BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Pada pembahasan hasil penelitian ini akan membahas masing-masing hipotesis dalam penelitian yang terdapat pada bab II mengenai pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning (DL) dan Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sejarah ditinjau dari minat belajar peserta didik pada kelas XI IPS sekolah menengah atas Negeri di Kabupaten Boyolali. Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut:
1. Hipotesis Penelitian Pertama
Ada perbedaan pengaruh posistif antara model pembelajaran Discovery Learning (DL) dan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sejarah. Kesimpulan tersebut di peroleh Berdasarkan hasil analisis anava dua jalan menggunakan program SPSS 19 dengan hasil Fhitung (8.540) >
Ftabel (3.15). Berdasarkan hasil analisis data model pembelajaran Discovery
Learning (DL) untuk prestasi belajar sejarah memperoleh rata-rata (mean = 81.918) lebih baik dari pada model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang memperoleh nilai rata-rata prestasi belajar sejarah sebesar (mean =78.755).
Dari hasil penelitian yang telah di uraikan dapat dikatakan bahwa prestasi peserta didik yang mendapat perlakuan menggunakan model pembelajaran
Discovery Learning (DL) memiliki rata-rata nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang diberikan perlakuan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaiut 89.918 > 78.755 dari perolehan data dari penelitian ini dapat dikatakan model pembelajaran Discovery Learning (DL) lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Model pembelajaran Discovery Learning (DL) lebih efektif dalam penerapannya, Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran menggunaka model pembelajaran Discovery Learning (DL) peserta didik tidak hanya diharapkan aktif dalam mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung, tetapi dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran Discovery Learning (DL) peserta didik juga dituntut untuk mengembangkan segala potensi yang ada di dalam dirinya, baik dalam hal menganalisis, mengobserfasi dan banyak kemampuan lainnya yang tidak terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.
Pendapat diatas sesuai dengan pendapat Bell (1978) berpendapat belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagai hasil dari peserta didik memanipulasi struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ia menemukan informasi baru. Dalam belajar penemuan, peserta didik dapat membuat perkiraan, merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenarandengan menggunakan proses induktif atau proses dedukatif, melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan, dalam pelaksanaan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning (DL) peserta didik tidak hanya diajak untuk aktif dalam pembelajaran, tetapi juga mengembangkan kemampuan-kemampuan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru.
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang melakukan pembelajaran dengan berdasarkan pada masalah-masalah yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat (problem) dengan tujuan suapaya peserta didik dapat menghadapai segala masalah yang kemungkinan terjadi di dalam kehidupan peserta didik ketika bermasyarakat. Hal ini sependapat dengan Hosnan (2014:295) Dalam penerpannya model pembelajaran ini menggunakan masalah dalam kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang harus dipelajari peserta didik untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting.
Kelemahan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terletak pada penerapannya, dimana dalam penerapannya model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) hanya belajar berdasarkan masalah-masalah yang terjadi di dalam masayarakat dan tidak memaksa peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam dirinya seperti kemampuan untuk mengobservasi, menganalisis, dan mengevaluasi sehingga kemampuan-kemampuan lain dari peserta didik peserta didik tidak dapat berkembang dalam penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
2. Hipotesis Penelitian Kedua
Ada perbedaan pengaruh antara peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi dengan peserta didik yang memiliki minat belajar rendah terhadap prestasi belajar sejarah. Kesimpulan itu diperoleh dari pengujian statistika yang telah dilakukan menggunakan program SPSS 19 dengan hasil, diperoleh nilai Fhitung
(85.544) > Ftabel (3.15), dengan rata-rata yang diperoleh minat belajar tinggi
(mean = 84.152) dimana lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata yang diterima minat belajar rendah (mean = 73.519).
Peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi memperoleh rata-rata nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki minat belajar sejarah rendah yaitu 84.152 > 73.519 hal ini sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik (2003: 33) mengemukakan belajar dengan minat akan mendorong peserta didik belajar lebih baik dari pada belajar tanpa minat. Sejalan dengan Ahmadi dan Supriyono (2004: 83) bahwa tidak adanya minat peserta didik terhadap suatu pelajaran akan menimbulkan kesulitan dalam belajar. Belajar dengan minat mendorong peserta didik akan belajar lebih baik akan tetapi minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil.
Minat timbul jika peserta didik tertarik akan sesuatu yang dibutuhkan atau yang dipelajari bermakna bagi dirinya, sehingga minat sangat diperlukan dalam menentukan proses pembelajaran didalam kelas yang dilakukan berhasil atau tidak berhasil, pendapat diatas sesuai dengan pendapat Buchori (1982:135)
3. Hipotesis Penelitian Ketiga
Tidak ada interaksi pengaruh antara model pembelajaran dengan minat belajar peserta didik terhadap prestasi belajar sejarah, kesimpulan itu diperoleh berdasarkan pengujian statistika yang telah dilakukan menggunakan program SPSS 19 mengenai iteraksi pengaruh antara model pembelajaran dengan minat belajar terhadap prestasi belajar sejarah, diperolehlah nilai Fhitung (0.089) < Ftabel
(3.15) sehingga dengan diperolehnya nilai Fhitung lebih kecil dibandingkan dengan
nilai Ftable.
Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini termasuk kedalam pendekatan Saintifik, adapaun tujuan dari pendekatan saintifik (Hosnan, 2014:36) adalah:
a. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik.
b. Untuk membentuk kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
c. Terciptanya kondisi pembelajaran dimana peserta didik merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
d. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
e. Untuk melatih peserta didik dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
f. Untuk mengembangkan karakter peserta didik.
Dari tujuan pelaksanaan pendekatan Saintifik di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini adalah
model-model pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran, selain itu model yang digunakan dalam penelitian ini juga bertujuan untuk membangkitkan minat pada diri peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, diawali dengan membuat peserta didik merasa butuh untuk mempelajari pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Tujuan dari pendekatan saintifik sejalan dengan pendapat Slameto yang mengatakan bahwa
Dengan penggunaan model pembelajaran yang menarik diharapkan dapat membangkitkan minat peserta didik dalam belajar sehingga dapat membuat prestasi peserta didik dalam belajar menjadi lebih baik, pendapat ini sejalan dengan Oemar Hamalik (2003: 33) mengemukakan belajar dengan minat akan mendorong peserta didik belajar lebih baik dari pada belajar tanpa minat. Minat timbul jika peserta didik tertarik akan sesuatu yang dibutuhkan atau yang dipelajari bermakna bagi dirinya.
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery learning (DL) dan Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran sejarah sudah dianggap baik dalam penyampaian materi pelajaran kepada peserta didik, dengan langkah-langkah pembelajaran yang interaktif dengan tujuan mengajak peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran dan menanamkan rasa butuh pada peserta didik untuk belajar sehingga dapat menumbuhkan minat yang tinggi dalam diri peserta didik untuk mengikuti pelajaran yang di ajarkan guru di dalam kelas.
Berbeda dengan tujuan dari penerapan model-model yang termasuk kedalam pendekatan saintifik dalam penelitian ini, dimana salah satu tujuan dari penerapannya tidak hanya mengajak peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran, adapun tujuaan lainnya adalah menanamkan rasa kebutuhan siswa terhadap pelajaran yang di ajarkan dengan harapan dapat membangkitkan minat yang tinggi dalam diri peserta didik untuk belajar. Tetapi hasil uji hipotesis dari penelitian ini menjelasakan tidak adanya pengaruh antara penggunaan model dalam pembelajaran dengan minat belajar pada diri peserta didik.
Tidak adanya interaksi antara model pembelajaran yang digunakan dengan minat belajar peserta didik, dapat diakibatkan oleh beberapa faktor lain selain model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran di kelas, adapun beberapa faktor lain itu adalah, faktor lingkungan tempat tinggal siswa, faktor penguasaan guru terhadap model pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas, dan juga factor ketertarikan siswa terhadap materi pelajaran yang sedang berlangsung saat penelitian ini di laksanakan.
E. Keterbatasan Penelitian
Pada pelaksanaan penelitian ini telah dilaksanakan semaksimal mungkin. Namun adapun yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya dilakukan dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Discovery Learning (DL) dan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
2. Populasi yang diteliti dalam penelitian ini hanya terbatas pada peserta didik di SMA Negeri 1 Boyolali dan peserta didik di SMA Negeri 1 Teras kelas XI tahun ajaran 2015/2016.
3. Sulitnya melihat kejujuran peserta didik dalam mengisi angket minat yang telah diberikan, sehingga kategori angket minat mungkin masih belum akurat sepenuhnya.
4. Dalam pengerjaan tes prestasi belajar sejarah masih terdaat beberapa peserta didik yang bekerja sama dalam pengerjaannya, sehingga berdampak pada data penelitian yang menjadi kurang terpercaya.
5. Pelaksanaan peneitian masih terdapat beberapa kekurangan dikarenakan situasi dan kondisi sekolah dan peserta didik yang berbeda pada tiap sekolah. Meskipun demikian hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini tidak dapat digeneralisasikan kepada peserta didik yang berbeda
117
A. Kesimpulan
Berdasarkan data yang telah diperoleh dari peniltitan, dapat disimpulkan guna menjawab rumusan masalah dan tujuan yang telah diterapkan dalam penelitian ini. Adapun kesimpulannya adalah sebagai berikut:
1. Terdapatnya perbedaan pengaruh dalam penggunaan model pembelajaran Discovery Learning (DL) dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sejarah. Prestasi belajar sejarah peserta didik pada penerapan model Discovery Learning (DL) lebih baik dibandingkan dengan nilai prestasi belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
2. Terdapanya perbedaan pengaruh antara minat belajar tinggi dengan minat belajar rendah terhadap prestasi belajar sejarah. Prestasi belajar sejarah yang diperoleh peserta didik dengan minat belajar tinggi lebih baik dibandingkan dengan nilai prestasi beajar peserta didik dengan minat rendah.
3. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara model dengan minat belajar terhadap prestasi belajar sejarah. Peserta didik yang memiliki minat tinggi pada penerapan model pembelajaran Discovery Learning (DL) memiliki nilai prestasi belajar sejarah yang lebih baik jika dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki minat tinggi pada penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Sedangkan peserta didik yang memiliki minat rendah
pada penerapan model pembelajaran Discovery Learning (DL) memiliki nilai prestasi belajar sejarah yang lebih baik jika dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki minat rendah pada penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)