• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Penguasaan konsep peserta didik

Berdasarkan data hasil penelitian diatas, perbandingan nilai rata-rata hasil tes penguasaan konsep Kimia peserta didik pada materi asam basa sebelum dan sesudah diterapkan model experiental learning selalu mengalami peningkatan. Pretest yang dilaksanakan sebelum pembelajaran bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal peserta didik mengenai bahan yang disajikan. Nilai rata-rata pretest sebelum diterapkannya pembelajaran experiental learning sebesar 51,36 yang tersebar diantara nilai tertinggi 63 dan nilai terendah 30. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata pretest masih berada di bawah kriteria nilai ketuntasan minimum yaitu 70,00.

Hasil rata-rata pretest yang cenderung rendah dan berada di bawah nilai KKM dapat disebabkan oleh ketidaksiapan peserta didik. Dalam proses belajar, adanya kesiapan tersebut mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Peserta didik yang siap belajar akan menghasilkan nilai yang baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak memiliki kesiapan untuk belajar. Peserta didik tidak memiliki kesiapan belajar dikarenakan dalam setiap proses belajar mengajar tidak pernah mendapatkan pretest dari guru yang bersangkutan sehingga peserta didik tidak pernah membaca atau belajar terlebih dahulu sebelum materi disampaikan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kesulitan peserta didik dalam mengerjakan soal tes yang diberikan, karena materi yang terdapat didalam soal pretest belum pernah

52 didapatkan sebelumnya. Sehingga nilai pretest yang didapatkan berada di bawah nilai KKM yang telah ditentukan.

Penelitian ini terdiri dari dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan utama yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang berulang secara siklis. Siklus I maupun siklus II terbagi menjadi dua kali pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 x 45 menit. Materi yang disampaikan tiap pertemuan disajikan dalam Tabel 4.1 di atas. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran experiental learning. Kegiatan pembelajaran dengan model experiental learning dilaksanakan dengan mengadakan pengalaman konkrit (concrete experience) bagi peserta didik sebagai awal pembelajaran, dilanjutkan dengan pengalaman reflektif (reflective observation) dan masuk pada tahap konseptualisasi abstrak (abstract conceptualization) kemudian diselesaikan dengan percobaan aktif (active experimentation) yang diterapkan dengan menggunakan pendekatan eksperimen.

Pada tahap pengalaman konkrit, peserta didik ditugaskan untuk mencari dan mendata bahan-bahan yang terdapat di alam yang memiliki sifat asam basa. Kegiatan tersebut dapat menggali pengalaman peserta didik sebagai modal dasar dalam penemuan konsep-konsep baru. Pengalaman belajar menunjukkan kegiatan belajar yang perlu dilakukan oleh peserta didik dalam berinteraksi dengan objek atau sumber belajar untuk mencapai penguasaan kemampuan dan materi pembelajaran. Adanya tugas yang diberikan oleh guru pada tahap ini, peserta didik dapat mengingat konsep dengan lebih baik karena peserta didik melakukan dan mengalami kegiatan secara langsung berdasarkan pengalaman peserta didik itu sendiri.

Pada tahap pengalaman reflektif, guru mendemonstrasikan dan menguji suatu bahan yang mengandung sifat asam atau basa dengan menggunakan indikator. Demonstrasi tersebut mengajak peserta didik berfikir untuk mengetahui penjelasan mengapa dan bagaimana suatu bahan dapat dikategorikan bersifat asam atau basa. Pada tahap ini merupakan dasar proses konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta perkiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang baru. Setelah

53 pengalaman reflektif, pembelajaran dilanjutkan dengan tahap konseptualisasi abstrak sebagai hasil dari kegiatan pengalaman konkrit dan pengalaman reflektif. Pada tahap ini peserta didik diajak untuk mengerti satu konsep secara umum. Kegiatan konseptualisasi abstrak berupa pembentukan pengetahuan dalam suatu konsep setelah dilakukan diskusi kelas.

Tahap terakhir yaitu tahap percobaan aktif, pada tahap ini peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan suatu percobaan terhadap bahan-bahan yang telah disediakan. Percobaan ini dilaksanakan dengan langkah-langkah yang sesuai dengan lembar kegiatan peserta didik yang telah disediakan, namun tetap mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari guru. Pada tahap percobaan aktif peserta didik dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran karena melakukan sendiri percobaan berdasarkan lembar kegiatan yang telah diberikan. Keterlibatan langsung atau pengalaman langsung yang yang didapatkan peserta didik merupakan hasil dari aktivitas sendiri, peserta didik mengalami, merasakan sendiri segala sesuatu yang bertujuan dengan pencapaian tujuan. Adapun kegiatan pembelajaran dengan model experriental learning pada tiap siklus secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

Siklus I

a. Perencanaan

1) Menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP, lembar kegiatan peserta didik dan soal tes akhir siklus 1

2) Menyusun skenario tindakan

3) Menyusun format atau lembar observasi b. Tindakan

1) Guru dan peserta didik membuat kesepakatan kontrak belajar sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

2) Guru menjelaskan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan pada tiap siklus untuk materi pembelajaran asam basa.

3) Guru merumuskan tujuan belajar yang akan dicapai.

4) Peserta didik mendapatkan penjelasan singkat tentang materi asam basa. 5) Peserta didik dibagi untuk membentuk kelompok.

54 6) Pada tahap awal, Concrete Experience (CE), masing-masing kelompok mendapatkan tugas dari guru untuk melakukan aktivitas konkrit dengan cara mengamati dan mencari bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan sekolah yang mengandung sifat asam atau basa.

7) Peserta didik melakukan Reflective Observation (RO). Pada tahap ini peserta didik mengamati dan mencatat hasil dari pengalaman yang diperolehnya, mengkomunikasikan kembali dan belajar dari pengalaman tersebut.

8) Pada tahap Abstract Conceptualization (AC) peserta didik mulai mencari alasan, hubungan timbal balik dari pengalaman yang diperolehnya. Selanjutnya mengkonseptualisasi suatu teori atau model dari pengalaman yang diperoleh dan mengintegrasikan dengan pengalaman sebelumnya. Pada fase ini dapat ditentukan apakah terjadi pemahaman baru atau proses belajar pada diri peserta didik atau tidak.

9) Tahap terakhir, Active Experimentation (AE), pada tahap ini peserta didik melakukan eksperimen untuk membuktikan sifat asam basa dari suatu bahan dengan menggunakan kertas lakmus

10) Peserta didik mendapatkan permasalahan kontekstual terkait materi asam basa untuk didiskusikan oleh masing-masing kelompok.

11) Peserta didik mendiskusikan permasalahan yang diberikan guru dan mempresentasikan hasil diskusinya masing-masing.

12) Guru dan peserta didik menarik kesimpulan. 13) Tes akhir siklus 1 untuk mempertajam konsep. c. Pengamatan observasi

Dengan menggunakan lembar observasi, guru mengamati aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Aspek afektif yang diamati meliputi memperhatikan penjelasan guru, kedisiplinan, kerjasama, tanggungjawab dan kemampuan menjawab pertanyaan. Sedangkan aspek psikomotorik yang diamati meliputi partisipasi melaksanakan observasi, bekerjasama dalam kelompok, bertanya dan berpendapat, membuat laporan observasi dan kemampuan menyimpulkan.

55 d. Refleksi

Dilakukan untuk mengetahui kekurangan yang terdapat pada siklus I. Dalam tahap ini merupakan kegiatan menganalisa, mensintesa dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada siklus 1 berlangsung dan diadakan ulangan harian yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep kimia peserta didik pada materi asam basa.

Pada akhir siklus I, peserta didik diberikan tes penguasaan konsep Kimia berupa tes essay dengan 10 butir pertanyaan. Deskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus I ini disajikan pada Tabel 4.3 diatas. Berdasarkan Tabel 4.3 tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata tes penguasaan konsep peserta didik sebesar 76,95 dengan nilai tertinggi 92 dan nilai terendah 59. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini sebesar 81,82% dengan kategori baik. Berdasarkan refleksi yang dilakukan pada siklus I ini, terdapat kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Adapun kekurangan-kekurangan-kekurangan-kekurangan yang terdapat pada pelaksanaan tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut:

1) Peserta didik masih belum aktif dalam kegiatan pembelajaran, ini terbukti dari pengamatan proses belajar mengajar. Peserta didik masih malu untuk bertanya, suasana kelas masih belum terkondisikan

2) Peserta didik kurang disiplin dalam melakukan kegiatan praktikum di laboratorium

3) Masih banyak peserta didik yang kurang berpartisipasi dalam kegiatan praktikum

4) Diskusi kelompok berjalan kurang efektif, hanya beberapa peserta didik saja yang aktif dalam berdiskusi

Adanya kekurangan-kekurangan diatas maka perlu diperbaiki pada siklus selanjutnya.

Siklus II

a. Perencanaan

1) Menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP, lembar kegiatan siswa dan soal tes akhir siklus II

56 3) Menyusun format atau lembar observasi

b. Tindakan

1) Guru memberi salam, menanyakan kabar peserta didik dan mengajukan pertanyaan untuk mereview materi sebelumnya.

2) Sebelum dimulai peserta didik membentuk kelompok.

3) Peserta didik mendapatkan penjelasan tentang konsep pH dan cara pengukurannya

4) Guru merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

5) Pada tahap awal, Concrete Experience (CE), peserta didik mendapatkan gambaran konsep pH dalam kehidupan sehari-hari

6) Peserta didik melakukan pengamatan cara menentukan pH dengan menggunakan indikator universal (reflection observation).

7) Peserta didik memecahkan masalah dalam menentukan pH suatu larutan (abstract conceptualization)

8) Peserta didik mendiskusikan dengan masing-masing kelompoknya.

9) Tahap terakhir, active experimentation, peserta didik mulai melakukan percobaan dalam menentukan pH suatu larutan dengan menggunakan indikator universal dan menentukan sifat masing-masing larutan tersebut. 10) Peserta didik dibimbing guru dalam melakukan praktikum untuk

mengidentifikasi sifat suatu zat dan menentukan nilai pHnya. 11) Guru dan peserta didik memberikan kesimpulan.

12) Peserta didik membuat laporan. 13) Tes akhir siklus II.

c. Pengamatan observasi

Dengan menggunakan lembar observasi guru mengamati aspek afektif dan psikomotorik peserta didik.

d. Refleksi

Dalam tahap ini merupakan kegiatan menganalisa, mensintesa dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada siklus II berlangsung dan diadakan ulangan harian yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep kimia peserta didik pada materi asam basa.

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep Kimia. Deskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai tertinggi 98 dan nilai t

sebesar 95,45% dengan kategori baik sekali. Setelah pembelajaran dengan model diberikan

didik atas materi yang sudah diajarkan. Nilai rata

86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat perbedaan nilai rata

35,16. Nilai

mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau selisih antara nilai

pengaruh dari p

dengan experiental learning

terhadap penguasaan konsep kimia peserta didik karena rata lebih besar daripada rata

Perbandingan nilai rata sesudah diterapkan pembelajaran 4.2 berikut ini: 0 20 40 60 80 100

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai tertinggi 98 dan nilai t

sebesar 95,45% dengan kategori baik sekali. Setelah pembelajaran dengan model

diberikan posttest dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta tas materi yang sudah diajarkan. Nilai rata

86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat perbedaan nilai rata

35,16. Nilai pretest

mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau selisih antara nilai pre

pengaruh dari proses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran experiental learning

terhadap penguasaan konsep kimia peserta didik karena rata lebih besar daripada rata

erbandingan nilai rata sesudah diterapkan pembelajaran

berikut ini:

Gambar 4.2. Grafik Penguasaan Konsep Kimia 51,36

Pretest

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai tertinggi 98 dan nilai terendah 68. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini sebesar 95,45% dengan kategori baik sekali.

Setelah pembelajaran dengan model

dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta tas materi yang sudah diajarkan. Nilai rata

86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat perbedaan nilai rata

dan posttest

mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau pretest dan postt

roses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran experiental learning model Kolb memberikan pengaruh yang baik terhadap penguasaan konsep kimia peserta didik karena rata

lebih besar daripada rata-rata nilai tes

erbandingan nilai rata-rata penguasaan konsep peserta didik sesudah diterapkan pembelajaran

Gambar 4.2. Grafik Penguasaan Konsep Kimia 51,36

Pretest Siklus I

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai

erendah 68. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini sebesar 95,45% dengan kategori baik sekali.

Setelah pembelajaran dengan model

dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta tas materi yang sudah diajarkan. Nilai rata

86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat perbedaan nilai rata

posttest dijadikan sebagai bahan perbandingan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau posttest merupakan pencapaian yang nyata sebagai roses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran model Kolb memberikan pengaruh yang baik terhadap penguasaan konsep kimia peserta didik karena rata

rata nilai tes pada siklus I, siklus II maupun rata penguasaan konsep peserta didik sesudah diterapkan pembelajaran experiental learning

Gambar 4.2. Grafik Penguasaan Konsep Kimia 76,95

Siklus I

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai

erendah 68. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini sebesar 95,45% dengan kategori baik sekali.

Setelah pembelajaran dengan model experiantal learning

dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta tas materi yang sudah diajarkan. Nilai rata-rata posttest

86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat perbedaan nilai rata-rata

dijadikan sebagai bahan perbandingan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau merupakan pencapaian yang nyata sebagai roses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran model Kolb memberikan pengaruh yang baik terhadap penguasaan konsep kimia peserta didik karena rata

pada siklus I, siklus II maupun rata penguasaan konsep peserta didik

experiental learning

Gambar 4.2. Grafik Penguasaan Konsep Kimia 83,13

Siklus II

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai

erendah 68. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini

experiantal learning

dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta posttest peserta didik adalah 86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan

rata pretest dan

dijadikan sebagai bahan perbandingan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau merupakan pencapaian yang nyata sebagai roses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran model Kolb memberikan pengaruh yang baik terhadap penguasaan konsep kimia peserta didik karena rata-rata nilai

pada siklus I, siklus II maupun rata penguasaan konsep peserta didik

experiental learning disajikan dalam G

Gambar 4.2. Grafik Penguasaan Konsep Kimia Peserta Didik 86,52

Siklus II posttest

Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai

erendah 68. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini

experiantal learning, peserta didik dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta peserta didik adalah 86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan dan posttest sebesar dijadikan sebagai bahan perbandingan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau merupakan pencapaian yang nyata sebagai roses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran model Kolb memberikan pengaruh yang baik rata nilai posttest pada siklus I, siklus II maupun pretest. rata penguasaan konsep peserta didik sebelum dan

disajikan dalam Gambar

Peserta Didik 86,52

posttest

57 Pada akhir siklus II ini, peserta didik mendapatkan tes penguasaan konsep eskripsi hasil tes penguasaan konsep Kimia pada siklus II disajikan pada Tabel 4.4 diatas. Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata tes penguasaan konsep peserta didik pada siklus II sebesar 83,13 dengan nilai erendah 68. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus ini

, peserta didik dengan tujuan untuk mengetahui penguasaan konsep peserta peserta didik adalah 86,52 yang tersebar diantara nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 70. Berdasarkan sebesar dijadikan sebagai bahan perbandingan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbedaan atau merupakan pencapaian yang nyata sebagai roses belajar peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran model Kolb memberikan pengaruh yang baik posttest

sebelum dan ambar

58 Berdasarkan Gambar 4.2 diatas menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam peningkatan penguasaan konsep kimia yang dicapai peserta didik. Peningkatan penguasaan konsep yang dicapai peserta didik menggambarkan peningkatan pemahaman masing-masing peserta didik tentang konsep yang telah dipelajari. Berdasarkan Gambar 4.2 di atas, memperlihatkan nilai rata-rata pretest sebesar 51,36. Pada siklus I meningkat menjadi 76,95 dan 83,13 pada siklus II. Sedangkan nilai rata-rata posttest sebesar 86,52. Dengan memperhatikan data hasil posttest pada Gambar 4.2 tersebut, terlihat bahwa rata-rata kemampuan penguasaan konsep Kimia peserta didik pada materi asam basa sebelum tindakan dan setelah tindakan selalu meningkat.

Kriteria Ketuntasan Minimal merupakan kriteria yang diberlakukan oleh sekolah untuk menyatakan apakah peserta didik tersebut lulus atau tidak pada satu mata pelajaran. KKM pada mata pelajaran Kimia di MAN 2 Bojonegoro yang menjadi tempat penelitian adalah 70. Jumlah peserta didik yang menjadi objek penelitian berjumlah 44. Perbandingan ketuntasan belajar peserta didik pada pembelajaran dengan model experiental learning dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah ini:

Gambar 4.3. Perbandingan Ketuntasan belajar peserta didik

Berdasarkan Gambar 4.3 di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata ketuntasan belajar peserta didik setelah diterapkannya experiental learning sebesar 82,20. Jumlah peserta didik yang tuntas selalu mengalami kenaikan setiap siklusnya. Pada Siklus I jumlah peserta didik yang tuntas berjumlah 36. Sedangkan 8 orang masih berada dibawah nilai KKM. Sedangkan pada Siklus II Jumlah peserta didik yang tuntas adalah 42 orang, sedangkan yang belum tuntas 2

0

36 42 44

44

8

2 0

Pretest Siklus I Siklus II Posttest

Perbandingan ketuntasan belajar peserta didik

59 orang peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model experiental learning dapat meningkatkan penguasaan konsep peserta didik pada mata pelajaran Kimia materi asam basa.

2. Angket motivasi peserta didik

Pembelajaran dengan model experiental learning pada materi asam basa membuat peserta didik termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran. Dalam model experiental learning peserta didik dihadapkan langsung dengan fakta, menemukan dan mengkonstruksi sendiri konsep yang dipelajari dan melatih bekerjasama dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 menunjukkan adanya peningkatan motivasi peserta didik dari siklus I ke siklus II. Perbandingan presentase tiap-tiap indikator angket tanggapan peserta didik pada siklus I dan siklus II disajikan pada Gambar 4.4 berikut ini:

Perbandingan presentase tiap indikator angket motivasi peserta didik siklus I dan siklus II

Gambar 4.4. Perbandingan presentase tiap indikator angket motivasi peserta didik siklus I dan siklus II

Berdasarkan Gambar 4.4 diatas menunjukkan bahwa motivasi peserta didik selalu mengalami peningkatan tiap siklusnya. Presentase pada kategori attention meningkat dari 65,28% pada siklus I menjadi 75,79% pada siklus II. Pada kategori relevantion meningkat dari 65,91% pada siklus I menjadi 72,35% pada siklus II, untuk kategori confidence meningkat dari 54,89% pada siklus I menjadi 70,91% pada siklus II dan pada kategori satisfaction terjadi peningkatan dari 70,00% pada siklus I menjadi 79,03% pada siklus II. Pada siklus I jumlah skor yang diperoleh peserta didik 4217 dengan rata-rata 63,89. Sedangkan jumlah

65,28% 65,91% 54,89% 70,00% 75,79% 73,35% 70,91% 79,03% 0% 20% 40% 60% 80% 100%

Attention Relevantion Confidence Satisfaction

Siklus I Siklus II

60 skor angket motivasi peserta didik pada siklus II sebesar 49,28 dengan rata-rata 74,67.

Nilai rerata angket motivasi peserta didik pada siklus I ini rendah dibandingkan dengan siklus II disebabkan pada siklus I peserta didik belum aktif dalam kegiatan belajar mengajar, peserta didik belum terbiasa dengan pembelajaran experiental learning, sehingga pada saat tahap active experimentation (tahap percobaan aktif) banyak yang masih kebingungan karena jarang melakukan observasi secara langsung di lapangan. Namun pada siklus II sudah terjadi peningkatan karena peserta didik sudah terbiasa berinteraksi dengan lingkungan, sering mengamati dan melakukan observasi sehingga pada saat pembelajaran berlangsung keaktifan peserta didik mulai ada peningkatan.

3. Observasi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran

Data aktivitas peserta didik selama pembelajaran diperoleh melalui observasi yang dilakukan oleh dua orang observer tiap pertemuan menggunakan lembar observasi. Berdasarkan hasil observasi aktivitas peserta didik, tampak bahwa pembelajaran experiental learning mampu meningkatkan keaktifan peserta didik dari siklus I ke siklus II. Hal itu ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata aktivitas

Dokumen terkait