BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
F. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan perilaku asertif pada siswa kelas VII D dengan menggunakan teknik psikodrama. Secara keseluruhan pelaksanaan teknik psikodrama untuk meningkatkan perilaku asertif siswa telah dilaksanakan sesuai rencana yang telah disusun dalam lampiran rencana pelaksanaan layanan. Peningkatan perilaku asertif siswa meningkat setelah mengikuti teknik psikodrama, karena pemberian materi perilaku asertif telah dilakukan dimulai saat pra tindakan, tindakan dan pasca tindakan.
Pemberian perilaku asertif siswa dimulai saat pra tindakan dengan pemberian materi perilaku asertif melalui bimbingan klasikal didalam kelas. Pemberian materi ini bertujuan menambah wawasan, pengetahuan, dan pola pikir siswa tentang bagaimana pentingnya perilaku asertif dalam kehidupan. Setelah itu diberikan skala perilaku asertif pada siswa, untuk mengetahui siapa yang memiliki perilaku asertif yang kurang baik untuk mendapatkan tindakan lanjut untuk meningkatkan perilaku asertifnya. Pemberian materi juga ditambah dengan menyampaikan materi psikodrama untuk memberikan informasi pada siswa bagaimana melaksanakan psikodrama dengan baik agar isi, maksud dan tujuan psikodrama dapat dicapai. Pada saat tindakan melalui teknik psikodrama siswa terlebih dulu mendapatkan materi perilaku asertif dan psikodrama kembali, setelah itu melaksanakan psikodrama dengan permainan peran yang isi dan tujuannya untuk meningkatkan perilaku asertif. Siswa diajak untuk merasakan langsung suatu permasalahan dan pentingnya
perilaku asertif dimiliki untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Selanjutnya pada pasca tindakan siswa mendapatkan wawasan, pemahaman perilaku asertif dari proses diskusi, mendapatkan pengalaman dari orang lain melalui pendapat yang disampaikan teman lain, guru BK dan peneliti. Lalu diberikan kembali skala perilaku asertif bagi siswa, untuk mengetahui apakah perilaku asertif siswa sudah meningkat dan perlu diberikan tindak lanjut lagi atau tidak.
Psikodrama yang dilaksanakan 2 siklus dengan masing – masing siklus 3 tindakan disertai pemahaman pentingnya peningkatan perilaku asertif bagi siswa. Pemahaman perilaku asertif perlu dimiliki oleh siswa dengan berperilaku asertif mereka akan mendapatkan kehidupan sosial yang baik. Diadakan psikodrama dengan 17 siswa yang masuk dalam kategori rendah dan sedang agar meningkatkan perilaku asertif siswa dalam kehidupan sehari – hari. Peningkatan perilaku asertif dapat dilihat dari aspek perilaku asertif yang dikemukakan menurut Suterlinah Sukaji (dalam Zainal Abidin, 2011:130) yang mencakup aspek perbaikan dan penerimaan diri, ekspresif, percaya diri dan berpendirian.
Peningkatan perbaikan dan penerimaan diri terlihat pada saat pelaksanaan psikodrama hingga diskusi yang diikuti siswa kelas VII D. Siswa mulai memahami diri mereka sendiri berdasarkan tokoh yang mereka perankan, mereka memahami apakah perilaku yang selama ini mereka lakukan baik untuk dirinya sendiri atau sebaliknya. Hal itu membuktikan para siswa mulai memperbaiki dirinya, dengan bantuan teknik psikodrama yang
mereka mainkan. Kemudian berdasar hasil observasi maupun wawancara kepada siswa, siswa berkomitmen untuk memperbaiki diri mereka seperti pernyataan salah 1 siswa yang senang membolos ketika malas dengan pelajaran ia mengatakan jika faham selama ini yang ia lakukan hanya merugikan diri sendiri selain itu ia juga sering mengajak teman lainnya juga dan berdasar hasil observasi yang dilakukan guru BK siswa tersebut mulai jarang membuat alasan hanya untuk keluar kelas agar tidak mengikuti pelajaran.
Pada saat diskusi salah 1 siswa juga menyatakan tidak akan takut lagi untuk menolak ajakan teman luar sekolah untuk membolos meskipun telah diancam dan berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK. Penolakan tersebut berdasarkan Lange dan Jakubowski (dalam Rakos, 1991: 8) menjelaskan bahwa perilaku asertif meliputi pertahanan terhadap hak individu untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan yang diungkapkan secara langsung, jujur, tepat dan tidak melanggar hak asasi orang lain. Siswa tersebut menunjukan perilaku asertif yang dimilikinya telah mempertahankan haknya menentukan pilihan terbaik untuk dirinya.
Ketika mendapat ancaman kembali dari teman luar sekolah kembali siswa tersebut berani menolak dengan tegas dan melapor ke guru BK bukan seperti biasanya yang mengikuti ajakan teman untuk membolos, karena siswa tersebut memiliki perilaku asertif yang baik. Hal tersebut juga sesuai dengan pengertian psikodrama yang dipaparkan oleh (Corey dalam Tatiek Romlah, 2006: 107) yang mengemukakan psikodrama merupakan permainan peranan
yang dimaksud agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan – kebutuhan, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan – tekanan terhadap dirinya. Dengan memiliki ketegasan akan membuat seseorang dapat mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri yang nantinya akan membentuk konsep diri yang baik, karena dia akan tahu apa kelemahan, potensi, dan kebutuhannya dengan baik. Jadi juga siswa akan dapat belajar dengan sendirinya untuk menghadapi masalah yang mereka alami.
