HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.7 Pembahasan Hasil Penelitian
Pengujian hipotesis pertama menyimpulkan bahwa secara simultan variabel kompetensi, komitmen auditor, sikap pimpinan dan independensi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja APIP.
Secara parsial, variabel kompetensi, komitmen auditor dan sikap pimpinan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja APIP, sedangkan variabel independensi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja APIP. 5.7.1. Pengaruh kompetensi terhadap kinerja APIP
Variabel kompetensi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05, dengan nilai t sebesar 9,381 lebih besar dari t tabel 1,977 dan koefisien regresi bernilai positif sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yang artinya variabel kompetensi berpengaruh positif signifikan terhadap variabel Kinerja APIP. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sudjana (2009) yang menyimpulkan bahwa kompetensi berpengaruh terhadap kinerja auditor internal pemerintah. Standar Kompetensi Auditor Pemerintah diatur di dalam Peraturan Kepala BPKP Nomor Per-211/K/JF/2010 dimana dijelaskan ukuran kemampuan minimal yang harus dimiliki auditor yang mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keahlian (skill) dan sikap perilaku (attitude). Tujuan standar kompetensi auditor adalah untuk memastikan auditor memperoleh dan
mempertahankan kemampuan , pendidikan dan pelatihan profesionalisme auditor, pengembangan karier serta sebagai dasar renumerasi.
5.7.2. Pengaruh komitmen auditor terhadap kinerja APIP
Variabel komitmen auditor memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 dengan nilai t sebesar 5,423 lebih besar dari t tabel 1,977 dan koefisien regresi yang bernilai positif sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yang artinya variabel komitmen auditor berpengaruh positif signifikan terhadap variable kinerja APIP. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wati dkk (2010) yang menyimpulkan bahwa komitmen auditor berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor.
Buchanan dan Vandenberg dalam Trisnaningsih (2007) mendefinisikan komitmen sebagai penerimaan karyawan atas nilai-nilai organisasi (identification), keterlibatan secara psikologis (psychological immerson) dan loyalitas (affection attachment). Komitmen merupakan sebuah sikap dan perilaku yang saling mendorong (reinforce) antara satu dengan yang lain. Komitmen yang tepat akan memberikan dampak yang positif terhadap kinerja seseorang.
5.7.3. Pengaruh sikap pimpinan terhadap kinerja APIP
Variabel sikap pimpinan memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,038 lebih kecil dari α = 0,05, nilai t sebesar 2,136 lebih besar dari t tabel 1,977 dan koefisien regresi yang bernilai positif sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yang artinya variabel sikap pimpinan berpengaruh positif signifikan terhadap variabel kinerja APIP.
.Hasil penelitian ini mendukung penelitian Arumsari (2014), Wati dkk. (2010) dan Trisnaningsih (2007) yang menyatakan bahwa sikap pimpinan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja APIP, Trisnaningsih dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa pemimpin adalah pemain utama yang menentukan berhasil tidaknya suatu organisasi. Pemimpin dapat memberikan pengaruh dalam menanamkan disiplin bagi para anggota organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
5.7.4. Pengaruh Independensi terhadap Kinerja APIP
APIP harus memiliki independensi dalam melakukan audit dan mengungkapkan pandangan serta pemikiran sesuai dengan profesinya dan standar audit yang berlaku. Independensi tersebut sangat penting agar produk yang dihasilkan memiliki manfaat yang optimal bagi seluruh stakeholder. Dalam hubungan ini auditor harus independen dari kegiatan yang diperiksa. Secara ideal, auditor APIP dikatakan independen apabila dapat melaksanakan tugasnya secara bebas dan obyektif. Di sisi lain, auditor APIP banyak menghadapi permasalahan dan kondisi yang menghadapkan internal auditor untuk ‘mempertaruhkan’ independensinya.
Variabel independensi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,440 lebih besar dari α = 0,05, nilai t sebesar 0,074 lebih kecil dari t tabel 1,977 dan koefisien regresi yang bernilai positif sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yang artinya variable independensi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap variabel Kinerja APIP. Hasil penelitian ini bertentangan dengan
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja auditor, akan tetapi sesuai dengan hasil survey Kementerian Dalam Negeri bahwa independensi dan objektivitas APIP belum dapat diterapkan sepenuhnya. Pengaruh tidak signifikan ini diprediksi dikarenakan APIP yang berada di daerah masih mendapat gangguan dalam mempertahankan sikap yang bebas atau tidak terikat oleh kepentingannya sendiri, dalam menentukan keputusan yang tepat pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan hasil audit hal ini tidak terlepas dari terbatasnya lingkungan kerja APIP daerah dimana terdapat kemungkinan auditor masih memiliki hubungan hubungan sosial, kekeluargaan atau hubungan lainnya dengan auditee yang dapat mengurangi obyektifitas dan independensinya sebagai auditor. Menurut PERMENPAN Nomor PER/05/M.PAN/03/2008 butir 2130 mengenai Gangguan Terhadap Independensi dan Obyektifitas yang menyatakan jika independensi atau obyektifitas auditor terganggu, baik secara faktual maupun penampilan, maka gangguan tersebut harus dilaporkan kepada pimpinan APIP. Auditor harus melaporkan kepada pimpinan APIP mengenai situasi adanya dan atau interpretasi adanya konflik kepentingan, ketidakindependenan atau bias dan Pimpinan APIP harus menggantikan auditor yang menyampaikan situasinya dengan auditor lainnya yang bebas dari situasi tersebut namun karena jumlah APIP daerah yang terbatas terkadang hal ini tidak dapat dilaksanakan demi tercapainya Program Kerja Pemeriksaan Tahunan (PKPT) yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk membangun independensi auditor APIP dibutuhkan komitmen dari manajemen puncak dalam hal ini Kepala Daerah dengan membuat kebijakan yang mendukung terciptanya APIP yang independen. Minimnya jumlah auditor APIP
harus segera diatasi dengan melakukan melakukan penambahan jumlah auditor dengan mengikuti diklat pembentukan JFA maupun jalur inpassing. Hal ini tentunya berkaitan dengan anggaran yang mencukupi untuk mengikuti kegiatan tersebut dan disinilah peran Kepala Daerah diperlukan. selain itu juga disarankan kepada Kepala Daerah dalam melakukan rekruitmen dan mutasi auditor hendaknya mempertimbangkan kebutuhan dan pertimbangan professional.
5.7.5. Pengaruh motivasi sebagai variabel moderating terhadap Kinerja APIP.
Pada hasil penelitian ini, motivasi merupakan merupakan variabel yang dapat memoderasi pengaruh antara kompetensi, komitmen auditor, sikap pimpinan dan independensi terhadap kinerja APIP. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji residual yang memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 yang berarti berpengaruh secara signifikan dan memiliki koefisien regresi yang bernilai -0,131 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel motivasi merupakan merupakan variabel yang dapat memperkuat pengaruh antara kompetensi, komitmen auditor, sikap pimpinan dan independensi terhadap kinerja APIP.
Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang, termasuk perilaku kerja. Untuk dapat memotivasi seseorang diperlukan pemahaman tentang bagaimana proses terbentuknya motivasi. Motivasi dapat diartikan sebagai faktor-faktor yang mengarahkan dan mendorong perilaku atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk usaha yang keras atau lemah (Siagian, 2013). Sejalan dengan hasil Dalmy (2009) yang menyatakan motivasi merupakan faktor
yang memperkuat kinerja auditor dimana ketika motivasi auditor meningkat maka kinerja mereka pun meningkat. Motivasi kerja yang tinggi dari setiap karyawan sangat diperlukan guna peningkatan produktivitas perusahaan. Orang yang mempunyai motivasi tinggi akan terpacu untuk bekerja lebih keras dan penuh semangat karena mereka melihat pekerjaan bukan sekedar sumber penghasilan tetapi untuk mengembangkan diri dan berbakti untuk orang lain. Oleh karena itu motivasi penting sebagai dorongan seseorang dalam menghasilkan suatu karya baik bagi diri sendiri maupun bagi organisasi. Dengan demikian motivasi mengacu pada dorongan yang baik dari dalam atau dari luar diri seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan pencapaian tujuan.
BAB VI