BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Ukuran Pemerintah Daerah berpengaruh Positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil pengujian hipotesis ini dapat dilihat pada Tabel 4.7 yang menunjukkan bahwa hubungan variabel Ukuran Pemerintah daerah dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerinta menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0.014 dengan nilai t statistik sebesar -0.368. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar 2.015. Hasil ini berarti menunjukkan bahwa Ukuran Pemerintah Daerah tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hal ini berarti Hipotesis ditolak. Hal ini mengindikasikan bahwa UPD tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat pemerintah dalam mengungkapkan laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota provinsi Aceh. UPD yang besar dalam implementasi Pengungkapan Laporan Keuangan Daerah diharapkan di tahun berikutnya mampu memberikan motivasi terhadap pemerintah daerah dalam Pengungkapkan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah agar meningkat.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulana & Handayani (2015), Ratnasari (2015), Mardiana (2016), dan Simbolon & Kurniawan (2017) yang menyatakan bahwa Ukuran Pemerintah Daerah berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
63
2. Kemandirian Daerah terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Kemandirian Daerah berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil pengujian hipotesis ini dapat dilihat pada Tabel 4.7 yang menunjukkan bahwa hubungan variabel Kemandirian Daerah dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar 0.003 dengan nilai t statistik sebesar 2.168. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar 2.015. Hasil ini berarti menunjukkan bahwa sistem Kemandirian Daerah Berpengaruh Positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hal ini berarti Hipotesis diterima.
Kemandirian Daerah menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah melunasi pajak dan retribusi daerah. Dengan demikian, Kemandirian Daerah yang tinggi maka semakin besar tuntutan pemerintah dalam melakukan pengungkapan laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota provinsi Aceh.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulana & Handayani (2015), Mardiana (2016), Simbolon & Kurniawan (2017) yang menyatakan bahwa Kemandirian Daerah tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan.
3. Intergovernmental Revenue terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Intergovernmental Revenue berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil pengujian hipotesis ini dapat dilihat pada Tabel 4.7 yang menunjukkan bahwa hubungan variabel Intergovernmental Revenue dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0.015 dengan nilai t statistic sebesar -0.922. Nilai tersebut lebih kecil dari t tabel sebesar 2.015. Hasil ini berarti menunjukkan bahwa Intergoverntmental Revenue tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hal ini berarti Hipotesis ditolak.
Intergovernmental Revenue menggambarkan ketergantungan pemerintah daerah tersebut tinggi sehingga pemerintah pusat akan meminta memberikan pengungkapan dengan tingkat yang tinggi kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti tidak menemukan bahwa ketergantungan yang terjadi kepada pemerintah daerah Provinsi Aceh meningkatkan pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulana & Handayani (2015), Herningsih (2013), Simbolon & Kurniawan (2017) yang menyatakan bahwa Intergovernmental Revenue tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan. Namun tidak sejalan dengan Ratnasari
65
(2016) yang menyatakan Intergovernmental Revenue Berpengaruh Positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
4. Ukuran Legislatif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Ukuran Legislatif berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil pengujian hipotesis ini dapat dilihat pada Tabel 4.7 yang menunjukkan bahwa hubungan variabel Kemandirian Daerah dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar -0.004 dengan nilai t statistic sebesar -2.307. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar 2.015. Hasil ini berarti menunjukkan bahwa sistem Ukuran Legislatif Berpengaruh Negatif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hal ini berarti Hipotesis diterima. Ukuran Legislatif yang besar akan mampu meningkatkan pengawasan pada pengungkapan laporan keuangan pemerintah daerah sehingga berdampak dengan adanya peningkatan pengungkapan laporan keuangan pemerintah daerah akan lebih bertanggung jawab dalam mengungkapkan informasi akuntansi sesuai dengan SAP. Dalam penelitian ini peneliti menemukan hal yang berbeda dengan adanya Ukuran Legislatif yang besar maka Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah semakin menurun hal ini menggambarkan bahwa dengan ukuran legislative yang besar tidak meningkatkan pengawasan yang lebih ketat juga.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mardiana (2016) yang menyatakan bahwa Kemandirian Daerah berpengaruh
positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan. Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Simbolon (2017) yang menyatakan bahwa Ukuran Legislatif tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan.
5. Temuan Audit terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Temuan Audit berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hasil pengujian hipotesis ini dapat dilihat pada Tabel 4.7 yang menunjukkan bahwa hubungan variabel Temuan Audit dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah menunjukkan nilai koefisien jalur sebesar 0.038 dengan nilai t statistic sebesar 3.727. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar 2.015. Hasil ini berarti menunjukkan bahwa sistem Temuan Audit Berpengaruh Positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Hal ini berarti Hipotesis diterima. Temuan Audit mengakibatkan BPK meminta adanya peningkatan pengungkapan serta koreksi atas LKPD. Hal menggambarkan bahwa semakin besar temuan audit maka semakin tinggi upaya pemerintah daerah provinsi Aceh untuk meningkatkan pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulana (2015), Herningsih (2013), Mardiana (2016) yang menyatakan bahwa Temuan Audit tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan
67
(2016) yang menyatakan temuan audit berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah daerah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ukuran Pemerintah Daerah, Kemandirian Daerah, Intergovernmental Revenue, Ukuran Legislatif dan Temuan Audit secara simultan atau bersama-sama berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.
2. Ukuran Pemerintah Daerah secara parsial tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.
3. Kemandirian Daerah secara parsial berpengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.
4. Intergovernmental Revenue secara parsial tidak berpengaruh terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.
5. Ukuran Legislatif secara parsial berpengaruh negatif terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.
6. Temuan Audit secara parsial berpengaruh positif terhadap Tingkat
69
Provinsi Aceh.
7. Rata-rata tingkat pengungkapan LKPD di Provinsi Aceh adalah sebesar 59%, yaitu rata-rata daerah hanya mengungkapkan sebanyak 31 item dari total item yang harus diungkapkan sebanyak 53 item.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Kurangnya data yang dikumpulkan sehingga mampu membuat penelitian tidak maksimal dalam hasil. Ada baiknya peneliti di masa depan melakukan penelitian sejenis dengan memperlebar tahun penelitian agar jumlah sampel lebih banyak.
2) Peneliti seharusnya menambah daerah penelitian karena hal ini mampu memeberikan hasil berbeda dengan adanya perbedaan budaya antar provinsi.
5.3 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Variabel Ukuran Pemerintah Daerah, Kemandirian Daerah, Intergovernmental Revenue dan juga Temuan Audit adalah satu kesatuan yang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah sehingga peneliti memberi saran agar pemerintah daerah Provinsi Aceh untuk memperhatikan aspek aspek penting ini agar mampu memberikan tingkat pengungkapan yang tinggi sehingga transparansi dana akuntabilitas
terjaga.
2. Pihak instansi terkait diharapkan dapat lebih memberikan wewenang jelas untuk variabel Ukuran Legislatif sehingga dengan Ukuran Legislatif yang semakin besar mampu memberikan pengawasan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah daerah.
3. Disarankan juga kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian pada daerah/Provinsi lain atau dengan menambah variabel lain untuk membuktikan konsistensi hasil penelitian.
71
DAFTAR PUSTAKA
Afrianti, D. (2011). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Informasi Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di Kabupaten Batang). DIPONEGORO SEMARANG.
Arifin, I., & Fitriasari, D. (2014). Pengungkapan Laporan Keuangan Kementrian/Lembaga, Karakteristik Organisasi dan Hasil Audit BPK.
BPKRI. (2018). Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2018.
Daniri, M. A. (2005). Good Corporate Governance: Konsep Penerapannya dalam Konteks Indonesia. Penerbit Ray.
Davis, J. H., Schoorman, F. D., & Donaldson, L. (1997). Toward a Stewardship Theory of Management, 22(1), 20–47.
Dwiranda. (2008). Efektivitas dan Kemandirian Keuangan Daerah Otonom Kabupaten/Kota Di Propinsi Bali Tahun 2002-2006. Universitas Udayana.
Feriyanti, M., Hermanto,. & Suransi, K. N. (2015). Determinan Kepatuhan Pada Ketentuan Pengungkapan Wajib Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Jurnal infestasi. 11(2). 171 – 185.
Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 (Edisi 7). Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hendriyani, R., & Tahar, A. (2015). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Di Indonesia, 22(1), 25–33.
Heriningsih, S., & Rusherlistyani. (2013). Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan. Jurnal Ekonomi & Bisnis, 13(71), 11–19.
Hilmi, A. Z., & Martani, D. (2011). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi. Simposium Nasional Akuntansi XV, 1–26.
Imawan, R. (2014). Pengaruh Katrakteristik Pemerintah daerah Terhadap Kemandirian Keuangan Daerah. Universitas Negri Semarang.
Kawedar, W. (2010). Opini Audit dan Sistem Pengendalian Intern (Studi Kasus di Kabupaten PWJ Yang Mengalami Penurunan Opini Audit).
Khasanah, N. L., & Rahardjo, S. N. (2014). Pengaruh Karakteristik, Kompleksitas, Dan Temuan Audit Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, 3, 1–11.
Lesmana, S. I. (2010). Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Pengungkapan Wajib di Indonesia.
Maulana, C., & Handayani, B. D. (2015). Pengaruh Krakteristik, Kompleksitas Pemerintahan dan Temuan Audit Terhadap Tingkat Pengungkapan Wajib LKPD. Accounting Analysis Journal, 1(2), 1–6. https://doi.org/ISSN 2252- 6765.
Mulyadi. (2002). Auditing. In Buku 1, edisi 6. Jakarta: Salemba Empat.
Naopal, F., Rahayo, S., & Yudowati, S.P. (2017). Pengaruh Karakteristik Daerah, Jumlah Penduduk, Temuan Audit, dan Opini Audit Terhadap Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Patrick, P. A. (2007). The Determinants of Organizational Innovativeness: The Adoption of GASB 34 in Pennsylvania Local Government. The Pennsylvania State University.
Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
Raharjo, E. (2007). Teori Agensi Dan Teori Stewarship Dalam Perspektif Akuntansi, 2, 37–46.
Rahayu, A., & Mardiana, A. (2016). Pengaruh Karakteristik, Kopleksitas, dan Temuan pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan Sistem Pengendalian Intern Sebagai Variabel Moderating Pada LKPD Kabupaten/Kota Di Sulawesi Selatan, 169–192.
Ramdhani, D. (2016). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah di Provinsi Banten. Ratnasari, A. D. (2016). Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan
Audit BPK RI Terhadap Tingkat Pengungkapan Wajib Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, 1–25.
Sari, D. (2013). Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Pemerintah , Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan , Penyelesaian Temuan Audit Terhadap Penerapan Prinsip-Prinsip Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, 1007–
1049(2013).
73
Sekaran, U., & Bougie, R. (2013). Research Methods for Busniness. New York:
Jhon Wiley & Sons LTD.
Setyaningrum, D., & Syafitri, F. (2012). Analisis Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan.
Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Indonesia, 9(2), 154–
170. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21002/jaki.2012.10
Simbolon, H. A. U., & Kurniawan, C. H. (2017). Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Di Seluruh Provinsi Indonesia, 30(1), 54–70.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Sukmaningrum, T. (2012). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Informasi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Pemerintah Kabupaten Dan Kota Semarang). Universitas DIPONEGORO SEMARANG.
Sumarjo, H. (2010). Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah.
Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-Undang-Undang-Undang No.
9 Tahun 2015 tentang Pemerintah daerah.
Waliyyani, G. M. & Mahmud, A. (2012). Pengaruh Karakteristik Pemerintahan Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah daerah Di Indonesia.
Yosefrenaldi. (2013). Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan Variabel Intervening Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (Studi Empiris pada Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Universitas Negri Padang.
Lampiran 1
Item Pengungkapan Wajib
Item Pengungkapan Wajib Berdasarkan SAP
1. Informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi.
2. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro.
3. Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target.
4. Informasi tentang dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian
penting lainnya.
5. Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka laporan keuangan.
6. Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
7. Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
PSAP Nomor 5 tentang Akuntansi Persediaan
8. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;
9. Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat.
10. Jenis, jumlah, dan nilai persediaan dalam kondisi rusak atau usang.
PSAP Nomor 6 tentang Akuntansi Investasi
11. Kebijakan akuntansi untuk penentuan nilai investasi.
12. Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan nonpermanen.
13. Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang;
14. Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab penurunan tersebut;
15. Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan penerapannya;
16. Perubahan pos investasi.
PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap
17. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carrying
75
amount);
Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
18. Penambahan;
19. Pelepasan;
20. Akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, jika ada;
21. Mutasi aset tetap lainnya.
Informasi penyusutan, meliputi:
22. Nilai penyusutan;
23. Metode penyusutan yang digunakan;
24. Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
25. Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode;
26. Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap;
27. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap;
28. Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi; dan 29. Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.
Jika aset tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali, maka 8 hal berikut harus diungkapkan:
30. Dasar peraturan untuk menilai kembali aset tetap;
31. Tanggal efektif penilaian kembali;
32. Jika ada, nama penilai independen;
33. Hakikat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti;
34. Nilai tercatat setiap jenis aset tetap.
PSAP No 08 tentang AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN 35. Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiannya;
36. Nilai kontrak konstruksi dan sumber pendanaannya.
37. Jumlah biaya yang telah dikeluarkan dan yang masih harus dibayar;
38. Uang muka kerja yang diberikan;
39. Retensi
40. Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang yang diklasifikasikan berdasarkan pemberi pinjaman;
41. Jumlah saldo kewajiban berupa utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas utang pemerintah dan jatuh temponya;
42. Bunga pinjaman yang terutang pada periode berjalan dan tingkat bunga yang berlaku;
43. Konsekuensi dilakukannya penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo Perjanjian restrukturisasi utang meliputi:
44. Pengurangan pinjaman;
45. Modifikasi persyaratan utang;
46. Pengurangan tingkat bunga pinjaman;
47. Pengunduran jatuh tempo pinjaman;
48. Pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman; dan
49. Pengurangan jumlah bunga terutang sampai dengan periode pelaporan 50. Jumlah tunggakan pinjaman yang disajikan dalam bentuk daftar umur utang berdasarkan kreditur.
Biaya pinjaman:
51. Perlakuan biaya pinjaman;
52. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi pada periode yang bersangkutan;
53. Tingkat kapitalisasi yang dipergunakan
77 Lampiran 2
HASIL UJI
Uji Asumsi Klasik Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 8.012 16.072 .499 .620
LnUPD -6.774 6.574 -.175 -1.030 .307
LnKD .247 .260 .161 .951 .345
LnIR .613 .432 .176 1.419 .161
LnUL 1.264 .737 .220 1.715 .091
LnTA -.254 .865 -.037 -.293 .770
a. Dependent Variable: Lnei2 Charts
Regresi Linier Berganda Regression
Variables Entered/Removeda Model Variables
Entered
Variables Removed
Method
1 TA, IR, UPD, UL, KDb
. Enter a. Dependent Variable: TPLKPD
b. All requested variables entered.
79