• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil perhitungan statistik analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan

Snowballing diperoleh F hitung 6,939. FA = 6,939 > F0,05; 1,58 = 4,00 berarti bahwa model pembelajaran kooperatif berpengaruh terhadap prestasi belajar IPA. Hal tersebut sebagaimana pendapat Slavin (dalam Wina Sanjaya, 2007: 242) yang mengemukakan bahwa beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri, serta pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan ketrampilan.

Pada pembelajaran IPA, siswa dituntut lebih aktif karena pada materi IPA tidak hanya prestasi belajar yang ingin dicapai tetapi lebih ke proses belajar siswa dalam mempelajari materi IPA itu sendiri, sehingga perlu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan menuntut kerjasama antar

siswa. Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif.

Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah

Jigsaw dan Snowballing. Pemilihan model pembelajaran dilihat dari materi

pembelajaran yaitu sistem pencernaan makanan. Karakteristik sistem pencernaan makanan merupakan materi pelajaran yang bersifat abstrak, menyangkut sistem organ yang berada di dalam tubuh manusia. Materi sistem pencernaan makanan memungkinkan untuk diaplikasikan dengan model pembelajaran Jigsaw dan

Snowballing. Pada model pembelajaran kooperatif Jigsaw, siswa lebih tertantang

karena tidak hanya yang pandai saja yang bekerja tetapi semua anggota kelompok dan yang menyampaikan hasil diskusi juga tidak hanya yang pandai saja, semua anggota harus siap karena pada Jigsaw tiap siswa diberi tugas untuk mengajari teman-temannya dalam kelompok secara berurutan, dalam hal ini setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama, dan menyebabkan siswa berusaha menguasai materi. Penggunaan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dan Snowballing juga berdasarkan pemikiran bahwa siswa kelas VIII sudah memiliki kemampuan berdiskusi dengan orang lain dan memiliki pengetahuan tentang sistem pencernaan manusia meskipun pengetahuan yang dimiliki terbatas yang dapat digunakan untuk membantu mempermudah ketika berdiskusi dengan temannya. Keunggulan Jigsaw antara lain tanggung jawab masing-masing siswa sama besarnya, siswa dapat menguasai hampir semua materi pelajaran, karena masing-masing siswa mengajari temannya secara bergantian.

Sementara pada siswa model pembelajaran kooperatif Snowballing dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir analisis bahkan sintesis. Ketika siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan materi pelajaran baik secara perorangan dan kelompok seperti dalam pembelajaran model Snowballing, maka kemampuan analisis dan sintesis siswa akan terasah baik ketika pendapat siswa dalam kelompok Snowballing saling beradu. Keunggulan Snowballing adalah jawaban bertingkat dari siswa yang lebih sempurna.

Pada penelitian ini dapat diketahui bahwa model pembelajaran kooperatif

Jigsaw lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif

Snowballing karena dengan Jigsaw siswa cenderung lebih aktif, siswa dilatih

untuk bekerja sama dengan teman sebaya dan mampu menguasai materi karena tiap siswa memperoleh kesempatan yang sama. Sedangkan pada model pembelajaran Snowballing, siswa terfokous pada penyelesaian menjawab soal-soal dengan teman yang menjadi pasangannya. Hal ini diperkuat dengan data prestasi belajar IPA. Dari rata-rata prestasi belajar IPA didapat bahwa prestasi belajar IPA dengan Jigsaw rata-ratanya lebih tinggi dari Snowballing yaitu

Jigsaw = 7,16, sedangkan Snowballing 6,27.

Isjoni (2007: 54) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif Jigsaw

merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Hasil yang diperoleh dari model pembelajaran Jigsaw adalah kedalaman materi yang dipelajari menjadi baik. Ketika siswa menemukan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diatasi, siswa menyampaikannya

kepada guru yang menjadi sumber informasi bagi peningkatan pemahaman mereka pada materi pembelajaran. Sedangkan pada model pembelajaran kooperatif Snowballing siswa diarahkan pada kemampuan melakukan analisis dan sintesis, namun di sisi lain model tersebut terdapat kelemahannya, yaitu fokus siswa hanya kepada permasalahan yang harus mereka pecahkan. Ketika fokus perhatian siswa hanya kepada soal atau permasalahan yang mereka hadapi, maka mereka akan berusaha untuk menemukan pemecahan masalah tersebut dan mereka akan mempelajari materi di seputar masalah tersebut. Kondisi ini menyebabkan kedalaman materi siswa menjadi kurang.

