• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP"

Copied!
160
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENULISAN LAPORAN WAWANCARA SISWA KELAS VIII SMPN SATAP 4 LIUKANG TUPABIRING PULAU KARANRANG

KABUPATEN PANGKEP

TESIS

HERMAWATI

NIM: 04034622009

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2012

(2)

i

TUPABIRING PULAU KARANRANG KABUPATEN PANGKEP

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Derajat Magister

Program Studi

Pendidikan Bahasa Indonesia Disusun dan Diajukan oleh

HERMAWATI NIM: 04034622009

kepada

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2012

(3)

ii

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN CO-OP CO-OP (INVESTIGASI) DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN PENULISAN LAPORAN

WAWANCARA SISWA KELAS VIII SMPN SATAP 4 LIUKANG TUPABIRING PULAU KARANRANG KABUPATEN PANGKEP

yang disusun dan diajukan oleh

HERMAWATI NIM: 04034622009

Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Tesis pada tanggal 25 Juni 2012

Menyetujui Komisi Pembimbing

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. H. Kamaruddin, M. A. Dr. Abd. Rahman Rahim, M. Hum.

Ketua Sekretaris

Mengetahui

Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi Universitas Muhammadiyah Pendidikan Bahasa

Makassar, dan Sastra Indonesia

Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M. Pd. Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum.

NBM 988 463 NBM 866 922

(4)

iii

Makassar 90221

HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI

Judul Tesis :Penerapan Metode Pembelajaran Co-Op Co-Op (Investigasi) dalam Peningkatan Kemampuan Penulisan Laporan Wawancara Siswa Kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep

Nama Mahasiswa : Hermawati

NIM : 04034622009

Program Studi : Pendidikan Bahasa

Kekhususan : Bahasa dan Sastra Indonesia

Telah diuji dan dipertahankan di depan Panitia Penguji Tesis pada tanggal 25 Juni 2012 dan dinyatakan telah memenuhi persyaratan dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Juni 2012 Tim Penguji:

1. Prof. Dr. H. Kamaruddin, M. A. (……….)

(Ketua/Pembimbing/Penguji)

2. Dr. Abd. Rahman Rahim, M. Hum. (……….)

(Sekretaris/Pembimbing/Penguji)

3. Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd. (……….) (Penguji)

4. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum. (……….)

(Penguji)

(5)

iv Nama Mahasiswa : Hermawati

NIM : 04034622009

Program Studi : Pendidikan Bahasa

Kekhususan : Bahasa dan Sastra Indonesia

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Juni 2012

Yang menyatakan,

Hermawati

(6)

v

Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa taala berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul ”Penerapan Metode Pembelajaran Co-op Co-op (Investigasi) dalam Peningkatan Kemampuan Penulisan Laporan Wawancara Siswa Kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep” Tesis ini diajukan guna memenuhi salah satu persyaratan akademik untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam penyusunan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan dalam bentuk bimbingan, saran, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada yang telah membantu penulis.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof. Dr. H. Kamaruddin, M. A. pembimbing I dan Dr. Abd. Rahman Rahim, M. Hum. pembimbing II yang telah membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dan Direktur Program Pascasarjana Universitas

(7)

vi

maupun pada saat penulisan tesis. Ucapan terima kasih pula kepada seluruh dosen dan Ketua Prodi. Pendidikan Bahasa Indonesia yang telah membekali penulis berbagai pengetahuan selama perkuliahan sampai pada hasil penelitian ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada guru kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian, dan semua guru di SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep yang telah membantu selama penelitian berlangsung. Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh keluarga yang senantiasa setia mendoakan penulis agar dapat meraih kesuksesan.

Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat terhadap pengembangan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia.

Semoga bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak mendapatkan pahala dari Allah swt.

Makassar, Juni 2012 Penulis,

(8)

vii

HERMAWATI, 2012. Penerapan Metode Pembelajaran Co-op Co-op (Investigasi) dalam Peningkatan Kemampuan Penulisan Laporan Wawancara Siswa Kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep, dibimbing oleh Kamaruddin sebagai Ketua Komisi dan Abd. Rahman Rahim sebagai Sekretaris.

Tujuan penelitian, yaitu meningkatkan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research).

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep Tahun Pelajaran 2011/2012. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, tes menulis, dan alat perekam. Teknik analisis data penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Proses pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode investigasi sebagai bentuk co-op co-op dalam peningkatan pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep dilaksanakan selama dua siklus. Pada siklus I, proses mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan mengalami dikategorikan masih kurang. Hal ini disebabkan oleh perhatian, antusiasme, dan kemampuan siswa menjadi investigasi sebagai bentuk co-op co-op yang kurang memadai. Selain itu, guru belum menuntun dan membimbing secara totalitas kepada siswa dalam melakukan investigasi sebagai bentuk co-op co-op. Namun, proses pelaksanaan mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan pada siklus II sudah meningkat yang didukung oleh perhatian, semangat belajar, kesenangan, serta keterampilan siswa melakukan investigasi sebagai bentuk co-op co-op terhadap temannya. Dengan demikian, proses pelaksanaan siklus I rata-rata dikategorikan kurang dan meningkat pada siklus II menjadi kategori tinggi. (2) Penilaian pembelajaran dalam penerapan pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep siklus I dikategorikan sedang dengan ketuntasan (5,71%) yang mampu mendapatkan nilai 70 ke atas. Namun, pada siklus II meningkat menjadi kategori tinggi dengan ketuntasan mencapai 91,42% yang mendapat nilai 70 ke atas.

(9)

viii

HERMAWATI, 2012. Applying Co-Op Co-Op Learning Method (Investigation) To Increase Writing Skill of Interview Report of the Student Second Grade of SMP Negeri Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

(supervised by Kamaruddin as the head of commission and Abdul Rahman Rahim as secretary)

The purpose of this research was to describe®- of planning, conduction planning, and applying assement method of co-op co-op learning (investigation) to increase writing skill of interview report of the student second grade of SMP Negeri Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

The used approach in this research was qualitative approach. The type of this research is class room action research. This research was conducted in the second of SMP Negeri Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep. Instrument to be used was observation, writing test, and recording tools. Tecnic analyzed to be used is descriptip qualitative.

The result of this research showed that (1) the learning proces by applying investigation method in the form of co-op co-op learning (investigation) to increase writing skill of interview report of the student second grade of SMP Negeri Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep that was conducted for two cycles. In the first cycles, the proces to change interview text becomed report was categirazed still less. It was due to an attention, enthusiasm, and the student ability hi doing investigation on the form of co-op co-op were still low. Beside that, the teacher didn't guide to the student yet hi doing investigation on the form of co-op co-op.

Nevertheless, the process of changing interview text becoming a report on second cycle had incresed that was supported by attention, learning spirit, attractiveness, and the student's skill to do investigation in the form of co-op co-op. So that, the processof the first cycle implementing was categorized still less and increase on the second cycle becomed high category. (2) the learning asseement in applying learning co-op co-op (investigation) to increase writing skill of interview report of the student second grade of SMP Negeri Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep the first cycle was categorized in fan- with the achievement (5,71

%) which got score about 70 and over. But, hi the second cycle becomed high with the achievement (91,42 %) which got score 70 and over.

(10)

ix

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS iv

PRAKATA v

ABSTRAK vi

ABSTRACT vii

DAFTAR ISI ix

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Rumusan Masalah 7

C. Tujuan Penelitian 8

D. Manfaat Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR 10

A. Tinjauan Pustaka 10

B. Kerangka Pikir 38

BAB III METODE PENELITIAN 40

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 40

B. Desain Penelitian 40

C. Definisi Istilah 41

(11)

x

F. Teknik Pengumpulan Data 44

G. Prosedur Penelitian 44

H. Teknik Analisis Data 48

I. Indikator Keberhasilan 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 50

A. Hasil Penelitian 50

B. Pembahasan Hasil Penelitian 104

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 113

A. Simpulan 113

B. Saran 114

DAFTAR PUSTAKA 116

LAMPIRAN 118

(12)

1 A. Latar Belakang

Pembelajaran bahasa Indonesia di SMP pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik keterampilan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Karena kurikulum yang berlaku pada beberapa tahun terakhir ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru harus mengenal, membekali diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul dalam tugas-tugas profesionalismenya.

KTSP 2006 telah mampu memberikan sebuah tatanan baru dalam pembelajaran. Salah satu langkah awal dalam pembelajaran, yaitu keterampilan berbahasa. Tujuan pembelajaran keterampilan berbahasa dilakukan untuk mendapatkan output (hasil) yang terampil dalam bidang kebahasaan. Pembelajaran berbahasa yang dimaksudkan adalah keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut mampu menawarkan sebuah resolusi

(13)

dalam menunjukkan kompetensi dirinya apabila dilaksanakan secara tepat. Salah satu pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih menunjukkan kompetensinya, serta menjadi diri sendiri adalah keterampilan menulis.

Standar kompetensi menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan upaya untuk menunjukkan jati dirinya sebagai pribadi yang mampu, karena siswa akan mampu menuangkan ide/gagasannya, perasaannya, dan pendapatnya dalam bentuk tulisan sesuai dengan keinginannya. Sejalan dengan kenyataan tersebut, Syafi’ie (1998: 26) mengemukakan bahwa menulis adalah menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, keinginan dan informasi ke dalam bentuk tulisan dan kemudian mengirimkannya kepada pembaca (orang lain). Oleh karena itu, menulis dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa yang produktif.

Keterampilan menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang berorientasi pada reproduksi merupakan suatu hal yang paling kompleks yang membutuhkan beberapa syarat penguasaan kosakata, ketatabahasaan, kemampuan menyusun dan merangkaikan gagasan, serta mengembangkan gagasan dalam suatu kebutuhan yang logis, padat, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, siswa sangat dituntut dapat menguasai aspek-aspek yang termuat dalam keterampilan menulis agar dapat menuangkan gagasannya secara terpadu dan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh pembacanya.

Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang menggunakan proses berpikir.

Proses berpikir tersebut dilakukan penulis dalam dua hal, yakni apa dan bagaimana cara menulis. Apa yang ditulis berkaitan dengan gagasan atau materi yang akan

(14)

ditulis, sedangkan bagaimana cara menulis berkaitan dengan pengembangan gagasan. Proses menggali materi yang akan ditulis dilakukan melalui kegiatan pemilihan topik, pengumpulan bahan, perencanaan penataan tulisan, penetapan tujuan menulis dan pengembangan gagasan. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Enre (1994: 163) mengatakan bahwa salah satu tugas penting seorang penulis ialah menguasai cara menulis dan berpikir akan banyak membantu dalam usaha pencapaian sesuatu tujuan yang penting.

Hasil pengamatan peneliti, menunjukkan bahwa rata-rata siswa kurang menyukai pembelajaran menulis. Hal ini disebabkan oleh sulitnya mengorganiasikan tulisannya dengan tepat. Siswa menganggap bahwa menulis membutuhkan kelengkapan syarat yang harus dipenuhi sehingga menjadi suatu beban moril yang ditanggung. Kondisi ini memungkinkan terciptanya minat rendah terhadap kegiatan pembelajaan menulis. Kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajaran menulis tidak secara langsung diketahui oleh guru. Hal ini disebabkan oleh guru yang kurang memahami keinginan siswanya dalam pembelajaran sehingga berimbas pada siswa yang semakin tidak menyenangi pembelajaran tersebut. Dengan kata lain, tidak terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru dalam proses belajar mengajar.

Salah satu keterampilan menulis yang dirasakan sulit bagi siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep adalah menulis laporan hasil wawancara. Berdasarkan pengamatan selama ini sebagai pengajar di sekolah ini adalah tingkat penguasaan siswa menulis laporan wawancara sangat rendah. Perolehan nilai rata-rata semester yang lalu pada aspek menulis

(15)

laporan wawancara rata-rata belum mencapai KKM sehingga dilakukan program remedial dengan tujuan menuntaskan kemampuan siswa menulis laporan wawancara.

Rendahnya kemampuan siswa menulis laporan wawancara disebabkan oleh kemampuan siswa mendapatkan dan memahami informasi dari narasumber.

Informasi yang telah diperoleh dari narasumber sulit pula dikomunikasikan dalam bentuk tulisan laporan. Ketidakmampuan siswa mendapatkan dan memahami informasi dari narasumber karena kemampuan melakukan proses wawancara yang kurang, ketidakmampuan melakukan tanya jawab terhadap narasumber untuk memperoleh informasi, serta ketidaktahuan meramu dan mengomunikasikan informasi dalam bentuk tertulis yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sehubungan dengan hal tersebut, pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis laporan akan lebih efektif apabila terjadi komunikasi langsung tentang kesulitan dan keinginan siswa dalam pembelajaran tersebut. Namun, siswa jarang mengemukakan kesulitan atau harapannya terhadap pembelajaran menulis laporan kepada guru sehingga guru tidak mengantisipasi hal tersebut. Artinya, guru tidak benar-benar mengetahui gambaran tentang perkembangan belajar siswa, khususnya pembelajaran menulis laporan.

Mencermati uraian tersebut, menulis laporan memegang peranan kunci dalam dunia pendidikan mulai dari tingkat sekolah lanjutan sampai di perguruan tinggi. Hal ini perlu dikemukakan karena banyak siswa yang mengalami kesulitan jika diberi tugas oleh guru untuk menulis laporan. Dengan demikian, alangkah idealnya jika

(16)

latihan menulis laporan mulai diintensifkan di tingkat sekolah menengah pertama.

Kalau usaha ini dilakukan dengan baik, maka siswa diharapkan memiliki keterampilan menulis laporan.

Berdasarkan pengalaman penulis, area kesulitan para siswa dalam menulis laporan secara umum yaitu prosedur penulisan dan kemampuan memformulasikan ide di dalam kalimat bahasa Indonesia ragam ilmiah dengan tepat. Khusus poin memformulasikan ide di dalam kalimat bahasa Indonesia ragam ilmiah dengan tepat memang merupakan sebuah keterampilan yang sulit dilakukan oleh siswa. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, seperti siswa harus menguasai tata bahasa dan kaidah bahasa Indonesia baku. Hal inilah yang banyak tidak mampu dilakukan oleh siswa sehingga dalam menulis karya ilmiah banyak terjadi kesalahan berbahasa.

Fenomena yang sering terjadi tersebut harus diatasi. Untuk mengatasi kendala pembelajaran menulis laporan, guru hendaknya lebih kreatif dan inovatif dalam memilih strategi pembelajaran sehingga minat dan motivasi siswa dalam menulis laporan semakin meningkat. Strategi yang tepat untuk mengatasi kendala tersebut, yaitu penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi).

Pelaksanaannya dilakukan dengan mengajarkan siswa melakukan investigasi terhadap narasumber. Setelah itu, informasi yang diperoleh diubah menjadi laporan berdasarkan hasil wawancara. Berdasarkan uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa metode co-op co-op dapat dijadikan sebagai metode yang tepat untuk membantu memudahkan siswa dalam menciptakan sebuah tulisan yang berbentuk laporan. Hal ini dinyatakan sebab melalui kegiatan co-op co-op (investigasi) dengan narasumber

(17)

banyak informasi yang dapat diperoleh. Informasi yang diperoleh tersebut langsung dapat diformulasikan dalam bentuk tulisan yang sistematis.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik meneliti tentang kemampuan siswa menulis laporan hasil wawancara dengan judul “Penerapan Metode Pembelajaran co-op co-op (Investigasi) dalam Peningkatan Kemampuan Penulisan Laporan Wawancara Siswa Kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.” Hal ini dilakukan karena penelitian yang relevan masih kurang. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Fatimah (2006) dengan judul:

Kemampuan Siswa Kelas X SMA Negeri 10 Makassar Mengubah Teks Wawancara Menjadi Bentuk Paragraf.” Hasilnya menunjukkan bahwa siswa belum mampu mengubah teks wawancara menjadi paragraf. Selanjutnya, Sartika (2010) dengan judul ”Keterampilan Menggunakan Teks Wawancara Menjadi Laporan Ilmiah Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Lilirilau Kabupaten Soppeng.” Hasilnya menujukkan bahwa siswa terampil menggunakan dan mengubah teks wawancara menjadi bentuk laporan ilmiah. Namun, ada kendala yang dihadapi oleh siswa dari segi penggunaan bahasa dan sistematika penulisan laporan ilmiah.

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap problematik pembelajaran menulis laporan hasil wawancara di kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep, karena masih ada siswa yang belum dapat mengubah hasil wawancara ke dalam bentuk laporan. Padahal, materi itu sudah diajarkan sejak kelas VII. Dalam Kurikulum 2006 (KTSP) Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terdapat materi menulis laporan dan menulis hasil wawancara. Selain

(18)

itu, penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengukur tingkat kemampuan mengembangkan teks wawancara menjadi laporan sekaligus untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep pengajaran menulis laporan diterapkan di sekolah tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, masalah penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimanaah perencanaan penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep?

2. Bagaimanaah pelaksanaan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep?

3. Bagaimanaah penilaian penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep?

(19)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep. Secara khusus, tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Mengkaji perencanaan penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

2. Mengkaji pelaksanaan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

3. Mengkaji penilaian penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi) dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan mendalam mengenai penerapan metode pembelajaran co-op co-op (investigasi)

(20)

dalam meningkatkan kemampuan penulisan laporan wawancara siswa kelas VIII SMPN Satap 4 Liukang Tupabiring Pulau Karanrang Kabupaten Pangkep.

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap guru-guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP untuk menyusun metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terutama (a) peningkatan kemampuan menulis laporan berdasarkan teks wawancara;

(b) sebagai bahan masukan yang berguna bagi penyusun buku atau materi pelajaran dan penyusun kurikulum pembelajaran dalam menentukan kebijakan pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama; (c) sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang sejenis dengan penelitian ini.

(21)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Metode Pembelajaran Co-op Co-op (Investigasi)

a. Konsep Metode Pembelajaran Co-op Co-op (Investigasi)

Co-op co-op adalah sebuah bentuk Group investigation. Slavin (2008: 22) menyatakan bahwa co-op co-op memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, pertama untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang dirinya dan dunia, dan selanjutnya memberikan kesempatan untuk saling berbagi pemahaman baru dengan teman-teman sekelasnya. Metodenya sederhana dan fleksibel.

Co-op co-op sebagai sebuah bentuk group investigation (kelompok investigasi) dikembangkan oleh Shiomo dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, merupakan perencanaan pengaturan-kelas yang umum di mana para siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan menggunakan pertanyaan kooperatif, diskusi kelompok, serta perencanaan dan proyek kooperatif (Sharan and Sharan dalam Slavin, 2008: 24). Dalam metode ini, para siswa dibebaskan membentuk kelompoknya sendiri yang terdiri atas dua sampai enam orang anggota. Kelompok ini kemudian memilih topik-topik dari unit yang telah dipelajari oleh seluruh kelas, membagi topik-topik ini menjadi tugas pribadi, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersipkan laporan kelompok.

10

(22)

Group investigation memiliki akar filosofis, etis, psikologi penulisan sejak awal tahun abad ini. Paling terkenal di antara tokoh-tokoh termuka dan orientasi pendidikan ini adalah John Dewey. Pandangan Dewey terhadap kooperatif di dalam kelas sebagai sebuah prasyarat untuk bisa menghadapi berbagai masalah kehidupan yang kompleks dalam masyarakat demokrasi. Kelas adalah sebuah tempat kreativitas kooperatif di mana guru dan siswa membangun proses pembelajaran yang didasarkan pada perencanaan mutual dan berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan mereka masing-masing. Pihak yang belajar adalah partisipan aktif dalam segala aspek kehidupan sekolah, membuat keputusan yang menentukan tujuan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kelompok dijadikan sebagai sarana sosial dalam proses ini.

Rencana kelompok adalah satu metode untuk mendorong keterlibatan maksimal para siswa.

Sebuah metode investigasi-kooperatif dan pembelajaran di kelas diperoleh dari premis bahwa baik domain sosial maupun intelektual proses pembelajaran sekolah melibatkan nilai-nilai yang didukungnya. Group investigation tidak akan dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak memperhatikan dimensi rasa sosial dan pembelajaran di dalam kelas (Suprijono, 2010: 93). Komunikasi dan interaksi kooperatif di antara sesama teman sekelas akan mencapai hasil terbaik apabila dilakukan dalam kelompok kecil, karena pertukaran di antara teman sekelas dan sikap-sikap kooperatif bisa terus bertahan. Aspek ras sosial dan kelompok, pertukaran intelektualnya, dan maksud dari subjek yang berkaitan dengannya dapat

(23)

bertindak sebagai sumber-sumber penting maksud tersebut bagi usaha para siswa untuk belajar (Slavin, 2008: 2145).

1) Menguasai Kemampuan Kelompok

Kesuksesan implementasi dan group investigation sebelumnya menuntut pelatihan dalam kemampuan komunikasi dan sosial. Fase ini sering disebut sebagai meletakkan landasan kerja atau pembentukan tim. Guru dan siswa melaksanakan sejumlah kegiatan akademik dan nonakademik yang dapat membangun norma-norma perilaku kooperatif yang sesuai di dalam kelas.

Group investigation sesuai untuk proyek-proyek studi yang terintegrasi yang berhubungan dengan hal-hal semacam penguasaan, analisis, dan mensistesiskan informasi sehubungan dengan upaya menyelesaikan masalah yang bersifat multiaspek. Tugas akademik haruslah menyediakan kesempatan bagi anggota kelompok untuk memberikan berbagai macam kontribusi, dan tidak boleh dirancang hanya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat faktual (siapa, apa, kapan, dan sebagainya). Misalnya, group investigation akan sangat ideal untuk mengajari tentang pelajaran sejarah dan budaya dan sebuah negara atau tentang pelajaran biologi hutan hujan, tetapi tidak sesuai digunakan untuk mengajari pelajaran kemampuan pemetaan atau unsur-unsur tabel periodik. Secara umum, guru merancang sebuah topik yang cakupannya luas, di mana para siswa selanjutnya membagi topik tersebut ke dalam subtopik. Subtopik ini merupakan sebuah hasil

(24)

perkembangan dan ketertarikan dan latar belakang siswa, yang sama halnya dengan pertukaran gagasan di antara para siswa.

Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari informasi dan berbagai sumber, baik di dalam maupun di luar kelas. Sumber-sumber seperti (bermacam- macam buku, institusi, orang) menawarkan sederetan gagasan, opini, data, solusi, ataupun posisi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dipelajari. Para siswa selanjutnya mengevaluasi dan mensistesiskan informasi yang disumbangkan oleh tiap anggota kelompok supaya dapat menghasilkan buah karya kelompok.

2) Perencanaan Kooperatif

Group investigation mementingkan perencanaan kooperatif bagi siswa.

Anggota kelompok mengambil bagian dalam merencanakan berbagai dimensi dan tuntutan dari proyek. Siswa bersama menentukan yang ingin diinvestigasikan sehubungan dengan upaya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi; sumber apa yang dibutuhkan; siapa akan melakukan apa; dan bagaimana menampilkan proyek yang sudah selesai ke hadapan kelas. Biasanya ada pembagian tugas dalam kelompok yang mendorong tumbuhnya interdependensi yang bersifat positif di antara angota kelompok.

