BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Hasil penelitian ini membuktikan ada hubungan negatif antara pemenuhan kebutuhan berafiliasi dan tingkat stres pada mahasiswi kost. Ini berarti bahwa bila terjadi peningkatan pada salah satu variabel maka akan diikuti penurunan variabel lain. Dalam hal ini, bila terjadi peningkatan variabel pemenuhan kebutuhan berafiliasi maka akan terjadi penurunan pada variabel tingkat stres, yaitu semakin tinggi pemenuhan kebutuhan berafiliasi mahasiswi kost maka semakin rendah tingkat stresnya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Afida (2000) dan Andhianti (2004) yang dilakukan pada kelompok lansia. Hasil penelitian mereka menunjukan adanya hubungan negatif antara pemenuhan kebutuhan berafiliasi dan tingkat deperesi pada lansia. Depresi berkaitan dengan stres, ketika individu tidak tangguh dalam menghadapi stresor dan mengalami tingkat stres yang sangat tinggi, ia dapat mengalami depresi (Nevid, Rathus and Grenee, 2005). Penelitian ini menambah bukti bahwa pemenuhan kebutuhan berafiliasi dapat membantu seseorang dalam menghadapi stressor. Dengan demikian individu yang tangguh dalam menghadapi stresor, ia cenderung memiliki tingkat stres yang rendah, rendahnya tingkat stres dapat membuat individu terhindar dari depresi.
Kebutuhan berafiliasi merupakan suatu kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan dari hubungan yang erat dan harmonis dengan orang lain (Murray, 1938) Mahasiswi kost mengalami perubahan sosial. Perubahan sosial yang
dialami mahasiswi kost mendorong mereka untuk bersosialisasi dengan banyak orang di sekitar mereka. Hal ini ditunjang oleh situasi bahwa mahasiswi tersebut tinggal di kost dan jauh dari orangtua mereka, sehingga saat mereka mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian, mereka akan meminta bantuan orang-orang yang berada di sekitar mereka, baik teman kost, teman kampus maupun teman di luar kampus. Keadaan ini yang membuat mereka lebih memiliki kesempatan untuk membina hubungan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka. Melalui interaksinya dengan orang lain memudahkan mereka untuk memenuhi kebutuhan berafiliasinya.
Aspek-aspek kebutuhan berafiliasi yang diukur dalam penelitian ini adalah : stimulasi positif, perhatian, perbandingan sosial dan dukungan emosional. Stimulasi positif merupakan kebutuhan akan situasi yang menyenangkan dalam proses afiliasi melalui kedekatan hubungan antar personal, yang diwujudkan melaui kontak fisik yang melibatkan perasaaan emosi yang mendalam dan membina hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang (Hill,1987). Ketika mahasiswi kost dapat merasakan kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya, kemungkinan ia tidak mengalami beban yang berat saat terpisah jauh dari orangtua. Ketika ia sedang berkumpul bersama teman-temannya, ia masih dapat merasakan kesenangan. Dengan demikian ia juga tidak mengalami kesepian saat berada jauh dari orangtuanya.
Aspek perhatian dari kebutuhan berafiliasi adalah kebutuhan untuk mendapat pujian sebagai rasa penghargaan atas kemampuannya dalam pergaulan, mendapat
pengakuan dan perhatian dari orang lain (Hill,1987). Mahasiswi yang merasa mendapatkan semangat ketika ia melakukan suatu hal, ia akan merasa mendapat perhatian dari lingkungannya. Dengan demikian ketika ia mulai terpuruk dan kehilangan semangat karena ia merasa tidak mampu lagi menghadapi hambatan yang merintanginya, ia akan bersemangat lagi dan tetap berusaha melewati setiap hambatan. Hal ini dapat membuatnya terhindar dari stres.
