BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan perawatan bayi dari 36 responden dengan pemberian kuesioner sebanyak 7 soal berupa pernyataan, pada tabel 5.8 Distribusi frekuensi Berdasarkan Perawatan Bayi di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada Tanggal 30 Mei 2017 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu 22 responden (61,1%) melakukan perawatan bayi dengan baik.
Hasil perawatan bayi yang baik didukung oleh tingginya pernyataan soal nomor 5, nomor 6 dan nomor 7. Pernyataan tertinggi pertama terdapat pada soal nomor 5 mendapatkan nilai rata-rata 2,89 dengan pernyataan “Menggunakan sabun bayi” dari 36 responden, 13 responden menyakatan “Sering”.
Menurut peneliti, ibu telah melakukan perawatan bayi dengan baik dilihat dari ibu menggunakan sabun bayi ketika memandikan bayinya, karena kulit bayi masih sangat sensitif sehingga mudah mengalami iritasi jika ibu tidak menggunakan sabun khusus untuk bayi. Hal ini sesuai dengan teori Priyono (2010), sabun orang dewasa tidak cocok untuk kulit bayi, gunakanlah sabun khusus bayi yang tidak terlalu keras sifatnya pada kulit bayi. Hindari sabun yang mengandung
parfum untuk menghindari kemungkinan terjadinya iritasi. Meski lembut, tidak dianjurkan menggunakan sabun secara berlebihan. Penggunaan sabun secara berlebihan bisa menghilangkan lemak dikulit bayi, sehingga mengakibatkan kulit bayi menjadi kering. Setelah penggunaan sabun, bilaslah tubuh bayi sampai benar-benar bersih dan bebas dari sisa sabun, supaya kulit bayi terhindar dari iritasi dan tertutupnya pori-pori oleh sisa sabun yang dapat menyebabkan radang dan rasa gatal.
Pernyataan tertinggi kedua terdapat pada soal nomor 6 mendapatkan nilai rata-rata 3,00 dengan pernyataan “Memandikan bayi 2x sehari” dari 36 responden, 13 responden menyatakan “Selalu”.
Menurut peneliti ibu telah melakukan perawatan bayi dengan benar dilihat dari ibu memandikan bayinya 2x sehari, karena mandi 2x sehari merupakan jadwal yang tepat untuk menjaga kesehatan kulit bayi agar terhindar dari berbagai macam penyakit.
Hal ini sesuai dengan teori Warner (2009), jadwal mandi bayi tidak sebanyak orang dewasa. Mandikan bayi dua kali sehari dengan sabun lembut khusus bayi dan air bersih. Kulit yang kering dan bersisik sering terjadi pada bayi yang terlalu sering mandi. Hanya itu yang ia perlukan dalam hal perawatan kulit ketika bayi dimandikan.
Pernyataan tertinggi kedua terdapat pada soal nomor 7 mendapatkan nilai rata-rata 2,92 dengan pernyataan “Mengganti popok ketika popok basah atau kotor” dari 36 responden, 12 responden menyatakan “Selalu”.
Menurut peneliti, ibu telah melakukan perawatan bayi dengan baik dilihat dari ibu mengganti popok ketika popok basah atau kotor, karena jika ibu membiarkan popok yang basah atau kotor tersebut tetap terpakai oleh bayi maka bayi akan mengalami gatal-gatal dan ruam pada kulit.
Hal ini sesuai dengan teori Priyono (2010), meskipun merepotkan, penggantian popok sesering mungkin akan berguna untuk menghindari gatal-gatal dan ruam pada kulit bayi yang masih peka. Sebaiknya, penggantian popok bayi dilakukan setiap kali habis buang air. Jika menggunakan popok sekali pakai atau diapers, basahnya
diapers jangan digunakan sebagai ukuran.
Perawatan bayi yang dilakukan oleh ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu umur ibu, paritas, pekerjaan ibu, dan penghasilan.
Faktor pertama yang mempengaruhi perawatan bayi adalah umur ibu. Berdasakan tabel 5.2 Distribusi frekuensi Responden Berdasarkan Umur Ibu di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada Tanggal 30 Mei – 1 Juni 2017 menunjukkan bahwa dari 36 responden, hampir seluruhnya responden sejumlah 28 (77,8%) berusia 21-35 tahun dan berdasarkan tabulasi silang antara umur ibu dengan perawatan bayi menunjukkan bahwa dari 28 responden yang berumur 21 – 35 tahun hampir dari setengah responden melakukan perawatan bayi dengan baik sejumlah 15 (41,7%).
Menurut peneliti, responden usia 21-35 tahun termasuk usia dewasa, pada usia tersebut seseorang semakin bertambah pula pengalaman dan pengetahuannya, terutama dalam melakukan perawatan bayi sehari-hari. Dengan pengalaman yang cukup, responden juga akan berfikir yang jernih dan lebih dewasa terutama tentang pentingnya perawatan bayi yang baik dan benar.
