• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pengaruh Opini Audit terhadap Tingkat Korupsi

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa opini audit berpengaruh signifikan terhadap tingkat korupsi. Hal ini berarti jenis opini yang diberikan BPK pada laporan keuangan pemerintah daerah unqualified

(wajar tanpa pengecualian/WTP) akan menurunkan tingkat korupsi dibandingkan dengan pemerintah daerah yang mendapatkan opini

qualified (wajar dengan pengecualian/ WDP), adverse (tidak wajar /TW), dan disclamer (tidak memberikan pendapat/TMP).

Opini audit merupakan pernyataan auditor atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan, sehingga opini audit dapat digunakan oleh pengguna laporan keuangan dan memberikan keyakinan bahwa informasi keuangan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, perbedaan opini audit dalam laporan keuangan pemerintah dengan opini audit pada laporan keuangan organisasi lain adalah bahwa opini audit juga menggambarkan kepatuhan atas peraturan dan perundang-undangan serta efektivitas sistem pengendalian intern. Zawitri (2009) mengutip dari pernyataan Gubernur Lemhanas bahwa opini audit mengambarkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola

pemerintahan terutama prinsip akuntabilitas dan transparansi sehingga dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan.Opini audit merupakan hasil dari proses audit dan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kualitas audit (Wibowo dn Rossieta, 2009). Hal serupa juga dinyatakan dalam Setyowati (2013) yang berpendapat bahwa kualitas pengelolaan keuangan pemerintah daerah dapat diketahui dari opini audit, sehingga opini audit pemerintah daerah digunakan sebagai pertimbangan oleh pemerintah pusat dalam menilai kinerja pemerintah daerah.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian Masyitoh (2015) yang menemukan bahwa opini audit memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap indeks persepsi korupsi.

2. Pengaruh Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terhadap Tingkat Korupsi

Berdasarkan uji statistik-t diatas diatas mengenai pengujian parsial dapat diketahui bahwa Kelemahan Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintahd aerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.

Hal ini dikarenakan temuan audit atas sistem pengendalian intern bukanlah suatu pelanggaran dan tidak menimbulkan kerugian berupa materil dalam keuangan pemerintah daerah sehingga hanya membutuhkan perbaikan dalam tatanan sistem pengendalian dan pelaksanaannya secara optimal. Hasil pengujian ini tidak sesuai dengan penelitian Huefner (2011) yang telah membuktikan bahwa lemahnya pengendalian intern menjadi penyebab adanya tindakan kecurangan di pemerintah daerah.

Namun hasil penelitian ini telah mendukung peneltiian Masyitoh dkk (2015) yang menemukan bahwa menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan dari temuan audit atas kelemahan sistem pengendalian intern terhadap persepsi korupsi, serta penelitian Heriningsih (2014) yang menemukan bahwa Kelemahan terhadap SPI juga secara statistic membuktikan tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi. Hal ini dapat dikatakan bahwa walaupun SPI di suatu pemerintahannya bagus, namun masih sangat memungkinkan adanya bahaya korupsi yang bisa terjadi.

3. Pengaruh Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terhadap Tingkat Korupsi

Berdasarkan uji statistik-t diatas diatas mengenai pengujian parsial dapat diketahui bahwa Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintah

daerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.

Hal ini sangat mungkin terjadi bahwa walaupun tidak adanya pelanggaran terhadap perundang-undangan namun bisa saja masih terjadi indikasi korupsi terjadi. Korupsi terjadi karena adanya niat untuk berbuat curang, atau adanya kesempatan yang luas baik kesempatan secara pribadi maupun kelompok, sehingga dapat menguntungkan kepentingan pribadinya. Tingkat korupsi terjadi lebih disebabkan karena lemahnya sistem pengawasan dari inspektorat, bukan disebabkan karena Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah, karena bukti-bukti penggunaan anggaran dapat dibuat secara fiktif.

Hasil penelitian mendukung penelitian Heriningsih (2014) yang menemukan bahwa Kinerja penyelenggaran pemerintah daerah (skor IKK dari LPPD) tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi di pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia.

60 A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan :

1. Hasil penelitian membuktikan bahwa opini audit berpengaruh negatif terhadap persepsi korupsi, dimana semakin baik opini audit yang diperoleh maka pemerintah daerah memiliki persepsi korupsi yang lebih rendah.

2. Kelemahan Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintahd aerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Kelemahan Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.

3. Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintah daerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.

B. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, sampel penelitian ini sangat terbatas pada jumlah daerah yang sangat minim yaitu hanya 30 kota yang mendapatkan survei dari TII tentang IPK.

Kedua, peran auditor untuk mendeteksi adanya tindakan korupsi di pemerintah daerah dalam penelitian ini hanya dilihat dari pemberian opini audit, mendeteksi adanya temuan audit, dan peran auditor dalam memantau tindak lanjut hasil audit yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Masih banyak faktor -faktor lain yang terkait dengan peran auditor yang dapat digunakan dalam penelitian terkait korupsi misalnya dilihat dari kualitas audit.

Ketiga, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dalam penelitian ini bukan sebagai pengukuran dari tingkat korupsi secara langsung melainkan mengukur persepsi atas tingkat korupsi di pemerintah daerah sehingga diperlukan pengukuran lain untuk melihat tingkat korupsi secara langsung misalnya menggunakan data jumlah kasus korupsi yang terjadi atau melakukan analisis pemerintah daerah yang masuk ke dalam proses penindakan di KPK.

C. Implikasi Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis hasil penelitian, terdapat beberapa implikasi yang bisa disampaikan. Pertama, dari penelitian ini diketahui bahwa secara rata-rata IPK dari sampel penelitian menunjukkan hasil yang kurang baik atau

persepsi terhadap perilaku pemerintah daerah yang melakukan tindakan korupsi masih tinggi. Bagi pemerintah pusat, IPK dapat dijadikan pemetaan awal untuk mengetahui daerah-daerah yang dipersepsikan memiliki tingkat korupsi yang tinggi sehingga pemerintah pusat dapat meningkatkan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan di daerah tersebut. Selain itu, penelitian ini juga mendukung program pemberian reward untuk pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP, karena hasil pengujian dalam penelitian ini membuktikan bahwa semakin baik opini audit yang diperoleh secara signifikan berpengaruh terhadap penurunan persepsi korupsi. Kedua, pemerintah daerah sebaiknya memperkuat sistem pengendalian yang terkait dengan akuntansi dan pelaporan serta sistem pengendalian dalam pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah karena kedua kelemahan ini mendominasi dalam daftar jumlah temuan audit atas kelemahan sistem pengendalian intern pemerintah daerah. Selain itu, dilihat dari daftar jumlah temuan audit atas ketidakpatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan, pemerintah daerah masih banyak melakukan pelanggaran administrasi meskipun tindakan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah secara materil. Namun, pemerintah daerah tetap harus memperhatikan tata cara atau prosedur penyelenggaraan pemerintahan agar pelanggaran administrasi dapat diminimalisir. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah daerah perlu mewaspadai adanya pelanggaran terhadap peraturan dan perundang-undangan selama proses penyelenggaraan pemerintahan, terutama untuk tindakan yang dapat menimbulkan kerugian negara termasuk

yang masih bersifat potensi karena kedua hal tersebut secara signifikan berpengaruh terhadap persepsi korupsi.

D. Saran Penelitian Lanjutan

Untuk peneliti selanjutnya hendaknya mampu mengembangkan model penelitian ini dengan sampel yang lebih besar, dan sistem pengukuran indeks korupsi yang berbeda, misalnya menggunakan data-data kejaksaaan tentang jumlah kerugian negara akibat kasus korupsi yang dilakukan pejabat publik yang kasusnya telah ditangani oleh KPK dan kejaksaan dan telah divonis bersalah.

DAFTAR PUSTAKA

Nalim, Abdul dan Abdullah, Syukriy. 2006. Studi atas Belanja Modal Pada Anggaran Pemerintah Daerah dalam Nubungannya dengan Belanja Pemeliharaan dan Sumber Pendapatan. Jurnal Akuntansi Pemerintah. ISSN: 0216-8642, Vol. 2, No. 2, p. 17 -32

Bergman, Michael and Jan-Erik Lane. 1990. Public policy in a principal-agent framework. Journal of Theoretical Politics 2(3): 339-352.

Fama, Eugene F and Jensen, M.C. 1983. Agency Problems and Residual Claims.

Journal of Law & Economics, Vol. XXVI. Avalaible from: http://papers.ssrn.com

Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Gujarati, Damodar. 2001. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.

