• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian

4.3.1. Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh parsial dari variabel Dana Pihak Ketiga (X1) tidak signifikan secara statistik terhadap Pembiayaan (Y1). Nilai koefisien dari Uji t untuk variabel Dana Pihak Ketiga sebesar 0,057.

Karena nilai probabilitas dari uji t yakni 0,000 yang mana lebih kecil dari 0,05 maka disimpulkan pengaruh parsial Dana Pihak Ketiga signifikan secara statistik.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hakim (2006) pada BMT Bangun Amratani Salaman Magelang yang menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga tidak berpengaruh terhadap Pembiayaan. Namun hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Liliani dan

-0,659487 Dana Pihak

Ketiga (X1)

Pembiayaan (Y1)

CAR (X2)

NPF (M1)

ROA (y2)

Khairunisa (2014) yang menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Pembiayaan Bagi Hasil artinya semakin tinggi pembiayaan maka Dana Pihak Ketiga juga akan semakin tinggi.

Penyebab Dana Pihak Ketiga berpengarung positif dan signifikan pada Bank Sumut UUS, karena penyaluran pembiayaan pada Bank Sumut UUS hampir seluruhnya bersumber dari Dana Pihak Ketiga, sedangkan untuk sumber lainnya berasal dari modal Bank Sumut UUS dan pemakaian dana Rekening Antar Kantor Induknya tidak signifikan terhadap pertumbuhan pembiayaan.

Dengan demikian untuk setiap penyaluran pembiayaan di Bank Sumut UUS juga dibarengi dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga, selain Dana Pihak Ketiga Bank Sumut UUS juga dapat menggunakan modalnya atau memakai dana dari induknya yaitu Bank Sumut Konvensional walaupun tetap memperhitungkan pembayaran bagi hasil.

4.3.2. Pengaruh CAR terhadap Pembiayaan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh parsial dari variabel CAR (X2) tidak signifikan secara statistik terhadap Pembiayaan (Y1). Diketahui nilai probabilitas dari Variabel CAR (X2) yakni 0,77 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05 dengan nilai koefisien 0,009 lebih besar dari 0 , hal ini berarti pengaruh langsung antara CAR (X2) dengan Pembiayaan (Y1) berpengaruh positif namun tidak signifikan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh putu dan ketut (2014) yang melakukan penelitian Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Penyaluran Kredit dan Non Performing Loan pada Profitabilitas bank-bank yang

terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2010-2012 bahwa CAR berpengaruh positif dan tidak signifikan.

Namun Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratama (2010) yang melakukan penelitian pada Bank Umum di Indonesia Periode tahun 2005-2009 , menyatakan bahwa CAR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kredit perbankan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan permodalan Bank Sumut UUS tidak mengalami penurunan walau ekspansi pembiayaan terus dilakukan. Hal ini terjadi karena penyaluran pembiayaan dan hal-hal lain yang mempengaruhi permodalan Bank Sumut UUS masih di didukung sepenuhnya oleh Bank Sumut Konvensional selaku induk usaha Bank Sumut. Tanggung jawab Induk usaha dalam operasional unit usaha syariah berlaku juga untuk seluruh unit usaha syariah di seluruh Indonesia. Bank Sumut UUS dapat melakukan permohonan penambahan modal usahanya apabila dirasakan perlu, misalnya apabila CAR Bank Sumut UUS telah berada dibawah 8%. Rasio CAR Bank Sumut UUS dapat dibawah 8% karena beberapa hal seperti ekspansi pembiayaan yang dilakukan sehingga dapat mengurangi modal Bank Sumut UUS. Walaupun dibeberapa kantor cabang Bank Sumut UUS memiliki CAR dibawah 8% namun ekspansi pembiayaan dapat terus dilakukan, hal ini dikarenakan penilaian tingkat CAR Bank Sumut UUS dilakukan secara konsolidasi tidak per masing-masing cabang syariah.