Menurut Wawan (2010), semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai pengalaman dan kematangan jiwa.
Faktor kedua yang mempengaruhi perawatan bayi adalah paritas. Berdasarkan tabel 5.3 Distribusi frekuensi Responden Berdasarkan Paritas di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada Tanggal 30 Mei – 1 Juni 2017 menunjukkan bahwa dari 36 reponden, sebagian besar responden sejumlah 27 (75,0%) adalah Multipara dan berdasarkan tabulasi silang antara paritas dengan perawatan bayi menunjukkan bahwa dari 27 responden yang multipara, hampir dari setengah responden melakukan perawatan bayi dengan baik sejumlah 16 (44,4%).
Menurut peneliti, seorang ibu yang sudah pernah melahirkan dan mempunyai anak lebih dari satu akan mempunyai pengalaman yang lebih dibandingkan ibu yang hanya mempunyai satu orang anak
sehingga pengalaman ibu cukup baik, dalam hal ini ibu cenderung lebih mengerti cara merawat bayinya sehari-hari dengan baik.
Menurut Notoadmodjo (2007), Jumlah anak merupakan sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi dimasa lalu.
Faktor ketiga yang mempengaruhi perawatan bayi adalah pekerjaan ibu. Berdasarkan tabel 5.4 Distribusi frekuensi Responden Berdasarkan pekerjaan Ibu di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada Tanggal 30 Mei – 1 Juni 2017, menunjukkan bahwa dari 36 responden sebagian besar sejumlah 25 (69,4%) bekerja sebagai ibu rumah tangga dan berdasarkan tabulasi silang antara pekerjaan ibu dengan perawatan bayi menunjukkan bahwa dari 25 responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga hampir dari setengah responden melakukan perawatan bayi dengan baik sejumlah 15 (41,7%).
Menurut peneliti, ibu rumah tangga kurang berinteraksi dengan orang lain karena mempunyai tanggungan pekerjaan rumah, tetapi ibu rumah tangga lebih mempunyai banyak waktu untuk memperhatikan bayinya dan merawat bayinya dengan baik. Sedangkan Ibu yang memiliki pekerjaan akan lebih mudah mendapatkan informasi dari luar dan mempunyai kesempatan untuk tukar pikiran dengan rekan kerjanya yang mempunyai pengetahuan yang berbeda sehingga akan lebih
mudah mendapatkan informasi dan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi.
Menurut Notoatmodjo (2010) pekerjaan adalah serangkaian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan atau diselesaikan oleh seseorang sesuai dengan jabatan atau profesi masing-masing. Status pekerjaan yang rendah sering mempengaruhi motivasi seseorang. Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Faktor keempat yang mempengaruhi perawatan bayi adalah penghasilan. Berdasarkan tabel 5.5 Distribusi frekuensi Responden Berdasarkan Penghasilan di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada tanggal 30 Mei – 1 Juni 2017 menunjukkan bahwa dari 36 responden, sebagian besar responden sejumlah 20 (55,6%) berpenghasilan ≥ Rp. 2.000.000 dan berdasarkan tabulasi silang antara penghasilan dengan perawatan bayi menunjukkan bahwa dari 15 responden yang mempunyai penghasilan ≥ Rp. 2.000.000 hampir dari setengah responden melakukan perawatan bayi dengan baik yaitu sejumlah 13 (36,1%).
Menurut peneliti, penghasilan ≥ Rp 2.000.000 merupakan ekonomi baik karena lebih dari UMR Kabupaten Jombang. Penghasilan bisa mempengaruhi masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Seperti membeli atau tidak membeli kosmetik bayi untuk mendukung perawatan bayi yang baik karena keadaan ekonomi masyarakat berbeda-beda. Jika masyarakat merasa ekonominya
pas-pasan maka masyarakat akan ragu untuk membeli kebutuhan bayinya karena kekhawatiran mereka akan kecukupan biaya hidup.
Menurut Notoadmojo (2010), apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal-hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga atau usaha yang kurang maju, maka cenderung mempersempit minat mereka.
5.2.2 Kejadian dermatitis
Hasil penelitian menunjukkan kejadian dermatitis dari 36 responden dengan menggunakan lembar observasi sebanyak 5 soal berupa pernyataan, pada tabel 5.9 Distribusi frekuensi Kejadian Dermatitis di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami dermatitis yaitu sejumlah 22 responden (61,1%).
