BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Berdasarkan deskripsi dan analisis data nilai akhir peserta didik terlihat bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran mind mapping disertai speed test lebih baik dari hasil belajar siswa kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat nilai tertinggi, nilai terendah, dan rata- rata kelas eksperimen yang lebih tinggi dari kelas kontrol. Nilai tertinggi kelas eksperimen adalah 95 dan nilai terendahnya adalah 50 dengan rata- rata 75,00. Sedangkan nilai tertinggi kelas kontrol adalah 90, nilai terendah 45 dengan rata-rata 65,00.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-t pada taraf kepercayaan 5%. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setelah pengujian dengan pengujian uji-t diperoleh nilai thitung 2,576 dan ttabel 1,696 karena thitung > ttabel dimana 2,576 > 1,696, maka H0 ditolak. Ini
berarti H1 dalam penelitian ini diterima yaitu “Hasil belajar siswa dengan menggunakan mind mapping disertai speed test lebih baik dari hasil belajar menggunakan pembelajaan konvensional (ceramah dan tanya jawab).
Hal ini dicapai karena ada beberapa hal yang menyebabkan penggunaan mind mapping disertai speed test dapat menjadikan hasil belajar siswa lebih baik, yaitu. Pertama, pembelajaran mind mapping ini adalah salah satu model pembelajaran akan membuat siswa lebih mudah untuk memahami tentang konsep. Mind mapping berisi hubungan antara konsep yang sudah didapat dalam proses pembelajaran sehingga menimbulkan adanya tindakan aktif yang dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran. Sugesti dalam (Asmara, 2015)
Kedua mind maping memudahkan siswa dalam mengingat. Catatan khas yang dibuat dengan mind maping sifatnya spesifik dan bermakna khusus bagi setiap siswa yang membuatnya. Mind mapping mencatat hal-hal yang penting saja dalam bentuk kata kunci-kata kunci pada selembar kertas dengan berbagai warna dan gambar, sehingga memudahkan siswa mengingat dan mempelajari suatu hal dengan melihat hubungan yang terbentuk dari kata kunci, warna, dan gambar yang ada.
Ketiga mind mapping menyederhanakan struktur dan memusatkan perhatian. Memudahkan otak memahami dan menyerap informasi dengan cepat. Catatan yang dibuat dalam bentuk mind maping dapat dengan mudah dipahami orang lain, apalagi oleh pembuatnya sendiri. Mind mapping membuat siswa harus menentukan hubungan-hubungan apa atau bagaimana yang terdapat antar komponen-komponen mind maping tersebut, sehingga siswa lebih mudah memahami dan menyerap informasi dengan cepat. dengan menggunakan mind mapp yang terdiri dari berbagai unsur warna, gambar dan garis, merupakan stimulus yang menarik perhatian anak untuk melihatnya. Sehingga dari bagan-bagan yang telah di buat merangsang siswa untuk fokus dan konsentrasi pada pembahasan subjek pemikiran (Georgius, 2014, hal. 2)
Keempat pembelajaran dengan mind mapping membuat siswa lebih kreatif. Keefektifan model mind mapping dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tentu tidak terlepas dari berbagai kelebihan yang dimilikinya, antara lain: meningkatkan kreativitas dan aktivitas individu. Mind mapping memungkinkan siswa menuangkan seluruh ide/gagasannya dalam bentuk visualisasi kreatif. Bila siswa menggunakan mind mapping (peta pikiran) dalam mencatat informasi pembelajaran yang diterima, tentu akan menjadikan mereka lebih aktif dan kreatif. Penggunaan simbol, gambar, pemilihan kata kunci tertentu untuk dilukis atau ditulis pada mind mapping dapat merangsang pola pikir kreatif.
Sedangkan speed test dapat membantu siswa dalam pengembangan kecepatan berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaran yang telah dipelajarinya. Speed Test adalah suatu alat evaluasi yang berguna untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa dan kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan dengan waktu yang disediakan dibatasi, karena yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat mangerjakan soal-soal tersebut sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar (Putri, Niniwati, & Fauziah, 2013, hal. 2)
Speed test merupakan suatu tes dimana yang dipentingkan adalah kecepatan menjawab, biasanya diukur dalam bentuk banyak jumlah soal yang mampu dikerjakan siswa dalam waktu yang tersedia. Selain untuk mengetahui kecepatan siswa dalam mengerjakan soal, speed test juga dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep. Siswa mengerjakan soal speed tes setelah guru memberikan penjelasan tentang materi yang dipelajari. Soal speed test ini masih berkaitan dengan indikator yang dibahas dalam pembelajaran di hari itu. Bentuk soal speed test yang dikerjakan siswa adalah soal uraian singkat.
Nilai rata-rata siswa sebelum mengerjakan speed test adalah 62,61. Setelah siswa melaksanakan speed test pada pertemuan pertama diperoleh nilai rata-rata 67,09 dan pertemuan kedua didapatkan nilai rata-rata siswa
yaitu 72,25. Jadi speed test dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh siswa setelah mengerjakan soal speed test dibandingkan nilai rata-rata siswa sebelum mengerjakan speed test.
Kelebihan dari pelaksanaan speed test adalah sebagai sarana membangkitkan motivasi siswa dan dapat meminimalisasikan tindakan ketidakjujuran, seperti mencontoh jawaban teman, berdiskusi saat pelaksanaan tes atau lain sebagainya. Jadi dalam pelaksanaannya bisa mengandalkan diri sendiri, karena mereka sama sekali tidak berkesempatan untuk saling membantu. Disamping itu kelebihan dari speed test yaitu sangat tepat untuk menilai segi kognitif secara tepat dan menyeluruh.Jadi hasil yang diperoleh dari pemberian Speed Test dapat menjadi umpan balik, umpan balik ini akan memberikan situasi belajar dalam diri siswa yang kemudian akan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Komang Edi Putra dengan judul Pengaruh Metode Mind Mapping Terhadap Hasil Belajar IPA Kelas V Sd Negeri Di Desa Kalibukbuk. Berdasarkan uji asumsi statistik, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas diperoleh hasil bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok control berdistribusi normal dan bersifahomogen. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dilanjutkan pada pengujian hipotesis penelitian atau hipotesis alternatif (H1) yang telah disebutkan pada bab II. Namun sebelum dilakukan uji hipotesis, maka hipotesis yang terdapat pada bab II perlu diubah terlebih dahulu menjadi nol (H0), sehingga hasil analisisnya akan membuktikan apakah data diperoleh dari hasil pengukuran terhadap responden akan mendukungatau tidak terhadap hipotesis yang telah diajukan. Adapun hipotesis nol (H0) yang akan diuji menyatakan bahwa ” tidak terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping dan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri di Desa Kalibukbuk Kecamatan Buleleng
Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014”. Pengujian hipotesis tersebut dilakukan melalui “uji t” dengan ketentuan hipotesis, H0 ditolak jika t hitung > ttabel dan H1diterima jika t hitung < t tabel.Adanya perbedaan signifikan antara hasil belajar IPA siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa penerapan Mind Mapping pada kelompok eksperimen lebih berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol (Putra, 2014, hal. 8-9)
Penelitian yang dilakukan oleh Rosyid Aris Munandar dengan judul Pengaruh Pembelajaran Mind Mapp Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X diSMAN Kebakkramat Semester Genap Tahun Pembelajaran 2015/2016. Skor rata-rata yang diketahui pada kelas eksperimen dengan pembelajaran mind mapp lebih tinggi kelas kontrol. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran mind mapp diberikan kebebasan sesuei dengan kreatifitas-kreatifitas masing-masing kelompok, sehingga setiap anggota mempunyai hak untuk berpendapat dalam menyusun catatan dalam bentuk mind mapp. Siswa menjedi lebih kreatif dan aktif dan tertarik untuk membaca catatannya (Munandar, 2016, hal. 5-6).
Selain itu juga sejalan dengan penelitian oleh I Wayan Darmayoga dengan judul Pengaruh Implementasi Metode Mind Mapping Terhadap Hasil Belajar IPS Ditinjau Dari Minat Siswa Kelas IV SD Sathya Sai Denpasar. Hipotesis pertama, hasil uji hipotesis pertama menyatakan bahwa, hasil belajar IPS yang mengikuti metode pembelajaran mind mapping lebih baik dari pada siswa yang mengikuti metode pembelajaran konvensional siswa kelas IV SD Sathya Sai Denpasar. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien (F) sebesar 20,50 yang ternyata signifikan. Selanjutnya, berdasarkan perhitungan statistik, didapat bahwa hasil belajar IPS siswa yang mengikuti metode pembelajaran mind mapping memiliki skor rata-rata sebesar 73,05 lebih tinggi daripada hasil belajar IPS siswa yang mengikuti metode pembelajaran konvensional yang memiliki skor rata-rata sebesar 60.63.
Jika dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional, metode pembelajaran mind mapping tampak lebih menekankan keterlibatan siswa. Siswa menjadi lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan penilaian untuk pembuatan suatu keputusan. Siswa tidak akan lagi merasa bahwa pembelajaran IPS merupakan pelajaran yang bersifat hafalan, membosankan dan tidak bermakna. Hal ini juga diperkuat sesuai panduan kurikulum yang menyatakan bahwa pengalaman belajar siswa menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Sementara itu, pembelajaran konvensional lebih banyak menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran, sehingga sulit untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa untuk memecahkan dan mengambil suatu keputusan. Dengan gaya komunikasi lebih banyak dari satu orang, maka kesempatan untuk mengontrol kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran sangat terbatas. Sebagai implikasi dari pembelajaran konvensional siswa menjadi terbiasa menerima apa saja yang diberikan oleh guru tanpa mau berusaha menemukan sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari. Siswa menjadi kurang memiliki kesempatan untuk terlibat didalam proses pembelajaran. hal inilah yang menyebabkan siswa menjadi bosan untuk menerima pelajaran yang diberikan. Pada akhirnya akan bermuara pada belum optimalnya kompetensi yang dimiliki siswa, sehingga hasil belajar yang didapat pun menjadi kurang maksimal (Darmayoga, 2013)
Penelitian yang dilakukan oleh Indah Wahyu Nurani mengenai pengaruh model pembelajaran mind mapping terhadap hasil belajar kognitif siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 16 Bandar Lampung diperoleh simpulan bahwa model pembelajaran mind mapping berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 16 Bandar Lampung, dengan rata-rata pencapaian hasil belajar kognitif sebesar 75,03% dengan hasil yang diperoleh dari masing-masing tahapan kognitif sebagai berikut yaitu pada tahapan pengetahuan (C1) pencapaiannya sebesar 72,97%, tahapan pemahaman (C2) pencapaiannya sebesar 77,7%, tahapan Aplikasi (C3)
pencapaiannya sebesar 75,67%,tahapan Analisis (C4) pencapaiannya sebesar 74,32%,tahapan sintesis (C5) pencapaiannya sebesar 75,67% dan pada tahap terakhir yaitu evaluasi (C6) pencapaiannya sebesar 73,87% (nurani, wakidi, & ekwandari, 2014).
Selain itu, juga ada penelitian tentang speed test yang dilakukan oleh Rahmad Deni dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Token Disertai Speed Test Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kelas VIII SMP Pertiwi 2 Padang. Didapatkan kesimpulan bahwa hasil belajar TIK siswa yang menerapkan model pembelajaran koopertif tipe Time Token Disertai Speed Test pada taraf kepercayan 95% lebih baik dari pada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII SMP Pertiwi 2 Padang (Deni, khairudin, & Suryani, 2016).
Penelitian yang dilakukan oleh Mutiara Helmi dengan judul Penerapan Teknik One To One Disertai Speed Test Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VIII Mtsn VI Padang. dapat disimpulkan bahwa perkembangan pemahaman konsep matematis siswa dengan menerapkan teknik One to One disertai Speed Test sudah cukup baik disetiap pertemuan dan sudah terjadi peningkatan pertemuan II sampai IV. Pemahaman konsep siswa dengan penerapan teknik One to One disertai Speed Test lebih baik daripada pemahaman konsep matematis siswa dengan pembelajaran konvensional di kelas VII MTsN VI Padang (Helmi, Cesaria, & Handayani, 2016).
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Sutra Geni dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Token Disertai Speed Test Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas Vii Smp Negeri 3 Linggo Sari Baganti. Hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 3 Linggo Sari Baganti yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran kooperatif Tipe Time Token disertai Speed Test lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional(Geni, 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Nadia Kemala Putri dengan judul Penerapan Strategi Creative Problem Solving Disertai Speed Test Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VII Mtsn Bungus Teluk Kabung. Serta hasil belajar matematika siswa kelas VII MTsN Bungus Teluk Kabung yang pembelajarannya menggunakan strategi Creative Problem Solving disertai Speed Test lebih baik dari hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional (Putri, Niniwati, & Fauziah, 2013)
Berdasarkan hasil penelitian, teori pendukung dan juga penelitian yang sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan, didapatkan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan mind mapping di sertai speed test lebih baik dari pada hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran konvensinal (ceramah dan tanya jawab).