Nadi, Syamsul. 2009. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Edisi pertama. Cetakan kedua. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Penerbit EKONISIA. Yogyakarta

Neriningsih Sucahyo, Marita. 2013. Pengaruh Opini Audit Dan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Korupsi Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Pemerintah Kabupaten Dan Kota Di Pulau Jawa) Buletin Ekonomi Vol. 11, No. 1, April 2013 hal 1-86

Neriningsih Sucahyo. 2014. Kajian Empiris Tingkat Akuntabilitas Pemerintah Daerah dan Kinerja Penyelengara Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Korupsi Pada Kabupaten dan Kota di Indonesia, Paradigma Volume 18, Nomor 2

Nustead, Bryan W. 2002. “Culture and International Anti Corruption Agreemants in Latin America”, Journal of Business Ethics, 37 (4) : 413-422

Kartini, Kartono. 2002. Sinopsis Kriminologi Indonesia, Bandung: Bandar Maju Teguh, Kurniawan. 2009. Peranan Akuntabilitas Publik dan Partisipasi

Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi di Pemerintahan, Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Mei–Agustus 2009, hlm. 116-121

Lane, J.E. 2000 . NewPublic Management. Routledge , London

Masyitoh R.D, Ratna W, Dyah S. 2015. Pengaruh Opini Audit, Temuan Audit, dan Tindak Lanjut Nasil Audit terhadap Persepsi Korupsi pada Pemerintah Daerah Tingkat II Tahun 2008-2010, Simposium Nasional Akuntansi 18 Universitas Sumatera Utara, Medan 16-19

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Mardiasmo .2009, Akuntansi Sektor Publik, Andi Offset, Yogyakarta

Miriam Budiardjo. 1994. Demokrasi di Indonesia, demokrasi parlementer dan demokrasi Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Moe, T.M. 1984. The new economic of organization. American journal of political science 28(5):739-777

Sari, Zawitri. 2009. Analisis Faktor-Faktor Penentu Kualitas Audit Yang Dirasakan dan Kepuasan Auditee di Pemerintahan Daerah. Tesis, Program Magister Akuntansi Universitas Diponegoro. Semarang

Setyapurnama, Yudi Santara dan A.M. Vianey Norpratiwi. 2006. Pengaruh Corporate Governance terhadap Peringkat Obligasi dan Yield Obligasi.

Setyowati, L.dan Y.K.Suparwati. 2012. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Pendapatan Asli Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan Pengalokasian Anggaran Belanja Modal sebagai variabel intervening (Studi Empiris Pemerintah Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah). Prestasi. Vol.9(1) : 113-133

Shah, Anwar, (Editor). 2007. Performance Accountability and Combating Corruption. Washington DC: The World Bank

Snape, Fiona Robertson. 1999. Corruption, Collution and Nepotism in Indonesia.

Third World Quarterly, Vol. 20, No. 3.

Solihin, Ismail. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta : Salemba Empat Transparency International Indonesia (TII). 2015. Survei Persepsi Korupsi 2015,

Danish Royal Embassy: Jakarta

Uma Sekaran. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis, Edisi 4, Buku 1, Jakarta: Salemba Empat

Wibowo, Arie dan Rossieta, Nilda. 2009. Faktor- Faktor Determinasi Kualitas Audit- Suatu Studi dengan Pendekatan Earnings Surprise Benchmark . Simposium Nasional Akuntansi XII Palembang : 5-7

Widjajabrata, Safaat and Nicholas M Zacchea. 2004. International Corruption: The Republic of Indonesia is Strengthening the Ability of Its Auditors to Battle Corruption. The Journal of Government Financial Management, Vol. 53, No. 3.

o. Kota/Kabupaten Opini Audit Skor 1 Banjar Masin WTP 1 2 Kota Surabaya WTP 1 3 Kota Semarang WDP 0 4 Kota Pontianak WTP 1 5 Kota Medan WTP 1 6 Kota Jakarta WTP 1 7 Kota Manado WTP 1 8 Kota Padang WTP 1 9 Kota Makasar WTP 1

10 Kota Pekan Baru WDP 0

11 Kota Bandung WDP 0

12 Kota Cirebon WDP 0

13 Kota Jambi WTP 1

14 Kota Malang WDP 0

15 Kota Medan TMP 0

16 Kota Pangkal Pinang WDP 0

17 Kota Sorong WTP 1

18 Kota Jayapura WTP 1

19 Kota Bengkulu WTP 1

20 Kota Ternate WTP 1

21 Kota Mamuju WTP 1

22 Kota Tanjung Pinang WDP 0

23 Kota Bandar Lampung WTP 1

24 Kota Banda Aceh WTP 1

25 Kota Palembang WTP 1 26 Kota Jember WDP 0 27 Kota Batam WTP 1 28 Kota Samarinda WTP 1 29 Kota Serang WTP 1 30 Kota Kupang TMP 0

o Kota/Kabupaten Jumlah Kasus 1 Banjar Masin 5 2 Kota Surabaya 7 3 Kota Semarang 13 4 Kota Pontianak 4 5 Kota Medan 10 6 Kota Jakarta 51 7 Kota Manado 14 8 Kota Padang 20 9 Kota Makasar 18

10 Kota Pekan Baru 29

11 Kota Bandung 14

12 Kota Cirebon 5

13 Kota Jambi 7

14 Kota Malang 8

15 Kota Medan 10

16 Kota Pangkal Pinang 15

17 Kota Sorong 5

18 Kota Jayapura 19

19 Kota Bengkulu 21

20 Kota Ternate 6

21 Kota Mamuju 15

22 Kota Tanjung Pinang 11

23 Kota Bandar Lampung 8

24 Kota Banda Aceh 7

25 Kota Palembang 15 26 Kota Jember 7 27 Kota Batam 11 28 Kota Samarinda 9 29 Kota Serang 17 30 Kota Kupang 17

undangan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

o Kota/Kabupaten Jumlah Kasus

1 Banjar Masin 10 2 Kota Surabaya 11 3 Kota Semarang 3 4 Kota Pontianak 8 5 Kota Medan 20 6 Kota Jakarta 74 7 Kota Manado 28 8 Kota Padang 13 9 Kota Makasar 23

10 Kota Pekan Baru 19

11 Kota Bandung 16

12 Kota Cirebon 8

13 Kota Jambi 32

14 Kota Malang 11

15 Kota Medan 20

16 Kota Pangkal Pinang 14

17 Kota Sorong 10

18 Kota Jayapura 14

19 Kota Bengkulu 19

20 Kota Ternate 12

21 Kota Mamuju 12

22 Kota Tanjung Pinang 9

23 Kota Bandar Lampung 9

24 Kota Banda Aceh 9

25 Kota Palembang 19 26 Kota Jember 8 27 Kota Batam 9 28 Kota Samarinda 10 29 Kota Serang 16 30 Kota Kupang 23

o. Kota/Kabupaten Skor Tingkat Korupsi 1 Banjar Masin 68 32 2 Kota Surabaya 65 35 3 Kota Semarang 60 40 4 Kota Pontianak 58 42 5 Kota Medan 57 43 6 Kota Jakarta 57 43 7 Kota Manado 55 45 8 Kota Padang 50 50 9 Kota Makasar 48 52

10 Kota Pekan Baru 52 48

11 Kota Bandung 39 61

12 Kota Cirebon 36.1 63.9

13 Kota Jambi 41.3 58.7

14 Kota Malang 41.5 58.5

15 Kota Medan 41.7 58.3

16 Kota Pangkal Pinang 41.9 58.1

17 Kota Sorong 42.6 57.4

18 Kota Jayapura 43.3 56.7

19 Kota Bengkulu 44.1 55.9

20 Kota Ternate 44.2 55.8

21 Kota Mamuju 44.5 55.5

22 Kota Tanjung Pinang 37.2 62.8

23 Kota Bandar Lampung 45.8 49.3

24 Kota Banda Aceh 46.1 53.9

25 Kota Palembang 47 53 26 Kota Jember 40.1 59.9 27 Kota Batam 47.3 52.7 28 Kota Samarinda 48.5 51.5 29 Kota Serang 48.7 51.3 30 Kota Kupang 49.5 50.5

Descriptives

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation IPK 30 36.10 68.00 48.0133 7.95629 TK 30 32.00 63.90 51.8233 7.95958 Opini 30 .00 1.00 .6667 .47946 KSPI 30 4.00 51.00 13.2667 9.23984 KTKPPU 30 3.00 74.00 16.3000 12.70664 Valid N (listwise) 30

Regression

Variables Entered/Removedb

Model Variables Entered Variables Removed Method 1 KTKPPU, Opini,

KSPIa . Enter a. All requested variables entered.

Model R R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson 1 .408a .167 .071 7.67374 .337 a. Predictors: (Constant), KTKPPU, Opini, KSPI

b. Dependent Variable: TK

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 306.252 3 102.084 1.734 .185a

Residual 1531.042 26 58.886 Total 1837.294 29

a. Predictors: (Constant), KTKPPU, Opini, KSPI b. Dependent Variable: TK

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) 57.519 3.142 18.307 .000

Opini -6.549 3.077 -.394 -2.128 .043 .933 1.072 KSPI -.157 .255 -.182 -.614 .544 .366 2.730 KTKPPU .046 .188 .073 .243 .810 .355 2.821

Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF 1 (Constant) 57.519 3.142 18.307 .000 Opini -6.549 3.077 -.394 -2.128 .043 .933 1.072 KSPI -.157 .255 -.182 -.614 .544 .366 2.730 KTKPPU .046 .188 .073 .243 .810 .355 2.821 a. Dependent Variable: TK

Charts

MAULIA FASHA ALGAMETA

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

ABSTRACT

The purpose of the study is to test empirically the influence of accountability of

local government financial statements on the level of local government

corruption in Indonesia. This study uses secondary data from the audit results of

the Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia to the financial statements of

local government in 2008 and the research results of the Transparency

International Indonesia on the Corruption Perception Index of local government

in Indonesia. This study uses purposive sampling and using multiple linear

regression analysis.

These results indicate that the accountability of local government financial

statements do not affect the level of local government corruption in Indonesia.

Keywords: accountability, audit opinion, the weakness of internal control systems,

non-compliance with provisions of laws, corruption,

khususya di tingkat Pemerintah Daerah. Korupsi sebenarnya termasuk salah satu

bentuk tindakan yang dilarang di Indonesia karena merupakan tindak pidana.

Hal tersebut tertera pada Undang Undang Republik Indonesia nomor 28 tahun

1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi,

kolusi dan nepotisme pasal 1 ayat 3 yang berbunyi, korupsi adalah tindak pidana

sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang – undangan

yang mengatur tentang tindak pidana korupsi.

Melihat fenomena korupsi yang terus menjamur di Indonesia,

menyebabkan semakin kecilnya kepercayaan masyarakat akan kinerja khususnya

di instansi pemerintah. Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap

pembangunan daerah. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan

tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan

proses formal.

Fenomena korupsi di daerah yang semakin terbuka, terjadi karena terdapat

perbedaan atau ketidak konsistensian peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah

pusat dan daerah. Money politics merupakan salah satu bentuk terjadinya korupsi,

kolosi, dan Nepotisme (KKN) di daerah. Otonomi daerah pada dasarnya di

berikan kepada daerah agar pemerintah daerah dapat meningkatkan efisiensi,

efektifitas, dan akuntabilitas pemerintah daerah untuk tercapainya pemerintahan

yang baik. (Mardiasmo, 2009). Menurut Rinaldi, Purnomo, dan Damayanti (2007)

sejak diberlakukannya otonomi otonomi daerah berdasarkan UU no. 22 tahun

tinggi. Dalam Corruption Perception Index 2014, Indonesia menempati posisi 117

dari 175 negara di dunia dengan skor 34 dari skala 0-100 (0 berarti sangat korup

dan 100 berarti sangat bersih). Dalam data tersebut juga diungkapkan bahwa

korupsi menempati urutan teratas dari 18 (delapan belas) faktor penghambat

kemudahan berusaha di Indonesia.

Terciptanya suatu pemerintah daerah yang akuntabel menjadi suatu

harapan tersendiri bagi masyarakat, sehingga tercipta suatu sistem

pertanggungjawaban pemerintah daerah sebagai entitas yang mengelola dan

bertanggung jawab atas penggunaan kekayaan daerah.

Menurut Mardiasmo (2009) akuntabilitas pada organisasi sektor publik,

mempunyai arti bahwa pengelolaan pemerintah daerah terdapat hubungan

keagenan (teori keagenan) antara masyarakat sebagai prinsipal dan pemerintah

sebagai agen. Dari konsep teori keagenan inilah bisa terjadi information

asymmetry antara pihak pemerintah (agent) yang memiliki akses langsung

terhadap informasi dengan pihak masyarakat (principal). Karena terjadi

information asymmetry bisa menyebabkan terjadinya korupsi atau penyelewengan

oleh agent (pemerintah). Untuk menghindari terjadinya korupsi di pemerintahan

daerah, maka pengelolaan pemerintah daerah harus akuntabel dan diperlukan

sistem pengawasan yang handal. Dengan terciptanya pemerintah daerah yang

akuntabel berarti semakin sedikit terjadinya permasalahan information asymmetry,

keuangan (Mardiasmo, 2006). Akuntabilitas keuangan merupakan

pertanggungjawaban mengenai integritas keuangan, pengungkapan dan ketaatan

terhadap peraturan perundang-undangan. Sasarannya adalah laporan keuangan

yang mencakup penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran keuangan instansi

