BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
F. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai. Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,693 dengan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima. Jadi, ada hubungan positif antara dukungan sosial orangtua dengan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai. Hubungan positif antara dukungan sosial orangtua dengan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai menggambarkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial orangtua yang dimiliki individu, maka semakin positif atau baik penyesuaian diri yang dimiliki.
Penelitian ini menunjukkan kekuatan hubungan yang tergolong kuat, dapat terlihat dari koefisien korelasinya sebesar 0,693. Jika nilai koefisien pearson correlation (rxy) semakin mendekati 1, maka semakin kuat indikasi adanya korelasi (Priyatno, 2012). Hal ini dapat diartikan dukungan sosial orangtua yang diterima memiliki dampak yang cukup besar terhadap proses pengembangan kemampuan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai.
Dukungan sosial memang dapat bersumber dari siapapun, salah satunya adalah orangtua (Sarafino & Smith, 2011). Orangtua merupakan individu yang paling dekat dengan remaja dan salah satu sumber dukungan sosial bagi remaja dalam keluarga. Dukungan sosial orangtua yang diterima remaja dapat membantu remaja untuk melakukan penyesuaian terhadap
perubahan yang terjadi karena perceraian orangtua mereka. Kehadiran dukungan sosial merupakan faktor utama yang menentukan penyesuaian diri individu dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan. Sebaliknya, ketidakhadiran dukungan sosial dapat menimbulkan perasaan kesepian dan kehilangan yang akan menghambat proses penyesuaian diri individu (Caplan dalam Ermayanti & Abdullah, 2007).
Tinggi rendahnya dukungan orangtua akan berkorelasi dengan baik atau buruknya penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai. Melalui dukungan orangtua sebagai salah satu bentuk dukungan sosial orangtua, remaja dapat melakukan penyesuaian yang lebih baik dalam menghadapi perceraian orangtua mereka. Menurut (Sarafino & Smith, 2011) dikatakan bahwa dukungan sosial orangtua yang tinggi pada individu dapat membuat individu memiliki pengalaman hidup yang lebih baik, harga diri yang lebih tinggi, serta memiliki pandangan yang lebih positif terhadap kehidupan dibandingkan individu dengan dukungan sosial yang rendah.
Remaja dengan orangtua bercerai yang menerima dukungan sosial orangtua dapat bermanfaat bagi mereka dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Johnson dan Johnson (1991) yang menyatakan bahwa dukungan sosial berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan penyesuaian diri. Hal tersebut karena dukungan sosial dapat membantu individu menemukan identitas diri yang lebih jelas, meningkatkan harga diri, mengurangi stres, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.
Hasil analisis statistik deskriptif yang dilakukan dalam penelitian ini juga menunjukkan hasil yang sejalan. Pada variabel dukungan sosial, mean empiriknya adalah 209,68 sedangkan mean hipotetiknya adalah 190. Pada variabel penyesuaian diri, mean empiriknya sebesar 198,36 sedangkan mean hipotetik sebesar 179. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan subjek memiliki dukungan sosial orangtua dan penyesuaian diri yang tergolong tinggi. Hal tersebut dikarenakan 44% subjek tinggal bersama ibu. Subjek dalam penelitian ini lebih banyak tinggal bersama dengan ibu kemungkinan dikarenakan kedekatan subjek yang cenderung lebih dekat dengan ibunya. Menurut Karina (2014), seorang ibu dapat memberikan proporsi yang seimbang antara tugas beban sebagai tulang punggung, serta sebagai pencurah kasih sayang. Sehingga, terdapat kemungkinan subjek yang tinggal bersama ibunya merasa tetap mendapatkan dukungan dan kasih sayang yang utuh meskipun orangtua telah bercerai.
Di samping itu, penyesuaian diri yang tinggi pada subjek penelitian ini dikarenakan 68% subjek adalah perempuan. Hal inidikarenakan remaja perempuan lebih menunjukkan penyesuaian diri yang lebih baik dalam menghadapi perceraian orangtua dibandingkan remaja laki-laki. Santrock (2003) mengungkapkan bahwa remaja laki-laki lebih menunjukkan masalah penyesuaian diri dibandingkan remaja perempuan. Selain itu, banyak penelitian telah menyimpulkan bahwa dampak dari perceraian lebih terpengaruh terhadap perilaku remaja laki-laki daripada remaja perempuan (Rice & Dolgin, 2002).
Penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai yang baik dipengaruhi oleh adanya dukungan sosial orangtua. Menurut House (dalam Smet, 1994), ada empat aspek dukungan sosial, yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informasi. Dukungan emosional berupa empati, kepedulian dan perhatian akan timbul keyakinan bahwa individu tersebut dicintai, diterima, dan diperhatikan. Adanya perhatian dari orangtua meskipun orangtua sudah bercerai, adanya empati meskipun orangtua sudah tidak tinggal bersama dapat membuat individu mampu mengontrol emosinya secara baik dan mampu menerima keadaan dirinya sehingga penyusuaian diri remaja baik (Schneiders dalam Indrawati & Fauziah, 2012)
Aspek lain yaitu dukungan penghargaan berupa penghargaan positif, dorongan untuk maju, persetujuan terhadap gagasan atau perasaan individu (House dalam Smet, 1994). Dukungan ini akan membantu remaja yang mengalami perceraian orangtua merasa dihargai, dihormati, dan merasa mendapatkan kepercayaan. Penghargaan dari orangtua membuat individu merasa masih berharga meskipun orangtua telah bercerai. Hal ini membuat remaja terhindar dari mekanisme pertahanan diri sehingga memiliki penyesuaian diri yang baik (Schneiders dalam Indrawati & Fauziah, 2012). Selanjutnya ialah aspek dukungan instrumental yang berupa bantuan langsung, misalnya berupa bantuan finansial atau bantuan berupa tindakan dalam menyelesaikan tugas (House dalam Smet, 1994). Tersedianya fasilitas dan dana yang diberikan orangtua akan membantu remaja untuk mencukupi
kebutuhan-kebutuhannya sehingga penyesuaian diri remaja yang mengalami perceraian orantgua baik, karena terhindar dari perasaan frustrasi dan kecewa karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan (Schneiders dalam Indrawati & Fauziah, 2012).
Aspek yang terakhir adalah dukungan informasi yang berupa saran, nasehat, petunjuk serta informasi yang berharga (House dalam Smet, 1994). Bantuan informasi mampu membuat individu berpikir dan melakukan pertimbangan secara matang dalam memecahkan masalah dan konflik yang dihadapi dan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambil. Ketika individu dapat mengatasi masalah yang dialami, maka individu tersebut dapat belajar dan mampu mengembangkan kualitas dirinya menjadi lebih baik sehingga penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai baik (Schneiders dalam Indrawati & Fauziah, 2012).
Remaja dengan orangtua bercerai yang menerima dukungan sosial orangtua akan merasa lega secara emosional karena mendapatkan perhatian dan saran yang berguna untuk dirinya, serta merasakan kepedulian terhadap dirinya (Sarafino & Smith, 2011). Hal tersebut membuat remaja dengan orangtua bercerai merasa mendapat penerimaan dari orang lain.
Hasil analisis data tambahan mendapati bahwa ada perbedaan kelompok data dukungan sosial orangtua antara status pernikahan orangtua yang menikah dan tidak menikah lagi setelah perceraian. Dari rata-rata dapat dilihat bahwa status pernikahan orangtua yang tidak menikah lagi setelah perceraian merasa memiliki dukungan sosial orangtua yang lebih tinggi
daripada yang menikah lagi. Menurut Rice dan Dolgin (2002), remaja akan merasa cemburu dan marah apabila orangtuanya memulai menjalin hubungan kembali dengan orang lain. Hal ini dikarenakan mereka merasa harus berbagi orangtuanya dengan orang lain. Tugas perkembangan yang dihadapi remaja membuat mereka sulit menerima keberaradaan orangtua tiri (Santrock, 2003). Oleh karena itu, orangtua yang tidak menikah lagi setelah perceraian akan membuat remaja merasa memiliki dukungan sosial orangtua yang lebih tinggi daripada yang menikah lagi karena remaja sulit untuk menerima keberadaan orangtua tiri, sehingga mereka merasa kesepian dan kehilangan.
76 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diuji dalam penelitian ini diterima dengan koefisien korelasi sebesar 0,693 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan dan positif antara dukungan sosial orangtua dengan penyesuaian diri remaja dengan orangtua bercerai. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial orangtua, maka penyesuaian diri juga semakin positif atau baik. Sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial orangtua, maka penyesuaian diri juga semakin negatif atau buruk.
B. Keterbatasan Penelitian
Pada penelitian ini, perbandingan bobot pada masing-masing aspek skala penyesuaian diri terlalu ekstrim sehingga kurang dapat menggambarkan aspek yang diukur dengan baik. Selain itu, subjek penelitian yang berjumlah 50 orang dirasa kurang representatif bagi populasi dari subjek penelitian. Namun, dengan pertimbangan waktu jumlah 50 orang yang didapat peneliti. Kemudian, keterbatasan penelitian ini terletak pada data demografik subjek mengenai status pernikahan orangtua subjek yang menikah dan tidak menikah lagi setelah bercerai yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
C. Saran
1. Bagi Subjek Penelitian
Bagi subjek penelitian disarankan untuk tetap mempertahankan penyesuaian diri yang sudah baik, sehingga dapat mudah menyesuaikan diri dan mampu mengembangkan kepribadian secara optimal.
2. Bagi Orangtua
Meskipun telah bercerai, hendaknya orangtua lebih dapat menjaga hubungan yang hangat dengan anak dengan cara saling menghargai, pengertian, dan penuh kasih sayang kepada anak. Orangtua, sebaiknya bisa meluangkan waktunya secara optimal dan memberikan dukungan kepada anak sehingga anak tetap merasa dirinya diperhatikan, diterima, dan disayangi orangtuanya meskipun orangtua telah bercerai, sehingga anak tidak kehilangan sosok orangtua dan tetap dapat melakukan penyesuaian diri dengan baik. 3. Bagi Masyarakat
Masyarakat hendaknya dapat mengetahui akan pentingnya dukungan sosial orangtua terhadap penyesuaian diri remaja yang orangtuanya bercerai agar dapat memahami kondisi dan situasi remaja yang mengalami perceraian orangtua. Masyarakat juga disarankan dapat memberikan dukungan kepada remaja yang orangtuanya bercerai untuk tidak merasa rendah diri dihadapan lingkungan sekitarnya.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang berkaitan dengan penyesuaian diri hendaknya memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian diri, misalnya keadaan fisik, perkembangan dan kematangan, keadaan psikologis, keadaan lingkungan, tingkat religiusitas, kebudayaan, dan lain sebagainya.
b. Peneliti yang ingin melakukan penelitian dengan tema yang sama, disarankan memperbanyak data demografis dari subjek, seperti lamanya orangtua bercerai. Hal ini dikarenakan memiliki pengaruh pada penyesuaian diri remaja.
c. Peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian dengan tema yang sama, diharapkan memilah subjek penelitian berdasarkan status pernikahan orangtua saat ini pasca bercerai.
79
DAFTAR PUSTAKA
Ahrons. (2007). Family Ties After Divorce: Long-Term Implications for Children.
Family Process, Vol.46, No.1, 53-65.
Amato, P. R. (1994). Life-Span Adjustment of Children to Their Parents’ Divorce.
The Future Of Children, Vol.4, No.1, 144-164.
Amato, P. R. (2001). Children and Divorce in the 1990s : An update of the Amato and Keith (1991) meta-analysis. Journal of Family Psychology, 15, 355-370. Azwar, S. (2013). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Calhoun, J.F & Acocella, Y.R. (1995). Psikologi Tentang Penyesuaian dan
Hubungan Kemanusiaan. IKIP : Semarang Press.
Cole, K. (2004). Mendampingi Anak Menghadapi Perceraian Orang Tua. Jakarta: PT. Prestasi Pustaka Raya.
Dariyo, A. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Grasindo. Dariyo, A. (2004). Memahami Psikologi Perceraian dalam Keluarga. Jurnal
Psikologi, Vol. 2, No. 2.
Didi Puwardi. (2012). Angka Perceraian Pasangan Indonesia Naik Drastis 70 Persen.Tersedia:http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/01/2 4/lya2ygangkaperceraian-pasangan-indonesia-naik-drastis-70-persen (diakses pada tanggal 23 Maret 2015).
Dunn, J., Davies, L. C., O’Connor, T. G., & Sturgess, W. (2001). Family Lives and Friendships : The Perspectives Of Children In Step-, Single-Parent, And Nonstop Families. Journal of Family Psychology, 15, 272-287.
Ermayanti, S dan Abdullah, S. M. (2007). Hubungan Antara Persepsi Terhadap Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Pada Masa Pensiun. Jurnal
InSight, 5, 148-170.
Fatimah, Enung. (2006). Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta
Didik). Bandung : Pustaka Setia.
Goode, William J. 1991. Sosiologi Keluarga. Jakarta : Bina Aksara.
Gunarsa, Y. Singgih D & Ny Gunarsa, Y. Singgih D. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta : Gunung Mulia.
Hannum, J. W & Dvorak, D. M. (2004). Effects of Family Conflict, Divorce, and Attachment Patterns on the Psychological Distress and Social Adjustment of College Freshmen. Journal of College Student Development, Vol. 45. No. 1,
27-42.
Hetherington, E.M. (2003). Social Support and The Adjustment of Children in Divorced and Remmaried Families. Childhood, Vol. 1. No. 2. 217-236.
Hughes, Robert. (2009). The Effects of Divorce on Children.
http://parenting247/org/article.cfm (diakses pada tanggal 2 Juni 2016).
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.
Indrawati, E. S & Fauziah, Nailul. (2012). Attachment Dan Penyesuaian Diri Dalam Perkawinan. Jurnal Psikologi Undip, Vol. 11, No.1, 40-49.
Johnson, D. W & Johnson, F. P. (1991). Joining Together : Group Theory and
Group Skil (4th edition). New York : Prentice Hall Inc.
Karina, Canggih. (2014). Resiliensi Remaja Yang Memiliki Orangtua Bercerai.
Jurnal Online Psikologi, Vol. 02, No. 01. 152-169.
King, L. A. (2010). The Science of Psychology : An Appreciative View (Terjemahan). American : McGraw-Hill.
Kumalasari, F & Ahyani, L. N. (2012). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan. Jurnal Psikologi Pitutur,
Vol. 1, No.1, 21-31.
Lubis, A. J. (2006). Dukungan Sosial Pada Pasien Gagal Ginjal Terminal Yang Melakukan Terapi Hemodialisa. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara. Maharani, O. P & Andayani, Budi. (2003). Hubungan Antara Dukungan Sosial
Ayah Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja Laki-Laki. Jurnal Psikologi,
No. 1, 23-25.
Maslihah, Sri. (2011). Studi Tentang Hubungan Dukungan Sosial, Penyesuaian Sosial Di Lingkungan Sekolah Dan Prestasi Akademik Siswa SMPIT Assyfa
Boarding School Subang Jawa Barat. Jurnal Psikologi Undip, Vol. 10, No. 2, 103-114.
Monks, F. J; Knoers, A. M. P; dan Haditono, Siti Rahayu (1999). Psikologi
Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah
Ningrum, P. R. (2013). Perceraian Orangtua dan Penyesuaian Diri Remaja. Jurnal
Psikologi, Vol. 1, No. 1. 69-79.
Orford, J. (1992). Community Psychology : Theory and Practicel. New York : John Wiley and Sons, Ltd.
Priyatno, Duwi. (2012). Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20. Yogyakarta: ANDI.
Rice, F. P dan Dolgin, K. M. (2002). The Adolescent : Development, Relationship,
and Culture (10th edition). United States : Allyn and Bacon.
Santoso, Agung. 2010. Statistik Untuk Psikologi : Dari Blog Menjadi Buku. Yogyakarta : Penerbit Universitas Sanata Dharma.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja (6th edition). Jakarta :
Erlangga.
Santrock, J. W. (2007). Remaja (terjemahan) Jilid 1. Edisi kesebelas. Jakarta : Erlangga.
Saputri, M. A. W & Indrawati, E. S. 2011. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Depresi Pada Lanjut Usia Yang Tinggal Di Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah. Jurnal Psikologi Undip, Vol. 9, No.1, 65-72.
Sarafino, E. P. (1994). Health Psychology. New York : John Wiley & Sons, Inc. Sarafino, E. P & Smith, T. W. (2011). Health Psychology : Biopsychosocial
interactions (6th edition). New York : John Wiley & Sons, Inc.
Sarwono, S. W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali. Smet, Bart. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta : Grasindo. Save, M. D. (2002). Psikologi Keluarga. Jakarta : Cipta Jakarta.
Steinberg, Laurence. (2002). Adolescence. United States: McGraw-Hill.
Sugiyono. (2002). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung : Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.