• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembiayaan Bermasalah/Non Performing Financing (NPF)

TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1.Landasan Teori

2.1.7 Pembiayaan Bermasalah/Non Performing Financing (NPF)

Menurut Kamus Bank Indonesia, Non Performing loan (NPL) atau Non Performing Financing (NPF) adalah kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi kurang lancar, diragukan dan macet. Termin NPL diperuntukkan bagi bank umum, sedangkan NPF untuk bank syariah.

Menurut Darmawi (2011:126) Non Performing Financing (NPF) meliputi kredit dimana peminjam tidak dapat melaksanakan persyaratan perjanjian kredit yang telah ditandatanganinya, yang disebabkan oleh berbagai hal sehingga perlu ditinjau kembali atau perubahan perjanjian.

Sedangkan menurut Luh Gede Meydianawathi (2007 : 138) menyatakan bahwa, Non Performing Loans (NPLs) atau NPF pada perbankan syariah, menunjukkan kemampuan kolektibilitas sebuah bank dalam mengumpulkan kembali kredit yang dikeluarkan oleh bank sampai lunas. NPL atau NPF merupakan persentase jumlah kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan, dan macet) terhadap total kredit yang dikeluarkan bank. NPLs mempunyai hubungan negatif dengan penawaran kredit.

Greuning dan Iqbal (2011), menyatakan bahwa karakteristik unik dari instrument keuangan yang ditawarkan lembaga-lembaga keuangan syariah memunculkan risiko kredit khusus, yaitu :

a. Dalam transaksi Murabahah, bank syariah menghadapi risiko kredit sewaktu memberikan asset ke klien tetapi tidak menerima pembayaran tepat waktu.

b. Dalam investasi Mudharabah, tidak memberikan hak kepada bank untuk mengawasi mudharib atau berpartisipasi dalam pengelolaan proyek, yang membuatnya sulit untuk mengelola dan menilai risiko kredit.

Prinsip-prinsip pembiayaan di Bank Syariah memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Sebagaimana yang diunggkapkan oleh Alamsyah (2004) dalam Muhammad (2007) prinsip bagi hasil (Mudharabah dan Musyarakah) memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan prinsip jual beli maupun sewa menyewa.

Pembiayaan akan dikategorikan bermasalah (non performing) apabila sudah masuk kategori sandi 3 (kurang lancar), sandi 4 (diragukan) dan sandi 5 (macet).

Sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, rumus perhitungan NPF adalah :

%

Berdasarkan Peraturan OJK nomor 16 tahun 2014 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah bahwa Penilaian atas kualitas Aset Produktif dalam bentuk Pembiayaan dilakukan berdasarkan prospek usaha, kinerja (performance) nasabah dan kemampuan membayar. Penilaian aktiva produktif dalam bentuk pembiayaan dinilai berdasarkan faktor-faktor dengan komponen sebagai berikut :

a. Prospek Usaha

2). Potensi pertumbuhan usaha;

3). Kondisi pasar dan posisi nasabah dalam persaingan;

4). Kualitas manajemen dan permasalahan tenaga kerja;

5). Dukungan dari grup atau afiliasi; dan

6). Upaya yang dilakukan nasabah dalam rangka memelihara lingkungam hidup

b. Kinerja (performance) nasabah 1). Perolehan laba;

2). Struktur permodalan;

3). Arus kas

4). Sensitivitas terhadap risiko pasar

c. Kemampuan membayar

1). Ketepatan angsuran pokok dan pembayaran bagi hasil/marjin/fee 2). Ketersediaan dan keakuratan informasi keuangan nasabah;

3). Kelengkapan dokumentasi pembiayaan 4). Kepatuhan terhadap perjanjian

5). Kesesuaian penggunaan dana

6). Kewajaran sumber pembayaran kewajiban.

Selanjutnya berdasarkan penilaian faktor-faktor di atas, maka kualitas pembiayaan ditetapkan menjadi :

a. Sandi 1. Lancar

b. Sandi 2. Dalam Perhatian Khusus c. Sandi 3. Kurang Lancar

d. Sandi 4. Diragukan e. Sandi 5. Macet

Bank wajib menghitung dan membentuk Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) terhadap Aset Produktif dan Aset Non Produktif. PPA adalah cadangan yang harus dibentuk sebesar persentase tertentu berdasarkan kualitas asset. Penyisihan itu berupa cadangan Umum dan Cadangan Khusus untuk Aktiva Produktif; dan Cadangan Khusus untuk Aktiva Non Produktif. Pembentukan PPA ditetapkan sebagai berikut :

a. Cadangan Umum ditetapkan paling kurang sebesar 1% (satu perseratus) dari Aktiva Produktif yang digolongkan Lancar

b. Pembentukan cadangan umum sebagaimana butir 1) di atas tidak berlaku bagi aktiva produktif dalam bentuk SBIS, Surat Berharga Syariah yang diterbitkan Pemerintah Indonesia dan bagian aktiva produktif yang dijamin dengan jaminan pemerintah

c. Pembentukan cadangan khusus PPA ditetapkan paling rendah sebesar :