Rasa percaya diri siswa meningkat terbukti siswa mampu secara spontan pada saat menyampaikan pendapat maupun saran ke siswa lain yang bermain peran dalam psikodrama. Hal tersebut sesuai dengan pemaparan Palmer & Froehner (dalam Anindyajati dan Karima, 2004: 51-52) yang mengemukakan bahwa individu yang dapat mengembangkan asertivitasnya berarti ia dapat mengendalikan hidupnya, dengan cara mengemukakan pendapat dan pemikiran secara tegas dan jujur, melakukan permintaan atas sesuatu yang diinginkan dan melakukan penolakan terhadap sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada sesi diskusi siswa juga lebih mampu ekspresif karena siswa tidak hanya menyampaikan dengan ucapan tetapi juga tindakan atau memberikan contoh secara langsung hal yang seharusnya dilakukan dan tidak tepat untuk dilakukan tokoh dalam psikodrama tanpa menyinggung perasaan siswa lain yang diberikan saran. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh
Rathus & Nevid (dalam Anindyajati dan Karima, 2004:52) yaitu terdapat alternatif dari tingkah laku asertif yang mencakup tingkah laku non asertif dan tingkah laku agresif, yang menerangkan bahwa tingkah laku asertif bukan merupakan tingkah laku yang menahan diri (non asertif) dan juga bukan tingkah laku yang mengekspresikan perasaan secara berlebihan (agresif). Jadi dengan teknik psikodrama yang telah dilaksanakan siswa telah membuat mereka lebih percaya diri dengan dirinya, mampu memberi dan menerima umpan balik, serta belajar untuk menghormati pendapat orang lain dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan individu yang memiliki ciri-ciri perilaku asertif yang merujuk berdasarkan teori Lange dan Jakubowski yaitu mampu mengekspresikan pendapat dan saran, dapat berbicara dengan kelompok (Tjalla Awaluddin, 2008: 3)
Peningkatan berpendirian mereka terlihat pada saat akan dilaksanakan psikodrama ada siswa yang tidak ikut mengajak untuk pulang atau main, akan tetapi mereka mau menolak karena akan melaksanakan psikodrama. Selain itu berdasarkan hasil wawancara siswa lebih memahami jika kebiasaan mereka menyontek karena takut salah tidak sama jawaban dengan teman yang lain juga tidak benar dan ingin memperbaikinya dengan lebih percaya diri. Hal tersebut sesuai dengan pemaparan Stein dan Howard (dalam Wahyuni Eka Pratiwi, 2015: 348-357) yaitu sikap asertif juga berarti kemampuan untuk tidak sependapat dengan orang lain tanpa menggunakan manipulasi dan alasan yang emosional, dan mampu bertahan di jalur yang benar, yaitu mempertahankan pendapat dengan tetap menghormati pendapat
orang lain. Dari perilaku yang ditunjukan siswa diatas menunjukan terjadi perubahan perilaku yang lebih positif, dengan mereka lebih memiliki pendirian baik serta memperlakukan orang lain dengan hormat karena telah memegang janji orang lain dengan baik. Hal ini sesuai yang dipaparkan oleh Palmer & Froener (2002) ciri – ciri individu yang memiliki perilaku asertif yaitu memperlakukan orang lain dengan hormat, begitu pula sebaliknya.
Peningkatan perilaku asertif siswa meningkat secara keseluruhan apabila dilihat dari hasil pra tindakan yang dibagikan pada awal pelaksanaan, pasca tindakan I yang dibagikan pada siswa setelah siklus I, dan pasca tindakan II yang dibagikan pada siswa setelah siklus II dilaksanakan. Peningkatan skala perilaku asertif dari pra tindakan yang mendapatkan rerata 124,1 menjadi 137,5 pada pasca tindakan I dan meningkat menjadi 158,3 pada pasca tindakan II.
Peningkatan skor perilaku asertif siswa didukung oleh respon siswa yang antusias dan mampu berkonsentrasi dalam mengikuti setiap kegiatan pelaksanaan psikodrama, selain itu juga bentuk kolaborasi yang baik antara peneliti dan guru bimbingan dan konseling selaku observer atau pelaku kedua yang mampu menyampaikan materi bimbingan dengan cara yang menarik agar siswa memahami tujuan dari pelaksanaan psikodrama untuk peningkatan perilaku asertif siswa serta menumbuhkan semangat dan keaktifan siswa dalam kegiatan sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai rencana. Hal ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2012:17) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas yang ideal sebetulnya dilakukan
secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Oleh karena itu secara tidak langsung penjelasan diatas merupakan faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan tindakan untuk meningkatkan perilaku asertif pada siswa kelas VII D.
Pembahasan hasil penelitian yang dilakukan ini membuktikan bahwa psikodrama dapat meningkatkan perilaku asertif pada siswa dalam aspek – aspek yang dimiliki perilaku asertif. Peningkatan perilaku asertif yang terjadi dapat dilihat dari analisis skala perilaku asertif secara menyeluruh dan juga dari observasi yang dilakukan observer pada saat pelaksanaan maupun setelah dilaksanakan psikodrama dalam bimbingan kelompok.