HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan penyajian hasil analisis data, terbukti bahwa minat baca, motivasi membaca, serta penguasaan kosakata secara simultan berpengaruh terhadap keterampilan berbicara. Hal ini lebih memperkuat teori Slameto (1995: 180) bahwa minat merrupakan suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh atau penerimaan atau sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri sendiri dan hal ini. Siswa yang memiliki minat, memperoleh hasil yang memuaskan terhadap aktivitas yang dilakukan.
Hal ini tampak di kelas VI SDN Butung II Kota Makassar bahwa minat dan motivasi murid berkontribusi positif terhadap tindakannya, termasuk minat
membaca, motivasi membaca, dan penguasaan kosakata terhadap keterampilan berbicara siswa.
Temuan tersbeut juga mendukung teori Sardiman (2003: 75) bahwa motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang dapat memeproleh hasil yang terbaik untuk dirinya. Hal ini ditemukan pada siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar bahwa rata-rata yang memiliki motivasi membaca, semakin terampil dalam berbicara dan mendapatkan haisl belajar yang memuaskan.
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya bahwa rata-rata siswa memiliki minat baca yang tinggi terhadap materi pembelajaran bahasa Indonesia. Demikian pula halnya dengan motivasi siswa yang tergolong tinggi. Tingginya minat dan motivasi siswa didukung oleh penguasaan kosakata. Kualitas minat, motivasi, dan penguasaan kosakata inilah yang berkontribusi positif terhadap keterampilan siswa dalam menyampaikan ide dan gagasan secara lisan. Artinya, semakin tinggi, minat, motivasi, dan penguasaan kosakata, maka semakin tinggi pula keterampilan murid dalam berkomunikasi.
Keterikatan keterampilan berbicara dari variabel minat, motivasi, dan penguasaan kosakata tampak saat pembelajaran berlangsung. Siswa yang sering membaca tentu memiliki perbendaharaan kosakata dan memiliki banyak pengetahuan untuk dikomunikasikan. Setelah memiliki kosakata, tentu akan lebih mudah menyampaikan informasi dan pesan.
Sebaliknya, siswa yang tidak berminat membaca, kurang termotivasi membaca, serta kurang memiliki perbendaharaan kosakata, terhambat dalam komunikasinya. Bahkan, sulit mengungkapkan kata, frasa, klausa, dan kalimat. Hal ini tergambar saat pembelajaran berlangsung, yang sangat mudah dibedakan pada siswa yang kurang memiliki minat, motivasi membaca, dan kurang memiliki perbendaharaan kosakata. Siswa yang demikian hanya tinggal diam dan mendengar tanpa ada upaya mengajukan tanggapan dan pendapat.
Terdapatnya kontribusi atau pengaruh yang signifikan variabel minat, motivasi, dan penguasaan kosakata terhadap keterampilan berbicara tampak jelas pada setiap indikator yang dinilai dalam berbicara.
Siswa rata-rata mampu mengomunikasikan pesan dengan baik pada aspek diksi, lafal, jeda, mimik, ekspresi, dan sebagainya. Kemampuan ini didukung oleh media yang digunakan dalam pembelajaran berbicara, seperti bantuan media flash card yang digunakan oleh guru saat mengajarkan keterampilan berbicara. Media flash card sebagai alat bantu dalam pembelajaran keterampilan berbicara mudah dipahami oleh siswa yang memiliki intensitas membaca dan yang memiliki banyak kosakata.
Ketika guru menampilkan flash card, tampak siswa menyebutkan langsung pesan dalam gambar flash card tersebut.
Pembelajaran ketepatan pelafalan dalam berbicara penting diberikan kepada siswa karena apabila pelafalan tidak tepat, maka akan mempengaruhi kualitas komunikasi. Hal ini sejalan dengan pendapat
Arsyad dan Mukti (1988) menyatakan bahwa pelafalan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik, atau dapat mengalihkan perhatian pendengar.
Ketepatan penggunaan kalimat menyangkut pemakaian kalimat efektif. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Kalimat efektif memunyai ciri keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata betul-betul merupakan bagian yang padu dari sebuah kalimat. Perpautan, bertalian dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dengan kata, frase dengan frase, dalam sebuah kalimat. Hubungan itu harus jelas dan logis. Pemusatan perhatian pada bagian yang terpenting dalam kalimat dapat dicapai dengan menempatkan bagian tersebut pada awal atau akhir kalimat, sehingga bagian ini mendapat tekanan pada waktu berbicara. Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata, sehingga tidak ada kata yang mubazir.
Berdasarkan deskripsi kualitatif pengaruh minat baca, motivasi membaca, dan penguasaan kosakata terhadap keterampilan berbicara tersebut, berikut ini diuraikan secara kuantitatif pengaruh variabel-variabel tersebut. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa minat baca siswa tergolong tinggi dengan nilai rata-rata dengan nilai rata-rata 80.69.
Demikian halnya dengan motivasi membaca yang tergolong tinggi dengan
nilai rata-rata 77.14. Pada penguasaan kosakata tergolong tinggi dengan nilai rata-rata 82.25. Tingginya kategori variabel X1, X2, dan X3 tersebut berkontribusi positif terhadap variabel Y yakni keterampilan berbicara dengan mencapai kategori tinggi dengan nilai rata-rata 80,00 dengan ketuntasan mencapai 80% atau 32 orang dari 40 siswa yang diteliti.
Pengaruh variabel X1 terhadap Y tampak lebih jelas pada hasil analisis model ANOVA yang diperoleh nilai F = 0,037 dengan tingkat probabilitas Sig. = 0,848. Nilai probabilitas (0,848) jauh lebih besar dari 0.05, maka model regresi menunjukkan adanya pengaruh minat membaca terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar. Pengambilan keputusan pengaruh minat membaca terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar tampak pada analisis koefisien yang menunjukkan nilai constant (82,880) dan nilai B = 0.025 serta harga t hitung dan tingkat signifikansi 0.848.
Tingkat signifikansi (a=0,05) untuk uji dua pihak dan df atau dk (derajat kebebasan) = N-2 atau 40-2 = 38. Dengan demikian, diperoleh t tabel = 2.021. Dengan demikian t hitung (7,914) > t tabel (2.021). Oleh karena itu, hipotesis penelitian ini diterima yang berarti semakin tinggi minat baca siswa, maka semakin tinggi pula keterampilannya dalam berbicara.
Pengaruh variabel X2 terhadap Y tampak lebih jelas pada hasil analisis model ANOVA yang diperoleh nilai F = 0,048 dengan tingkat probabilitas Sig. = 0,828. Oleh karena probabilitas (0,828) jauh lebih besar dari 0.05, maka model regresi memprediksi pengaruh motivasi membaca
terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar. Selanjutnya, pengambilan keputusan pengaruh motivasi membaca terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar tampak pada analisis koefisien nilai constant (85,195) dan nilai B = 0.056 serta harga t hitung dan tingkat signifikansi 0.828. Tingkat signifikansi (a=0,05) untuk uji dua pihak dan df atau dk (derajat kebebasan) = N-2 atau 40-2 = 38. Dengan demikian, diperoleh t tabel = 2.021. Dengan demikian t hitung (4,307) > t tabel (2.021). Oleh karena itu, hipotesis penelitian ini diterima yang berarti semakin tinggi motivasi membaca siswa, maka semakin tinggi pula keterampilannya dalam berbicara.
Pengaruh variabel X2 terhadap Y tampak lebih jelas pada hasil analisis model ANOVA yang diperoleh nilai F = 4,006 dengan tingkat probabilitas Sig. = 0,053. Oleh karena probabilitas (0,053) jauh besar atau sama dengan 0.05, maka model regresi memprediksi pengaruh penguasaan kosakata terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar. Selanjutnya, pengambilan keputusan pengaruh penguasaan kosakata terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VI SDN Butung II Kota Makassar tampak analisis koefisien yang menunjukkan nilai constant (50,747) dan nilai B = 0.366 serta harga t hitung dan tingkat signifikansi 0.053. Tingkat signifikansi (a=0,05) untuk uji dua pihak dan df atau dk (derajat kebebasan) = N-2 atau 40-2 = 38.
Dengan demikian, diperoleh t tabel = 2.021. Dengan demikian t hitung
(3,361) > t tabel (2.021). Oleh karena itu, hipotesis penelitian ini diterima yang berarti semakin tinggi penguasaan kosakata siswa, maka semakin tinggi pula keterampilannya dalam berbicara.
BAB V