• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa guru honorer sekolah negeri di Kabupeten Bantul memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi. Selanjutnya, hasil analisis data membuktikan bahwa tingkat kesejahteraan psikologis guru honorer yang dilihat berdasarkan faktor-faktor demografis seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan status pernikahan terbukti tidak berbeda dan tidak berhubungan secara signifikan.

Guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi. Hal ini berarti guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul menjalani kehidupan secara berkualitas dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dan memiliki penilaian positif terhadap segala kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Maka, meskipun jaminan kesejahteraan guru honorer jauh lebih rendah masih ada guru honorer yang merasa sejahtera.

Hasil analisis terhadap perbedaan kesejahteraan psikologis ditinjau dari jenis kelamin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara guru honorer yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hasil ini bertentangan dengan penelitian Ryff dan Singer (dalam Tenggara, dkk, 2008) yang mengungkap bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap adanya perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis secara signifikan pada aspek hubungan positif dengan orang lain dan dimensi pertumbuhan pribadi. Ryff dan Singer (dalam Tenggara, dkk, 2008) mengatakan bahwa wanita menunjukkan angka kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi daripada pria. Sementara keempat aspek kesejahteraan psikologis lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Meskipun demikian, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hutapea Bonar (2011) yang meneliti psychological well-being ditinjau dari jenis kelamin dan menemukan hasil bahwa tidak ada perbedaan di antara perempuan dan laki-laki. Salah satu alasan yang mungkin bahwa

psychological well-being lebih rendah pada perempuan dalam hal penguasaan

terhadap lingkungan, pertumbuhan pribadi, dan relasi yang positif dengan orang lain, namun sebaliknya terkait tujuan dalam hidup dan penerimaan diri. Hal tersebut membuktikan bahwa beberapa penelitian yang ada, melihat perbedaan kesejahteraan psikologis antara laki-laki dan perempuan berdasarkan masing-masing aspek kesejahteraan psikologis. Sedangkan, jika dilihat secara keseluruhan (gabungan dari keenam aspek kesejahteraan

psikologis) ada kemungkinan bahwa tidak terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis yang signifikan antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis ditinjau dari usia. Hasil ini bertentangan dengan penelitian (Ryff; Ryff & Singer, dalam Tenggara, dkk, 2008) yang menyatakan bahwa penguasaan lingkungan dan otonomi menunjukkan peningkatan seiring dengan pertambahan usia (usia 25-39; usia 40-59; usia 60-74). Sedangkan tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi secara jelas menunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, aspek penerimaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain secara signifikan bervariasi berdasarkan usia. Tidak adanya hubungan antara kesejahteraan psikologis dengan faktor usia ini mungkin dikarenakan faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang bukan berapa usia mereka melainkan bagaimana semangat dan keinginan mereka, serta adanya kesehatan yang mereka miliki, sehingga usia tidak menjadi halangan dalam menjalani kehidupan.

Ryff & Singer (1996) mengatakan bahwa tingkat kesejahteraan psikologis meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan seseorang. Tingginya tingkat pendidikan seseorang menunjukkan bahwa individu memiliki faktor pengaman, misalnya uang. Meskipun demikian, hasil analisis terhadap kesejahteraan psikologis ditinjau dari tingkat pendidikan membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis guru honorer dengan tingkat pendidikan. Guru honorer sekolah

negeri yang menjadi subjek penelitian memiliki tingkat pendidikan yang variatif (SMA, D3, S1, S2). Dengan variasi tingkat pendidikan tersebut, mereka memiliki penghasilan sebagai guru honorer yang relatif sama dan tergolong rendah. Bahkan, sangat mungkin guru honorer dengan tingkat pendidikan S2 yang mengajar di sekolah dasar akan mendapatkan penghasilan yang sama dengan guru dengan tingkat pendidikan D3 maupun S1. Meskipun demikian, banyak yang mensyukuri penghasilan yang mereka dapat. Hal tersebut diduga dapat terjadi karena hal yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis bukanlah tingkat pendidikan, melainkan bagaimana subjek merasa penghasilannya cukup untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarganya walaupun kadang mengalami kesulitan namun subjek bisa mengatur ekonominya dengan baik.

