BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pengaruh Opini Audit terhadap Tingkat Korupsi
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa opini audit berpengaruh signifikan terhadap tingkat korupsi. Hal ini berarti jenis opini yang diberikan BPK pada laporan keuangan pemerintah daerah unqualified
(wajar tanpa pengecualian/WTP) akan menurunkan tingkat korupsi dibandingkan dengan pemerintah daerah yang mendapatkan opini
qualified (wajar dengan pengecualian/ WDP), adverse (tidak wajar /TW), dan disclamer (tidak memberikan pendapat/TMP).
Opini audit merupakan pernyataan auditor atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan, sehingga opini audit dapat digunakan oleh pengguna laporan keuangan dan memberikan keyakinan bahwa informasi keuangan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, perbedaan opini audit dalam laporan keuangan pemerintah dengan opini audit pada laporan keuangan organisasi lain adalah bahwa opini audit juga menggambarkan kepatuhan atas peraturan dan perundang-undangan serta efektivitas sistem pengendalian intern. Zawitri (2009) mengutip dari pernyataan Gubernur Lemhanas bahwa opini audit mengambarkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola
pemerintahan terutama prinsip akuntabilitas dan transparansi sehingga dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan.Opini audit merupakan hasil dari proses audit dan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kualitas audit (Wibowo dn Rossieta, 2009). Hal serupa juga dinyatakan dalam Setyowati (2013) yang berpendapat bahwa kualitas pengelolaan keuangan pemerintah daerah dapat diketahui dari opini audit, sehingga opini audit pemerintah daerah digunakan sebagai pertimbangan oleh pemerintah pusat dalam menilai kinerja pemerintah daerah.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Masyitoh (2015) yang menemukan bahwa opini audit memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap indeks persepsi korupsi.
2. Pengaruh Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terhadap Tingkat Korupsi
Berdasarkan uji statistik-t diatas diatas mengenai pengujian parsial dapat diketahui bahwa Kelemahan Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintahd aerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.
Hal ini dikarenakan temuan audit atas sistem pengendalian intern bukanlah suatu pelanggaran dan tidak menimbulkan kerugian berupa materil dalam keuangan pemerintah daerah sehingga hanya membutuhkan perbaikan dalam tatanan sistem pengendalian dan pelaksanaannya secara optimal. Hasil pengujian ini tidak sesuai dengan penelitian Huefner (2011) yang telah membuktikan bahwa lemahnya pengendalian intern menjadi penyebab adanya tindakan kecurangan di pemerintah daerah.
Namun hasil penelitian ini telah mendukung peneltiian Masyitoh dkk (2015) yang menemukan bahwa menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan dari temuan audit atas kelemahan sistem pengendalian intern terhadap persepsi korupsi, serta penelitian Heriningsih (2014) yang menemukan bahwa Kelemahan terhadap SPI juga secara statistic membuktikan tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi. Hal ini dapat dikatakan bahwa walaupun SPI di suatu pemerintahannya bagus, namun masih sangat memungkinkan adanya bahaya korupsi yang bisa terjadi.
3. Pengaruh Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terhadap Tingkat Korupsi
Berdasarkan uji statistik-t diatas diatas mengenai pengujian parsial dapat diketahui bahwa Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintah
daerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.
Hal ini sangat mungkin terjadi bahwa walaupun tidak adanya pelanggaran terhadap perundang-undangan namun bisa saja masih terjadi indikasi korupsi terjadi. Korupsi terjadi karena adanya niat untuk berbuat curang, atau adanya kesempatan yang luas baik kesempatan secara pribadi maupun kelompok, sehingga dapat menguntungkan kepentingan pribadinya. Tingkat korupsi terjadi lebih disebabkan karena lemahnya sistem pengawasan dari inspektorat, bukan disebabkan karena Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah, karena bukti-bukti penggunaan anggaran dapat dibuat secara fiktif.
Hasil penelitian mendukung penelitian Heriningsih (2014) yang menemukan bahwa Kinerja penyelenggaran pemerintah daerah (skor IKK dari LPPD) tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi di pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia.
60 A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan :
1. Hasil penelitian membuktikan bahwa opini audit berpengaruh negatif terhadap persepsi korupsi, dimana semakin baik opini audit yang diperoleh maka pemerintah daerah memiliki persepsi korupsi yang lebih rendah.
2. Kelemahan Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintahd aerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Kelemahan Sistem Pengendalian Interen Laporan Keuangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.
3. Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah secara statistik tidak berpengaruh terhadap tingkat korupsi pemerintah daerah. Hal ini berarti banyak sedikitnya kasus dalam Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Laporan Keangan Pemerintah Daerah belum mampu menurunkan tingkat korupsi pada pemerintah daerah.
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, sampel penelitian ini sangat terbatas pada jumlah daerah yang sangat minim yaitu hanya 30 kota yang mendapatkan survei dari TII tentang IPK.
Kedua, peran auditor untuk mendeteksi adanya tindakan korupsi di pemerintah daerah dalam penelitian ini hanya dilihat dari pemberian opini audit, mendeteksi adanya temuan audit, dan peran auditor dalam memantau tindak lanjut hasil audit yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Masih banyak faktor -faktor lain yang terkait dengan peran auditor yang dapat digunakan dalam penelitian terkait korupsi misalnya dilihat dari kualitas audit.
Ketiga, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dalam penelitian ini bukan sebagai pengukuran dari tingkat korupsi secara langsung melainkan mengukur persepsi atas tingkat korupsi di pemerintah daerah sehingga diperlukan pengukuran lain untuk melihat tingkat korupsi secara langsung misalnya menggunakan data jumlah kasus korupsi yang terjadi atau melakukan analisis pemerintah daerah yang masuk ke dalam proses penindakan di KPK.
C. Implikasi Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis hasil penelitian, terdapat beberapa implikasi yang bisa disampaikan. Pertama, dari penelitian ini diketahui bahwa secara rata-rata IPK dari sampel penelitian menunjukkan hasil yang kurang baik atau
persepsi terhadap perilaku pemerintah daerah yang melakukan tindakan korupsi masih tinggi. Bagi pemerintah pusat, IPK dapat dijadikan pemetaan awal untuk mengetahui daerah-daerah yang dipersepsikan memiliki tingkat korupsi yang tinggi sehingga pemerintah pusat dapat meningkatkan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan di daerah tersebut. Selain itu, penelitian ini juga mendukung program pemberian reward untuk pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP, karena hasil pengujian dalam penelitian ini membuktikan bahwa semakin baik opini audit yang diperoleh secara signifikan berpengaruh terhadap penurunan persepsi korupsi. Kedua, pemerintah daerah sebaiknya memperkuat sistem pengendalian yang terkait dengan akuntansi dan pelaporan serta sistem pengendalian dalam pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah karena kedua kelemahan ini mendominasi dalam daftar jumlah temuan audit atas kelemahan sistem pengendalian intern pemerintah daerah. Selain itu, dilihat dari daftar jumlah temuan audit atas ketidakpatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan, pemerintah daerah masih banyak melakukan pelanggaran administrasi meskipun tindakan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah secara materil. Namun, pemerintah daerah tetap harus memperhatikan tata cara atau prosedur penyelenggaraan pemerintahan agar pelanggaran administrasi dapat diminimalisir. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah daerah perlu mewaspadai adanya pelanggaran terhadap peraturan dan perundang-undangan selama proses penyelenggaraan pemerintahan, terutama untuk tindakan yang dapat menimbulkan kerugian negara termasuk
yang masih bersifat potensi karena kedua hal tersebut secara signifikan berpengaruh terhadap persepsi korupsi.
D. Saran Penelitian Lanjutan
Untuk peneliti selanjutnya hendaknya mampu mengembangkan model penelitian ini dengan sampel yang lebih besar, dan sistem pengukuran indeks korupsi yang berbeda, misalnya menggunakan data-data kejaksaaan tentang jumlah kerugian negara akibat kasus korupsi yang dilakukan pejabat publik yang kasusnya telah ditangani oleh KPK dan kejaksaan dan telah divonis bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Nalim, Abdul dan Abdullah, Syukriy. 2006. Studi atas Belanja Modal Pada Anggaran Pemerintah Daerah dalam Nubungannya dengan Belanja Pemeliharaan dan Sumber Pendapatan. Jurnal Akuntansi Pemerintah. ISSN: 0216-8642, Vol. 2, No. 2, p. 17 -32
Bergman, Michael and Jan-Erik Lane. 1990. Public policy in a principal-agent framework. Journal of Theoretical Politics 2(3): 339-352.
Fama, Eugene F and Jensen, M.C. 1983. Agency Problems and Residual Claims.
Journal of Law & Economics, Vol. XXVI. Avalaible from: http://papers.ssrn.com
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Gujarati, Damodar. 2001. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.
Nadi, Syamsul. 2009. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Edisi pertama. Cetakan kedua. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Penerbit EKONISIA. Yogyakarta
Neriningsih Sucahyo, Marita. 2013. Pengaruh Opini Audit Dan Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Korupsi Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Pemerintah Kabupaten Dan Kota Di Pulau Jawa) Buletin Ekonomi Vol. 11, No. 1, April 2013 hal 1-86
Neriningsih Sucahyo. 2014. Kajian Empiris Tingkat Akuntabilitas Pemerintah Daerah dan Kinerja Penyelengara Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Korupsi Pada Kabupaten dan Kota di Indonesia, Paradigma Volume 18, Nomor 2
Nustead, Bryan W. 2002. “Culture and International Anti Corruption Agreemants in Latin America”, Journal of Business Ethics, 37 (4) : 413-422
Kartini, Kartono. 2002. Sinopsis Kriminologi Indonesia, Bandung: Bandar Maju Teguh, Kurniawan. 2009. Peranan Akuntabilitas Publik dan Partisipasi
Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi di Pemerintahan, Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Mei–Agustus 2009, hlm. 116-121
Lane, J.E. 2000 . NewPublic Management. Routledge , London
Masyitoh R.D, Ratna W, Dyah S. 2015. Pengaruh Opini Audit, Temuan Audit, dan Tindak Lanjut Nasil Audit terhadap Persepsi Korupsi pada Pemerintah Daerah Tingkat II Tahun 2008-2010, Simposium Nasional Akuntansi 18 Universitas Sumatera Utara, Medan 16-19
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Mardiasmo .2009, Akuntansi Sektor Publik, Andi Offset, Yogyakarta
Miriam Budiardjo. 1994. Demokrasi di Indonesia, demokrasi parlementer dan demokrasi Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Moe, T.M. 1984. The new economic of organization. American journal of political science 28(5):739-777
Sari, Zawitri. 2009. Analisis Faktor-Faktor Penentu Kualitas Audit Yang Dirasakan dan Kepuasan Auditee di Pemerintahan Daerah. Tesis, Program Magister Akuntansi Universitas Diponegoro. Semarang
Setyapurnama, Yudi Santara dan A.M. Vianey Norpratiwi. 2006. Pengaruh Corporate Governance terhadap Peringkat Obligasi dan Yield Obligasi.
Setyowati, L.dan Y.K.Suparwati. 2012. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Pendapatan Asli Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan Pengalokasian Anggaran Belanja Modal sebagai variabel intervening (Studi Empiris Pemerintah Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah). Prestasi. Vol.9(1) : 113-133
Shah, Anwar, (Editor). 2007. Performance Accountability and Combating Corruption. Washington DC: The World Bank
Snape, Fiona Robertson. 1999. Corruption, Collution and Nepotism in Indonesia.
Third World Quarterly, Vol. 20, No. 3.
Solihin, Ismail. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta : Salemba Empat Transparency International Indonesia (TII). 2015. Survei Persepsi Korupsi 2015,
Danish Royal Embassy: Jakarta
Uma Sekaran. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis, Edisi 4, Buku 1, Jakarta: Salemba Empat
Wibowo, Arie dan Rossieta, Nilda. 2009. Faktor- Faktor Determinasi Kualitas Audit- Suatu Studi dengan Pendekatan Earnings Surprise Benchmark . Simposium Nasional Akuntansi XII Palembang : 5-7
Widjajabrata, Safaat and Nicholas M Zacchea. 2004. International Corruption: The Republic of Indonesia is Strengthening the Ability of Its Auditors to Battle Corruption. The Journal of Government Financial Management, Vol. 53, No. 3.
o. Kota/Kabupaten Opini Audit Skor 1 Banjar Masin WTP 1 2 Kota Surabaya WTP 1 3 Kota Semarang WDP 0 4 Kota Pontianak WTP 1 5 Kota Medan WTP 1 6 Kota Jakarta WTP 1 7 Kota Manado WTP 1 8 Kota Padang WTP 1 9 Kota Makasar WTP 1
10 Kota Pekan Baru WDP 0
11 Kota Bandung WDP 0
12 Kota Cirebon WDP 0
13 Kota Jambi WTP 1
14 Kota Malang WDP 0
15 Kota Medan TMP 0
16 Kota Pangkal Pinang WDP 0
17 Kota Sorong WTP 1
18 Kota Jayapura WTP 1
19 Kota Bengkulu WTP 1
20 Kota Ternate WTP 1
21 Kota Mamuju WTP 1
22 Kota Tanjung Pinang WDP 0
23 Kota Bandar Lampung WTP 1
24 Kota Banda Aceh WTP 1
25 Kota Palembang WTP 1 26 Kota Jember WDP 0 27 Kota Batam WTP 1 28 Kota Samarinda WTP 1 29 Kota Serang WTP 1 30 Kota Kupang TMP 0
✁o Kota/Kabupaten Jumlah Kasus 1 Banjar Masin 5 2 Kota Surabaya 7 3 Kota Semarang 13 4 Kota Pontianak 4 5 Kota Medan 10 6 Kota Jakarta 51 7 Kota Manado 14 8 Kota Padang 20 9 Kota Makasar 18
10 Kota Pekan Baru 29
11 Kota Bandung 14
12 Kota Cirebon 5
13 Kota Jambi 7
14 Kota Malang 8
15 Kota Medan 10
16 Kota Pangkal Pinang 15
17 Kota Sorong 5
18 Kota Jayapura 19
19 Kota Bengkulu 21
20 Kota Ternate 6
21 Kota Mamuju 15
22 Kota Tanjung Pinang 11
23 Kota Bandar Lampung 8
24 Kota Banda Aceh 7
25 Kota Palembang 15 26 Kota Jember 7 27 Kota Batam 11 28 Kota Samarinda 9 29 Kota Serang 17 30 Kota Kupang 17
undangan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
✂o Kota/Kabupaten Jumlah Kasus
1 Banjar Masin 10 2 Kota Surabaya 11 3 Kota Semarang 3 4 Kota Pontianak 8 5 Kota Medan 20 6 Kota Jakarta 74 7 Kota Manado 28 8 Kota Padang 13 9 Kota Makasar 23
10 Kota Pekan Baru 19
11 Kota Bandung 16
12 Kota Cirebon 8
13 Kota Jambi 32
14 Kota Malang 11
15 Kota Medan 20
16 Kota Pangkal Pinang 14
17 Kota Sorong 10
18 Kota Jayapura 14
19 Kota Bengkulu 19
20 Kota Ternate 12
21 Kota Mamuju 12
22 Kota Tanjung Pinang 9
23 Kota Bandar Lampung 9
24 Kota Banda Aceh 9
25 Kota Palembang 19 26 Kota Jember 8 27 Kota Batam 9 28 Kota Samarinda 10 29 Kota Serang 16 30 Kota Kupang 23
✄o. Kota/Kabupaten Skor Tingkat Korupsi 1 Banjar Masin 68 32 2 Kota Surabaya 65 35 3 Kota Semarang 60 40 4 Kota Pontianak 58 42 5 Kota Medan 57 43 6 Kota Jakarta 57 43 7 Kota Manado 55 45 8 Kota Padang 50 50 9 Kota Makasar 48 52
10 Kota Pekan Baru 52 48
11 Kota Bandung 39 61
12 Kota Cirebon 36.1 63.9
13 Kota Jambi 41.3 58.7
14 Kota Malang 41.5 58.5
15 Kota Medan 41.7 58.3
16 Kota Pangkal Pinang 41.9 58.1
17 Kota Sorong 42.6 57.4
18 Kota Jayapura 43.3 56.7
19 Kota Bengkulu 44.1 55.9
20 Kota Ternate 44.2 55.8
21 Kota Mamuju 44.5 55.5
22 Kota Tanjung Pinang 37.2 62.8
23 Kota Bandar Lampung 45.8 49.3
24 Kota Banda Aceh 46.1 53.9
25 Kota Palembang 47 53 26 Kota Jember 40.1 59.9 27 Kota Batam 47.3 52.7 28 Kota Samarinda 48.5 51.5 29 Kota Serang 48.7 51.3 30 Kota Kupang 49.5 50.5
Descriptives
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation IPK 30 36.10 68.00 48.0133 7.95629 TK 30 32.00 63.90 51.8233 7.95958 Opini 30 .00 1.00 .6667 .47946 KSPI 30 4.00 51.00 13.2667 9.23984 KTKPPU 30 3.00 74.00 16.3000 12.70664 Valid N (listwise) 30
Regression
Variables Entered/RemovedbModel Variables Entered Variables Removed Method 1 KTKPPU, Opini,
KSPIa . Enter a. All requested variables entered.
Model R R Square Adjusted R Square Estimate Durbin-Watson 1 .408a .167 .071 7.67374 .337 a. Predictors: (Constant), KTKPPU, Opini, KSPI
b. Dependent Variable: TK
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 306.252 3 102.084 1.734 .185a
Residual 1531.042 26 58.886 Total 1837.294 29
a. Predictors: (Constant), KTKPPU, Opini, KSPI b. Dependent Variable: TK
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) 57.519 3.142 18.307 .000
Opini -6.549 3.077 -.394 -2.128 .043 .933 1.072 KSPI -.157 .255 -.182 -.614 .544 .366 2.730 KTKPPU .046 .188 .073 .243 .810 .355 2.821
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF 1 (Constant) 57.519 3.142 18.307 .000 Opini -6.549 3.077 -.394 -2.128 .043 .933 1.072 KSPI -.157 .255 -.182 -.614 .544 .366 2.730 KTKPPU .046 .188 .073 .243 .810 .355 2.821 a. Dependent Variable: TK