• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Para suster Junior Canossian sebagian besar memiliki tingkat aktualisasi diri sedang. Tingkat aktualisasi diri yang menunjukkan hasil sedang ini menyatakan perlunya ditingkatkannya proses aktualisasi diri para Suster Junior Canossian untuk sampai pada tingkat proses aktualisasi tinggi. Berdasarkan beberapa teori pada bab II, aktualisasi diri dipengaruhi beberapa faktor diantaranya kebutuhan fisiologi, pengalaman masa kanak-kanak, lingkungan, kurangnya orientasi nilai, kurangnya pengenalan diri, dan kebutuhan akan rasa aman. Hasil ini dapat disebabkan oleh banyaknya perbedaan yang dimiliki para junior yang menjadi latar belakang diperolehnya tingkat aktualisasi diri. Tidak semua junior memiliki latar belakang yang sama dalam hal peningkatan aktualisasi diri.

Pencapaian hasil yang perlu diperhatikan adalah pada aspek Kreatif, Otonom, Keseimbangan Diri, Kematangan Berelasi, dan Fleksibel. Kelima aspek dari aktualisasi diri tersebut merupakan aspek yang perlu mendapat perhatian karena memperoleh pencapaian skor yang tidak terlalu tinggi.

Pencapaian skor paling rendah pada aspek Kreatif dapat dikaitkan dengan dengan kecenderungan responden yang lebih memilih hal-hal praktis saja, tidak menyukai hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang berupa tantangan dan bersifat kompleks/rumit. Kecenderungan ini dapat pula berhubungan dengan menghindarnya responden dari partisipasi dalam pengalaman-pengalaman yang tidak menarik hatinya.

Penyebab minimalisnya kreativitas yang dimiliki seseorang dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti, lingkungan sekitar yang mempengaruhi kepercayaan diri atau konsep diri responden tersebut dalam berkreasi, keengganan untuk keluar dari kenyamanan diri sendiri, lemahnya nilai yang menggerakkan atau mendorong lahirnya kreativitas secara khusus dalam memberikan yang terbaik untuk orang lain, atau bisa jadi kurangnya pengenalan diri terhadap kemampuan atau talenta yang dimiliki oleh responden sendiri. Selain lingkungan dan penyesuaian dengan diri, pengalaman masa kanak-kanak juga mempengaruhi aktualisasi diri responden. Kreativitas seorang anak yang dihargai oleh orang tua dan orang disekitarnya akan menumbuhkan semangat untuk terus mengembangkan kemampuan dirinya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Anak yang selalu atau sering dicela, tidak akan berani mengungkapkan atau mengekspresikan kemampuan dirinya dalam berkreasi.

Aspek kedua adalah otonom. Lemahnya otonom seseorang dapat dipengaruhi pula oleh lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Kemandirian seseorang dalam mengambil keputusan dan sikap dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Tekanan dari lingkungan mampu mempengaruhi seseorang dalam bertindak atau bertingkah laku. Selain itu pengalaman masa kanak-kanak dalam didikan orang tua juga sangat mempengaruhi sikap otonom seseorang. Anak yang terlalu dilindungi (over protective) akan lemah dalam memutuskan sesuatu. Ia akan bergantung pada orang tuanya. Anak yang diberi kebebasan dalam mengembangkan diri akan memiliki sikap otonom yang baik. Anak perlu didorong untuk mengadakan pilihan bebas secara otonom, yang sedikit demi

sedikit bertumbuh semangat otonom untuk menentukan pilihan dan sikap dalam hidup (Naisaban, 2000 : 119). Kesalahan tidak menjadikan anak untuk jera atau merasa bersalah karena sikap orang tua yang menerima, menghargai dan memberi dukungan (positif regard).

Subjek/responden yang memiliki kualitas otonom diri yang rendah akan sering ‘menempelkan’ pula pendapatnya pada pendapat orang lain yang dianggap lebih bijaksana atau lebih tahu segalanya, tidak berani mengeluarkan pendapat pribadinya secara langsung, berani bicara bila berada di belakang orang lain, dan tidak mau menanggung resiko salah atau malu. Keadaan ini juga merupakan keadaan dari sebuah pribadi yang tidak mau keluar dari zona nyamannya untuk berproses dan bertumbuh dalam segi aktualisasi diri.

Aspek keseimbangan diri dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegang oleh individu atau subjek. Skor pada Aspek Keseimbangan diri menunjukkan perlunya para responden perlu meningkatkan keseimbangan diri yang meliputi fisik, psikis, rohani, intelegensi, dan juga sosial.

