• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

F. Pembahasan Hasil Penelitian

Kemampuan self-regulated learning adalah kemampuan individu dalam mengatur proses belajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi

belajar, baik dalam aspek kognitif (kemampuan mengatur diri), afektif

(sosial-emosional) dan psikomotor (tingkah laku) untuk mencapai tujuan belajar.

Kamampuan tersebut tingkatannya juga dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor yang mendukung kemampuan self-regulated learning iru sendiri baik dari dalam maupun dari luar diri individu. Menurut Zimmerman (dalam

Muhammad Nurwangid, 2013: 259) menyatakan bahwa keterlibatan akademik

siswa dalam proses pembelajaran seharusnya meliputi aspek kognitif, afektif,

dan psikomotorik. Pendapat diatas diperjelas oleh Muhammad Nur Wangid

(2013: 260), bahwa aspek yang menjadi elemen pada kemampuan self-regulated learning yakni a) kemampuan mengatur diri aspek kognitif (cognitive self-regulation) adalah sejauh mana individu dapat merefleksikan diri dan dapat merencanakan dan berfikir ke depan; b) kemampuan diri aspek

76

kemampuan menghambat tanggapan negatif dan menunda gratifikasi.

Maksudnya adalah kemampuan individu untuk mengendalikan respon-respon

emosional negatif ketika mendapatkan suatu kondisi atau stimulus negatif, dan

kemampuan untuk menahan memuaskan suatu keinginan demi tujuan yang

mulia; serta c) kemampuan mengatur diri aspek perilaku merupakan

kemampuan individu dalam memilih tingkah lakunya yang sesuai dengan

konteks dan prioritas kebutuhan yang diperlakukan. Pada aspek perilaku ini

dapat dilihat dengan bagaimana siswa dapat memahami dan mengerti apa

yang mereka pelajari.

Aspek-aspek yang berkaitan dengan SRL secara garis besarnya yakni

meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. SRL menuntut siswa untuk

bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Ketiga aspek tersebut yang

meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik akan digunakan dalam

penelitian ini untuk mengungkap kemampuan SRL pada siswa kelas X di

SMK Negeri 1 Kalasan.

Pada hasil penelitian, dari 62 siswa kelas X Akomodasi Perhotelan

menunjukkan 16 siswa yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning yang rendah atau (26%) yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning dalam kategori sedang yakni ada 28 siswa (45%), sedangkan yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning dalam kategori tinggi yakni 18 siswa (29%). Hasil keseluruhan dari data penelitian

yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan self-regulated learning berada dalam kategori sedang.

77

Selain dilihat secara keseluruhan, tingkat kemampuan self-regulated learning juga dapat dilihat dari setiap perencanaan belajarnya, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada hasil penelitian kemampuan self-regulated learning

perencanaan belajarnya dapat diketahui bahwa dari 62 siswa kelas X

Akomodasi Perhotelan menunjukkan 13 siswa yang memiliki tingkat

kemampuan self-regulated learning dalam hal perencanaan yang rendah atau pada presentase (21%) yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning dalam hal perencanaan pada kategori sedang yakni ada 32 siswa (52%), sedangkan yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning

dalam kategori tinggi yakni 17 siswa (27%). Hasil keseluruhan dari data

penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan

self-regulated learning pada perencanaan belajarnya berada dalam kategori sedang. Hal ini dapat ditunjukkan dengan indikasi memikirkan

keterlaksanaannya kegiatan, mendorong pelaksanaan tugas, berminat pada

tugas, dan mempersiapkan pelaksanaan tugas yang diberikan guru kepada

siswa yakni pada kategori sedang.

Selanjutnya, pada hasil penelitian kemampuan self-regulated learning

siswa pada pelaksanaan belajarnya yakni dari 62 siswa kelas X Akomodasi

Perhotelan menunjukkan 18 siswa yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning dalam hal pelaksanaan yang rendah atau pada presentase (29%) yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning dalam hal pelaksanaan pada kategori sedang yakni ada 28 siswa (45%), sedangkan yang

78

yakni 16 siswa (26%). Hasil dari data penelitian yang diperoleh, maka dapat

disimpulkan bahwa tingkat kemampuan self-regulated learning pada pelaksanaan belajarnya berada dalam kategori sedang. Hal ini dapat

ditunjukkan dengan adanya penerapan strategi kognitif dan metakognitif,

memonitor dan mengontrol emosi dan motivasi, serta dalam pelaksanaan

kegiatan siswa kelas X di SMK Negeri 1 Kalasan dalam kategori sedang.

Berdasarkan hasil penelitian tentang kemampuan self-regulated learning

siswa pada evaluasi belajarnya, dapat diketahui bahwa dari 62 siswa kelas X

Akomodasi Perhotelan menunjukkan 16 siswa yang memiliki tingkat

kemampuan self-regulated learning dalam hal evaluasi yang rendah atau pada presentase (26%) yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning

dalam hal evaluasi pada kategori sedang yakni ada 28 siswa (45%), sedangkan

yang memiliki tingkat kemampuan self-regulated learning dalam kategori tinggi yakni 18 siswa (29%). Hasil dari data penelitian yang diperoleh, maka

dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan self-regulated learning pada evaluasi belajarnya berada dalam kategori sedang. Hal ini dapat ditunjukkan

dengan tingkat siswa dalam memahami keberhasilan atau kegagalan, serta

dalam menanggapi reaksi-reaksi afektif, dan dalam mengevaluasi tugas pada

kategori sedang juga.

Menurut Bandura (dalam Schunk, 2009:79) perilaku manusia dibahas

dalam kerangka determinisme timbal balik (triadic reciprocality determinism)antara perilaku, lingkungan dan pribadi dan dipaparkan bahwa menurut teori sosial kognitif terdapat 3 hal yang mempengaruhi seseorang

79

sehingga melakukan SRL yakni : a) faktor pribadi (person) pada triadic diatas dijelaskan bahwa siswa dapat menggunakan proses pribadi untuk mengatur

strategi perilaku dan lingkungan belajar. Pribadi (person) – tingkahlaku (behavior), dijelaskan bahwa pada pribadi seorang terdapat suatu keyakinan tentang kemampuan untuk mengatur dan menyelesaikan suatu tugas yang

diperlukan untuk mencapai hasil tertentu dalam berbagai bentuk dan tingkat

kesulitan (self-eficcacy); b) faktor pribadi (person)- lingkungan (environment), dijelaskan pada siswa yang mengalami kesulitan belajar akan terjadi interaksi

antara person dengan faktor lingkungan. Siswa yang memiliki kesulitan belajar akan mengalami rendah diri, didalam lingkungan sosial akan

bergabsung dengan siswa yang sama-sama memiliki kesulitan belajar. Hal

tersebut tidak akan terjadi jika individu memiliki self eficcacy, individu yang memiliki self-eficcacy akan percaya diri, sehingga individu tersebut dapat mengatur lingkungan, seperti: berinteraksi sosial dengan teman, orang tua, dan

guru serta masyarakat luas. Faktor lingkungan (environment) – pribadi (person), pada siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat diberikan umpan balik (feedback) dari lingkungan, seperti guru memberikan motivasi kepasa

siswa “Aku yakin kamu bisa melakukannya”. Dengan memberikan motivasi

tersebut, maka keyakinan dan rasa percaya diri pada siswa semakin

meningkat; dan c) faktor perilaku siswa dan lingkungan kelas saling

mempengaruhi satu sama lain. Contohnya: guru memberikan perintah dan

80

Pengaruh lingkungan pada perilaku terjadi ketika siswa melihat papan tanpa

banyak pertimbangan (lingkungan-perilaku).

Pada perencanaan belajarnya meliputi data berupa kemampuan siswa

dalam memikirkan keterlaksanaannya kegiatan, mendorong pelaksanaan

tugas, berminat pada tugas, serta mempersiapkan pelaksanaan tugas. Ketiga

hal tersebut menjadi indikator kemampuan self-regulated learning pada perencanaan belajarnya yang akan dianalisis dan dijabarkan dengan

presentase. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa dari 62 siswa

kelas X Akomodasi Perhotelan menunjukkan 17 siswa yang memiliki

perencanaan belajarnya dalam hal memikirkan keterlaksanaannya kegiatan

dalam kategori yang rendah dengan presentase (27%) yang memiliki kategori

sedang yakni ada 27 siswa (44%), sedangkan yang memiliki kemampuan

dalam memikirkan keterlaksanaannya kegiatan dalam kategori tinggi yakni 18

siswa (29%). Hasil keseluruhan dari data penelitian yang diperoleh, maka

dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan memikirkan keterlaksanaannya

kegiatan pada perencanaan belajarnya berada dalam kategori sedang.

Hal ini sesuai dengan pendapat Zimmerman (2011: 9) menyebutkan

beberapa strategi untuk menjadi self regulated learner salah satunya yaitu perencanaan (planning) merupakan proses perencanaan ini hampir sama dengan penetapan tujuan, perencanaan dapat membantu siswa untuk mengatur

dirinya sebelum terliat tugas-tugas belajar. Pada penelitian ini menunjukan

bahwa perencanaan dan penetapan tujuan adalah proses saling melengkapi,

81

untuk menjadi sukses dalam kategori sedang, sehingga siswa kelas X di SMK

Negeri 1 Kalasan dapat dikatakan bahwa pengaturan diri terlihat tugas-tugas

belajar cukup baik.

Pada hasil penelitian dalam hal di mendorong pelaksanaan tugas dan

berminat pada tugas menunjukkan 12 siswa yang memiliki perencanaan

belajarnya dalam kategori yang rendah dengan presentase (19%) yang

memiliki kategori sedang yakni ada 43 siswa (69%), sedangkan yang memiliki

kemampuan dalam mendorong pelaksanaan tugas dan berminat pada tugas

dalam kategori tinggi yakni 7 siswa (12%). Hasil keseluruhan dari data

penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan

mendorong pelaksanaan tugas dan berminat pada tugas pada perencanaan

belajarnya berada dalam kategori sedang. Sedangkan dalam hal

mempersiapkan pelaksanaan tugas , dapat diketahui terdapat 10 siswa yang

dalam kategori yang rendah dengan presentase (16%) yang memiliki kategori

sedang yakni ada 43 siswa (69%), sedangkan yang memiliki kemampuan

dalam mempersiapkan pelaksanaan tugas dalam kategori tinggi yakni 9 siswa

(15%). Hasil keseluruhan dari data penelitian yang diperoleh, maka dapat

disimpulkan bahwa tingkat kemampuan mempersiapkan pelaksanaan tugas

pada perencanaan belajarnya berada dalam kategori sedang.

Pada pelaksanaan belajarnya meliputi data berupa kemampuan siswa

dalam menerapkan strategi kognitif dan metakognitif, memonitor dan

mengontrol emosi dan motivasi, serta kemampuan dalam melakukan kegiatan.

82

pada pelaksanaan belajarnya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui

bahwa dari 62 siswa kelas X Akomodasi Perhotelan menunjukkan 18 siswa

yang memiliki pelaksanaan belajarnya dalam hal menerapkan strategi kognitif

dan metakognitif dalam kategori yang rendah dengan presentase (29%) yang

memiliki kategori sedang yakni ada 33 siswa (53%), sedangkan yang memiliki

kemampuan dalam menerapkan strategi kognitif dan metakognitif dalam

kategori tinggi yakni 11 siswa (18%). Hasil keseluruhan dari data penelitian

yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan

menerapkan strategi kognitif dan metakognitif pada pelaksanaan belajarnya

berada dalam kategori sedang.

Selain itu, dalam hal memonitor dan mengontrol emosi dan motivasi,

dapat diketahui bahwa terdapat 18 siswa dalam kategori yang rendah dengan

presentase (29%) yang memiliki kategori sedang yakni ada 26 siswa (42%),

sedangkan yang memiliki kemampuan dalam memonitor dan mengontrol

emosi dan motivasi dalam kategori tinggi yakni 18 siswa (29%). Hasil

keseluruhan dari data penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan

bahwa tingkat kemampuan memonitor dan mengontrol emosi dan motivasi

pada pelaksanaan belajarnya berada dalam kategori sedang. Serta 14 siswa

yang memiliki pelaksanaan belajarnya dalam hal melakukan kegiatan dalam

kategori yang rendah dengan presentase (23%) yang memiliki kategori sedang

yakni ada 37 siswa (59%), sedangkan yang memiliki kemampuan dalam

melakukan kegiatan dalam kategori tinggi yakni 11 siswa (18%). Hasil

83

bahwa tingkat kemampuan dalam melakukan kegiatan pada pelaksanaan

belajarnya berada dalam kategori sedang.

Hal ini sangat mempengaruhi salah satu stragegi untuk menjadi self regulated learner menurut Zimmerman (2011: 9) yang menyebutkan bahwa menetapkan tujuan (goal setting) yakni tujuan menentukan hal yang penting dan dianggap sebagai standar dalam mengatur sebuah tindakan.Tujuan jangka

pendek dapat digunakan untuk mencapai keberhasilan di jangka panjang.

Contohnya saja jika siswa menetapkan tujuan jangka panjang agar berhasil

pada saat ujian dan mendapatkan nilai yang memuaskan, maka ia juga dapat

menetapkan tujuan yang harus dicapai seperti belajar untuk menetapkan

jumlah waktu dan menggunakan strategi belajar yang spesifik untuk

membantu memastikan keberhasilan pada ujian.

Pada evaluasi belajarnya meliputi data berupa kemampuan siswa dalam

memahami keberhasilan atau kegagalan, reaksi-reaksi afektif, dan

mengevaluasi tugas. Ketiga hal tersebut menjadi indikator kemampuan self-regulated learning pada evaluasi belajarnya yang akan dianalisis. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa terdapat 11 siswa yang memiliki

evaluasi belajarnya dalam hal evaluasi dalam memahami keberhasilan atau

kegagalan dalam kategori yang rendah dengan presentase (18%) yang

memiliki kategori sedang yakni ada 46 siswa (74%), sedangkan yang memiliki

kemampuan dalam evaluasi dalam memahami keberhasilan atau kegagalan

dalam kategori tinggi yakni 5 siswa (8%). Hasil keseluruhan dari data

84

dalam evaluasi dalam memahami keberhasilan atau kegagalan pada

pelaksanaan belajarnya berada dalam kategori sedang.

Dalam hal menanggapi reaksi-reaksi afektif, dapat diketahui bahwa hasil

penelitian menunjukkan 10 siswa yang memiliki evaluasi belajar pada

rekasi-reaksi afektif dalam kategori yang rendah dengan presentase (16%) yang

memiliki kategori sedang yakni ada 46 siswa (74%), sedangkan yang memiliki

kemampuan dalam evaluasi dalam reaksi-reaksi afektif dalam kategori tinggi

yakni 6 siswa (10%). Hasil keseluruhan dari data penelitian yang diperoleh,

maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan evaluasi dalam

reaksi-reaksi afektif pada pelaksanaan belajarnya berada dalam kategori sedang.

Sedangkan pada evaluasi belajarnya dalam hal mengevaluasi tugas, dapat

diketahui bahwa terdapat 9 siswa dalam kategori yang rendah dengan

presentase (14%) yang memiliki kategori sedang yakni ada 39 siswa (63%),

sedangkan yang memiliki kemampuan dalam evaluasi dalam mengevaluasi

tugas dalam kategori tinggi yakni 14 siswa (23%). Hasil keseluruhan dari data

penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan

mengevaluasi tugas pada evaluasi belajarnya berada dalam kategori sedang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan self-regulated learning tersebut bersifat relatif, sehingga pengaruh-pengaruh yang dominan muncul pada tingkat kemampuan self-regulated learning ini cenderung dari luar diri individu atau eksternal. Selain itu, menurut Zimmerman (2011: 9)

menyebutkan salah satu strategi untuk menjadi self regulated learner yakni pencarian bantuan (help-seeking) dimana siswa yang mandiri tidak mencoba

85

untuk mencapai setiap tugasnya sendiri, melainkan sering mencari bantuan

dari orang lain bila diperlukan. Apa yang membuat siswa mandiri berbeda

dengan rekan- rekan mereka bahwa siswa tidak hanya mencari nasehat dari

orang lain, tetapi mereka melakukannya dengan tujuan membuat diri mereka

lebih otonom.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia itu bersifat sosial, sehingga manusia

tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain seperti contoh kecil

tersebut. Siswa lebih memilih meminta bantuan orang lain dan meminta

nasehat orang lain dalam melakukan suatu hal, misalkan pada siswa kelas X di

SMK Negeri 1 Kalasan ini, mereka mengerjakan tugas sukanya berkelompok

dan saling membantu untuk menyelesaikan satu sama lain ketika salah satu

mengalami kesulitan. Hal ini dimungkinkan juga mengakibatkan pada hasil

penelitian menunjukkan kemampuan self-regulated learning dalam kategori sedang.

Pada hasil seluruh pengkategorisasian tersebut tentang kemampuan self-regulated learning yang ditinjau dari perencanaan belajarnya, pelaksanaan, dan evaluasi yang menunjukkan kategori sedang dapat ditindaklanjuti dengan

mengidentifikasi penyebab secara mendetail faktor yang mempengaruhi secara

kontinyu untuk memberikan upaya pelayanan bimbingan belajar yang

86

Dokumen terkait