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran kooperatif pada materi sistem pencernaan pada manusia merupakan model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk mengaktifkan siswa, sehingga siswa tidak hanya memperoleh informasi dari guru tetapi juga mencari dan berdiskusi dengan anggota kelompok, sehingga siswa dilatih untuk bekerjasama dengan teman sebayanya. Dengan metode kooperatif siswa lebih tertarik pada materi IPA yang dikenal cukup membosankan oleh siswa.

Tetapi dalam penelitian ini, terdapat beberapa hal dalam pembelajaran yang menghambat proses pembelajaran kooperatif baik Jigsaw maupun

Snowballing antara lain: a) terbatasnya waktu, sehingga pembelajaran tidak

berjalan dengan baik, b) siswa yang motivasi belajarnya rendah lebih mengandalkan siswa yang pandai sehingga hasilnya kurang memuaskan; c) masih ada kelompok yang sulit bekerjasama sehingga yang bekerja hanya satu atau dua orang.

2. Hipotesis kedua

Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama diperoleh F hitung 33,164. FB = 33,164 > F0,05; 1,58 = 4,00, berarti motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar IPA. Motivasi belajar adalah dorongan dari dalam diri siswa untuk melakukan belajar. Dengan adanya motivasi, siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran sehingga prestasi belajar memuaskan. Secara umum siswa yang memiliki motivasi tinggi atau semangat tinggi dalam belajar cenderung aktif dan prestasi belajar memuaskan, walaupun terkadang tidak semuanya seperti itu, tergantung pada faktor-faktor lain yang ada pada diri siswa.

Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seeorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi dalam belajar (Ridwan, 2008). Hasil belajar akan menjadi optimal bila ada motivasi, jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Ada tiga fungsi motivasi yaitu: mendorong manusia untuk berbuat, sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan; menentukan arah perbuatan yaitu kearah tujuan yang akan dicapai; menyeleksi perbuatan yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Disamping itu motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi, adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik (Sardiman, 2001:83-84). Adanya perbedaan motivasi belajar siswa pada kedua kelas menghasilkan adanya perbedaan prestasi belajar, siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi memiliki prestasi belajar lebih baik dibandingkan siswa yang bermotivasi belajar rendah.

Hasil penelitian tentang adanya pengaruh pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA sesuai dengan hasil penelitian Wiwoho (2003) yang menyimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siswa.

3. Hipotesis ketiga

Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama diperoleh F hitung 16,85. FC = 16,85 > F0,05; 2,58 = 4,00 berarti bahwa kemampuan memori berpengaruh terhadap prestasi belajar IPA. Memori/ingatan adalah proses dimana informasi belajar disimpan dan dapat dibaca kembali (dikeluarkan kembali). Kemampuan mengingat informasi yang dimiliki setiap siswa berbeda-beda, sehingga prestasi belajar yang diperoleh juga berbeda-beda. Disamping itu juga tergantung pada faktor-faktor lain yang ada pada diri siswa.

Kemampuan memori berpengaruh terhadap prestasi belajar. Memori adalah suatu sistem pengolahan informasi dan merupakan kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa yang akan datang. Menurut Catherine E. Myers (2006) memori merupakan tempat menyimpan,

mengingat, dan mengulang kembali informasi yang berisi pengalaman masa lampau.

Kemampuan memori siswa pada model pembelajaran Jigsaw dan

Snowballing sangat diperlukan siswa dalam kegiatan pembelajaran, khususnya

ketika terjadi pergantian kelompok diskusi. Siswa yang memiliki kemampuan memori baik, maka ia akan mampu menghafal dan menguasai materi lebih banyak daripada siswa dengan kemampuan memori rendah, sehingga prestasi belajarnya menjadi lebih baik.

4. Hipotesis keempat

Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama diperoleh F hitung 2,758. FAB = 2,758 < F0,05; 1,58 = 4,00, berarti tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif dengan motivasi belajar terhadap prestasi belajar IPA. Pada hipotesis pertama penggunaan model pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam pembelajaran IPA dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar, karena pada proses pembelajarannya siswa dilibatkan secara aktif, dan guru berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai pemberi atau sumber informasi. Dengan pembelajaran kooperatif dengan siswa yang aktif diharapkan motivasi belajar siswa berpengaruh dalam proses pembelajaran. Seperti yang terlihat pada hipotesis kedua yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar.

Pada penelitian ini tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif yang digunakan dengan motivasi belajar siswa. Walaupun tidak terdapat interaksi langsung antara model pembelajaran dengan motivasi belajar,

bukan berarti model pembelajaran kooperatif tidak memiliki hubungan timbal balik dengan motivasi belajar siswa. Karena dengan adanya motivasi belajar pada diri siswa maka siswa tersebut akan mempunyai keinginan atau semangat untuk belajar sehingga mampu menguasai materi pelajaran dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena juga dilihat dari kelebihan masing-masing model pembelajaran, keunggulan Jigsaw antara lain tanggung jawab masing-masing siswa sama besarnya, siswa dapat menguasai hampir semua materi pelajaran, karena masing-masing siswa mengajari temannya secara bergantian, sedangkan keunggulan Snowballing adalah jawaban bertingkat dari siswa yang lebih sempurna. Juga berdasarkan pemikiran bahwa siswa kelas VIII sudah memiliki kemampuan berdiskusi dengan orang lain dan memiliki pengetahuan tentang sistem pencernaan manusia yang bersifat abstrak meskipun pengetahuan yang dimiliki terbatas yang dapat digunakan untuk membantu mempermudah ketika berdiskusi dengan temannya. Dengan keadaan seperti itu diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa meskipun tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa.

Tidak adanya interaksi model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa berarti siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah mampu mengikuti pembelajaran model pembelajaran Jigsaw dan

Snowballing. Sehingga baik siswa yang bermotivasi tinggi maupun yang

bermotivasi rendah ketika proses pembelajaran diberi model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan Snowballing, mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

5. Hipotesis kelima

Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama diperoleh F hitung 4,375. FAC = 4,375 > F0,05; 2,58 = 4,00, berarti terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif dengan kemampuan memori terhadap prestasi belajar IPA.

Peran aktif siswa adalah hal utama dalam proses pembelajaran kooperatif, karena dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bekerjasama dengan temannya. Dalam setiap kegiatan pembelajaran dapat dilihat kemampuan memori siswa yang berbeda-beda antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Ada yang berkemampuan memori rendah atau tinggi. Sesuai dengan kemampuan memori yang dimiliki, masing-masing siswa akan menyerap atau mengolah informasi yang didapatnya dari pembelajaran sehingga daya serap pada materi juga tergantung pada kemampuan memori mereka.

Model pembelajaran kooperatif dapat berhasil jika masing-masing peserta didik mampu menyerap dan mengkomunikasikan hasil temuan dari masing-masing kelompok ahli kepada kelompok asal. Kemampuan memori yang baik, membantu siswa tersebut dalam menyampaikan materi yang diperolehnya dari kelompok ahli ke kelompok asal. Disamping itu, pemecahan soal-soal dengan teman yang menjadi pasangannya juga memerlukan kemampuan memori yang baik. Keunggulan Jigsaw antara lain tanggung jawab masing-masing siswa sama besarnya, siswa dapat menguasai hampir semua materi pelajaran, karena masing-masing siswa mengajari temannya secara bergantian. Sedangkan keunggulan

Berdasarkan hal tersebut maka model pembelajaran kooperatif memerlukan kemampuan memori yang baik, sehingga siswa yang mempunyai kemampuan memori tinggi memiliki prestasi belajar lebih baik dibandingkan siswa yang berkemampuan memori rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan memori. Berikut ini grafik interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan memori: t in g g i r e n d a h 8 . 0 7 . 5 7 . 0 6 . 5 6 . 0 M e m o r i M e a n Jig saw Sn o w b allin g M o d el I nt e r a ct i o n P l ot f o r C4 Da t a M e a n s

Gambar 4.10 Grafik Interaksi Antara Model Pembelajaran dengan Kemampuan Memori

Berdasarkan grafik diatas, secara umum siswa pada model pembelajaran

Jigsaw memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa pada model

pembelajaran Snowballing. Tetapi siswa pada model pembelajaran Snowballing

dapat memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi daripada siswa pada model pembelajaran Jigsaw jika memiliki kemampuan memori yang tinggi.

6. Hipotesis keenam

Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama diperoleh F hitung 2,977. FBC = 2,977 < F0,05; 2,58 = 4,00, berarti tidak

terdapat interaksi antara motivasi belajar dengan kemampuan memori terhadap prestasi belajar IPA. Motivasi belajar adalah dorongan dari dalam diri siswa dalam melakukan kegiatan belajar, kemampuan memori adalah kemampuan seseorang menyerap informasi yang diperoleh pada waktu pembelajaran. Tidak adanya interaksi antara motivasi belajar dan kemampuan memori maka kombinasi motivasi belajar tinggi dan rendah dengan kemampuan memori tinggi dan rendah tidak memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar.

Penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara motivasi belajar dengan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar biologi. Walaupun tidak terdapat interaksi langsung antara motivasi belajar dengan kemampuan memori siswa, bukan berarti motivasi belajar siswa tidak memiliki hubungan timbal balik dengan kemampuan memori siswa. Kondisi ini disebabkan adanya faktor penyebab yang berbeda antara motivasi belajar dan kemampuan memori. Motivasi belajar terbagi menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan kooperatif berdampak meningkatkan

motivasi belajar siswa sehingga dengan peningkatan motivasi tersebut, motivasi belajar siswa dapat meningkat.

Kemampuan memori merupakan kemampuan yang ada dalam diri seseorang untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi yang diperoleh sebelumnya. Dalam proses belajar mengajar terjadi transfer informasi baik guru ke siswa ataupun dari siswa ke siswa yang lain. Oleh karena itu memori diperlukan siswa dalam proses belajar mengajar. Semakin tinggi memori siswa terhadap suatu informasi, akan semakin mudah dalam belajarnya. Karena sifatnya merupakan faktor bawaan, meskipun masih dapat ditingkatkan, maka kemampuan memori seseorang cenderung lebih bersifat statis.

Motivasi belajar dalam pembelajaran kooperatif akan meningkat sehingga prestasi belajarnya akan meningkat. Namun demikian siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi belum tentu memiliki kemampuan memori yang tinggi, sehingga prestasi belajarnya bisa menjadi rendah. Sementara itu pada siswa yang memiliki motivasi rendah, namun adanya kemampuan memori yang tinggi pada dirinya dapat menyebabkan prestasi belajarnya menjadi tinggi.

7. Hipotesis ketujuh

Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama diperoleh F hitung 0,303. FABC = 0,303 < F0,05; 2,58 = 4,00, berarti bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran kooperatif dengan motivasi belajar dan kemampuan memori terhadap prestasi belajar IPA. Motivasi belajar yang tinggi dengan kemampuan memori yang berbeda-beda tidak akan berdampak pada prestasi belajar IPA, begitu juga dengan motivasi belajar rendah dengan

kemampuan memori yang berbeda-beda tidak akan memberikan dampak pada prestasi belajar IPA.

Prestasi belajar salah satu fungsinya adalah sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik, dan dapat dijadikan indikator daya serap anak didik. Prestasi belajar siswa dipengaruhi faktor intern dan ekstern siswa itu sendiri. Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya (Ridwan, 2008).

Dalam penelitian ini memang tidak terdapat interaksi secara langsung antara model pembelajaran Jigsaw dan Snowballing dengan motivasi belajar dan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar, tetapi bukan berarti tidak terdapat hubungan antara ketiganya.

Berdasarkan hipotesis yang pertama, kedua, dan ketiga yaitu model pembelajaran Jigsaw dan Snowballing, motivasi belajar dan kemampuan memori siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Tetapi dalam penelitian ini tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran Jigsaw

dan Snowballing dengan motivasi belajar dan kemampuan memori terhadap

prestasi belajar IPA. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pencapaian prestasi belajar baik dari faktor ekstern maupun intern siswa, selain faktor model pembelajaran Jigsaw dan Snowballing, motivasi belajar dan kemampuan memori siswa yang digunakan dalam penelitian ini, serta banyaknya keterbatasan dalam

penelitian ini sehingga peneliti tidak dapat mengontrol faktor-faktor tersebut di luar kegiatan belajar mengajar.

Keunggulan Jigsaw antara lain tanggung jawab masing-masing siswa sama besarnya, siswa dapat menguasai hampir semua materi pelajaran, karena masing-masing siswa mengajari temannya secara bergantian, sedangkan keunggulan Snowballing adalah jawaban bertingkat dari siswa yang lebih sempurna. Juga berdasarkan pemikiran bahwa siswa kelas VIII sudah memiliki kemampuan berdiskusi dengan orang lain dan memiliki pengetahuan tentang sistem pencernaan manusia yang bersifat abstrak meskipun pengetahuan yang dimiliki terbatas yang dapat digunakan untuk membantu mempermudah ketika berdiskusi dengan temannya. Dengan keadaan seperti itu diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa meskipun tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa dan kemampuan memori siswa.

Dokumen terkait