BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Perilaku Generasi Muda Negeri Pelauw dalam Mengimplementasikan
Pela Gandong bukan hanya sekedar hubungan yang dimaknai dengan sebuah ikatan yang biasa, lebih dari pada itu merupakan ikatan yang melintasi batas-batas kesukuan maupun agama (Islam dan Kristen). Masyarakat Negeri Pelauw menganggap Pela Gandong adalah suatu ikatan yang didasarkan pada keturunan atau darah. Pembagian kelompok umur dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI (2009) dalam situs resminya yaitu depkes.go,id sebagai berikut:
a. Masa balita :0 - 5 Tahun b. Masa kanak-kanak :6 – 11 Tahun c. Masa Remaja Awal :12 - 16 Tahun d. Masa Remaja Akhir :17 - 25 Tahun e. Masa Dewasa Awal :26 - 35 Tahun f. Masa Dewasa Akhir :36 – 45 Tahun g. Masa Lansia Awal :46 - 55 Tahun h. Masa Lansia Akhir :56 – 65 Tahun i. Masa Manula :65 - atas
44
Pada penelitian ini objek umur generasi muda Negeri Pelauw yang dijadikan sempel berumur dewasa 26 – 45 Tahun karena peneliti menganggap mereka dapat berpikir secara rasional dan merupakan usia produktif dalam masa kognitif individu.
Pada usia ini juga merupakan usia yang ideal karena sudah bisa membedakan baik dan benar terhadap sesuatu, memiliki pengetahuan yang lebih, serta jika dilihat dari segi penggunaan media massa tentu mereka banyak mempergunakan media massa dalam menonton tayangan-tayangan yang sering di beritakan kepada penonton.
Kesadaran akan pentingnya hakikat Pela Gandong merupakan hal yang penting bagi masyarakat Negeri Pelauw. Pela Gandong adalah bentuk rekonsiliasi yang nyata setelah kerusuhan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan di Ambon tahun 1999.
Perlahan-lahan masyarakat Negeri Pelauw mulai bangkit kembali suatu proses yang terbuka dengan melakukan hubungan tolong menolong dan saling membantu dalam segi infrastruktur dan tenaga dengan Negeri Pela Gandongnya Titawaai walau saat itu konflik masih bergejolak.
Peran Pela Gandong telah memberikan ruang untuk rekonsiliasi semakin tercipta, penyembuhan luka batin akibat setelah konflik dapat disembuhkan secara alamiah atas inisiatif masyarakat Negeri Pelauw karena adanya persaudaraan Pela Gandong ini.
Adanya perkembangan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan dalam bidang media massa dengan cepat, menimbulkan permasalahan yang dinamis bagi masyarakat Negeri Pelauw yang masih mempertahankan adat istiadatnya. Tanpa disadari oleh penonton tayangan negatif media massa seringkali memberikan efek negatif bagi
mereka. Perubahan pola pikir dan perilaku merupakan reaksi yang diberikan oleh penonton, sehingga ini merupakan satu rintangan bagi masyarakat Negeri Pelauw dalam menjaga dan melestarikan budaya Pela Gandong yang merupakan identitas, warisan nenek moyang mereka dan merupakan sejarah yang tidak boleh dihilangkan bahkan dilupakan. Masyarakat Negeri Pelauw harus mengingat budaya Pela Gandong merupakan kekuatan integrasi sosial dan persaudaraan bagi mereka dengan Negeri Titawaai.
Budaya Pela Gandong memiliki nilai-nilai multicultural yang harus selalu dijaga, salah satunya yaitu nilai sosial. Nilai sosial adalah tindakan, keyakinan atau anggapan yang dianggap baik oleh banyak masyarakat serta wajib dipatuhi.
Masyarakat Negeri Pelauw dalam menjaga nilai sosial Pela Gandong mereka selalu menghormati dan menghargai Negeri Pela Gandongnya yaitu Negeri Titawaai agar budaya tersebut tetap terjaga.
Pela Gandong merupakan suatu budaya yang sudah mengakar di darah masyarakat Negeri Pelauw, suatu hal yang sakral sehingga masyarakat Negeri Pelauw dalam pelaksanaannya tidak boleh salah. Hubungan Pela Gandong yang terjadi antara Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai menunjukan sebuah ikatan yang begitu kuat.
Nilai saling menghormati, saling mengakui, gotong royong misalnya dalam membangun infrastruktur Negeri, dan saling membantu misalnya jika salah satu Negeri terjadi bencana alam dan kerusuhan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pemuda Negeri Pelauw TL (35 th) menyebutkan bahwa:
46
“Pela Gandong itu merupakan hal amat luar biasa. Dia bisa membuat dua orang yang tidak tahu-menahu soal nama, latar belakang, dan lain sebagainnya namun bisa akrab ketika bertemu dan saling membantu, tolong-menolong ketika susah. Begitu besarnya ikatan Pela Gandong ini. Bahkan ketika saya berada di Jakarta pernah terjadi sebuah peristiwa baku hantam antara seorang gandong (Negeri Titawaai) kami dengan seorang pemuda Ambon beragama Islam berinisial J.K. Disitu karena gandong kami ini terluka dan harus rawat inap di masuk rumah sakit, kami Pemuda Negeri Pelauw yang mendengarnya itu langsung menjaganya kamar yang ditempati, mengawal dia jika nanti ada baku hantam lanjutan dengan si J.K ini. Tidak peduli apa masalahnya itu gandong kami maka harus dilindungi”. (Hasil wawancara, 27-06-2021)
Dengan adanya Pela Gandong telah membangun sebuah hubungan sosial yang nyata antara masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai. Semakin tinggi hubungan antar anggota, maka semakin tinggi pula integrasi antara masyarakat sehingga dapat meminimalisir konflik di antara mereka. Perjalanan sejarah Pela Gandong antara Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai yang panjang serta kental akan perbedaan agama (Negeri Pelauw beragama Islam dan Negeri Titawaai beragama Kristen), budaya dan adat-istiadat selama ini dapat hidup berdampingan dan memiliki ruang dalam berkomunikasi.
Kisah lain datang juga dari salah satu pemudi Negeri Pelauw HT (29 th) menyebutkan bahwa:
“Waktu kerusuhan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan yang pernah terjadi di Ambon 1999 membuat masyarakat beragama Islam dan Kristen di Ambon saling melakukan pembantaian, namun yang perlu diingat bahwa tidak pernah sekalipun Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai melakukan hal yang sama.
Malahan dalam keadaan tersebut mereka saling membantu walau keadaan saat itu masih bergejolak. Ada salah satu kisah dari bibi saya. Waktu itu saat kerusuhan sedang terjadi di pusat kota Ambon bibi saya (Negeri Pelauw) salah menaiki angkutan, dia menaiki angkutan yang membawanya ke perkampungan Kristen yang berbeda arah dengan kampung saya Namun, saat itu dia segera bertemu dengan gandong kami Negeri Titawaai. Kebetulan pemuda itu
bertugas sebagai tentara saat kerusuhan terjadi dan pemuda tersebut membawanya kembali dengan aman sampai perbatasan Islam dan Kristen di kota Ambon dan memberikannya sedikit ongkos (uang) untuk bibi saya pulang”. (Hasil wawancara, 27-06-2021)
Konflik di Ambon tahun 1999 telah banyak melibatkan berbagai Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan bahkan menjadi perhatian Indonesia dan Dunia. Berkat Pela Gandong tidak sedikit para calo-calon korban akhirnya dapat diselamatkan dari rencana jahat, karena mereka lebih dulu mendapatkan informasi sebelum terjadinya.
Saat konflik terjadi, Pela Gandong tetap berfungsi dan berhasil menembus sekat-sekat yang bahkan agama tidak bisa menembusnya. Tentu masih banyak cerita-cerita hubungan Pela Gandong antara Negeri Pelauw dan Titawaai lainnya.
Perilaku generasi muda Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam melestarikan budaya Pela Gandong adalah mereka membuat acara yang di namakan dengan baku undang Negeri pela acara tersebut biasanya diselenggarakan ketika selesai Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan hari besar lainnya yang biasanya dilakukan dan dihadiri oleh generasi muda untuk bertemu dalam acara tersebut dan acara adat yang wajib dalam budaya Pela Gandong yaitu panas pela, makan patita (makan besar), gotong royong yang melibatkan seluruh masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai yang tentu hal ini berguna untuk mempererat kembali tali persaudaraan antara dua Negeri.
Bentuk perilaku lainnya adalah perilaku menyimpang, bentuk ini muncul karena pengaruh eksternal atau pengaruh dari luar. pengaruh ini timbul karena adanya perbedaan faktor lingkungan luar dengan faktor dari lingkungan awal individu, sehingga berpengaruh pada pola pikir dan perilaku individu pada lingkungan
48
sekitarnya. Peneliti mendapati bahwa dengan perubahan pola pikir individu dan perilaku, maka akan berdampak juga pada kehidupan sosialnya. Seperti yang di dapat oleh peneliti terdapat beberapa orang yang berperilaku tidak sesuai dengan hakikat budaya Pela Gandong, sehingga mereka dikenakan sanksi adat karena melakukan pelanggaran. Seperti sanksi dari Negeri Pelauw yaitu diasingkan dari Negeri selama kurun waktu yang ditentukan dan sanksi dari Negeri Titawaai yaitu berjalan telanjang mengelilingi Negeri dan di saksikan oleh masyarakat untuk memberikan efek jera dan efek malu kepada pelanggar. Adapun sanksi yang diberikan langsung oleh para nenek moyang (upu lanite) biasanya berupa penyakit dan musibah kepada si pelanggar.
Tentu dalam hal ini bentuk perilaku yang terbentuk dalam individu seseorang itu merupakan bentuk interaksi aktif dengan lingkungan sehari-harinya.
Pada bentuk perilaku generasi muda Negeri Pelauw didukung dengan teori kognitivisme yaitu lebih menekan pada proses aktivitas yang terjadi dalam kehidupan individu sebagai hasil dari interaksi secara aktif dengan lingkungannya, sehingga menghasilkan perubahan dalam bentuk sikap, keterampilan, dan pemahaman yang bersifat relatif. Menurut Jean Piaget teori kognitivisme konsep utamanya adalah psikologi perkembangan yang mempengaruhi kecerdasan serta kemampuan individu dalam melakukan representasi berdasarkan realitas. Sehingga, tentu hal ini mendukung bentuk perilaku generasi muda Negeri Pelauw yang terpengaruh oleh lingkungan eksternal sehingga berdampak pada lingkungan internalnya atau hubungan sosialnya.
a. Budaya Pela Gandong dan Penggunaan Media Massa
Budaya Pela Gandong di Negeri Pelauw merupakan Pela Gandong yang berbeda dengan Negeri-Negeri lainnya, karena ini bukan Pela Gandong yang dibuat-buat, akan tetapi lebih dari pada itu memiliki makna dan arti yang besar bagi masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Pela Gandongnya yaitu Negeri Titawaai yang terletak di Pulau Nusalaut yang sudah terjalin sejak lama sebagai sumpah mati para leluhur atau nenek moyang zaman kedua Negeri dan tidak akan bisa dipisahkan.
Sehingga dimanapun itu jika ada orang dari dua Negeri (Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai) ini saling bertemu mereka akan merasa senang bahkan akrab karena mereka merasa bahwa mereka adalah bagian dari mereka sendiri (saudara kandung) dan itu sangat dekat tidak dapat dipisahkan.
Menurut sejarah lisan yang dituturkan masyarakat secara turun-temurun, Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai berasal dari sebuah gunung yang disebut dengan Gunung Nunusuku terdapat sebuah pohon beringin yang menjadi cikal bakal asal mula hubungan adik-kakak antara Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat Negeri Pelauw yang menjabat juga sebagai Khatib Negeri Pelauw Bapak TH (65 th) menjelaskan bahwa:
“Kita (Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai) adalah dua Negeri yang terikat dalam budaya Pela Gandong. Pela Gandong Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai ini berasal dari kandung yang sama atau di sebut satu bapa satu mama dan tempat yang sama yaitu Gunung Nunusuku. Gunung yang menjadi asal cikal bakal Pela Gandong di Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai, maka ikatan Pela Gandong ini tidak akan bisa dipisahkan bahkan di langgar oleh setiap masyarakat dari kedua Negeri”. (Hasil wawancara, 28-06-2021)
50
Sementara hasil wawancara dengan salah satu tokoh agama Kristen dari Negeri Titawaai, Bapak NL (51 th) yang juga berprofesi sebagai bapa pendeta Gereja Protestan Maluku menjelaskan bahwa:
“Negeri Pelauw dan Titawaai memiliki ikatan Pela Gandong yang pada hakikatnya akan selalu selalu hidup dan dijaga walau Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai ini terletak berjauhan, karena ikatan Pela Gandong ini susah dilupakan dan juga merupakan tatanan kehidupan dari janji nenek moyang yang tidak bisa di ingkari”. (Hasil wawancara, 01-07-2021)
Pela Gandong adalah bukti nyata yang dimiliki oleh Negeri pelauw dan Negeri Titawaai dalam membagun hubungan yang sudah terjalin sejak zaman nenek moyang baik dalam konteks budaya, sosial, agama, ekonomi dan lain sebagainya tanpa memandang Suku, Agama dan Antar Golongan, serta yang perlu diingat bahwa bahkan sampai saat inipun tidak ada gejolak atau bentrok yang terjadi di antara kedua Negeri.
Maka tentu bagi masyarakat terutama generasi muda Negeri Pelauw mereka harus memahami pentingnya hakikat Pela Gandong, sehingga mereka dapat menjaga nilai-nilai multicultural terutama nilai sosial atau nilai yang dianggap benar dan yang menjadi objek kajian penelitian ini. Tentu dengan memahami hakikat Pela Gandong sendiri maka, di manapun generasi muda Negeri Pelauw mereka berada, mereka dapat menjaga tujuan dari Pela Gandong sendiri. Berdasarkan hasil wawancara bersama Sekretaris Desa Negeri Pelauw Bapak ML (46 th) menjelaskan bahwa:
“Masyarakat Negeri Pelauw umur 30 Tahun ke atas kebanyakan dari mereka sudah mengetahui sejarah bahkan hakikat dari Pela Gandong itu sendiri, namun umur 15 tahun ke atas mereka hanya mengetahui sejarah Pela Gandong yang sering diceritakan oleh orang tua mereka dan belum memahami hakikat dari Pela Gandong sendiri”. (Hasil wawancara, 2-07-2021)
Dari perkataan diatas dapat disimpulkan bahwa hal ini yang perlu diterapkan pertama kali bagi masyarakat Negeri Pelauw adalah sejarah Pela Gandong dan hakikatnya sendiri, terutama bagi generasi muda karena mereka harus menjaga ikatan Pela Gandong yang sudah menjadi tatanan kehidupan dari diri mereka sendiri dan ini merupakan sumpah adat nenek moyang mereka. Dengan begitu maka masyarakat Negeri Pelauw terutama generasi muda mereka akan lebih menghargai dan menghormati Negeri Titawaai.
Tentu dalam pelaksanaan Pela Gandong terdapat sanksi atau hukuman yang menjadi sumpah dari nenek moyang kedua Negeri dalam pelaksanaan panas pela salah satu acara adat Pela Gandong bagi masyarakat Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai jika melanggarnya. Terdapat dua sanksi yang sering terjadi jika mereka melanggar atau membuat sakit hati Negeri Pela Gandongnya yaitu sanksi adat dan sanksi yang diberikan langsung oleh para nenek moyang karena melanggar sumpah adat yang sudah disepakati.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak TA (65 th) menjelaskan bahwa:
“Sanksi adat Pela Gandong di Negeri Pelauw biasanya dilakukan oleh Saniri Negeri yang terdiri dari Raja Negeri (Kepala Desa), Penghulu Negeri dan Kepala Soa (marga) tempat musyawarahnya itu dilakukan di rumah adat Maluku Baileo. Kenapa harus Baileo? Karena kita akan mengambil musyawarah atau mufakat. Waktu saya menjabat sebagai sekretaris acara panas pela tahun 1996 pernah terjadi sebuah peristiwa yang bisa dikatakan ini merupakan sanksi dari nenek moyang. jadi, ketika seorang pemuda Negeri Titawaai akan akan pulang ke Negerinya setelah acara panas pela telah selesai, dia mengambil songkok dari bapak R.S akan tetapi, si bapak R.S mengambil kembali songkoknya dari pemuda tersebut maka timbullah kekecewaan dari pemuda Negeri Titawaai tersebut dan setelah bapak R.S ini pulang ke rumahnya dan tidur maka di tertidur selamanya (Meninggal)”.
(Hasil wawancara, 28-06-2021)
52
Pendapat diatas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Bapak SS (54 th) selaku anggota bedah buku tahun 1996 saat panas pela di Negeri Pelauw terakhir dilaksanakan, beliau mengatakan bahwa:
“Contoh sanksi adat yang dapat saya berikan yaitu ketika salah satu anak Negeri Pelauw melanggar, maka sanksi adat yang diberikan adalah dia akan diasingkan dari Negeri selama kurun waktu yang ditentukan, misalnya yang terjadi kepada anak Negeri Pelauw I.T dia melakukan pelanggaran lalu dia diasingkan keluar Negeri Pelauw selama beberapa tahun bahkan si I.T ini dia sampai menikah dengan orang dari kampung lain”. (Hasil Wawancara, 7-07-2021)
Jadi, sanksi dari Pela Gandong sendiri bukan main-main, jika ada anak Negeri yang melanggar maka dia akan dikenakan sanksi adat yang diberikan langsung oleh Saniri Negeri yang tugas utamanya yaitu menyelesaikan setiap perselisihan di lingkup Negeri dan sanksi yang diberikan langsung oleh nenek moyang bias berupa penyakit, musibah, bahkan meninggal jika ada yang melanggar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pendeta NL (51 th) mengatakan bahwa:
“Jadi untuk Negeri Titawaai sendiri biasanya hukuman yang di berikan kepada si pelanggar yaitu berjalan keliling Negeri Titawaai dengan keadaan telanjang dan di saksikan oleh masyarakat. Sehingga memberikan rasa malu dan efek jera kepada si pelanggar dan untuk masyarakat dapat dijadikan contoh bagi mereka jika seandainya mereka mellanggar hakikat Pela Gandong ini”. (Hasil wawancara, 1-07-2021)
Ini sesuai dengan sumpah Pela Gandong Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai Karena sumpah yang mereka lakukan adalah Sumpah mati sumpah yang tidak bisa di langgar bukan sumpah janji. Sumpah mati yang dilakukan di atas selembar kain putih yang didalamnya terdapat dua batu (melambangkan Negeri Pelauw dan Negeri
Titawaai) lalu setelah mengucapkan sumpah mereka membuang kedua batu yang dibungkus kain putih tersebut ke dalam laut.
Pentingnya sumpah adat Pela Gandong bagi Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai mengisyaratkan bahwa masyarakat mampu membangun kehidupan yang selaras dengan nilai budaya dan aturan hukum yang berlaku. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak ML (46 th) menjelaskan bahwa:
“Sumpah adat menurut pandangan masyarakat Negeri Pelauw adalah sebuah komunikasi dari sebuah peristiwa sakral antara nenek moyang ke dua Negeri (Negeri Pelauw dan Titawaai) dalam panas pela salah satu acara Pela Gandong, yang memiliki kekuatan sakral (magis) serta mengandung nilai transendental. Yaitu nilai yang diyakini tidak akan goyah dari dulu sampai sekarang ataupun nanti”. (Hasil wawancara, 2-07-2021)
Sementara hasil wawancara bersama Bapa Pendeta NL (51 th) menjelaskan bahwa:
“Sumpah adat dilakukan pertama kali ketika belum ada agama resmi, maka itu disebut sumpah adat yang dibuat atas nama tuhan Atau yang kami biasa sebut Upu Lanite tidak bias dikatakan sebagai tuhan”. (Hasil Wawancara, 1-07-2021)
Panas pela merupakan salah satu acara dalam budaya Pela Gandong, yang mana pada kesempatan itu semua masyarakat dari Negeri Pelauw dan Titawaai akan berkumpul untuk merayakan hubungan persatuan dengan memperbaharui sumpahnya, mereka akan bersenang-senang sambil menyanyi, melakukan tari-tarian, dan Makan besar bersama (makan patita).
Rangkaian sumpah adat Pela Gandong merupakan simbol sejarah bagi Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dalam membangun hidup bersama yang sudah terkandung dalam nilai-nilai luhur. Nilai-nilai Pela Gandong yang diwariskan oleh
54
masyarakat lewat adat budaya agar menjalin persatuan dan membangun hubungan antar agama dari kedua Negeri. Makna dibalik sumpah adat Pela Gandong mengisyaratkan secara gamblang makna persaudaraan sejati (ale rasa beta rasa) yang harus tetap dijaga walau terdapat banyak tantangan kehidupan sosial dan budaya sebagai dampak dari perkembangan globalisasi dunia.
Keyakinan atau pengetahuan mengenai budaya Pela Gandong Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai menurut penelitian ini, kebanyakan masyarakat terutama generasi muda mendapatkannya atau memperoleh dari cerita-cerita orang tua, para kerabat dan teman-teman yang diceritakan secara turun-temurun atau dari mulut ke mulut, cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, pengalaman hidup mereka dengan Negeri Pelanya dalam membagun hubungan relasi adik-kakak dan kerjasama dalam lingkungan sosio-budaya. Namun, ada juga yang didapatkan dari lingkungan eksternal seperti pada buku-buku, situs dan tayangan media massa yang kini banyak membahas mengenai Pela Gandong pada wacana atau pembahasan mereka yang ditayangkan kepada masyarakat.
Pesatnya arus globalisasi tentu berdampak juga pada budaya Pela Gandong di Negeri Pelauw yang telah banyak mengalami pasang surut, mulai dari kerusuhan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan di Ambon sampai pada perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terutama pada media massa, sehingga eksistensi Pela Gandong bagi masyarakat yang selama ini dilaksanakan mulai meredup.
Tayangan media massa saat ini banyak membahas mengenai kekerasan, bullying, pelecehan, teroris dan penghinaan yang sering melibatkan Suku, Agama,
Ras dan Antar Golongan. Bahkan seringkali berita berkonten negatif ini menyinggung dua agama yang berbeda. Semakin banyak media massa yang membahas mengenai tayangan berkonten negatif, maka akan semakin besar berita tersebut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat.
Akibatnya dari tayangan media massa berkonten negatif itu akan mempengaruhi perilaku dan pola pikir penontonnya. Mempengaruhi para penontonya agar bertindak sesuai dengan apa yang media massa tayangkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak TA (65 th) mengatakan bahwa:
“Alat komunikasi yang kita gunakan itu sangat berbahaya, media itu membakar tidak pernah mendamaikan orang. Maka, bagi generasi muda Negeri Pelauw terutama mereka yang banyak menggunakan media massa dalam berinteraksi saya harap mereka dapat berhati-hati, karena luka batin itu susah diperbaiki”. (Hasil wawancara, 28-06-2021)
Jadi, dalam penggunaan media massa masyarakat Negeri Pelauw terutama generasi muda mereka diharapkan dapat menjaga nilai-nilai multikultural terutama nilai sosial Pela Gandong, dimanapun mereka berada, dalam keadaan apapun mereka diharapkan dapat menjaganya. Perlu disadari bahwa Pela Gandong telah menjaga Negeri Pelauw dan Negeri Titawaai dari konflik Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan yang pernah terjadi tahun 1999 di Ambon dan konflik horizontal dalam persoalan agama yang sering terjadi di berbagai daerah Indonesia.
Media massa saat ini hanya memikirkan renting yang tinggi atau bisnis sehingga tayangan yang sering diberikan kepada masyarakat lebih banyak kearah yang menyimpang dari fungsi media itu sendiri serta lebih mengedepankan keuntungan yang didapatkan. Maka, masyarakat Negeri Pelauw dalam hal ini
56
terutama dalam konteks Pela Gandong mereka diharapkan dapat selektif dalam memberikan kritikan atau opini yang cenderung menyalahkan pihak lain tanpa mengetahui kebenaran dari yang diberitakan, sehingga generasi muda Negeri Pelauw dapat menjaga ikatan dari budaya Pela Gandong agar selalu hidup.
b. Nilai Sosial Pela Gandong
Derasnya arus globalisasi dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam bidang media massa belum bisa mengobati trauma mereka. Trauma
Derasnya arus globalisasi dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam bidang media massa belum bisa mengobati trauma mereka. Trauma