• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap hasil penilaian yang dilakukan pada post test siklus I, II, dan III, dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar biologi. Peningkatan hasil belajar menunjukkan rata-rata hasil belajar post test I (67,69) menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan nilai awal (55,90), kemudian rata-rata hasil belajar post test II (71,03) menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan hasil post test I (67,69), dan hasil belajar post test III lebih meningkat dengan mencapai rata-rata sebesar 74,62. Peningkatan hasil belajar ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode Problem Posing efektif dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan siswa, hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa.

Adanya peningkatan hasil belajar dapat digambarkan sebagai berikut (hasil lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 7).

Gambar 1. Peningkatan Hasil Belajar Biologi dengan Pembelajaran Problem Posing pada Siswa Kelas VIIE SMP Muhammadiyah 5 Surakarta Tahun Ajaran 2007/2008. 74,62 55,90 67,69 71,03 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00

Awal Post Test I Post Test

II

Post Test III

Hasil Belajar

Gambar 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran siklus I, II, dan III dibandingkan nilai awal. Hasil belajar setelah pembelajaran dengan metode Problem Posing pada siklus I lebih meningkat dibanding nilai awal, siklus II lebih meningkat dibandingkan siklus I, dan hasil belajar siklus III lebih meningkat dari siklus II. Peningkatan ini karena siswa dapat memahami secara lebih luas dan mendalam terhadap materi yang diajarkan. Pengetahuan dan pemahaman yang meningkat ini terjadi karena siswa mampu menemukan jawaban atas permasalahan dan pertanyaan dari diajukan guru ataupun yang diajukan siswa lainnya melalui pembelajaran Problem Posing, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk mengetahui jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru atau siswa.

Hasil penelitia n ini menunjukkan bahwa melalui Problem Posing pembelajaran akan lebih efektif karena pemahaman siswa terbukti lebih

meningkat (dengan rata-rata nilai akhir pada siklus III sebesar 74,62). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran memerlukan variasi dalam metode penyampaiannya. Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan dari suatu metode dapat ditutup dengan metode lainnya. Oleh karena itu tidak ada metode mengajar yang paling baik dengan demikian guru tidak hanya menggunakan satu metode saja dalam proses mengajarnya, tetapi dapat menggunakan beberapa metode. Metode pembelajaran yang monoton yaitu dengan metode ceramah, terbukti tidak cukup membantu siswa memahami materi pelajaran sepenuhnya (terbukti dari hasil penilaian post test I hanya memperoleh rata-rata hasil belajar sebesar 67,69). Dalam praktiknya metode mengajar tidak bisa berdiri sendiri, oleh karena itu suatu metode harus dikombinasikan dengan metode yang lain. Kombinasi metode antara dua sampai tiga metode mengajar merupakan suatu keharusan dalam proses belajar mengajar, setiap metode bila digunakan dengan tepat akan menjadi metode yang baik (Sudjana, 2002).

Proses pembelajaran di SMP harus mulai lebih ditekankan pada penerapan prinsip-prinsip belajar kognitif. Implikasi teori belajar kognitif dalam pengajaran biologi adalah memusatkan kepada berpikir atau proses mental anak, dan tidak sekedar kepada hasilnya. Siswa secara aktif harus membangun pengetahuan sendiri. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman yang lebih luas adalah pembelajaran dengan Problem Posing. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, maka siswa terlebih dahulu dilatih keterampilan-keterampilan sebelum pembelajaran itu

digunakan. Hal ini dilakukan agar siswa telah memiliki keterampilan yang diperlukan untuk strategi pembelajaran Problem Posing. Keterampilan yang dilatih seperti mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan atau menanggapi, mencari solusi permasalahan, menyampaikan ide atau pendapat, mendengarkan secara aktif, dan sebagainya.

Dalam rangka mengaktifkan siswa agar memperoleh pemahaman yang lebih baik dalam proses pembelajaran, maka guru harus menggunakan metode yang bervariasi. Sangat dianjurkan agar guru menggunakan kombinasi metode mengajar setiap kali mengajar (Sudjana, 2002). Sebab untuk dapat melakukan proses pembelajaran yang baik guru dapat memilih dan menggunakan beberapa metode mengajar. Metode mengajar banyak sekali jenisnya, masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kekurangan suatu metode dapat ditutup dengan metode mengajar yang lain sehingga guru dapat menggunakan beberapa metode mengajar dalam melakukan proses belajar mengajar. Pemilihan suatu metode perlu memperhatikan beberapa hal seperti materi yang akan disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia dan siswa serta hal- hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.

Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Oleh karena itu, guru perlu memberikan motivasi kepada siswa untuk memanfaatkan segenap potensinya dalam membangun gagasan. Dalam konteks ini tanggung jawab belajar ada pada diri siswa. Sementara itu, guru bertanggung jawab menciptakan situasi yang mendorong terjadinya prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Untuk

dapat melakukan tugas ini, prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar dan pemberian motivasi dalam kurikulum berbasis kompetensi hendaknya dipahami dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Prinsip-prinsip tersebut meliputi (Pusat Kurikulum, 2006):

1. Kegiatan belajar berpusat pada siswa, kegiatan belajar yang memusatkan perhatian pada siswa diindikasikan oleh tingginya perhatian terhadap keragaman yang dimiliki siswa, baik keragaman kemampuan, bakat, minat, sikap, maupun latar belakang keluarga. Oleh karena itu KBM hendaknya memperhatikan keragaman siswa ini melalui program-programnya.

2. Belajar dengan melakukan, konsepsi learning by doing artinya para siswa tidak hanya dicekoki dengan sejumlah informasi melalui metode ceramah, akan tetapi mereka justru ditantang untuk lebih banyak mempraktekan konsep atau teori dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupannya sehari-hari.

3. Mengembangkan kemampuan sosial, pemahaman siswa akan lebih mudah

jika mereka difasilitasi untuk mengemukakan berbagai gagasannya terhadap siswa lain dan guru. Melalui langkah seperti ini, interaksi antara siswa dengan lingkungan sosialnya akan semakin kuat. Oleh karena itu, metode diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan akan memupuk kemampuan siswa mengkomunikasikan gagasannya. Melalui forum ini pula para siswa dilatih untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain serta tidak memaksakan pendapatnya sendiri.

4. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah bertuhan, rasa ingin tahu dan imajinasi sebagai modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif perlu dikembangkan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Sementara itu, fitrah bertuhan juga perlu dikembangkan sebagai bagian tak terpisahkan dari hakekat keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan.

5. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, ada pepatah yang

mengatakan bahwa orang berhasil bukanlah orang yang tidak punya masalah, akan tetapi orang yang dapat mengatasi masalah. Sejalan dengan pepatah di atas, keterampilan pemecahan masalah perlu dilatih sejak dini, sehingga para siswa akan termotivasi untuk secara aktif mencari jawaban atas permasalahannya dengan prosedur ilmiah. Dalam hal ini, KBM perlu dipilih dan dirancang agar mampu mendorong dan melatih siswa untuk mampu mengidentifikasi dan memecahkannya dengan menggunakan kemampuan kognitif dan meta kognitif.

6. Mengembangkan kreatifitas siswa, keharusan untuk mengembangkan

kreatifitas siswa, terutama karena memang para siswa memiliki potensi untuk berbeda. Perbedaan ini akan dapat dilihat dari pola pikir, daya imajinasi, fantasi, dan hasil karyanya. Akibatnya KBM perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan.

Menurut Slameto (1991), pemilihan metode pembelajaran yang cocok diterapkan pada siswa perlu memperhatikan beberapa hal. Pemilihan metode

mengajar perlu memperhatikan hal- hal sebagai berikut : 1) Tujuan pengajaran yaitu tingkah laku yang diharapkan dapat dinampakkan siswa setelah proses belajar mengajar, 2) Materi pengajaran yaitu bahan yang disajikan dalam pengajaran, 3) Besar kelas (jumlah siswa) yaitu banyaknya siswa yang mengikuti pelajaran dalam kelas yang bersangkutan, 4) Kemampuan siswa yaitu kemampuan siswa untuk menangkap dan mengembangkan bahan pelajaran yang disampaikan, 5) Kemampuan guru atau dosen atau instruktur yaitu kemampuan dalam menggunakan berbagai jenis metode pengajaran, 6) Fasilitas yang tersedia, 7) Waktu yang tersedia.

Pemilihan strategi pembelajaran Problem Posing lebih

menguntungkan karena strategi ini menuntut siswa untuk memiliki pemahaman yang lebih baik karena perannya untuk mencari pemecahan masalah, mencari jawaban atas pertanyaan, dan memberikan pertanyaan bagi siswa lain. Pembelajaran dengan metode Problem Posing dapat membantu siswa dalam memperkaya pengetahuannya dan dapat mengembangkan kreativitas belajar, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar biologi siswa menjadi rata-rata sebesar 74,62 setelah pembelajaran metode Problem Posing. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran Problem Posing memiliki efektifitas dalam meningkatkan hasil belajar. Secara teori beberapa manfaat model pembelajaran aktif dalam proses pembelajaran antara lain (Roger dan Johnson, 1994) adalah: 1) Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya dalam suasana

belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis. 2) Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki siswa. 3) Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap. Nilai, dan ketrampilan-ketrampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. 4) Siswa tidak hanya sebagai obyek belajar melainkan juga sebagai subyek belajar karena siswa dapat menjadi tutur sebaya bagi siswa lainnya. 5) Siswa dilatih untuk bekerja sama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal bagi kesuksesan kelompoknya. 6) Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.

Pembelajaran dengan Problem Posing dimaksudkan untuk lebih

memotivasi siswa dalam belajar dan berperan aktif dalam mengikuti pelajaran. Antusias siswa dalam mengikuiti pelajaran ini tentu akan diikuti dengan perhatian yang lebih baik dari siswa, sehingga pemahaman siswa akan lebih meningkat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka diambil kesimpulan sebagai berikut:

Pembelajaran dengan strategi Problem Posing pokok bahasan

ekosistem dapat meningkatkan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIIE SMP Muhammadiyah 5 Surakarta tahun ajaran 2007/2008. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar post test I (67,69) yang menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan nilai awal (55,90), kemudian rata-rata hasil belajar post test II (71,03) menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan hasil post test I (67,69), dan hasil belajar post test III lebih meningkat dengan mencapai rata-rata sebesar 74,62. Peningkatan hasil belajar ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode Problem Posing efektif dalam meningkatkan hasil belajar biologi siswa.

B. Saran

1. Saran bagi guru

a. Guru disarankan untuk sering berlatih dalam memadukan beberapa metode mengajar, agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, serta lebih kreatif dalam mengembangkan strategi pembelajarannya, khususnya dalam menggunakan metode Problem Posing.

b. Guru perlu melaksanakan penyususun program secara lebih tepat dan rinci untuk memperbaiki atau mengembangkan proses pembelajaran dengan metode yang lebih cocok bagi siswa

c. Guru diharapkan selalu melakukan evaluasi berkala yang terjadwal yang difokuskan pada evaluasi proses dan hasil. Evaluasi proses diarahkan pada tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. d. Sebaiknya guru memiliki kemampuan mengendalikan kelas.

e. Guru harus bisa mengusai materi. 2. Saran bagi siswa

a. Selalu bersedia dan antusias dalam mengikuti pembelajaran dengan metode Problem Posing, karena dengan metode ini pemahaman siswa akan lebih meningkat.

b. Siswa harus selalu mengikuti petunjuk dan arahan yang diberikan guru.

3. Kepada institusi sekolah

a. Diharapkan selalu menyediakan sarana dan sarana pembelajaran,

perpustakaan, buku-buku paket, dan buku penunjang karena hal tersebut sangat penting bagi suksesnya pembelajaran dengan metode Problem Posing.

b. Diharapkan selalu mengikutsertakan para guru untuk mengikuti

pelatihan-pelatihan yang sering diadakan oleh Dinas Pendidikan Nasional setempat

4. Bagi penelitian berikutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian lanjutan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang metode pembelajaran lain yang lebih cocok dengan tipe belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Ad. Rooijakkers. 1991. Mengajar dengan Sukses Petunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pelajaran. Jakarta : PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.

Amin Suyitno. 2004. Model Pembelajaran Matematika. Semarang : Depdiknas.

Anita Lie . 2004. Cooperatif Learning : Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta : PT. Raja Widia Sarana Indonesia.

Arief S. Sadiman. 2002. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

A. Suhaenah Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta :

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Darsono, Sugandhi, Martensi, Sutadi dan Nugroho. 2004. Belajar dan

Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.

Dimyati dan Mudjiono.1999..Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. Fudyartanto. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Yogyakarta :

Global Pustaka Utama.

Hilda Karlin dan Margaretha. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis

Kompetensi II. Bandung : Bina Media Informasi.

Joyce dan Well J Mandalika. 1999. Belajar dan Pembelajaran I. Surabaya : University Press UNESA.

Kemmis and McTaggart. 1994. The Action Research Planner. Dekain University.

Martinus Yamin. 2006. Profesionalisme Guru dan Implementasi Kurikulum

Berbasis Kompetensi . Jakarta : Gaung Persada Press.

Muhibbin Syah. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Remadja Rosda Karya.

Muslimin Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Suarabaya : University. Nana Sudjana. 1995. Dasar-Dasar Proses Belajar. Bandung : Sinar Baru.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: PT. Grasindo.

Robert Slavin. 1995. Cooperatif Learning Theory Reaserch and Practice. Boston : Allyn and Bacon.

Roestiyah N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar (Salah Satu Unsur Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar, Teknik Penyajian). Jakarta : Rineka Cipta. Roger dan David Johnson. 2000. Learning Method. Jakarta : Gunung Agung. Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Bandung : Raja

Grafindo Persada.

Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Surakarta : UNS Press.

Sudjana. 2002. Statistik Penelitian Pendidikan. Bandung : Tarsito.

Suharjono . 2006 . Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Kegiatan Pengembangan Profesi Guru . Jakarta : Bumi Aksara.

Suharsimi Arikunto. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara. Sumadi, Suryabrata. 1995 . Psikologi Pendidikan. Jakarta : rajawali.

Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas Beserta Sistematika Proposal dan Laporannya. Jakarta : Bumi Aksara.

Syaiful Bahri Djamarah. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.

Lampiran 1

PENGEMBANGAN SILABUS

Nama Sekolah : SMP Muhammadiyah 5 Surakarta

Mata Pelajaran : IPA/BIOLOGI

Program/Kelas : II/VII

Semester : Genap

Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem

Kompetensi Dasar : 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem

Penilaian Kompetensi Dasar Materi Pokok dan Uraian materi Kegiatan

Pembelajaran Indikator Teknik Bentuk Instrumen Instrumen Alokasi Waktu Sumber, alat, bahan 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem - Ekosistem - Melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar sebagai satuan ekosistem - Menggali informasi dari nara sumber/melihat tayangan video tentang komponen suatu satuan ekosistem yang spesifik (ekosistem sawah,ekosiste m danau). Mengidentifikasikan satuan-satuan dalam ekosistem dan menyatakan matahari merupakan sumber energi utama. 1. tugas kelom pok 2. tugas individu Uraian Rangkuman 1.Apakah yang dimaksud dengan ekosistem ? 2.Macam- macam ekosistem ada berapa?sebutkan dan jelaskan? 3.Komponen penyusun ekosistem adaberapa,sebut kan dan jelaskan? 4 x 40 menit Sumarwan. 2004. Sains Biologi untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga Lembar kerja siswa Simpati SMP Sains Biologi Smt. 2 -

7.2Mengidentifikasikan pentingnya

keanekaragaman

makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem. - Keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem. - Membuat beberapa model diagram rantai makanan dan jaring-jaring makanan. - Mencari informasi melalui studi pustaka untuk merumuskan pentingnya membudidayakan tumbuhan dan hewan langka. -Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan berdasar hasil pengamatan suatu ekosistem.

-Mendifinisikan makhluk hidup yang tergolong hewan langka. 3. tugas kelompok 4. tugas kelompok 5. tugas individu Rangkuman Uraian Uraian 1. Gambarkan sebuah rantai makanan yang ada di sawah ? 2. Siapakah yang berperan sebagai: Produsen : Konsumen I : Konsumen II : Konsumen III : 3. Apakah yang dimaksud dengan rantai makanan dan jaring-jaring makanan ? 1. Apakah yang dimaksud dengan cagar alam ? 2. Ada berapa pelestarian keanekaragaman hayati? 3. Sebutkan contoh perbuatan manusia yang dapat menurunkan keanekaragaman hayati ? VII

Lampiran 2

RANCANGAN PEMBELAJARAN SIKLUS I

Mata Pelajaran : Biologi

Kelas/ Semester : VIIIA/II

Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem

Kompetensi Dasar : 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem

Materi Pokok : Ekosistem

Indikator : Mengidentifikasi satuan-satuan dalam ekosistem dan menyatakan matahari merupakan sumber energi utama

Waktu : 2 x 40 menit

Pertemuan : I

Uraian Materi Pengalaman Belajar Strategi Pembelajaran Siswa Kompetensi yang Ingin Dicapai Tempat Pembelajaran

Ekosistem :

1. Mengidentifikasi satuan-satuan dalam ekosistem.

Siswa melakukan pembelajaran problem posing.

- Guru meminta siswa untuk membaca materi tentang ekosistem (20 menit). - Guru meminta untuk mengajukan satu atau duah buah soal yang menantang dan siswa yang bersangkutan harus dapat menyelesaikan (15 menit).

- Guru membacakan pertanyaan yang muncul kemudian menawarkan pada siswa yang mau menjawab pertanyaan tersebut (15 menit ).

- Siswa diharapkan mampu

mengidentifikasikan satuan-satuan dalam ekosistem.

- Siswa diharapkan mampu

membuat pertanyaan tentang ekosistem dalam kehidupan yang belum diketahui.

- Siswa diharapkan mampu

menjawab pertanyaan yang

- Kelas

- Kelas

- Guru mengklarifikasi jawaban dari pertanyaan dan mengulas kembali materi yang dipelajari (15 menit).

- Guru memberikan postest pada siswa mengenai materi yang dipelajari (15 menit).

muncul mengenai ekosistem.

- Siswa diharapkan mampu menyimpulkan materi tentang ekosistem.

- Diharapkan nilai siswa meningkat dengan menggnakan pembelajaran problem posing. - Kelas - Kelas Surakarta, April 2008 Mengetahui Kepala Sekolah Drs. Saifudin NIPM. 508092101 Praktikan

Rina Nur Hidayati A. 420 030 035

Lanjutan Lampiran 2

RANCANGAN PEMBELAJARAN SIKLUS II

Mata Pelajaran : Biologi

Kelas/ Semester : VIIIA/II

Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem

Kompetensi Dasar : 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem

Materi Pokok : Ekosistem

Indikator : Menggambarkan dalam bentuk diagram rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan berdasarkan hasil pengamatan suatu ekosistem

Waktu : 2 x 40 menit

Pertemuan : II

Uraian Materi Pengalaman Belajar Strategi Pembelajaran Siswa Kompetensi yang Ingin Dicapai Tempat Pembelajaran

Ekosistem :

2. Diagram rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan.

Siswa melakukan pembelajaran problem posing.

- Guru meminta siswa untuk membaca materi tentang aliran energi dalam ekosistem ( 20 menit)

- Guru meminta siswa untuk menggambarkan diagram rantai makanan dan jaring- jaring makanan (15 menit)

-Guru meminta siswa untuk mengajukan satu atau dau buah soal yang menatang dan siswa yang bersangkutan harus dapat

- Siswa diharapkan mampu menjelaskan aliran energi dalam ekosistem

- Siswa diharapakan mampu menggambarkan suatu rantai makanan dan jaringa-jaring makana - Siswa diharapkan mampu membuat pertanyaan tentang aliran energi yang belum dipahami

- Siswa diharapakn mampu menjawab pertanyaan yang muncul

- Kelas

- Kelas

menyelesaikan (15 menit)

- Guru mengklarifikasi jawaban dari pertanyaan yang dan mengulas kembali materi yang dipelajari (15 menit)

- Guru memberikan post tes pada siswa yang mengenai materi yang dipelajari (15 menit)

mengenai aliran energi

- Diharapkan nilai siswa meningka dengan menggunakan pembelajaran problem posing - Kelas - Kelas - Kelas Mengetahui Kepala Sekolah Drs. Saifudin NIPM. 508092101 Surakarta, April 2008 Praktikan

Rina Nur Hidayati A. 420 030 035

Lanjutan lampiran 2

RANCANGAN PEMBELAJARAN SIKLUS III

Mata Pelajaran : Biologi

Kelas/ Semester : VII/II

Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem

Kompetensi Dasar : 7.2 Mengidentifikasikan pentingnya keaneka ragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem

Materi Pokok : Keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem

Indikator : Mengidentifikasi makhluk hidup yang tergolong langka

Waktu : 2 x 40 menit

Pertemuan : III

Uraian Materi Pengalaman Belajar Siswa

Strategi Pembelajaran Siswa Kompetensi yang Ingin Dicapai Tempat Pembelajaran

Ekosistem

3. Mengidentifikasikan makhluk hidup yang tergolong langka

Siswa melakukan kegiatan pembelajaran problem posing

- Guru meminta siswa untuk membaca

materi tentang keanekaragaman makhluk hidup (20 menit)

- Guru meminta mengelompokkan hewan

dan tumbuham yang sudah langka di Indonesia (15 menit)

- Guru meminta siswa untuk mengajukan satu atau dau buah soal yang menantang

- Siswa diharapkan mampu menjelaskan

keanekaragaman makhluk hidup

- Siswa diharapkan mampu mengelompokkan hewan dan tumbuhan yang sudah langka

- Kelas

- Kelas

dan siswa yang bersangkutan harus dapat menyelesaiakan (15 menit) - Guru mengklarifikasi jawaban dari

pertanyaan dan mengulas kembali materi yang dipelajari (15 menit)

- Guru memberikan post tes pada siswa mengenai materi yang dipelajari (15 menit)

- Siswa diharapkan mampu menulis pertanyan tentang keanekaragaman makhluk hidup

- Siswa diharapkan mampu menyimpan materi tentang keanekaragaman makhluk hidup

- Diharapkan nilai siswa meningkat dengaan menggunakan pembelajaran problem posing - Kelas - Kelas Surakarta, April 2008 Praktikan

Rina Nur Hidayati A. 420 030 035 Mengetahui Kepala Sekolah Drs. Saifudin NIPM. 508092101

Lampiran 3

Mata Pelajaran : IPA

Pokok Bahasan : Ekosistem

Kelas / Semester : VII / II

SOAL POST TES SIKLUS I SOAL

1. Apakah yang dimaksud dengan ekosistem ? 2. Macam ekosistem ada berapa,sebutkan dan jelaskan?

Lanjutan Lampiran 3

KUNCI JAWABAN SOAL POST TES SIKLUS I

1. Ekosistem adalah system ekologi yang menggambarkan hubungan saling

ketergantungan antara makhluk hidup dengan lingkungan

2. Berdasarkan proses terjadinya macam ekosistem dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

a. Ekosistem alamiah

Ekosistem alamiah adalah ekosistem yang terbentuk secara alamiah sebagai akibat adanya pengaruh dari alam di sekitarnya.

Contoh : gurun, sungai, danau, hutan dan padang rumput. b. Ekosistem buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang dibuat oleh manusia. Contoh: sawah, lading, kebun, waduk dan akuarium.

3. Berdasarkan sifatnya komponen penyusun ekosistem dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

a. Komponen biotik

Komponen biotik merupakan bagian dari suatu ekosistem yang terdiri atas makhluk hidup.

Komponen biotik terdiri atas: produsen, konsumen, dekomposer b. Komponen abiotik

Komponen abiotik merupakan bagian ekosistem yang terdiri atas makhluk hidup.

Lampiran 4

Mata Pelajaran : IPA

Pokok Bahasan : Ekosistem

Dokumen terkait