BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Berdasar pada hasil uji hipotesis yang telah dilakukan di atas, peneliti
menerima hipotesis alternatif (ha) yang menyatakan ada hubungan yang positif
antara kedalaman komunikasi interpersonal dan kedalaman modeling. Artinya
adalah semakin mendalam komunikasi interpersonal yang ada antara anggota
biara dengan pemimpinnya dapat diprediksikan akan mendalam pula
modelingnya. Demikian juga sebaliknya, semakin dangkal komunikasi interpersonalnya, dapat diperkirakan pula akan diikuti dengan perilaku modeling
pada taraf yang dangkal para anggotanya.
Dengan melihat nilai korelasi positif ini, kita dapat melihat peran atau
sumbangan variabel kedalaman komunikasi interpersonal bagi terciptanya
interpersonal yang mendalam memungkinkan seseorang menaruh kepercayaan
yang tinggi dan cenderung memiliki persepsi positif terhadap lawan bicaranya.
Demikian juga dalam kehidupan biara, anggota biara yang semakin memiliki
kedalaman komunikasi interpersonal dengan pemimpinnya, membuat dia semakin
percaya dan merasa bahwa pemimpinnya dapat mengerti apa adanya, dan dirinya
akan semakin berani pula mengungkapkan isi hatinya. Dengan keterbukaan dan
penerimaan yang penuh dari pemimpin biara, anggota biara akan dengan mudah
memahami dan akhirnya menerima berbagai gagasan yang disampaikan
pemimpinnya itu. Dalam konteks kehidupan biara, penyampaian berbagai gagasan
dilihat sebagai salah satu bagian dalam proses formatio karena menyangkut
berbagai segi kehidupan anggota biara, baik fisik, pskologis, maupun
kerohaniannya. Dengan adanya proses belajar lewat peniruan berbagai macam
gagasan dan perilaku semacam itulah anggota biara dapat mengubah dan
mengembangkan belajar, mengembangkan wawasan, pengetahuan, dan
kepribadiannya untuk menjadi seorang biarawan atau biarawati seperti yang
diharapkan oleh tarekatnya.
Pada sisi lain, komunikasi interpersonal yang mendalam menyaratkan
adanya kesediaan untuk menerima anggota biara apa adanya sehingga
memunculkan persepsi yang positif terhadap pemimpinnya. Persepsi yang positif
terhadap pemimpin inilah yang memiliki peran untuk memunculkan modeling atas
pemimpinnya itu. Anggota biara yang memberikan penilaian positif terhadap
pemimpinnya memiliki peluang untuk menjadikan pemimpinnya itu sebagai
yang lama untuk memulai meniru yang lebih baik dari modelnya. Dengan kata
lain, semakin baik penilaian anggota biara terhadap pemimpin biara semakin
mudah pemimpin itu mengubah sikap anggotanya karena dalam situasi seperti ini
pemimpin biara memiliki nilai positif yang semakin besar.
Mengingat perilaku modeling adalah sarana belajar bagi para anggota
biara dalam kerangka proses formatio, pemimpin biara sudah seharusnya
senantiasa mengusahakan memberikan berbagai teladan yang baik bagi mereka.
Hal ini perlu ditekankan karena tidak menutup kemungkinan anggota biara juga
memodelkan pemimpinnya atas beberapa perilaku yang mungkin tidak sesuai
dengan cita-cita proses formatio, entah anggota itu sadar atau tidak bahwa yang
dimodeling sebenarnya kurang tepat, misalnya pemimpin yang justru menutup diri
apabila sedang memiliki masalah yang berat, atau anggota menganggap perilaku
sering terlambat adalah sesuatu yang sangat wajar, dan lain sebagainya.
Kesadaran ini perlu juga dimengerti para pemimpin biara agar mereka senantiasa
mengusahakan kepemimpinan yang baik lewat perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari sehingga para anggota biara tidak mencontoh hal-hal yang tidak tepat
dari pemimpinnya akibat pemimpin mereka melakukan hal yang tidak tepat itu.
Meskipun penelitian ini menemukan adanya korelasi positif yang
signifikan antara kedalaman komunikasi interpersonal dam kedalaman modeling,
namun secara lebih jauh tampak bahwa sumbangan efektif atau peran variabel
kedalaman komunikasi interpersonal terhadap kedalaman modeling relatif rendah.
