HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan penyajian hasil analisis data, dibahas tentang pembelajaran dalam penerapan metode investigasi terhadap peningkatan pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.
Permasalahan pokok tersebut meliputi kompetensi mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan dengan memperhatikan aspek kesesuaian judul dengan isi laporan, oraganisasi laporan, tata bahasa, diksi, dan ejaan.
Penerapan pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan melalui metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op menekankan pada pengajuan masalah dan pemecahan masalah. Pengajuan masalah terdiri atas dua aspek penting, yaitu accepting dan challenging. Accepting berkaitan dengan kemampuan siswa memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang telah ditentukan.
Sementara challenging berkaitan dengan sejauh mana siswa tertantang dari situasi yang telah diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah.
Pengajuan masalah memunculkan reaksi siswa terhadap situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa respons dalam bentuk pernyataan, terlepas dari apakah pertanyaan tersebut dapat dipecahkan atau tidak. Pertanyaan tersebut mungkin berkaitan dengan situasi yang diberikan atau merupakan pengembangan dari situasi lain.
Hasil tes pratindakan menunjukkan bahwa kompetensi siswa dalam hal kesesuaian judul dengan isi laporan, oraganisasi laporan, tata bahasa, diksi, dan
ejaan dalam menulis laporan sangat rendah. Hal ini yang menjadi tolok ukur peneliti untuk mendapatkan sumber data. Pada prinsipnya, pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis laporan, tempat belajar tidak terikat di mana dan kapan saja dapat dilaksanakan proses belajar mengajar di lingkungan sekolah ataupun di tempat rekreasi siswa bebas memilih objek untuk dijadikan sebagai objek tulisan.
Itulah yang dilakukan guru dan peneliti memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih objek sesuai dengan hasil observasi siswa sendiri dan hasil sangat menggembirakan karena dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam hal menulis laporan meliputi kesesuaian judul dengan isi laporan, oraganisasi laporan, tata bahasa, diksi, dan ejaan. Evaluasi keterampilan menulis yang difokuskan pada kesesuaian judul dengan isi laporan, oraganisasi laporan, tata bahasa, diksi, dan ejaan, sejalan dengan prinsip utama evaluasi keterampilan menulis yang dikemukakan oleh (Nurgiyantoro, 2008). Menurutnya, penilaian menulis dapat dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian judul dengan isi laporan, oraganisasi laporan, tata bahasa, diksi, dan ejaan.
Evaluasi keterampilan menulis yang difokuskan pada kesesuaian judul dengan isi laporan, oraganisasi laporan, tata bahasa, diksi, dan ejaan, setelah dilakukan tindakan pertama dan kedua menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan karena dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis laporan.
Pada hasil tes siklus pertama ditunjukkan bahwa ketepatan isi gagasan dalam menulis laporan sudah meningkat yang tergolong tinggi. Hasil analisis siklus pertama aspek isi gagasan, oraganisasi isi, tata bahasa, diksi, dan ejaan berada pada kategori tinggi. Namun, keempat aspek dalam menulis laporan tersebut masih perlu diberikan melalui pembelajaran berdasarkan siklus dengan menerapkan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dalam pembelajaran menulis laporan. Hasil tes siklus pertama menunjukkan bahwa ketepatan isi gagasan dalam menulis laporan tergolong rendah.
Hal tersebut berdampak negatif terhadap hasil belajar siswa dalam mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan siklus I. Berdasarkan kategori kemampuan siswa dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi. Selanjutnya, siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 2 orang (5,71%); siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang sebanyak 32 orang (91,42%); siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah sebanyak 1 orang (2,85%); tidak ada siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (0%). Hal ini menunjukkan bahwa hasil siklus I dikategorikan sedang.
Pada aspek ketuntasan, dapat diketahui frekuensi dan persentase hasil pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan siklus I, yaitu sebanyak 2 siswa (5,71%) yang mampu mendapatkan nilai 70 ke atas dan 33 siswa yang mendapat nilai di bawah 70 (94,28%). Hal ini berarti bahwa pembelajaran menulis laporan siklus I belum memadai (belum tuntas). Hal ini dinyatakan sebab
hanya (5,71%) yang mendapat nilai 70 ke atas atau tidak mencapai kriteria yang ditetapkan, yaitu 85%. Jadi, ditinjau dari aspek ketuntasan belajar, siswa dinyatakan rata-rata belum tuntas untuk siklus I.
