• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Perilaku Generasi Muda Negeri Pelauw dalam Mengimplementasikan Nilai Sosio-Budaya Pela Gandong pada Penggunaan Media Massa

Sesuai dengan hasil penelitian, maka peneliti menemukan fakta dilapangan yaitu masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam mengembangan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Pela Gandong ternyata memberikan dampak yang positif atau baik bagi masyarakat terutama generasi muda kedepannya. Dalam proses mengembangkan nilai-nilai Pela Gandong masyarakat sangat aktif dalam membangun hubungan kerjasama, dikarenakan mereka selalu mengingat hubungan adik-kakak yang mereka miliki sejak lama, sehingga banyak kegiatan-kegiatan yang mereka laksanakan mengarah pada pembangunan hubungan relasi Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai lebih baik. Dalam hal ini seperti sarana dan prasarana, hubungan sosial dalam bermasyarakat dan hubungan pertemanan oleh generasi muda.

Hubungan Pela Gandong ini telah berjalan begitu lama dan sangat memberikan perubahan bagi masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam konteks sosial, agama dan budaya. Dengan adanya Pela Gandong diharapkan bagi masyarakat terutama generasi muda untuk untuk selalu menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Pela Gandong dan tidak boleh di langgar sebagai bentuk sumpah para nenek moyang kedua Negeri. Adanya Sumpah Adat dan Sanksi Adat tersebut memicu masyarakat membangun hubungan relasi yang baik antara Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai.

Sehingga menimbulkan perilaku normatif. Perilaku normatif yaitu berpegang teguh pada norma, aturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkungannya.

Sebagaimana teori perilaku Snehendu B. Kar d (dalam Rahayu Dkk, 2021) perilaku individu merupakan fungsi dari:

a) dukungan sosial dari lingkungan dan masyarakat b) niat seseorang untuk bertindak

c) otonomi pribadi d) fasilitas kesehatan

e) situasi yang memungkinkan untuk bertindak

Maksudnya pada perilaku individu hakikatnya merupakan proses interaksi individu dengan lingkungannya sebagaimana manifestasi bahwa dia adalah makhluk hidup. Menurut teori Behavioristik yang dicetuskan oleh Cage dan Berlin tentang perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman sebagai hasil dari interaksi stimulus dan respon individu.

Berangkat dari teori di atas, peneliti melihat perilaku apa yang dilakukan oleh masyarakat terutama generasi muda Negeri Pelauw sudah sesuai, ini dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh para narasumber bahwa interaksi yang terjalin antara mereka sebagian besar berlandaskan pada dukungan sosial, lingkungan dan masyarakat mereka yang menjalin hubungan dalam budaya Pela Gandong.

Senada dengan yang dikemukakan oleh Makxmilian Weber, teori tindakan sosial. Tindakan sosial tradisional adalah perilaku karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang tanpa refleksi yang sadar atau terencana. Apa yang dilakukan

72

masyarakat Negeri Pelauw cenderung mengikuti praktek oleh nenek moyang dan apa yang sudah menjadi identitas budaya Pela Gandong di masyarakat.

a. Budaya Pela Gandong dan Penggunaan Media Massa

Pengetahuan akan budaya Pela gandong pada masyarakat terutama generasi muda Negeri Pelauw banyak didapatkan dari cerita orang tua, kerabat, teman yang diceritakan dari mulut ke mulut dan media massa. Namun, adakalanya pemberitaan yang diberitakan tidak menyeluruh atau lengkap. Sehingga menimbulkan masalah bagi penonton dalam menyerap informasi. Misalnya dalam media massa televisi salah satu program KompasTV acara Rosi yang ditayangkan ulang oleh akun youtube resmi KompasTV dengan Tema „Belajar Damai Dari Maluku‟ host sering memotong pembicaraan para narasumber, sehingga penyampaian informasi oleh narasumber kurang lengkap dan membuat pesan yang tidak bisa dicerna oleh penonton dan tidak memungkinkan lahirnya persepsi kontra oleh penonton terhadap informasi yang kurang tersebut.