Kemampuan perencanaan kooperatif harus diperkenalkan secara bertahap ke dalam kelas dan dilatih dalam berbagai situasi sebelum kelas tersebut melaksanakan proyek investigasi berskala penuh. Guru dapat memimpin diskusi dengan seluruh

(25)

kelas atau dengan kelompok-kelompok kecil, untuk memunculkan gagasan-gagasan untuk menerapkan tiap aspek kegiatan kelas.

3) Peran Guru

Dalam kelas yang melaksanakan proyek group investigation, guru bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara kelompok- kelompok yang ada untuk melihat bahwa siswa bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang dihadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran.

Peran guru ini dipelajari dengan praktik sepanjang waktu, seperti halnya peran siswa. Pertama dan terpenting adalah guru harus membuat model kemampuan komunikasi dan sosial yang diharapkan dari para siswa. Banyak kesempatan bagi guru sepanjang waktu sekolah untuk memikirkan berbagai variasi peran kepemimpinan, seperti dalam diskusi dengan seluruh kelas atau dengan kelompok- kelompok kecil. Dalam diskusi ini guru membuat model-model dan berbagai kemampuan: mendengarkan, membuat ungkapan, memberi reaksi yang tidak menghakimi, mendorong partisipasi, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwa co-op co-op adalah metode pembelajaran yang berbasis investigasi yang pelaksanaannya di kelas berorientasi pada penggalian, pencarian, dan penelusuran informasi yang sedetail-detailnya.

(26)

b. Implementasi Metode Co-Op Co-Op (Investigasi)

Dalam Co-op co-op atau group investigation, para murid bekerja melalui enam tahap. Tahap-tahap ini dan komponen-komponennya dijabarkan di bawah ini dan selanjutnya digambarkan secara rinci. Guru perlu mengadaptasikan pedoman ini dengan latar belakang, umur, dan kemampuan para murid. Sama halnya seperti penekanan waktu, tetapi pedoman-pedoman ini cukup bersifat umum untuk dapat diaplikasikan dalam skala kondisi kelas yang luas (Slavin, 2008: 218).

Adapun tahap implementasi metode co-op co-op menurut (Slavin, 2008:

229), yaitu:

1) Diskusi Kelas Terpusat pada Siswa

Pada awal memulai unit pelajaran di kelas di mana Co-op Co-op digunakan, guru mendorong para siswa untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan sendiri terhadap subjek yang akan dicakupi. Serangkaian kegiatan membaca, menyampaikan pelajaran, atau pengalaman dapat dilakukan untuk tujuan ini. Lalu melakukan diskusi kelas yang terpusat pada siswa. Tujuan dan diskusi ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalarn pembelajaran unit pelajaran dengan membuka dan memancing rasa ingin tahu, bukan untuk mengarahkan kepada topik khusus untuk dipelajari. Diskusi mengarah pada sebuah pemahaman di antara guru dan semua siswa mengenai yang ingin dipelajari dan dialami oleh para siswa sehubungan dengan topik yang akan dicakupi.

(27)

Waktu yang dibutuhkan untuk langkah pertama tergantung pada bagian yang diperluas yang merupakan bagian berbeda disebabkan oleh perbedaan ketertarikan terhadap topik. Pentingnya diskusi terpusat pada siswa yang pertama tidak bisa dipandang rendah. Co-op Co-op berpotensi menjadi tidak sukses bagi tiap siswa yang tidak memiliki ketertarikan aktif terhadap topik yang berhubungan dengan unit pelajaran dan yang tidak termotivasi untuk belajar lebih banyak tentang topik tersebut.

2) Menyeleksi Tim Pembelajaran Siswa dan Pembentukan Tim

Apabila para siswa belum mulai bekerja dalam tim, perlu mengaturnya ke dalam tim heterogen yang terdiri atas empat sampai lima anggota seperti dalam STAD. Lalu menggunakan latihan pembentukan tim dan menugasi mengerjakan unit-unit pelajaran. Para siswa perlu memiliki kelompok kerja dengan kemampuan yang baik dan kepercayaan yang terbangun sebelum memulai Co-op Co-op.

3) Seleksi Topik Tim

Pada langkah ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa memilih topik untuk timnya. Apabila pemilihan topik tim tidak langsung diikuti dengan diskusi kelas berpusat pada siswa, perlu mengingatkan siswa (melalui papan tulis, OHP, atau selebaran) topik yang merupakan topik yang paling banyak menarik perhatian seluruh kelas. Lalu menunjukkan bahwa tim dapat bekerja sama paling baik dalam menyadari tujuan-tujuan kelas apabila mereka memilih topik yang berhubungan dengan topik yang paling menarik bagi kelas. Mendorong para siswa untuk

(28)

mendiskusikan berbagai macam topik di antara anggota kelompok sendiri supaya dapat memastikan topik yang paling banyak menarik perhatian anggota timnya.

4) Pemilihan Topik Kecil

Begitu kelas sebagai sebuah keseluruhan membagi unit pelajaran ke dalam bagian-bagian untuk menciptakan pembagian tugas di antara tim-tim yang ada di kelas, tiap tim membagi topiknya untuk membuat pembagian tugas di antara anggota tim. Tiap siswa memilih topik kecil yang mencakup satu aspek dan topik tim.

Topik kecil ini mungkin saja tumpang tindih, dan anggota tim didorong untuk saling berbagi referensi dan bahan pelajaran, tetapi tiap topik kecil harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha tim. Keterlibatan guru dalam pemilihan topik kecil bisa bervariasi, tergantung pada tingkat kemampuan para siswa. Guru boleh saja meminta supaya topik kecil tersebut sesuai dengan persetujuannya untuk memastikan bahwa topik-topik tersebut sesuai dengan tingkat ketertarikan siswa atau bahan-bahan pendukung yang diperlukan memang ada.

5) Persiapan Topik Kecil

Setelah para siswa membagi topik timnya menjadi topik-topik kecil, mereka akan bekerja secara individual. Mereka masing-masing tahu akan tangung jawabnya terhadap topik kecil dan bahwa kelompok tersebut tergantung pada mereka untuk menemukan aspek penting dan usaha yang dilakukan tim.

Persiapan topik kecil memiliki beberapa macam bentuk yang berbeda, tergantung pada sifat pelajaran unit di kelas yang akan dipelajari. Persiapannya bisa

(29)

saja melibatkan penelitian kepustakaan, pengumpulan data melalui wawancara atau eksperimen, menciptakan proyek individual, atau sebuah kegiatan ekspresif seperti menulis atau melukis. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam ketertarikan yang semakin kuat karena para siswa tahu mereka akan membagi hasil karyanya dengan teman satu timnya dan bahwa hasil kerja mereka akan memberikan kontribusi terhadap presentasi tim.

6) Presentasi Topik Kecil

Setelah para siswa menyelesaikan kerja individual, mereka mempresentasikan topik kecil kepada teman satu timnya. Tahap ini sama seperti laporan tim pada Jigsaw. Presentasi topik kecil di dalam tim haruslah bersifat formal, yaitu tiap anggota tim diberikan waktu khusus, dan berdiri ketika mempresentasikan topik kecilnya.

Presentasi dan diskusi topik kecil di dalam tim dilakukan dengan cara yang dapat membuat semua teman satu tim memperoleh semua pengetahuan dan pengalaman yang dilakukan oleh masing-masing anggota tim. Mengikuti presentasi tersebut, anggota tim mendiskusikan topik tim seperti sebuah panel para ahli. Para siswa tahu bahwa topik kecil tersebut, bagaikan sepotong bagian teka-teki, dan harus ditempatkan secara bersama-sama dalam sebuah keseluruhan yang koheren untuk menghasilkan presentasi tim di hadapan kelas yang baik. Interaksi dengan sesama teman dalam mengerjakan topik yang sama menciptakan sebuah kesempatan munculnya sebagian inti pembelajaran yang paling penting.

(30)

Selama presentasi topik kecil, pembagian tugas di dalam tim bisa didorong supaya ada satu anggota tim yang mencatat, yang lainnya mengkritik, yang lain lagi memberi dukungan, dan yang lain lagi memeriksa poin-poin yang mencapai titik temu dan yang tidak dan informasi yang dipresentasikan.

7) Persiapan Presentasi Tim

Para siswa didorong untuk memadukan semua topik kecil dalam presentasi tim. Di sana harus ada sintesis aktif dari topik kecil-topik kecil tersebut supaya selama diskusi tim presentasi tim akan menjadi lebih dari sekadar sekumpulan presentasi topik kecil.

Diskusi mengenai bentuk presentasi tim harus mengikuti sintesis materi topik kecil. Presentasi panel di mana tiap anggota melaporkan topik kecil mereka sangat dianjurkan, karena mungkin saja terdapat kesalahan yang akan membuat gagalnya pencapaian tingkat sintesis kooperatif tertinggi. Bentuk presentasi tersebut haruslah ditentukan berdasarkan konten materinya. Misalnya, bila sebuah kelompok tidak dapat mencapai kesepakatan, maka bentuk ideal presentasi mereka adalah mempresentasikan debat ke hadapan kelas. Format-format yang sifatnya bukan pengajaran langsung seperti memamerkan, mendemonstrasikan, pusat pembelajaran, lakori singkat, dan diskusi kelas yang dipimpin tim adalah contoh-contoh bentuk presentasinya yang dianjurkan. Penggunaan papan tulis, OHP, media-media audio visual, dan selebaran juga dianjurkan.

(31)

8) Presentasi Tim

Selama waktu presentasinya, tim memegang kendali kelas. Semua anggota tim bertanggung jawab pada bagimana waktu, ruang, dan bahan-bahan yang ada di kelas digunakan selama presentasi mereka. Mereka sangat dianjurkan untuk menggunakan sepenuhnya fasilitas-fasilitas yang ada di kelas.

Karena tim mempunyai kesulitan dalam mengelola waktu, guru biasanya harus menunjukkan seorang pengatur waktu yang bukan berasal dari anggota tim yang sedang berpresentasi. Pengatur waktu tersebut memegang kartu peringatan apabila waktu yang tersisa hanya tinggal lima menit, satu menit, atau sudah tidak ada lagi waktu yang tersisa.

Dalam presentasi mereka tim boleh saja memasukkan sebuah periode tanya- jawab dan/atau waktu untuk memberikan komentar dan umpan balik. Sebagai tambahan, mengikuti presentasi tersebut guru mungkin akan merasa perlu memimpin sesi dan/atau mewawancara tim supaya tim lainnya dapat mempelajari sesuatu mengenai apa yang terlibat dalam pembangunan presentasi tersebut. Biasanya tim yang sukses akan dipandang sebagai model. Selama sesi wawancara setelah presentasi ini, guru memberikan strategi yang mungkin berguna bagi tim lainnya dalam unit-unit co-op co-op berikutnya.

9) Evaluasi

Evaluasi dilakukan pada tiga tingkatan: (1) pada saat presentasi tim dievaluasi oleh kelas; (2) kontribusi individual terhadap usaha tim dievaluasi oleh

(32)

teman satu tim; dan (3) pengulangan kembali materi atau presentasi topik kecil oleh tiap siswa dievaluasi oleh sesama siswa.

Mengikuti tiap presentasi, guru memandu diskusi kelas mengenai unsur-unsur yang paling kuat dan lemah dalam konten dan format presentasi tersebut. Bentuk- bentuk evaluasi formal kadang kala juga digunakan bagi anggota tim dan kontribusi tim.

2. Menulis Laporan

a. Pengertian Menulis Laporan

Menulis laporan merupakan salah satu aplikasi dari keterampilan berbahasa, khususnya menulis. Menulis laporan adalah kegiatan melaporkan secara tertulis hasil pengamatan/observasi, wawancara, pencatatan, kunjungan, dan sebagainya sebagai bukti nyata bahwa penulis telah melaksanakan kegiatan tersebut. Menulis laporan merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Menulis laporan adalah rangkaian proses berpikir. Proses berpikir berkaitan erat dengan kegiatan penalaran. Penalaran yang baik dapat menghasilkan tulisan yang baik pula. Bahkan, tanpa penalaran tidak akan ada pengetahuan yang benar. Syafi’ie (1998: 27) mengemukakan bahwa salah satu substansi retorika menulis laporan adalah penalaran yang baik. Hal ini berarti untuk menghasilkan simpulan yang benar harus dilakukan penalaran secara cermat dengan berdasarkan pikiran yang logis. Penalaran yang salahi akan menuntun kepada simpulan yang salah.

(33)

Kegiatan menulis laporan itu ialah suatu proses, yaitu proses penulisan, yang melewati beberapa tahap, yakni pramenulis, penulisan, dan revisi. Ketiga tahap penulisan menunjukkan kegiatan utama yang berbeda. Dalam tahap pramenulis akan ditentukan hal-hal pokok yang akan ditulis, sedangkan tahap penulisan akan dilakukan kegiatan mengembangkan gagasan dalam kalimat, paragraf, dan wacana (Akhadiah, dkk., 1994: 2).

Menulis laporan merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan. Banyak yang melakukannya secara spontan, tetapi juga ada yang berkali- kali mengadakan koreksi dan penulisan kembali (Sumardjo, 2001: 30). Senada dengan hal itu, California Writing Project (dalam Deporter & Hernacki, 2001: 50) menyatakan bahwa proses menulis itu meliputi (1) persiapan, mengelompokkan, dan menulis cepat, (2) draf kasar, gagasan dieksplorasi dan dikembangkan, (3) berbagi, seorang rekan membaca draf tersebut dan memberikan umpan balik,(4) memperbaiki, dan umpan balik, perbaiki tulisan tersebut dan bagikan lagi, (5) penyuntingan, perbaiki semua kesalahan, tatabahasa, dan tanda baca, (6) penulisan kembali, memasukkan isi yang baru dan perubahan penyuntingan, dan (7) evaluasi, periksalah apakah tugas ini sudah selesai.

Menulis laporan termasuk bagian menulis kreatif yakni kegiatan menulis yang berkembang dari gagasan yang kreatif. Mirriam (2006: 169) menyarankan bahwa menulis laporan merupakan gagasan yang mengalir dari hasil pengamatan dan observasi seseorang ke dalam sebuah tulisan. Gagasan kreatif yang sudah

(34)

diungkapkan dalam bentuk tulisan akan menggambarkan hal-hal yang telah diobservasi oleh penulis.

Dalam kehidupan modern ini jelas bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Kiranya tidaklah terlalu berlebihan bila dinyatakan bahwa keterampilan menulis merupakan ciri orang yang terpelajar. Terkait dengan hal itu, Morsey (dalam Tarigan 1994: 4) mengemukakan bahwa menulis dipergunakan oleh orang-orang terpelajar untuk merekam, meyakinkan, melaporkan/memberitahukan, mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas, kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, struktur kalimat.”

Sehubungan dengan hal tersebut, (Syafi’ie, 1998: 56) mengemukakan tujuan menulis sebagai berikut:

1) Mengubah keyakinan pembaca, yaitu pembaca diharapkan mempercayai sesuatu hal yang berkaitan dengan perihal pokok tulisan atau menyetujui apa yang kita kemukakan dalam tulisan yang kita sajikan.

2) Menanamkan pemahaman terhadap sesuatu pada pembaca, yaitu pembaca diharapkan memahami perihal pokok yang kita sajikan.

3) Merangsang proses berpikir pembaca, yaitu pembaca diharapkan dapat terangsang untuk memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan perihal pokok yang kita sajikan.

4) Menyenangkan atau menghibur pembaca.

(35)

5) Memberitahu pembaca.

6) Memotivasi pembaca.

Menulis laporan dilaksanakan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:

1) Mendorong siswa untuk menulis dengan jujur, bertanggung jawab, dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa secara hati-hati, integritas, dan sensitif.

2) Merangsang imajinasi dan daya pikir atau intelek siswa.

3) Menghasilkan tulisan yang bagus organisasinya, tepat, jelas, dan ekonomis penggunaan bahasanya dalam membebaskan segala sesuatu yang terkandung dalam hati dan pikiran.

b. Laporan

1) Pengertian Laporan

Karya tulis ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, artikel jurnal, yang pada dasarnya semuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.

Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya (Firman, 2004: 26).

(36)

Karya ilmiah umumnya berbentuk laporan penelitian, kertas kerja, makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan buku-ajar. Setiap bentuk karya ilmiah ini memiliki format yang relatif berbeda yang harus diikuti oleh setiap penulis. Karya ilmiah juga dibedakan berdasarkan perbedaan sasaran pembaca atau sasaran pendengar. Itulah sebabnya, kita mengenal istilah (1) karya ilmiah populer untuk orang awam, dan (2) karya ilmiah akademik bagi ilmuwan. Perbedaan ini antara lain ditandai oleh penggunaan bahasa dalam hal pilihan kata, gaya bahasa, dan perbedaan topik tulisan.

Jika sasaran tulisan adalah kalangan ilmuwan, bahasa yang digunakan adalah bahasa ragam ilmiah yang biasa juga disebut ragam teknis, dan bila sasaran tulisan kalangan awam, bahasa yang digunakan bahasa ragam populer (Tanjung dan Ardial (2005: 7).

Meskipun terdapat perbedaan format dan bahasa yang digunakan, namun ada ciri kesamaan kedua ragam bahasa itu. Kesamaan itu ditandai oleh orisinalitas, kejelasan masalah yang dibahas, ketajaman analisis dan keruntunan kesimpulan yang dirumuskan oleh penulis. Kejelasan masalah yang dibahas ditentukan oleh (1) kemampuan memahami dan menelaah permasalahan secara kritis, (2) kemampuan memilah u n su r- u n su r m as al ah d an penghayatan keterkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain, dan (3) kemampuan mendeskripsikan atau memaparkan dengan bahasa yang jelas, lancar, efektif, dan komunikatif (Firman, 2004: 27).

(37)

2) Sitematika Penulisan Laporan

Sistematika suatu karya ilmiah sangat perlu disesuaikan untuk menjawab empat pertanyaan berikut: (1) apa yang menjadi masalah, (2) kerangka acuan teoretik apa yang dipakai untuk memecahkan masalah?, (3) bagaimana cara yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah itu?, (4) apa yang ditemukan?; serta (5) makna apa yang dapat diambil dari temuan itu? Paparan tentang hal yang menjadi masalah dengan latar belakangnya biasanya dikemas dalam bagian Pendahuluan.

Paparan tentang kerangka acuan teoretik yang digunakan dalam memecahkan masalah umumya dikemukakan dalan bagian dengan judul Kerangka Teoretis atau Teori atau Landasan Teori, atau Telaah Kepustakaan, atau label-label lain yang semacamnya. Paparan mengenai hal-hal yang dilakukan dikemas dalam bagian yang seringkali diberi judul Metode atau Metodologi atau Prosedur atau Bahan dan Metode. Jawaban terhadap pertanyaan apa yang ditemukan umumnya dikemukakan dalam bagian Temuan atau Hasil Penelitian. Sementara itu, paparan tentang makna dari temuan penelitian umumnya dikemukakan dalam bagian Diskusi atau Pembahasan. Tentu saja sistematika karya ilmiah ini tidak baku, atau harga mati.

Sistematika karya ilmiah sangat bergantung pada tradisi masyarakat keilmuan dalam bidang terkait, jenis karya ilmiah (makalah, laporan penelitian, skripsi) (Firman, 2004: 28).

Breer (1992: 28) mengemukakan bahwa struktur isi sebuah karya tulis ilmiah bergantung kepada jenisnya, apakah merupakan makalah, skripsi, atau tesis. Hal ini

(38)

sejalan yang dikemukakan oleh (Tanjung dan Ardial, 2005: 50-70). Secara umum, isinya diurutkan seperti berikut:

a) Bagian Pendahuluan. Bagian ini biasanya berisi latar belakang penelitian.

Biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa penelitian ini dilakukan, apa fokus dari penelitian, apa yang menjadi batasannya. Survei terhadap karya-karya orang lain yang mirip bisa dituliskan pada bagian ini (atau pada bagian teori pendukung);

b) Bagian Teori Pendukung. Bagian ini biasanya berisi teori-teori atau hal- hal yang menjadi pendukung dari penelitian yang dilakukan. Bagian ini jangan terlalu mendominasi tulisan. Usahakan singkat dan arahkan pembaca kepada referensi yang digunakan. Bagian Isi merupakan pokok utama tulisan. Pada bagian ini penulis akan menjelaskan desain yang akan dilakukan, implementasi, pengujian, dan hal-hal lain yang merupakan laporan dari pekerjaan. Bagian ini bisa terdiri atas beberapa bab, sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, penulis dapat membuat satu bab mengenai implementasi dan satu bab lagi mengenai pengujiannya. Dasar-dasar kesimpulan ditarik atau diutarakan pada bagian ini. Pada bagian penutup dapat dituliskan kembali;

c) Bagian Penutup. Bagian ini berisi simpulan dan saran. Bagian ini hanya merangkumkan pokok-pokok yang menarik saja. Perlu diperhatikan bahwa hal-hal yang muncul pada bagian ini semestinya sudah muncul pada bagian isi.

(39)

3. Wawancara

a. Pengertian Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2002: 135). Menurut Alwi, dkk. (2002: 1127), wawancara adalah tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal untuk dimuat di surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi.

Maksud pengadaan wawancara, seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985: 266), antara lain mengonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain; merekonstruksi peristiwa yang dialami pada masa lalu; memproyeksi peristiwa sebagai hal yang diharapkan dialami pada masa yang akan datang, memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); menverifikasi, mengubah, dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.

b. Jenis-jenis Wawancara

Ada bermacam-macarn cara pembagian jenis wawancara yang dikemukakan dalam kepustakaan. Dua di antaranya dikemukakan di sini, yaitu menurut Patton (1980: 197). Cara pembagian pertama dikemukakan oleh Patton (1980: 197) sebagai

(40)

berikut: 1) wawancara pembicaraan informal, 2) pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan 3) wawancara baku terbuka. Pembagian wawancara yang dilakukan okh Patton didasarkan atas perencanaan pertanyaannya. Ketiga pembagian itu dijelaskan secara singkat di bawah ini.

1) Wawancara Pembicaraan Informal

Pada jenis wawancara ini pertanyaan yang diajukan sangat bergantung pada pewawancara itu sendiri. Jadi, bergantung pada spontanitasnya dalam mengajukan pertanyaan kepada yang diwawancarai. Wawancara demikian dilakukan pada latar alamiah. Hubungan lubungan pewawancara dengan yang diwawancarai adalah dalam suasana biasa, wajar, sedangkan pertanyaan dan jawabannya berjalan seperti pembicaraan biasa dalam kehidupan sehari-hari saja. Sewaktu pembicaraan berjalan, yang diwawancarai malah barangkali tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai.

2) Pendekatan Menggunakan Petunjuk Umum Wawancara

Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Penyusun pokok-pokok itu dilakukan sebelum wawancara dilakukan. Pokok-pokok yang dirumuskan tidak perlu ditanyakan secara berurutan. Demikian pula penggunaan dan pemilihan kata-kata untuk wawancara dalam hal tertentu tidak perlu dilakukan sebelumnya. Petunjuk wawancara hanyalah berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat

(41)

tercakup seluruhnya. Petunjuk itu mendasarkan diri atas tanggapan bahwa ada jawaban yang secara umum akan sama diberikan oleh para responden, tetapi yang jelas tidak ada perangkat pertanyaan baku yang disiapkan terlebih dahulu.

Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dalam konteks wawancara yang sebenarnya.

3) Wawancara Baku Terbuka

Jenis wawancara ini adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya pun sama untuk setiap responden. Keluwesan mengadakan pertanyaan atau pendalaman (probing) terbatas, dan hal itu bergantung pada situasi wawancara dan kecakapan pewawancara. Wawancara demikian digunakan jika dipandang sangat perlu untuk mengurangi sedapat-dapatnya variasi yang bisa terjadi antara seorang yang diwawancarai dengan yang lainnya. Maksud pelaksanaannya untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya “kemencengan” (bias). Wawancara jenis ini bermanfaat pula dilakukan apabila pewawancara ada beberapa orang dan yang diwawancarai cukup banyak jumlahnya.

Pembagian lain dikemukakan oleh Lincoln dan Guba (1985: 160-170).

Pembagiannya adalah 1) wawancara oleh tim atau panel, 2) wawancara tertutup dan wawancara terbuka, 3) wawancara riwayat secara lisan, dan 4) wawancara terstruktur dan tak terstruktur. Berturut-turut hal itu diuraikan berikut ini.

(42)

1) Wawancara oleh Tim atau Panel

Wawancara oleh tim berarti wawancara dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih terhadap seorang yang diwawancarai. Jika cara ini digunakan, hendaknya pada awalnya sudah disepakati dan disetujui oleh yang diwawancarai, apakah ia tidak berkeberatan diwawancarai oleh dua orang. Di pihak lain seorang pewawancara dapat saja memperhadapkan dua orang atau lebih yang diwawancarai sekaligus, yang dalam hal ini dinamakan panel.

Cara pertama baik digunakan dalam latihan dengan seorang ahli yang berpengalaman yang menjadi model pewawancara. Maksud utamanya ialah untuk melatih cara bertanya, keterampilan mendengarkan gaya, cara memperdalam pertanyaan, dan sebagainya. Kekurangan pada cara kedua ialah setiap orang yang diwawancarai ingin berbicara sekaligus dan satu-dua anggota mungkin menolak dengan keras pandangan temannya yang lain.

Kelompok yang diwawancarai barangkali menjadi terlalu besar sehingga proses wawancara menjadi tidak seimbang antara pewawancara dengan yang diwawancarai.

2) Wawancara Tertutup dan Wawancara Terbuka (Covert and Overt)

Pada wawancara tertutup biasanya yang diwawancarai tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa mereka diwawancarai. Mereka tidak mengetahui tujuan wawancara. Cara demikian tidak terlalu sesuai dengan penelitian kualitatif yang biasanya berpandangan terbuka. Jadi, dalam penelitian kualitatif sebaiknya

(43)

digunakan wawancara terbuka yang para subjeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu.

3) Wawancara Riwayat Secara Lisan

Jenis ini adalah wawancara terhadap orang-orang yang pernah membuat sejarah atau yang telah membuat karya ilmiah, sosial, pembangunan, perdamaian, dan sebagainya. Maksud wawancara ini ialah mengungkapkan riwayat hidup, pekerjaannya, kesenangannya, ketekunannya, pergaulan, dan lain-lain. Wawancara semacam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga yang diwawancarai berbicara terus-menerus, sedangkan pewawancara duduk mendengarkan dengan baik diselingi dengan sekali-sekali mengajukan pertanyaan. Mereka yang tertarik kepada pelaksanaan wawancara demikian dapat mengikuti petunjuk-petunjuk sebagai berikut:

a) Buatlah dan ajukanlah pertanyaan yang sangat terbuka!

b) Karena maksud utama adalah merekonstruksi peristiwa masa lalu, pewawancara hendaknya jangan menginterupsi.

c) Ingat bahwa diam itu bermanfaat untuk memberi kesempatan kepada yang diwawancarai untuk mengingat “film” yang diperankannya dulu.

d) Gunakan dokumen atau bahan bacaan yang berkenaan dengan peristiwa besar yang dilakukannya dengan maksud untuk memicu dan memberi api pada ceritanya.

(44)

e) Manfaatkan jaringan informan agar banyak sekali yang dapat digali dari orang yang sangat penting ini.

f) Asumsikan bahwa semua yang dikemukakannya penting dan kelak akan dirumuskan serta ditata kembali.

4)Wawancara Terstruktur dan Wawancara Tak Terstruktur

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Peneliti yang menggunakan jenis wawancara ini bertujuan mencari jawaban terhadap hipotesis.

Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan disusun dengan ketat. Jenis ini dilakukan pada situasi jika sejumlah sampel yang representatif ditanyai dengan pertanyaan yang sama dan hal ini penting sekali. Semua subjek dipandang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Jenis wawancara ini tampaknya bersamaan dengan yang dinamakan wawancara baku terbuka menurut Patton seperti yang dijelaskan di atas.

Format wawancara yang digunakan bisa bermacam-macam. Format itu dinamakan “protokol wawancara”. Protokol wawancara itu dapat juga berbentuk terbuka. Pertanyaan-pertanvaan itu disusun sebelumnya dan didasarkan atas masalah dalam desain penelitian. Pokok-pokok yang dijadikan dasar pertanyaan diatur secara sangat terstruktur. Keuntungan wawancara terstruktur ialah jarang mengadakan pendalaman pertanyaan yang dapat mengarahkan yang diwawancarai agar jangan sampai berdusta.

(45)

Wawancara tak terstruktur merupakan wawancara yang berbeda dengan yang terstruktur. Ciri-cirinya adalah kurang diinterupsi dan arbitrer. Wawancara semacam ini digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku atau informasi tunggal.

Hasil wawancara semacam ini menekankan kekecualian, penyimpangan, penafsiran yang tidak lazim, penafsiran kembali, pendekatan baru, pandangan ahli, atau perspektif tunggal.

Wawancara ini sangat berbeda dari wawancara terstruktur dalam hal waktu bertanya dan cara memberikan respons, yaitu jenis ini jauh lebih bebas iramanya.

Responden biasanya terdiri atas mereka yang terpilih saja karena sifat-sifatnya yang khas. Biasanya responden memiliki pengetahuan dan mendalami situasi, serta mereka lebih mengetahui informasi yang diperlukan.

Pertanyaan biasanya tidak disusun terlebih dahulu, malah disesuaikan dengan keadaan dan ciri yang unik dari responden. Pelaksanaan tanya jawab mengalir seperti dalam percakapan sehari-hari. Wawancara biasanya berjalan lama dan sering kali dilanjutkan pada kesempatan berikutnya. Dalam proses wawancara demikian kadang-kadang terjadi pewawancara atau yang diwawancarai sudah “mengajari”

semua yang ada di benaknya dan apa yang diketahuinya kepada lawan bicaranya.

Peneliti hendaknya menyadari situasi demikian sehingga dapat meluruskan kembali pembicaraan.

Wawancara tak terstruktur dilakukan pada keadaan-keadaan berikut:

a) bila pewawancara berhubungan dengan orang ‘penting’;

(46)

b) jika pewawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih mendalam lagi pada seorang subjek tertentu;

c) apabila pewawancara menyelenggarakan kegiatan yang bersifat

“penemuan” (discovery);

d) jika pewawancara tertarik untuk mempersoalkan bagian-bagian tertentu yang tak normal (etiologi);

e) jika pewawancara tertarik untuk berhubungan langsung dengan salah seorang responden;

f) apabila pewawancara tertarik untuk mengungkapkan motivasi, maksud, atau penjelasan dari responden;

g) apabila pewawancara mau mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi, atau keadaan tertentu.

c. Pencatatan Data Wawancara

Pencatatan data selama wawancara penting sekali karena data dasar yang akan dianalisis didasarkan atas “kutipan” hasil wawancara. Oleh karena itu, pencatatan data itu perlu dilakukan dengan cara yang sebaik dan setepat mungkin. Ada pencatatan data yang dilakukan melaiui tape recorder dan ada pula yang dilakukan melalui pencatatan pewawancara sendiri. Perekaman data melalui tape recorder hendaknya dilakukan dengan memperoleh persetujuan yang diwawancarai terlebih dahulu. Di samping itu, selain perekaman dengan tape-recorder, sebaiknya pewawancara juga membuat catatan. Catatan dimaksudkan untuk: (1) membantu

(47)

pewawancara agar dapat merencanakan pertanyaan baru berikutnya, (2) membantu pewawancara untuk mencari pokok-pokok penting dalam pita suara sehingga mempermudah analisis (Moleong, 2002: 151).

Setelah atau selama wawancara dilakukan, pewawancara perlu membuat transkrip”. Transkrip ialah salinan hasil wawancara dalam pita suara ke dalam ketikan di atas kertas. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan transkrip ialah biasanya memerlukan waktu empat kali lipat dari waktu wawancara. Jika sukar dan tidak ada waktu, transkrip mungkin tidak perlu dilakukan sepenuhnya. Akan tetapi, untuk kepentingan analisis, digunakan catatan yang dicek dan pita suara.

Jika tape-recorder digunakan, pewawancara cukup mencatat frase-frase pokok saja sehingga akhirnya menjadi sebuah daftar butir pokok yang berupa kata-kata kunci dari yang dikemukakan oleh yang diwaancarai. Lebih baik lagi apabila pewawancara dapat menulis steno.

Pewawancara terlebih dahulu perlu mengembangkan singkatan-singkatan yang digunakannya dalam catatan. Misalnya, untuk kutipan pembicaraan ada tandanya, untuk ide, pikiran, pendapat ada tanda khususnya, dan seterusnya. Jika dalam keadaan tertentu tape-recorder tidak dapat digunakan karena rusak atau karena tidak dihendaki oleh yang diwawancarai, catatan lapangan menjadi alat utama. Jika yang diwawancarai mengatakan sesuatu yang sangat penting dan pencatatan tidak sempuma, pewawancara membacakannya dan memintakan persetujuan kepada yang diwawancarai untuk mengecek kebenarannya.

(48)

Melalui latihan berulang, cara menyingkat kata-kata dalam wawancara dapat ditingkatkan. Hal itu tampak dalam catatan yang dibuat dalam wawancara. Suatu hal yang perlu diingat oleh pewawancara ialah setelah selesai berwawancara dan pewawancara tiba di rumah atau tempat tinggal, ia harus secepatnya membuat catatan lapangan dan memberikan komentar pada bagian-bagian penting. Hal itu hendaknya dilakukan secepat mungkin selama pikiran dan ingatan masih segar- bugar. Persoalan tentang catatan lapangan akan diuraikan tersendiri.

d. Kegiatan Sesudah Wawancara

Kegiatan sesudah wawancara berakhir cukup penting artinya bagi wawancara dalam rangka pengecekan keabsahan data. Selain itu, pewawancara hendaknya menggunakan waktu itu untuk mengecek kualitas datanya. Pertama-tama periksalah, apakah tape-recorder berfungsi dengan baik. Jika sekiranya rusak atau ada gangguan, secepatnya pewawancara membuat catatan lapangan secara lengkap berdasarkan catatan yang telah dibuatnya. Walaupun tape recordernya berfungsi dengan baik, pewawancara tetap membuat catatan lapangan dengan cara yang telah diuraikan terdahulu (Moleong, 2002: 152).

Menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertentu sebagai acuan, adakanlah pemeriksaan terhadap hal-hal yang diperlukan, seperti: apakah seluruh informasi yang diperlukan dalam wawancara semuanya telah terjaring? Jika belum, apa persoalannya? Apakah perumusan dan pengajuan pertanyaan kurang memadai?,

(49)

Apakah pertanyaannya dirumuskan secara salah ataukah cara pengajuannya yang tidak tepat?

Catatan lainnya tentang wawancara perlu pula dilakukan seperti di mana wawancara itu dilakukan, siapa yang hadir, bagaimana reaksi yang diwawancarai, bagaimana peranan pewawancara sendiri, dan hal-hal apa saja yang dapat dicatat untuk memperkaya konteks wawancara.

Di samping yang telah dikemukakan, sesudah wawancara dituntut disiplin yang tinggi bagi pewawancara untuk mengorganisasi dan mensistematisasikan data agar siap dijadikan bahan analisis.

B. Kerangka Pikir

Pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menuntut keterampilan siswa di bidang menulis. Salah satu keterampilan menulis yang harus dikuasai siswa adalah menulis laporan hasil wawancara.

Penelitian ini difokuskan pada pengembangan teks wawancara menjadi bentuk laporan. Pelaksanaannya dilakukan dengan membagikan teks wawancara kepada setiap siswa. Siswa mengamati dan memahami isi wawancara tersebut lalu diubah ke dalam bentuk tulisan laporan. Hasil tulisan (laporan) siswa dianalisis sehingga menghasilkan temuan.

Pelaksanaan penelitian melalui desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan,

(50)

observasi, dan refleksi. Hasil penerapan tersebut merupakan bahan analisis untuk mengungkap dan menghasilkan temuan penelitian ini. Secara sederhana, alur penelitian ini digambarkan seperti berikut ini.

Bagan Kerangka Pikir

Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia

Pembelajaran Penulisan Laporan Wawancara

KTSP 2006

Penerapan Metode Pembelajaran Cop Cop

(Investigasi)

Kesesuaian Isi dengan Judul

Laporan

Organisasi Laporan

Pemakaian Bahasa

Pemakaian Diksi

Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca

Analisis

Temuan

Gambar

Gambar 2. Model PTK Menurut (Arikunto, 2008:16)
Tabel 3.1   Format Distribusi Kategori Kemampuan Siswa pada Siklus I dan II  No  Interval (dalam skor)  Kategori
Tabel  3.2   Format  Distribusi  Frekuensi,  Persentase,  serta  Kategori  Ketercapaian  Ketuntasan Belajar pada Siklus I dan II
Tabel 4.1. Aktivitas Guru pada Pertemuan Pertama Siklus I
+7

Referensi

Dokumen terkait

Individu yang memiliki tingkat asertivitas yang tinggi akan memberikan respon yang lebih lama (lamanya waktu untuk berbicara) dibandingkan pada individu dengan

Sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengembangkan alternatif yang sesuai untuk mengatasi dampak yang merugikan dari penggunaan antibiotik Propolis merupakan bahan

Sesuai dengan pengertian dari efisiensi yaitu penggunaan dana yang seminimal mungkin untuk mencapai hasil yang maksimal, maka BAPPEDA Kabupaten Minahasa Selatan telah

Perkawinan atau pernikahan dalam hukum islam bukannya hal yang disunnahkan tetapi juga sakral, nikah juga menjadi ibadah yang menyempurnakan ibadah.. Maka dari itu bagi kamu yang

mozart, terdapat 5 subjek mahasiswa pada kelompok kontrol yang mengalami peningkatan tingkat kecemasan dan 10 subjek mahasiswa pada kelompok kontrol yang mengalami

 Yang juga menarik disoroti pada pekan lalu adalah earning result Alcoa yang optimis menambah sentimen positif ke bursa saham – yang sebelumnya adalah dari

RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN.. TAHUN

Bahan yang digunakan dalam campuran pembuatan genteng polimer adalah. menggunakan ban dalam bekas , Polipropilena (PP), aspal iran