Pada hasil tes siklus kedua tergolong tinggi. Hasil analisis siklus kedua aspek isi gagasan, oraganisasi isi, tata bahasa, diksi dan ejaan berada pada kategori tinggi.
Oleh karena itu, keempat aspek dalam menulis laporan tersebut sudah dipahami oleh siswa.
Hal tersebut berdampak positif terhadap hasil belajar siswa dalam mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan siklus II. Berdasarkan kategori kemampuan tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah dan rendah (0%). Artinya, nilai yang diperoleh siswa rata-rata berada pada kategori tinggi dan kategori sangat tinggi.
Selanjutnya, pada aspek ketuntasan belajar, dapat diketahui frekuensi dan persentase hasil pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan siklus II, yaitu sebanyak 32 siswa (91,42%) yang mampu mendapatkan nilai 70 ke atas dan 3 siswa yang mendapat nilai di bawah 70 (8,57%). Hal ini berarti bahwa pembelajaran menulis laporan siklus II memadai (tuntas). Hal ini dinyatakan sebab sudah melebihi target 85% dengan perolehan persentase mencapai (91,42%) yang mendapat nilai 70 ke atas. Jadi, ditinjau dari aspek ketuntasan belajar, siswa dinyatakan rata-rata sudah tuntas untuk siklus II.
Peningkatan kemampuan siswa tersebut tentunya dipengaruhi pula oleh penerapan penilaian pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk
laporan. Pelaksanaan penilaian terhadap kegiatan pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan melalui metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dibagi dua macam penilaian, yaitu (1) penilaian proses kegiatan pembelajaran menulis dan (2) penilaian hasil tulisan menulis laporan siswa. Penilaian proses adalah suatu bentuk penilaian kinerja siswa dalam mengikuti seluruh rangkaian pelaksanaan kegiatan pembelajaran menulis dari tahap pramenulis sampai tahap pascamenulis. Penilaian hasil adalah suatu bentuk penilaian produk dari kegiatan pembelajaran menulis dalam wujud tulisan atau laporan siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian terhadap kegiatan pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan melalui metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dilakukan dalam dua macam penilaian, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Hal ini, sejalan dengan Tompkins (1994:131) yang menyatakan bahwa untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan pembelajaran menulis dan kemampuan menulis peserta didik digunakan penilaian proses menulis dan penilaian hasil.
Penilaian proses meliputi penilaian secara keseluruhan proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik mulai tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Dalam penilaian proses kegiatan pembelajaran ditemukan adanya antusias, aktivitas, produktivitas, dan kerja sama peserta didik selama pelaksanaan pembelajaran menulis. Untuk menilai antusias, aktivitas, produktivitas, dan kerja sama peserta didik selama pelaksanaan pembelajaran menulis dengan menggunakan
lembar observasi. Lembar observasi tersebut berguna untuk memberikan arahan kepada guru tentang aktivitas yang perlu dilakukan dan dikuasai oleh siswa.
Penilaian hasil meliputi hasil laporan peserta didik yang dinilai berdasakan rambu-rambu hasil yang telah disiapkan. Penilaian hasil dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menganalisis perkembangan kemampuan peserta didik dalam mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan yang dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan pembelajaran setiap siswa. Sasaran yang dinilai dalam penilaian hasil belajar adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap apa yang dipelajarinya itu, tampak pada keberhasilan tujuan pengajaran. Penilaian hasil terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran dikumpulkan melalui tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis.
Secara umum, temuan penilaian hasil pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan melalui metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op menunjukkan, bahwa semua siswa terteliti kelompok tinggi, sedang, dan rendah telah mencapai ketuntasan belajar.
Secara khusus penilaian hasil tulisan peserta didik selama pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan pada siklus II dapat dipaparkan sebagai berikut. (1) Kesesuaian topik atau masalah penulisan dengan tema telah mencapai ketuntasan belajar dengan kualifikasi sangat baik. (2) Kesesuaian susunan pertanyaan dan jawaban dengan pengembangan topik/masalah (dengan kata tanya:
apa, mengapa, dan bagaimana) tercapai ketuntasan dengan kualifikasi sangat baik.
(3) Penentuan judul sesuai dengan masalah, tema, topik, dan isi laporan tercapai
ketuntasan belajar dengan kualifikasi sangat baik. (4) Keterincian pengembangan gagasan dengan penalaran telah mencapai ketuntasan belajar dengan kualifikasi sangat baik. (5) Ketepatan pengorganisasian gagasan dengan unsur kriteria paragraf yang baik (kelengkapan, keruntutan, keutuhan dan kepaduan) telah mencapai ketuntasan belajar dengan kualifikasi sangat baik. (6) Ketepatan penggunaan unsur menulis laporan mencapai ketuntasan belajar dengan kualifikasi sangat baik. (7) Ketepatan penggunaan unsur kebahasaan (tanda baca, ejaan, dan diksi) dalam tulisan tercapai ketuntasan belajar dengan kualifikasi sangat baik.
Berdasarkan temuan penilaian hasil tulisan yang dicapai oleh siswa selama pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan pada siklus II hampir semua siswa terteliti telah mencapai ketuntasan belajar. Walaupun, ada peserta didik yang mengalami sedikit hambatan pada dua aspek dalam pembelajaran menulis siklus II, yaitu pemenuhan unsur kriteria menulis laporan yang baik dan ketepatan pemakaian unsur mekanik kebahasaan. Hal tersebut dapat ditempuh dengan konferensi kecil antarsiswa dalam kelompok dengan bimbingan guru, maka hambatan dapat teratasi. Dengan demikian, hasil tulisan peserta didik pada siklus II telah menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.
Penerapan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dapat meningkatkan pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan.
Melalui metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op, siswa benar-benar tertuntun belajar berdasarkan masalah dan memecahkan masalah (problem solving). Selain itu, siswa mengalami proses pembelajaran menulis laporan yang selama ini hanya
menguatamakan hasil. Bukan hanya hal tersebut, melainkan juga pembelajaran dengan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op mendidik siswa belajar merumuskan dan menyelesaikan berbagai masalah.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Upu (2003 : 15) bahwa sebagai suatu metode, investigasi sebagai bentuk co-op co-op berkaitan dengan pendidikan siswa melalui perumusan situasi yang menantang, sehingga dapat mengajukan pertanyaan yang dapat diselesaikan dan berakibat kepada peningkatan kemampuan dalam memecahkan masalah. Selain itu, investigasi sebagai bentuk co-op co-op berhubungan dengan kompleksitas dan kualitas masalah yang diajukan oleh siswa berdasarkan situasi dan masalah yang diberikan.
Berdasarkan penerapan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan, tampak bahwa metode ini membangun struktur kognitif siswa. Hal ini dilakukan oleh siswa dengan cara mengaitkan skemata yang dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op merupakan suatu metode yang efektif karena kegiatan investigasi sebagai bentuk co-op co-op itu sesuai dengan pola pikir dalam arti pengembangan sering terjadi dari investigasi sebagai bentuk co-op co-op.
Penerapan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dalam pembelajaran mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan memberikan banyak manfaat bagi siswa, yaitu membuka peluang dan kesempatan berpikir bebas dan kritis, memotivasi siswa, siswa melakukan pembaharuan konsep atau pemecahan masalah. Selain itu investigasi sebagai bentuk co-op co-op menjadi awal
usaha intelektual yang berfungsi untuk merangsang pikiran, mendobrak wawasaan yang kaku dan sempit, membuka cakrawala dan mencerdaskan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ahmadi dan Prasetya (2005), bahwa metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op memberikan banyak manfat dalam pembelajaran, yaitu (1) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih luas dan menganalisis secara lebih mendalam tentang suatu topik. (2) Memotivasi siswa untuk belajar lebih lanjut. (3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sikap kreatif, bertangguang jawab, dan berdiri sendiri. (4) Pengetahuan akan lebih lama diingat siswa karena diperoleh dari hasil belajar atau hasil eksperimen yang berhubungan dengan minat mereka dan lebih terasa berguna untuk kehidupan mereka.
BAB V