• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Deskripsi Tingkat Keterbukaan diri dalam Komunikasi antar Teman Sebaya Siswa Kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu Tahun Ajaran 2016/2017

Berdasarkan paparan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 memiliki tingkat keterbukaan diri dalam komunikasi antar teman sebaya yang baik. Hal ini menunjukkan siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 sudah memiliki

keterbukaan diri dalam komunikasi antar teman sebaya, namun belum berkembang secara optimal. Beberapa faktor yang mempengaruhi siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu belum optimal dalam keterbukaan diri antar teman sebaya yaitu karena rasa takut akan resiko yang terjadi ketika terbuka dengan teman, merasa belum memiliki rasa aman dan percaya diri untuk mengungkapkan sesuatu pada teman, dan faktor lingkungan yang kurang mendorong atau membiasakan siswa untuk mampu terbuka secara tepat.

Hal tersebut diatas di dukung oleh Johnson (dalam Supratiknya, 1995) yang berpendapat bahwa pembukaan diri memiliki dua sisi yaitu bersikap terbuka kepada yang lain dan bersikap terbuka bagi yang lain. Gambaran dari karakteristik keterbukaan diri dari dua sisi ialah: 1) Terbuka kepada orang lain yaitu jujur dalam menerima semua kekurangan dan kemampuan yang dimiliki serta tentu saja menerima kekurangan yang dimiliki dengan bersikap jujur, autentik, dan tulus dalam pembukaan diri; 2) Terbuka bagi yang lain, yaitu mau mendengarkan dan memperhatikan apa yang disampaikan orang lain. Seseorang menerima orang lain dengan cara menyadari aneka kekuatan dan kemampuan serta kekurangan yang dimiliki orang lain sehingga orang lain percaya pada dirinya karena orang lain merasa bahwa ada yang mau menerima dan mendukungnya.

Kemampuan untuk terbuka dalam komunikasi antar teman sebaya. pada siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran

2016/2017 dapat dilihat dari tiga aspek yang dipaparkan oleh DeVito (2011). Pertama, siswa memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan sesuai dengan lingkungan (konteks) dan hubungan antar pembicara dan pendengar. Misalnya, siswa mampu memilih situasi atau keadaan dimana ia akan mengungkapkan informasi kepada teman, siswa mampu menentukan dengan siapa ia mampu membuka diri dengan mempertimbangkan hubungan yang sudah terjalin. Akan tetapi beberapa siswa kurang mampu mengekspresikan perasaan secara tepat ketika menghadapi perilaku teman yang tidak sesuai dengan apa yang sedang dirasakan. Faktor yang dapat melatar belakangi perilaku tersebut adalah faktor resiko yang akan diterima di kemudian hari, yaitu rasa takut untuk menyinggung perasaan orang lain sehingga mengganggu hubungan interpersonal yang sudah dibangun sebelumnya.

Kedua, siswa memiliki kesediaan untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang yaitu mampu memberikan umpan balik terhadap apa yang diungkapkan teman sebayanya dan memberikan kesempatan kepada teman sebayanya untuk mengutarakan perasaan dan pikirannya. Misalnya mendengarkan teman, mengungkapkan kesetujuan maupun ketidak setujuan dengan apa yang diungkapkan teman secara jujur, menjawab pertanyaan dari teman, serta berinisiatif untuk bertanya terlebih dahulu pada teman.

Ketiga, menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner & Kelly, 1974 dalam DeVito, 2011). Terbuka dalam pengertian ini yaitu siswa mampu dan mau mengakui perasaan serta pikiran yang diungkapkan yaitu memang benar-benar dirasakan dan bisa di pertanggungjawabkan. Beberapa siswa kelas XI di SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017, kurang mampu mengungkapkan secara verbal apa yang sedang dipikirkan, takut menyakiti teman jika mengungkapkan apa yang sedang dirasakan dan takut untuk menegur perilaku teman yang negatif. Faktor yang dapat melatar belakangi perilaku tersebut adalah kemampuan siswa untuk tersebut untuk memahami betul apa yang diinformasikan, baik positif maupun negatif. Hal ini terjadi karena dukungan dari lingkungan, untuk mampu mengungkapkan secara terbuka dalam komunikasi dengan teman sebaya.

Manfaat keterbukaan diri dalam komunikasinya dengan teman sebaya yang memiliki siswa, menurut DeVito (2011) adalah sebagai berikut:

a. Menambah pengetahuan diri.

Siswa yang membuka diri dalam komunikasi kepada teman sebayanya maka ia mampu memiliki perpektif baru tentang diri sendiri dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perilaku diri sendiri. Ketika siswa mau berbicara dengan teman sebayanya, akan menambah kesadaran mengenai aspek perilaku atau hubungan yang selama ini tidak diketahui.

b. Lebih mampu mengatasi kesulitan.

Siswa yang mau mengungkapkan perasaan kepada teman sebayanya mampu menanggulangi masalah dan kesulitannya, khususnya perasaan bersalah. Salah satu perasaan takut yang besar yang ada pada diri siswa adalah bahwa mereka tidak diterima lingkungan karena rahasia tertentu, karena sesuatu yang pernah mereka lakukan, perasaan atau sikap tertentu yang mereka miliki. Ketakutan untuk ditolak membangun rasa bersalah. Dengan mengungkapkan perasaan seperti itu dan menerima dukungan, bukan penolakan, siswa menjadi lebih siap untuk mengatasi, mengurangi maupun menghilangkan perasaan bersalah. Keterbukaan diri menumbuhkan penerimaan diri. c. Komunikasi yang dilakukan lebih efisien.

Siswa mampu memahami apa yang dikatakan temannya jika telah mengenal baik teman tersebut. Keterbukaan diri dalam komunikasi antar teman sebaya adalah kondisi yang penting untuk mengenal teman lain. Seseorang dapat saja meneliti perilaku atau bahkan hidup bersama orang lain selama bertahun-tahun, tetapi jika orang tersebut tidak pernah mengungkapkan dirinya maka ia tidak akan memahami orang itu sebagai pribadi yang utuh.

d. Hubungan lebih dalam

Keterbukaan diri dalam komunikasi antar teman sebaya diperlukan untuk membina hubungan yang lebih bermakna diantara dua orang. Tanpa keterbukaan diri dalam komunikasi hubungan yang bermakna

dan mendalam tidak akan terjadi. Mengungkapkan diri dalam komunikasi kepada teman lain bisa memberitahu bahwa seseorang mempercayai, menghargai, dan cukup peduli kepada teman lain untuk mengungkapkan diri kita kepada mereka. Terbuka kepada teman lain mendorong seseorang terbuka terhadap diri sendiri sehingga membentuk hubungan yang bermakna, yaitu hubungan yang jujur dan terbuka bukan sekedar hubungan yang seadanya.

2. Analisis Capaian Skor Item-item Keterbukaan Diri Siswa dalam Komunikasi antar Teman Sebaya

Berdasarkan analisa capaian skor item-item keterbukaan diri siswa dalam komunikasi antar teman sebaya terdapat empat item yang termasuk dalam kategori rendah. Item pertama yaitu “Saya cenderung menunjukkan wajah yang biasa saja walaupun sebenarnya saya sedang tidak suka dengan perilaku teman lain”. Rendahnya item ini dapat diindikasikan bahwa siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 belum bersedia untuk bereaksi secara jujur terhadap teman sebayanya. Faktor yang dapat melatar belakangi keterbukaan diri siswa dalam komunikasi antar teman sebaya menurut Papu (2002) yaitu belum adanya rasa aman untuk mengungkapkan perasaan pada teman sebaya. Rasa aman tercipta dari rasa percaya pada teman sebaya. Rasa aman terbentuk dari keakraban terhadap teman yang diajak

berkomunikasi sehingga mampu mengungkapkan apa yang sedang dirasakan secara jujur.

Item kedua, “Terkadang apa yang saya ucapkan dan apa yang saya pikirkan tidak sejalan”. Rendahnya item ini dapat diindikasikan bahwa siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 belum mampu mengakui dan mempertanggungjawabkan perasaan yang diungkapkan baik itu secara verbal maupun nonverbal. Artinya siswa belum mampu mengungkapkan perasaan maupun pikiran yang dimiliki. Adapun faktor yang dapat melatar belakangi hal tersebut yaitu kurangnya dukungan dari lingkungan untuk mampu terbuka dalam komunikasi. Kemampuan untuk terbuka dalam berkomunikasi dapat timbul ketika individu memiliki semangat keterbukaan dan kebiasaan untuk berbagi informasi sehingga mampu terbuka secara tepat (Papu, 2002).

Item ketiga, “Saya khawatir menyakiti atau menyinggung teman ketika saya mengungkapkan apa yang saya rasakan”. Rendahnya item ini dapat diindikasikan bahwa siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 belum mampu mengakui dan mempertanggungjawabkan perasaan yang diungkapkan baik itu secara verbal maupun nonverbal.Artinya siswa belum mampu mengungkapkan parasaan maupun pikiran yang dimiliki. Menurut Papu (2002) faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut adalah faktor resiko yang yang akan diterima di kemudian hari yaitu rasa takut jika menyinggung

perasaan teman sehingga mampu menganggu hubungan interpersonal yang telah terbangun sebelumnya.

Item keempat, “Ketika saya kecewa dengan sikap teman saya akan langsung menegur, bagaimanapun situasi saat itu”. Rendahnya item ini dapat diindikasikan bahwa siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 belum mampu mengakui dan mempertanggungjawabkan perasaan yang diungkapkan baik itu secara verbal maupun nonverbal. Faktor yang bisa mempengaruhi hal tersebut yaitu resiko yang akan diterima di kemudian hari. Artinya siswa belum mampu mengungkapkan perasaan maupun pikiran yang dimiliki. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut menurut Papu (2002) adalah faktor resiko yang yang akan diterima di kemudian hari yaitu rasa takut jika menyinggung perasaan teman sehingga mampu menganggu hubungan interpersonal yang telah terbangun sebelumnya. selain itu juga dipengaruhi oleh tingkat keakraban antar teman sebaya.

Faktor yang menghambat keterbukaan diri dalam komunikasi antar teman sebaya selain yang telah disebutkan diatas adalah kepribadian. Derlega (1993) mengatakan bahwa self disclosure, dapat dipengaruhi oleh kepribadian (personality). Individu yang introvert dan susah untuk bersosialisasi cenderung lebih sedikit membuka diri. Supratiknya (1995) mengatakan bahwa, mereka yang merasa khawatir, gugup dalam berbicara secara umum juga lebih sedikit membuka diri

dibandingkan mereka yang merasa tenang dan nyaman dalam berkomunikasi.

Berdasarkan hasil penelitian, item-item yang tergolong rendah mengindikasikan bahwa siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 perlu ditingkatkan dan dikembangkan kembali dalam hal: mengungkapkan perasaan, merespon secara asertif, memberi dan menerima umpan balik. Oleh karena itu siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu tahun ajaran 2016/2017 membutuhkan bimbingan dan pendampingan dari guru Bimbingan dan Konseling tentang keterbukaan dalam komunikasi antar teman sebaya.

C. Usulan Topik-topik Bimbingan Keterbukaan Diri dalam Komunikasi

Dokumen terkait