BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
Kecemasan yaitu gangguan yang terjadi pada alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan (Hawari 2013). Kecemasan yang paling banyak terjadi pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sebelum diberikan psychoreligius care: mendengarkan murotal Al-Quran dengan irama nahawand yaitu kecemasan sedang.
Kecemasan yang terjadi pada lansia di UPTD Griya Werdha Jambangan Kota Surabaya sebagian besar ditandai respon kognitif. Respon kognitif yang di alami lansia yaitu lansia sulit untuk mengambil keputusan serta memikirkan sesuatu yang dapat membuat khawatir. Sedangkan respon afektif yang muncul berupa Lansia mengalami perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang berlebihan. Selain kedua respon ditas ada beberapa lansia yang menunjukkan respon motorik dan somatik ditandai dengan lansia merasa gemetar dan merasa sakit perut.
Kecemasan pada responden dengan latar belakang pekerjaan Pemulung, Pengemis, Gelandangan, Pengamen, paling banyak mengalami kecemasan ringan
pada data pretest. Kemudian pada data posttest beberapa tidak mengalami perubahan kecemasan. Kecemasan ringan yang terjadi pada pretest diduga disebabkan karena Lansia dengan latar belakang tersebut memiliki pola pemikiran kehidupan yang bebas, lepas dan tanpa beban. Sehingga dalam menjalankan kehidupannya tidak memiliki beban yang terlalu tinggi. Sedangkan tidak adanya perubahan pada hasil posttest di duga disebabkan karena latar belakang pendidikan yang masih rendah. Menurut Sunaryo (2004) pendidikan dapat mempengaruhi proses belajar seseorang, dengan tingginya pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Jadi, semakin banyak informasi yang masuk maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang koping yang adaptif dalam mengatasi kecemasan. Namun, apabila pendidikan seseorang rendah maka informasi yang masuk juga sedikit sehingga pengetahuan tentang koping individu dalam mengatasi kecemasan kurang dan beresiko mengalami kecemasan.
Selain faktor pendidikan ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kecemasan salah satunya yaitu motivasi. Menurut Tamher & Noorkasani (2009) mendefinisikan motivasi sebagai suatu penggerak dari dalam hati seseorang untuk mencapai tujuan dan perilaku tertentu. Motivasi yang dimaksud dalam hal ini adalah keinginan untuk mengikuti Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand serta harapan lansia untuk sembuh dari gangguan kecemasan yang dialami.
Responden yang tidak mengalami perubahan kecemasan pada kelompok perlakuan dan kontrol yang adalah berjenis kelamin perempuan. Menurut Wiyono & Widodo (2010) menjelaskan bahwa laki-laki lebih bersifat aktif dan eksploratif
sedangkan perempuan lebih sensitif dibandingkan laki-laki sehingga seseorang perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Kuraesin (2009) menyebutkan kembali bahwa pada umumnya seorang laki-laki memiliki mental yang kuat terhadap sesuatu hal yang dianggap mengancam bagi dirinya dibandingkan perempuan. Oleh karena itu, pada perempuan lebih banyak ditemukan kecemasan daripada laki-laki, hal tersebut disebabkan karena dari segi psikis perempuan memiliki kepribadian yang emosional, sulit mengambil keputusan dan sensitif terhadap sesuatu sehingga rentan mengalami kecemasan.
Sedangkan tidak adanya perubahan kecemasan pada kelompok kontrol disebabkan karena tidak adanya perlakuan seperti yang dilakukan pada kelompok perlakuan dan responden kelompok kontrol hanya melakukan kegiatan rutin yang diadakan di panti. Pemberian Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand pada kelompok perlakuan sebagian besar kecemasannya menjadi ringan. Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand ini merupakan intervensi yang diberikan untuk merubah konsekuensi fungsional dari negatif menjadi positif. Hal ini karena mendengarkan Murottal Alquran irama Nahawand dapat menenangkan, mendamaikan, dan menentramkan yaitu irama Nahawand (Kristriyono 2017).
