BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3. Konstruksi Hukum Pembuktian Jaksa Penuntut Umum dalam Perkara Tindak Pidana Gratifikasi No: 534/Pid.B/2008/PN.Slmn
Guna mengetahui konstruksi Penuntut Umum dalam membongkar tindak pidana gratifikasi pada perkara nomor: 543/Pid.B/2008/PN.Slmn, peneliti akan mengkaji dari 3 (tiga) prespektif, yaitu dakwaan, alat-alat bukti oleh Penuntut Umum dan penuntutan berdasarkan Penuntut Umum.
Adapun mengenai dakwaan sebagaimana subbab sebelumnya, terdakwa di dakwa dengan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 dan Pasal 12B ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam bentuk dakwaan Subsidaritas Kumulatif.
Meskipun terdakwa didakwa dengan pasal berlapis tentang korupsi dan gratifikasi, namun sesuai dengan kajian penelitian hukum ini maka difokuskan pada Pasal 12B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang isinya “Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:
commit to user
a. yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi;
b. yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh Penuntut Umum.
Pada Pasal 12B ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah dirubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemerantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu “Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
Tindak pidana korupsi dan gratifiaksi pada putusan no. 534/Pid.B/2008/PN.Slmn menggunakan dakwaan subsidaritas kumulatif, akan tetapi pada dakwaan tindak pidana gratifikasi menggunakan dakwaan tunggal. Hal tersebut dikarenakan bahwa dakwaan tersebut hanya satu (tunggal), tidak ada alternatifnya maupun pengganti atau kumulasinya/kombinasinya, serta tindak pidana yang didakwakan hanya satu/tunggal. Bentuk dakwaan tunggal tersebut digunakan dalam kasus tindak pidana gratifikasi karena berdasarkan hasil penelitian terhadap materi perkara hanya satu tindak pidana saja yang dapat didakwakan. Dan tidak dimungkinkan ada alternative atau kemungkinan untuk merumuskan tindak pidana lain sebagai penggantinya.
Penyusunan surat dakwaan tunggal dalam tindak pidana gratifikasi tersebut dapat dikatakan sederhana , yaitu sederhana dalam perumusannya dan sederhana pula dalam pembuktian dan penerapan hukumnya. Alat bukti yang terdapat pada persidangan tindak pidana
commit to user
gratifikasi nomor 534/Pid.B/2008/PN.Slmn tentang pengadaan buku wajib SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA, yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum antara lain sebagai berikut:
Tabel I. Alat Bukti Tindak Pidana Gratifikasi
Alat Bukti Analisis
1. Keterangan Saksi
a. SAKSI FITRI ANDRIANI, SH
1) Bahwa saksi mengenal
terdakwa pada waktu saksi kerja di PT.PIP tahun 2003. Pimpinannya adalah Bapak Murad Irawan;
2) Bahwa selain Saudara Murad Irawan selain pimpinan PT. PIP juga sebagai kepala bagian pemasaran wilayah Jateng dan DIY;
3) Bahwa saksi mulai bekerja di PT. PIP sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 sebagai staff administrasi.
Kenal dengan terdakwa
karena masalah pengadaan buku ajar SD sampai dengan SMA di Pemkab Sleman
tahun 2004, Jabatan
Terdakwa sebagai Ketua
DPRD Kabupaten Sleman;
4) Bahwa saksi pernah disuruh Pak Murad untuk mencairkan
Saksi Fitri Andriani merupakan karyawan PT.PIP, yang di beri wewenang oleh Murad Irawan untuk mencairkan uang di BPD
Sleman atas perintah Murad
Irawan. Dan uang yang dicairkan tersebut salah satunya dikirim ke
rekening terdakwa Jarot
Subiyantoro sebesar Rp
1.230.050.000,00. Pemberian
tersebut di indikasikan sebagai gratifikasi karena diberikan oleh direktur PT.PIP kepada seorang ketua DPRD di mana ketua DPRD merupakan pegawai negeri yang
mempunyai wewenang dalam
menentukan arah kebijakan dalam
pengadaan buku SD/MI,
SMP/MTs dan SMA/MA se-Kabupaten Sleman. Sesuai dengan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 tentang
commit to user
uang di BPD. Sleman yaitu Rp5,8 Milyar berdasarkan surat kuasa dari Balai Pustaka dan yang mengasihkan surat kuasa tersebut adalah Pak Murad;
5) Bahwa saksi pernah datang tiga kali ke kantor DPRD
Kabupaten Sleman yaitu
waktu saya datang pertama kali bersama Pak Murad, istrinya dan saksi tetapi saksi hanya nunggu di mobil yang kedua saksi datang bersama-sama Pak Murad masuk ke kantor DPRD tetapi saksi keluar lagi dan yang ketiga saya hanya nunggu dimobil saja;
6) Bahwa saksi pernah
mengirim uang kepada
terdakwa sebesar Rp
1.230.000.000,00. Saksi
mengirim uang tersebut
atas perintah Pak Murad. Uang tersebut adalah untuk operasional Pak Murad;
7) Bahwa saksi tahu dari rekan saksi kalau Pak Murad pernah Presentasi di DPRD Sleman;
8) Bahwa PT.PIP bergerak di
bidang pengadaan barang
Korupsi. Dan pemberian tersebut ditransfer lewat sarana elektronik yaitu dengan nomor rekening
0372299957 an. JAROT
SUBIYANTORO tanggal 30
September 2004. Sehingga,
pemberian tersebut merupakan tindak pidana gratifikasi, karena menurut Undang -Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, salah satu syarat
seseorang yang menerima
gratifikasi senilai lebih dari Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) maka penerima gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima harus
melaporkannya ke Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagaimana tata cara yang telah ditentukan dalam
Undang-Undang Komisi
Pemberantasan Korupsi. Namun, hal tersebut tidak dilakukan oleh terdakwa Jarot Subiyantoro, malah
uang pemberian tersebut
digunakan untuk kepentingan
pribadinya sendiri, yaitu digunakan untuk melunasi pembelian rumah di daerah Sleman, dimana rumah tersebut selanjutnya disita oleh Negara kerena merupakan hasil
commit to user
Direkturnya adalah Pak
Murad;
9) Bahwa saksi mencairkan
uang di BPD Sleman secara tunai sebesar Rp 5,8 Milyar dan Rp 5 Milyar langsung di transfer kepada:
a) Transfer kepada
terdakwa Rp
1.230.000.000,00;
b) Transfer kepada Eko
Yulianto (rekanan Pak
Murad)
Rp1.500.000.000,00;
c) Transfer kepada PT. Balai Pustaka
Rp2.000.000.000,00
d) Transfer kepada Murad Irawan Rp 750.000.000,00;
e) Transfer kepada Eni
Wiyasti Rp
750.000.000,00;
10) Bahwa saksi tidak tahu siapa pemilik uang tersebut, karena tidak boleh tahu oleh Pak Murad;
11) Bahwa setelah saksi
mencairkan Rp 10,8 Milyar saksi tidak mencairkan uang
dari kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa Jarot Subiyantoro.
commit to user
lagi, karena setelah itu saksi keluar dan semua karyawan di PHK bulan September 2004, saksi di PHK karena kantor cabang Solo di tutup;
12) Bahwa sebelumnya saksi
pernah disuruh oleh Pak
Murad menghantarkan
bungkusan kepada
terdakwa, saksi hanya
disuruh menghantarkan
bungkusan kepada terdakwa;
13) Bahwa saksi sebagai staff administrasi PT. PIP dan PT. PIP bergerak di bidang pengadaan barang berupa buku dan air cleaner;
14) Bahwa yang memberi kuasa
untuk mencairkan uang
adalah Pak HR. Siswandi.
Saksi tidak ingat saat
menerima SPMU sebesar Rp 5,8 Milyar untuk apa;
15) Bahwa saksi ketemu terakhir dengan Murad pada waktu diperiksa di Polda;
16) Bahwa jabatan Murad sebagai Kepala Bagian Pemasaran PT. Balai Pustaka untuk wilayah Jateng dan DIY;
commit to user
dengan HR.Siswadi yang
tanda tangan dalam surat kuasa tersebut sebab Murad menyerahkan Surat Kuasa tersebut sudah ada tanda tangannya Pak Siswadi;
18) Bahwa saat saksi
menanyakan kepada Pak
Murad uang yang dikirim kepada terdakwa untuk apa, Pak Murad bilang tak usah banyak tanya kalau masih ingin kerja;
19) Bahwa saksi tidak mengikuti perkembangan proyek karena saksi telah keluar dari pekerjaan;
20) Bahwa Pak Murad sering pakai rekening orang lain termasuk karyawan;
Atas keterangan saksi tersebut terdakwa menyatakan keberatan karena terdakwa dan Murad hanya ada hubungan kerja;
b. SAKSI TEGUH WIRATMO
1) Bahwa saksi bekerja di BPD Sleman sejak Oktober 1996
sampai dengan bulan
September 2005. Jabatan saya adalah sebagai Pimpinan
bidang pelayanan dan
Saksi Teguh Wiratmo, merupakan karyawan BPD Sleman dan yang melayani pencairan dana oleh Fitri Andriani. Bahwa dari keterangan tersebut, pencairan dana dilakukan
commit to user
operasional.
2) Bahwa proses pencairan
SPMU yaitu rekanan datang ke BPD membawa SPMU dan dicocokan dengan daftar penguji dari BPKKD dan setelah cocok maka SPMU baru bisa dicairkan. Rekanan yang dimaksud adalah PT. Balai Pustaka;
3) Bahwa yang datang untuk mencairkan dana milik PT. Balai Pustaka adalah Sdr. Fitri Andriani;
4) Bahwa pencairan pertama kali tanggal 10 Juli 2004 sebesar Rp 5,8 Milyar dan
sudah dicairkan semua.
Tujuannya untuk pembayaran uang muka pengadaan buku;
5) Bahwa uang tersebut
dicairkan secara cash
kemudian oleh Sdri. Fitri Andriani langsung di transfer pada hari Sabtu tanggal 10 Juli 2004 ke beberapa Bank diantaranya:
a) Ke Bank Mandiri An.
Murad sebesar Rp
750.000.000,00
b) Ke Bank Mandiri An. Eni
kemudian oleh Fitri Andriani di transfer ke beberapa rekening yang salah satunya ke Bank BCA dan rekening tersebut atas nama terdakwa Jarot Subiyantoro. Saksi hanya melayani pencairan tersebut dan tidak mengetahui kegunaan uang yang ditransfer tersebut. Dari pernyataan saksi tersebut maka, diketahui bahwa pentransferan uang tersebut dilakukan dengan sengaja oleh Fitri Andriani atas perintah Murad Irawan. Serta dari
pernyataan tersebut maka
pemberian tersebut benar-benar ada dan tidak dapat disangkal oleh terdakwa, karena yang melayani untuk pentransferan adalah saksi sendiri. Serta, pernyataan saksi
Teguh Wiratmo mempertegas
kesaksian Fitri Andriani yang telah mentransfer uang kepada terdakwa Jarot Subiyantoro yang merupakan gratifikasi dan tidak dilaporkan ke
Komisi Pemberantasan Tindak
commit to user
Wiyasti sebesar Rp
180.000.000,00
c) Ke Bank Mandiri An. Eko
Yulianto sebesar Rp
1.500.000.00,00
d)Ke BCA An. Jarot
Subiyantoro sebesar
Rp1.230.050.000,00
6) Bahwa setiap hari BPD
Sleman selalu membuat
laporan transaksi ke Pemda Sleman;
7) Bahwa proses transfernya baru bisa dilaksanakan pada hari kerja berikutnya yaitu hari Senin;
8) Bahwa tidak serta merta
keluar sebesar Rp 5,8
Milyar, tetapi ada yang ditransfer dan ada yang diambil tunai oleh Fitri
Andriani sebesar
Rp136.000.000,00;
9) Bahwa dalam Slip
pengiriman kepada terdakwa tidak ada catatan khusus;
10) Bahwa untuk pengiriman kepada PT. Balai Pustaka, ada pesan yaitu untuk uang
commit to user
pengadaan Buku Kabupaten Sleman yang masing-masing diterima oleh Eko Yulianto dan Eni Wiyasti sedang untuk Maya Rita tidak ada pesan;
11) Bahwa yang dikirim kepada Murad sebesar Rp 750 juta pada slip pengiriman ada
keterangan untuk
pembayaran Buku
Kabupaten Sleman,
sedangkan untuk pengiriman kepada terdakwa pada slip pengiriman tidak ada tertulis pesan;
Atas keterangan saksi tersebut terdakwa menyatakan tidak keberatan.
c. ISKANDAR WINARNO
1) Bahwa pada tahun 2002 saksi jadi pegawai honor di DPRD Sleman ditugaskan sebagai ajudan terdakwa, saat itu
terdakwa sebagai ketua
DPRD;
2) Bahwa saksi pernah disuruh
oleh terdakwa untuk
membuka rekening di
BCA. Karangwaru atas nama saksi sendiri sebesar
Saksi merupakan ajudan terdakwa Jarot Subiyantoro yang diberi perintah oleh oleh terdakwa untuk membuka rekening di BCA atas namanya. Namun, uang untuk membuka rekening tersebut dari terdakwa Jarot Subiyantoro, selain itu buku tabungan serta ATM nya di bawa oleh terdakwa. Dan saksi
tidak tahu nomor PIN dari
tabungan tersebut karena langsung diminta oleh terdakwa. Namun,
commit to user
Rp1.000.000,00 kemudian buku tabungan dan ATM-nya dibawa oleh terdakwa; 3) Bahwa saksi di suruh untuk
membuka rekening oleh
terdakwa karena terdakwa percaya kepada saksi, namun saksi tidak tahu nomor PIN ATM;
4) Bahwa saksi pernah disuruh
oleh terdakwa untuk
mengecek saldo dan saat saksi mengecek saldonya sebesar Rp 570.000.000,00 namun saksi tidak tahu kiriman dari siapa;
5) Bahwa menurut keterangan terdakwa uang tersebut akan digunakan kalau Pak Murad datang ke Yogya;
6) Bahwa saksi tidak pernah
mengambil uang dari
tabungan atas nama saksi tersebut di BCA, dan saksi tidak pernah mendapat uang dari terdakwa;
Atas keterangan saksi tersebut
terdakwa menyatakan ada
yang keberatan yaitu: Uang
akan digunakan untuk
keperluan Pak Murad kalau ke Yogyakarta dan belum terjadi
saksi pernah disuruh untuk
mengecek saldonya dan terdapat uang sebesar Rp570.000.000,00
dan saksi tidak mengetahui
pengirimnya. Dari keterangan saksi tersebut, diketahui bahwa terdakwa Jarot Subiyantoro telah berencana untuk melakukan suatu tindak pidana yang merugikan
Negara karena berhubungan
dengan jabatannya. Apabila
pemberian tersebut hanya sebatas pemberian saja dan tidak ada indikasi lain yang berhubungan
dengan jabatannya, maka
jumlahnya tidak sebesar itu, dan terdakwa tidak akan membuat rekening tabungan atas nama orang lain. Sehingga, terdakwa dan Murad Irawan telah merencanakan tindak pidana tersebut.
commit to user
uang sudah diambil.
2. Saksi Ahli:
MOHAMMAD HASAN
RIYADI, SE
1) Bahwa saksi adalah Sarjana Ekonomi dari Sekolah Tinggi
Keuangan Indonesia
Surabaya jurusan Akuntansi tamat tahun 1986 dan lulus ujian Negara Akuntansi dan lulus ujian Negara Akuntansi Tahun 1998, bekerja di BPKP sejak tahun 1986;
2) Bahwa adapun dasar ahli melakukan audit pengadaan buku di Pemda Sleman atas dasar permintaan Penyidik Polda;
3) Bahwa kontrak pengadaan buku adalah antara Balai
Pustaka dengan Pemda
Sleman;
4) Bahwa kontraknya terjadi pada tanggal 11 Mei 2004
dengan Nomor SPK
425.2/886/2004 untuk
pengadaan buku pelajaran wajib SD, SMP dan SMA dalam hal ini pemesannya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman;
Bahwa ahli merupakan seorang yang telah mengaudit pengadaan buku di Kabupaten Sleman. Dan menyatakan bahwa uang yang dikirim oleh Fitri Andriani atas perintah Murad Irawan tersebut merupakan pelanggaran. Karena
merugikan Negara sebesar
Rp1.230.000.000,00 yang
seharusnya uang tersebut
dibayarkan kepada PT.Balai
Pustaka. Kerugian Negara
tersebut diketahui setelah saksi
mengadakan audit. Kerugian
Negara dapat diartikan sebagai kerugian kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kerugian negara yang nyata dan
pasti jumlahnya, memberi
kepastian hukum. Demikian
kerugian Negara tersebut secara nyata dan pasti telah merugikan
Negara sebesar
Rp1.230.050.000,00 dan kerugian
tersebut berdampak pada
Pemerintah Kabupaten Sleman. Karena uang tersebut seharusnya
commit to user
5) Bahwa anggaran pengadaan buku tersebut berasal dari
APBD Sleman tahun
anggaran 2004-2005 sebesar Rp29.982.857.850,00;
6) Bahwa kontrak tersebut
berjalan dan berakhir tahun 2004 dan menurut Berita Acara yang selesai baru 97% dan setelah kami turun
kelapangan dengan
mengumpulkan para Kepala Sekolah SD, SMP dan SMA buku yang diterima kami lakukan pengecekan dengan pengadaan ternyata banyak yang tidak cocok tidak sesuai dengan pesanan;
7) Bahwa kekurangan yang ada adalah Rp 252.506.000,00 dan ada penyimpangan yang tidak sesuai dengan pesanan sebesar Rp 1.821.441.413,00 jadi kerugian negara ada Rp 12.120.155.145,00;
8) Bahwa berdasarkan SPMU
Nomor: 62/BP.BM tanggal 8 Juli 2004 telah dicairkan uang sebesar Rp 5,8 Milyar yang diterima oleh Fitri Andriani melalui bank BPD Cabang
Sleman kemudian uang
dikirimkan ke PT. Balai Pustaka
guna pembayaran pengadaan
buku SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA se-Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, pemberian tersebut berakibat merugiakan Negara maka pemberian itu dapat dinyatakan sebagai suatu tindak pidana suap yang digolongkan pada tindak pidana gratifikasi.
commit to user
tersebut yang Rp 2 Milyar ditransfer ke rekening Balai
Pustaka, Rp1,23 Milyar
dikirim kepada Jarot
Subiyantoro sedang sisanya yang Rp 3,7 Milyar sekian kami tidak bisa mengetahui;
9) Bahwa saksi mengetahui
adanya pengiriman uang
kepada terdakwa dari bukti transfer yang diperlihatkan Polisi Polda;
10)Bahwa uang sebesar
Rp1.230.000.000,00 yang
dikirimkan kepada
Terdakwa itu disebut
sebagai kerugian negara,
karena seharusnya
dikirimkan kepada Balai Pustaka;
11) Bahwa saksi melakukan audit investigasi sejak tanggal 4 Mei 2005 sampai tanggal 28 Juli 2005;
12) Bahwa sumber data yang dipakai oleh Penyidik dari Dinas Pendidikan dan dari pihak yang terlibat;
13) Bahwa saksi temukan,
pengadaan buku tersebut disub kontrakkan menjadi 7
commit to user
sub kontrak;
14) Bahwa saksi menghitung
adanya penggelembungan
harga atas dasar perhitungan dari IKAPI Jawa Tengah
namun tidak berani
mengeluarkan surat
keterangan karena tidak
berwenang kemudian
disarankan untuk minta
perhitungan dari IKAPI Pusat Jakarta, selanjutnya dari Pusat
disarankan untuk
menghubungi IKAPI
Yogyakarta kemudian setelah
kami mendapatkan
perhitungan dari IKAPI
Yogyakarta lalu saya
bandingkan dengan harga
pusat di Grafika ternyata harganya sama;
15) Bahwa saksi menemukan
buku di gudang Dinas
Pendidikan Kabupaten
Sleman, sebelum kontrak
ditandatangani, buku yang datang sebelum kontrak itu dikirim tanggal 13 Maret 2004, 6 Mei 2004 dan 19 Mei 2004;
16) Bahwa saksi tidak memeriksa
commit to user
karena saksi mulai melakukan audit bulan Mei 2004;
17) Bahwa SK. Mendikbud.
Nomor 689 menurut saksi buku bukan termasuk barang khusus, jadi pengadaannya harus melalui lelang;
18) Bahawa dari hasil audit ternyata pencetakan buku, tidak dilakukan oleh Balai Pustaka, namun malah di subkontrakkan kepada PT.PIP
dan oleh PT.PIP di
subkontrakkan lagi;
19) Bahwa menurut saksi negara telah dirugikan dalam hal ini, pihak yang dirugikan adalah APBD Pemda. Sleman;
20) Bahwa prosedur penunjukan langsung yang saksi temukan adalah awalnya Kepala Dinas minta ijin kepada Bupati,
Bupati tidak langsung
mengeluarkan ijin tetapi Bupati kirim surat kepada
Ketua DPRD minta
persetujuan kemudian Ketua
Dewan mengeluarkan
SK.Pim yang isinya
menyetujui penunjukan
commit to user
21) Bahwa yang menandatangani
persetujuan penunjukan
langsung tersebut adalah
Ketua DPRD Jarot
Subiyantoro, Ovie Supyanto,
Yazid HM.Sag, dan
Syarifudin Anwar. Dan belum pernah saksi menemukan hal seperti ini;
22) Bahwa dalam proses
penunjukan langsung, harus
ada untuk perbandingan
harga. Selama investigasi
tidak ditemukan harga
perkiraan sendiri (HPS);
23) Bahwa proses sebelum BPKP melakukan audit kerugian negara yaitu awalnya kalau
diperkirakan ada
penyimpangan dilakukan
penyidikan yang dilakukan
oleh penyidik kemudian
penyidik menyampaikan
pemaparan kepada BPKP dan bila ditemukan penyimpangan
lalu dilakukan audit
investigasi;
24) Bahwa BPKP tidak
melakukan audit sendirian
melainkan bekerja sama
dengan Penyidik dari Polisi Polda;
commit to user
25) Bahwa hasil audit BPKP tersebut ada kesimpulan dan
kesimpulan tersebut
disampaikan kepada penyidik terus dibuat laporan;
26) Bahwa kalau melihat Berita Acara Penerimaan barang, maka yang belum selesai 3%;
27) Bahwa setelah dilakukan audit dan setelah dilakukan perbandingan terdapat selisih sebesar Rp 12 Milyar;
28) Bahwa audit yang dilakukan termasuk audit investigasi
dan audit perhitungan
kerugian negara;
29) Bahwa pada saat saksi
melakukan audit tahu
orangnya yang diaudit yaitu Masuko dan Bachrum;
30) Bahwa pengertian kerugian negara kekurangan uang, surat berharga yang pasti jumlahnya akibat perbuatan melawan hukum;
31) Bahwa ada keterlambatan dari PT. Balai Pustaka dan
menurut saksi harus
dikenakan denda karena
commit to user
32) Bahwa dalam perhitungan yang dilakukan oleh saksi, denda tidak dihitung karena ketidakmampuan PT Balai
Pustaka karena tidak
memenuhi kontrak;
33) Bahwa penawaran harga
mulai Rp 65 Milyar turun lagi
menjadi Rp 34 Milyar
akhirnya menjadi Rp 29 Milyar itu yang menentukan harga PT Balai Pustaka;
34) Bahwa saksi tahu ada buku
datang sebelum kontrak
berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan keterangan dari Ketua Panitia pengadaan yaitu saudara Masuko;
35) Bahwa sebelumnya saksi
minta IKAPI Jateng tetapi tidak mau memberikan harga kemudian kami minta ke
IKAPI Pusat kemudian
IKAPI Pusat menunjuk
IKAPI Yogyakarta untuk
memberikan perhitungan
harga;
36) Bahwa saksi tidak tahu peruntukan uang yang dikirim kepada terdakwa;
commit to user
Rp 5,8 Milyar itu harus masuk ke rekening Balai Pustaka semua, namun uang yang Rp 1.230.000.000,00
masuk ke rekening
terdakawa;
Atas keterangan saksi Ahli tersebut terdakwa menyatakan
akan menanggapi dalam
pembelaan.
3. Surat
a. 1 (satu) buah buku Tabungan
BCA KCU Yogyakarta
Nomor Rek. 0372299957 an.
JAROT SUBIYANTORO
tanggal 30 September 2004; b. 1 (satu) lembar foto copy slip
kiriman uang tanggal 12 Juli 2004 yang telah disahkan dan ditanda tangani oleh Sdr. SYAIFUDIN ANWAR dari FITRI ADRIANI, SH Bank BPD Sleman kepada JAROT SUBIYANTORO bank BCA
Yogyakarta No.Rek.
0372299957 senilai Rp
1.230.050.000,00(satu milyar dua ratus tiga puluh juta lima puluh ribu rupiah);
Modus operandi terdakwa
menerima aliran dana dari Murad
Irawan sebesar Rp
1.230.050.000,00 dapat
dibuktikan dengan sebuah
tabungan BCA Nomor Rek.
0372299957 an. JAROT
SUBIYANTORO tanggal 30
September 2004 dan satu lembar foto copy slip kiriman uang tanggal 12 Juli 2004 yang telah disahkan dan ditanda tangani oleh Sdr. SYAIFUDIN ANWAR dari FITRI ADRIANI, SH Bank BPD
Sleman kepada JAROT
SUBIYANTORO bank BCA
Yogyakarta No.Rek. 0372299957 senilai Rp 1.230.050.000,00 (satu milyar. Dan alat bukti surat
merupakan alat bukti yang
digunakan oleh Penuntut Umum untuk mengungkap tindak pidana
commit to user
gratifikasi yang dilakukan oleh terdakwa Jarot Subiyantoro. Menurut penulis alat bukti surat tersebut merupakan alat bukti surat yang penting karena setelah ada pernyataan dari saksi Fitri
Andriani yang menyatakan
mengirim uang kepada terdakwa sebesar Rp1.230.050.000,00. Alat bukti surat dalam perkara ini adalah buku tabungan BCA