• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Berdasarkan pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini, diketahui

hipotesisnya bahwa “Terdapat perbedaan kemampuan penyesuaian sosial di

sekolah antara siswa KMS dan Non KMS di SMPN 2 Yogyakarta, dimana siswa Non KMS mempunyai kemampuan penyesuaian sosial di sekolah yang lebih tinggi dibanding dengan siswa KMS”. menunjukkan bahwa hipotesis

tersebut diterima. Hal tersebut didasarkan pada nilai t0 lebih besar dari tt pada taraf signifikasi 5% hipotesis tersebut diterima karena ada perbedaan tingkat kemampuan penyesuaian sosial yang dapat dilihat dari hasil mean diantara ke-duanya.

Siswa KMS memiliki nilai mean sebesar 183,46 sedangkan nilai mean untuk siswa Non-KMS sebesar 188,47, maka dari data yang diperoleh dapat simpulkan bahwa siswa Non-KMS memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa KMS. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Alfi Nurrochmah (2015:95) yang menjelaskan bahwa terdapat perbedaan interaksi sosial antara siswa KMS dan Non KMS di SMP Negeri 1 Yogyakarta. Alfi juga menjelaskan bahwa siswa Non KMS mempunyai interaksi sosial yang lebih tinggi dibanding siswa KMS. Hal ini diperkuat dengan pendapat Gerungan (1988:56) yang

103

menyatakan bahwa status sosial ekonomi keluarga turut memengaruhi kemampuan penyesuaian sosial siswa di sekolah.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek menjalin persahabatan. Siswa non-KMS memiliki kecenderungan menjalin persahabatan yang lebih tinggi dibanding siswa KMS, ditunjukkan dengan kemampuan siswa Non-KMS dalam menerima teman apa adanya, mengendalikan emosi, kemampuan bertanya, bersikap realistis, pengambilan keputusan dan mempertahankan hubungan. Sesuai dengan pendapat Hurlock (2000:173), yang menjelaskan bahwa anak yang merasa bahwa status sosial ekonominya lebih rendah daripada teman- teman sebayanya, maka ia cenderung merasa rendah diri. Hurlock juga menegaskan bahwa status sosial ekonomi yang sama atau lebih tinggi dari anggota lain, dalam kelompoknya, memengaruhi remaja diterima/ ditolak dalam penyesuaian sosial (2000:217). Pendapat lain dari Siti Sundari (2005: 41) bahwa siswa yang sedang melalui proses penyesuaian sosial, harus memiliki kesanggupan mengadakan relasi yang sehat terhadap orang lain, dan sanggup menghargai hal dan pribadi orang lain.

Berdasarkan informasi yang didapat peneliti dari mahasiswa praktikan PPL UNY yang mengajar langsung siswa di kelas, mengatakan bahwa sebagian siswa KMS merasa minder, terisolir dan terkesan di acuhkan oleh teman- teman di kelasnya, hal tersebut disebabkan karena kesenjangan ekonomi dan kemampuan akademik. Beberapa siswa KMS cenderung berteman dengan sesama siswa KMS, meskipun beberapa teman Non-KMS sudah berusaha berinteraksi dengan siswa KMS, akan tetapi hubungannya

104

tidak terjalin begitu dekat. Siswa KMS bahkan jarang mendominasi dalam pergaulan, seperti kurangnya keberanian berbeda pendapat, kurang berani menyindir ataupun menegur teman ketika melakukan kesalahan.

Perbedaan yang kedua, dalam aspek kemampuan siswa bersikap hormat terhadap kepala sekolah, guru, dan staff sekolah lainnya. Baik siswa KMS dan KMS memiliki kemampuan yang sama, hanya saja siswa Non-KMS sedikit lebih unggul dengan nilai mean 18 berbanding 19. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam berbicara, bertutur kata dengan sopan santun, dan kemampuan menjaga sikap ketika bertemu dengan guru. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunarto dalam Moh. Ali dan Moh. Asrori (2014:178), yang menerangkan bahwa salah satu proses kemampuan penyesuaian diri adalah rasa hormat pada sesama manusia dan mampu bertindak toleran, selalu menunjukkan perilaku hormat sesuai dengan harkat dan martabat manusia, serta dapat mengerti dan menerima keadaan orang lain. Dalam kondisi di lapangan, siswa KMS terkesan lebih sopan daripada siswa Non-KMS, akan tetapi berdasar indikator instrumen, didapat bahwa meskipun terlihat lebih sopan, siswa KMS cenderung diam dan jarang mengawali percakapan, beberapa siswa KMS tentu ada yang berusaha menyapa guru duluan ketika bertemu, namun tidak sebanyak siswa Non-KMS yang memiliki kepercayaan diri lebih besar.

Aspek yang ketiga adalah partisipasi aktif siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah. Sama halnya dengan aspek kedua, perbedaan antara siswa KMS dan Non-KMS hanya selisih 1 poin, dengan nilai mean 35 berbanding

105

36. Bisa diartikan bahwa partisipasi siswa Non-KMS baik di kelas maupun dalam kegaiatan ekstra kurikuler, lebih aktif daripada siswa KMS. Hal ini sesuai lagi dengan pendapat Sunarto dalam Moh. Ali dan Moh. Asrori (2014:178), yang menjelaskan bahwa proses siswa yang memiliki kemampuan penyesuaian diri yang lengkap, adalah memiliki kemampuan bertindak sesuai dengan potensi kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. Selain itu, dapat bertindak sesuai dengan potensi- potensi positif yang layak dikembangkan sehingga dapat menerima dan diterima lingkungan, tidak disingkirkan oleh lingkungan maupun menentang dinamika lingkungan.

Berdasarkan wawancara dengan guru BK, beliau mengatakan bahwa untuk memenuhi kuota KMS yang telah ditetapkan oleh Pemkot Yogyakarta dan wajib diisi oleh sekolah sebesar 25% dari total kuota penerimaan siswa SMP se- Yogyakarta, sekolah menerima siswa KMS yang mendapat nilai dibawah standar SMPN 2 Yogyakarta, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam hal prestasi akademik sehingga siswa KMS cenderung mengalami kesulitan menyesuaikan diri dalam hal pembelajaran di sekolah. Data penerimaan siswa KMS 2015, SMPN 2 Yogyakarta menerima 36 siswa KMS. Nilai NEM terendah yang berhasil diterima adalah 17, dan nilai NEM tertinggi 28,7. Berbanding dengan nilai siswa Non-KMS yaitu NEM terendah 26,65 dan NEM tertinggi yang diterima 29. Hal ini juga mnjadi kesenjangan kemampuan kognitif yang membuat siswa KMS tertinggal daripada siswa Non-KMS. Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah tentunya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan atau perlengkapan

106

ekstrakurikuler. Misalnya saja, siswa yang ingin mengikuti ekstrakurikuler basket, wajib memiliki sepatu basket, dan tak jarang membutuhkan biaya tambahan untuk pembuatan seragam tim. Biaya- biaya tambahan inilah yang kurang bisa dipenuhi oleh siswa KMS karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Permasalahan perbedaan kemampuan akademik dan kemampuan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan ekstrakurikuler, turut memengaruhi partisipasi siswa KMS dalam mengikuti kegiatan sekolah. Adapun siswa KMS yang memiliki prestasi di ekstrakurikuler khusus, bersedia mengikuti lomba- lomba mewakili sekolah hanya ketika diminta oleh pihak sekolah saja, dan bukan karena kesadaran dan hasrat pribadi untuk mengejar prestasi. Hal ini didukung oleh pendapat dari Saifullah Safii (2011:122) yang menyatakan bahwa siswa yang berasal dari keluarga yang status ekonominya rendah, tidak hanya kekurangan dukungan finansial, sosial, pendidikan dari saudara mereka, rekan- rekan mereka, maupun masyarakat, tetapi mereka juga dapat kehilangan dukungan dari kelompok merka pada waktu yang sangat penting dalam hidup mereka.

Aspek yang terakhir adalah kemampuan siswa bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah. Dalam aspek ini, kemampuan siswa baik siswa KMS maupun Non-KMS adalah setara, dengan nilai mean 16. Terlihat dari kemampuan siswa menyadari pentingnya peraturan sekolah dan mampu untuk mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku di sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1997: 265) yang menjelaskan bahwa peraturan sekolah memperkenalkan perilaku yang disetujui dan tidak disetujui secara

107

kelompok sosial, misalnya peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sekolah. Disini remaja belajar bahwa terdapat beberapa perilaku yang diterima di lingkungan keluarga, belum tentu di terima di lingkungan sekolah. Siti Sundari (2005: 41) menambahkan bahwa dalam proses kemampuan penyesuaian sosial, seseorang harus berperilaku dapat diterima secara sosial, yakni seseorang harus dapat menyesuaikan perilakunya agar dapat diterima di lingkungannya. Ini dapat diartikan bahwa menaati peraturan sekolah merupakan salah satu proses kemampuan penyesuaian sosial siswa di sekolah.

Siswa yang berasal dari keluarga yang status ekonominya rendah, tidak hanya kekurangan dukungan finansial, sosial, pendidikan dari saudara mereka, rekan-rekan atau masyarakat keseluruhan, mereka juga dapat kehilangan dukungan dari kelompok mereka pada waktu yang sangat penting dalam hidup mereka, dalam hal ini dukungan dari teman sebayanya di sekolah. Slameto (2003: 63) mengemukakan bahwa anak yang hidup dalam keluarga dengan status ekonomi miskin, kebutuhan anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu dan belajarpun terganggu, sehingga kemampuan kognitif siswa KMS berkurang dan nilainya pun menurun. Hal ini dapat menyebabkan kurang percaya dirinya siswa, ditambah lagi dengan tekanan yang dirasakan siswa KMS karena orang tua yang sering memarahinya dan guru yang terlanjur menganggap atau menilai siswa KMS yang cenderung buruk. Guru akan membedakan perlakuan terhadap siswa KMS dan Non-KMS, hal tersebut membuat siswa KMS menjadi minder.

108

Sikap kurang percaya diri dan minder siswa KMS, juga membuatnya minder dalam bersosialisasi, sehingga kemampuan penyesuaian sosialnya cenderung kurang dan lebih suka bergaul dengan teman senasib (sesama KMS). Stereotip tersebut membuat teman- teman Non-KMS juga lebih suka bergaul non-KMS lainnya. Hal ini membuat adanya kesenjangan antara KMS dan Non-KMS. Jika dibiarkan terus menerus, maka akan berpengaruh juga terhadap perilaku siswa KMS di kehidupan sehari- harinya. Sebagai contoh, siswa KMS yang minder di sekolah akan lebih memilih membolos sekolah karena perlakuan yang diterimanya kurang menyenangkan. Contoh lainnya, siswa KMS akan melanggar peraturan atau melakukan tindakan yang destruktif sebagai pelampiasan atas perasaan yang dirasakannya.

Akibat lainnya adalah anak dirundung kesedihan ketika anak merasa minder dengan teman lain. Status sosial ekonomi yang lebih tinggi sendiri membangun kepercayaan individu untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup dibandingkan dengan individu yang dilanda kemiskinan yang putus asa dalam memenuhi tujuan dalam hidupnya, terutama tantangan yang dihadapi oleh anak- anak di sekolah.

Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan penyesuaian sosial di sekolah sangat penting bagi siswa. Hurlock (1980:213) menegaskan bahwa salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus bisa menyesuaikan diri baik sesama maupun dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan

109

dengan orang lain di luar lingkungan keluarga. Hal terpenting menurut Hurlock ini adalah penyesuaian diri terhadap meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai- nilai atau aturan baru dalam kelompok. Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah terdapat perbedaan kemampuan penyesuaian sosial antara siswa KMS dan Non-KMS di SMPN 2 Yogyakarta dimana kemampuan penyesuaian sosial siswa Non-KMS lebih tinggi dibandingkan siswa KMS.

Dokumen terkait