Secara fisiologis Harmonisasi dalam murottal Al-Quran yang indah akan menarik telinga dalam bentuk suara menggetarkan gendang telinga, mengguncangkan cairan di telinga dalam, serta menggetarkan sel-sel rambut didalam coglea untuk selanjutnya melalui saraf koklearis menuju otak dan menciptakan imajinasi keindahan di otak kanan otak kiri yang akan memberikan dampak berupa kenyamanan dan perubahan perasaan (Nataliza, 2012). Selanjutnya
mengakibatkan ransangan kehipotalamus untuk menurunkan produksi CRF (Cortikotropin Releasing Factor). CRF akan merangsang kelenjar pituitary anterior untuk menurunkan produksi ACTH (Adeno Cortico Tropin Hormon) dan menstimulasi produksi endorphin yang akan membuat klien menjadi rileks. Penurunan ACTH dan peningkatan endorphin juga dapat menurunkan tahanan perifer dan cardiac output sehingga tekanan darah menurun (Valentino & Bockstaele, 2008). Secara psikologis Pemberian murrotal Al-Quran irama nahawand akan menimbulkan rasa percaya diri, rasa optimisme, mendatangkan ketenangan, damai, dan merasakan kehadiran Allah (Rohmi Handayani et al, 2014). Hawari (2013) meyakini Mendengarkan Murottal Al-Quran sebagai salah satu terapi yang mampu menumbuhkan rasa aman, tentram dan ketenangan yang mendalam sebagai anugerah dari Allah. Adanya God Spot dalam susunan saraf pusat (otak) membuat seseorang menjadi tenang, merasakan kekhusukan, kedamaian, dan rasa dekat dengan Allah SWT. Psychoreligius Care : Murottal Al- Quran Irama Nahawand merupakan bentuk intervensi keperawatan yang diberikan pada lansia dengan kecemasan agar tercapai konsekuensi fungsional yang positif. Menurut Miller (2012) konsekuensi fungsional positif merupakan segala hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia atau menurunkan tingkat ketergantungan lansia. Konsekuensi fungsional positif akan terjadi apabila memfasilitasi tingkat kinerja tertinggi. Konsekuensi positif (Wellness Outcomes) pada lansia dengan kecemasan diantaranya hati dan pikiran menjadi tenang serta terciptanya keyakinan kekuatan dan sikap optimisme bagi lansia sehingga dapan menurunkan kecemasan pada lansia. Oleh karena itu, Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand dipilih sebagai terapi alternatif non farmakologis untuk mengatasi
kecemasan lansia yang tinggal di panti karena mengandung unsur spiritual yang dapat membangkitkan harapan, percaya diri dan keimanan sehingga lansia akan merasa tenang dan senantiasa dekat dengan Allah SWT serta menjalani kehidupannya dalam kondisi sehat dan bahagia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kecemasan responden antara data posttest pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang dibuktikan dari hasil statistik uji Mann Whitney pada postest kelompok perlakuan dan kontrol menunjukkan (0,022 < p). Hal tersebut karena intervensi yang telah diberikan oleh peneliti kepada responden berupa Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand kepada lansia di panti yang mengalami kecemasan. Menurut Notoatmodjo (2010) dalam proses pemberian suatu intervensi atau stimulus akan terjadi proses timbal balik antara berbagai faktor, antara lain: subjek belajar, pengajar, metode dan teknik belajar, alat bantu belajar, dan materi atau bahan yang dipelajari.
Pemberian Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand merupakan bentuk terapi modalitas yang dapat dilakukan sebagai terapi komplementer. Aspek religiusitas berupa unsur meditasi dan relaksasi dalam Psychoreligius Care : Murottal Al-Quran Irama Nahawand dapat digunakan sebagai mekanisme koping yang dapat membangkitkan ketahanan tubuh secara alami. Selain itu, tingkat religiusitas yang tinggi dapat juga meningkatkan mood lansia dan menyehatkan diri seseorang.