Hal ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan, pertama kemungkinan karena
bagi terbentuknya perilaku modeling yang mendalam. Beberapa variabel tersebut
antara lain usia, status sosial, seks, kemampuan, kekuasaan yang dimiliki, dan
memiliki sifat-sifat lain yang menarik. Mungkin saja terjadi bahwa pemimpin
biara yang kurang begitu akrab atau kurang mendalam komunikasi
interpersonalnya dengan anggota, dijadikan model bagi para anggotanya karena
sikapnya yang tegas. Demikian juga dapat terjadi dimana pemimpin biara yang
sungguh-sungguh memiliki kewibawaan, cenderung akan dihormati dan disegani
sehingga dapat pula dijadikan model dalam pengolahan panggilan bagi
anggotanya meskipun komunikasi interpersonal yang dimiliki pemimpinnya itu
pada taraf yang biasa saja. Kemungkinan kedua adalah adanya kedekatan
konstruk antara variabel kedalaman komunikasi interpersonal dan kedalaman
modeling. Kedekatan dua kontrsuk semacam ini kemungkinan membuar responden tidak secara maksimal dalam membuat pembedaan isi masing-masing
aitem yang di dalamnya sebenarnya berisi karakteristik yang ingin diteliti
sehingga hasil korelasi cukup tinggi namun peran variabel independen terhadap
variabel bebas cenderung rendah. Kemungkinan yang ketiga adalah dalam hal
metodologi penelitiannya. Kesamaan alat ukur dalam penelitian ini juga
memungkinkan munculnya persepsi responden untuk menjawab dalam kerangka
berpikir yang sama, sebab dua skala dalam penelitian ini ditempatkan dalam satu
bentuk. Dari berbagai kemungkinan itu, peneliti dapat melihat adanya faktor-
faktor lain yang bisa saja turut berpengaruh terhadap hasil penelitian ini .
Pada tabel data deskripsi penelitian, dapat dilihat bahwa skor rata-rata
5,00. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum subyek penelitian sudah memiliki komunikasi interpersonal pada taraf yang cukup mendalam, meskipun dalam fakta
hasil penelitian apabila kita lihat secara individual ada beberapa anggota yang
masih dalam taraf sedanag. Ini berarti bahwa komunikasi yang dibangun oleh
subyek penelitian memang telah cukup menyentuh unsur keterbukaan, kejujuran,
dan kepercayaan yang baik terhadap para pemimpinnya. Komunikasi mereka
tidak hanya terbatas pada hal-hal yang menyangkut di luar dirinya, melainkan
sudah melibatakan perasaannya yang cukup mendalam atau hal-hal yang
menyangkut rahasia pribadinya.
Hal yang hampir sama juga terlihat pada variabel kedalaman modeling
Skor rata-rata empiris subyek penelitian ternyata lebih besar dari rata-rata
teoritisnya. Skor empiris sebesar 6,53, sedangkan teoritisnya 4,65. Ini berarti bahwa subyek sudah cukup mendalam dalam melakukan perilaku modelingnya.
Mereka tidak hanya semata-mata meniru pemimpin di biara mereka sebatas pada
hal-hal yang dangkal seperti perilaku yang nampak sehari-hari, gagasan-gagasan
atas kejadian di luar biara, atau peniruan yang hanya berdasar pada prinsip reward
– punishment melainkan juga telah mencapai pada nilai-nilai yang dicoba ditanamkan oleh pemimpin di biara mereka. Dengan mendalamnya modeling yang
mereka lakukan, berarti para anggota biara telah melakukan proses belajar seperti
yang diharapkan oleh ordo atau kongregasi mereka melalui pemimpin biara, sebab
lewat pemimpin biaralah ordo atau kongregasi menampakkan dirinya dalam
rangka memberikan bagi para anggotanya. Dari pemimpin biaralah, banyak hal
baik perlaku, cara berpikir, sampai dengan spiritualitas hidup atau semangat yang
akan dihidupi.
Data menunjukkan bahwa mean empiris yang lebih tinggi dari pada mean
teoretis pada kedua variabel penelitian, baik variabel kedalaman komunikasi
interpersonal dan kedalaman modeling, Hasil ini memberikan gambaran kepada
kita bahwa secara umum responden sudah memenuhi tuntutan dari proses
formatio yang sedang dan masih akan berjalan. Mereka telah memenuhi harapan masing-masing ordo atau kongregasi yaitu dapat berkomunikasi secara terbuka
dan jujur kepada pemimpin mereka serta mau belajar tentang nilai-nilai