Nilai menuntun seseorang untuk berpikir, memutuskan, dan bertingkah laku. Selain itu kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun sosial menentukan nilai yang dianut. Pengenalan diri memerlukan juga nilai-nilai sebagai pendorong untuk menuju pada pengembangan diri pribadi. Pengenalan diri yang baik dan juga menyatu secara harmonis akan menghasilkan pribadi yang utuh dan memiliki kadar konflik yang rendah di dalam dirinya.

kemampuan berelasi dengan baik dapat disebabkan oleh pengaruh dari lingkungan awal masa hidupnya, pengalaman masa kanak-kanak yang mendapat kesempatan untuk bersosialisasi dengan orang lain dalam pergaulan, pengenalan diri yang baik termasuk dalam mengolah emosi dan menghadapi konflik, dan juga orientasi nilai yang dimiliki dan dihayatinya. Kemampuan berelasi dapat dihambat oleh kepercayaan diri yang kurang, pengalaman masa lalu yang kurang baik, situasi lingkungan yang kurang mendukung untuk seorang pribadi bertumbuh dalam berelasi, ketakutan-ketakutan atau prasangka-prasangka yang tidak membuat seorang pribadi tidak bebas dalam berelasi, motivasi-motivasi tertentu yang membuat relasi menjadi tidak dewasa misalnya mencari keuntungan pribadi saja, dan juga nilai-nilai hidup atau nilai moral dan nilai agama kurang dijadikan landasan untuk membina relasi yang tulus murni dengan orang lain terutama sebagai seorang religius.

Berelasi dengan orang lain membawa pula resiko positif dan negatif. Kebersamaan beberapa orang seringkali melahirkan konflik. Konflik yang terjadi dapat dipakai sebagai sarana untuk bertumbuh dalam kepribadian dan berelasi dengan orang lain, namun bila dihadapi dengan cara yang kurang tepat atau bersikap tidak dewasa, maka kemampuan berelasi dapat menghambat diri sendiri dan juga orang lain untuk bertumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Aspek kelima adalah fleksibel. Aspek ini juga perlu juga mendapat perhatian dalam program pembinaan para suster junior. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan situasi atau peristiwa apapun dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya terutama lingkungan sosial dan kemampuannya

bersosialisasi. Seorang individu yang merasa diri berharga dalam semua syarat akan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru dan bersikap bebas tanpa ada pemikiran terancam terlebih bila berhubungan dengan lingkungan di luar dirinya.

Kemampuan bersosialisasi lahir dari proses pengembangan kepercayaan diri, penerimaan dalam keluarga, dan juga nilai-nilai yang dipegang atau yang masih diperjuangkan seperti nilai mencintai sesama. Kemampuan adaptasi dengan situasi baru perlu didukung oleh kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, penambahaan wawasan melalui berbagai macam cara mengenai situasi atau orang-orang yang baru tersebut, keberanian memulai sesuatu hal yang baru, dan juga meningkatkan kemampuan diri, kreativitas, fleksibilitas, dan kerendahan hati untuk bertanya dan mempelajari segala hal yang baru tersebut. Faktor lingkungan menjadi sangat menentukan bagi fleksibilitas seseorang karena berhubungan dengan penyesuaian diri baik secara fisik maupun psikis demi perkembangan diri dan karya yang dipercayakan.

Berdasarkan perolehan pada tabel data umur, lamanya profesi, karya dan juga skor yang diperoleh para Suster Junior Canossian di Indonesia, menunjukkan suatu tambahan kesimpulan.

Tabel 6 Data Responden dan Skor Tingkat Aktualisasi Diri Subjek Umur Lama

Profesi/Kaul Karya Skor 1 26 1 Pastoral 262 2 45 6 Mengajar 245 3 27 4 Pastoral, mengajar 231 4 34 5 Ekonom, mengajar 267 5 25 1 Pastoral 246 6 28 1 Rumah retret 237

7 25 1 Rumah tangga biara & Rumah retret, studi

266 8 26 3 Studi 277 9 26 1 Pastoral, retret/rekoleksi 249 10 30 2 Mengajar 250 11 28 3 Mengajar 257 12 26 2 Studi 232 13 26 3 Studi 269 14 33 4 Studi 210 15 28 5 Studi 266 16 29 3 Studi 270 17 27 3 Studi 246 18 28 4 Studi 242 19 31 3 Pastoral, mengajar 217 20 25 3 Pastoral, studi 246 21 25 2 Studi 291 22 28 2 Studi 248 23 26 3 Studi 252 24 27 4 Studi 251 25 27 4 Studi 261 26 30 5 Studi 251 27 29 4 Studi 261 28 27 3 Studi 255 29 34 2 Studi 239 30 35 6 Studi 277

Berdasarkan tabel data di atas tampak bahwa umur, lamanya profesi, dan jenis karya tidak mempunyai pengaruh yang besar terhadap jumlah skor. Ini menunjukkan pula bahwa aktualisasi diri suster junior tidak dipengaruhi oleh tingkat umur/usia, lamanya profesi/kaul, dan jenis karya yang sedang ditangani.

Bertolak dari hasil kesimpulan berdasarkan skor dari kuesioner para Suster Junior Canossian yang telah diuraikan di atas, maka dalam skripsi ini diusulkan aspek-aspek aktualisasi diri yang perlu mendapat perhatian dari tim Pembina dan

program-program yang dapat membantu meningkatkan aktualisasi diri para suster junior.

Dokumen terkait