BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
Hasil uji hipotesis penelitian menunjukkan diterimanya hipotesis yang diajukan, yaitu adanya hubungan yang signifikan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Hal tersebut didasarkan atas hasil output SPSS, dimana nilai p-value 0,000 < 0,05 sedangkan F Hitung > F Tabel (32,930 > 3,108). Serta nilai R sebesar 0,667 menunjukkan bahwa adanya hubungan yang kuat antara kestabilan emosi dan penerimaan diri
commit to user
dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. Hasil tersebut berarti bahwa kestabilan emosi dan penerimaan diri dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. Semakin tinggi kestabilan emosi dan penerimaan diri, maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal. Sebaliknya semakin rendah kestabilan emosi dan penerimaan diri, maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonal.
Kecemasan komunikasi interpersonal merupakan keadaan cemas dalam interaksi komunikasi, disebabkan karena individu mengembangkan perasaan negatif dan memperkirakan hasil yang negatif pula dalam komunikasinya (De Vito, 1995). Individu yang memiliki kestabilan emosi dan penerimaan diri yang tinggi akan lebih merasa tenang, mampu berpikir positif dalam segala hal serta lebih memiliki keyakinan akan kemampuan diri sendiri (Goleman, dkk (dalam Irma, 2003); Matthews, 1993), dengan demikian kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami individu akan rendah. Sebaliknya, dengan kestabilan emosi dan penerimaan diri yang rendah, individu cenderung mudah merasa takut, lebih memikirkan terjadinya kegagalan, kurang memiliki keyakinan untuk menunjukkan diri dan mudah merasa takut jika oranglain mengetahui apa yang difikirkan dan dirasakan (Durham (dalam Locke, 2003); Matthews, 1993). Dengan demikian kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami individu akan semakin tinggi.
Berdasarkan uji hipotesis diketahui bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi ada hubungan negatif antara kestabilan emosi dengan kecemasan komunikasi interpersonal diterima. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rx1y
commit to user
sebesar -0,428 dengan p-value 0,000 dimana p-value < 0,05. Nilai tersebut menunjukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kestabilan emosi dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Semakin tinggi kestabilan emosi maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja, begitu juga sebaliknya semakin rendah kestabilan emosimaka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja.
Hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan komunikasi interpersonal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Goleman (dalam Irma, 2003) bahwa individu yang memiliki kestabilan emosi akan memiliki kendali diri dalam arti mampu mengelola emosi dan impuls yang merusak dengan efektif, memiliki adaptabilitas, dalam arti luwes dalam menangani perubahan dan tantangan, dan optimis. Wiggins (dalam Cable dan Judge, 2003) juga menambahkan bahwa individu dengan kestabilan emosi tinggi akan bersikap tenang, merasa aman, dan tidak nervous.
Sebaliknya individu yang memiliki kestabilan emosi yang rendah akan cenderung merasa cemas, emosional, mudah malu, dan murung. Locke (2003) juga menambahkan individu dengan kestabilan emosi yang rendah akan mudah cemas, moody, lebih banyak ekspresi negatif dalam afeksinya, atau bahkan malu dalam kerjasama. Sehingga individu mudah mengalami kecemasan komunikasi interpersonal yang tinggi. Hasil tersebut juga sesuai dengan pendapat Macyntre,dkk (dalam Chienjing, 2010) yang mengemukakan bahwa kecemasan berbicara berhubungan signifikan dengan beberapa faktor kepribadian, salah satunya adalah kestabilan emosi.
commit to user
Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa skor kestabilan emosi subjek berada pada kategori sedang dengan prosentase 81,2 % dan 78 < 117 dengan rerata empirik 104,85 dan rerata hipotetik 97,5. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kestabilan emosipada kelas X SMA N 1 Boyolali pada umumnya termasuk dalam kategori sedang. Kondisi emosi siswa kelas X yang tergolong dalam usia remaja pada umumnya memang belum menunjukkan kestabilan yang tinggi dikarenakan secara psikologis remaja mengalami perubahan dalam keadaan , dimana remaja mengalami badai dan topan dalam kehidupan perasaan dan emosinya (Mappiare, 1982). Pada masa ini ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar yang mengakibatkan sebagian besar remaja mengalami perubahan kondisi emosi dari waktu ke waktu.
