• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

E. Pembahasan

variansi prestasi siswa sebesar 74,1% dapat dijelaskan oleh kepemimpinan instruksional dan kinerja guru secara bersama-sama. Hal itu berarti sekitar 26% variansi prestasi siswa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain kepala sekolah dan guru. Sebesar 79,7% variansi kinerja guru dapat dijelaskan oleh kepemimpinan instruksional kepala sekolah. Hal itu berarti sekitar 20.3% variansi kinerja guru dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain kepala sekolah.

Hipotesis I: Terdapat pengaruh langsung kepemimpinan instruksional kepala sekolah terhadap prestasi siswa

Hasil penelitian ini tidak bisa membuktikan hipótesis penelitian bahwa terdapat pengaruh kepemimpinan instruksioanl kepala sekolah secara langsung terhadap prestasi siswa. Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Mielcarek (2003) dan Leithwood et al. (2004), yaitu kepemimpinan instruksional tidak secara langsung berpengaruh terhadap prestasi siswa. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi siswa terjadi secara tidak langsung tetapi melalui orang lain dalam hal ini melalui guru dan melalui kondisi organisasi yang dipimpinnya. Hasil penelitian Marks & Printy, (2003) menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional sendiri tidak cukup untuk meningkatkan prestasi siswa. Kombinasi dan integrasi kepemimpian transformasional dan instruksional dapat meningkatkan prestasi siswa langsung dari kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi siswa.

62

Berbeda dengan hasil penelitian oleh Shatzer dkk. (2014), dan Andrews & Soder, (1987), yang menunjukkan pengaruh kepemimpian instruksional kepala sekolah terhadap prestasi siswa secara langsung. .

Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di SMA di Manggarai, bahwa apabila mereka mengalami kesulitan belajar atau masalah lainnya yang berhubungan langsung dengan murid adalah guru wali kelas atau guru yang mereka percaya untuk memecahkan masalah mereka.

Hipotesis 2: Terdapat pengaruh kepemimpinan instruksional kepala sekolah terhadap kinerja guru

Hasil penelitian ini mampu membuktikan hipótesis penelitian bahwa kepemimpinan intruksioanal kepala sekolah secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja guru. Hal ini berarti semakin tinggi pelaksanaan kepemimpinan Instruksional kepala sekolah semakin tinggi pula kinerja guru. Sebaliknya, semakin rendah kualitas kepemimpinan Instruksional kepala sekolah, maka semakin rendah pula kinerja guru. Koefisien determinasi pada variabel kinerja guru sebesar Sebesar 79,7% variansi kinerja guru dapat dijelaskan oleh kepemimpinan instruksional kepala sekolah, dimana sisanya 20.3% variansi kinerja guru di pengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Rinehart dkk. (1998), yang menunjukkan bahwa kinerja guru dapat ditingkatkan oleh pengaruh kepala

63

sekolah karena kepala sekolah tersebut dapat dipercaya karena kemampuannya.

Penelitian oleh Thoonen (2011) menunjukkan bahwa peran pemimpin instruksioanl kepala sekolah dapat meningkatkan kinerja guru dengan menstimulasi pertumbuhan profesional dan motivasi guru dan meningkatkan kondisi organisasi sekolah. Hasil penelitian Joseph & Jo (1999) juga menunjukkan bahwa pengaruh kepemimpinan instruksional kepala sekolah kepada kinerja guru melalui strategi kepala sekolah yaitu dengan cara memberi contoh kepada para guru dalam praktik intruksional setiap harinya.

Kepala sekolah SMA di Manggarai dalam menjalankan peran sebagai pemimpin intruksioanal kepala sekolah dalam upaya menjalankan program yang mendukung kinerja guru, jawaban responden menunjukan bahwa kepala sekolah sering mengembangkan professional guru dengan memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti pelatihan- pelatihan yang dianggap penting dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Konsep pengembangan kinerja guru oleh kepala sekolah sebagai pemimpin intruksioanal fokus pada bagaimana kemampuan guru dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas dalam kerangka peningkatan prestasi belajar siswa. Lunenburg dan Irby (2006), menjelaskan pengembangan kompetensi guru yang secara seginifikan memberi kontribusi terhadap hasil belajar siswa adalah pengembangan kemampuan

64

yang berhubungan dengan perencanaan pembelajaran, proses belajar mengajar dan evaluasi, Hal ini bisa dilakukan oleh kepala sekolah dengan melakukan supervisi di kelas dan memberikan umpan balik yang konstuktif untuk perbaikan proses pembelajaran dimana tujuan akhirnyaadalah untu peningkatan prestasi siswa.

Pengembangan professioanal guru ini menjadi sangat penting, di Manggarai karena tinggi rendahnya kinerja guru sangat tergantung kepada kemampuan professional yang dimiliki guru. Apabila kemampuan professional guru tinggi, maka kinerja guru pun menjadi tinggi. Sebaliknya apabila kemampuan professional guru rendah, maka kinerjanya pun menjadi rendah. Oleh karena itu, pengembangan profesionalisme guru harus menjadi fokus perhatian kepala sekolah SMA di Manggarai, karena guru merupakan orang yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, dan pelaku utama dalam peningkatan prestasi belajar siswa melalui proses belajar mengajar yang berkualitas. Hipotesis 3: Terdapat pengaruh kinerja guru terhadap prestasi siswa

Hasil penelitian ini mampu membuktikan hipótesis penelitian bahwa terdapat pengaruh kinerja guru terhadap prestasi siswa secara signifikan. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Milanowski (2004), bahwa kinerja guru berkorelasi positif dengan prestasi siswa..

Hasil ini juga mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Agung dan Yufridawati, (2013) bahwa salah satu pihak yang dinilai amat menentukan pencapaian hasil belajar siswa adalah guru karena guru

65

merupakan pihak yang langsung terkait dengan kegiatan pembelajaran terhadap siswa, sehingga memiliki peran amat strategis. kinerja guru memainkan peran penting dalam pencapaian hasil belajar siswanya.

Peranan guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana yang diamati penelit di SMA di Manggarai dimana sarana dan prasarana serta lingkungan untuk menunjang proses belajar mengajar dibeberapa sekolah masih sangat minim bahkan ada yang belum memilikinya, seperti laboratorium, perpustakaan dan fasilitas teknologi seperti internet untuk mendapatkan berita atau mengikuti perkembangan pendidikan. Berdasarkan hal ini maka profesional guru SMA di Manggarai sangat diperlukan dengan meningkatkan kinerja dan pengembangan model pembelajaran yang variatif, menciptakan suasana yang komunikatif ,melibatkan siswa dalam setiap proses pembelajaran, dan menggunakan media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dimana tujuan akhirnya adalah untuk peningkatan prestasi siswa.

Begitu pula dengan lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa kurang menunjang untuk proses belajar siswa. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan beberapa murid dan guru, letak sekolah yang jauh dari pemukiman membuat siswa harus berjalan kaki empat sampai lima kilo meter ke sekolah karena tidak adanya transportasi pribadi maupun umum sehingga murid kelelahan ketika sudah sampai di sekolah. Oleh karenanya, kepala sekolah di Manggarai sebagai pemimpin instruksioanl mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk

66

melakukan proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan.

Hipotesis 4: Terdapat pengaruh kepemimpinan instruksional secara tidak langsung terhadap prestasi siswa

Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat pengaruh signifikan kepemimpinan instruksional kepala sekolah terhadap prestasi siswa secara tidak langsung yaitu dengan cara dimediasi oleh kinerja guru. Dengan demikian kinerja guru sebagai variabel intervening terbukti dalam penelitian ini.

Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Adam dan Hameiri (2014) yaitu guru sebagai mediator pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap hasil sekolah dan proses belajar siswa. Dalam hasil penelitian itu pengaruh tidak langsung dari kepala sekolah terhadap prestasi siswa terutama melalui persepsi guru tentang perilaku professional dan gaya kepemimpinan kepala sekolahnya. Guru dipengaruhi terutama oleh gaya membuat keputusan kepala sekolah, standar akademis, kecenderungan dan kemauan untuk memperkuat dan keterlibatan guru dalam proses membuat visi sekolah, dukungan yang mereka buat untuk guru, kemampuan mereka untuk memantapkan rasa saling percaya, dan keterlibatannya dalam pengembangan professional guru.

