• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Stres

1. Pengertian Stres

Santrock (2003) mendefinisakan stres sebagai respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stresor), yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping). Menurut Crider (1983) stres merupakan suatu pola gangguan psikologis dan suatu reaksi fisiologis yang terjadi ketika peristiwa-peristiwa di lingkungan mengancam kepentingan dan melebihi kemampuan yang dimiliki dalam mengatasi situasi tersebut. Sejalan dengan pengertian tersebut, Gunarsa dan Gunarsa (2001) menambahkan bahwa stres merupakan setiap tekanan, ketegangan yang mempengaruhi seseorang dalam kehidupan, pengaruhnya dapat bersifat wajar ataupun tidak, tergantung reaksinya terhadap ketegangan tersebut. Menurutnya faktor individual menentukan reaksi individu terhadap keadaan stres.

Pengertian stres menurut Hardjana (1994) yaitu keadaan atau kondisi yang tercipta ketika seseorang mengalami ketidaksepadanan antara keadaan atau kondisi dan sistem sumber daya biologis, psikologis, sosial yang ada padanya. Orang yang sedang mengalami stres secara psikologis menderita ketegangan yang membuat pola berpikir, emosi dan perilakunya kacau. Sarafino (1990) juga menganggap bahwa stres merupakan suatu kondisi sebagai hasil dari transaksi individu dengan lingkungannya yang mengakibatkan adanya kesenjangan antara tuntutan

situasi dan sumber biologis, psikologis dan sistem sosial seseorang (Sarafino,1990).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang menekan individu sebagai akibat adanya ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan kemampuan untuk mengatasi tuntutan tersebut.

2. Sumber Stres

Banyak faktor, baik besar maupun kecil yang dapat menghasilkan stres. Menurut Sarafino (1990) sumber-sumber stres diantaranya:

a. Peristiwa yang melibatkan tuntutan yang sangat kuat b. Transisi hidup

c. Waktu transisi, peristiwa yang terjadi terlalu cepat atau terlalu lambat d. Ambiguitas atau kurang jelasnya situasi

e. Keinginan atau ketidakinginan akan situasi

Hadjana (1994) mengungkapkan bahwa sumber stres yang terbagi atas :

a. Sumber Eksternal : dari luar diri individu atau dari lingkungan sosial seperti perubahan sosial, ekonomi, budaya, diskriminasi, keluarga, tuntutan pekerjaan, persaingan,

b. Sumber Internal : dari dalam diri individu seperti penyakit, tingkat intelegensi,harga diri, konflik internal, rasa tidak puas, rasa bersalah.

Menurut Gunarsa danGunarsa ( 2001) sumber stres meliputi : a. Perubahan yang pesat

Meliputi perubahan lingkungan alam dan perubahan keadaan b. Hubungan sosial

Meliputi persaingan materi maupun persaingan prestasi c. Kebutuhan yang meningkat

Meningkatnya kebutuhan perlu diimbangi dengan meningkatkan perhatian dan usaha dalam pekerjaan yang semaksimal mungkin, dengan kemungkinan berhasil atau menderita stres.

d. Harapan yang tidak realistis

Misalnya harapan tentang masa depan dan keberhasilan yang seringakali tidak sesuai dengan kemampuan. Kecenderungan menjalani hidup tanpa persiapan yang baik dan bekal pengetahuan yang cukup akan membawa stres dalam menghadapi kehidupan yang penuh perubahan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sumber stres dapat dikelompokkan menjadi :

a. Sumber Eksternal

Meliputi perubahan lingkungan, sosial, ekonomi, budaya, keluarga, tuntutan pekerjaan, persaingan, peristiwa yang melibatkan tuntutan yang sangat kuat, transisi hidup, waktu transisi, peristiwa yang terjadi terlalu cepat atau terlalu lambat, kurang jelasnya situasi, persaingan, serta perubahan lingkungan yang pesat.

b. Sumber Internal

Meliputi penyakit, konflik internal, rasa tidak puas, rasa bersalah keinginan atau ketidakinginan akan situasi, harapan yang tidak realistis serta kebutuhan yang meningkat.

3. Reaksi Terhadap Stres

Crider dkk (1983) mengemukakan reaksi umum yang dialami oleh individu yaitu berupa :

a. Gangguan emosional

Gangguan emosional biasanya berwujud keluhan-keluhan seperti khawatir, tertekan, perasaan bersalah, mudah marah, sedih, gelisah. Secara umum merupakan suatu hal yang tidak menyenangkan atau emosi negatif.

b. Gangguan kognitif

Gangguan kognitif gejalanya tampak pada gangguan fungsi berpikir,

mental image yang negatif, konsentrasi yang menurun dan ingatan terganggu. Dalam kondisi normal, individu dapat berpikir rasional, logis dan fleksibel, namun dalam keadaan stres, fungsi berpikir akan terganggu, daya ingatnya menurun, pikiran kacau, karena dipengaruhi oleh kekhawatiran berkaitan dengan konsekuensi yang terjadi maupun evaluasi diri yang negatif. Mental image yang negatif merupakan citra diri dalam bentuk kegagalan yang sering mendominasi kesadaran individu yang mengalami stres, seperti mimpi buruk, mimpi yang

menimbulkan imajinasi visual menakutkan dan emosi negatif, selain itu individu yang berada dalam keadaan stres juga sering melamun. Konsentrasi diartikan sebagai kemampuan untuk memusatkan pada suatu stimulus yang spesifik dan tidak mempedulikan stimulus lain yang tidak berhubungan. Ingatan pada individu yang mengalami stres akan terganggu dalam bentuk sering lupa dan bingung. Hal ini disebabkan karena terhambatnya kemampuan memilah dan menggabungakan ingatan-ingatan jangka pendek.

c. Gangguan fisik

Gangguan terbagi menjadi dua kelompok yaitu :

1) Gejala otot skeletal meliputi : sakit kepala, mulut terasa kering, tegang dan gugup, tubuh terasa lemas, dada terasa nyeri serta perasaan terguncang.

2) Gejala visceral atau organ internal, meliputi : jantung berdebar-debar, buang air kecil berlebihan, tangan dan kaki dingin, kehilangan gairah seksual, nafas terasa sesak, perut terasa mual dan tangan gemetar.

4. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Stres

Santrock (2003) mengungkapkan bahwa stres dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang menyebabkan stres adalah berbagai situasi, tuntutan atau masalah dari lingkungan keluarga, akademik, dan teman sebaya.

1) Sumber stres dari keluarga, meliputi terganggunya interaksi antara anak dan orangtua, harapan orangtua yang berlebihan.

2) Sumber stres akademik, meliputi terlalu banyaknya tugas, ujian, dan kesulitan dalam belajar.

3) Sumber stres dari teman sebaya, misalnya buruknya lingkungan pergaulan, penolakan dari teman sebaya, dan konflik dengan teman.

b. Faktor Kepribadian

Kepribadian pola tingkah laku tipe A cenderung memiliki kemauan keras, rasa kompetitif yang berlebihan dan tidak sabar, sedangkan kepribadian pola tingkah laku tipe B cenderung kurang bersifat kompetitif, lebih menghargai proses daripada hasil, dan tetap ingin mencapai sesuatu tetapi tidak terlalu bersikeras. Oleh karena itu remaja yang termasuk dalam kepribadian pola tingkah laku tipe A lebih rentan terhadap stres.

c. Faktor Kognitif

Suatu kejadian dianggap menimbulkan stres, tergantung pada kemampuan dalam menilai dan menginterpretasikan kejadian secara kognitif. Penilaian tersebut mencakup tiga hal, yaitu bahaya, ancaman dan tantangan. Bahaya mengacu pada kerusakan yang sudah terjadi. Ancaman merupakan harapan atas bahaya yang akan datang. Tantangan merupakan kesempatan untuk mencapai penguasaan atau keuntungan secara maksimal dari suatu kejadian. Stres cenderung menjadi lebih berat apabila bahaya dan ancaman tinggi sedangkan tantangan dan sumber daya rendah.

d. Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya yang menimbulkan stres adalah perubahan budaya dan status sosial ekonomi. Warga etnis minoritas dapat mengalami ketegangan apabila bertemu dengan etnis mayoritas. Remaja yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian ekonomi cenderung mengalami stres yang berat.

e. Strategi Penanganan Stres

Berbagai strategi menghadapi stres diantaranya strategi penanganan stres yang berfokus pada masalah, strategi yang berfokus pada emosi, strategi mendekat atau menjauh, mengembangkan pemikiran yang positif serta mencari sumber dukungan. Kemampuan mengembangkan strategi yang efektif akan membantu remaja mengatasi stres.

5. Stres pada Mahasiswa kost

Mahasiswa merupakan generasi bangsa yang produktif dan potensial sehingga mahasiswa diharapkan mempunyai semangat yang tinggi, optimis yang besar dan mampu mencapai prestasi yang optimal. Masa transisi menjadi mahasiswa merupakan salah satu masa yang penuh stres dalam kehidupan seseorang karena banyaknya tuntutan untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan fisik, akademis, sosial dan emosional (D’Zurilla dan Sheedy, 1991). Selain tuntutan untuk penyesuaian, mahasiswa juga menghadapi tuntutan dari berbagai aktivitas kuliah untuk dilaksanakan dan diselesaikan. Aktivitas tersebut dapat berupa kegiatan belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas, ujian-ujian dan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen.

Mahasiswa kost mengalami transisi sosial, karena mereka sebelumnya tinggal bersama orangtua, pindah ke lingkungan yang jauh dari orangtua (Santrock, 2003). Menurut Holmes (dalam Sarafino, 1990). perpindahan ini merupakan salah satu peristiwa hidup yang dapat menimbulkan stres. Hal ini menuntut mahasiswa kost untuk melakukan penyesuaian sosial di tempat tinggalnya yang baru.

Perbedaan antara kondisi di daerah asal dengan daerah baru, seringkali menimbulkan masalah baru bagi mereka. Ketika masih tinggal bersama orangtua, mereka memiliki orang-orang yang dapat diandalkan dalam memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis mereka (Hurlock,1978). Di lingkungan baru, mereka harus bertanggung jawab

untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Mereka juga harus bertanggung jawab dengan pengeluaran uang saku bulanan yang diberikan orangtua mereka agar uang tersebut dapat mencukupi kebutuhan mereka dalam jangka waktu yang telah ditetapkan oleh orangtua mereka.

C. Pemenuhan Kebutuhan Berafiliasi

Dokumen terkait