BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4. Pembahasan
4.4.1. Peningkatan Pengetahuan Mahasiswa
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat adanya peningkatan pengetahuan dari mahasiswa. Hal ini ditunjukan pada nilai rata-rata pengetahuan sebelum diberikan treatmen ialah 34,44 dan setelah diberikan treatmen ialah 55,56. Untuk melihat adanya peningkatan dilakukan uji wilcoxon dengan menggunakan SPSS dan hasilnya signifikan.
Menurut filsafat konstruktivisme (Suparno 1997: 28-29), pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomen, pengalaman, dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Tiap orang harus mengkonstruktsi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperanan dalam perkembangan pengetahuannya.
Mahasiswa mulai mengetahui dan mampu menyampaikan pendapat dengan kalimatnya sendiri. Pengetahuan mereka semakin meningkat dipertemuan kedua sampai pada pertemuan ketiga. Saat wawancara pertama yakni sebelum dilaksanakannya penelitian, mahasiswa hanya pernah mendengar pemanasan global namun tidak mengetahui apa pengertian, penyebab, dampak dan kaitannya dengan kehidupan. Saat wawancara kedua yakni wawancara setelah dilaksanakannya penelitian mahasiswa telah mengetahui apa itu pemanasan global dan hal lain yang menjadi kaitan dengan pemanasan global. Ketika peneliti menanyakan apakah penelitian ini berguna, kemudian mahasiswa menjawab ia berguna karena mereka menjadi tahu pentingnya mengetahui pemanasan global, selain itu mereka menjadi tahu dan mempraktekan di asrama untuk mengurangi penggunaan listrik yang berlebihan. Hasil tes yang diperoleh menunjukan bahwa pengetahuan mahasiswa
meningkat, diperoleh hasil yang signifikan pada tabel 4.2.. Hal ini berarti bahwa perbedaan antara pengetahuan mahasiswa sebelum dan sesudah belajar menggunakan metode discovery Learning signifikan.
4.4.2. Peningkatan Berpikir Kritis Mahasiswa
Hasil analisis menunjukan bahwa adanya peningkatan berpikir kritis mahasiswa. Nilai rata-rata berpikir kritis yang diperoleh sebelum diberikan treatmen ialah 22,22, dan setelah diberikan treatmen ialah 53,89. Peningkatan dilihat dari uji wilcoxon dengan menggunakan SPSS dan diperoleh hasil yang signifikan pada tabel 4.2.
Berpikir kritis adalah berpikir pada level yang kompleks dengan menggunakan analisis dan proses analisis terhadap suatu informasi yang didapat. Berdasarkan teori BAB 2, menurut Watson dan Glaser, (1980, dalam Sani, dkk 2019: 14) bahwa berpikir kritis sebagai kombinasi dari dimensi kognitif dan afektif. Menurut mereka, berpikir kritis didasarkan pada afiliasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya peningkatan berpikir kritis mahasiswa dilihat dari nilai posstest lebih tinggi dari nilai pretest selain itu saat penelitian berlangsung mahasiswa mulai aktif dan memberikan pendapat yang ada pada pemikirannya masing-masing. Pertemuan pertama mahasiswa pasif dan cenderung diam ketika ditanya. Pertemuan kedua mahasiswa menjadi lebih aktif dan berdiskusi dengan baik bahkan, salah satu mahasiswa berinisiatif untuk membuat rumah dari kayu sebagai upaya untuk mengurangi dampak dari pemanasan global. Ketika wawancara mahasiswa menceritakan pengalaman di kampung halamannya tentang musim kemarau panjang hampir 1 tahun. Masyarakat kesulitan mencari nafkah. Kemudian peneliti bertanya jika musim kemarau terjadi lagi apa yang akan kalian lakukan?. Mahasiswa menjawab “ kalau aku kak, aku akan menanam pohon dan sayur-sayur di dekat rumah supaya tidak jauh cari makan”. Mahasiswa yang lain menjawab “ aku menghemat air kak, juga menanam apa yang bisa ditanam untuk bahan makan”. Selain jawaban tersebut mahasiswa berinisiatif untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang pemanasan global terutama kepada anak-anak kecil disana yang gemar bermain api, agar sadar dan
tidak bermain-main dengan api untuk menjaga lingkungan hidup dan mengurangi terjadinya pemanasan global. Hasil tes yang ditunjukan pada tabel 4.2 adalah signifikan. Hal ini berarti bahwa perbedaan antara kemampuan berpikir kritis mahasiswa sebelum dan sesudah belajar menggunakan metode discovery Learning signifikan.
4.4.3. Peningkatan Kemandirian Mahasiswa
Kemandirian yang dianalisis dalam penelitian ini adalah kemandirian mahasiswa dalam mengerjakan soal pretest, posttest dan angket mandiri. Peningkatan kemandirian mahasiswa ditunjukan pada tabel 4.1. Analisis data angket mandiri dilakukan dengan uji wilcoxon pada SPSS. Nilai rata-rata awal angket mandiri ialah 75 dan nilai rata-rata akhir ialah 81,7 dan hasil uji signifikan. Pada tabel 3.7 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata awal 75 masuk pada kategori Baik pada interval 65-80, sedangkan nilai rata-rata akhir 81,7 masuk pada kategori Sangat Baik pada interval 81-100.
Penelitian yang dilaksanakan pada pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga, mahasiswa secara mandiri menjawab soal pretest, posstest, angket walaupun duduk berdekatan dengan mahasiswa lainnya. Ketika diskusi kelompok dilakukan mahasiswa berdiskusi dengan teman kelompoknya dengan tertib tanpa bertanya kepada teman lain maupun peneliti. Saat presentasi kelompok dilakukan, mahasiswa bersedia mempresentasikan hasil diskusinya tanpa harus ditunjuk. Tabel 4.2 diperoleh hasil yang signifikan. Hal ini berarti bahwa perbedaan antara kemandirian mahasiswa sebelum dan sesudah belajar menggunakan metode discovery Learning signifikan.
4.4.4. Proses Discovery Mahasiswa
Proses discovery yang dialami oleh mahasiswa ditunjukan pada skema di bawah ini
Gambar 4.4. Skema Proses Discovery yang dialami Mahasiswa
Berdasarkan gambar 4.4 di atas mahasiswa awalnya tidak mengetahui tentang pemanasan global. Peneliti memberikan video yang berisi tentang pengertian, penyebab, dampak dan upaya penanggulangan pemanasan global. Mahasiswa menonton dan menganalisis video tersebut, kemudian dari pemahaman yang diperoleh mahasiswa melakukan diskusi kelompok berdasarkan soal pada LKM dan pertanyaan lisan terkait fenomena alam yang mereka alami. Setelah melakukan diskusi mahasiswa mempresentasikan hasil diskusinya. Ada yang menceritakan tentang musim kemarau selama kurang lebih 1 tahun, kebakaran hutan, banjir yang merendam rumah masyarakat setempat sehingga kesulitan untuk mencari kebutuhan pokok, dan kebiasaan anak-anak kecil di kabupaten Mappi yang gemar bermain api. Mahasiswa mulai menyadari bahwa menjaga lingkungan hidup
Mahasiswa belum memahami konsep pemanasan global
Menonton video pemanasan global
Pemahaman tentang pemanasan global
Kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan
sangat penting dilakukan, maka dari itu mereka berinisiatif untuk menghemat energi di asrama student residence, membuang sampah pada tempatnya, membiasakan diri berjalan kaki, dan menanam pohon. Selain itu ada yang berinisiatif membangun rumah dari kayu untuk menghemat energi, memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan anak-anak kecil di kabupaten Mappi mengenai pemanasan global dan pentingnya untuk menjaga lingkungan hidup.