Faktor yang mempengaruhi kejadian dermatitis adalah umur bayi. Berdasarkan tabel 5.1 Distribusi frekuensi Responden Berdasarkan Umur Bayi di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten jombang pada Tanggal 30 Mei – 1 Juni 2017 menunjukkan bahwa dari 36 responden, sebagian besar responden sejumlah 24 (66,7%) berumur 29 hari – 12 bulan dan berdasarkan tabulasi silang antara umur bayi dengan kejadian dermatitis menunjukkan bahwa dari 24 responden yang berusia 29 hari – 12 bulan hampir dari setengah responden tidak terjadi dermatitis sejumlah 14 responden (38,9%).
Menurut peneliti, semakin bertambahnya umur bayi keutuhan kulit sudah semakin baik sehingga fungsinya sebagai pelindung semakin baik sehingga kuman akan sulit masuk kedalam kulit dan jika umur bayi semakin muda maka kulit bayi tersebut masih tipis sehingga kuman akan mudah masuk kedalam kulit.
Menurut Ardhiyanti (2014) perubahan kulit dapat ditentukan oleh usia seseorang. Hal ini terlihat pada bayi yang usianya relatif muda dengan kondisi kulit yang sangat rawan terhadap berbagai trauma atau masuknya kuman.
5.2.3 Hubungan perawatan bayi dengan kejadian dermatitis
Berdasarkan tabel 5.10 Distribusi frekuensi Tabulasi Silang Hubungan Perawatan Bayi dengan Kejadian Dermatitis di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang pada Tanggal 30 Mei – 1 Juni 2017, menunjukkan bahwa dari 36 responden, sebagian besar responden yang perawatan bayinya baik dan tidak terjadi dermatitis sejumlah 19 responden (52,8%).
Berdasarkan hasil analisa menggunakan uji Chi Square dengan bantuan SPSS for windows 16 didapatkan bahwa hasil dari perhitungan
p value adalah 0,000 < α (0,05) maka H1 diterima artinya ada hubungan
perawatan bayi dengan kejadian dermatitis di Desa Badas Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.
Menurut peneliti, perawatan bayi yang baik seperti menghindari pakaian dan kain kasar, menggunakan pelembab (baby lotion/baby oil), menghindari pemakaian bedak yang berlebihan, menghindari
penggunaan sabun orang dewasa, menghindari mandi yang terlalu sering, dan mengganti popok sesering mungkin tidak akan mengakibatkan kejadian dermatitis pada bayi karena dengan melakukan perawatan bayi dengan baik maka kesehatan kulit bayi akan terjaga dan terhindar dari berbagai macam penyakit. Menurut Abdullah (2007), penyebab terjadinya dermatitis adalah kulit yang mengalami kekeringan berat, aktivitas menggaruk pada pruritas secara terus-menerus yang menyebabkan iritasi, penggunaan popok sekali pakai, penggunaan pakaian dan kain bayi yang kasar, penggunaan sabun yang berlebihan dan terlalu keras sifatnya, dan penggunaan bedak bayi yang berlebihan dan terlalu keras sifatnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2013) dengan judul “Hubungan Perawatan Perianal Bayi dengan Dermatitis diapers Pada bayi usia 0-6 bulan yang Menggunakan Diaper di Wilayah Kelurahan Ketawanggede Malang”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu/pengasuh di Wilayah Kelurahan Ketawanggede Malang sebagian besar (71,4%) melakukan perwatan perianal bayi tidak sesuai dan bayi mengalami dermatitis diapers sebanyak 16,1%. Hasil uji Chi-Square (r= -0.277 dengan p=0.038) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perawatan perianal bayi dengan kejadian dermatitis diapers pada bayi usia 0-6 bulan yang menggunakan diapers.
Penelitian yang dilakukan oleh Qoric Fatmawati (2012) dengan judul “Pengetahuan Ibu Tentang Dermatitis Pada Bayi di Pustu Pengampon Desa Pengampon Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang”.
Pengolahan data disajikan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa (36,8%) ibu yang memiliki bayi mengetahui tentang dermatitis pada bayi, sementara itu (63,1%) ibu yang memiliki bayi belum mengetahui tentang dermatitis pada bayi.
Penelitian yang dilakukan oleh Selvy (2014) dengan judul “Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis pada Bayi Studi di Desa Trawasan Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif, dengan populasi seluruh ibu yang memiliki bayi yang mengalami dermatitis kontak di Desa Trawasan Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang. Sampelnya sebanyak 38 orang menggunakan teknik total sampling, kriteria ibu yang memiliki bayi yang mengalami dermatitis kontak yang bersedia menjadi responden. Instrumen penelitian adalah kuesioner, pengolahan data terdiri dari proses editing,
coding, scoring, dan tabulating, kemudian membuat tabel distribusi
frekuensi karakteristik responden dan dikriteriakan menjadi positif dan negatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi dermatitis pada bayi yaitu lingkungan positif (21%) dan lingkungan negatif (79%).
57