BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Saran
Berdasarkan hasil dan keterbatasan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka akan diberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi perusahaan manufaktur, diharapkan agar mengungkapkan CSR secara maksimal disesuaikan dengan GRI terbaru pada periodenya.
2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan periode pengamatan yang lebih lama sehingga akan memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk memperoleh kondisi yang sebenarnya.
3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan variabel pemoderasi lainnya seperti motivasi kinerja pegawai yang diduga dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. 4. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan lebih dari 1 proksi untuk menilai kinerja
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 2.1.1. Teori Keagenan
Menurut Salno dan Baridwan (2000), konsep manajemen laba menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa “praktik earning management
dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya”. Konflik tersebut dapat muncul akibat pemilik sebagai
principal tidak dapat memonitor aktivitas manajemen sehari-hari untuk memsatikan bahwa pihak manajemen selaku agent bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham (pemilik).
Perbedaan informasi antara manajemen dan pemilik perusahaan dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba yang dapat menyesatkan pemilik perusahaan mengenai kinerja ekonomi perusahaan.Hendriksen dan Breda (2000) mengemukakan bahwa teori keagenan menimbulkan masalah-masalah yang disebabkan oleh informasi yang tidak lengkap atau informasi asimetris, yaitu ketika tidak semua keadaan diketahui oleh kedua pihak dan sebagai akibatnya terdapat konsekuensi-konsekuensi tertentu yang tidak dipertimbangkan oleh keduanya.
2.1.2. Teori Legitimasi
Menurut Lindblom (1993), legitimasi merupakan suatu kondisi dimana sistem nilai sebuah entitas sama dengan sistem nilai dari sistem sosial masyarakat dimana suatu entitas
menjadi bagian dari masyarakat. Teori legitimasi ini dapat diterapkan pada perusahaan yang melakukan kegiatan tanggung jawab social.Perusahaan menjadi bagian dari suatu komunitas dan lingkungannya itu sendiri. Dampak yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan tersebut, akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitar, sehingga apa yang dilakukan oleh pihak perusahaan akan kembali lagi kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu, manajemen perusahaan membutuhkan dukungan dari lingkungan masyarakat yang kondusif agar perusahaan dapat beroperasi dengan tenang. Dengan kata lain, perusahaan memerlukan legitimasi dari masyarakat sekitarnya. Hal ini juga sejalan dengan legitimacy theory yang menyatakan bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan (Tilt, 1994; dalam Hanifa dan Cooke, 2005)
Teori legitimasi memfokuskan pada interaksi antara perusahaan dengan masyarakat (Ulman, 1982; dalam Ghozali dan Chariri, 2007).Ghozali dan Chariri (2007) menjelaskan bahwa hal yang melandasi teori legitimasi adalah kontrak social dengan masyarakat dimana perusahaan beroperasi dan menggunakan sumber ekonomi.Sesuai dengan pendapat Guthrie dan Parker (1990), legitimacy theory adalah organisasi mendasarkan operasi bisnisnya pada lingkungan sosial perusahaan melalui kontrak social yang disetujui dan berbagai keinginan masyarakat sebagai bentuk penghargaan atas persetujuan organisasi dan keberlanjutan perusahaan.Dengan teori ini, perusahaan harus memperhatikan kepentingan dari berbagai pihak, bukan hanya dari pihak perusahaan saja. Semakin banyak perusahaan melakukan kegiatan sosial yang memberikan dampak positif bagi pihak lain membuat manfaat dan kemajuan tersendiri bagi pihak perusahaan. Untuk itu, sebagai suatu sistem yang mengedepankan keberpihakan kepada society, operasi perusahaan harus kongruen dengan harapan masyarakat (Retno dan Priantinah, 2012).
2.1.3. Teori Stakeholder
Teori stakeholder merupakan kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan
stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. Jones dalam Solihin (2009) membagi stakeholder menjadi dua kategori, yaitu:
1. Inside stakeholder,yaitu pemegang saham, manajer, dan karyawan yang merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki kepentingan dan tuntutan terhadap sumber daya perusahaan serta berada di dalam organisasi perusahaan.
2. Outside stakeholder, yaitu customers, suppliers, pemerintah, masyarakat yang merupakan pihak-pihak berkepentingan terhadap perusahaan dan dipengaruhi oleh keputusan maupun tindakan perusahaan.
Alasan yang mendorong perusahaan perlu memperhatikan kepentingan stakeholder
menurut Januarti dan Apriyanti (2005) dalam Indrawan (2011), yaitu:
1. Isu lingkungan dapat mengganggu kualitas hidup masyarakat karena melibatkan berbagai kelompok kepentingan dalam masyarakat.
2. Produk ramah lingkungan yang diperdagangkan dalam era globalisasi.
3. Perusahaan yang memliki dan mengembangkan kebijakan dan program lingkungan lebih dipilih oleh investor.
4. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) maupun pencinta lingkungan semakin mengkritik perusahaan yang kurang peduli akan lingkungan.
Berdasarkan teori ini, perusahaan tidak hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri, namun juga harus memberikan manfaat bagi para stakeholder.Dengan demikian keberadaan
suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder sehingga aktivitas perusahaan juga mempertimbangkan persetujuan dari stakeholder (Ghozali dan Chariri, 2007).Semakin kuat stakeholder, maka perusahaan harus semakin beradaptasi dengan
stakeholder. Pengungkapan social dan lingkungan kemudian dipandang sebagai dialog antara perusahaan dengan stakeholder (Cahyonowati, 2012). Oleh karena itu, semakin baik pengungkapan CSR perusahaan maka stakeholder juga akan semakin memberikan dukungan penuh kepada perusahaan atas segala aktivitasnya yang bertujuan utnuk meningkatkan kinerja perusahaan dan mencapai laba.
2.1.4. Manajemen Laba
Manajemen laba (earnings management) merupakan suatu tindakan manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan agar terbentuk informasi mengenai keuntungan ekonomis (economic advantage) yang sebenarnya tidak dialami oleh perusahaan (Merchant, 1994). Selain itu, terdapat definisi earnings management menurut Sugiri (1998) dalam Widyaningdyah (2011):
a. Definisi sempit
Manajemen laba didefinisikan sebagai sikap atau tindakan manajer untuk mengatur komponen discretionary accruals dalam menentukan besar kecilnya laba melalui metode akuntansi.
b. Definisi luas
Manajemen laba merupakan suatu tindakan manajer untuk meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit yang menjadi tanggung jawabnya tanpa mengakibatkan peningkatan atau penurunan profitabilitas ekonomi jangka panjang tersebut.
Tindakan manajemen laba ini merupakan suatu kegiatan yang memanipulasi laporan keuangan. Mempengaruhi laba yang dilaporkan dan memberikan manfaat ekonomi yang keliru terhadap perusahaan dalam jangka panjang akan menganggu bahkan membahayakan bagi kelangsungan perusahaan itu sendiri. Menurut Assih dan Gundono (2000), manajemen laba merupakan proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Accepted Accounting Proncipes (GAAP) untuk mengarah pada tingkatan laba yang dilaporkan. Manajemen laba membuat informasi keuangan yang disediakan oleh pihak perusahaan menjadi kurang akurat dan menyebabkan para investor maupun pihak lain yang menggunakan laporan keuangan tidak menerima informasi yang cukup akurat pula mengenai laba perusahaan.
Menurut Scott dalam Rahmawati (2006) terdapat beberapa motivasi yang mendorong manajemen melakukan earning management, antara lain sebagai berikut:
1. Bonus purposes yaitu motivasi untuk memaksimalkan bonus dengan cara dengan memaksimalkan laba perusahaan.
2. Other contractual motivation yaitu motivasi kontraktual yang berupa kontrak antara manajer dengan perusahaan dan kontrak antara perusahaan dengan kreditur.
3. Political motivation disebabkan adanya tekanan public yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih ketat.
4. Taxation motivation yaitu motivasi penghematan pajak yang cenderung mengurangi laba yang dilaporkan agar pajak penghasilan yang dibayarkan perusahaan semakin kecil.
5. Changes of Chief Executive Officer (CEO) yaitu pergantian CEO perusahaan yang cenderung membuat kondisi perusahaan terlihat bagus dengan meningkatkan laba agar CEO tidak diperhentikan dari posisinya atau mendapat bonus yang maksimal ketika CEO mengundurkan diri/pensiun.
6. Peristiwa Initial Public Offering (IPO) yang mendorong manajemen untuk mengatur pendapatan dengan meningkatkan laba perusahaan agar saham yang ditawarkan pada publik bernilai tinggi.
7. To communicate information to investor yaitu motivasi untuk berkomunikasi dengan investor mengenai kinerja perusahaan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan berkinerja baik.
Menurut Stice et al. (2009), terdapat empat alasan yang mendorong para manajer untuk memanipulasi laba yang dilaporkan:
1. Memenuhi target internal 2. Memenuhi harapan eksternal
3. Meratakan atau memuluskan laba (income smoothing)
4. Mempercantik laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan Penjualan Saham Perdana (Initial Public Offering/ IPO) atau untuk memperoleh pinjaman dari bank.
Sedangkan berbagai pola yang sering dilakukan manajer dalam melakukan earnings management menurut Scott (2009) adalah:
1. Taking a bath, yaitu pada saat manajemen laba harus melaporkan kerugian, maka manajemen akan melaporkan dalam jumlah besar.
2. Income minimization, yaitu tindakan menurunkan laba perusahaan yang dilakukan manajer untuk tujuan tertentu, misalnya untuk tujuan penghematan kewajiban membayar pajak kepada pemerintah karena semakin rendah laba yang dilaporkan perusahaan semakin rendah pula pajak yang harus dibayarkan.
3. Income maximization, yaitu tindakan menaikkan laba perusahaan oleh manajer untuk tujuan tertentu, misalnya menjelang IPO laba ditingkatkan dengan harapan mendapatkan reaksi positif dari pasar.
4. Income smoothing, kebijakan ini dilakukan karena adanya motivasi manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan karena umumnya investor menyukai laba yang relative stabil.
Studi DeFond dan Jiambalvo (1994); Sweeny (1994); Peltier-Rivest (1999); Jaggi dan Lee (2001); dan Rosner (2003) dalam Herawati dan Baridwan (2007) memberikan bukti empiris mengenai pola manajemen laba dalam bentuk meningkatkan laba yang dilaporkan. Sedangkan beberapa studi lain menyatakan bahwa manajer sedikit mungkin melakukan manajemen laba yang meningkatkan laba, justru manajer lebih mungkin melakukan manajemen laba yang menurunkan laba untuk menyoroti kesulitan keuangan perusahaan yaitu De Angelo et al. (1994) dan Saleh dan Ahmed (2005) dalam Herawati dan Baridwan (2007). Jadi pola manajemen laba yang dapat dilakukan oleh manajer ada dua, yaitu meningkatkan laba dan menurunkan laba yang dilaporkan.
2.1.5. Corporate Social Responsibility (CSR)
Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) telah ada sejak dahulu dan makin popular saat ini, namun definisi tunggal dari CSR itu sendiri belum ada.Terdapat banyak definisi mengenai konsep CSR.The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) misalnya, mendefinisikan CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan sebagai “Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large”. Maksudnya adalah komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan
dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas” (Wibisono, 2007).
Versi lain mengenai definisi CSR dikemukakan oleh World Bank. Lembaga keuangan global ini memandang CSR sebagai “The commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development”. Yang artinya adalah komitmen bisnis untuk berperilaku etis dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan semua pemangku kepentingan guna memperbaiki kehidupan mereka dengan cara uang bermanfaat bagi bisnis, agenda pembangunan yang berkelanjutan maupun masyarakat umum.
Magnan dan Ferrel (2004) dalam Susanto (2007), memberi definisi CSR, sebagai “A business acts in socially responsible manner when its decision and account for and balance diverse stakeholders interest”. Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa perlunya memberikan perhatian secara seimbang terhadap kepentingan stakeholders yang beragam dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil oleh para pelaku bisnis melalui perilaku yang secara sosial bertanggung jawab (Susanto, 2007).
Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu konsep dimana perusahaan memutuskan secara sukarela untuk berkontribusi pada suatu masyarakat agar menjadi lebih baik (Lubis, dkk, 2006).Pada dasarnya CSR menggambarkan suatu konsep dimana perusahaan mengintregasikan perhatian sosial dan lingkungan dalam operasional bisnisnya dan dalam interaksi perusahaan dengan stakeholders-nya berdasarkan prinsip sukarela.Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki implikasi penting untuk seluruh pelaku ekonomi, sosial, dan pemerintah.
Peranan CSR bagi perusahaan adalah keberadaan perusahaan dapat tumbuh berkelanjutan dan mendapatkan citra (image) positif dari masyarakat luas, mempertahankan sumber daya manusia berkualitas, meningkatkan pengambilan keputusan pada hal kritis dan mempermudah pengelolaan manajemen resiko serta memperoleh akses modal.
Dari beragam definisi CSR, ada satu kesamaan bahwa CSR tidak bisa lepas dari kepentingan shareholder dan stakeholder perusahaan.Mereka adalah pemilik perusahaan, karyawan, masyarakat, negara dan lingkungan. Konsep inilah yang kemudian diterjemahkan oleh John Elkington sebagai triple bottom line yaitu profit, people, dan planet. Maksudnya tujuan CSR harus mampu meningkatkan laba perusahaan, mensejahterakan karyawan dan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan (Titisari, 2009).
Konsep CSR melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah, lembaga sumber daya masyarakat, serta komunitas setempat (lokal).Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif dan statis.Kemitraan ini merupakan tanggung jawab bersama secara sosial antara stakeholdersdan
shareholders.
Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut
sustainibility reporting.Sustainibility reporting adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Sustainibility reporting harus menjadi dokumen strategis yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang
sustainibility development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya.
Secara prinsip, informasi tentang aktivitas kinerja sosial dan lingkungan perusahaan (CSR) memang harus disajikan dalam laporan keuangan.Alasannya, laporan keuangan
merupakan “media” komunikasi informasi tentang posisi keuangan dan kinerja aktivitas pendapatan, pembiayaan dan laba rugi perusahaan pada suatu periode kepada stakeholder.Dari media laporan keuangan, para stakeholder (investor, kreditur, pemasok, pelanggan, pemerintah dan masyarakat) bisa menilai kekuatan, keuntungan, resiko, prospek dan keberlanjutan suatu perusahaan sebelum mengambil suatu keputusan.Karena itu, sebagai media komunikasi, laporan keuangan memang harus menyertakan informasi investasi, pembiyaan, aktivitas dan kinerja CSR agar para stakeholder bisa mengetahui informasi perusahaan secara utuh sebelum mengambil keputusan ekonomi.
Sudah saatnya korporat/ perusahaan bukan hanya menempatkan diri sebagai aktor ekonomi, namun juga menempatkan dirinya sebagai aktor sosial yang juga berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya karena dengan cara inilah, masyarakat akan merasa ikut memiliki korporat yang ada di wilayah mereka, dan tidak akan menganggap suatu perusahaan yang beroperasi bagaikan duri dalam daging mereka. Ini semua dapat dicapai hanya dengan menerapkan suatu model tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang transparan, akuntabel, dan partisipasif (Zainal, 2006).
Menurut A.B Susanto (2007) dari sisi perusahaan terdapat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR, antara lain sebagai berikut:
1. Mengurangi resiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima perusahaan. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara konsisten akan mendapatkan dukungan luas dari komunitas yang telah merasakan manfaat dari berbagai aktivitas yang dijalankannya, CSR akan mendongkrak citra perusahaan, yang dalam rentang waktu panjang akan meningkatkan reputasi perusahaan. Manakala terdapat pihak pihak tertentu yang tidak
pantas, masyarakat akan menunjukkan pembelaannya. Karyawan pun akan berdiri di belakang perusahaan membela tempat institusi institusi mereka bekerja.
2. CSR dapat berfungsi sebagai pelindung dan membantu perusahaan meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis.
Demikian pula ketika suatu perusahaan diterpa kabar miring bahkan ketika perusahaan melakukan kesalahan, masyarakat lebih mudah memahami dan memaafkannya.Sebagai contoh adalah subuah perusahaan produsen consumen goods yang lalu dilanda isu adanya kandungan berbahaya dalam produknya.Namun karena perusahaan tersebut dianggap konsisten dalam dan memaafkannya sebagai relatif tidak mempengaruhi aktivitas dan kinerjanya.
3. Keterlibatan dan kebanggan karyawan.
Karyawan akan merasa bangga bekerja pada perusahaan yang memiliki reputasi yang baik, yang secara konsisten melakukan upaya upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Kebanggaan ini pada akhirnya akan menghasilkan loyalitas, sehingga mereka lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras demi kemajuan perusahaan. Hal ini akan berujung pada peningkatan kinerja dan produktivitas. 4. CSR yang dilakukan secara konsisten akan mampu memperbaiki dan mempererat hubungan
antara perusahaan dengan para stakeholders-nya.
Pelaksanaan CSR secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kepedulian terhadap pihak pihak yang selama ini berkontribusi terhadap lancarnya berbagai aktivitas serta kemajuan yang mereka raih. Hal ini mengakibatkan para stakeholders senang dan merasa nyaman dalam menjalankan hubungan dengan perusahaan.
Konsumen akan lebih menyukai produk produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang konsisten menjalankan tanggung jawab sosialnya sehingga memiliki reputasi yang baik.
6. Insentif-insentif lainnya seperti pajak dan berbagai perlakuan khusus lainnya. Hal ini perlu dipikirkan guna mendorong perusahaan agar lebih giat lagi menjalankan tanggung jawab sosialnya.
2.1.6. Kinerja Keuangan Perusahaan
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai tampilan tentang kondisi keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu.Pengukuran kinerja keuangan perusahaan menurut Honger (2007) mempunyai tujuan untuk mengukur kinerja bisnis dan manajemen dibandingkan dengan sasaran perusahaan.
Kinerja keuangan diartikan sebagai penentuan ukuran – ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.Dalam mengukur kinerja keuangan perlu dikaitkan antara perusahaan dengan pusat pertanggungjawaban (Ermayanti, 2009).
Pengukuran kinerja merupakan analisis data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Bagi investor informasi mengenai kinerja perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Selain itu pengukuran juga dilakukan untuk memperlihatkan kepada penanam modal maupun pelanggan atau masyarakat secara umum bahwa perusahaan memiliki kredibilitas yang baik.
Menurut Helfert dalam Widyastuti (2006) kinerja keuangan adalah hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen.Kinerja keuangan digunakan untuk mengetahui hasil tindakan yang telah dilakukan di masa lalu. Ukuran keuangan juga dilengkapi dengan ukuran-ukuran non-keuangan yang menunjukkan kepuasan pelanggan, produktivitas dan cost effectiveness proses bisnis dan produktifitas serta komitmen dari tiap personal untuk menentukan kinerja keuangan di masa yang akan datang.
Ada tiga macam ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja secara kuantitatif (Hanafi, 2003), yaitu:
a. Ukuran kriteria tunggal (triangle criteria) adalah ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk menilai kinerja manajer. Kelemahan apabila kriteria tunggal digunakan untuk mengukur kinerja yaitu orang akan cenderung memusatkan usahanya pada kriteria pada usaha tersebut sehingga akibatnya kriteria lain diabaikan, yang kemungkinan memiliki arti yang sama pentingnya dalam menentukan sukses atau tidaknya perusahaan.
b. Ukuran kriteria beragam (multiple criteria) adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran untuk menilai kriteria manajer. Kriteria ini mencari berbagai aspek kinerja manajer, sehingga manajer dapat diukur kinerjanya dari berbagai kriteria. Tujuan penggunaan beragam ini adalah agar manajer yang diukur kinerjanya mengartikan usahanya kepada berbagai kinerja.
c. Ukuran kriteria gabungan (composite criteria) adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran, untuk memperhitungkan bobot masing masing ukuran dan menghitung rata ratanya sebagai ukuran yang menyeluruh kinerja manajer. Kriteria gabungan ini dilakukan karena perusahaan menyadari bahwa beberapa tujuan lebih penting
dibandingkan dengan tujuan yang lain, sehingga beberapa perusahaan memberikan bobot angka tertentu pada beragam kriteria untuk mendapatkan ukuran tunggal kinerja manajer.
Analisis rasio keuangan bertujuan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan (Mardiyanto, 2009). Rasio keuangan tersebut antara lainReturn on Equity (ROE), Assets Turn Over(ATO), Growth in Revenue (GR), dan Return on Asset (ROA).
Return on Equity (ROE) merupakan rasio profitabilitas perusahaan untuk mengukur seberapa laba yang dihasilkan dalam setiap ekuitas yang didanakan. ROE dapat dijadikan sebagai indicator kinerja manajemen perusahaan dalam mengolah investors’ capital di dalam perusahaan (William, 2012).
Assets Turn Over (ATO) merupakan salah satu ukuran dari efisiensi produktivitas perusahaan yang dipakai untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan di dalam menghasilkan penjualan dengan menggunakan asset yang dimilikinya. Tarigan (2011) menerangkan bahwa pabila nilai ATO lebih dari satu kali berarti perusahaan telah mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada penggunaan aset-asetnya.
Growth in Revenue (GR) merupakan rasio untuk mengukur perubahan pendapatan perusahaan, yaitu seberapa baik eprusahaan mempertahankan posisi ekonominya.Peningkatan pendapatan biasanya merupakan suatu tanda bagi perusahaan untuk dapat tumbuh dan berkembang (Chen; dalam Dewi, 2011).
Return on Asset (ROA) merupakan rasio yang mengukur banyaknya laba yang dihasilkan perusahaan dalam setiap aset yang digunakan. Informasi mengenai laba perusahaan dapat mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan operasi yang ditetapkan. ROA dapat mengindikasikan keuntungan bisnis dan efisiensi dalam pemanfaatan total aset yang ada dalam perusahaan. Rasio ini mewakili rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang dimilikinya. Semakin tinggi nilai ROA maka semakin efisien perusahaan dalam menggunakan asetnya yang kemudian akan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
2.2. Penelitian Terdahulu
Penilitian empiris tentang aktivitas CSR dan manajemen laba yang dalam hubungannya berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan belum banyak dilakukan.Beberapa penelitian empiris sebelumnya banyak berfokus pada hubungan CSR dengan Corporate Financial Performance (CFP) maupun hubungan CSR dengan manajemen laba.
Prior et al. (2008) meneliti hubungan antara CSR, CFP dan manajemen laba.Sampel yang digunakan adalah 593 perusahaan dari 26 negara yang diambil dari database Sustainable Investment Research International Company (SIRI) dari tahun 2002 hingga 2004.Variabel yang digunakan adalah manajemen laba dan CFP sebagai variabel independen dan CSR sebagai variabel independen.Penelitian ini juga menggunakan variabel kontrol, yaitu investasi R&D, konsentrasi kepemilikan, kepemilikan institusional, tingkat resiko manajerial, ukuran