Sehubung dengan itu maka munculnya pro dan kontra terhadap penonton sebagai bentuk tayangan yang diberikan kurang lengkap. Ada golongan pro yang berpendapat bahwa dengan adanya tayangan-tayangan seperti tentu memiliki tujuan yang besar untuk mengintegrasikan masyarakat dan menghindarkan mereka dari konflik atau perpecahan. Sementara golongkan kontra dengan pemberian informasi yang tidak lengkap cenderung menyalahkan pihak tertentu akibat dari kurangnya informasi. Pro dan kontra adalah hal yang wajar terjadi dalam suatu hal sehingga dari

kelebihan dan kekurangan tersebut dapat di cari titik temu yang dirasa cepat dan bijak untuk menyikapinya.

Ditinjau dari pernyataan diatas maka, tayangan media massa menurut peneliti sendiri, harus memberikan informasi yang lengkap kepada penonton sehingga tidak terjadi masalah atau disfungsi di masyarakat. Terutama dalam tema konflik dan perdamaian harus jelas narasumbernya serta informasi yang bermanfaat yang bisa menambah pengetahuan penonton dan memberikan pengaruh positif.

b. Nilai Sosial Pela Gandong

Hubungan Pela Gandong kakak-adik yang dimiliki oleh Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai memberikan pengaruh yang sangat baik. Membangun hubungan inter sosial, budaya dan agama yang berbeda dalam konteks membangun ke arah yang lebih baik lagi.

Nilai-nilai sosial Pela Gandong juga memberikan tambahan terhadap keberlangsungan kehidupan sosialisasi di masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai terutama bagi generasi muda. Peran masyarakat terutama generasi muda Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam mengembangkan nilai-nilai multicultral terutama nilai sosial Pela Gandong dalam hubungan sosialisasi masyarakat harus juga didukung dengan fasilitas sarana dan prasarana, lembaga pemerintahan maupun lembaga setempat untuk menjaga nilai-nilai Pela Gandong tidak pudar sehingga dapat meningkatkan hubungan integritas antara Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai.

74

Namun, pada kenyataanya dukungan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Negeri Pelauw hanya Saniri Adat dan dan rumah adat Baileo tempat musyawarah Pela Gandong dilaksanakan. Peneliti menganggap sarana dan prasarana ini masih kurang lengkap. Seharusnya perlu ditambahkan lembaga khusus Pela Gandong sebagai media tambahan jika terjadi masalah sebelum diberikan ke Saniri Adat.

c. Perilaku Generasi Muda Negeri Pelauw dalam Mengimplementasikan Nilai Sosial Pela Gandong dalam Penggunaan Media Massa

Pada prakteknya ada beberapa acara adat dalam Pela Gandong memberikan nilai tambah dalam membangun hubungan sosial Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam bersosialisasi. Seperti panas pela, makan patita, gotong-royong oleh masyarakat dan baju undang pela yang sering dilakukan oleh generasi muda khususnya. Dengan demikian tentu akan menciptakan integritas pada masyarakat.

Integritas adalah suatu konsistensi yang tidak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan suatu keyakinan. Dalam hal ini peneliti mengungkapkan bahwa masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai telah memberikan upaya untuk mempererat Pela Gandong pada mereka melalui acara adat tersebut sehingga menciptakan integritas serta membentuk akulturasi pada masyarakat. Dalam hal ini integritas yang tercipta antara Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai tidak menghilangkan unsur-unsur asli kebudayaans etempat.

Bukan hanya pada konteks acara adat namun dalam kehidupan kakak-adik dalam sehari-hari mereka banyak membantu satu dengan yang lain. Jika salah satu dari mereka mengalami kesusahan, maka mereka tidak ragu untuk membantu dan menolong dikarenakan hubungan tersebut. Namun, menurut peneliti sendiri hal ini masih kurang. Karena kebanyakan hubungan kakak-adik yang terjalin itu hanya ketika mereka bertemu secara langsung, namun dalam konteks tidak bertemu atau berjauhan terdapat kesulitan untuk membangun dan mempererat hubungan Pela Gandong. Sehingga dibutuhkan media baru. Misalnya grup facebook dan whatsapp yang didalamnya terdapat masyarakat dan generasi muda Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam berinteraksi jarak jauh. Melalui platform seperti facebook dan whatsapp atau aplikasi lainnya tentu memberikan nilai tambah untuk membangun hubungan integritas kedua Negeri dan juga jika suatu waktu media massa memberikan tayangan atau informasi yang kurang lengkap atau salah mengenai disintegrasi mereka bisa menyikapi atau mencari kebenaran dari tayangan tersebut melalui platform yang tentunya walaupun mereka memiliki jarak yang jauh namun masih bisa tetap berhubungan.

2. Faktor Penghambat Eksistensi Budaya Pela Gandong pada Masyarakat Negeri Pelauw

Sesuai dengan hasil penelitian, maka peneliti menemukan fakta dilapangan yaitu masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam mengembangan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Pela Gandong kerap kali mengalami beberapa

76

hambatan. Seperti masalah pribadi, tokoh masyarakat, media massa, tokoh agama, perbedaan kebudayaan dan adanya dualisme tentu menyebabkan disintegrasi atau mengancam perpecahan di masyarakat.

Menurut Soekanto disintegrasi adalah ketidakaturan keadaan sosial di masyarakat ini didasari pada memudarnya norma dan nilai yang sudah ada. Menurut peneliti perubahan sosial dan lembaga sosial menjadi pemicu adanya sikap dan tuntunan hidup manusia yang berkembang dari waktu ke waktu. Pada penelitian ini ditemukan adanya disintegrasi individu yang berusaha untuk memecah belah.

Berangkat dari permasalahan diatas, maka menurut peneliti diperlukan peran dari semua pihak seperti tokoh agama, tokoh adat, lembaga pemerintah, lembaga setempat dan masyarakat terutama generasi muda Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam mengembangkan menjaga ikatan Pela Gandong ini sangat dibutuhkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan memberikan sanksi tegas kepada si pelaku.

77 BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pemebahasan mengenai Eksistensi Nilai Sosial Pela Gandong di Negeri Pelauw Kabupaten Maluku Tengah, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

A. Simpulan

Eksistensi Pela Gandong sebagai civic culture sangat penting diwariskan kepada generasi muda. Keberhasilan budaya Pela Gandong dapat dilihat dari banyaknya variabel yang saling berkaitan satu dengan yang lain dan berhasil menerapkan hakikat Pela Gandong Sehingga generasi muda harus menerapkan nilai-nilai multikultural terutama nilai-nilai sosial agar menjaga harmonisasi Negeri Pelauw dan Titawaai.

Dalam perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti media massa dalam memberitakan tayangan-tayangan berkonten negatif kepada penonton tentu memberikan efek yang tanpa disadari maupun tidak oleh media massa mempengaruhi penontonnya. Tentu ini berimbas pada pola pikir dan perilaku penonton dan berdampak pada lingkungan sosial penonton itu sendiri. Oleh karena itu, masyarakat Negeri Pelauw terutama generasi muda setelah mendengar atau menonton tayangan-tayangan negatif mereka harus memverifikasi berita tersebut berulang-ulang untuk mencari kebenaran dan tidak boleh termakan oleh opini publik. Dengan begitu, mereka dapat

78

menjaga, meningkatkan dan mengembangkan nilai sosial dan hakikat Pela Gandong dalam kehidupan bermasyarakat dan terhindar dari konflik.

Faktor penghambat eksistensi budaya Pela Gandong di masyarakat adalah masalah pribadi yang kadang individu ingin mengaitkan dengan hubungan interaksi Pela gandong, kurang adanya sosialisasi oleh tokoh masyarakat yaitu mereka yang mempunyai pengaruh yaitu tokoh politik, pemberitaan media massa yang kurang atau tidak lengkap membuat informasi yang diterima menjadi disfungsi atau keluar dari nilai Pela Gandong itu sendiri, tokoh agama kadang berusaha untuk memberikan jurang pemisah, perbedaan kebudayaan, kurangnya pengetahuan mengenai budaya Pela Gandong dan adanya dualisme. Namun dalam menyingkapi hal di atas masyarakat akan terlebih dahulu mencari kebenaran bahkan bentuk tindakan untuk mencari kebenaran informasi.

B.

Saran

1. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur masyarakat dalam melakukan aktivitasnya di lingkungan sosial tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan,

2. Bagi lembaga terkait, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan positif kepada lembaga-lembaga terkait untuk meningkatkan lagi civic culture Pela Gandong. Terutama dalam menjaga hakikat Pela Gandong di masyarakat.

3. Bagi peneliti selanjutnya, adapun hasil dari penelitian ini bisa digunakan untuk peneliti selanjutnya sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya

dengan mengkaji lebih dalam terhadap eksistensi Pela Gandong di masyarakat.

79

DAFTAR PUSTAKA

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negeri (Rpjmneg) Negeri Pelauw Tahun 2011-2016

Bungin, Burhan. 2015. Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi Dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L Berger & Thomas Luckmann. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Creswell, Jhon W. 2019. Design Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantatif, Dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Cangara, Hafied. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nawari, Ismail. 2011. Konfik Umat Beragama Dan Budaya Lokal. Bandung: CV.

lubuk agung.

Nursalam, Dkk. 2016. Teori Sosiologi Klasik, Modern, Postmodern, Saintifik, Hermeneutik, Kritis, Evaluatif Dan Integratif. Yogyakarta: Writing Revolution.

Muhajirin, & Maya Panorama. 2017. Pendekatan Praktis Metode Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif. Yogyakarta: Idea Pres Yogyakarta.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Notoadmojo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar. 2019.Panduan Penelitian Proposal dan Skripsi.Makassar.

Prastowo, Andi. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Rulam, Anwar. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-ruzz Media

Saifuddin, Ahmad Fedyani. 2016. Pengantar Teori-Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif Dan R&D. Bandung: PT Alfabeta.

Upe, Ambo. 2010. Tradisi Aliran Dalam Sosiologi Dari Filosofi Positivistik Ke Post Positivistic. Jakarta: Rajawali Pers.

Aponno, Elsina Huberta. 2017. Budaya Lokal Maluku Pela Gandong Dalam Konteks Perilaku Organisasi. Jurnal Manajemen. Vol. 3. No. 1. 21-22.

Alhamid, Thalha dan Budur Anufia. 2019. Instrumen Pengumpulan Data. Jurnal Ekonomi Islam. Vo. 2. No 2. 3-4.

Bakri, Hendry . 2015. Resolusi Konflik Melalui Pendekatan Lokal Pela Gandong di Kota Ambon. Jurnal Magister Ilmu Politik. Vol. 1. No 1. 53-55.

81

Hasudungan, Anju Nofarof, Sariyatun, Hermanu Joebagio, Dkk. 2020. Transformasi Kearifan Lokal Pela Gandong Dari Resolusi Konflik Hingga Pendidikan Perdamaian di Maluku. Jurnal Kajian Agama, Social Dan Budaya. Vol. 5.

No. 1. 40-47.

Lestari, Dwi Tika. 2017. Peran Musik Sebagai Salah Satu Media Perdamaian di Maluku. Disertasi Penciptaan dan Pengkajian Seni Pada Institut Seni Indonesia (Isi) Surakarta:10.

Malatuny, Yakob Godlif dan Samuel Patra Ritiauw. 2018. Eksistensi Pela Gandong Sebagai Civic Culture Dalam Menjaga Harmonisasi Masyarakat di Maluku.

Social Science Education Journal. Vol. 5. No. 2. 36-43.

Ruhulessin, Jhon Cristian. 2019. Paradigma Etika Publik Dalam Kearifan lokal Pela.

Jurnal Filsafat. Vol. 29. No. 2. 183-184.

Widiastuti, Tuti. 2011. Analisis Framing Sebuah Konflik Antar Budaya di Media.

Journal Communication Spectrum. Vol 1. No 2. 150-152.

Armandhanu, D. 2016. Usai Kerusuhan Massa, Situasi Tanjung Balai Masih Mencekam. Nasional.(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160730101 916-20-148072/usai-kerusuhan-massa-situasi-tanjungbalai-masih-mencekam , diakses 19 Februari 2021).

Armandhanu, D. 2016. Camat: Pembakaran Vihara Kian Diprovokasi Isu di Medsos. nasional.(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160730104104-

20-148073/camat-pembakaran-wihara-kian-diprovokasi-isu-di-medsos,diakses 19 febuari 2021).

Erdianto, kristian. 2016. Tidak Ada Toleransi Di Aceh Singkil, (https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2016/04/23/0

4330051/Tidak.Ada.Intoleransi.di.Aceh.Singkil.?espv=1, diakses 20 februari 2021).

.2017.Ketika Jari Jemari Lebih Tajam Ketimbang Mulut.

Nu.or.id.(https://www.nu.or.id/post/read/76038/ketika-jari-jemari-lebih-tajam-ketimbang-mulut, diakses 19 Februari 2021),

Srivastana, Nitin. 2019. Bagaimana Perdana Menteri Narendra Modi Membuat Cemas Muslim Di Indonesia

(https://www.bbc.com/indonesia/majalah-50756563, diakses 19 Febuari 2021

82

Lembar persetujuan (informed consent) Judul penelitian:

Eksistensi Nilai Sosial Pela Gandong Di Masyarakat Negeri Pelauw Kabupaten Maluku Tengah

Nama & Lembaga Peneliti:

Ju marasabessy, program studi pendidikan sosiologi universitas muhammadiyah Makassar

Sebelum menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, penting bagi Anda untuk membaca penjelasan berikut. Lembar persetujuan ini menjelaskan tujuan, prosedur, dan kerahasiaan dari peneliti ini.

Tujuan penelitian ini:

1. Untuk mengetahui perilaku generasi muda Negeri Pelauw dalam memaknai nilai sosio-budaya Pela Gandong.

2. Untuk mengetahui faktor penghambat eksistensi budaya Pela Gandong pada masyarakat Negeri Pelauw.

Prosedur penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan wawancara terhadap informan. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan wawancara kurang lebih 2 jam. Wawancara akan direkam menggunakan voice recorder (jika diizinkan) dan selanjutnya di transkip untuk keperluan analisis data.

Kerahasiaan

Jika informasi yang diberikan dianggap sensitive oleh informan, peneliti bertanggung jawab menjamin kerahasiaan data identitas informan. Tidak ada penulisan nama informan dalam penyimpanan data wawancara, dan daftar nama informan tidak akan diketahui oleh siapapun. Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam bentuk skripsi dan dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Biaya dan imbalan keikutsertaan

Tidak ada biaya keikutsertaan maupun imbalan berupa uang untuk narasumber dalam penelitian ini.

Pertanyaan

Jika memiliki pertanyaan lanjutan berkaitan dengan penelitian ini, informan dapat menghubungi peneliti melalui No. Hp : 0822-6076-7344 atau Email:

[email protected]

83 Persetujuan Narasumber

Dengan menandatangani surat persetujuan ini, Anda menyatakan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian.

Profil Informan

Nama informan (bisa Inisial, jika identitas informan ingin dirahasiakan)

No

Usia Agama Kedudukan 1. M. Ali Latuconsina,

3. Nus Latumahina L 51 Kristen Pendeta Gereja Protestan Maluku 8. Tajudin Latuconsina L 35 Islam Pemuda Negeri Pelauw 9. Sarip Hasan

Tuankotta

L 35 Islam Pemuda Negeri Pelauw 10. Marvel Gery

Watimena

L 34 Kristen Pemuda Negeri Titawaai 11. Samuel Septenus

Tulalessy

L 36 Kristen Pemuda Negeri Titawaai

84

Judul Penelitian : Eksistensi Nilai Sosial Pela Gandong Gandong di Masyarakat Negeri Pelauw Kabupaten Maluku Tengah

Rumusan Masalah Indikator Sub Indikator Item Pertanyaan Bagaimana perilaku

1. Menurut bapak/ ibu apakah Negeri Pelauw memiliki sarana dalam menunjang budaya Pela Gandong gandong?

2. Menurut bapak/ ibu apakah Negeri Pelauw memiliki prasarana dalam menunjang terselenggaranya budaya Pela Gandong gandong?

3. Menurut bapak/ ibu apakah Negeri Pelauw memiliki lembaga dalam menjalankan budaya Pela Gandong gandong?

4. Menurut bapak/ ibu apakah lembaga itu sering mengurusi hal-hal yang menyangkut dengan budaya Pela Gandong gandong di Negeri Pelauw?

5. Bisa bapak/ ibu jelaskan mengapa lembaga budaya Pela Gandong gandong tersebut dibentuk dan apa tujuannya untuk masyarakat Negeri Pelauw?

6. Menurut bapak/ ibu apakah lembaga budaya Pela Gandong gandong tersebut memiliki otoritas/ kekuasaan dalam mengimplementasikan nilai- nilai Pela Gandong gandong di Lambaga /

Komunitas Otoritas / Kekuasaan

85

Negeri Pelauw?

7. Menurut bapak/ ibu menurut anda apa saja langkah-langkah yang dilakukan lembaga budaya Pela Gandong gandong jika terjadi kesalahpahaman antara pemuda-pemudi Negeri Pelauw dengan Pela Gandongnya?

Media massa 1. Menurut bapak/ ibu bagaimana peran media dalam membangun toleransi khususnya pada tayangan media untuk meningkatkan toleransi di masyarakat ?

2. Menurut bapak/ ibu apa efek/ dampak dari tayangan media massa berkonten negatif dalam menghambat budaya Pela Gandong gandong di masyarakat Negeri Pelauw?

2. Menurut bapak/ ibu apakah tayangan media massa berkonten negatif ini juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat Negeri Pelauw?

3. Menurut bapak/ ibu apakah sudah ada tanggapan dari lembaga media massa setempat terkait dengan efek dari media massa terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat Negeri Pelauw terhadap tayangan media massa berkonten negatif yang mempengaruhi hubungan Pela Gandong?

4. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw bagaimana anda membangun nilai-nilai budaya Pela Gandong gandong terutama dalam penggunaan media massa?

5. Menurut pemuda/ pemudi bagaimana cara anda agar tetap menjaga nilai-nilai sosio-budaya Pela Gandong dan tidak terpengaruh oleh efek media massa itu sendiri?

Adanya

1. Menurut bapak/ ibu apakah masyarakat Negeri Pelauw yang saling berPela Gandong menghormati satu sama lain?

2. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw apakah anda saling menghormati Negeri Pela Gandong anda dalam

86

berbeda konteks interaksi dan penggunaan media massa?

Saling mengenal

1. Menurut bapak/ ibu apakah masyarakat Negeri Pelauw yang berPela Gandong saling mengenal satu sama lain?

2. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw apakah anda saling mengenal Negeri Pela Gandong anda dalam konteks interaksi dan penggunaan media massa?

Saling mengakui

1. Menurut bapak/ ibu apakah masyarakat Negeri Pelauw yang berPela Gandong saling mengakui satu sama lain?

2. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw apakah anda saling mengakui Negeri Pela Gandong anda dalam konteks interaksi dan penggunaan media massa?

Cara bergaul 1. Menurut bapak/ ibu apakah masyarakat Negeri Pelauw yang berPela Gandong melakukan pergaulan satu sama lain?

2. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw bagaimana cara anda berinterkasi dalam kehidupan sehari-hari terutama dengan Negeri berPela Gandong setelah mendengar pemberitaan berkonten negatif dari media massa?

3. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw bagaimana interaksi anda melalui media massa terutama dengan Negeri berPela Gandong setelah mendengar pemberitaan berkonten negatif tersebut?

Cara berfikir 1. Menurut bapak/ ibu apakah setelah mendengar pemberitaan media massa berkonten negatif apakah mempengaruhi cara pikir masyarakat Negeri Pelauw dalam konteks berPela Gandong! Terutama dalam aktivitas sehari-hari?

2. Menurut pemuda/ pemudi bagaimana tanggapan anda setelah mendengar pemberitaan media massa berkonten negatif apakah mempengaruhi cara pikir dalam menjalankan aktivitas berPela Gandong? Baik dalam aktivitas

sehari-87

hari maupun dalam penggunaan media massa?

Paham/ teori/

tujuan

1. Menurut bapak/ ibu apakah tayangan media massa berusaha memaksakan paham/ teori/ tujuan melalui tayangannya kepada masyarakat? generasi muda khususnya harus direalisasikan terutama dalam penggunaan media massa?

Pengetahuan 1. Menurut bapak/ ibu apakah anda memiliki pengetahuan tentang budaya Pela Gandong?

2. Menurut pemuda/ pemudi Negeri Pelauw apakah anda memiliki pengetahuan yang lebih tentang arti budaya Pela Gandong itu sendiri? Sehingga anda dapat menjaga nilai-nilai yang terdapat didalam budaya Pela Gandong.

Harapan 1. Menurut bapak/ ibu apakah generasi muda Negeri Pelauw Memiliki harapan untuk hidup dengan nilai-nilai budaya Pela Gandong tanpa terpengaruhi oleh efek media massa?

Harapan 1. Menurut bapak/ ibu apakah generasi muda Negeri Pelauw Memiliki harapan untuk hidup dengan nilai-nilai budaya Pela Gandong tanpa terpengaruhi oleh efek media massa?

Dokumen terkait