1). 5% (lima persen) dari Aktiva Produktif yang digolongkan Dalam Perhatian Khusus setelah dikurangi nilai agunan;

2). 15% (lima belas persen) dari Aktiva Produktif dan Aktiva Non Produktif yang digolongkan Kurang Lancar setelah dikurangi nilai agunan;

3). 50% (lima puluh persen) dari Aktiva Produktif dan Aktiva Non Produktif yang digolongkan Diragukan setelah dikurangi nilai agunan;

4). 100% (seratus persen) dari Aktiva Produktif dan Aktiva Non Produktif yang digolongkan Macet setelah dikurangi nilai agunan;

Pembentukan PPA untuk Aktiva Produktif dalam bentuk pembiayaan ditetapkan sebagai berikut :

1). Pembiayaan Murabahah, dihitung berdasarkan saldo harga pokok

2). Pembiayaan Mudharabah, Pembiayaan Musyarakah, dan Pembiayaan Qardh dihitung berdasarkan saldo ba ki debet (sisa pokok berjalan)

Bank Sumut UUS selain melakukan pencadangan terhadap pembiayaan bermasalah dengan system PPAP, pada tahun 2013, Bank Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia nomor 15/26/DPbS tanggal 10 Juli 2013 Perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia menginstruksikan kepada seluruh perbankan syariah mulai akhir tahun 2015 khusus untuk pembiayaan Murabahah Bank Syariah wajib membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas aset keuangan dan aset non keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku, begitu pula dengan Bank Sumut UUS harus mempedomani ketentuan tersebut.

Perbedaan mendasar pencadangan dengan system Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) dibandingkan system Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) adalah sebagai berikut :

Tabel 2.7. Perbandingan system PPAP dengan CKPN

Sumber Bank Indonesia

Beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh risiko pembiayaan terhadap profitabilitas telah dilakukan seperti pada beberapa penelitian berikut ini : Penelitian yang dilakukan oleh Abusharbeh (2014) yang melakukan penelitian terhadap BUS di Indonesia periode 2008-2013 dan Purbaningsih (2014) yang melakukan penelitian terhadap data perbankan syariah periode 2010-2012

menyatakan bahwa NPF berpengaruh positif tidak signifikan terhadap profitabilitas yang diproksikan dengan ROA.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahman dan Rochmanika (2012) yang menyampaikan bahwa risiko pembiayaan (NPF) berpengaruh positif secara signifikan terhadap profitabilitas yang juga diproksikan dengan ROA, hasil yang sama didapatkan oleh Boahene,et al. (2012) yang melakukan penelitian terhadap bank di Ghana, menyatakakan bahwa risiko kredit (NPF) berpengaruh positif dan memiliki hubungan yang signifikan dengan profitabilitas bank, namun diproksikan dengan ROE. Penelitian yang dilakukan oleh Fahrul,et al. (2012) yang meneliti tingkat risiko setiap pembiayaan menyatakan bahwa secara parsial dan bersama-bersama pembiayaan Murabahah dan Musyarakah berpengaruh secara negatif terhadap profitabilitas yang diproksikan oleh ROA, bahwa setiap perbaikan NPF akan menghasilkan perbaikan ROA demikian sebaliknya.

Hal ini didukung oleh Muhammad (2014) yang menjelaskan bahwa Non Performing Financing (NPF) merupakan rasio pembiayaan yang bermasalah di suatu bank. Apabila pembiayaan bermasalah meningkat maka resiko terjadinya penurunan profitabilitas semakin besar. Menurut Mirasansti Wahyuni (2016) bahwa NPF memoderasi pengaruh volume pembiayaan berbagi hasil dan murabahah terhadap kinerja bank umum syariah yang di proksikan dengan ROA.

Apabila profitabilitas menurun, maka kemampuan bank dalam melakukan ekspansi pembiayaan berkurang dan laju pembiayaan menjadi turun. Resiko pembiayaan yang diterima bank merupakan salah satu risiko usaha bank, yang

diakibatkan dari tidak dilunasinya kembali pinjaman yang diberikan atau investasi yang sedang dilakukan oleh pihak bank.

