• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. PEMBAHASAN

Stres yang dialami oleh sebagian besar subjek berasal dari masalah akademis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial orang tua dan dukungan sosial teman memberikan pengaruh yang signifikan dalam memprediksi coping remaja akhir terhadap stres akibat masalah akademis. Dukungan sosial orang tua dapat meningkatkan kecenderungan remaja

untuk menyelesaikan masalah (engagement coping), sementara dukungan sosial teman dapat menurunkan kecenderungan remaja untuk menghindar dari penyelesaian masalah (disengagement coping). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dukungan sosial orang tua dan dukungan sosial teman memiliki peran yang berbeda terhadap coping remaja.

Model 1 : Peran Dukungan Sosial Orang Tua, Dukungan Sosial Teman dan Jenis Kelamin Terhadap Engagement Coping Remaja Akhir

Remaja akhir memiliki kecemasan akan ketidakmampuan dalam menghadapi suatu permasalahan, sehingga cenderung menghindar dari masalah yang dihadapi. Oleh sebab itu, ketika mendapati masalah akademis, mereka membutuhkan dukungan agar dapat membantunya menyelesaikan masalah. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dukungan sosial orang tua dapat meningkatkan kecenderungan engagement coping atau upaya penyelesaian masalah akademis pada remaja akhir. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Hashim (2007) mengenai stres, coping dan dukungan sosial pada masa remaja menemukan bahwa dukungan sosial orang tua lebih dapat membantu remaja dalam penyelesaian masalah akademis, daripada dukungan sosial teman.

Orang tua sebagai individu dewasa, memiliki sumber daya yang lebih kaya daripada teman sebaya atau remaja seusianya, berupa kematangan emosional, kematangan kognitif, kekuatan finansial, serta pengalaman dan kemampuan dalam menghadapi masalah. Oleh sebab itu, orang tua dapat

menyediakan dukungan sosial yang optimal, meliputi dukungan emosional, instrumental dan informasi. Ketersediaan dan kesesuaian dukungan yang diberikan orang tua, dapat membantu serta meningkatkan engagement coping atau upaya penyelesaian masalah remaja, seperti memahami dan menyesuaikan diri terhadap masalah, mengatur atau mengelola emosi, berpikir positif dan optimis, serta berusaha aktif dalam penyelesaian masalah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketersediaan dan kesesuaian dukungan sosial orang tua, berperan untuk meningkatkan penggunaan engagement coping dalam menghadapi masalah akademis remaja akhir.

Penelitian Cummings (2000) mengenai strategi coping remaja menemukan adanya hubungan positif antara dukungan sosial teman dan engagement coping. Meskipun hal tersebut selaras dengan hasil korelasi pada penelitian ini (r=0,281; p=0,002), akan tetapi hasil analisis regresi menunjukkan bahwa dukungan sosial teman tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap engagement coping pada remaja akhir. Hal ini dapat dikarenakan sumber daya teman sebagai pemberi dukungan sosial yang cenderung terbatas, dimana kematangan kognitif dan emosional serta kemampuan finansial yang dimiliki relatif sama dengan remaja seusianya. Selain itu, sumber tekanan atau stres yang sama, terkait masalah akademis, turut menjelaskan bahwa keterbatasan dukungan dari teman kurang dapat membantu peningkatan engagement coping atau upaya penyelesaian masalah remaja. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dukungan sosial

dari teman sebaya yang cenderung terbatas, tidak berperan signifikan untuk meningkatkan penggunaan engagement coping dalam menghadapi masalah akademis remaja akhir.

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh positif dari jenis kelamin terhadap engagement coping, yang berarti remaja perempuan lebih cenderung menggunakan engagement coping daripada remaja laki-laki. Terkait dengan penggunaan coping berdasarkan jenis kelamin, Hamilton dan Fagot (dalam Brannon, 1985) menyatakan bahwa remaja perempuan dan remaja laki-laki pada umumnya memiliki kecenderungan yang sama untuk melakukan engagement coping atau upaya menyelesaikan masalah. Meskipun demikian, penelitian D’Zurilla dkk., (1998) mengenai perbedaan upaya penyelesaian masalah berdasarkan usia dan gender, menemukan bahwa remaja perempuan cenderung memiliki nilai impulsifitas dan kecerobohan yang rendah. Sementara itu, remaja laki-laki cenderung memiliki nilai impulsifitas dan kecerobohan yang tinggi. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa remaja perempuan lebih berpotensi untuk melakukan engagement coping daripada remaja laki-laki, karena kecermatan dan kehati-hatian remaja perempuan dapat mendukung upaya penyelesaian masalah.

Model 2 : Peran Dukungan Sosial Orang Tua dan Dukungan Sosial Teman Terhadap Disengagement Coping Remaja Akhir

Remaja akhir memiliki kecenderungan untuk menghindar dari masalah yang dihadapi, karena merasa cemas akan kemampuan dirinya. Oleh sebab itu, ketika mendapati masalah akademis, mereka membutuhkan dukungan agar dapat mengurangi upaya menghindar dari penyelesaian masalah. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dukungan sosial orang tua tidak berpengaruh signifikan terhadap disengagement coping atau upaya menghindar dari penyelesaian masalah akademis remaja. Hal tersebut dapat dikarenakan pada masa remaja, individu mengalami penurunan intensitas relasi dengan orang tua, sehingga rasa aman dan nyaman yang diperoleh cenderung berkurang (Santrock, 2003). Oleh sebab itu, dukungan orang tua tidak mampu menyediakan rasa aman dan nyaman yang dibutuhkan untuk mengurangi upaya menghindar dari penyelesaian masalah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dukungan sosial dari orang tua yang mengalami penurunan intensitas, tidak berperan signifikan untuk menurunkan penggunaan disengagement coping dalam menghadapi masalah akademis remaja akhir.

Pada penelitian ini ditemukan bahwa dukungan sosial teman dapat menurunkan kecenderungan disengagement coping remaja. Hal tersebut dapat dikarenakan individu mulai membangun relasi yang erat dengan teman pada masa remaja, sehingga menimbulkan rasa aman dan nyaman. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Hashim (2007) yang menyatakan

bahwa ketika remaja menghadapi masalah akademis, dukungan sosial dari teman yang berupa penghiburan dan semangat akan memberikan kenyamanan, sehingga remaja cenderung tidak melakukan upaya disengagement coping seperti berkhayal, menghindar atau menyangkal masalah yang sedang dihadapi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dukungan sosial dari teman yang menunjang rasa aman dan nyaman, berperan untuk menurunkan penggunaan disengagement coping dalam menghadapi masalah akademis remaja akhir.

Dukungan sosial orang tua dan dukungan sosial teman memiliki peran yang berbeda terhadap coping remaja akhir. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik kecemasan dan penghindaran yang dimiliki remaja akhir, perbedaan sumber daya pemberi dukungan dan kualitas relasi antara remaja dengan orang tua dan teman sebaya. Sumber daya orang tua yang lebih mampu memberikan dukungan sosial secara optimal daripada teman, dapat mengurangi kecemasan remaja akan ketidakmampuannya, sehingga meningkatkan upaya penyelesaian masalah akademis. Sedangkan relasi individu saat masa remaja yang lebih erat dengan teman daripada orang tua, memberikan rasa aman dan nyaman ketika mendapati masalah, sehingga menurunkan upaya menghindar dari penyelesaian masalah meskipun tidak juga mendukung upaya penyelesaian masalah.

61

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait