HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
4.3.1 Pengaruh SiLPA terhadap Belanja Modal
Hipotesis ini diterima karena berdasarkan pengujian, besarnya nilai thitung variabel SiLPA lebih besar dari nilai ttabel (5,721 > 1,661), nilai signifikansi dari variabel SiLPA lebih kecil dari nilai α = 5% (0,000 > 0,05). Sehingga dapat
disimpulkan H0 diterima dan Ha ditolak. Dengan kata lain, SiLPA mempunyai
pengaruh terhadap alokasi Belanja Modal.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Purnama (2014) bahwa SiLPA tidak mempunyai pengaruh terhadap Belanja Modal, tetapi hasil penelitian ini dengan hasil penelitian Kusnanadar dan Siswantoro (2012) bahwa secara parsial Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh positif terhadap Belanja Modal. Menurut Kusnandar dan Siswantoro (2012) SiLPA tahun sebelumnya yang merupakan penerimaan pembiayaan digunakan untuk menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil daripada realisasi belanja, mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung (belanja barang dan jasa, belanja modal, dan belanja pegawai) dan mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan. Menurut Kumorotomo (2010), besarnya SiLPA menunjukkan masih lambatnya perbaikan kemampuan aparat daerah dalam penganggaran.
4.3.2 Pengaruh PAD terhadap Belanja Modal
variabel PAD lebih kecil dari nilai α = 5% (0,000 > 0,05). Sehingga dapat
disimpulkan H0 diterima dan Ha ditolak. Dengan kata lain, PAD mempunyai
pengaruh terhadap alokasi Belanja Modal.
Hasil penelitian sejalan ini dengan Syahfitri (2009) dan Purnama (2014) yang berkesimpulan bahwa PAD memiliki pengaruh secara signifikan terhadap Belanja Modal, seperti pada penelitian ini yang dilakukan pada 19 kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Barat, hal ini dapat memberi sedikit acuan bahwa Pendapatan Asli Daerah sangat berperan penting dalam pembangunan daerah tersebut. Oleh karena itu daerah hendaknya lebih terpacu lagi untuk memanfaatkan sumber daya daerah untuk dapat digunakan dalam rangka kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan. Dengan meningkatnya Pendapatan Asli Daerah dapat memberi keleluasaan kepada daerah tersebut untuk mengalokasikan ke kegiatan atau pengeluaran yang dapat memberi dampak terhadap peningkatan pembangunan daerah terutama pembangunan infrasturktur. Peningkatan alokasi belanja modal dalam bentuk aset tetap seperti infrastruktur dan peralatan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas prekonomian karena semakin tinggi belanja modal semakin tinggi pula produktivitas perekonomian (Putro dan Pamudji, 2011 dalam Kusnandar dan Siswantoro (2013)). Dari peningkatan produktivitas perekonomian akan memberi dampak positif pada peningkatan pendapatan daerah tersebut.
4.3.3 Pengaruh DAU terhadap Belanja Modal
Hipotesis ini ditolak karena berdasarkan pengujian, besarnya nilai thitung variabel DAU lebih kecil dari nilai ttabel (-0,093 > 1,661), nilai signifikansi dari variabel DAU lebih besar dari nilai α = 5% (0,926 > 0,05). Sehingga dapat
disimpulkan H0 diterima dan Ha ditolak. Dengan kata lain, DAK tidak
mempunyai pengaruh terhadap alokasi Belanja Modal.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Syahfitri (2009), Wandira (2013), dan Purnama (2014), hal ini menjelaskan bahwa DAU yang selama ini diterima oleh daerah diindikasikan tidak digunakan untuk pembangunan daerah, hal ini dapat dilihat dalam alokasi belanja modal seperti pada penelitian ini yang dilakukan pada 35 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah. DAU bersifat “Block Grant”, memungkinkan daerah menggunakan sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka otonomi daerah. Dari olah data dan hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa DAU yang diterima oleh daerah hanya diperuntukan untuk membiayai pengeluaran rutin, seperti untuk belanja pegawai dan hanya sedikit yang digunakan untuk belanja modal.
4.3.4 Pengaruh DAK terhadap Belanja Modal
Hipotesis ini ditolak karena berdasarkan pengujian, besarnya nilai thitung variabel DAK lebih kecil dari nilai ttabel (1,061> 1,661), nilai signifikansi dari variabel DAK lebih besar dari nilai α = 5% (0,292 > 0,05). Sehingga dapat
mempunyai pengaruh terhadap alokasi Belanja Modal. Yang mana ini menjelaskan bahwa setiap kenaikan pada dana alokasi khusus tidak turut menaikkan belanja modal. Menurut Kuncoro (2004), Dana Alokasi Khusus ditujukan untuk daerah khusus yang terpilih untuk tujuan khusus. Karena itu, alokasi yang didistribusikan oleh pemerintah pusat sepenuhnya merupakan wewenang pusat untuk tujuan nasional khusus. Kebutuhan khusus dalam Dana Alokasi Khusus yang mana dalam hal ini bidang-bidang yang dibiayai dari DAK terdiri dari bidang pendidikan, kesehatan, , infrastruktur jalan, infrastruktur irigasi, infrastruktur air minum dan sanitasi, prasarana pemerintahan, kelautan dan perikanan, pertanian, lingkungan hidup, keluarga berencana dan kehutanan, dan yang lainnya yang mana ini tidak memerlukan dana yang cukup besar, berbeda dengan belanja modal yang memerlukan dana yang cukup besar. Jadi Dana Alokasi Khusus tidak mengalokasikan anggaran untuk belanja modal karena Dana Aloksi Khusus ini merupakan dana yang diberikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk membiayai atau untuk pembiayaan dari pengeluaran-pengeluaran daerah yang bersifat mengkhusus seperti pembiayaan sarana pembiayaan sarana dan prasarana fisik daerah.
4.3.5 Pengaruh DBH terhadap Belanja Modal
Hipotesis ini diterima karena berdasarkan pengujian, besarnya nilai thitung variabel DBH lebih besar dari nilai ttabel (2,981> 1,661), nilai signifikansi dari variabel DBH lebih kecil dari nilai α = 5% (0,004 < 0,05). Sehingga dapat
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa DBH memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal. Hasil ini menjelaskan bahwa provinsi yang mendapatkan DBH yang besar akan cenderung memiliki belanja modal yang besar pula. Hasil ini memberikan adanya indikasi yang kuat bahwa perilaku belanja modal akan sangat dipengaruhi dari sumber penerimaan DBH. DBH merupakan sumber pendapatan daerah yang cukup potensial dan merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah dalam mendapatkan dana pembangunan dan memenuhi belanja daerah yang bukan berasal dari PAD selain DAU dan DAK. Pola bagi hasil penerimaan tersebut dilakukan dengan prosentase tertentu yang didasarkan atas daerah penghasil.
Pendapatan daerah yang berupa Dana Perimbangan (transfer daerah) dari pusat menuntut daerah membangun dan mensejahterahkan rakyatnya melalui pengelolaan kekayaan daerah yang proposional dan profesional serta membangun infrastruktur yang berkelanjutan, salah satunya pengalokasian anggaran ke sektor belanja modal. Pemerintah daerah dapat menggunakan dana perimbangan keuangan (DBH) untuk memberikan pelayanan kepada publik yang direalisasikan melalui belanja modal. Jadi dapat disimpulkan jika anggaran DBH meningkat maka alokasi belanja modal pun meningkat.
BAB V