BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Setelah melakukan penelitian dengan menjawab semua rumusan masalah, nilai moral dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander telah ditemukan dengan cara mencermati sinopsis, tokoh, penokohan, dan latar. Dalam teori terdapat 7 bentuk sikap moral, yaitu (1) kejujuran, (2) nilai-nilai otentik, (3) kesediaan bertanggung jawab, (4) kemandirian moral, (5) keberanian moral, (6) kerendahan hati, (7) realitas dan kritis.
Peneliti menggunakan dua penelitian yang relevan. Penelitian pertama ditemukan 9 sikap nilai moral yaitu mawas diri, cinta, taat, setia, sabar, rela berkorban, bela negara, hormat kepada orang tua, dan menjaga kesucian diri. Sedangkan dalam penelitian relevan yang kedua menemukan 3 nilai moral yaitu nilai kebaikan, nilai kebenaran,, dan nilai keadilan. Dari teori yang digunakan dan hasil penelitian yang ditemukan keduanya dapat digunakan sebagai bahan pembelajaransastra di SMA kelas XI semester II. Standar Kompetensi yang sesuai dengan penelitian ini adalah memahami buku biografi, novel, dan hikayat. Kompetensi dasar yang sesuai adalah mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh.
87 BAB V
PENUTUP
Bab lima merupakan bab penutup penelitian ini. Bab ini mencakup kesimpulan, implikasi, dan saran terhadap penelitian yang telah dilakukan dan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti lain yang berkaitan dengan topik penelitian.
A. Simpulan
Novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander menceritakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha warung sayur. Dalam novel ini Bu Sastro merupakan tokoh utama yang memiliki karakter yang sangat baik dan mampu memberikan nilai-nilai moral terhadap pembaca. Bu Sastro memiliki karakter yang sangat melekat, yaitu sabar dan penyayang. Selain itu, Ibu Sastro juga memiliki sifat jujur dan rendah hati. Hal ini ia tunjukkan dalam segala rutinitasnya bersama keluarga dan mengelola warung.
Novel yang syarat akan nilai-nilai kehidupan ini menceritakan perjalanan Bu Sastro serta keluarga dalam mengelola warung sayur yang berada di rumahnya, di perumahan Balubur. Awal mula didirikannya warung sayur adalah semenjak Pak Sastro diputuskan dari Toko Luwes tempat ia bekerja. Peristiwa di dalam novel ini dimulai pada suatu malam di rumah sederhana bernomor 34A/58 di gang Pelesiran Balubur, Taman Sari, Bandung. Saat itu, Pak Sastro menyampaikan kepada Bu Sastro, istrinya, bahwa Toko Luwes tempat ia bekerja telah ditutup oleh Pemerintah Bandung. Sejak
perbincangan itu, Pak Sastro dan Bu Sastro harus memikirkan usaha apa yang akan dilakukan agar tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan kedua anaknya yang saat itu masih duduk di bangku sekolah. Datanglah Dasman yang lulusan arsitek ITB untuk menengok Ibu yang pernah memasak untuknya selama kuliah dulu. Dari sinilah muncul ide untuk mendirikan usaha warung sayur yang disepakati oleh Ibu Sastro dan suaminya.
Bu Sastro dan sang suami mengelola warung hingga mengalami banyak perubahan, mulai dari menu yang bervariasi hingga pelanggan yang terus bertambah. Suka duka dihadapi Bu Sastro dengan sabar, terlebih saat menghadapi perilaku pelanggannya yang berbeda-beda. Bertahun-tahun Bu Sastro bekerja keras mengelola warung sayurnya sehinga mampu mengantarkan anak bungsunya, Mono, lulus kuliah di luar negeri. Mono telah mampu mendapatkan cita-cita yang sejak kecil ia dambakan. Setelah berusia lanjut Bu Sastro menyerahkan sepenuhnya warung sayur kepada keluarga Kang Asep.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui di dalam novel ini Bu Sastro merupakan tokoh utama. Bu Sastro memiliki karakter yang melekat pada dirinya, di antaranya adalah sabar dan penyayang. Sifat ini ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari baik kepada keluarga maupun kepada orang lain. Selain memiliki sifat sabar dan penyayang, Bu Sastro juga memiliki sifat jujur. Sikap jujur tampak ketika Bu Sastro berbicara dengan suaminya, berbelanja di pasar, dan ketika pengunjung di warung. Bu Sastro menjadi salah satu pelanggan VIP di Pasar Balubur
karena para pedagang telah mempercayai kejujuran Bu Sastro. Selain itu, Bu Sastro juga memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab itu ditunjukkan oleh Bu Sastro dengan tidak meninggalkan kewajibannya menyiapkan kebutuhan keluarga, seperti menyiapkan sarapan suami sebelum ia berbelanja ke pasar dan menyiapkan keperluan sekolah Mono. Setelah Pak Sastro meninggal dunia, Bu Sastro bertanggung jawab menyekolahkan Mono hingga menjadi sarjana. Dengan begitu, Bu Sastro terbiasa mandiri dan memiliki keberanian moral dalam mengurusi warung dan keluarganya. Keberanian moral ditunjukkannya pada saat mengatakan kepada Orin tentang kiat-kiat berjualan. Bu Sastro mengungkapkan kiat-kiat yang dilakukan pemilik warung sayur kepada Orin yang hendak mengelola warung nasi seperti dirinya. Selain itu, Bu Sastro merupakan sosok yang rendah hati. Ia selalu bersedia membantu pelanggan di warungnya yang mengalami permasalahan.
Tokoh lain yang mendukung cerita yaitu Pak Sastro, Kang Asep, Mono, Dasman, dan Simbolon. Peran mereka tidak terlalu pokok, namun keberadaannya mendukung tokoh utama. Pak Sastro, suami Bu Sastro, memiliki sifat jujur yang ia tunjukkan ketika mengatakan bahwa ia telah diberhentikan dari Toko Luwes tempatnya bekerja. Selain Pak Sastro ada pula Simbolon yang ingin dimasakkan makanan setiap hari untuk dirinya dan ke-12 teman indekosnya. Ia berkata jujur kepada Bu Sastro bahwa pembantunya telah kabur.
Keberanian moral juga ditunjukkan oleh Orin yang ingin membuka warung makan. Orin telah memperhitungkan secara matang segala keperluan warung sayurnya.
Tokoh tambahan yang juga memiliki kerendahan hati seperti Bu Sastro adalah Mono. Mono berkeinginan bisa cepat lulus dan dapat segera bekerja agar tidak lagi merepotkan ibunya.
Di dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander digambarkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang beragam. Pemakaian bahasa dan budaya dari masing-masing daerah juga terdapat dalam novel ini, seperti pemakaian sapaan Wo sebagai kata sapaan kesayangan untuk wanita yang merupakan kebiasaan dari daerah Jawa khususnya Jawa Tengah. Adapun masyarakat keturunan Tionghoa menggunakan sapaan Ko untuk memanggil orang laki-laki. Di dalam novel ini juga dipaparkan kebiasaan-kebiasaan yang melatarbelakangi umat beragama Buddha, yaitu menganggap hari Jumat sebagai salah satu hari besar mereka. Selain itu, orang diharuskan berjalan dengan bersimpuh ketika melewati patung para dewa.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander dapat dijadikan bahan pembelajaran di SMA kelas XI semester II. Kurikulum yang digunakan adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan SK 15 Memahami buku biografi, novel, dan hikayat dan KD 15.1 Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh.
B. Implikasi
Penelitian terhadap novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander ini membuktikan bahwa novel tersebut dapat digunakan sebagai
bahan ajar sastra karena mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bidang sastra, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang analisis tokoh, penokohan, latar, dan nilai-nilai moral. Dalam bidang pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA kelas XI semester II dengan mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
C. Saran
Peneliti berharap hasil penelitian yang masih banyak kekurangan dan kelemahan ini dapat memberikan pengetahuan bagi para guru bahasa Indonesia dan peneliti lain yang membahas nilai moral. Peneliti juga berharap relevansi penelitian pada pembelajaran sastra ini dapat berguna bagi dunia pendidikan khususnya pembelajaran sastra di SMA. Peneliti juga menyarankan agar para guru dapat mengambil nilai yang terkandung dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander untuk diajarkan kepada peserta didik. Bagi mahasiswa, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan atau referensi dalam penyusunan skripsi. Peneliti lain dapat menindaklanjuti penelitian yang berhubungan dengan novel ini menggunakan pendekatan moral atau pendekatan- pendekatan lain agar dapat memberikan gambaran nilai-nilai moral yang lebih lengkap.
92
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo. 2012. Pembelajaran Nilai-Karakter Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: Grafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 1989. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 2008. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Leander, Pauline. 2012. Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis dengan Hati. Jakarta: Kompas Gramedia.
Moleong. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rahmanto, B. 2005. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 2010. Jakarta: Kharisma Putra.
Semi, M. Atar. 2010. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya. Suseno, Franz Magnis. 1986. Kuasa dan Moral. Jakarta: Gramedia.
Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.
Susiani. Sri Windarti. 2005. “Nilai-Nilai Moral dalam Cerita Ramayana Karya Sunardi D.M.: Analisis Tokoh, Penokohan, Alur, Latar, dan Tema dan Relevansinya sebagai Bahan Pembelajaran Sastra untuk SMA Kelas X.” Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Syarbaini, Syahrial. 2009. Pendidikan Pancasila: Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa. Jakarta: Ghalia Indonesia.
93
Wahyuningtyas, Sri. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pressindo.
Yohanna, Merry. 2000. “Modernitas dan Tuntutan Nilai Moral Tokoh Laila dalam Novel Saman Karya Ayu Utami (Suatu Tinjauan Psikologi Sastra) dan Implementasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMU.” Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
94
LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 : Silabus
LAMPIRAN 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
LAMPIRAN 3 : Materi Pembelajaran
Nama Sekolah : SMA/MA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XI/2
Standar Kompetensi : Membaca
15. Memahami buku biografi, novel, dan hikayat Kompetensi
Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran Indikator Penilaian
Alokasi Waktu Sumber 15.1 Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh Sinopsis novel Tokoh, penokohan, dan latar Nilai-nilai moral Hal-hal Membaca sinopsis novel Menganalisis unsur intrinsik (tokoh, penokohan, dan latar) Mengidentifikasi nilai-nilai moral dalam sebuah novel
Mengidentifika si unsur-unsur intrinsik (tokoh, penokohan, dan latar) Mengidentifika si nilai-nilai moral Mengungkapka Jenis Penilaian: Tugas Individu Tugas Kelompok Diskusi Presentasi 4 x 45’ Leander, Pauline. 2012. Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati. Jakarta: Kompas Gramedia. Magnis, Franz dan Suseno SJ.
tokoh Hal-hal yang dapat diteladani dari para tokoh hasil belajar Mempresentasikan hasil belajar dapat diteladani dari tokoh Gramedia. Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar: Masalah- masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
Sekolah : SMA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : XI/2
Standar Kompetensi : Membaca
15. Memahami buku biografi, novel, dan hikayat
Kompetensi Dasar : 15.1 Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit (2 kali pertemuan)
A. Indikator
1. Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik (tokoh, penokohan, dan latar). 2. Mengidentifikasi nilai-nilai moral.
3. Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh.
B. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik (tokoh, penokohan, dan latar) yang terdapat dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander.
2. Siswa mampu mengidentifikasi nilai moral yang terkandung dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander.
Leander. C. Materi Pembelajaran 1. Tokoh 2. Penokohan 3. Latar 4. Nilai-nilai Moral D. Metode Pembelajaran 1. Ceramah 2. Tanya Jawab 3. Diskusi 4. Presentasi 5. Penugasan
E. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Kegiatan Metode Alokasi
Waktu
1. Kegiatan Awal
Guru memberikan salam.
Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan selama proses belajar mengajar.
Guru mengajukan pertanyaan lisan tentang novel dengan mengaitkan materi yaitu unsur-
Ceramah Tanya jawab
2. Kegiatan Inti Eksplorasi
Guru memberikan pertanyaan lisan terkait dengan unsur-unsur intrinsik untuk mengetahui seberapa jauh siswa mengerti tentang unsur intrinsik.
Secara acak siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru mengenai tokoh, penokohan, dan latar yang terdapat dalam novel.
Siswa menjelaskan dan menceritakan secara singkat novel yang pernah dibacanya.
Elaborasi
Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai unsur intrinsik novel (tokoh, penokohan, dan latar).
Siswa membentuk kelompok diskusi yang beranggotakan 3-5 orang.
Siswa berdiskusi kelompok untuk menganalisis unsur intrinsik (tokoh, penokohan, dan latar).
Ceramah Diskusi Presentasi
hasil diskusi kelompok di depan kelas dengan baik dan benar.
Konfirmasi
Siswa saling memberikan tanggapan terhadap presentasi kelompok lain.
3. Kegiatan Penutup
Siswa diajak untuk merangkum apa yang sudah dipelajari.
Siswa menanggapi rangkuman yang dibacakan.
Siswa diajak merefleksikan nilai-nilai serta kecakapan hidup yang bisa dipetik dari pembelajaran.
Guru menyimpulkan dan memberi peneguhan pembelajaran.
Guru memberikan pekerjaan rumah yaitu membaca novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander.
Tanya jawab
Kegiatan Metode
Alokasi Waktu 1. Kegiatan awal
Guru memberikan salam.
Guru mengajukan pertanyaan mengenai materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya sebelumnya.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. 2. Kegiatan Inti
Eksplorasi
Siswa menceritakan dan menjelaskan isi novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander.
Siswa menjelaskan tentang unsur-unsur intrinsik (tokoh, penokohan, dan latar).
Siswa menjelaskan tentang nilai moral dalam novel.
Elaborasi
Siswa kembali berdiskusi kelompok untuk menganalisis nilai-nilai moral, hal-hal menarik dan dapat diteladani dari tokoh dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis
Ceramah Tanya jawab Ceramah Diskusi Presentasi 10 menit 60 menit
Siswa menukarkan hasil diskusinya dengan kelompok lain.
Perwakilan kelompok melaporkan hasil diskusi kelompok di depan kelas dengan baik dan benar.
Konfirmasi
Siswa saling memberikan tanggapan terhadap presentasi kelompok lain.
3.Kegiatan Penutup
Siswa diajak untuk merangkum apa yang sudah dipelajari.
Siswa menanggapi rangkuman yang dibacakan.
Siswa diajak merefleksikan nilai-nilai serta kecakapan hidup yang bisa dipetik dari pembelajaran.
Guru menyimpulkan dan memberi peneguhan pembelajaran.
Guru mengajak siswa untuk merefleksikan kegiatan pembelajaran hari ini.
Jakarta: Kompas Gramedia.
2. Magnis, Franz dan Suseno SJ. 1986. Kuasa dan Moral. Jakarta: Gramedia. 3. Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
4. Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius. G. Penilaian 1. Jenis Penilaian: a. Tugas Individu b. Tugas kelompok c. Diskusi d. Presentasi 2. Bentuk Penilaian: a. Uraian Bebas
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Sebutkan tokoh dan penokohan yang terdapat dalam novel Warung Bu Sastro
Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander!
2. Sebutkan latar yang terdapat dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander!
3. Jelaskan nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Warung Bu Sastro Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati karya Pauline Leander!
Kunci Jawaban
1. Analisis Tokoh dan Penokohan
Tokoh Utama : Bu Sastro
Tokoh Tambahan : Pak Sastro, Kang Asep, Mono, Dasman, dan Simbolon.
Tokoh Utama Penokohan
Bu Sastro Sabar, penyayang, ramah, santun, religious, tanggung jawab, pandai bersyukur, kerja keras, jujur, kritis.
Tokoh Tambahan Penokohan
Pak Sastro Senang minum kopi, menjaga perasaan istri, religious, senang berbagi dengan orang lain, ramah, sabar.
Kang Asep Mahir membuat perabotan rumah tangga dari kayu, galak.
Mono Senang membantu pekerjaan orang tua, kerja
keras, kritis, cerdas.
Dasman Jujur dan cerdas.
Simbolon Jujur
2. Latar
Latar waktu Malam hari, hari pertama, pagi hari pada hari
kedua, siang hari, pagi hari pada hari ketiga, pagi hari pada hari keempat, setelah satu tahun,
Latar tempat Warung sayur Bu Sastro, pasar Cihapit, rumah Bu Sastro, toko Yosiko.
Latar sosial -Panggilan Wo, sebagai panggilan sayang
terhadap wanita yang berasal dari daerah Jawa. -Hari Jumat merupakan salah satu hari besar bagi umat beragama Buddha
-Penggunaan sapaan Ko, bagi orang laki-laki keturunan Tionghoa.
-Pempek tenggiri dan sambal tempoyak merupakan makanan khas dari Palembang. -Kebiasaan perempuan jaman dulu yang menggunakan pakaian kebaya dan batik.
3. Nilai Moral dalam Novel
Nilai Moral Kutipan
1.Kejujuran -Meskipun belanja setiap hari, Bu Sastro
diperbolehkan hanya membayar seminggu sekali ketika uang anak-anak mahasiswa sudah terkumpul. Para pedagang memercayai Bu Sastro karena memang beliau tidak pernah menyelewengkan kepercayaan tersebut (Leander, 2012 : 83).
-“Tadi pagi keputusan ini diumumkan. Kami semua sangat terkejut ketika Pak Pranoto yang
(Leander, 2012 : 7).
-“Mono itu inginnya bisa menikah di usia muda, Mak,” kata Mono mengemukakan alasan sebenarnya mengapa ia tampak kebingungan sebelum mengambil keputusan (Leander, 2012 : 258).
-“Pembantu di rumah kami, Mbak „Nah itu kabur. Repotlah kami jadinya. Bukan hanya untuk masalah cuci setrika, tapi terutama untuk masalah makan tiga kali sehari, Bu. Kami sepakat kalau masakan Ibu yang paling enak. Cuma kasihanilah kami Bu, kalau tanpa nasi, bagaimana nasib perutku ini,” demikian paksaan dan rayuan Simbolon pada saat yang bersamaan (Leander, 2012 : 61).
-“Bu, coba Ibu memasak makanan nasi dan lauk- pauknya untuk anak-anak mahasiswa umum. Masakan Ibu enak. Selama 5 tahun ini, kan, Ibu selalu memasakkan makanan untuk kami. Coba, deh, Ibu masak untuk mahasiswa umum makan di sini!” (Leander, 2012 : 35-36).
2.Nilai-nilai Moral Otentik
-“Heee, Nak Hendrik, apa kabar? Ayo… ayo masuk dulu,” ajak Ibu tergopoh-gopoh menarik tangan Hendrik yang tampak sungkan untuk masuk (Leander, 2012 : 204).
-Jika tampak Pak Sastro pulang ke rumah bersama si Onthel dari vihara pukul 11 siang, maka anak- anak tetangga sekitar rumah akan segera mengerumuninya dan menanti jatah pembagian
ditunjukkan dengan kerja kerasnya dalam belajar. Ketika menghadapi kesulitan di dalam beberapa mata pelajaran, maka ada 150 mahasiswa ITB yang bisa dimintai bantuannya (Leander, 2012 : 85).
3.Kesediaan untuk
Bertanggung Jawab
-Makanya Bu Sastro melakukan lebih dari sekadar kewajiban memasakkan makanan yang enak, layak, bergizi, dan terjangkau buat mereka. Lebih dari itu, ia juga memperhatikan dengan seksama apakah mereka sehat-sehat saja, atau mungkin sedang ada masalah yang mengganggu (Leander, 2012 : 135). -Pak Sastro melepaskan si Onthel dengan rela hati. Ia ingin memberikan Rp5.000 hasil penjualan si Onthel dan Rp25.000 pesangonnya dari Toko Luwes kepada istri tercintanya dan menyongsong kehidupan baru mereka bersama-sama (Leander, 2012 : 49).
4.Kemandirian
Moral
-Bu Sastro selalu berdoa agar kerja kerasnya bisa senantiasa memampukan dirinya untuk membiayai sekolah kedua anaknya ini (Leander, 2012 : 81). -“Begini loh Mak…” Mono mencoba menjelaskan. “Umur Mono kan baru 22 tahun, pacar belum punya, teman dekat perempuan nggak ada. Kalau Mono ke Swiss selama 4 tahun, lama sekali, ya Mak. Kapan Mono bakal punya pacar dan menikah kalau masih harus tunggu 4 tahun lagi?” Mono bertanya kepada Ibunya (Leander, 2012 : 257).
5.Keberanian Moral -Hati Ibu Sastro yang bertahap mulai bisa
menerima dan menyetujui ide ini pun dituturkannya kepada Bapak. Semua rencana usaha yang mulai
modal awal pun disampaikan kepada Bapak (Leander, 2012 : 38).
-Orin mulai bercerita tentang perhitungan bisnis secara matematika yang sudah dilakukannya. Orin juga bercerita tentang promosi yang sudah diupayakannya. Tidak lupa juga dia menceritakan bagaimana warungnya ramai dikunjungi pelanggan pada saat-saat awal dan justru semakin lama semakin sepi (Leander, 2012 : 145).
6.Kerendahan Hati -“Maklum saya tidak sekolah Nak Markus, nggak
tahu itu sudah sesuai atau belum,” kata Ibu lagi. Di samping itu, beliau hanya berniat untuk memberikan jalan keluar bagi anak muda ini, sehingga memberanikan diri menghubungi orangtua si anak (Leander, 2012 : 176).
-Mono ingin bisa cepat lulus dan bekerja supaya tidak lagi terlalu merepotkan ibunya. Maka, sekalipun dengan berat hati, ia harus rela melepaskan bangku yang sempat diperolehnya sebagai calon sarjana Matematika di PTN Bandung yang cukup ternama itu. Rencana memang harus diubah, tapi asa tetap ada. Mono tetap optimis menghadapi masa depannya.. (Leander, 2012 : 248).
7.Realitas dan Kritis -“Kalau gratis nasi, pasti lauk pauk dan sayurnya akan mahal. Ini harus dilakukan agar bisa dipakai buat menutup ongkos nasi gratisnya,” demikian analisis sederhana Bu Sastro memperjelas mengapa warung Ibu Wati tidak berumur panjang, dan
-“Mono itu inginnya bisa menikah di usia muda, Mak,” kata Mono mengemukakan alas an sebenarnya mengapa ia tampak kebingungan sebelum mengambil keputusan (Leander, 2012 : 258).
4. Hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh
Tokoh Hal yang menarik
Bu Sastro Sabar, penyayang, ramah,
santun, religius, tanggung jawab, pandai bersyukur, pekerja keras, jujur, kritis, pandai melerai pertengkaran
Pak Sastro Selalu bangun pagi, selalu
menjaga perasaan istri, menyerahkan segala
permasalahan kepada Tuhan, rajin merawat sepeda onthelnya, selalu memberikan bungkusan yang diberikan penjaga vihara untuk anak-anak di sekitar rumahnya, senang membantu istri, ramah dengan siapapun yang dijumpainya, penyabar
Kang Asep Mahir membuat perabotan
rumah tangga dari kayu
pada malam harinya, pekerja keras, kritis, cerdas, jujur
Dasman Jujur, cerdas