• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara culture shock dan motivasi belajar pada mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan antara culture shock dan motivasi belajar pada mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera. Hubungan yang dihasilkan bersifat positif atau searah, ini berarti bahwa semakin tinggi culture shock yang dirasakan mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera maka semakin tinggi pula motivasi belajarnya. Hubungan antara kedua variabel ini dapat dikatakan sangat kuat karena hampir mendekati angka 1, dengan angka korelasi sebesar 0.993 dengan signifikansi 0.000.

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang berasal dari luar Pulau Sumatera disebut sebagai perantau. Perantau merupakan individu-individu yang tinggal sementara di tempat yang baru (Ward, 2001). Tujuan utama mahasiswa luar Pulau Sumatera berkuliah di Universitas Sumatera Utara ialah untuk menuntut ilmu. Hal ini sesuai dengan dengan salah satu unsur pokok merantau yang dikemukakan oleh Naim (dalam Lingga, 2012). Adapun unsur pokok merantau yaitu, (1) meninggalkan kampung halaman; (2) merantau dengan kemauan sendiri; (3) merantau untuk jangka waktu yang lama atau tidak; (4) merantau dengan tujuan mencari penghidupan, menuntut ilmu atau mencari

pengalaman; (5) masih memiliki maksud kembali pulang; (6) merantau adalah kebiasaan atau perilaku yang dilakukan oleh banyak orang yang membudaya.

Menuntut ilmu merupakan salah satu unsur yang mendasari mahasiswa rela meninggalkan kampung halaman mereka untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Menuntut ilmu merupakan proses mempelajari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar tidak akan berlangsung apabila seseorang tidak memiliki motivasi. Motivasi merupakan proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku (Santrock, 2013).

Sedangkan motivasi belajar merupakan proses yang mendorong individu melakukan kegiatan belajar, memberi arah pada kegiatan belajar, dan menjamin kelangsungan belajar untuk mencapai tujuan (Pintrich & Schunk, 2002).

Mahasiswa perantau yang memilih untuk meninggalkan kampung halaman mereka menunjukkan bahwa mereka memiliki motivasi untuk memperoleh ilmu pegetahuan.

Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk, pengajar dan keadaan kelas, peran institusi pendidikan, dan sosiokultural (Pintrich &

Schunk, 2002). Sosiokultural akan menjelaskan tentang bagaimana budaya dapat mempengaruhi motivasi belajar. Perubahan budaya yang dialami mahasiswa perantau dapat menimbulkan rasa cemas, bingung, sedih, disorientasi, curiga dan yang lainnya (Ward, 2001). Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Xia (2009) yang berjudul Analysis of Impact of Culture Shock on Individual Psychology. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa culture shock dapat menimbulkan depresi, kecemasan, dan perasaan tidak berdaya. Perasaan-perasaan

negatif tersebut merupakan salah satu faktor psikologis yang dapat mempengaruhi motivasi belajar (Sardiman, 2009). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Wigfield dan Eccles (dalam Santrock, 2004), tingkat kecemasan yang tinggi akan membuat individu sulit melakukan proses kognitif, pengaturan diri, dan pencapaian yang rendah. Motivasi belajar yang terganggu karena perbedaan budaya disebabkan karena individu tidak mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan (Ward, 2001).

Semakin tinggi culture shock yang dialami mahasiswa perantau, maka motivasi belajar mereka meningkat pula. Hal ini sesuai dengan defenisi culture shock yang dikemukakan oleh ward (2001), culture shock merupakan proses aktif individu ketika mengalami perubahan lingkungan yang terdiri dari dimensi affective, behavior, dan cognitive yaitu bagaimana seseorang akan merasa, berperilaku, dan berpikir ketika menghadapi pengaruh budaya kedua. Ward (2001) menganggap bahwa culture shock adalah proses beradaptasi dengan lingkungan/budaya yang baru, berbeda dengan Oberg 1960 yang memandang culture shock sebagai reaksi pasif individu tanpa melakukan adaptasi. Semakin baik mahasiswa perantau beradaptasi, maka semakin baik pula motivasi belajar mereka.

Hasil tambahan yang dipaparkan dalam penelitian ini menyatakan bahwa sebagian besar mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya yang baik. Perbandingannya yaitu 66 mahasiswa atau 45.83% memiliki culture shock sedang, 78 mahasiswa atau 54,17% memiliki culture shock pada taraf tinggi, dan tidak ada satupun

mahasiswa yang memiliki culture shock dalam kategori rendah. Dari hasil kategorisasi tersebut terlihat bahwa mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya di Medan. Penelitian ini tidak mengontrol kemampuan adaptasi pada mahasiswa perantau. Mungkin sampel-sampel dalam penelitian ini memang memiliki kemampuan beradaptasi yang baik. Kemampuan beradaptasi mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera memiliki kemampuan beradaptasi yang baik ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Denvita, Hidayah, dan Hendrastomo (2015) yang menyatakan bahwa culture shock akan dialami oleh mahasiswa perantau yang baru memasuki semester awal, dan culture shock yang dialami mahasiswa perantau tidak benar-benar menimbulkan rasa putus asa yang permanen dalam menyelesaikan akademik. Hal ini juga sesuai dengan Ward, Bochner, & Furnham (2001) yang menyatakan bahwa culture shock merupakan proses aktif dalam menghadapi perubahan budaya.

Sesuai dengan hasil penelitan ini, hubungan kedua variabel positif yang berarti culture shock meningkatkan motivasi belajar mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera.

Hal tersebut dapat dilihat dari pengkategorisasian motivasi belajar mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera, tidak ada dari mereka yang memiliki motivasi belajar rendah dan kebanyakan dalam kategori sedang. Perbandingan kategorisari variabel motivasi belajar memiliki perbandingan, 87 mahasiswa atau 60,42% memiliki motivasi

belajar dalam kategori sedang, 57 mahasiswa atau 39,58% memiliki motivasi belajar yang tinggi, dan 0% mahasiswa yang berada dalam kategori motivasi belajar yang rendah.

Alat ukur dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk offline berupa booklet dan bentuk online berupa google form. Hal ini dilakukan peneliti untuk mempermudah proses pengumpulan data penelitian. Dengan menggunakan alat ukur online maka waktu yang digunakan untuk mengumpulkan data lebih efisien.

Motivasi belajar mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera dikatakan baik karena tidak satupun dari mereka yang memiliki motivasi rendah. Mereka juga tidak memiliki masalah-masalah karena perbedaan budaya ini disebabkan karena mereka memiliki kemampuan beradaptasi (culture shock) yang baik, sebagian dari mereka berada memiliki culture shock yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh hasil bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif, yang berarti apabila culture shock yang baik akan meningkatkan motivasi belajar mahasiswa perantau.

Namun tidak berarti bahwa semakin rendah culture shock maka semakin rendah pula motivasi belajar mahasiswa perantau Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang berasal dari luar Pulau Sumatera. Hal ini disebabkan karena motivasi belajar bukan hanya dipengaruhi oleh culture shock saja, masih terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi motivasi belajar yaitu pengajar dan keadaan kelas, serta peran institusi pendidikan (Pintrich & Shuck, 2002).

Penelitian yang dilakukan Anggraini (2005) dengan judul Motivasi Belajar dan Faktor-faktor yang Berpengaruh: Sebuah Kajian pada Interaksi Belajar

Mahasiswa, menunjukkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik terdiri dari minat terhadap bidang ilmu yang dipelajari, dan orientasi dalam mengikuti Pendidikan Tinggi. Faktor ekstrinsik terdiri dari kualitas dosen yang mengajar, bobot materi kuliah yang diajarkan, metode perkuliahan yang digunakan dosen, kondisi dan suasana ruang kelas, dan fasilitas perpustakaan yangdapat digunakan mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa motivasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh culture shock saja.

BAB V

Dokumen terkait