pemerintah (LAN dan BPKP, 2001). Dengan demikian tingkat akuntabilitas

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang dibuat oleh pemerintah

daerah menggambarkan tingkat akuntabilitas keuangan pemerintah daerah yang

menjadi kebutuhan penting dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Menurut Heriningsih (2014) Akuntabilitas Pemerintah Daerah merupakan

tingkat pengukuran kinerja yang diukur dengan menggunakan hasil audit BPK RI

atas LKPD setiap tahunnya. Terdapat tiga indikator pengukuran yang digunakan

dalam penelitian ini yang merupakan tiga hasil yang terdapat dalam LKPD yang

telah diaudit. Opini auditor menjadi pusat perhatian dalam setiap laporan kinerja

suatu entitas demikian juga dengan penelitian ini sehingga dengan menggunakan

penalaran bahwa jika Pemerintah daerah memperoleh opini WTP (wajar tanpa

pengecualian) maka harapannya akan semakin bagus kinerja pemerintah daerah

dan pastinya korupsi tidak dapat terjadi. Sedangkan jika terdapat tingkat

kelemahan pada Sistem pengendalian internal maka tentu terdapat tambahan

masukan untuk pemperbaiki pengendalian agar lebih efektif di tahun berikutnya.

Yang ke tiga ketaatan pada perundang-undangan dapat dikatakan bahwa semakin

Pengecualian (WTP/unqualified opinion), Wajar Dengan Pengecualian

(WDP/Qualified opinion), Tidak Wajar (TW/Adverse opinion) dan Tidak

Memberikan Pendapat (TMP/Disclaimer opinion). Opini Wajar Tanpa

Pengecualian (WTP/unqualified opinion) menyatakan bahwa laporan keuangan

telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan

informasi keuangan dalam laporan keuangan dapat digunakan oleh para pengguna

laporan keuangan. Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP/Qualified opinion)

menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara

wajar dalam semua hal yang material, kecuali untuk dampak hal-hal yang

berhubungan dengan yang dikecualikan, sehingga informasi keuangan dalam

laporan keuangan yang tidak dikecualikan dalam opini pemeriksa dapat

digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Opini Tidak Wajar

(TW/Adverse opinion) menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan dan

diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material, sehingga informasi

keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna

laporan keuangan. Pernyataan menolak memberikan opini atau Tidak

Memberikan Pendapat (TMP/Disclaimer opinion) menyatakan bahwa laporan

keuangan tidak dapat diperiksa sesuai dengan standar pemeriksaan.

Dengan kata lain, pemeriksa tidak dapat memberikan keyakinan bahwa

laporan keuangan bebas dari salah saji material, sehingga informasi keuangan

hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern (SPI) pada setiap entitas yang

diperiksa. Laporan ini memaparkan tingkat kelemahan pengendalian intern yang

terjadi pada suatu entitas (pemerintah daerah). Hasil evaluasi SPI oleh BPK

menunjukkan kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian intern yang dapat

dikelompokkan sebagai kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan,

kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja,

serta kelemahan struktur pengendalian intern. Semakin banyak kelemahan sistem

pengendalian intern yang terjadi pada suatu pemerintah daerah berarti

menunjukkan tingkat akuntabilitasnya semakin rendah dan akan meningkatkan

peluang terjadinya korupsi. Hal ini terjadi karena salah satu penyebab korupsi

adalah adanya sistem yang lemah sebagaimana disampaikan M Jasin, wakil ketua

KPK (2008), bahwa kelemahan sistem menimbulkan potensi tindak pidana

korupsi.

Komponen terakhir yang diungkapkan BPK dalam rangka menilai

akuntabilitas LKPD adalah kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

Pemeriksaan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dilaksanakan

guna mendeteksi salah saji material yang disebabkan oleh ketidakpatuhan

terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berpengaruh langsung

dan material terhadap penyajian laporan keuangan. Hasil pemeriksaan kepatuhan

terhadap peraturan perundang-undangan atas laporan keuangan mengungkapkan

Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang dinilai oleh BPK melalui laporan

hasil pemeriksaan (LHP) yang terdiri dari opini, sistem pengendalian intern, dan

Dokumen terkait