BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Dari pemaparan di atas dijelaskan bahwa antara subjek dengan sahabatnya saling melakukan proses pencapaian dalam berafiliasiyang disebut dengan motivasi berafiliasi. Hal tersebut dilakukan subjek dengan sahabatnya di tempat mereka nongkrong bareng yaitu tempat cafe, subjek sengaja mengajak sahabatnya tersebut untuk memenuhi motivasi berafiliasinya salah satunya agar tersampaikannya rasa rindu karena tidak berjumpa secara tatap muka dalam waktu yang cukup lama, namun banyak hal lainnya yang membuat subjek mengajak sahabatnya menongkrong di
88
sebuah cafe guna melakukan proses afiliasi dengan pencapaian tujuan yang diinginkan sesuai kebutuhan subjek bersama sahabatnya saat itu.
Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga subjek yang menyebutkan bahwa antara subjek dengan sahabatnya saling mencurahkan kasih sayang satu sama lain dengan bentuk memberikan perhatian,kemudian saling menghargai, saling mendukung satu sama lain, saling terikat antar keduanya dalam hal pengambilan keputusan, saling percaya dan saling membutuhkan dalam berbagai hal. Selain menjaga hubungan persahabatnnya yang dilakukan di tempat cafe untuk mengisi waktu luang, subjek juga melakukan proses motivasi berafiliasinya melalui via telefon sebagai proses dalam melakukan komunikasi secara tidak langsung. Saling memberikan kabar satu sama lain dan memberikan perhatian sebagai mana yang dituturkan oleh salah satu subjek penelitian berikut “Ya kayak pas ultahlah, ngasih kado..., ngasih kejutan, ngasih kata selamatlah seperti itu”.
Dengan kata lain melakukan proses pencapaian dalam berafiliasi antara individu dengan individu lainnya bisa dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai media, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena dalam berafiliasi antar perseorangan banyak kebutuhan yang ingin dicapai dan dalam mencapai keinginan tersebut bisa dilakukan dengan berbagai media canggih yang sangat mendukung saat ini dan tidak mempersulit proses pencapaian kebutuhan berafiliasi seseorang.
Pemenuhan kebutuhan berafiliasi tersebut terjadi karena sahabat ketiga subjek juga memiliki motif berafiliasi yang sama dengan tujuan ingin
89
tercapainya kebutuhan afeksi yang diinginkan, hal itu menjadikan motif berafiliasinya tumbuh aktif sehingga menjadimotivasi berafiliasi dan dalam hal ini kebutuhan berafiliasinyadapat terpenuhi sesuai dengan yang diharapkan. Namun jika hanya satu pihak saja yang memiliki dorongan berafiliasi yang tinggi sedang pihak lainnya rendah dalam berafiliasi maka pemenuhan kebutuhan berafiliasi tersebut tidak akan terjadi dengan kata lain motif berafiliasi tersebut menjadi tidak aktif dan tidak berkembang.
Jika mengaca pada 5 tingkat kebutuhan manusia oleh Maslow yakni mengenai kebutuhan dasar yang bersifat fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan cinta, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri maka yang sama dengan acuan teori yang digunakan penelitian ini adalah pada kebutuhan akan cinta dan penghargaan yang sesuai dengan kriteria motif berafiliasi milik Mc Clelland.