67

Mengingat pentingnya peran guru dalam meningkatkan prestasi siswa maka kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional SMA di Manggarai harus memiliki kemampuan untuk melakukan pengembangan profesionalisme guru secara terus-menerus dalam rangka untuk meningkatkan prestasi siswa seoptimal mungkin dengan mengevaluasi secara sistematis mata pelajaran dan guru, mendorong, memfasilitasi dan mengevaluasi pengembangan profesionalisme guru,mengembangkan model pembelajaran yang berkesinambungan dan melibatkan diri dalam pengembangan profesionalisme guru.

Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka meningkatkan kinerja guru harus menjadi fokus perhatian kepala sekolah SMA di Manggarai, karena guru merupakan orang yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, dan pelaku utama dalam peningkatan prestasi belajar siswa melalui proses belajar mengajar yang berkualitas. Melalui pengembangan profesional kinerja guru, diharapkan proses pengajaran dapat berkembang, pada akhirnya berdampak pada prestasi siswa.

Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa kepala sekolah SMA di kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur sudah sering menerapkan kepemimpinan instruksioanl kepala sekolah untuk meningkatkan prestasi siswa. Hal ini terlihat dari jawaban responden dari nilai skor rata- rata setiap indikator 3,41- 4,20 masuk kategori sering, menunjukan bahwa kepala sekolah SMA di kabupaten Manggarai,

68

Manggarai Barat dan Manggarai Timur sebagai pemimpin instruksional sudah sering menerapkan kepemimpinan instruksional.

Kepala sekolah SMA di kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur sebagai pemimpin instruksional sering bekerja sama dengan guru untuk membuat tujuan sekolah yang jelas, terukur, ada target waktu, mengkomunikasikan tujuan sekolah kepada semua komunitas sekolah supaya mereka mengetahui dan mendukung, melakukan supervisi dan evaluasi kegiatan belajar-mengajar dengan memastikan bahwa prioritas para guru mengajar di kelas sudah sesuai dengan tujuan sekolah, melakukan pengamatan praktek mengajar guru di kelas secara teratur dan memberi tahu kepada guru tentang hasil pengamatan praktek mengajar guru dan memberi umpan balik,memonitor pelaksanaan kurikulum apakah sudah sesuai dengan tujuan kurikulum sekolah dan berpartisipasi secara aktif dalam memeriksa materi kurikulum, memonitor kegiatan belajar- mengajar di sekolah.

Kepala sekolah SMA di kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur sering melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut serta membatasi gangguan dari luar (misalnya suara di luar kelas yang menggangu) terhadap kegiatan belajar-

69

mengajar dan membatasi berkurangnya waktu belajar yang digunakan untuk kegiatan ekstra kulikuler.

Peningkatan prestasi dapat terealisir apabila pemimpin instruksional berfokus pada tujuan pencapain prestasi siswa yang terstandar dan mengupayakan agar pelaksanaan kurikulum, kegiatan instruksional, dan eavaluasi diarahkan dan disinkronkan dengan standard tersebut (US Departement Education, 2015). Kepala sekolah berperan untuk memastikan bahawa kualitas instruksional berjalan dengan baik atau tidak. Untuk itu dia perlu sering datang ke ruang kelas untuk melihat sendiri guna memastikan hal tersebut. Agar bisa seperti itu dia harus memiliki misi dan goal yang jelas dan diupayakan untuk tercapai (Stronge dkk, 2008).

Hasil penelitian untuk kinerja guru SMA di kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur menunjukan bahwa kinerja guru sudah baik, hal ini tunjukan dengan hasil jawaban responden untuk setiap indikator rata- rata nilai skor 3,41- 4,20 masuk kategori baik dengan merencanakan kegiatan instruksional, sesuai dengan kurikulum, strategi dan sumber daya sekolah, untuk memenuhi kebutuhan murid dalam rangka meningkatkan prestasi siswa, melibatkan siswa untuk belajar dengan berbagai strategi instruksional guna memenuhi kebutuhan belajar siswa, melibatkan siswa untuk belajar dengan berbagai strategi instruksional guna memenuhi kebutuhan belajar siswa, menggunakan perlengkapan, metoda, kebiasaan dan prosedur yang membuat suasana lingkungan belajar yang kondusif guna meningkatkan prestasi belajar siswa, mempertahankan

70

komitmennya sesuai dengan etika profesioanlime, misi sekolah dan bertangungjawab serta berpartisipasi dalam pertumbuhan profesionalisme demi meningkatkan belajar siswa, mengupayakan kegiatan instruksioanl untuk kemajuan siswa yang sesuai target dan terukur.

.Hasil ujian nasional tahun ajaran 2013/2014 menunjukan prestasi siswa di propinsi NTT masih dibawah rata-rata nasional yaitu NTT rata- rata IPA 29,54, rata-rata nasional 38,20 dan IPS NTT rata-rata 26.78 nasional rata-rata 35.07. Hasil ini menjadi penting bagi kepala sekolah dan guru SMA di Manggarai untuk dilakukan evaluasi dalam pelaksanaan sebagai pemimpin instruksional untuk disesuaikan dengan kebutuhan siswa SMA di Manggarai dalam rangka meningkatkan presatsi siswa.

71

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hasil penelitian tentang pengaruh kepemimpinan instruksional kepala sekolah terhadap kinerja guru dan prestasi siswa di SMA kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Kepemimpinan intruksional kepala sekolah tidak berpengaruh secara langsung terhadap prestasi siswa.

b. Kepemimpinan instruksional kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru.

c. Kinerja guru berpengaruh terhadap prestasi siswa.

d. Kepemimpinan instruksional kepala sekolah berpengaruh secara tidak langsung terhadap prestasi siswa tetapi melalui kinerja guru sebagai mediatornya.

B. Keterbatasan penelitian

Pelaksanaan penelitian masih memiliki beberapa keterbatasan yaitu : Subyek penelitian dalam jumlah yang terbatas karena keterbatasan waktu dan dana sehingga tidak bisa menjangkau sekolah-sekolah yang lebih terpencil.

72

C. Saran

a. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tidak ada pengaruh langsung kepemimpinan instruksional kepala sekolah terhadap prestasi siswa SMA di Manggarai maka perlu menjadi perhatian bagi pemerintah pada umumnya dan dinas pendidikan khususnya untuk menjadikan bahan evaluasi dalam rangka memberikan pelatihan atau seminar bagi kepala sekolah.

b. Penerapan kepemimpinan instruksional kepala sekolah sudah sering dilakukan dan kinerja guru sudah baik namun prestasi siswa masih rendah berdasarkan stándar nasional, untuk itu pengembangan profesional kepala sekolah dan guru tetap dipertahankan dan terus ditingkatkan.

c. Bila di kemudian hari ada mahasiswa yang hendak mengadakan penelitian di SMA-SMA di daerah Manggarai perlu alokasi waktu yang cukup panjang supaya bisa menjangkau sekolah-sekolah yang lebih terpencil dengan tehnik pengambilan sampel secara random dengan demikian hasilnya lebih representatif.

73

DAFTAR PUSTAKA

Adam E. Nir Lior Hameiri , 2014, School principals’ leadership style and school outcomes ", Journal of Educational Administration, Vol. 52 Iss 2 pp. 210

– 227

Agung dan Yufridawati, 2013, Pengembangan Pola Kerja Harmonis dan Sinergis antaraGuru,kepala Sekolah, dan Pengawas. Jakarta: Bestari Buana Murni

Andreas et.al..2010, TheInfluence of School Leadership Styles and Culture on

Students’ Acheievement in Cyprus Primary School. (Jurnal of Ed ucational Adminsitration vol.48, no.2, 2010, Emereld Group Publishing Limited).

Cotton. 2003. Principals and Student Achievement. Virginia USA,ASCD.

Daniel Muijs, 2011,"Leadership and organisational performance: from research to prescription?", International Journal of Educational Management, Vol. 25 Iss 1 pp. 45 – 60).

Daryanto, 2013, Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Datnow, A. 2005. The sustainability of comprehensive school reform models in changing district and state contexts. Educational Administration Quarterly

Departemen Pendidikan Nasional. 2009 Buku 3 Pedoman Penyusunan Portofolio. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Dirjen PMPTK. 2010. Kepemimpinan Pembelajaran, Materi Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Jakarta. Dirjen PMPTK

Gentilucci dan Muto. 2007. Principals’ Influence on Academic Achievement: The Student Perspective. The National Association of Secondary School Principals. Education Journal. P.232

Gickman. at al., 2010. Supervision and Instructional Leadership. Boston USA, Pearson.

Hallinger dan Heck, 1998. Exploring the principal‘s contribution to school effectiveness:

Hallinger. 2005 ,Intructional Leadership and the School Principal: The Passing Fancy that rfuses to Fade Away, College of Management, Mahidol University, Bangkok, Thailand.

Haryono dan Wardoyo, 2012. Structural Equation Modeling. PT. Intermedia Personalia Utama

Hermino dan Agustinus. 2014. Kepemimpinan Pendidikan di Era Global. Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Hoy dan Miskel, (2008) Educational Administration, Theory, Research, and Practice, eight edition. New York USA. Mc Graw Hill.

74

Komariah. et al., 2010. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Jakarta, Bumi Aksara

Leithwood. et al., 2004. How leadership influences student learning: A review for the learning for Leadership .Project. New York: The Wallace

Foundation

Lunenburg dan Irby , 2006. The Principalship; Vision to action. Wadsworth, Cengange learning.

Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung, Rosda Karya Mulyasa. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Cet.3. Bandung PT

Remaja Rosda Karya.

Mulyasa. E. 2013. Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Nana Syaodih Sukmadinata. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nir dan Hameiri. 2014, School principals’ leadership style and school outcomes. The mediating effect of powerbase utilization (),"School principals’ leadership style and school outcomes ", Journal of Educational Administration, Vol. 52 Iss 2 pp. 210 – 227)

Peariso, 2011, A study of Principlals’ Instructional Leadership Behavior and Beliefs of Good Pedagogical Practice among Effective California High Schools Serving Socio-Economically Disadvantaged and English Learners.

Policy Studies Associates ( PSA). 2005, Teacher Quality and Student Achievement: Research Review, The Central Pubic Education, Washington, D.C.

Purwanto. 2003. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Quinn. 2002. The impact of principal leadership behaviors on instructional

practice and student.

Rayma et al.,1996, Collaborative power, A grounded theory of administrative instructional leadership in the elementary school.),"Collaborative power", Journal of Educational Administration, Vol. 34 Iss 3 pp.

Riduwan. 2013. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung

Rinehart at al., 1998, Educational Administration Quarterly December 1998 vol. 34 no. 1 suppl 630-649 Teacher Empowerment and Principal

Leadership: Understanding the Influence Process

Sagala.2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta. Soleh . 2005. Ilmu Statistika. Rekayasa Sains Bandung

Suharsaputra. 2010, Administrasi Pendidikan. Bandung. Refika: Aditama Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Rosda

75

Sunarto. 2012. Pengertian prestasi belajar. Fasilitator idola [online]. Tersedia : http://sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertian-prestasi-

belajar/ [2/6/2015)

Supardi. 2014. Kinerja Guru. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Sugiyono. 2013. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Syah dan Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Yukl dan Gary. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi ( Budi Supriyanto,

Penerjemah). Jakarta, Indeks

Yusuf dan Syamsu. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Rosdakarya.

Undang-undang Nomor 14 . 2005. Tentang Guru dan Dosen

Waters. at al., 2003. Balanced Leadership: What 30 years of research tells us about the effect of leadership on student achievement

---,. 2010. Kepemimpinan Pembelajaran, Materi Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Jakarta. Dirjen PMPTK.

---,2010, AASSA (Association of American School in South America), Teacher Performance Evaluation System,Handbook on the OSAC/AASSA,Departement of State-United States of Ameica. --- Sumber: http://ntt.bps.go.id/

---http://bkpm-nttprov.web.id/data-wilayah/profil-kabupaten- manggarai/

---(http://bkpm-nttprov.web.id/data-wilayah/profil-kabupaten- manggarai-timur

76 Lampiran 1

SURAT PERMOHONAN KESEDIAAN RESPONDEN Dengan Hormat,

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Lindung Klementina Elisabet

Nim : 132222213

Pendidikan : Mahasiwa Magister Manajemen fakultas Ekonomi USD Memohon kesediaan bapak/ibu untuk meluangkan waktu mengisi dan menjawab dengan jujur pernyataan dalam kuesioner yang berkaitan dengan

penelitian saya yang berjudul ”Pengaruh Kepemimpinan Instruksional Kepala

Sekolah terhadap Kinerja Guru dan Prestasi Siswa SMA di Manggarai, NTT”.

Peneliti akan menjaga kerahasiaan informasi yang bapak/ibu berikan hanya untuk kepentingan ilmiah, atas kesediaan dan partisipasi bapak /ibu penulis mengucapkan terima kasih

Yogyakarta ... Peneliti

77

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama :

Umur :

pendidikan :

Jabatan :

Alamat :

Setelah saya mendapat penjelasan mengenai penelitian yang dilakukan saudari Lindung Klementina Elisabet, mahasiswi Magister Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Sanatha Dharma Jogjakarta dengan judul ”Pengaruh

Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru dan Prestasi Siswa maka dengan ini saya tidak keberatan memberikan informasi yang benar sesuai dengan pengetahuan saya.

Demikian surat persetujuan ini saya buat tanpa paksaan dari pihak manapun dan agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Manggarai , ... Responden

78

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER

Kuesioner ini dimaksudkan untuk mengetahui profil Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah dan Kinerja Guru di sekolah Bapak/Ibu bekerja menurut persepsi Bapak/Ibu. Secara keseluruhannya ada 60 pernyataan. Mohon dibaca secara saksama setiap pernyataan dan beri respon dengan cara melingkari pada salah satu nomor pilihan yang sesuai dengan apa yang Bapak/Ibu persepsikan mengenai aktivitas kepemimpinan instruksional . Respon terhadap setiap pernyataan adalah sebagai berikut:

 Pilihan “1” berarti: HAMPIR TIDAK PERNAH

 Pilihan “2” berarti: JARANG

 Pilihan “3” berarti: KADANG-KADANG

 Pilihan “4” berarti: SERING

 Pilihan “5” berarti: HAMPIR SELALU

79

I. KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL KEPALA SEKOLAH.

PERNYATAAN ALTERNATIF

JAWABAN 1. Kepala sekolah membuat

tujuan/target sekolah tahunan. 1 2 3 4 5

2. Kepala sekolah menggunakan data pencapaian prestasi siswa sebagai salah satu dasar untuk membuat tujuan/target akademis sekolah.

1 2 3 4 5

3. Kepala sekolah membuat

tujuan/target sekolah yang mudah dimengerti oleh guru.

1 2 3 4 5

4. Kepala sekolah mengkomunikasikan tujuan/target sekolah kepada

anggota masyarakat sekolah.

1 2 3 4 5

5. Pada saat pembuatan tujuan/target akademis sekolah, kepala sekolah mendiskusikannya bersama guru- guru.

1 2 3 4 5

6. Kepala sekolah menayangkan tujuan/target sekolah secara visual, misalnya ditempel pada papan pengumumnan, dimuat dalam bulletin, poster, dll.

1 2 3 4 5

7. Kepala sekolah memastikan bahwa prioritas para guru mengajar di kelas sudah sesuai dengan tujuan sekolah.

1 2 3 4 5

8. Kepala sekolah melakukan

pengamatan praktek mengajar guru di kelas secara teratur.

1 2 3 4 5

9. Kepala sekolah memberi tahu kepada guru tentang hasil

pengamatan praktek mengajar guru dan memberi umpan balik.

1 2 3 4 5

10.Kepala sekolah menunjuk dengan jelas siapa yang bertanggungjawab mengkoordinasi kurikulum sekolah (apakah kepala sekolah sendiri, wakil kepala sekolah atau salah satu guru)

80

PERNYATAAN ALTERNATIF

Dokumen terkait