• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Biaya Produksi

Usaha kerajinan tangan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dalam menjalankan usahanya tidak dapat terlepas dari biaya produksi yang dipergunakan. Biaya-biaya produksi yang dikeluarkan pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari tersebut terdiri dari biaya eksplisit dan biaya implisit. Berikut ini adalah rincian biaya-biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari.

a. Biaya Eksplisit

Biaya eksplisit yang dikeluarkan pengrajin anyaman bambu (lambar) adalah penyusutan alat produksi yang meliputi gergaji, pisau, landasan anyam, sabit dan alat transportasi, biaya untuk pajak tempat produksi dan biaya bahan baku. Penggunaan biaya eksplisit selama periode bulan Desember 2015 dalam usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22

Rata-Rata Biaya Eksplisit Periode Bulan Desember 2015 Usaha Kerajinan Anyaman Bambu (Lambar) Di Desa Tanjungsari

No Uraian Biaya (Rp) Persentase (%)

1 Penyusutan alat produksi 7067,31 2,58

2 Pajak tempat produksi 37,96 0,01

3 Bambu apus 266944,44 97,41

Jumlah 274049,71 100

Sumber: Analisis Data Primer (2015).

Berdasarkan Tabel 22 menunjukkan bahwa, rata-rata biaya penyusutan alat selama periode bulan Desember 2015 yang dikeluarkan pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari sebesar Rp 7067,31 dengan persentase 2,58%, rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk biaya pajak tempat produksi pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah Rp 37,96 dengan persentase 0,01% dan rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk biaya bambu apus pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari sebesar Rp 266944,44 dengan persentase 97,41%. Rata-rata biaya eksplisit dalam periode bulan Desember 2015 yang dikeluarkan pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah sebesar Rp 274049,71. b. Biaya Implisit

Biaya implisit yang dikeluarkan dalam periode bulan Desember 2015 produksi anyaman bambu (lambar) yaitu biaya tenaga kerja. Penggunaan biaya implisit bulan Desember 2015 dalam usaha kerajianan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23

Rincian Rata-Rata Biaya Implisit Periode Bulan Desember 2015 Kerajinan Anyaman Bambu (Lambar) Di Desa Tanjungsari No Uraian Jumlah Biaya (Rp) Persentase (%)

1 Tenaga Kerja 209 JKO 1.044.305,56 100

Jumlah 1.044.305,56 100

Sumber: Analisis Data Primer (2015).

Berdasarkan Tabel 23 rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja sebesar Rp 1.044.305,56 dengan persentase 100%. Penggunaan biaya implisit yang dikeluarkan pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari sebesar Rp 1.044.305,56.

c. Biaya Total

Biaya total yang dipergunakan oleh pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yaitu terdiri dari penjumlahan biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya total dalam usaha kerajinan tangan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24

Rincian Rata-Rata Biaya Total Periode Bulan Desember 2015 Kerajianan Anyaman Bambu (lambar) di Desa Tanjungsari No Jenis Biaya Jumlah (Rp) Persentase (%)

1 Biaya eksplisit 274049,71 20,79

2 Biaya implisit 1.044.305,56 79,21

Jumlah 1.318.355,27 100

Sumber: Analisis Data Primer (2015).

Berdasarkan Tabel 24 rata-rata biaya eksplisit yang dikeluarkan selama periode bulan Desember 2015 pengrajin anyaman bambu (lambar) sebesar Rp 274049,71 dengan persentase 20,79%, sedangkan rata-rata biaya implisit yang

dikeluarkan sebesar Rp 1.044.305,56 dengan persentase 79,21%. Penggunaan biaya total yang dikeluarkan dalam bulan Desember 2015 kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah sebesar Rp 1.318.355,27.

d. Penerimaan

Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah lambar dengan harga jual lambar yang dilakukan oleh usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari. Hasil analisis yang diperoleh dari penelitian rata-rata penerimaan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 25.

Tabel 25

Rata-Rata Penerimaan Periode Bulan Desember 2015 Kerajinan Anyaman Bambu (lambar) di Desa Tanjungsari

No Produksi (lembar) Harga (Rp) Penerimaan (Rp)

1 525 3.000 1.574.416,67

Jumlah 1.574.416,67

Sumber: Analisis Data Primer (2015).

Berdasarkan Tabel 25 dapat disimpulkan bahwa rata-rata penerimaan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) yang diterima bulan Desember 2015 adalah sebesar Rp 1.574.416,67 Penerimaan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari berbeda-beda. Besar kecilnya penerimaan pengrajin tersebut ditentukan oleh, besar kecilnya biaya yang dikeluarkan bulan Desember 2015 dan jumlah produk anyaman bambu (lambar) bulan Desember 2015.

e. Pendapatan

Pendapatan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total biaya eksplisit. Total biaya eksplisit meliputi total biaya penyusutan alat, total biaya pajak tempat produksi, dan total biaya bambu apus. Hasil analisis yang diperoleh dari penelitian rata-rata pendapatan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26

Rata-Rata Pendapatan Periode Bulan Desember 2015 Kerajinan Anyaman Bambu (lambar) di Desa Tanjungsari

No Jenis Biaya Jumlah (Rp)

1 Penerimaan 1.574.416,67

2 Biaya Eksplisit 274.049,71

jumlah 1.301.986,40

Sumber: Analisis Data Primer (2015)

Berdasarkan Tabel 26 dapat disimpulkan bahwa rata-rata biaya penerimaan yang diperoleh selama periode bulan Desember 2015 pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari sebesar Rp 1.574.416,67 dan rata biaya eksplisit yang dikeluarkan sebesar Rp 274.049,71. Pendapatan yang diperoleh pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari sebesar Rp 1.301.986,40

f. Keuntungan Usaha

Keuntungan yang diperoleh pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dihitung dari penerimaan dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan dalam periode Desember

2015. Besarnya rata-rata keuntungan pengrajin anyaman bambu (lambar) dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27

Rata-rata Keuntungan Periode Bulan Desember 2015 Usaha Kerajinan Anyaman Bambu (lambar) di Desa Tanjungsari

No Rincian Nilai (Rp)

1 Penerimaan 1.574.416,67

2 Biaya Total 1.318.355,27

Jumlah 257.680,74

Sumber: Analisis Data Primer (2015)

Berdasarkan Tabel 27 menunjukkan bahwa rata-rata keuntungan dalam satu periode bulan Desember 2015 yang diperoleh pengrajin anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah sebesar Rp 257.680,74.

g. Kelayakan Usaha

Kelayakan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari ditentukan menggunakan analisis R/C ratio. Perhitungan analisis R/C ratio ini dihitung dengan cara membandingkan penerimaan dengan total biaya. Kelayakan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28

Perhitungan R/C Ratio Kelayakan Usaha Kerajinan Anyaman Bambu (lambar) di Desa Tanjungsari

No Rincian Nilai (Rp)

1 Penerimaan 1.574.416,67

2 Total Biaya 1.318.355,27

Jumlah 1,20

Berdasarkan pada Tabel 28 menunjukkan bahwa nilai R/C ratio pada usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah sebesar 1,20. Nilai R/C ratio sebesar 1,20 menunjukkan bahwa setiap Rp 1 biaya akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,2. Keadaan tersebut dapat diartikan juga bahwa, usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari layak diusahakan karena nilai R/C ratio >1. Hipotesis kedua yang menduga, bahwa usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari layak diusahakan, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

2. Analisis SWOT

a. Analisis Faktor Internal dan Eksternal 1. Analisis Lingkungan Faktor Internal

Analisis lingkungan internal yang didapat pada saat penelitian dan telah didiskusikan dengan informan kunci diperoleh faktor-faktor yang menjadi kekuatan usaha kerajianan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yaitu: keuangan menggunakan milik sendiri, SDM yang terampil, bambu apus melimpah, produk ramah lingkungan dan kontinuitas hasil produk.

Faktor-faktor kelemahan usaha kerajianan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yaitu: minimnya modal untuk membeli alat yang lebih modern, peralatan masih

tradisional, penjualan lambar mengikuti hari pasar gamblok, belum mampu mengelola keuangan dengan baik dan belum adanya variasi bentuk produk. Hasil analisis faktor internal usaha kerajianan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 29 matrik IFAS dibawah ini.

Tabel 29 Matrik IFAS

No KEKUATAN Bobot Rating Skor

1 Keuangan menggunakan

milik sendiri 0,12 4 0,48

2 SDM yang terampil 0,11 4 0,44

3 Bambu apus melimpah 0,12 4 0,48

4 Produk ramah lingkungan 0,09 3 0,27 5 Kontinuitas hasil produk

lambar 0,11 4 0,44

KELEMAHAN 1 Minimnya modal untuk

membeli alat yang lebih

modern 0,09 2 0,18

2 Peralatan masih tradisional 0,11 2 0,22 3 Penjualan lambar mengikuti

hari pasar di pasar Gamblok 0,09 2 0,18 4 Belum mampu mengelola

keuangan dengan baik 0,08 1 0,08

5 Belum adanya variasi

bentuk produk 0,08 1 0,08

Total 1,00 2,85

Sumber: Analisis Data Primer (2015)

Faktor yang menjadi kekuatan utama yang diharapkan meminimalkan kelemahan yang dimiliki untuk mengembangkan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah keuangan menggunakan milik sendiri dengan hasil skor 0,48 dengaan bobot 0,12 dan rating 4, diikuti

oleh bambu apus melimpah memiliki skor 0,48 dengan bobot 0,12 dan rating 4. Faktor lain yang dapat dimanfaatkan adalah SDM yang terampil memiliki skor 0,44 dengan bobot 0,11 dan rating 4, diikuti oleh kontinuitas hasil produk lambar memiliki skor 0,44 dengan bobot 0,11 dan rating 4, produk ramah lingkungan memiliki skor 0,27 dengan bobot 0,09 dan rating 3. Kelemahan dalam usaha pengembangan yang akan dilakukan yaitu terletak pada peralatan masih tradisional yang memiliki sebesar 0,22 dengan bobot 0,11 dan rating 2. Faktor lain yang menjadi kelemahan adalah minimnya modal untuk membeli alat yang lebih modern 0,18 dengan bobot 0,09 dan rating 2, diikuti oleh penjualan lambar mengikuti hari pasar di pasar Gamblok yang memiliki skor 0,18 dengan bobot 0,09 dan rating 2, belum mampu mengelola keuangan dengan baik yang memiliki skor 0,08 dengan bobot 0,08 dan rating 1, belum adanya variasi bentuk produk yang memiliki skor 0,08 dengan bobot 0,08 dan rating 1. Berdasarkan analisis faktor internal usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari hasil analisis matrik IFAS diperoleh total skor sebesar 2,85.

2. Analisis Lingkungan Faktor Eksternal

Analisis lingkungan eksternal yang didapat pada saat penelitian diperoleh faktor-faktor yang menjadi peluang usaha

kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yaitu: lambar selalu terjual, mudahnya memperoleh bambu apus, lembaga keuangan, adanya permintaan lambar yang lebih lebar dan peralatan yang lebih modern. Hasil identifikasi lingkungan eksternal pada saat penelitian berlangsung berdasarkan faktor ancaman yaitu: angin, tidak ada matahari, kenaikan harga bambu apus, perubahan gaya hidup masyarakat dan regenerasi tenaga kerja sulit. Hasil analisis faktor eksternal usaha kerajianan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 30 matrik EFAS dibawah ini.

Tabel 30 Matrik EFAS

No PELUANG Bobot Rating Skor

1 Lambar selalu terjual 0,12 4 0,48 2 Bambu apus mudah diperoleh 0,12 4 0,48 3 Adanya lembaga keuangan

yang bersedia memberikan

pinjaman 0,09 3 0,27

4 Adanya permintaan lambar

yang lebih lebar 0,09 2 0,18

5 Ada Peralatan yang lebih

modern 0,11 4 0,44

ANCAM AN 1 Angin besar yang dapat

merusak batang bambu 0,08 2 0,16

2 Cuaca mendung menghalangi

proses penjemuran 0,10 2 0,20

3 Kenaikan harga bambu apus 0,11 2 0,22 4 Perubahan gaya hidup

masyarakat 0,07 2 0,14

5 Regenerasi tenaga

menganyam produktif sulit 0,11 1 0,11

Total 1,00 2,68

Faktor yang menjadi peluang yang sangat baik adalah Lambar selalu terjual yang memiliki skor sebesar 0,48 dengan bobot 0,12 dan rating 4 diikuti oleh bambu apus mudah diperoleh skor sebesar 0,48 dengan bobot 0,12 dan rating 4. Faktor lain yang menjadi peluang adalah peralatan yang lebih modern yang memiliki skor sebesar 0,44 dengan bobot 011 dan rating 4, adanya lembaga keuangan yang bersedia memberi pinjaman memiliki skor sebesar 0,27 dengan bobot 0,09 dan rating 3, adanya permintaan lambar yang lebih lebar memiliki skor sebesar 0,18 dengan bobot 0,09 dan rating 2.

Faktor yang menjadi ancaman usaha kerajianan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah kenaikan harga bambu apus yang memiliki skor sebesar 0,22 dengan bobot 0,11 dan rating 2. Faktor lain yang menjadi ancaman adalah cuaca mendung menghalangi proses penjemuran yang memiliki skor 0,20 dengan bobot 0,10 dan rating 2, diikuti oleh angin besar yang dapat merusak batang bambu memiliki skor sebesar 0,16 dengan bobot 0,08 dan rating 2, perubahan gaya hidup masyarakat memiliki skor 0,14 dengan bobot 0,07 dan rating 2, regenerasi tenaga menganyam produktif sulit memiliki skor sebesar 0,11 dengan bobot 0,11 dan rating 1. Berdasarkan analisis faktor internal usaha

kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari hasil analisis matrik EFAS diperoleh total skor sebesar 2,68.

b. Analisis Matrik IE

Pertemuan titik dari hasil analisis matrik IFAS dan EFAS merupakan hasil yang dipergunakan untuk menentukan matrik IE. Hasil analisis dari matrik IFAS diperoleh sebesar 2,85 dan hasil dari matrik EFAS diperoleh sebesar 2,68. Berdasarkan titik pertemuan dari hasil analisis matrik IFAS dan EFAS dapat diketahui posisi usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari terletak pada posisi strategi sel V yaitu pertumbuhan stabilitas. Posisi matrik IE usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 31.

Tabel 31

Matrik Internal-Eksternal (IE)

Kuat Rata-Rata Lemah 4.0 3.0 (2,85) 2.0 1.0 I Pertumbuhan II Pertumbuhan III Penciutan IV Stabilitas V Pertumbuhan Stabilitas VI Penciutan VII Pertumbuhan VIII Pertumbuhan IX Likuidasi

Sumber: Analisis Data Primer (2015) 1.0 Rendah 3.0 Tinggi Menengah (2,68) 2.0

c. Analisis Alternatif Strategi

Berdasarkan hasil dari matrik IE di atas menunjukkan bahwa usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari menunjukkan pada sel V yaitu pertumbuhan stabilitas. Berdasarkan dari hasil tersebut maka alternatif strategi yang sesuai digunakan adalah matrik SWOT. Analisis matrik SWOT dapat disimpulkan bahwa alternatif strategi yang dapat diterapkan pada usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari dapat dilihat pada Tabel 32.

Tabel 32 Matrik SWOT INTERNAL EKSTERNAL Strenght (S) 1. Keuangan menggunakan milik sendiri. 2. SDM yang terampil. 3. Bambu apus melimpah. 4. Produk ramah lingkungan. 5. Kontinuitas hasil produk lambar. Weakness (W) 1. Minimnya modal untuk membeli alat yang lebih modern. 2. Peralatan masih tradisional. 3. Penjual lambar mengikuti hari pasar di pasar Gamblok. 4. Belum mampu mengelola keuangan dengan baik. 5. Belum adanya variasi bentuk produk. Opportunities (O) 1. Lambar selalu terjual.

2. Bambu apus mudah diperoleh. 3. Adanya lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman. 4. Adanya permintaan lambar yang lebih lebar.

5. Ada peralatan yang lebih modern.

Strategi S-O

Menambah ukuran produk anyaman bambu (lambar) (S3, O1, O2, O4)

Strategi W-O Melakukan pinjaman ke lembaga keuangan (W1, O3, O4) Threats (T)

1. Angin besar yang dapat merusak batang bambu. 2. Cuaca mendung menghalangi proses penjemuran. 3. Kenaikan harga bambu apus. 4. Perubahan gaya hidup masyarakat. 5. Regenerasi tenaga menganyam produktif sulit. Strategi S-T Melakukan manajemen produksi (S2, S3, T1, T2, T3) Strategi W-T Menggunakan peralatan yang lebih moderrn (W1, W2, T1, T2, T3, T5)

Berdasarkan Tabel 32 matrik SWOT diperoleh strategi yang dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pengembangan usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari. Berikut adalah alternatif yang dapat dipergunakan sebagai strategi pengembangan:

1. Strategi S-O

Menambah ukuran produk anyaman bambu (lambar). Faktor yang berpengaruh S3 dan O1, O2, O4, sehingga dapat mengambil peluang yang ada dan dapat meningkatkan keuntungan. Pengambilan alternatif strategi tersebut karena dalam melakukan penambahan ukuran produk lambar diperlukan bahan baku atau bambu apus yang lebih banyak dan lambar selalu terjual karena sudah ada permintaan dari konsumen.

2. Strategi S-T

Melakukan manajemen produksi. Faktor yang berpengaruh S2, S3, dan T1, T2, T3, karena dengan adanya manajemen produksi yang baik SDM yang terampil dan bahan baku atau bambu apus yang melimpah tetap dapat melakukan produksi dalam keadaan alam yang tidak menentu setiap tahunnya dan juga perubahan harga bahan baku bambu apus yang dapat mengurangi keuntungan.

3. Strategi W-O

Melakukan pinjaman ke lembaga keuangan. Faktor yang berpengaruh adalah W1, dan O3, O4, minimnya modal untuk membeli alat yang lebih modern belum cukup untuk memenuhi produksi diperlukan pinjaman ke lembaga keuangan untuk memproduksi lambar yang lebih lebar.

4. Strategi W-T

Menggunakan peralatan yang lebih modern. Faktor yang berpengaruh adalah W1, W2, dan T1, T2, T3, T5, karena dengan adanya peralatan yang lebih modern keadaan alam yang tidak menentu bisa teratasi dan regenerasi tenaga kerja yang menggunakan peralatan tradisional juga bisa teratasi.

83

Berdasarkan hasil penelitian terhadap usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yang dilakukan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari menguntungkan dan layak untuk diusahakan karena nilai R/C ratio sebesar 1,20.

2. Faktor internal yang dapat mendukung dan menghambat tumbuh kembangnya usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yaitu faktor kekuatan yang meliputi keuangan menggunakan milik sendiri, SDM yang terampil, bambu apus melimpah, produk ramah lingkungan dan kontinuitas produk lambar, sedangkan untuk faktor kelemahan yaitu minimnya modal untuk membeli alat yang lebih modern, peralatan masih tradisional, penjualan lambar mengikuti hari pasar di pasar Gamblok, belum mampu mengelola keuangan dengan baik dan belum adanya variasi bentuk produk.

3. Faktor eksternal yang dapat mendukung dan menghambat tumbuh kembangnya usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari yaitu faktor peluang yang meliputi lambar selalu terjual, bambu apus mudah diperoleh, adanya lembaga keuangan yang

bersedia memberikan pinjaman, adanya permintaan lambar yang lebih lebar dan ada peralatan yang lebih modern, sedangkan untuk faktor ancaman yaitu angin besar yang dapat merusak batang bambu, cuaca mendung menghalangi proses penjemuran, kenaikan harga bambu apus, perubahan gaya hidup masyarakat dan regenerasi tenaga kerja menganyam sulit.

4. Hasil perumusan alternatif strategi yang dapat diterapkan pada usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) di Desa Tanjungsari adalah menambah ukuran produk anyaman bambu (lambar), melakukan manajemen produksi, melakukan pinjaman ke lembaga keuangan dan menggunakan peralatan yang lebih modern.

B. Saran

1. Pemilik usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) sebaiknya melakukan manajemen produksi untuk mengatasi musim hujan dan kenaikan harga bambu apus, dengan cara pada saat musim kemarau membeli bambu apus lebih banyak untuk dijadikan iratan yang telah dikeringkan sebagai stok ketika musim hujan.

2. Pemilik usaha kerajinan anyaman bambu (lambar) sebaiknya menggunakan peralatan yang lebih modern untuk mempercepat waktu produksi seperti alat pengering iratan (oven) dan alat pembelah bambu.

3. Pemerintah sebaiknya lebih serius memperhatikan pengrajin lambar, baik dalam peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan-pelatihan cara menggunakan alat yang lebih modern, maupun dalam hal bantuan sarana dan prasarana produksi anyaman bambu (lambar).

DAFTAR PUSTAKA.

Arbi, Purnomo. 2009. Analisa Kelayakan Dan Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong di Desa Jati Kesuma, Kecamatan Namo Rambe Kabupaten Deli Serdang. Skripsi, tidak diterbitkan. Program Studi Agribisnis Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.

Damanik, Sabarman. 2007. Strategi Pengembangan Agribisnis Kelapa (cocos Nucifera) Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Pusat penelitian, tidak diterbitkan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Daniel, Moehar. 2002. Metode Penelitian Sosial Ekonom. Bumi Aksara. Jakarta. Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Kabupaten Kebumen. 2014. Daftar

Industri Kecil Anyaman Bambu di Kabupaten Kebumen. Diskop dan UMKM. Kebumen.

Kinnear TC dan Robinson. 1991. Marketing Research and Approach, Mc. Graw Hill, New York.

Kottler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran, Jilid 1. PT INDEKS Gramedia. Nazir, Moh. 2011. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Bogor.

Rangkuti, Freddy. 1999. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, cet, kelima, September.

Rangkuti, Freddy. 2014. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, cet, kesembilan belas, Oktober.

Santosa Budi, Nurodo dan Jaidun Kurnaidi. 2013. Koleksi Kerajinan Bambu. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata. Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.

Setiawan, Budi. 2010. Strategi Pengembangan Usaha Kerajinan Bambu Di Wilayah Kampung Pajeleran Sukahati Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor. Skripsi, tidak diterbitkan. Program Studi Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bogor.

Soedjono dan Hartanto. 1991. Budidaya bambu. DAHARA PRIZE.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Penerbit Alfabeta, Bandung.

Suryatama, Erwin. 2014. Lebih Mengenal Analisis SWOT Dalam Bisnis. Penerbit: Kata Pena, Surabaya.

Tangkesalu Dance, Arni Tirsa Pele dan Arifuddin. 2013. Strategi Pengembangan Kripik Singkong Balado Pada UKM “Pundi Emas” di Kota Palu. Skripsi, tidak diterbitkan. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.

Tri Wahyuniarso. 2013. Strategi Pengembangan Industri Kecil Keripik di Dusun Karangbolo Lerep Kabupaten Semarang. Skripsi, tidak diterbitkan. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negri Semarang.

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA

KERAJINAN TANGAN ANYAMAN BAMBU (Lambar)

DI DESA TANJUNGSARI KECAMATAN PETANAHAN

KABUPATEN KEBUMEN

A. Umum

Nama saya Trimoyo, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo jurusan Agribisnis Pertanian, pada saat ini sedang mengadakan penelitian tentang Strategi Pengembangan Industri Rumah Tangga Kerajinan Tangan Anyaman Bambu (Lambar) Di Desa Tanjungsari Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen. Peneliti mengharapkan atas partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/i menjadi salah satu peserta survey dan secara sukarela mengisi kuisioner ini. Peneliti sangat menghargai kejujuran Bapak/Ibu/Sdr/I dalam mengisi kuisioner dan kami menjamin kerahasiaan Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkait dengan kuisioner. Hasil survey ini semata-mata akan digunakan untuk tujuan penelitian dan bukan tujuan komersial. Atas bantuan dan partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/I yang sudah meluangkan waktunya peneliti mengucapkan terimakasih.

Responden diharapkan memberikan jawaban terhadap seluruh pertanyaan dengan cara memberikan tanda checklist (√) pada kolom yang tersedia dan menuliskan jawaban menurut Bapak/Ibu/Sdr/I pada tempat yang telah disediakan.

B. Identitas Responden

Nama :………..

Alamat :………..

Umur :………..

Jenis kelamin : Laki-laki/perempuan

C. Pertanyaan Terkait Dengan Usaha Kerajinan Tangan Anyaman Bambu (Lambar)

Petunjuk pengisian:

Kepada Bapak/Ibu/Sdr/I isilah daftar pertanyaan dengan cara mengisi di tempat yang telah dipersediakan.

1. Biaya Bahan Baku.

No Bahan Baku Jumlah (Ros) Harga (Rp) 1 Bambu Apus

3. Penggunaan Tenaga Kerja.

No Jenis

Pekerjaan

Tenaga Kerja Dalam Keluarga Tenaga Kerja Luar Keluarga Pria Wanita JKO Upah Pria Wanita JKO Upah 1 Ngerok dan belah 2 Mengirat 3 Penjemuran 4 Penghalusan 5 Menganyam

4. Jumlah Produksi Yang Dihasilkan Dan Harga Lambar.

No Jumlah Produksi (lambar) Harga (Rp)

1 5. Pajak

No Jenis Pajak Nilai (Rp)

1 Pajak Tempat Produksi

D. Pertanyaan Yang Berkaitan Dengan Strategi Pengembangan

1. Pemberian nilai peringkat/rating terhadap faktor strategi internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman).

Petunjuk pengisian:

a. Pemberian nilai rating menunjukkan tingkat faktor strategi sebagai kekuatan dan kelemahan. Pemberian nilai peringkat didasarkan pada keterangan sebagai berikut:

- Nilai 4, jika faktor strategi di nilai mempunyai kekuatan utama - Nilai 3, jika faktor strategi di nilai mempunyai kekuatan kecil - Nilai 2, jika faktor strategi di nilai mempunyai kelemahan kecil - Nilai 1, jika faktor strategi di nilai mempunyai kelemahan utama 3 Landasan anyaman

4 Sabit

- Produk ramah lingkungan - Kontinuitas hasil produk lambar

c. Pengisian kolom penilaian rating menggunakan tanda checklist (√)

KELEMAHAN 4 3 2 1

- Minimnya modal untuk membeli alat yang lebih modern

- Peralatan masih tradisional

Dokumen terkait