata pelajaran
a. Pengertian bakat
b. Mengenali dan mamahamii bakat/potensi yang ada dalam diri c. Hambatan dalam menumbuhkan
bakat dan upaya-upaya mengatasi hambatan. Orientasi dan informasi • Ceramah • Dinamika kelompok (tes bakat psikologi) • Tanya jawab • Diskusi Syah, M. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo
Diimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Winkel, WS. 1996.
Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia. 19. 6. Kesulitan memahami isi dari
buku-buku pelajaran yang saya baca.
Pemahaman terhadap kemampuan belajar dan menemukan cara belajar yang tepat dan sesuai dengan kemampuan individu
Mampu memahami kemampuan belajar diri dan menemukan cara belajar yang tepat dan sesuai
a. Pengertian belajar dan memahami kemampuan belajar saya
b. Cara-cara belajar yang efektif c. Bagaimana membiasakan diri untuk
belajar tepat dan sesuai bagi diri.
Orientasi dan informasi • Sharing • Dinamika kelompok • Diskusi Thursan. 2002. Belajar Secara Efektof. Jakarta: Puspa Siswa.
65
Bab ini memuat ringkasan, kesimpulan dan saran-saran. Bagian ringkasan memuat tujuan pene litian, metodologi penelitian, dan hasil penelitian.
Bagian kesimpulan memuat kesimpulan dari hasil penelitian. Bagian saran
memuat saran-saran bagi sekolah dan pihak-pihak yang terkait dengan manfaat
penelitian.
A. Ringkasan
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk:
(1) mengetahui faktor- faktor apakah yang menghambat belajar siswi-siswi
kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009, dan (2)
mengetahui topik-topik bimbingan klasikal apa sajakah yang sesuai bagi siswi kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009.
Subjek penelitian ini adalah seluruh siswi kelas X SMA Stella Duce
2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 yang dikelompokkan dalam 5 kelas,
yaitu: kelas X A (30 orang), kelas X B (30 orang), kelas X C (32 orang),
kelas X D (30 orang), dan kelas X E (32 orang). Jadi total jumlah siswi yang menjadi subjek penelitian adalah 154 orang.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner yang terdiri dari 72 item pernyataan yang disusun berdasarkan
Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 April – 08 Mei
2008.
Teknik pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara:
(1) menetukan skor dari masing- masing alternatif jawaban yang sudah diberikan oleh subjek penelitian dan membuat tabulasi skor dari
masing-masing butir item, (2) menghitung total skor masing-masing- masing-masing subjek penelitian
dan total skor tiap item, (3) mengolah data yang diperoleh dengan
menggunakan analisis statistik deskriptif yang meliputi perhitungan mean,
standar deviasi, serta kategorisasi skor tiap item yang berpedoman pada Azwar (2008: 108), (4) menyusun usulan topik-topik bimbingan klasikal
yang sesuai bagi siswi kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran
2008/2009.
Hasil penelitian yang dilakukan pada siswi kelas X SMA Stella
Duce 2 Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang menghambat belajar
siswi-siswi kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009
menunjukkan bahwa sebagian besar siswi mengalami hambatan belajar
dari faktor psikologis, faktor lingkungan sekolah, faktor lingkungan
masyarakat, dan sebagian kecil siswi yang mengalami hambatan belajar