NPF sangat berpengaruh terhadap pengendalian biaya dan sekaligus juga berpengaruh terhadap kebijakan pembiayaan yang akan dilakukan bank itu sendiri. Non Performing Financing (NPF) dapat mendatangkan dampak yang tidak menguntungkan terlebih lagi kalau NPF dalam jumlah besar. Peningkatan jumlah NPF akan meningkatkan jumlah Penyisihan Penghapusan Aset Produktif (PPAP) yang perlu dibentuk oleh pihak bank. Jika hal itu berlangsung terus maka akan mengurangi modal bank. Oleh karena itu kemampuan pengelolaan pembiayaan sangat diperlukan oleh bank syariah khususnya Unit Usaha Syariah (Firmansyah,2014). Berdasarkan ketentuan dari Bank Indonesia Otoritas Jasa Keuangan, bahwa setiap terjadinya kenaikan NPF, maka bank harus mencadangkan biaya atas risiko pembiayaan yaitu untuk sandi 3 sebesar 15%, sandi 4 sebesar 50% dan sandi 5 sebesar 100% dari saldo pokok pembiayaan bahkan dengan adanya history pembiayaan bermasalah maka berdasarkan system CKPN setiap bank yang memiliki history pembiayaan bermasalah terhadap satu sektor pembiayaan maka setiap pencairan pembiayaan kepada nasabah harus mencadangkan 100 % tidak mengikuti ketentuan PPAP, pencadangan biaya ini pasti akan menggerus laba bank .

2.1.8 Profitabililtas (Return On Aset)

Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan laba (keuntungan) dalam suatu periode tertentu. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang. Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.Profitabilitas menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut (Riyanto, 2001 :35).

Profitabilitas perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian kondisi suatu perusahaan, untuk itu dibutuhkan suatu alat analisis untuk bisa menilainya. Alat analisis yang dimaksud adalah rasio-rasio keuangan. Rasio profitabilitas mengukur efektifitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang diperoleh dari penjualan dan investasi. Profitabilitas bank adalah kemampuan suatu bank untuk memperoleh laba yang dinyatakan dalam persentase. Profitabilitas pada dasarnya adalah laba (rupiah) yang dinyatakan dalam persentase profit (Hasibuan 2002:100)

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba (profit) yang akan menjadi dasar pembagian dividen perusahaan. Profitabilitas menggambarkan kemampuan badan usaha untuk menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh modal yang dimiliki.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Shapiro (1991)”Profitabilitas suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan para investor atas investasi yang dilakukan”. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat

menarik para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usahanya, sebaliknya tingkat profitabilitas yang rendah akan menyebabkan para investor menarik dananya.Sedangkanbagi perusahaan itu sendiri profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas pengelolaan badan usaha tersebut.

Dengan demikian setiap badan usaha akan selalu berusaha meningkatkan profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu badan usaha maka kelangsungan hidup badan usaha tersebut akan lebih terjamin.Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, terdapat beberapa jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan. Masing-masing jenis rasio profitabilitas digunakan untuk menilai serta mengukur posisi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu atau untuk beberapa periode. Dalam prakteknya, menurut Kasmir (2008) “jenis-jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan adalah:

1. Profit Margin (Profit Margin on Sales) atau Margin laba atas penjualan merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Cara pengukuran rasio ini adalah dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih. Rasio ini dikenal juga dengan nama profit margin

2. Return On Assets (ROA) adalah rasio keuntungan sebelum pajak terhadap jumlah asset secara keseluruhan. Rasio ini merupakan suatu ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian (%) dari asset yang dimiliki.

Apabila rasio ini tinggi berarti menujukkan adanya efisiensi yang dilakukan oleh pihak manejemen dan berdampak positif terhadap profitabilitas. Dalam kerangka penilaian kesehatan bank, BI akan memberikan score maksimal 100 (sehat) apabila bank memiliki ROA>1,5%.

3. Return On Equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini,semakin baik.

4. Laba per lembar saham. atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, kesejahteraan pemegang saham meningkat.

Penggunaan seluruh atau sebagian rasio profitabilitas tergantung dari kebijakan manajemen, semakin lengkap jenis rasio yang digunakan semakin sempurna hasil yang akan dicapai. Profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank. Kemampuan bank dalam memperoleh laba (profitabilitas) tercermin pada laporan keuangan bank. Ukuran profitabilitas pada industri perbankan yang digunakan pada umumnya adalah Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE).

Menurut Siamat (2002) “Return On Assets (ROA) memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam operasinya, sedangkan Return On Equity (ROE) hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut”.

Dari pengertian profitabilitas yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa profitabilitas adalah suatu keuntungan yang diperoleh perusahaan yang berasal dari penjualan atau investasi perusahaan.

Pengukuran ataupun Perhitungan profitabilitas bank dilakukan dengan menggunakan rasio Return On Assets (ROA). Pengukuran ini dilakukan dengan membandingkan antara laba sebelum pajak dengan total asset (total aktiva).

Berdasarkan (Surat Edaran BI No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004) ROA dapat penulis dalam membuat penelitian ini adalah sebagaimana Tabel 2.7 berikut ini :

Tabel 2.8. Penelitian Terdahulu

No Judul, Peneliti, dan

Sumber Penelitian Variabel Metode dan Hasil Penelitian 1 Pengaruh Dana Pihak