• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada siswa kelas V SD Negeri 1 Kepurun. Penelitian telah dilaksanakan sesuai dengan tahapan pelaksanaannya, yaitu presentasi kelas, tim, game, turnamen, dan penghargaan kelompok. Peningkatan keaktifan siswa pada saat pembelajaran IPS akan ditentukan dari 7 aspek keaktifan yang terdiri dari 14 indikator pengamatan dan didukung oleh 27 pernyataan dalam angket keaktifan belajar siswa.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas V SD Negeri 1 Kepurun pada pembelajaran IPS. Rata-rata yang diperoleh dari lembar observasi keaktifan belajar siswa pada siklus I adalah 68,65% sedangkan pada siklus II keaktifan belajar siswa meningkat menjadi 84,63%. Peningkatan keaktifan juga dapat dilihat dari hasil angket dimana pada siklus I siswa yang memiliki keaktifan tinggi sebesar 60,9% dan keaktifan sangat tinggi 0% meningkat pada siklus II siswa yang memiliki keaktifan tinggi sebesar 60,9% dan keaktifan sangat tinggi sebesar 13%. Pembahasan pada masing-masing tahap TGT adalah sebagai berikut.

110 Tahap Presentasi Kelas

Pada siklus I presentasi kelas dilakukan dengan ceramah bervariasi pada pertemuan pertama dan menggunakan media powerpoit pada pertemuan kedua dan ketiga. Penggunaan LCD sebelumnya belum pernah digunakan untuk pembelajaran di kelas V pada semua mata pelajaran. Sehingga ketika guru menggunakan LCD dalam penyampaian materi siswa terlihat memusatkan perhatian terhadap materi yang disampaikan oleh guru melalui powerpoint. Meskipun sudah banyak siswa yang memperhatikan, masih terdapat beberapa siswa yang masih melakukan pekerjaan lain saat guru menyampaikan materi. Pada siklus II presentasi kelas masih dilakukan dengan menggunakan LCD. Selain itu guru juga menggunakan media video dan bigbook. Pemilihan media video disesuaikan dengan materi peristiwa sekitar proklamasi yaitu video proklamasi kemerdekaan RI, begitu pula media bigbook yang digunakan yaitu materi tentang tokoh-tokoh peristiwa kemerdekaan. Bigbook berisi gambar tokoh dan keterangan yang berupa peran setiap tokoh dalam peristiwa proklamasi.

Penggunaan media ini hanya sebagai variasi guru dalam ceramah sehingga dapat meningkatkan minat siswa terhadap materi yang dipelajari. Seperti yang dikatakan oleh Djamarah (2002:132) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki minat terhadap suatu aktivitas, akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten disertai rasa senang. Penyampaian ceramah bervariasi ini dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru sehingga keaktifan siswa dalam memperhatikan guru dapat meningkat.

111 Tahap Tim

Pembentukan tim pada siklus I dan II dilakukan secara heterogen. Siklus I tim dibentuk berdasarkan prestasi belajar siswa yang diperoleh pada ujian semester 1 dimana masing-masing kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi dan siswa kurang berprestasi. Hal ini agar siswa yang memiliki prestasi tinggi dapat dapat memberikan bimbingan terhadap siswa yang kurang berprestasi ketika menyelesaikan LKS dan belajar bersama. Pada siklus II pembentukan tim dilakukan secara heterogen berdasarkan tingkat keaktifan siswa pada siklus I yang diperoleh dari hasil observasi.

Dalam proses pembentukan kelompok pada siklus I dan II guru menemukan bahwa siswa yang memiliki prestasi tinggi ternyata juga memiliki keaktifan yang tinggi, hal ini dapat diamati pada lampiran 6. Dari 5 orang siswa dalam kelompok prestasi tinggi terdapat 3 orang siswa yang masuk dalam kelompok keaktifan tinggi pada siklus II. Hal yang sama juga terlihat dari kelompok siswa dalam kelompok keaktifan kurang, dari 5 orang siswa yang masuk dalam kelompok keaktifan kurang 4 siswa merupakan siswa dari kelompok yang memiliki prestasi kurang pada siklus I. Adanya temuan ini maka membuktikan bahwa terdapat keterkaitan antara tingkat keaktifan siswa dengan prestasi yang dicapai dalam belajar. Siswa yang memiliki keaktifan tinggi cenderung mendapatkan prestasi yang tinggi pula.

Hasil nilai evaluasi siswa mengalami peningkatan seiring meningkatnya rata-rata keaktifan siswa. Rata-rata-rata nilai evaluasi siswa pada siklus I yaitu 65,87 dan meningkat menjadi 75,22 pada siklus II. Hal tersebut sesuai dengan penelitian

112

yang dilakukan Olfin (2014) dimana hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran, memiliki hubungan yang sangat erat dengan pencapaian prestasi belajar siswa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Suwardi (2013) dapat diketahui bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keaktifan siswa yang disertai dengan peningkatan hasil belajar siswa. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan seiring meningkatnya keaktifan belajar siswa. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari naiknya rata-rata hasil belajar siswa dari siklus I dengan rata-rata 65,87 menjadi 75,22 pada siklus II.

Tahap Game dan Turnamen

Setelah siswa belajar dalam tim maka selanjutnya pemahaman siswa akan diuji pada tahap turnamen ini. Setiap siswa pada tahap tim akan dibagi lagi kedalam kelompok-kelompok homogen dengan kemampuan yang sama. Pada siklus I siswa dengan prestasi tinggi berada satu kelompok dengan siswa yang berprestasi tinggi, siswa yang memiliki prestasi sedang berada satu kelompok dengan siswa yang berprestasi sedang, begitu seterusnya. Pada tahap turnamen siklus II siswa dikelompokkan secara homogen berdasarkan tingkat keaktifan yang sama. Siswa dengan keaktifan tinggi berada satu kelompok turnamen dengan siswa yang memiliki keaktifan tinggi, siswa yang memiliki keaktifan sedang berada satu kelompok dengan siswa yang memiliki keaktifan sedang, begitu seterusnya.

113

Turnamen dilakukan dengan menggunakan kartu-kartu soal yang dibaca dan dijawab oleh setiap siswa baik pada siklus I dan siklus II. Hal ini sesuai dengan teori dari Slavin (2008:166-167) bahwa dalam game dan turnamen dilaksanakan dengan kuis-kuis berupa soal. Perbedaan antara turnamen siklus I dan siklus II yaitu jika pada siklus I kartu soal disiapkan oleh guru, pada siklus II kartu soal dibuat sendiri oleh siswa. Masing-masing siswa diberikan tugas untuk membuat satu soal yang akan digunakan untuk turnamen dan jawaban dari soal tersebut tidak boleh diketahui oleh siswa lain. Pelaksanaan turnamen pada siklus I dan siklus II dapat dilihat dalam diagram dibawah ini.

Gambar 6. Meja Turnamen Siklus I Keterangan :

Warna merah : Kelompok turnamen siswa prestasi sangat tinggi

TEAM YAMIN Meja Turnamen 4 Meja Turnamen 5 SK AJR FA OFP

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah

LDP AE NK IS ANR

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Kurang

AN DWA GR TW ANR

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Kurang

OPA YA DIP RB

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Kurang

OV PD RF HDA IDP

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Kurang

Meja Turnamen 1 Meja Turnamen 2 Meja Turnamen 3 TEAM SOEKARNO TEAM SOEPOMO TEAM FATMAWATI TEAM HATTA

114

Warna kuning : Kelompok turnamen siswa prestasi tinggi Warna hijau : Kelompok turnamen siswa prestasi sedang Warna biru : Kelompok turnamen siswa prestasi rendah

Warna merah muda : Kelompok turnamen siswa prestasi kurang

Gambar 7. Meja Turnamen Siklus II Keterangan :

Warna merah : Kelompok turnamen siswa keaktifan sangat tinggi Warna kuning : Kelompok turnamen siswa keaktifan tinggi Warna hijau : Kelompok turnamen siswa keaktifan sedang Warna biru : Kelompok turnamen siswa keaktifan rendah

TEAM YAMIN Meja Turnamen 4 Meja Turnamen 5 PD AJR AE OFP RB

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Kurang

AN DIP OV GR IDP

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Kurang

LDP OPA DWA TW IS

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Kurang

SK NK YA ANR

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Kurang

FA RF HDA ANR1

Sgt Tinggi Tinggi Sedang Rendah Meja Turnamen 1 Meja Turnamen 2 Meja Turnamen 3 TEAM SOEKARNO TEAM SOEPOMO TEAM FATMAWATI TEAM HATTA

115

Warna merah muda : Kelompok turnamen siswa keaktifan kurang Tahap Penghargaan Kelompok

Pemberian penghargaan dilakukan dengan cara menghitung poin akhir setiap kelompok pada akhir turnamen. Kelompok yang menjadi tim terbaik akan diberikan penghargaan berupa tepuk hebat pada setiap pertemuan dan di akhir siklus I dan siklus I jumlah poin siswa akan diakumulasikan dan siswa yang mendapatkan predikat tim terbaik akan diberikan reward berupa alat-alat tulis seperti tempat pensil, tipe-x, penghapus, pensil, dan pulpen. Pemberian reward dapat meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jannah (2013) bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan antara pemberian reward terhadap keaktifan belajar siswa.

Pada siklus I guru sudah melaksanakan kegiatan tahapan TGT dengan baik. Namun masih terdapat beberapa aspek keaktifan siswa yang belum mencapai 70% yaitu pada aspek menanggapi instruksi dari guru, bertanya kepada guru/teman saat ada kesulitan, merasa bersemangat mengikuti pembelajaran, mengeluarkan gagasan dalam kegiatan diskusi, berani menyatakan pendapat dan bertanya ketika ada hal yang kurang dipahami. Berdasarkan hasil dari siklus I guru melakukan refleksi terhadap kekurangan dan kelebihan selama pelaksanaan siklus I. Untuk meningkatkan aspek-aspek yang belum tercapai pada siklus I maka pada siklus II guru melakuan kegiatan pembelajaran dengan menekanakan pada beberapa hal yaitu memberikan motivasi kepada siswa agar mau mengeluarkan pendapat dalam diskusi, penggunaan media yang menarik, pemberian tugas individu kepada siswa

116

dengan pendapat dari Dimyati (2002:62) bahwa peran guru dalam menumbuhkan keaktifan belajar siswa antara lain adalah memberikan tugas secara individual dan kelompok dan mengadakan tanya jawab dan diskusi

Pada pembelajaran siklus II telah dilakukan beberapa perbaikan dari hasil refleksi siklus I. Guru lebih mengoptimalkan dalam memberikan motivasi kepada siswa agar tidak malu bertanya ketika menemu kesulitan atau ada materi yang kurang dipahami serta guru memberikan pengertian kepada siswa agar jangan takut salah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Diharapkan setiap siswa dapat memanfaatkan kesempatan belajar yang diberikan oleh guru dengan lebih baik. Selain itu pada tahap presentasi siklus II guru menggunakan media video dan bigbook untuk menarik perhatian siswa. Penggunaan media tersebut juga sebagai variasi dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran.

Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki beberapa kelebihan seperti yang disampaikan Asma (2006) salah satu kelebihan dari model ini adalah siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya. Hal ini juga ditemui dalam penelitian ini yaitu dengan adanya peningkatan keaktifan siswa dalam aspek berani menyatakan pendapat. Pada siklus I keaktifan siswa dalam menyampaikan pendapat sebesar 37,65% yang berada dalam kategori rendah, kemudian meningkat pada siklus II menjadi 65,22% yang berada dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan penerapan model kooperatif tipe TGT keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat mengalami

117

peningkatan sebesar 27,57%. Peningkatan juga terjadi pada aspek mengeluarkan gagasan dalam kegiatan diskusi yaitu sebesar 49,27% pada siklus I dengan kategori sedang, meningkat menjadi 71,74% dengan kategori tinggi pada siklus II. Peningkatan aspek keaktifan mengeluarkan gagasan dalam kegiatan diskusi yaitu sebesar 22,47%.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT pada siklus II dapat meningkatkan interaksi sosial siswa yaitu siswa lebih aktif dalam berdiskusi, siswa berani bertanya kepada guru dan teman. Melalui penghargaan kelompok yang diperoleh dari poin tiap individu pada tahap turnamen maka keberhasilan kelompok ditentukan oleh masing-masing individu siswa jadi setiap siswa harus memiliki tanggung jawab demi kemajuan kelompok. Dengan adanya tanggung jawab tersebut masing-masing siswa dituntut untuk belajar dengan sungguh-sungguh jika ingin kelompoknya menjadi kelompok yang terbaik. Siswa lebih sungguh-sungguh dalam membaca materi pelajaran dan membuat catatan dari materi yang sudah disampaikan guru agar mereka dapat memahami materi dengan baik.

Dari hasil yang didapatkan pada siklus II seluruh aspek keaktifan siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata keaktifan sebesar 84,63%. Pada siklus II masih terdapat aspek keaktifan yang berada pada kategori keaktifan sedang yaitu aspek bertanya ketika ada hal yang kurang dipahami sebesar 58,69%. Sedangkan sesuai dengan hasil angket masih terdapat 6 siswa yang memiliki kategori keaktifan sedang. Hal ini karena tingkat keaktifan siswa selama pelaksanaan siklus I dan siklus II dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan

118

oleh Syah (2012: 146) bahwa faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar peserta didik dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu faktor internal (faktor dari dalam peserta didik), faktor eksternal (faktor dari luar peserta didik), dan faktor pendekatan belajar (approach to learning). Guru menilai bahwa siswa yang memiliki keaktifan belajar sedang tersebut dipengaruhi oleh faktor internal yaitu minat dan motivasi siswa. Selama pelaksanaan penelitian terlihat siswa yang memiliki keaktifan sedang tersebut minat dan motivasi dalam mengikuti pembelajaran IPS masih kurang. Maka dari itu guru diharapkan mampu meningkatkan minat dan menumbuhkan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran IPS agar keaktifan siswa dapat meningkat.

Hamalik (2011) menyampaikan asas keaktifan besar nilainya bagi pengajaran terhadap peserta didik antara lain: (1) para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung menemukan sendiri, (2) berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi secara integral, (3) memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa, (4) para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri, (5) memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar yang demokratis, (6) mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan antara orang tua dengan guru. Berdasarkan pernyataan tersebut dengan adanya keaktifan belajar siswa mencari pengalaman sendiri, menemukan sendiri dan berbuat sendiri. Dalam penelitian ini kegiatan diskusi yang dilakukan dalam mengerjakan LKS memberikan kesempatan kepada siswa agar mereka mencari dan menemukan pengalaman sendiri dalam hal memecahkan soal. Adanya hal tersebut siswa akan lebih memahami materi karena mereka menemukan sendiri jawaban-jawaban dari soal

119

yang diberikan dalam LKS. Meningkatnya pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari maka akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Dokumen terkait