Berdasarkan pada teori Mc Clelland (dalam Ulfah, t.t) yang mendefinisikan motif afiliasi sebagai keinginan untuk meluangkan waktu dalam aktivitas dan hubungan sosial. Keinginan tersebut merupakan keinginan dasar untuk membentuk dan mempertahankan beberapa hubungan antarpribadi yang penting, positif dan bertahan lama. Begitu juga dengan motivasi berafiliasi yang terjadi pada seseorang bahwa Individu yang memiliki motivasiberafiliasi yang tinggi cenderung menghabiskan lebih banyak waktunya untuk mempertahankan hubungan sosial, bergabung dengan kelompok-kelompok, dan selalu ingin dicintai. Hal tersebut juga tercermin pada kegiatan berafiliasi ketiga subjek penelitian dengan menjaga
90
keharmonisan hubungan persahabatannya kemudian mengembangkan
hubungan sosial dalam hal berinteraksi serta membina dengan baik hubungan interpersonalnya yang melibatkan perasaan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan juga pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa ketiga subjek penelitian sama-sama memiliki motif berafiliasi yang tinggi, tingginya motif berafiliasi tersebut dapat diukur melalui dorongan atau keinginan yang ada pada tiap subjek penelitian dalam hal menjalin hubungan dengan sahabat, dorongan dalam membina suatu hubungan yang
dekat dan harmonis, dorongan dalam hal memulihkan hubungan
persahabatannya dan dorongan untuk bersosialisasi serta berinteraksi secara dekat dengan sahabat.Dorongan tersebut menghasilkan suatu proses pencapaian yang disebut dengan motivasi berafiliasi. Pada penelitian ini motivasiberafiliasi pada subjek dewasa awal dengan rentan usia 20 hingga 30 tahun menjadikan sebuah cafe sebagai salah satu tempat dalam mencurahkan atau menyalurkan dorongan berafiliasinya.
Hasil wawancara di lapangan ditemukan bahwa antara subjek dengan sahabatnya saling mengungkapkan motivasi berafiliasinya melalui sikap saling terbuka, saling melibatkan satu sama lain dalam hal pengambilan keputusan, saling membutuhkan dan banyak hal lain yang saling bersinergi. Untuk itu dalam mengungkapkan motivasi berafiliasinya subjek penelitian melakukan proses tersebut secara langsung maupun tidak langsung.Dengan begitu motif afiliasi disinimerupakan dasar dalam hubungan yang afektif
92
antara subjek penelitian dengan sahabatnya, kemudian berkembang menjadi motivasi berafiliasikarena terdapat proses pencapaiandari suatu dorongan atau motifuntuk berafiliasi dengan sahabat.
B. Saran
Sebagai akhir dari laporan penelitian ini, akan disampaikan atau direkomendasi yang ditujukan untuk:
1. Para peneliti selanjutnya; disarankan untuk waktu melakukan penelitiandiperbanyak lagi dan lebih dikembangkan lagi terkait dengan judul penelitian yang sudah ada.
2. Bagi dewasa awal yang suka menongkrong dicafe sebagai bentuk dari pemenuhan afeksinya dengan orang-orang terdekat dikhawatirkan akan menjadi ketergantungan jika afeksi tersebut tidak dikontrol dengan baik dan akan berimbas pada gaya hidup yang hanya memilih tempat cafe sebagai pemenuhannya dalam berafiiasi, hal tersebut menjadi tidak baik dan merusak moral seseorang jika terus ingin nongkrong dengan dalih untuk pemenuhan afiliasinya tersebut, padahal berafiliasi dengan orang terdekat tidak harus nongkrong di tempat cafe.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. 2002.Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Ahmadi, A. 1999.Psikologi Sosial.Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Ali, M.. 1987.Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa
Arikunto, S. 2006.Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Aryana,A.P. Studi KorelasiMotif Afiliasi Dan Motif BerprestasiDengan Prestasi Akademik Pada Siswa Kelas 2 Smu Pangudi Luhur ’Van Lith’Muntilan. Fakultas Psikologi. Universitas Widya Mandala Madiun.
Aulia, M. 2010. Hubungan Antara Kebutuhan Afiliasi Dengan Kecanduan Facebook. Jakarta: Fakultas Psikologi
Baar P.P, Ryan R.M, dkk. 2004. Intrinsic Need Satisfaction: A Motivational Basis Of Performance And Well-Being In Two Work Settings.By: V.H. Winston & Son, Inc. Baron, RA. Dan Byrne. 1984. Social Psychology: Understanding Human Interaction.
Boston: Allyn and Bacon.
Bungin, B. 2001. Metodologi Penelitian Sosial:Format-format penelitian kuantitatif dan kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press.
Chaplin, J. P., Kartini, K. K., 2011. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Creswell, J. W. 2013. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Penterjemah Achmad Fawaid.
Dimyati, N.S. 2009. Komunitas Cafe Sebagai Gaya Hidup. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Friedman, H.S., Schustack M.W. 2008. Kepribadian Teori Klasik Dan Riset Modern Jilid 1. Hal. 320-321, & 376. Penerbit Erlangga: PT. Gelora Aksara Pratama.
Hajaroh, M. Paradigma, Pendekatan Dan Metode Penelitian Fenomenologi.Dosen Program Studi Kebijakan Pendidikan FIP UNY. Bidang Keahlian Penelitian Dan E valuasi Pendidikan.
Hall, C.S dan Lindzey, G. 1995. Psikologi Kepribadian 2: Teori-teori Holistik (Organismik- Fenomenologis). Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Hasrullah. 2012. “Eksistensi Usaha Kafe Di Kota Makassar”. Makassar: Universitas Hasanuddin
✂ ✄
http://www.google.com /25/05/2011. penelitan-fenomenologi.
Hurlock,E.B.1990.Psikologi Perkembangan:Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan(edisi kelima). Jakarta: Erlangga.
Hurlock, E.B. 1994, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga.
Hurlock, E.B. 1996. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.(Terjemahan oleh Istiwidayanti). Jakarta: Erlangga.
Kulsum, U.,Jauhar, M. 2014. Pengantar Psikologi Sosial. Hal. 235-240. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Kusumadewi, D.R., Rachmawati, M.A. 2008. Hubungan Antara Pemenuhan Kebutuhan Berafiliasi Dengan Konformitas Pada Mahasiswa Semester Pertama. Yogyakarta: Fakultas psikologi dan ilmu sosial budaya. Universitas islam indonesia.
Klein, J.D. 2000. Effects of Informal Cooperative Learning and the Affiliation Motive on Achievement, Attitude, and Student Interactions.Contemporary Educational Psychology 25, 332–341. ByAcademic Press
McClelland, D.C. 1985. How Motives, Skills, And Values Determine. What People Do. Harvard University. By: The American Psychological Assosiation.
Mercer, J., Clayton, D. 2012. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. PT. Gelora Aksara Pratama.
Moleong, L.J. 2002.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Monks, F.J. 2001.Psikologi Perkembangan: Batasan Masa Dewasa Awal. Jakarta: Erlagga. Poerwandari, K. 1998. Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta :
Fakultas Psikologi UI
Pribadi, P., dkk. 2011.Motif Afiliasi Pengguna Aktif Facebook. Vol. 6 (2): 50-57.
Santrock.2002.Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup).Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Santrock, J.W. 2007. Remaja, edisi kesebelas. Alih Bahasa: Shinto. B & Saragih. Jakarta: Erlangga.
Smeker, N.J.,Baltes P.B, dkk. 2001. International Encyclopedia Of The Social &Behavioral Sciences. Elsevier Science Ltd.
Smith, J.A., Flowers, Paul., and Larkin. Michael. 2009. Interpretative phenomenological analysis: Theory, method and research. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore, Washington: Sage.
Smith, J.A. (ed.). 2009.Psikologi kualitatif: Panduan praktis metode riset. Terjemahan dari Qualitative Psychology A Practical Guide to Research Method. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
☎ ✆
Suharno, H. 1996.Hubungan antara Motif berafiliasi, Motif Berprestasi dan Motif Berkuasa dengan Disiplin Tata Tertib Sekolah. Tesis (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Pasca SarjanaPsikologi Universitas Gajah Mada.
Susilo,W.H. 2011. Penelitian Kualitatif. Aplikasi Pada Penelitian Ilmu Kesehatan. Penerbit: Susilo & Ivy. Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com
Swenson, D.X. 2000. ”David McClelland’s 3-Need Theory Achievement, Affiliation, Power” dalam www.ccs.edu/users/dswenson/web/LEAD/McClelland.html
Ulfah,T.A.Gaya Hidup Hedonis Pada Mahasiswa Yang MengunjungiTempat Hiburan Malam Ditinjau Dari Motif Afiliasi. Fakultas Psikologi Universitas Semarang.
Wahyudi. Memadukan Motif Sosial Dalam Kehidupan Sehari-hari. dalam
http://www.usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Arah%20Reformasi%20Indonesia/no 3 7november2007/Motif%20Sosial_%20Wahyudi.pdf
Walgito,B. 2002.Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:Andi
Walgito, B. 2004.Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Walgito,B. 2010.Pengantar Psikologi Umum. Hal. 240-253. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Yoseptian. Kebutuhan Afiliasi dan Keterbukaan Diri pada Remaja Pengguna