Penambahan jaringan kantor juga sebagai salah satu faktor tidak langsung yang dapat menurunkan modal, sebab apabila Bank Sumut UUS membuka jaringan kantor, otomatis jaringan baru tersebut akan menyalurkan pembiayaan

yang dapat mengurangi rasio CAR Bank Sumut UUS.Agar lebih aman dapat hal rasio CAR, sebaiknya Bank Sumut UUS terus melakukan monitoring terhadap rasio CAR setiap bulannya.

4.3.3. Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) dan CAR terhadap Pembiayaan Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh bersama-sama dari variabel Dana Pihak Ketiga (X1) dan CAR (X2) signifikan secara statistik terhadap Pembiayaan (Y1).nilai probabilitas 0,000000 Karena nilai probabilitas lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05, maka pengaruh simultan dari variabel bebas Dana Pihak Ketiga, CAR secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan.

Dengan nilai koefisien determinasi sebesar . Nilai tersebut berarti seluruh variabel bebas, yakni Dana Pihak Ketiga, CAR secara simultan atau bersamaan mempengaruhi variabel Pembiayaan sebesar 73%, sisanya sebesar 27% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Nilai error untuk persamaan substruktur ini adalah 51.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wirdiantika dan Kusumaningtias (2014) yang melakukan penelitian pengaruh DPK, CAR, NPF dan SWBI terhadap Pembiayaan Murabahah pada Bank Umum Syariah menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga dan CAR secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Pembiayaan Murabahah.

Dalam menyalurkan pembiayaan Bank Sumut UUS harus menyediakan dana untuk setiap pembiayaan yang direalisasikan kepada nasabahnya, selain dana pihak tiga rasio CAR juga langsung dipengaruhi oleh penyaluara pembiayaan.

Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, rasio CAR akan dipengaruhi oleh

peningkatan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) salah satu aktiva tertimbang tersebut adalah pembiayaan.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi jumlah Pembiayaan adalah Dana Pihak Kedua yang berasal dari penempatan dana bank lain dan pemakaian dana Rekening Antar Kantor yang berasal dari Bank Sumut Konvensional selaku Induk bank Sumut UUS.

Dana pihak kedua yang berasal dari bank lain hingga saat ini dimanfaatkan oleh Bank Sumut UUS sebagai salah satu upaya untuk mendukung likuiditas saja bukan sebagai faktor penting mendukung dana untuk disalurkan ke pembiayaan, namun demikian penempatan dana pihak kedua masih dirasakan perlu oleh Bank Sumut UUS, karena salah satu dana yang sangat mudah untuk diperoleh suatu bank dalam menjaga likuiditasnya adalah dengan memanfaatkan fasilitas penempatan dana dari bank lain (dana pihak kedua).

Mengapa dikatakan dana pihak kedua sebagai salah satu faktor penting dalam menyalurkan pembiayaan Bank Sumut UUS, karena apabila seluruh dana pihak ketiga telah seluruhnya disalurkan ke pembiayaan, Bank Sumut UUS dapat menggunaka dana antar kantor Bank Sumut Konvensional. Penggunaan dana antar kantor ini sudah lazim dilaksanakan oleh unit usaha syariah di seluruh Indonesia. Bank Sumut UUS pada saat menggunakan dana antar kantor Bank Sumut Konvensional tetap harus membayar bagi hasil bulanan yang besarnya setara dengan bagi hasil deposito Bank Sumut UUS kepada nasabah jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Pembayaran bagi hasil ini dilakukan agar cabang-cabang Bank Sumut UUS terus berusaha mencari dana pihak ketiga khususnya dana pihak ketiga dalam bentuk giro dan tabungan karena biaya dana untuk tabungan

dan giro lebih rendah dari biaya dana deposito. Kantor cabang yang mampu menghimpun dana tabungan dan giro yang lebih besar dan disalurkan ke pembiayaan akan memperoleh laba yang lebih tinggi dibandingkan dengan kantor cabang yang menggunakan dana antar kantor dalam menyalurkan pembiaannya.

4.3.4. Pembiayaan memediasi Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh parsial dari variabel Dana Pihak Ketiga (X1) tidak signifikan secara statistik terhadap Pembiayaan (Y1). Nilai koefisien dari Uji t untuk variabel Dana Pihak Ketiga sebesar 0,057.

Karena nilai probabilitas dari uji t yakni 0,000 yang mana lebih kecil dari 0,05 maka disimpulkan pengaruh parsial Dana Pihak Ketiga signifikan secara statistik, namun jalur Pembiayaan (Y1) terhadap ROA (Y2) berdasarkan hasil pengujian hipotesis nilai probabilitas 0.988 lebih besar dari dari 0,05 atau tidak signifikan.

Dengan demikian pembiayaan tidak signifikan dalam memediasi hubungan antara Dana Pihak Ketiga terhadap ROA.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh setiawan (2016) bahwa pembiayaan tidak memediasi pengaruh dana pihak ketiga terhadap terhadap profitabilitas.

Pada Bank Sumut UUS pembiayaan tidak memediasi pengaruh Dana Pihak Katiga terhadap ROA karena sewaktu Dan Pihak Ketiga dan Pembiayaan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada suatu kantor cabang namun tidak diikuti dengan pertumbuhan rasio ROA hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa hal seperti pendapatan bagi hasil/marjin yang diperoleh pada saat penyaluran pembiayaan belum mampu menutup biaya dana dan operasional bank, pada saat

menyalurkan pembiayaan cabang sudah dihadapkan dengan masalah pembiayaan bermasalah sehingga cabang harus membentuk Cadangan Kerugian Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan Penyisihan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP) dan berdampak terhadap penurunan profitabilitas. Sedangkan pada saat Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan disuatu cabang tidak tumbuh namun justru terjadi peningkatan rasio ROA yang signifikan. Hal ini dapat terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti terjadinya efisiensi beban operasional cabang, biaya dana yang murah, cabang mampu menagih pembiayaan bermasalah sehingga Cadangan Kerugian Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan Penyisihan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP) dapat dikoreksi dan kembali manjadi pendapatan bank.

4.3.5. Pembiayaan memediasi Pengaruh CAR terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh dari variabel CAR (X2) signifikan secara statistik terhadap Pembiayaan (Y1). Diketahui nilai probabilitas dari Variabel CAR (X2) yakni 0,77 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05 dengan nilai koefisien 0,009 lebih besar dari 0 , hal ini berarti pengaruh langsung antara CAR (X2) dengan Pembiayaan (Y1) berpengaruh positif dan tidak signifikan, begitu pula jalur Pembiayaan (Y1) terhadap ROA (Y2) berdasarkan hasil pengujian hipotesis nilai probabilitas 0.988 lebih besar dari dari 0,05 atau tidak signifikan. Dengan demikian pembiayaan tidak signifikan dalam memediasi hubungan antara CAR terhadap ROA.

Dengan demikian penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh setiawan (2016) bahwa pembiayaan tidak memediasi pengaruh CAR terhadap terhadap profitabilitas. Pada umumnya pada bank yang mengalami pertumbuhan

ROA akan diikuti oleh pertumbuhan pembiayaan, karena pendapatan operasional utama bank syariah berasal dari penyaluran pembiayan, meningkatnya penyaluran pembiayaan secara otomatis akan menurunkan rasio CAR suatu bank karena modal bank akan berkurang pada saat Aktiva Tertimbang Menurut Resio (ATMR) terjadi peningkatan. Salah satu Aktiva Tertimbang Menurut Resio (ATMR) terbesar di dunia perbankan syariah maupun konvensional adalah pembiayaan atau kredit.

Pembiayaan tidak memediasi pengaruh CAR terhadap ROA di Bank Sumut UUS dikarenakan Bank Sumut UUS dalam menyalurkan pembiayaannya dapat menggunakan dana dari dana pihak ketiga dan modalnya serta dana Rekening Antar Kantor (RAK), sehingga pada saat seluruh dana pihak ketiga dan modal telah habis digunakan, Bank Sumut UUS juga dapat menggunakan dana Rekening Antar Kantor (RAK).

Selain hal tersebut tidak signifikannya Pembiayaan dalam memediasi pengaruh CAR terhadap ROA adalah karena Aktiva Tertimbang Menurut Resio (ATMR) dalam bentuk pembiayaan mengalami permasalahan atau dengan kata lain menjadi pembiayaan macet , sehingga penurunan modal yang seharusnnya dikarenakan penyaluran pembiayaan tetapi terjadi karena meningkatnya pembiayan bermasalah sehigga pada saat CAR turun rasio ROA juga mengalami penurunan.

4.3.6. Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh nilai probabilitas dari Variabel Dana Pihak Ketiga (X1) yakni 0,3791 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05 dengan nilai koefisien 0,42 lebih besar dari 0 , hal

ini berarti pengaruh langsung antara Dana Pihak Ketiga dengan ROA (Y2) adalah berpengaruh positif dan tidak signifikan. Dengan demikian setiap peningkatan dana pihak ketiga dapat juga meningkatkan rasio ROA namun tidak signifikan mempengaruhi keuntungan Bank Sumut UUS.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Atika dan Nirdukita (2014) yang menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap ROA, karena pada saat bank melakukan penghimpunan Dana Pihak Ketiga bank wajib membayar bagi hasil. Dengan demikian untuk menghindari dampak negatif dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga, bank harus maksimal menyalurkan dalam bentuk pembiayaan.

Pada penelitian ini Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap ROA, beberapa hal yang menyebabkan hal ini adalah dikarenakan Bank Sumut UUS mampu menekan biaya dana yang dihimpun dan memiliki nasabah loyal. Hal ini dapat dikatakan, karena pada umumnya salah satu cara untuk meningkatkan rasio ROA adalah dengan mengurangi biaya dana, pada saat bank mengurangi biaya dana, bukan hanya bagi hasil saja yang diturunkan tetapi promosi untuk meningkatkan dana juga diturunkan, dampak dari penurunan biaya dana pasti akan menurunkan dana pihak ketiga namun tidak demikian dengan Bank Sumut UUS, pada Bank Sumut UUS yang terjadi adalah pada saat rasio ROA meningkat dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan walaupun tidak signifikan.

Selain hal tersebut Bank Sumut UUS mampu menyalurkan pembiayaan secara maksimal terhadap Dana Pihak Ketiga yang dihimpun, sehingga walaupun pembiayaan bermasalah Bank Sumut UUS dituntut untuk membentuk Cadangan

Kerugian Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan Penyisihan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP) dan menggerus laba Bank Sumut UUS namun pembayaran bagi hasil kepada nasabah tetap dapat diberikan sesuai dengan ekspektasi nasabah dana pihak ketiga.

4.3.7. Pengaruh CAR terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis Diketahui nilai probabilitas dari CAR (X2) yakni 0,9792 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05 dengan nilai koefisien 0,003 lebih besar dari 0 , hal ini berarti pengaruh langsung antara CAR (X2) terhadap ROA (Y2) berpengaruh positif namun tidak signifikan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2015) yang menyatakan bahwa CAR tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas (ROA) pada Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

Begitu pula dengan hasil Hasil peneliatian yang dilakukan oleh putu dan ketut (2014) yang melakukan penelitian Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Penyaluran Kredit dan Non Performing Loan pada Profitabilitas bank-bank yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2010-2012 bahwa CAR berpengaruh positif dan tidak signifikan.

Adanya peraturan Bank Indonesia yang menetapkan standar untuk rasio CAR adalah 8% maka meskipun CAR naik dan turun tidak terlalu berdampak pada perubahan profitabilitas bank yang di ukur dengan Return On Asset (ROA).

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan bank, begitu juga yang terjadi di Bank Sumut UUS walaupun rasio CAR naik dan turun namun

berdasarkan peraturan Bank Indonesia dilakukan melalui cadangan umum bank, setoran tambahan modal dari pemilik, 1.25% dari Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) yang mana semua hal ini dilakukan setelah laba bank diperoleh pada akhir periode. Atau dengan kata lain setiap penurunan rasio CAR tidak membebani laba bank, begitu juga pada saat bank akan menaikan rasio CAR tidak akan membebani laba bank namun berasal dari kemampuan bank setelah memperoleh laba pada akhir periode tahun berjalan.

4.3.8. Pengaruh Pembiayaan terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh nilai probabilitas dari Pembiayaan (Y1) yakni 0,0425 lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05 dengan nilai koefisien -0,991 lebih kecil dari 0 , hal ini berarti pengaruh langsung antara Pembiayaan dengan ROA (Y2) berpengaruh negatif dan tidak signifikan.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Atika dan Nirdukita (2014) yang menyatakan bahwa pembiayaan berpengaruh positif dan signifikan terhada ROA, dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa setiap peningkatkan pembiayaan yang disalurkan menghasilkan bagi hasil untuk meningkatkan profitabilitas bank. Penyaluran pembiayaan dengan tingkat kesehatan yang terjaga secara otomatis akan meningkatkan profitabilitas bank.

Pertumbuhan pembiayaan rata-rata setiap tahun Bank Sumut UUS diatas 20%, namun pertumbuhan pembiayaan yang signifikan tidak diikuti dengan kualitas pembiayaan yang baik, dengan membandingkan angka non performing financing (NPF) yang mencapai 35% maka dapat disimpulkan bahwa pemberian pembiayaan di Bank Sumut UUS masih banyak terdapat pembiayaan bermasalah.

Pembiayaan bermasalah dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti kondisi perekonomian, kemampuan nasabah mengelola pembiayaan yang diberikan tidak sesuai penggunaannya, kejujuran dan kehandalan analis pembiayaan dalam melakukan analisa pembiayaan, pemahaman yang kurang baik terhadap karakter nasabah (moral hazard) serta monitoring terhadap pembiayaan yang disalurkan.

Disebabkan tingginya tingkat pembiayaan bermasalah, Bank Sumut UUS wajib membentuk Cadangan Kerugian Pencadangan Aktiva Produkif (CKPN) dan Penyisihan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP) yang cukup tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan keuntungan (ROA) di Bank Sumut UUS.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi rasio ROA Bank Sumut UUS adalah pendapatan operasional Bank Sumut UUS yang terdiri dari pendapatan bagi hasil dan marjin dari pembiayaan yang disalurkan. Pendapatan operasi lainnya yang merupakan pendapatan bagai hasil dari penempatan dana ke bank syariah lain, penempatan dana di Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), penempatan pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS), pendapatan administrasi dll. Berdasarkan tabel 4.12 dapat terlihat pendapatan operasional dan pendapatan operasional lainnya di Bank Sumut UUS terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tabel 4.12. Performance Bank Sumut UUS

Sumber : Laporan Keuangan Bank Sumut UUS

4.3.9. Pengaruh Pembiayaan terhadap ROA dengan NPF Sebagai Variabel Moderasi

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh bahwa pengaruh langsung dari variabel Pembiayaan (Y1) dengan NPF (M1) sebagai variabel moderasi terhadap ROA (Y2) adalah -0,64, dengan nilai probabilitas 0,1063 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi 0,05. Hal ini dapat diterangkan bahwa variabel NPF (M1) tidak signifikan dalam memoderasi hubungan antara jumlah Pembiayaan (Y1) terhadap ROA (Y2). Suatu variabel dikatakan signifikan dalam memoderasi variabel bebas jika koefisien regresi variabel tidak bebas bernilai negatif dan signifikan.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2016) bahwa NPF berpengaruh signifikan dalam memoderasi hubungan antara pembiayaan berbagi hasil dengan kinerja keuangan bank umum syariah.

Pada penelitian ini NPF (M1) tidak memoderasi hubungan antara Pembiayaan (Y1) dengan ROA (Y2) dikarenakan walaupun rasio NPF (M1) pada Bank Sumut UUS tinggi namun tidak mempengaruhi ROA (Y2), seharusnya dengan tingkat NPF yang tinggi akan sangat mempengaruhi ROA karena pada saat NPF tinggi Bank Sumut UUS harus membentuk Cadangan Kerugian Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan Penyisihan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP) yang akan mengurangi laba.

Namun berdasarkan hasil penelitian NPF Bank Sumut UUS tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA karena Bank Sumut UUS dalam aktifitasnya dapat melakukan penekanan biaya operasional (BOPO) seperti data pada tabel 4.12 , selain itu pembayaran bagi hasil Dana Pihak Ketiga (giro, tabungan dan deposito) kepada nasabah dana (funding) lebih rendah dari pendapatan yang diterima dari

Pembiayaan (lending) serta perolehan pendapatan bagi hasil dari penempatan dana Bank Sumut UUS ke bank lain (deposito antar bank) dan Bank Indonesia seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), penempatan pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS) masih mampu meningkatkan rasio ROA (Y2).

4.3.10. Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), CAR dan Pembiayaan secara bersama-sama terhadap ROA dengan NPF Sebagai Variabel Moderasi

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh bersama-sama dari variabel Dana Pihak Ketiga (X1) , CAR (X2) dan Pembiayaan (Y1) Terhadap ROA (Y2) dengan nilai probabilitas 0,893 lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi, yakni 0,05. Perhatikan bahwa nilai koefisien dari ROA adalah -0,659 , yakni bernilai negatif namun tidak signifikan (0,8905 > 0,005). Hal ini berarti variabel NPF (M) tidak signifikan dalam memoderasi hubungan antara DPK (X1) , CAR (X2) dan Pembiayaan (Y1) terhadap ROA (Y2). Dengan demikian NPF (M1) tidak memiliki kekuatan untuk memperkuat ataupun memperlemah hubungan antara DPK (X1) , CAR (X2) dan Pembiayaan (Y1) terhadap ROA (Y2).

Berdasarkan nilai koefisien determinasi terletak pada kolom R-Squared.

Diketahui nilai koefisien determinasi sebesar . Nilai tersebut berarti seluruh variabel bebas, yakni Dana Pihak Ketiga (X1), CAR (X2) dan Pembiayaan (Y1) secara simultan atau bersamaan mempengaruhi ROA (Y2)sebesar 9%, sisanya sebesar 91% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Nilai error untuk persamaan substruktur ini adalah .

Pengaruh lain yang mempengaruhi ROA di Bank Sumut UUS berdasarkan tabel 4.12 selain memperoleh bagi hasil dan marjin dari pembiayaan, pendapatan Bank Sumut UUS yang signifikan juga diperoleh dari pendapatan operasional yang terdiri dari pendapatan bagi hasil/marjin dari pembiayaan yang disalurkan ke nasabah berperan meningkatkan pendapatan operasional Bank Sumut UUS.

Tingkat efisiensi yang baik tercermin dari rasio BOPO (beban operasional dibanding dengan pendapatan operasional) yang relatif rendah dibawah 70% juga sangat berperan terhadap rasio ROA di Bank Sumut UUS. Pendapatan bagi hasil/marjin yang diperoleh dari pembiayaan juga masih tetap terjaga dengan baik walaupun tidak sebesar apabila seluruh pembiayaan Bank Sumut UUS dalam kondisi lancar. Biaya dana (beban bagi hasil) untuk nasabah dana pihak ketiga maupun dana pihak kedua (antar bank) relatif stabil dengan kenaikan rata-rata setiap tahun 13, 29% apabila dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga Bank Sumut UUS yang rata-rata mencapai 25,34 % jauh berada dibawahnya.

Pendapatan operasional lainnya yang terdiri dari penempatan ke bank syariah lain (deposito antar bank), penempatan dana di Bank Indonesia dalam bentuk SBIS dan FASBIS, selain itu pendapatan administrasi yang diperoleh dari tabungan, giro, pembiayaan dan jasa bank juga pendapatan administrasi dan pendapatan dari koreksi Penyisihan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP) cukup besar berpengaruh terhadap profitabilitas Bank Sumut UUS.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN