KAJIAN PUSTAKA
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat kedisiplinan tinggi. Siswa yang memiliki tingkat kedisiplinan tinggi berarti telah mencapai tingkat yang diidealkan. Dalam hal ini sebagian besar para siswa kelas VIII SMP Joanness Bosco telah dapat menerapkan kedisiplinan dalam pola hidupnya dengan baik. Berdasarkan pengamatan peneliti ketika
melakukan Program Pengalaman Lapangan di SMP Joanness Bosco Yogyakarta pada tahun 2008, memang ada kesan bahwa kondisi kedisiplinan siswa di sekolah tersebut cukup baik. Beberapa faktor yang kemungkinan menjadi pendukung terciptanya kedisiplinan akademik di sekolah tersebut, yaitu:
1. SMP Joanness Bosco adalah sekolah yang memiliki karakteristik atau latar belakang kedisiplinan yang baik. Suasana disiplin ini sangat tercermin dalam aktivitas sekolah. Seperti kedisiplinan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, kedisiplinan dalam mentaati peraturan sekolah, dan kedisiplinan dalam administrasi sekolah. Masyarakat pun mengatakan bahwa SMP Joanness Bosco adalah sekolah yang memiliki kedisiplinan yang cukup baik sehingga sekolah tersebut menjadi sekolah favorit, terbukti sebagian besar siswanya berasal dari berbagai penjuru wilayah di kelurahan Kulon Progo.
2. Para pendidik dan karyawan memiliki pandangan yang cukup baik dalam menanggapi kedisiplinan. Kesadaran akan pentingnya kedisiplinan sangat disadari sehingga menjadi landasan yang kuat dalam melaksanakan tanggung jawab dan tugas-tugas sekolah. Mereka memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kedisiplinan sehingga melalui aktivitas di sekolah mereka berusaha menjadi contoh dan memberikan contoh kapada para siswanya untuk membangun pola hidup disiplin.
3. Sebagian dari siswa-siswa SMP Joanness Bosco berasal dari Sekolah Dasar (SD) yang seyayasan dengan pola kedisiplinan yang hampir sama, sehingga mereka cukup terbiasa dengan suasana disiplin di sekolah. Kemungkinan yang lain adalah bahwa sebagian besar siswa SMP Joanness Bosco Yogyakarta berasal dari kalangan menengah ke atas yang sudah kental dengan pola hidup disiplin dan keteraturan. Mereka membawa kebiasaan ini dan menerapkannya di sekolah.
Selain siswa dengan kedisiplinan tinggi masih ada sebagian siswa yang memiliki tingkat kedisiplinan rendah. Dari 112 siswa, 49 (43,75 %) siswa di antaranya tergolong dalam kategori kedisiplinan rendah dalam mengikuti kegiatan akademik. Hal ini mencerminkan bahwa kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan akademik belum sepenuhnya tercapai dengan baik atau sesuai dengan yang diidealkan. Adapun kemungkinan faktor penyebabnya adalah kurangnya pemahaman siswa dalam memahami fungsi kedisiplinan sehingga mereka kurang dapat merasakan manfaat penting kedisiplinan dan hal itu tercermin dalam setiap tindakan siswa. Rendahnya kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan akademik juga bisa disebabkan karena pola hidup yang tidak teratur atau tidak membiasakan diri untuk disiplin, berkaitan dengan aktivitas di rumah maupun di sekolah dengan tugas dan tanggung jawab sebagai siswa.
Kemungkinan hal ini disebabkan karena kurangnya rasa tanggung jawab siswa terhadap PR dan tugas-tugas. Tujuan dari pemberian pekerjaan rumah atau tugas adalah untuk mengukur seberapa kemampuan siswa dalam
menguasai mata pelajaran yang ada. Namun tampaknya sebagian siswa beranggapan bahwa mengerjakan PR dan tugas-tugas adalah kegiatan yang sangat membosankan, bukan suatu hal yang menguntungkan dan menyenangkan. Penyebab yang lain kemungkinannya karena kemalasan siswa dalam mengerjakan PR dan tugas-tugas yang sulit, sehingga mereka memilih untuk tidak mengerjakan atau menyontek pekerjaan milik teman. Rasa malas tersebut dapat jadi disebabkan oleh banyaknya aktivitas siswa di luar kegiatan akademik di sekolah. Misalnya, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah maupun kegiatan di rumah yang banyak menggunakan tenaga fisik seperti olah raga. Kegiatan tersebut banyak menguras tenaga dan menyebabkan rasa lelah, sehingga mereka lebih memilih untuk istirahat (tidur) daripada mengerjakan PR dan tugas-tugas.
Aspek kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan akademik yang tingkatannya masih rendah adalah aspek kedua, yaitu kedisiplinan dalam menggunakan waktu kosong untuk belajar di sekolah. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kurangnya rasa tanggung jawab siswa untuk mengisi waktu kosong di sekolah dengan kegiatan yang bermanfaat. Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada masa transisi atau masa peralihan dari kanak-kanak ke masa pubertas. Seperti dikatakan oleh Hurlock (1980: 168), secara umum anak-anak pada mulanya bergairah ke sekolah, tetapi pada akhir kelas dua banyak yang merasa bosan, sehingga mengembangkan sikap menentang dan kritis terhadap tugas-tugas akademis, meskipun anak masih menyukai kegiatan nonakademis.
Penyebab-penyebab lain yang kemungkinan mempengaruhi tingkat kedisiplinan siswa pada aspek ini adalah: (1) Para siswa lebih suka melakukan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka, misalnya bermain; (2) Sebagian siswa lebih senang jajan di kantin dan berbincang-bincang dengan teman di kantin jika ada jam kosong. Misalnya, pada waktu guru berhalangan hadir dan meninggalkan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa tetapi tidak ada pengawas, sebagian siswa cenderung ke luar kelas dan hanya beberapa siswa saja yang tetap berada di dalam kelas dan mengerjakan tugas. Beberapa yang lainnya dtetap di dalam kelas dan mengobrol dengan beberapa teman.
Melihat bahwa secara umum masih ada banyak siswa (43,75 %) yang memiliki tingkat kedisiplinan rendah dalam mengikuti kegiatan akademik di sekolah, maka di sekolah ini perlu ada usaha yang serius untuk meningkatkan kualitas kedisiplinan para siswanya. Peningkatan kedisiplinan ini dapat dilakukan melalui program bimbingan oleh Guru BK, yaitu dengan memberikan layanan bimbingan klasikal dengan tema umum kedisiplinan. Layanan bimbingan tersebut dimaksudkan untuk memotivasi siswa dalam membangun kebiasaan yang baik dengan mengembangkan perilaku yang disiplin. Usulan program dalam rangka meningkatkan kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan akademik terlampir.
ringkasan memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian, dan hasil penelitian. Bagian saran memuat saran untuk pihak sekolah dan peneliti lain.
A. Ringkasan
1. Masalah Penelitian
Topik penelitian ini adalah tingkat kedisiplinan para siswa kelas VIII tahun pelajaran 2009/2010 dalam mengikuti kegiatan akademik di sekolah. Topik ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa kedisiplinan merupakan salah satu sikap yang penting dimiliki para siswa sebagai peserta didik yang perlu ditanamkan sejak awal. Oleh karena itu siswa-siswa di sekolah seharusnya mengembangkan pola hidup disiplin.
Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran/diskripsi tingkat kedisiplinan para siswa kelas VIII SMP Joanness Bosco Yogyakarta tahun pelajaran 2009/2010 dalam mengikuti kegiatan akademik di sekolah. Pertanyaan yang dijawab dalam penelitian ini adalah: “(1) Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa kelas VIII SMP Joanness Bosco Yogyakarta tahun pelajaran 2009/2010 dalam mengikuti kegiatan akademik di sekolah? (2) Apa saja topik yang prioritas sebagai bahan layanan bimbingan untuk meningkatkan kedisiplinan para siswa?
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Populasi penelitian ini adalah para siswa kelas VIII SMP Joanness Bosco Yogyakarta Tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 112 orang. Terdiri dari 4 kelas paralel. Kelas A sejumlah 28 siswa, kelas B sejumlah 26 siswa, kelas C sejumlah 28 siswa, dan kelas D sejumlah 30 siswa. Pengumpulan data dilaksanakan tanggal 4, 5, dan 8 September 2009.
Instrumen penelitian adalah kuesioner yang disusun oleh peneliti sendiri. Kuesioner ini memiliki 80 butir pernyataan yang mengungkapkan 4 aspek kedisiplinan akademik, yaitu: (1) Kedisiplinan dalam mengikuti pelajaran (2) Kedisiplinan dalam mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan tugas-tugas (3) Kedisiplinan dalam mengikuti ujian (4) Kedisiplinan dalam menggunakan waktu kosong untuk belajar di sekolah.
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik kategorisasi dan tabulasi skor-skor dalam kuesioner tingkat kedisiplinan para siswa SMP Joanness Bosco Yogyakarta dalam mengikuti kegiatan akademik di sekolah, distribusi frekuensi, dan penentuan kualifikasi tingkat kedisiplinan para siswa.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa para siswa kelas VIII SMP Joanness Bosco Yogyakarta masih membutuhkan bimbingan yang lebih baik supaya dalam diri siswa tumbuh kesadaran diri
untuk meningkatkan kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan akademik di sekolah. Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh proses pelaksanaan kegiatan akademik di sekolah karena kegiatan akademik di sekolah penting dalam proses pendidikan.
C. Topik-topik Bimbingan yang Relevan dengan Kebutuhan Para Siswa