Kebutuhan untuk melakukan perbandingan sosial merupakan kebutuhan untuk membina hubungan sosial dan mengurangi ketidakjelasan tentang identitas dirinya dengan jalan mencari informasi dari lingkungan sosial tempat individu itu berada (Hill,1987). Lingkungan baru yang jauh dari orangtua menuntut penyesuaian. Dengan demikian mahasiswi kost perlu melakukan penyesuaian dengan lingkungan barunya agar ia diterima oleh lingkungannya. Apabila ia merasa tidak diterima oleh lingkungannya maka ia dapat mengalami stres. Melalui pemenuhan kebutuhan akan perbandingan sosial, akan membantu mahasiswi kost mengatasi masalah tersebut. Mahasiswi yang terpenuhi kebutuhan untuk melakukan perbandingan sosialnya, ketika ia menghadapi hal baru yang tidak biasa dilakukannya, ia akan meminta pendapat orang lain untuk meyakinkan diri. Dengan demikian ia akan merasa lebih mudah dalam melakukan penyesuaian, dan tingkat stresnya pun menjadi rendah.
Dukungan emosional merupakan aspek ke empat dalam kebutuhan berafiliasi. Dukungan emosional merupakan kebutuhan akan kehadiran orang lain atau berada bersama teman dan mendapat simpati saat menghadapi masalah dan
perasaan aman bersama orang lain (Hill, 1987). Dalam penelitian ini, mahasiswi kost tidak tinggal sendirian, tapi tinggal di kost atau asrama. Mahasiswi yang tinggal di kost atau asrama mempunyai banyak teman dan mungkin juga mereka akan memperoleh dukungan emosional dari interaksi mereka. Apabila mereka merasa mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang di sekitar mereka, maka mereka akan lebih mudah mengatasi masalah yang mereka hadapi.
Dukungan emosional dapat membantu menurunkan stres. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarafino (1990) dan penelitian yang dilakukan oleh French, dkk (dalam Berry & Houston, 1993) yang mengungkapkan bahwa dukungan emosional yang menjadi bagian dari dukungan sosial dibutuhkan dalam mengatasi stres. Penelitian yang dilakukan oleh Ismudyanti dan Hastjarjo (2003) terhadap anak jalanan juga mengungkapkan bahwa dukungan emosional dapat membantu anak jalanan dalam menghadapi tekanan-tekanan baik dari dalam maupun dari luar dirinya.
Mahasiswi yang merasa terpenuhi kebutuhan berafiliasinya merasa bahwa lingkungan menerima kehadirannya, ia akan meminta pendapat teman jika ragu dengan sesuatu yang akan dilakukan. Selain itu ketika sedang bersedih, ia mendapat hiburan dari teman-temannya. Apabila mahasiswi dapat merasakan kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya, mereka akan merasa bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi situasi, tuntutan atau masalah yang ia hadapi sebagai salah satu faktor yang menimbulkan stres. Hardjana (1994) juga mengungkapkan bahwa apabila saat-saat stres sudah terlihat dan sumber stres sudah diketahui
sebelumnya maka individu perlu mengambil sikap bersiap diri dengan meminta bantuan orang lain, karena stres yang dihadapi seringkali terlalu berat untuk diatasi sendirian, dalam keadaan seperti itu untuk mencegah stres individu perlu mencari pertolongan dari orang lain. Dalam hal ini orang-orang di sekitarnya begitu berarti bagi mahasiswi tersebut, karena mahasiswi dapat meminta bantuan orang-orang di sekitarnya ketika mereka menghadapi kesulitan.
Mahasiswi yang merasa kebutuhan berafiliasinya kurang terpenuhi merasa bahwa lingkungan menolak kehadirannya, ia akan merasa ragu untuk meminta pendapat temannya, ia juga merasa sendirian ketika sedang sakit, sedih atau mengalami kekecewaan. Kondisi tersebut dapat membuat mereka semakin tertekan, sehingga tingkat stresnya cenderung tinggi.
Mahasiswi yang mengalami stres ketika menjalankan kegiatan perkuliahan dan aktivitasnya sehari-hari akan mengalami gangguan psikologis berupa respon emosional, kognitif dan fisiologis (Crider, 1983). Gangguan yang dirasakannya akan mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi fisiknya sehingga ia tidak akan mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal, selain itu kualitas belajarnya juga akan menurun. Oleh karena itu mahasiswi perlu mengatasi dengan segera setiap masalah akibat banyaknya tuntutan yang menjadikan mereka menjadi tertekan. Dengan terpenuhinya kebutuhan berafiliasi, berbagai tekanan yang dihadapi mahasiswi akan berkurang, dengan demikian tingkat stresnya pun menjadi rendah. Semakin rendahnya tingkat stres berarti
gangguan-gangguan yang dialami semakin sedikit, dengan demikian mahasiswi tersebut dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal.
Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0,303. Hal ini berarti pemenuhan kebutuhan berafiliasi memberi sumbangan efektif terhadap tingkat stres sebesar 30,3%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat 69,7% kontribusi yang berasal dari variabel-variabel di luar variabel-variabel bebas yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Hal ini terjadi karena pada dasarnya penyebab stres tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tertentu saja. Ada faktor eksternal maupun internal yang dapat mempengaruhi tingkat stres seseorang. Santrock (2003) mengungkapkan bahwa banyak faktor dari luar maupun dari dalam yang mempengaruhi stres dalam kehidupan remaja. Faktor dari luar diantaranya : terlalu banyaknya tugas, buruknya lingkungan pergaulan, penolakan dari teman sebaya, konflik dengan teman juga masalah sosial ekonomi. Faktor dari dalam diantaranya : tipe kepribadian, penilaian kognitif dan strategi penanganan masalah.
Terbuktinya hubungan antara pemenuhan kebutuhan berafiliasi dan tingkat stres pada mahasiswi kost memberikan implikasi praktis bagi mahasiswi kost. Kebutuhan berafiliasi ternyata cukup penting juga untuk dipenuhi, karena semakin terpenuhinya kebutuhan berafiliasi, tingkat stresnya semakin rendah. Mahasiswi kost perlu meningkatkan keterampilan sosial, banyak menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya, dan mengikuti berbagai kegiatan. Banyaknya interaksi dengan orang-orang di sekitar mereka, semakin memudahkan mereka
untuk memenuhi kebutuhan berafiliasinya. Apabila kebutuhan berafiliasi mereka terpenuhi, tingkat stres mereka rendah, dengan demikian mereka juga dapat mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki serta melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya selama menjalankan kuliahnya.
Subjek penelitian ini adalah mahasiswi kost, masih tergolong usia remaja akhir, yakni berkisar antara 18-21 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh, subjek berada di tingkat satu, dua, dan tiga perguruan tinggi. Namun hal ini dapat menjadi keterbatasan dalam penelitian. Masalah yang dihadapi mahasiswi yang berada di tingkat satu, kemungkinan berbeda dengan tingkat dua dan tiga. Mahasiswi tingkat satu benar-benar baru mengalami transisi, mulai dari keadaan yang baru terpisah dari orangtua sampai perubahan sifat pendidikan. Mahasiswi tingkat dua dan tiga mungkin saja sudah tidak bermasalah dengan keadaan yang terpisah dari orangtua, selain itu mereka juga sudah terbiasa dengan sifat pendidikan di perguruan tinggi, hal ini dikarenakan mereka sudah melewati keadaan yang terpisah dari orangtua dan masa perkuliahan yang lebih dari satu tahun.
Peneliti juga tidak memperhatikan faktor ekonomi. Santrock (2003) mengungkapkan bahwa remaja yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian ekonomi cenderung mengalami stres yang berat. Sejalan dengan hal tersebut, Taylor (1995) juga mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi merupakan salah satu faktor penyebab stres. Faktor ekonomi mungkin mempengaruhi kondisi ,
fasilitas kost dan uang yang digunakan untuk komunikasi (baik melalui
handphone, telepon umum atau mengirimkan surat), makan, transportasi dan untuk membeli perlengkapan pribadi sehari-hari. Hal ini menyebabkan mahasiswi yang mendapatkan fasilitas kost kurang lengkap dan sedikit uang menghadapi sumber stres yang lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswi yang mendapat fasiliatas kost lengkap dan uang yang banyak. Uang yang diterima mungkin juga dapat mempengaruhi frekuensi pulang ke rumah orangtua, mungkin saja mahasiswi yang sebenarnya rumahnya cukup dekat dengan orangtuanya, karena uangnya pas-pasan, frekuensi pulang ke rumah orangtuanya hanya satu bulan sekali. Hal ini mungkin juga dapat menyebabkan mahasiswi tersebut semakin tertekan dengan kondisi yang dihadapinya. Beberapa hal tersebut tidak diperhatikan dalam penelitian ini. Maka untuk penelitian selanjutnya, diharapkan peneliti lain lebih memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi stres.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN