BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Pegadaian syariah dalam mendorong pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu lembaga keuangan yang bertanggungjawab dalam penyedia keuangan kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat. Sebagai lembaga yang bertugas menghimpun dana dari masyarakat tentunya memiliki peran penting dalam pendistribusian dilingkup masyarakat yang notabenenya sangat membutuhkan wadah distribusi. Potensi pegadaiaan dalam mendorong usaha mikro menengah tentunya melibatkan berbagai banyak pihak, diantaranya masyarakat dan lembaga itu sendiri, oleh karena itu. Direktur utama pegadiaan telah menegaskan bahwa hoalding BUMN pun saat ini telah ikut andil dalam melakukan pembiayaan usaha ultra mikro menengah dengan tujuan untuk mempermudah dan memperluas terhadap akses pembiayaan di pegadaiaan.
Perbedaan akad yang diterapkan oleh pegadaian berbasis syariah menjadi salah satu keunggulan yang dapat menerima atau menahan jaminan dan bisa memungut suatu biaya kepada peminjam atau menggunakan metode penitipan biaya pemeliharaan dengan adanya melalui kesepakatan bersama.
Sistem pelayanan menjadi salah satu keunggulan pegadaiaan syariah dalam mendorong dan membantu usaha mikro menengah dengan memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah dengan menerapkan 3S yang akan melahirkan keakraban dan keteladanan sesama nasabah dan pegawai dengan
45
menerapkan sikap saling menghargai satu sama lain. Beberapa pelayanan yang dilakukan pegadaiaan syariah terhadap nasabah diantaranya:
1. Mengenali nasabah
2. Mengetahui kebutuhan nasabah
3. Lemah lembut dan ramah dalam melakukan pelayanan kepada nasabah 4. Melayani dengan penuh tanggung jawab
5. Melayani dengan simpatik 6. Melayani dengan serius
7. Memberi salam kepada nasabah 1. Biaya Pemeliharaan (Mu’nah)
Mu’nah ialah biaya pemeliharaan gadai yang dihitung berdasarkan persentase tertentu dari taksiran barang jaminan gadai. Pelaksanaan praktik rahn dipegadaian syariah menunjukkan adanya perbedaan dari apa yang menjadi patokan bertransaksi yakni fatwa DSN MUI dalam transaksi Rahn dipegadaian syariah. Diantaranya ialah pelaksanaan mu’nah atau biaya pemeliharaan marhum yang berpedoman berdasarkan fatwa DSN NO.25/DSNMUI/III/2002 tentang Rahn bahwa dalam poin 4 dijelaskan mengenai besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhum tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.
Ketentuan mu’nah (biaya pemeliharaan) dihitung berdarkan persentasi tertentu dari taksiran (nilai barang jaminan). Misalnya ketika ingin melakukan transaksi Rahn, nasabah tersebut melakukan transaksi gadai sebagai berikut:
Taksiran Barang Jaminan Gadai : Rp. 10.192.254,-
Pinjaman yang akan diambil nasabah : Rp. 9.070.189,-
46
Biaya pemeliharaan :
Rp. 66.300,-/ 10 hari (biaya pemeliharaan diperoleh dari Pinjaman
Rp. 9.070.189 x 0.73% persenan yang ditentukan oleh unit pegadaian syariah dan jumlahnya Rp. 66.300,-)
GOL
Mu’nah : dihitung berdasasarkan persentase tertentu dari taksiran (nilai barang jaminan)
Keterangan : waktu dalam hari dengan pembulatan 10 hari.
Perhitungan mu’nah : (taksiran x tarif persenan mu’nah)
Pegadaian syariah tidak menekankan pada pemberian bunga dari barang yang digadaikan, meski tanpa bunga, pegadaian syariah dapat memperoleh keuntungan yaitu dengan cara memberlakukan biaya pemeliharaan dari barang yang digadaikan. Biaya itu dihitung dari nilai barang, bukan dari jumlah pinjaman.
47
Ketertarikan masyarakat mengenai pegadaian syariah sebagai salah saru tempat melakukan transaksi keuangan yang mudah dan cepat. Masyarakat yang terlibat dalam melakukan transaksi gadai yang dijalankan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah sehingga mendapat dana yang berkah dan halal. Gadai syariah itu sendiri tidak sama sekali menggunakan sistem bunga terhadap barang yang telah digadaikan oleh nasabahnya.
2. Tidak Adanya Sistem Bunga
Secara umum pengertian bunga dalam lembaga keuangan bank ataupun non bank adalah balas jasa yang diberikan oleh pihak bank konvensional untuk nasabah yang memiliki simpanan dan harus dibayarkan nasabah yang memiliki pinjaman kepada bank. Bunga sering dikaitkan dengan istilah riba. Riba sendiri pengambilan tambahansebagai syarat yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman diluar biaya pokok. Jika ditelaah, sistem bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional masuk dalam kategori riba. Selain bunga, suku bunga merupakan hal lain yang juga biasanya diberlakukan oleh bank konvensional. Suku bunga adalah persentase besar uang yang dipinjam yang dibayarkan sebagai balas jasa. Besarnya bunga ini dipengaruhi oleh antara lain persaingan, kebutuhan dana, kebijakan pemerintah, jangka waktu, target laba yang diharapkan, kualitas agunan, reputasi perusahaan, jenis produk serta hubungan baik bank dengan nasabahnya.
Balas jasa yang diberikan oleh pihak bank (konvensional) untuk nasabah yang memiliki simpanan dan harus dibayarkan nasabah yang memiliki pinjaman kepada bank. Bunga sering dikaitkan dengan istilah riba. Riba sendiri adalah pengambilan tambahan sebagai syarat yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman diluar biaya pokok. Jika ditelaah, sistem bunga yang
48
ditawarkan oleh Bank Konvensional masuk dalam kategori riba. Selain bunga, suku bunga merupakan hal lain yang juga biasanya diberlakukan oleh Bank Konvensional. Suku bunga adalah persentase besar uang yang dipinjam (pokok utang) yang dibayarakan sebagai balas jasa. Besarnya bunga ini dipengaruhi oleh antara lain persaingan, kebutuhan dana, kebijakan pemerintah, jangka waktu, target laba yang diharapkan, kualitas agunan, reputasi perusahaan, jenis produk serta hubungan baik bank dengan nasabah. Adapun perbedaan bunga dan bagi hasil dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
a) penentuan besaran b) acuan pembagian
c) besarnya pendapatan dan jumlah pembayaran d) eksistensi
Minat nasabah dalam penggunaan produk-produk pada pagadaiaan syariah cukup tinggi dengan melibatkan nasabah yang ikut berkontribusi. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nasabah yang ikut andil dalam menyalurkan barang dan jasa melalui pegadaiaan syariah menekankan bahwa pegadaiaan syariah tidak memiliki sistem bunga dari barang yang digadaikan oleh nasabah. Tentunya hal ini menjadi potensi unggulan dari pegadaiaan syariah. Keterlibatan usaha mikro, kecil dan menengah menjadikan pegadaiaan ini sangat dibutuhkan dilingkungan masyarakat, selain karena tidak menerapkan konsep bunga pegadaiaan berbasis syariah sangat menerapkan nilai-nilai islami yang tentunya menjadikan pegadiaan ini sebagai pegadiaan yang islami dan terpercaya.
49 BAB V PENUTUP