TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
2. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Karakteristik pembelajaran bahasa Indonesia di SD penekanannya terletak pada cara penggunaan bahasa secara benar sesuai dengan sistem bahasa (Depdiknas, 2003:1). Dalam buku Terampil Berbahasa Indonesia, Keraf (1995:33) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa tidak lain dari cara memanifestasikan sistem bahasa dalam aktivitas praktis atau aktivitas komunikasi disebut kemampuan (ability) komunikatif, yang dalam hal ini sama pengertiannya dengan use. Oleh karena itu,
kemampuan komunikatif mencakup keterampilan kebahasaan, bukan sebaliknya. Seorang yang menguasai semua kaidah kebahasaan (usage) belum tentu mampu berkomunikasi yang baik.
Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan linguistik (ejaan, kosakata, dan tata bahasa) dan kemampuan komunikatif (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Struktur bahasa tersebut sangat penting, namun kemampuan linguistik tidak hanya berhenti sampai pada struktur bahasa tersebut, tetapi harus dilanjutkan pada latihan kemampuan agar siswa dapat menggunakan bahasa dalam berbagai keperluan dan komunikasi (Jufri, 2002:34).
Menurut Widjono (2005:4) bahwa mekanisme pembelajaran yang tepat harus mengaktifkan siswa untuk berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), memahami, mengaplikasi, menganalisis, dan mengevaluasi pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia dapat diajarkan melalui pembelajaran menyimak/mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut di dalamnya terintegrasi materi kebahasaan atau tata bahasa.
Aspek pertama adalah menyimak. Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melalui ujaran (Tarigan, 1993:80).
Selanjutnya, menyimak adalah salah satu keterampilan berkomunikasi
(communication skill) yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi bicara tatap muka, mengikuti kuliah, mendengarkan radio, ceramah, di dalam kegiatan-kegiatan profesional, perdagangan, dan lain-lain.
Dalam kegiatan menyimak, bunyi bahasa yang tertangkap oleh alat pendengar diidentifikasi, dikelompokkan menjadi suku kata, kata, frasa, klausa, kalimat, dan akhirnya menjadi wacana. Selain itu, menyimak harus memperhatikan aspek-aspek nonkebahasaan seperti: 1) tekanan (keras lembutnya suara), 2) jangka (panjang pendeknya suara), 3) nada (tinggi rendahnya suara), 4) intonasi (naik turunnya suara, 5) ritme (pemberian tekanan nada dalam kalimat). Bunyi bahasa yang diterimanya kemudian diinterpretasi maknanya, ditelaah, dinilai kebenarannya, lalu diambil keputusan untuk menerima atau menolaknya (Sutari dkk., 1997/1998:18).
Aspek kedua adalah berbicara. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang kedua setelah menyimak. Berbicara merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Keterampilan berbicara adalah keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak (Tarigan, 1993:12).
Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan yang dilakukan secara lisan. Rofiuddin dan Zuhdi (1998:13) mengatakan bahwa berbicara merupakan keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan secara lisan.
Aspek ketiga adalah membaca. Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual, membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif.
Said (1991:2) mengatakan bahwa membaca adalah alat untuk belajar, dan alat untuk mencapai tujuan, membaca dapat mengisi waktu senggang dan pelerai duka yang akan mengantar pembaca kepada kesenangan. Selanjutnya, Soedarsono (2006: 4) mengemukakan bahwa membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Meliputi pembaca harus menggunakan pemahaman yang khayali, mengamati, dan mengingat-ingat. Klein dkk., (dalam Rahiem, 2005:13) mengemukakan bahwa membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses; (2) membaca adalah strategis, dan (3) membaca merupakan interaktif.
Membaca merupakan proses menyerap informasi dari teks oleh pembaca yang mempunyai peranan utama dalam membentuk makna.
Membaca adalah kegiatan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks. Selain itu, Oka (1983:21) berpendapat bahwa membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.
Aspek keempat adalah menulis. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain, melainkan dengan cara mengungkapkan ide atau gagasan produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis, penulis haruslah terampil memanfaatkan kosakata dan struktur kalimat dengan lebih baik sehingga karya tulisnya dapat dimengerti orang lain.
Menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.
Tarigan (1997:21) mengemukakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat
membaca lambang-lambang grafik tersebut sepanjang mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwa keterampilan berbahasa Indonesia terdiri atas empat, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sesuai dengan penelitian ini yang mengkaji tentang keterampilan berbicara, maka butir 2 berikut ini dipaparkan teori berbicara.
3. Membaca
a. Pengertian Membaca
Menurut Nurhadi (2005), aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor datangnya dari dalam diri pembaca dan dari luar. Selain itu, membaca juga dapat dikatakan sebagai salah satu jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan, dan bukan kemampuan yang bersifat instingtif atau naluri yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, proses membaca yang dilakukan orang dewasa (dapat membaca) merupakan usaha mengelola dan menghasilkan sesuatu melalui penggunaan tertentu. Secara garis besar aktivitas membaca juga mengolah inilah yang dipeerlukan model tertentu.
Selanjutnya Hudson (dalam Tarigan 1993) berpendapat bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata – kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata ynag merupakan suatu kesatuan yang
terlihat dalam suatu pandangan sekilas angan – angan makna kata – kata secara individual dapat diketahui. kalau hal ini tidak terpenuhi, maka peran yang tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau tidak dipahami dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Di samping pengertian tersebut, Anderson (dalam Tarigan, 1993: 8) menjelaskan pengertian membaca, yaitu: Membaca dapat pula diartikan sebagai metode yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan diri kitra sendiri dan orang tersirat dalam lambang tertulis. Bahkan ada pula beberapa penulis seolah-olah beranggapan bahwa membaca adalah suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang tertulis melalui topik (phonis suatu metode pengajaran membaca, ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan) menjadi bacaan lisan membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersurat dalam yang tersirat, melihat pikiran yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis.
Tingkat hubungan antara makna yang hendak dikemukakan oleh penulis dengan penafsiran atau interpretasi pembaca turut menentukan ketepatan pembaca. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pilihan pembaca. Demikianlah makna itu akan berubah karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.
b. Tujuan Membaca
Pada hakikatnya, tujuan membaca adalah model utama dalam kegiatan membaca. Tujuan yang jelas akan memberikan motivasi yang besar bagi seseorang. Dengan demikian, seseorang yang menyadari tujuan membaca sebelumnya dapat mengarahkan sasaran daya pikir kritisnya dalam mengolah bacaan yang dihadapinya.
Berdasarkan kenyataan inilah para pakar dalam bidang ini meneliti aspek tujuan membaca dalam kaitannya dengan proses dan kemampuan membaca. Kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuat oleh pakar dari berbagai penelitian yang telah dilaksanakan menunjukan bahwa:
1) Gerakkan bola mata kecepatannya sejalan dengan perubahan tujuan membaca
2) Kemampuan seseorang dalam memahami bahan bacaan secara nyata dipengaruhi oleh tujuan membacanya (tujuan yang jelas akan meningkatkan pemahaman bacaan, sedangkan tujuan tentang kurang jelas akan menghambat pemahaman)
3) Tujuan membaca akan dirumuskan secara jelas akan mempengaruhi pemerolehan pemahaman bacaan
4) Seseorang yang mempunyai daya baca tinggi (baik), mampu memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi sejalan dengan tujuan membaca yang akan dicapainya (Dowing dan Tampubolong, 1987: 137-135).
Uraian tersebut mengindikasikan bahwa ada pengaruh tujuan membaca yang diterima dalam proses membaca, terutama terhadap pemahaman yang dibaca. Anderson dalam Tarigan (1993: 9) dalam keterangan tentang tujuan membaca mengungkapkan bahwa tujuan membaca utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memproleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Selanjutnnya, Said (1991: 14) mengemukakan tentang tujuan membaca yaitu:
1) Pembaca dapat memahami kata-kata yang dibacanya.
2) Pembaca mampu memahami arti keseluruhan isi wacana.
3) Pembaca mampu mengidentifikasi suatu makna yang cocok dengan makna konteks (wacana).
4) Pembaca mampu menemukan ide pokok penulis dan ide umum yang terdapat dalam wacana.
5) Pembaca mampu menemukan isi bacaan secara terinci, yaitu melihat hubungan sebuah kalimat yang lainnya dan sebuah paragraf dengan paragraph yang lainnya.
6) Pembaca mampu menelusuri pengorganisasian teks bacaan atau buku.
7) Pembaca mampu memahami isi bacaan tanpa terpengaruh pada kata-kata sulit atau ungkapan – ungkapan yang terdapat di dalam wacana.
8) Pembaca mampu mengidentifikasi kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang akan mengikuti kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf yang sedang dibaca.
9) Pembaca mampu memahami isi wacana, baik yang tersurat maupaun yang tersirat.
10) Pembaca mampu membaca cepat dan memahami apa yang sedang dibaca.
11) Pembaca mampu menagkap isi wacana dan mampu membedakan makna, fakta, dan opini yang terdapat dalam wacana. Pembaca mampu berpikir kritis terhadap apa yang dibaca (isi wacana).
c. Proses Membaca
Aspek penting dalam proses membaca menurut Rahiem (2005: 10) adalah:
1) membaca dimulai dengan menghadapi suatu bentuk bahasa tulis,
2) tujuan membaca adalah merekonstruksi makna dengan catatan bahwa makna itu tidak terdapat pada bahasa tulis itu tetapi pada diri pengarang bacaan pada saat dia menulis bacaan itu.
Dengan cara tertentu, pembaca merekonstruksi makna tersebut pada saat ia membaca,
3) dalam system penulisan bahasa yang alfabetis ada hubungan langsung anatara bahasa lisan dengan bahasa tulis,
4) persepsi visual termasuk ke dalam proses membaca,
5) bentuk huruf, urutannya, serta kelompok-kelompoknya tidak sama sekali membawa makna dalam drinya sendiri,
6) makna hanya ada dalam jiwa pengarang dan pembaca, dan 7) pembaca pada umumnya mampu merekonstruksi makna atau
pesan yang ditekankan oleh pengarang.
Dalam rangka memahami proses membaca, orang harus memahami (a) tulisan atau bahasa tulisan yang merupakan input, (b) bagaimana bahasa itu bekerja dan bagaimana bahasa itu digunakan oleh pembaca, (c) seberapa banyak hasil belajar serta pengalamn pembaca yang dimanfaatkannya dalam merekonstruksi makna, (d) system perceptual yang termasuk ke dalam membaca. Selain itu, orang harus mengakui kenyataan bahwa pembaca adalah pemakai bahasa.
Menurut Burns dkk. (Rahiem 2005:12), proses membaca terdiri dari sembilan aspek, yaitu: (1) sensori, diperoleh melalui pengungkapan symbol-simbol grafis melalui indra penglihatan yang digunakan untuk mempersentasikan bahasa lisan; (2) perseptual, yaitu aktivitas mengenal suatu kata sampai pada suatu makna berdasarkan pengalaman yang lalu, (3) urutan, dalam proses membaca merupakan kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linear, yang umunya tampil pada satu halaman dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah, (4) pengalaman yang banyak akan mempunyai kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan pemahaman kosa kata dan konsep dihadapi dalam
membaca, (5) berpikir, untuk dapat memahami bacaan, pembaca terlebih dahulu harus memahami kata-kata dan kalimat yang dihadapinya melalui proses asosiasi dan eksperimental, (6) pembelajaran, dalam pembelajaran guru memberikan pertanyaan-pertanyan yang memungkinkan mereka bisa meningkatkan kemampuan berpikirnya, (7) asosiasi, mengenal hubungan antara symbol dengan bunyi bahasa dan makna, (8) Afektif atau sikap merupakan proses membaca yang berkenaan dengan kegiatan memusatkanb perhatian, membangkitkan kegemaran membaca dan menumbuhkan motivasi ketika sedang membaca,
Pemberian gagasan, dimulai dengan penggunaan sensori dan perseptual dengan latar belakang pengalaman dan tanggapan afektif serta membangun makna teks yang dibaca.