Terkait status pernikahan, hasil analisis membuktikan bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis antara guru honorer dengan status belum menikah, menikah tanpa anak, menikah dengan memiliki 1 anak, menikah dengan memiliki 2 anak, dan menikah dengan memiliki lebih dari 2 anak. Salah satu alasan yang mungkin adalah subjek dengan status lajang (belum menikah) dan masih tinggal bersama dengan keluarga mendapatkan dukungan dari keluarga sehingga bisa berbagi saat menghadapi permasalahan. Tidak hanya berasal dari keluarga, dukungan juga hadir dari teman atau sahabat dekat. Dukungan-dukungan yang dimiliki oleh subjek dengan status lajang ini dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis (Susanti, 2012). Hasil ini tampaknya bersesuaian dengan temuan Marks dan Lambert (dalam Ryff,

2013) yang menemukan bahwa perempuan yang tidak menikah menunjukkan skor yang lebih tinggi pada dimensi otonomi dan pertumbuhan pribadi dibandingkan dengan perempuan yang menikah.

Sementara itu, (Ryff, 1989) menyatakan bahwa pernikahan menjadi prediktor yang baik terhadap penerimaan diri dan tujuan hidup. Shapiro dan Keyes (dalam Ryff, 2013) menemukan bahwa perempuan yang bercerai dan tidak menikah menunjukkan tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah dibanding perempuan yang menikah. Kesejahteraan psikologis yang dimiliki oleh subjek yang menikah dan memiliki anak juga sesuai dengan temuan (Lianawati, 2008) yang menemukan bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis berdasarkan jumlah anak pada kelompok suami maupun istri. Ditemukan pula bahwa kelompok pasutri yang tidak atau belum memiliki anak juga memiliki kesejahteraan psikologis tinggi. Barangkali tidak memiliki anak justru memberi lebih banyak waktu luang bagi para pasutri untuk lebih otonom dan mampu menangani aktivitas tanpa perlu dipusingkan oleh urusan anak.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan psikologis guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul dan dieksplorasi berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan status pernikahan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Kesejahteraan psikologis guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul adalah tinggi (M=191,74 > M=150; p=0,000). Ini berarti guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul menjalani kehidupan secara berkualitas dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dan memiliki penilaian positif terhadap segala kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya.

2. Tidak ada perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis antara guru honorer laki-laki dengan guru honorer perempuan (Z= -1.710, p= 0,087).

3. Tidak ada hubungan tingkat kesejahteraan psikologis guru honorer dengan usia (r=-0,044, p= 0,546).

4. Tidak ada hubungan tingkat kesejahteraan psikologis guru honorer dengan tingkat pendidikan (r= -0,043, p= 0,554).

5. Tidak ada perbedaaan tingkat kesejahteraan psikologis guru honorer dilihat berdasarkan status pernikahan (belum menikah, menikah tanpa anak, menikah

dengan memiliki 1 anak, menikah dengan memiliki 2 anak, serta menikah dengan memiliki lebih dari 2 anak) (chi-square= 0,348, p= 0,987).

B. Keterbatasan Penelitian

Penelitian kesejahteraan psikologis guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul memiliki keterbatasan penelitian yakni pengambilan sampel yang hanya menggunakan 13 Kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul yang mengakibatkan tidak semua sampel guru honorer sekolah negeri yang tersebar pada masing-masing Kecamatan di Kabupaten Bantul terlibat dalam penelitian. Selain itu, dalam penelitian ini anggota sampel dipilih berdasarkan kemudahan atau ketersediaan untuk mengaksesnya sehingga mengakibatkan proporsi antara laki-laki dan perempuan, proporsi tingkatan usia, proporsi tingkat pendidikan (SMA, D3, S1, S2), serta proporsi status pernikahan tidak seimbang. Terkait dengan analisis variabel dependen (kesejahteraan psikologis), dalam penelitian ini dimensionalitas alat ukur tidak diperiksa secara empiris sehingga dalam menganalisis dan melihat hasil kesejahteraan psikologis dilihat secara keseluruhan tanpa menguraikan satu per satu aspek kesejahteraan psikologis. Meskipun merupakan skala multidimensional, akan tetapi aspek- aspeknya saling berkorelasi sehingga dalam penggunaannya tidak terpisah-pisah antar aspeknya, tetapi sebagai 6 aspek yang saling berkaitan.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan, serta keterbatasan dari penelitian tentang kesejahteraan psikologis guru honorer yang telah dilakukan, maka peneliti mengajukan saran:

1. Bagi guru honorer sekolah negeri di Kabupaten Bantul

Meskipun jaminan kesejahteraan guru honorer jauh lebih rendah, akan tetapi guru honorer diharapkan tetap menjalani kehidupan secara berkualitas dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dan memiliki penilaian positif terhadap segala kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya. 2. Pemerintah

Meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan psikologis guru honorer sekolah negeri tergolong tinggi, tetapi pemerintah diharapkan untuk mempertimbangkan kesejahteraan yang mengacu pada perasaan adil terhadap kesesuaian imbalan yang diterima atas kinerja yang dilakukan oleh guru honorer.

3. Peneliti selanjutnya

Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian dengan topik kesejahteraan psikologis guru honorer, maka penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya. Peneliti lain yang tertarik dengan fenomena kesejahteraan psikologis guru honorer bisa menghubungkan kesejahteraan psikologis guru honorer dengan variabel-variabel lain. Selain itu dari segi subjek, bisa menggunakan subjek guru honorer yang ada di sekolah swasta dengan memperhatikan proporsi faktor demografis guru honorer.

DAFTAR ACUAN

Carmelo, V., Gonzalo, H., dkk. (2009). Psychological well-being and health. Contributions of positive psychology. Journal of Clinical and Health

Psychology. Vol. 5, 15-27.

Damayanti, N., & Harti (2013). Perbedaan jenis kelamin terhadap minat berwirausaha mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi universitas negeri Surabaya. Jurnal Unesa.

Depdiknas. (2004). Draft Naskah Akademik Sertifikasi Kompetensi Pendidik dan

Tenaga Kependidikan. Jakarta: P2TK Ditjen Dikti.

Dikdas. (2016). Data dan Informasi Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul

Tahun 2016. Bantul: Dinas Pendidikan Dasar.

Djiwandono, S. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Duwi, P. (2014). SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis. Yogyakarta: Andi Offset. Epita, D., N & Utoyo, S., D. (2013). Hubungan antara psychological well-being

dan kepuasan kerja pada pns organisasi pemerintahan di Yogyakarta.

Jurnal Universitas Indonesia.

Fanani, Z., & Aji, B. (2012). Gaji Sebulan Hanya Cukup Dimakan Seminggu. Kedaulatan Rakyat. Diambil tanggal 20 Maret, 2015, dari http://www.Gaji Sebulan Hanya Cukup Dimakan Seminggu - Kedaulatan Rakyat Online Yogyakarta.htm.

Guru, Agen Perubahan Bangsa. (2015). Kompas tanggal 24 November, 2015. Hutapea, Bonar. (2011). Emotional intelegence and psychological well-being pada

manusia lanjut usia anggota organisasi berbasis keagamaan di jakarta.

Jurnal Insan, Vol. 13(2).

Ichwan. (2010). Kenaikan Gaji PNS Tinggal Menunggu PP. Diambil tanggal 12 Mei. 2015, dari https://ichwan15788.wordpress.com/2010/01/08/kenaikan- gaji-pns-tinggal-menunggu-pp/ .

Iriani, F., & Ninawati. (2005). Gambaran kesejahteraan psikologis pada dewasa muda ditinjau dari pola attachment. Jurnal Psikologi, Vol. 3(1).

Kahneman, D., E. Diener., & N. Schwarz. (1999). Well-being: the foundations of hedonic psychology. Russel sage Foundation. New York.

Lianawati, E. (2008). Kesejahteraan psikologis istri ditinjau dari sikap peran gender pada pasutri muslim. Jurnal Psikologi, Vol.2(1).

Mansyurpribadi. (2009). Perlindungan hukum bagi guru. Diambil tanggal 17

Oktober, 2015, dari

http://mansyurpribadi.blogspot.com/2009/12/perlindungan-hukum-bagi- guru.html).

Mulyasa, E. (2006). Menjadi Guru Professional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nurlailiwangi, E., Coralia, F., dkk. (2013). Studi mengenai kesejahteraan psikologis lansia di balai perlindungan sosial tresna werdha (BPSTW) ciparay bandung. Jurnal Psikologi Indonesia, Vol. X(1), 1-6.

Padmawati (2010). Kajian yuridis status hukum tenaga guru honorer pemerintah kota surakarta pada dinas pendidikan pemuda dan olahraga kota surakarta menurut undang-undang nomor 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian. Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Pradono, J., & Sulistyowati, N. (2014). Hubungan antara tingkat pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan lingkungan, perilaku hidup sehat dengan status kesehatan. Studi korelasi pada penduduk umur 10-24 tahun di Jakarta pusat. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Vol. 17(1), 89-95. Putri, A., & Suryadi, D. (2007). Gambaran kesejahteraan psikologis selebriti

menjelang masa lanjut usia: studi pada penyanyi wanita era 60-an. Arkhe,

No. 2, 101-112.

Rachmawati, F., & Nashori, F. (2013). Koping religius dan kebahagiaan psikologis pada lanjut usia. Jurnal Psikologika, Vol. 18(2).

Rajawane, I., & Chairani, L. Hubungan religiusitas dengan kesejahteraan psikologis pada lanjut usia. Jurnal Psikologi, Hal. 47-60.

Rimang, S. (2011). Meraih Predikat Guru dan Dosen Paripurna. Bandung: Alfabeta.

Rusdiana, D., & Fahmi, F. (2015). Upah Guru Honorer Akan Sesuai UMK Dapat Tunjangan Juga. Harian Terbit. Diambil tanggal 20 Maret, 2015, dari http://harianterbit.com/hanterhumaniora/read/2015/01/16/16476/0/40/Upa h-Guru-Honorer-Akan-Sesuai-UMK-Dapat-Tunjangan-Juga.

Ryan, R.M., Huta, V., & Deci, E.L. (2008). Living well: a self-determination theory perspective on eudaimonia. Journal of Happiness Studies, 9, 139- 170.

Ryff, D. Caroll. (1989). Happines is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality Social

Psychology. 56(6), 1069-1081.

Ryff, D. Caroll. (1995). Psychological well-being in adult life. Current Directions

in Psychological Science, 4(4), 99-104.

Ryff, D. Caroll., & Keyes, C.L.M. (1995). The structure of psychological well- being revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69, 719- 727.

Ryff, D. Caroll., & Singer, B. (1998). The contours of positive human health.

Psychological Inquiry, 9, 1-28.

Ryff, D. Caroll. (2013). Psychological well-being revisited: advances in the science and practice of eudaimonia. Psychoter Psychosom, 83, 10-28. Setiawan, H., & Budiningsih, T. (2014). Psychological well-being pada guru

honorer sekolah dasar di kecamatan wonotunggal kabupaten batang.

Jurnal Psikologi Pendidikan, Vol. 3(1).

Suciptoardi. (2010). Pengertian GTT (Guru Tidak Tetap) Sekolah Negeri. Diambil tanggal 17 Oktober, 2015, dari http://suciptoardi- wordpress.com/2010/02/17/pengertian-gtt-guru-tidak-tetap-sekolah-

negeri).

Sugianto, I. R. (2000). Status lajang dan psychological well-being pada pria dan wanita lajang usia 30-40 tahun di Jakarta. Phronesis, Vol. 2(4), 67-76. Sukmadinata, S. (2009). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Sumule, R.P., & Taganing, N.M. (2008). Psychological wellbeing pada guru yang bekerja di yayasan pesat nabire. Depok: Fakultas Psikologi Unoversitas Gunadarma.

Supradewi, R., & Rohmatun. Hubungan antara stres terhadap masa depan dengan perilaku marah pada guru honorer. Proyeksi, Vol. 6(1), 82-88.

Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

Supratiknya, A. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dalam

Susanti. (2012). Hubungan harga diri dan psychological well-being pada wanita lajang ditinjau dari bidang pekerjaan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa

Universitas Surabaya, Vol. 1(1).

Tenggara, H., Zamralita., dkk. (2008). Kepuasan kerja dan kesejahteraan psikologis karyawan. Phronesis Jurnal Ilmiah Psikologi Industri dan

Organisasi, Vol. 10(1), 96-115.

Yudha, S. (2001). Perbandingan tingkat kepuasan kerja antara kelompok guru yang berstatus tetap dan kelompok guru yang berstatus honorer. Jurnal

Phronesis, Vol.3, No. 5.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

LAMPIRAN 1

SKALA KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SEBELUM UJI COBA

SKALA PENELITIAN

Disusun oleh: Fitria 119114106

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2016

PENGANTAR

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Nama : Fitria Nim : 119114106

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/ skripsi, maka saya hendak melaksanakan penelitian terhadap Bapak/ Ibu guru honorer Sekolah Negeri di Kabupaten Bantul. Penelitian ini hanya akan berjalan dengan baik atas bantuan Bapak/ Ibu. Oleh sebab itu, saya memohon kesediaan Bapak/ Ibu untuk mengisi skala berikut dengan cara apa adanya.

Hasil jawaban Bapak/ Ibu hanya akan dipergunakan untuk kepentingan penelitian, sehingga jawaban Bapak/ Ibu akan dijamin kerahasiaannya. Apabila ada hal yang kurang dipahami dapat bertanya langsung kepada peneliti.

Atas perhatian dan kesediaan Bapak/ Ibu dalam penelitian ini saya ucapkan terimakasih.

Hormat saya,

LEMBAR PERNYATAAN KESEDIAAN UNTUK IKUT PENELITIAN

(INFORMED CONSENT)

Setelah membaca penjelasan mengenai penelitian ini, saya bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Seluruh jawaban yang saya berikan pada kuesioner ini sungguh- sungguh sesuai dengan apa yang saya alami.

Yogyakarta,……….2016

( ) Nama lengkap

IDENTITAS DIRI

(Identitas Bapak/ Ibu akan dirahasiakan)

Inisial :

Usia : tahun

Jenis kelamin : ( ) Laki-laki ( ) Perempuan Pendidikan terakhir :

Status pernikahan : ( ) Belum menikah ( ) Menikah, tanpa anak

( ) Menikah, dengan 1 anak ( ) Menikah, dengan 2 anak

( ) Menikah, dengan lebih dari 2 anak, yaitu … Pekerjaan Suami/ Istri :

Honorarium sebagai guru honorer : Rp perbulan Penghasilan keluarga : Rp perbulan

PETUNJUK PENGISIAN

Skala ini terdiri atas 84 butir pernyataan.

1. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama. Kemudian

berikan jawaban Bapak/ Ibu pada lembar jawaban yang sudah disediakan dengan memberikan tanda silang (X) pada kolom yang sudah tersedia, yaitu :

STS : bila “Sangat Tidak Setuju” dengan pernyataan tersebut TS : bila “Tidak Setuju” dengan pernyataan tersebut

S : bila “Setuju” dengan pernyataan tersebut

SS : bila “Sangat Setuju” dengan pernyataan tersebut

2. Bapak /Ibu dimohon mengisi sesuai dengan keadaan yang sebenar- benarnya. Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda namun semua jawaban dianggap BENAR dan tidak ada jawaban yang dianggap SALAH. Jawaban yang paling benar adalah jawaban yang sesuai dengan diri Bapak/ Ibu.

3. Jika Bapak/ Ibu ingin mengganti jawaban, berilah tanda sama dengan (=) pada jawaban yang tidak sesuai lalu berilah tanda (X) pada jawaban yang lebih sesuai dengan diri Bapak/ Ibu.

4. Jawablah semua pernyataan, jangan ada yang terlewati.

No. Pernyataan Pilihan

STS TS ATS AS S SS

No. Pernyataan STS TS S SS 1. Saya mudah bergaul dengan orang lain.

2. Saya merasa sulit membuat perubahan dalam diri saya. 3. Saya mudah terpengaruh oleh penilaian orang lain. 4. Saya cenderung pasrah jika yang saya dapatkan tidak

sesuai dengan harapan.

5. Saya merasa puas dengan apa yang telah saya capai. 6. Saya selalu melaksanakan rencana yang telah saya

tentukan untuk diri saya.

7. Bagi saya hari esok harus lebih baik dari hari ini. 8. Saya bangga dengan diri saya.

9. Saya mampu mengatur keuangan dan mengatasi masalah- masalah saya.

10. Saya tidak menggantungkan hidup saya pada orang lain. 11. Sudah lama saya tidak berusaha melakukan perbaikan

besar dalam hidup.

12. Lebih baik mengurusi diri sendiri daripada mencampuri urusan orang lain.

13. Saya merasa telah menyia-nyiakan banyak waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

14. Saya adalah orang yang memiliki pendirian kuat. 15. Saya menganggap beberapa teman sebagai musuh. 16. Saya memiliki banyak potensi.

17. Saya mampu mengatur pelaksanaan program kerja saya. 18. Saya merasa tidak ada lagi yang akan saya capai dalam

kehidupan saya.

19. Saya kecewa dengan apa yang telah saya capai dalam hidup.

20. Saya mudah terpengaruh pendapat orang lain dalam membuat keputusan.

No. Pernyataan STS TS S SS 21. Saya tidak peduli pada teman yang butuh bantuan saya.

22. Saya merasa sulit mengatur kehidupan saya.

23. Banyak orang lain hanya ingin mengambil keuntungan dari saya.

24. Saya menyadari dan menerima kelebihan dan kekurangan yang saya miliki.

25. Saya menikmati kehidupan yang saya jalani saat ini. 26. Saya merasa optimis dengan masa depan saya. 27. Saya sedih melihat orang yang kesusahan.

28. Saya berani berpendapat meskipun berbeda dengan pendapat orang lain.

29. Saya tidak malu mengakui kelemahan saya.

30. Tuntutan hidup sehari-hari sering membuat saya merasa patah semangat.

31. Selama ini saya hanya melakukan tuntutan orang lain. 32. Saya sering merasa tak berdaya menghadapi masalah di

sekitar saya.

33. Saya malu dengan kekurangan yang saya miliki.

34. Saya bersyukur dengan status saya sebagai guru honorer. 35. Saya memiliki arah dan tujuan hidup.

36. Saya kesulitan menentukan prioritas.

37. Saya adalah orang yang peduli terhadap orang-orang di sekitar saya.

38. Saya mampu memanfaatkan kesempatan secara efektif. 39. Saya merasa kesulitan untuk bersikap terbuka terhadap

orang lain.

40. Saya belajar tentang berbagai hal setiap waktu. 41. Saya tertarik dengan kegiatan yang dapat menambah

No. Pernyataan STS TS S SS 42. Mempelajari hal baru sering hanya terasa menambah

beban.

43. Saya adalah orang yang lemah.

44. Saya takut jika pendapat saya berbeda dengan pendapat orang lain.

45. Saya fokus pada masa sekarang daripada memikirkan masa depan.

46. Kehidupan yang saya jalani saat ini tidak sesuai dengan impian saya.

47. Kebanyakan orang memiliki lebih banyak teman daripada saya.

48. Saya merasa bosan akan kehidupan saya.

49. Saya sering memandang kehidupan orang lain jauh lebih baik dibanding saya.

50. Saya takut mendapatkan teguran karena kesalahan dalam melakukan sesuatu.

51. Saya tidak ragu untuk menyapa orang lain lebih dulu. 52. Saya bersedia menerima kritik dari orang lain untuk

memperbaiki diri saya.

53. Dari pada kena hukuman, lebih baik merubah pemikiran kita.

54. Saya pasrah dengan apa yang akan terjadi dalam hidup saya.

55. Saya sering kesulitan menerima tugas yang tidak sesuai dengan bidang saya.

56. Saya sering merasa ragu terhadap hasil pekerjaan saya. 57. Saya biasa mengerjakan hal-hal penting terlebih dulu. 58. Sulit bagi saya untuk menjawab mengenai visi dan misi

No. Pernyataan STS TS S SS 59. Saya bertindak atas keinginan sendiri, tidak didasarkan

oleh keinginan orang lain.

60. Saya merasa memperoleh banyak hal dari persahabatan saya dengan banyak orang.

61. Masa sekarang dan masa lalu memiliki makna bagi saya. 62. Saya mampu menyelesaikan setiap tugas yang diberikan

kepada saya.

63. Saya dapat mengontrol emosi dan tindakan meskipun saya sedang tertekan.

64. Bagi saya, kehidupan adalah proses belajar, berkembang dan tumbuh secara berkelanjutan.

65. Saya merasa bahagia melihat diri saya sendiri, jika membandingkan dengan teman atau kenalan saya.

66. Saya lebih senang mengambil keputusan sendiri daripada bergantung pada persetujuan orang lain.

67. Saya tidak menyesali apapun yang pernah terjadi di masa lalu.

68. Saya dapat mempercayai teman-teman saya.

69. Tak masalah jika yang saya anggap penting ternyata

Dokumen terkait