Mengingat dengan adanya kestabilan emosi yang tinggi individu akan lebih dapat merasa tenang dan lebih percaya diri untuk mencapai kesuksesan (Locke, 2003), maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan kestabilan emosi pada remaja. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal yang mempengaruhinya, antara lain pola asuh orangtua dan pola pikir yang dimiliki oleh individu (Mappiare, 1982).
Hasil perhitungan juga menunjukkan adanya hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal, hal tersebut dapat dilihat dari nilai rx2y sebesar -0,538 dengan p-value 0,000 < dari 0,05. Nilai tersebut mempunyai arti semakin tinggi penerimaan diri maka semakin rendah
commit to user
kecemasan komunikasi interpersonal, begitu juga sebaliknya semakin rendah penerimaan diri maka kecemasan komunikasi interpersonal semakin tinggi.
Hasil tersebut sesuai pendapat yang dikemukakan Hjelle dan Zeigler (1992) yang menyatakan bahwa individu yang memiliki penerimaan diri akan dapat menerima dirinya dengan kelemahan dan keterbatasan yang ada, tidak terbebani oleh rasa bersalah, rasa malu, dan kecemasan. Johnson (1993) juga mengemukakan bahwa menerima diri sendiri merupakan salah satu cara untuk dapat menanggulangi ketakutan dan kecemasan pada individu. Dengan demikian kecemasan komunikasi interpersonal yang mungkin dialami oleh remaja cenderung rendah. Sebaliknya remaja yang penerimaan dirinya rendah cenderung mengalami kecemasan yang tinggi ketika melakukan komunikasi interpersonal. Hal ini sesuai dengan pendapat Crawford, dkk (2006) yang menyatakan bahwa kecemasan komunikasi berkaitan beberapa variabel, antara lain harga diri dan masalah penerimaan diri. McCrosckey (dalam William, 1991) juga menambahkan bahwa kecemasan komunikasi interpersonal berhubungan dengan penerimaan diri pada individu. Hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Lustig (dalam Croskey, 1977) yang menunjukkan adanya hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal.
Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa skor penerimaan diri subjek berada pada kategori sedang 77,7% dengan 62 93, dengan rerata empirik 87,46 dan rerata hipotetik 77,5. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penerimaan
commit to user
diri siswa kelas X SMA N 1 Boyolali pada umumnya termasuk dalam kategori sedang. Beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan diri pada individu antara lain pemahaman diri, harapan yang realistis, sikap lingkungan sosial yang mendukung, perspektif diri dan pelatihan pada masa kanak-kanak yang baik (Hurlock, 1974).
Skor kecemasan komunikasi interpersonal pada subjek berada pada kategori sedang 76,5% dengan 84 126, dengan rerata empirik 90,21% dan rerata hipotetik 105. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada umumnya kecemasan komunikasi interpersonal siswa kelas X SMA N 1 Boyolali temasuk dalam kategori sedang. Kecemasan yang dialami pada saat individu melakukan komunikasi interpersonal dapat menyebabkan remaja menarik diri dari pergaulan sehingga keterlibatan remaja dalam berkomunikasi menjadi minim atau sedikit (Daly dan McCroskey, 1984).
Berdasarkan dari nilai koefisien determinasi (R2) diketahui besarnya sumbangan efektif kedua variabel bebas (kestabilan emosi dan penerimaan diri) terhadap variabel tergantung (kecemasan komunikasi interpersonal) sebesar 44,5%, artinya sebesar 44,5% kecemasan komunikasi interpersonal dapat dijelaskan oleh variabel kestabilan emosi dan penerimaan diri, sedangkan sisanya sebesar 55,5% dipengaruhi oleh beberapa variabel lainnya, baik dari faktor personal (kepribadian) lain misalnya self esteem, kontrol diri, asertivitas maupun dari faktor situasional seperti subordinate status, pengalaman atau ketrampilan komunikasi yang dimiliki individu, ataupun tingkat evaluasi yang diberikan oleh oranglain.
commit to user
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, sehingga untuk penerapan penelitian bagi populasi yang lebih luas dengan karakteristik yang berbeda memerlukan penelitian lebih lanjut dengan menambah variabel lain yang belum disertakan dalam penelitian ini, perbaikan dalam pemakaian alat ukur, prosedur, serta memperluas ruang lingkup penelitian. Sehingga diharapkan penelitian selanjutnya dapat menemukan hasil yang lebih komprehensif.
commit to user
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN