• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan hasil penelitian pada sub bab ini adalah pembahasan hipotesis penelitian yang terdapat pada BAB II dan hasilnya adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Pertama

Dari analisis dua jalan dengan sel tak sama diperoleh < 6 4 yaitu 0,1024 < 3,8400, maka 0 diterima. Hal ini berati tidak terdapat perbedaan prestasi belajar siswa antara kelas model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan kelas model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jika ditinjau dari rata-rata prestasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe NHT memperoleh rata-rata 6,2391 sedangkan yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD memperoleh rata-rata 6,0200.

Dengan demikian hipotesis pertama, yaitu pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih efektif dibanding pembelajaran kooperatif tipe STAD tidak terbukti kebenarannya. Hal ini juga tidak sesuai dengan kajian teori yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih efektif dibandingkan pembelajaran kooperatif tipe STAD, hal ini dikarenakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengunakan penomoran sehingga rasa tanggungjawab setiap siswa akan lebih besar dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang tidak mengunakan penomoran. Adapun faktor yang menyebabkan pembelajarn kooperatif tipe NHT sama dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:

commit to user

a. Pada umumnya kedua model sama-sama merupakan model pembelajaran kooperatif yang lebih berpusat pada siswa dengan mengelompokkan siswa secara heterogen yang terdiri dari tiga sampai lima orang sehingga setiap siswa mempunyai tanggung jawab terhadap kelompoknya dan kemampuan awal siswa yang sama atau seimbang pada materi bilangan, karena materi bilangan sudah diajarkan pada kelas tiga. Adapun cara penyelesaian materi bilangan juga sebagian besar sudah diajarkan di kelas 3. Kenyataan bahwa cara-cara yang digunakan untuk menyelesaikan soal bilangan adalah sama menyebabkan adanya keseragaman siswa. Artinya, meskipun siswa diberikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau pembelajaran kooperatif tipe STAD mereka mempunyai kemampuan yang sama dalam menyelesaikan soal bilangan.

b. Dalam menyelesaikan soal-soal, para siswa pada umumnya melihat contoh soal yang diberikan sebelumnya. Pola berpikir mereka masih mekanistik dan strukturalis. Kenyataan ini mengakibatkan tidak adanya perbedaan siswa yang diberikan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan siswa yang diberikan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Hipotesis Kedua

Dari hasil perhitungan anava dua jalan dengan sel tak sama diperoleh

commit to user

perbedaan prestasi belajar matematika siswa antar kelompok motivasi tinggi, sedang dan rendah.

Dengan ditolaknya maka harus dilanjutkan dengan uji komparasi ganda dengan metode Schefee’. Dari hasil uji komparasi ganda diperoleh

6 4= 6,00 sehingga .1−.2= 6,3569 > 6 4, .1−.3= 39,3014 > 6 4,

.2−.3= 16,4431 > 6 4. Dari hasil ini maka keputusan uji adalah:

a. Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dan sedang. Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata nilai tes prestasi siswa kelompok motivasi berprestasi tinggi adalah 6,7768, rata-rata nilai tes prestasi siswa kelompok motivasi berprestasi sedang adalah 6,1984. Kesimpulannya adalah prestasi belajar kelompok siswa dengan motivasi berprestasi tinggi lebih baik dibanding kelompok siswa dengan motivasi berprestasi sedang.

b. Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dan rendah. Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata nilai tes prestasi siswa kelompok motivasi berprestasi tinggi adalah 6,7768, rata-rata nilai tes prestasi siswa kelompok motivasi rendah adalah 5,1905. Kesimpulannya adalah prestasi belajar kelompok siswa dengan motivasi berprestasi tinggi lebih baik dibanding kelompok siswa dengan motivasi berprestasi rendah.

commit to user

c. Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi sedang dan rendah. Dari perhitungan diperoleh bahwa rata-rata nilai tes prestasi siswa kelompok motivasi berprestasi sedang adalah 6,1984, rata-rata nilai tes prestasi siswa kelompok motivasi berprestasi rendah adalah 5,1905. Kesimpulannya adalah prestasi belajar kelompok siswa dengan motivasi berprestasi sedang lebih baik daripada kelompok siswa dengan motivasi berprestasi rendah.

Hal ini berarti sesuai dengan tinjauan pustaka yang menyatakan bahwa motivasi berprestasi dalam rangka belajar di sekolah, merupakan bentuk peningkatan dari motivasi intrinsik. Dengan demikian, motivasi berprestasi merupakan motivasi tertinggi dalam belajar dan bentuk peningkatan dari motivasi intrinsik. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dalam belajar tidak akan cepat merasa puas dengan apa yang dicapainya. Proses belajarpun dilalui oleh siswa dengan suasana yang menyenangkan karena siswa beraktivitas dengan tinggi baik mental, fisik, sosial maupun emosinya. Sedangkan bagi siswa yang rendah motivasi berprestasinya tidak demikian halnya. Didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Maryono yang menyatakan siswa dengan motivasi belajar tinggi akan mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan prestasi belajar sedang dan rendah, dan siswa dengan motivasi belajar sedang akan mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan motivasi belajar rendah.

commit to user 3. Hipotesis Ketiga

Dari analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh

< 6 4 yaitu 2,7190 < 3,0000, maka 0 diterima. Hal ini berarti tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi siswa pada prestasi belajar matematika, sehingga perbandingan sel antar baris dalam satu kolom maupun perbandingan antar kolom dalam satu baris mengikuti perlakuan yang ada pada induknya yaitu efek utama A (model pembelajaran) maupun efek utama B (motivasi berprestasi siswa)

Dengan mengikuti kesimpulan pada hipotesis 1 dan hipotesis 2 maka keputusan uji yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

a. Prestasi berprestasi kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi lebih baik dibanding prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi sedang dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT

b. Prestasi belajar kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT

c. Prestasi belajar kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi sedang lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT .

commit to user

Hal ini sesuai dengan kajian teori siswa dengan motivasi berprestasi tinggi akan mempunyai sifat: tekun, rajin ulet, ingin mendalami materi dan ingin mencapai prestasi yang lebih baik dan pada pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa dan setiap siswa diberi nomor agar mempunyai sifat tanggungjawab maka siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan mempunyai prestasi yang lebih baik daripada anak yang mempunyai motivasi berprestasi sedang dan rendah.

4. Hipotesis Keempat

Dari analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh

< 6 4 yaitu 2,7190 < 3,0000, maka 0 diterima. Hal ini berarti tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi siswa pada prestasi belajar matematika, sehingga perbandingan sel antar baris dalam satu kolom maupun perbandingan antar kolom dalam satu baris mengikuti perlakuan yang ada pada induknya yaitu efek utama A (model pembelajaran) maupun efek utma B (motivasi berprestasi siswa)

Dengan mengikuti kesimpulan pada hipotesis 1 dan hipotesis 2 maka keputusan uji yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

a. Prestasi belajar kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi lebih baik dibanding prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi sedang dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

commit to user

b. Prestasi belajar kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi lebih baik dibanding prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

c. Prestasi belajar kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi sedang lebih baik dibanding prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wasriah yang menyatakan bahwa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa dengan motivasi belajar tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik prestasi belajarnyadibanding dengan siswa dengan motivasi belajar tinggi dan sedang, serta siswa dengan motivasi belajar sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan prestasi belajar rendah. 5. Hipotesis Kelima

Dari analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama diperoleh

4< 6 4 yaitu 2,7190 < 3,0000, maka 0 diterima. Hal ini berarti tidak

terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi siswa pada prestasi belajar matematika, sehingga perbandingan sel antar baris dalam satu kolom maupun perbandingan antar kolom dalam satu baris mengikuti perlakuan yang ada pada induknya yaitu efek utama A (model pembelajaran) maupun efek utama B (motivasi berprestasi siswa)

commit to user

Dengan mengikuti kesimpulan pada hipotesis 1 dan hipotesis 2 maka keputusan uji yang dapat diambil adalah: pada kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dan sedang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar sama baiknya dibandingkan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian hipotesis kelima yaitu pada kelompok siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dan sedang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar lebih baik dibandingkan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tidak terbukti kebenarannya. Adapun faktor yang menyebabkan pembelajaran kooperatif tipe NHT sama baik dibandingkan pembelajaran kooperatif tipe STAD telah dipaparkan pada hipotesis pertama, Sedangkan untuk motivasi berprestasi rendah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar sama baik dibandingkan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terbukti kebenarannya.

Hal ini berarti juga tidak sesuai dengan kajian teori yang menyatakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengunakan penomoran sehingga setiap siswa mempunyai tanggungjawab terhadap kelompoknya sehingga siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dan sedang akan lebih aktif untuk memahami materi sehingga prestasi belajarnya juga akan lebih baik, sedangkan untuk motivasi berprestasi rendah sesuai dengan kajian teori karena model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengunakan penomoran sehingga setiap siswa mempunyai tanggungjawab terhadap kelompoknya sehingga siswa yang

commit to user

mempunyai motivasi berprestasi rendah akan terpengaruh oleh teman yang lain untuk memahami materi sehingga prestasi belajarnya mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT maupun mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sama baiknya.

Dokumen terkait